Tampilkan postingan dengan label Memories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memories. Tampilkan semua postingan

26 Apr 2010

Antara Bapak, Samsara dan Saya

Oleh : Sartika Nasmar

USIAKU saat itu 23 tahun. Bapak masih rutin memberiku uang saku. Padahal, saya sudah bekerja. Di sebuah lembaga bernama Samsara. Bapak tidak pernah protes, hanya dia yang memberikan motivasi. Bapak senang saya bekerja sambil belajar. Saat itu, bapak akan tertawa ketika saya bilang, “Saya punya pekerjaan pak, bukan pengangguran. Hanya belum digaji,”

Bapak yang membuatku bertahan di Samsara. Waktu itu tahun 2008. Saya selalu berusaha meyakinkan bapak bahwa Samsara akan menjadi sebuah lembaga yang akan membawaku pada cita-citaku dan bapak. Melanjutkan sekolah dan mendapatkan uang untuk hidup yang sederhana seperti yang telah bapak tanamkan sejak kecil.

16 Nov 2009

Dari Silsilah Menuju Gender dan Seksualitas

Oleh: Sartika Nasmar

19 Juli 2009. Saya menuju ke sebuah rumah makan untuk menghadiri sebuah pelatihan seksualitas. Sebelumnya, Pino, seorang teman yang bekerja di Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Suawesi Selatan memberi info mengenai pelatihan tersebut.
Saya datang terlambat pagi itu. Lebih dari 20 orang sedang santai menikmati kopi susu dan pisang goreng tepung. Semua peserta perempuan. Kebanyakan dari mereka berpenampilan seperti laki-laki.

Ini adalah PELATIHAN SEKSUALITAS, GENDER DAN HAM Komunitas Perempuan Serumpun (KIPAS). KIPAS adalah komunitas LBT (Lesbian, Biseksual, dan Transgender) di Makassar. Mereka adalah kelompok kegiatan dampingan Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Sulawesi Selatan. Anggotanya cukup banyak, lebih dari 80 perempuan.
Pino berdiri di depan peserta. Ia adalah orang yang menyampaikan materi pada pelatihan tersebut. Semua peserta sudah saling kenal sebelumnya, kecuali saya. Ini adalah pelatihan pertama dalam komunitas ini. Kebanyakan yang ikut adalah lesbian hunter atau butchie, yakni lesbian yang berpenampilan seperti laki-laki pada umumnya.

Saatnya belajar. Pino tidak segan-segan memberikan dua tugas. Pertama, memetakan silsilah keluarga dari garis perempuan saja. “Hanya perempuan, kita tidak menerima laki-laki di sini,” kata Pino, berulang-ulang. Kedua, menemukan bentuk ketidakadilan yang dialami keluarga perempuan kita dalam silsilah tersebut. Pino sedikit bersabar menjelaskan tugas yang ia berikan, banyak pertanyaan dari peserta. Saya mulai menulis, mencoret, mengingat-ingat nama, dan mengeluh karena lupa nama sepupu, tante dan saudari nenek. Peserta lainnya juga sibuk sepertiku. Bedanya, mereka mencoba mengingat nama keluarga mereka dengan bertanya ke peserta lain yang bukan keluarga. Lalu akan ditertawakan oleh peserta lain. Nurmi, salah seorang peserta saya dapati kebingungan.

Ia kedapatan mengaktivkan handphone. Mulai menekan-nekan tombol. Lalu menunggu dan menyapa ibunya setelah mendengar suara. Saya tidak mendengar jelas percakapan mereka. Nurmi hanya melirikku dan memberi kode agar saya tidak memberitahu peserta lain. Ia takut ditertawakan.

“Sudah ki telfon mace ta’? tanyaku.

“Iye’. Sa lupa namanya sepupuku bela. Huss, jangan ki bilang-bilang sayang nah.” katanya, sedikit berbisik. Saya hanya tersenyum. Ingin rasanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Nurmi.

Tugas selesai. Pino memerintahkan peserta mempresentasikan pekerjaan masing-masing. Peserta saling tunjuk dengan ejekan dan pujian. Lalu satu persatu berdiri dan membaca tugas mereka. Membaca silsilah mulai dari yang tertua hingga yang termuda. Lalu mengungkapkan ketidakadilan yang ada dalam keluarga mereka. Mulai dari poligami, tidak boleh melanjutkan sekolah, tidak dapat hak waris hingga trauma paska perceraian orang tua atau trauma karena perselingkuhan ayahnya. Semua tampak serius mendengarkan. Entah apa yang mereka pikirkan. Pino mencatat di kertas yang tertempel pada white board. Semua peserta mengungkapkan ada poligami dalam keluarga mereka, itu dialami oleh nenek, ibu hingga tante mereka. Bahkan, salah seorang kakek peserta mempunyai istri sebanyak 42 orang. Banyak juga di antara mereka tidak melanjutkan sekolah karena orang tua mereka lebih memprioritaskan anak laki-laki untuk mendapat pendidikan yang tinggi atau barang kesukaan.

Pukul 12.00 Wita. Pino memberikan peserta tugas sambil menikmati makan siang. Peserta dibagi menjadi empat kelompok. Pino menyuruh tiap kelompok untuk menuliskan kesan dan menganalisa alasan mengapa mereka harus membuat silsilah keluarga hanya dari pihak perempuan saja. Waktu peserta hanya 90 menit untuk mengerjakan tugas dan menyelesaikan makan siang. Peserta tersebar di beberapa tempat tergantung kenyamanan mereka. Lebih banyak yang mengerjakan tugasnya di lantai. Ada yang sambil merokok hingga melepas sepatunya dan berdiskusi bersama.

Waktu telah habis, masing-masing kelompok presentasikan hasil kerjasama mereka. Setiap kelompok sepakat bahwa perempuan adalah sosok dimana perannya masih dinomor duakan dalam lingkungan keluarga. Ketidakadilan masih berjalan dan hak-hak yang seharusnya juga dimiliki oleh kaum perempuan masih terkendali dan dipegang oleh pihak laki-laki. Ketidakadilan ini nampak dari silsilah keturunan nenek atau buyut mereka hingga pada diri mereka sendiri. Salah satu kelompok mengaku terharu karena dengan begitu mudahnya ketidakadilan itu terjadi dan terus berlanjut seiring dengan waktu.

Nasma, peserta yang melakukan presentasi mewakili kelompok satu merasa lega. Mereka bisa berbagi bersama peserta yang lain. Ini adalah kali pertama mereka dengan terbuka berbicara mengenai masalah-masalah dalam keluarga mereka. Menambah kekuatan dan memulai hidup tanpa diskriminasi.

“Teman-teman, dari semua yang anda sampaikan, dapat saya simpulkan bahwa tidak satu pun dari anda yang mengatakan bahwa silsilah keluarga itu tidak penting.
“Menurut anda, apakah orang tua anda lebih banyak mengungkit prestasi perempuan atau laki-laki?” Pino kembali melempar pertanyaan kepada peserta.

“Kebanyakan laki-laki kak,” jawab beberapa peserta. Ada yang mengangguk, saling balas pandang, bengong atau hanya tersenyum saja.

Pada sesi kedua, diskusi menjadi semakin menarik. Pino berbicara soal gender dan konstruksi sosial. Ia tetap melibatkan peserta untuk lebih interaktif dan punya inisisatif untuk berpikir terkait materi.

“Apa yang membuat teman-teman merasa sebagai perempuan?” tanya Pino. Peserta menjawab satu per satu dengan lantang.

“Karena punya ini’e,”kata salah satu peserta sambil mengarahkan tanganya ke vagina.

“Karena punya tete’ (payudara),”

“Karena berbeda secara biologis,”

Pino kemudian membagikan kertas dan menyuruh peserta menulis jawaban mereka. Hasilnya bermacam-macam, mulai dari perbedaan biologis, hal-hal yang umum dilakukan perempuan hingga menyinggung kodrat. Pino membagi tiga jawaban peserta dan menulisnya di white board. Pertama, menyatukan jawaban yang berkaitan dengan biologis dan menambahkan perbedaan-perbedaan susunan biologis antara laki-laki dan perempuan. Kedua, jawaban yang berkaitan dengan perasaan dan kesukaan. Seperti, suka memasak, suka bunga, butuh kasih sayang, ingin menikah tapi takut hamil hingga ketakutan tidur dengan laki-laki. Ketiga, Pino memisahkan jawaban yang menyinggung tentang kodrat. Hanya satu jawaban, yaitu takut melawan kodrat.

“Saya sengaja pisahkan yah, biar kita bisa bahas satu-satu,” jelas Pino.

“Mau ka tanya, apa maksudnya ini, mau menikah tapi takut hamil?” tanya Pino.

“Malu-maluin kak sebagai hunter.” jawab salah seorang peserta. Peserta yang lain kemudian tertawa dan berteriak.

Pino tersenyum dan mulai menjelaskan materinya sambil sesekali menulis di white board. “Perasaan apa lagi yang kalian rasakan dan bikin kalian merasa seperti perempuan?” Pino lagi-lagi bertanya memasuki pikiran peserta agar mendapat jawaban-jawaban lain. Tidak ada jawaban yang baru, hampir semua peserta mengatakan hal yang telah mereka tuliskan. Pino kemudian memberikan contoh. Saat ia kecil, Pino bisa dengan leluasa membuka baju dan telanjang dada di hadapan banyak orang tanpa rasa malu. Namun perlahan-lahan, seiring waktu ada perasaan dimana ada batasan yang harus ia pikirkan sebelum melakukan sesuatu, misalnya membuka baju. Perempuan tidak bisa leluasa membuka pakaiannya sama seperti yang dilakukan oleh laki-laki ketika sudah beranjak remaja. Peserta mengangguk seolah setuju dengan pendapat Pino.

Pino kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai kodrat dan menghubungkannya dalam konsep penciptaan. Ada hukum yang bermain mengelilingi kodrat. Hukum alam dan hukum sosial. Hukum alam adalah sesuatu yang pasti, dimana ada kematian atau kehidupan, diciptakan oleh Tuhan. Ada hal-hal yang tidak bisa digugat. Sedangkan hukum sosial adalah hukum yang diciptakan oleh masyarakat dan dikonstruksi sedemikian rupa demi sebuah kepentingan.

Konstruksi sosial yang diciptakan masyarakat sangat mempengaruhi pola pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Mereka memisahkan dua peran dan memberikan nilai, ada plus dan minus. Hampir semua benda mempunyai jenis kelamin. Misalnya, warna. Pink identik dengan perempuan dan hitam diidentikkan dengan warna laki-laki. Dalam pembagian peran, laki-laki dikonstruksi sebagai kepala rumah tangga sekaligus pencari nafkah dan berada di wilayah publik sedangkan perempuan dikonstruksi sebagai ibu rumah tangga dimana wilayah kerjanya di dapur.

Pino kemudian membagikan lagi kertas dan memberikan tugas mengenai apa penilaian masyarakat terhadap penampilan peserta yang mirip seperti penampilan laki-laki pada umumnya. Macam-macam jawaban yang tertulis. Balaki (tomboy), perempuan jadi-jadian, pembangkang, kagum karena bisa bekerja dalam dua peran, aneh dan pembawa sial. Ada nilai di dalamnya. Plus dan minus.

***

Hari kedua pelatihan, beberapa peserta me-review materi hari sebelumnya. Lalu, Pino bersiap-siap dengan materinya di depan peserta. “Gender diciptakan oleh masyarakat seperti halnya warna, peran atau lainnya,” kata Pino. Ia mengajak peserta untuk menganalisa aktivitas para peserta bersama pasangannya selama 24 jam. Ia membedakan pembagian peran dalam hubungan lesbian dimana ada pengkotakan sebagai hunter (butchie) dan lines (femm) sesuai pengalaman peserta bersama pasangannya. Satu persatu mulai menjawab meski masih terlihat malu dan tertutup.

Beberapa peserta yang berperan sebagai hunter mengaku bekerja di luar rumah dan femmnya berada di rumah ketika ia bekerja. Ada juga yang membagi pekerjaan dalam rumah seperti mencuci pakaian, baju, menyetrika dan lain-lain. Nasma, peserta yang berperan sebagai hunter mengaku bahwa ia akan marah jika pasangannya pergi tanpa ijin. Ia akan mengontrol keberadaan pasangannya. Peserta yang lain menyetujui.

“Soalnya kita khawatir kalau ada apa-apa terjadi kak sama pasangan ta’,” kata Imel, meyakinkan Pino.

Ratna, seorang peserta kemudian mengomentari mengenai pembagian peran dalam hubungan lesbian dalam komunitasnya. Ia bercerita saat mengajak beberapa teman-teman berkumpul di posko komunitas mereka. Ia berteriak dan menyarankan para hunter agar mengajak pasangannya (femm) ikut berkumpul dan diskusi bersama. Namun, beberapa dari hunter menjawab bahwa lines sebaiknya berada di rumah saja.

Secara tidak sadar, masih banyak pasangan lesbian mengkotak-kotakkan posisi sebagai orang yang lebih kuat dan tidak kuat. Ketika kita merasa lebih kuat, ada kecenderungan seseorang meminta pelayanan khusus, memberi perlindungan, mengatasi rasa takut pasangan atau mengontrol aktivitas pasangan. Pino mencoba menganalisa dan menanyakan kembali kepada peserta. Beberapa peserta hanya mengangguk dan menunggu penjelasan dari Pino. Sama halnya pada hubungan pasangan heteroseksual, ada pembagian peran di dalamnya antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki akan dimaknai sebagai posisi paling kuat dan perempuan dimaknai posisi tidak kuat. Ada indikasi bahwa pola hubungan pasangan heteroseksual diadopsi pada hubungan homoseksual.

“Kemarin teman-teman mengatakan bahwa perempuan masih dinomor duakan dalam keluarga.
Jika teman-teman mengadopsi cara pasangan hetero dimana ada ketidakadilan di dalamnya bukankah anda juga sudah melakukan ketidakadilan pada pasangan anda yang juga perempuan?” tanya Pino.

Pada sesi lain, Pino mengajak semua peserta bernyanyi. Sebuah lagu lama yang telah ia ubah sebagian liriknya dengan kata anu.

Teringat pada suatu anu.
Kuberjalan-jalan di muka anumu.
Rasa bergetar, dalam anuku.
Ingin kuberanu.
Sekilas nampaklah engkau di balik anu.
Tersenyum dikau menusuk anuku.
Apa daya sejak saat itu.
Anuku terganggu di setiap waktu.
Rasa bergetar, dalam anuku.
Ingin ku beranu.

Semua tertawa terbahak-bahak ketika menyanyikan lagu itu. Anu adalah bahan utama kelucuan. “Apa yang pertama kali anda pikirkan ketika menyanyikan lagu itu?” tanya Pino.

“Itu kak, yang di bawah pusar,” kata Anjas, salah satu peserta. Bercinta, vagina, diraba, pelukan, french kiss, dll. Bermacam-macam jawaban peserta yang terdengar.

Mereka terlihat geli saat harus menyebut kata-kata yang berhubungan dengan seks. Pino mengajak peserta membahas pengasosiasian anu dalam kehidupan sosial. Dari dulu, anu sering diasosiasikan masyarakat sebagai pengganti kata untuk menyebutkan alat kelamin atau sesuatu yang berhubungan dengan seks. Sehingga ketika menyebut anu, pikiran secara otomatis akan mengarah ke perihal terkait seks, padahal anu bisa saja diartikan macam-macam.

Setelah makan siang, Pino mengajak peserta duduk di depan dan membentuk lingkaran. Semua peserta mengangkat kursi besi mereka masing-masing. Pino menginstruksikan peserta untuk melakukan apa yang ia perintahkan. Semua harus menutup mata. Ola, ketua KIPAS akan mengawasi peserta. Pino menyuruh peserta meraba bagian tubuh mulai dari kepala hingga kaki. Saat membuka mata, ia meminta tanggapan masing-masing peserta. Ada yang merasa geli dan ada juga yang tidak merasakan apa-apa. Setelah itu Pino membagikan kertas dan menyuruh peserta menggambar bentuk tubuh perempuan. Semua menggambar seadanya.

“Teman-teman, tolong tentukan titik rangsangan di tubuh anda masing-masing dan tulis di atas kertas yang anda gambar.” perintah Pino.

Sesi kali ini sangat penuh dengan tawa dan cekikikan peserta. Saya pun tak kuasa menahan tawa hingga rahang rasanya pegal dan mata berair. Saling mengejek dan menertawakan, saling mengintip jawaban peserta lalu mengganggu peserta lain. Ada yang malu memperlihatkan titik rangsang yang ia tuliskan namun tetap saja pada akhirnya ketahuan karena masing-masing harus merelakan rasa malu mereka. Materi ini berguna untuk memahami tubuh kita sendiri sebelum memahami tubuh pasangan kita. Komunikasi adalah cara yang paling ampuh untuk saling mengetahui keinginan, kesenangan dan apa yang diinginkan oleh kita dan pasangan. Kerjasama yang baik dalam hubungan akan dimulai pada komunikasi yang baik pula.

Pada sesi terakhir, Pino meminta semua yang berada di ruangan tersebut membuat lingkaran dan saling mengaitkan lengan. “Saya minta masing-masing mengungkapkan perasaan dalam satu kata.” pinta Pino. Spirit, senang, gembira, bangga, haru dan masih banyak kata terlontar dari bibir-bibir peserta. Saatnya berpisah, ada jabat tangan, pelukan dan mengucapkan terimakasih.

Senang sekali rasanya mendapat teman yang menurut banyak orang adalah pendosa karena orientasi seksual yang berbeda pada umumnya. Mereka perempuan, ada dan tercatat dalam realitas sosial. Saya ingat diskusi bersama beberapa peserta mengenai kondisi lesbian dalam ruang publik. Tidak penting harus melakukan sesuatu dan dinilai oleh masyarakat bahwa yang berbuat adalah seorang lesbian.

“Saya juga awalnya dicela sama tetangga saat membawa lines saya tinggal di rumah. Tapi saya buktikan sama mereka kalau saya juga bisa berbuat hal yang berguna dan inilah saya.” kata Imel.

“Saya berpikir, kemenangan paling besar adalah ketika seorang lesbian telah melewati pertentangan batin dalam diri dan mengakui bahwa ia seorang lesbian.” kataku kepada peserta.

“Iya, saya setuju kawan.” kata Imel. Kami semua tersenyum lalu sibuk dengan rokok dan kopi masing-masing.

27 Nov 2008

Ucapan Selamat Malam Yang Tertunda

Hari kedua saat aku berada di Pare, Jawa Timur. Aku menghabiskan malam bersama Mbak Inna di sebuah warnet memanfaatkan Paman Google. Internet memang terkadang membuat kita lupa waktu.

“Tik, dah selesai belum?” tanya Mbak Inna.

“Iya, mbak. Dikit lagi.”

Aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Berpamitan dengan Paman Google lalu menuju operator. 15 menit lagi pukul 22:00 wib. Gerbang kos akan segera ditutup. Kami mengambil sepeda onthel di tempat parkir lalu mengayuhnya dengan kecepatan yang biasa-biasa saja menuju kos. Pagar tinggi berwarna hijau di depan mata dan dalam keadaan tergembok. Kami terlambat.

“Gawat.” pikir kami.

“Bagaimana masuknya?”

Seorang wanita dengan mengendarai motor Shogun juga singgah di depan kos kami. Ternyata dia juga tinggal di kos yang sama denganku. Namanya Diah. Badannya gemuk. Tomboy. Dia agak marah melihat gerbang yang terkunci.

“Sial. Padahal aku sudah sms Mas Ari. Kosnya jangan ditutup, aku lagi ma’em,” katanya.
Dia kemudian mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menghubungi Ari, penjaga kos. Tidak ada jawaban. Dia semakin marah.

Kami menunggu sambil berpikir. Aku tidak tahu Diah memikirkan apa. Tapi aku dan Mbak Inna sama-sama memikirkan harus tidur di mana malam ini. Memanjat pagar sempat singgah dalam benak kami, tapi tak mungkin membiarkan sepeda terparkir di luar gerbang. Secara, itu sepeda sewaan.
Mbak Inna menghubungi Kapit, seorang teman yang tinggal di Pare. Berharap ada pertolongan di saat-saat genting seperti ini. Selang beberapa menit ia tiba. Belum berkata apa-apa, ia sudah tertawa cekikikan melihat nasib kami yang terlantar.

Diah pamit akan nginap di kos temannya. Sayang sekali tak mengajak kami.

Kami terpaksa menumpang di teras Daffodils, salah satu lembaga kursus di Pare. Letaknya tepat di depan kos kami. Di atas kursi bambu kami bertiga bercerita. Tertawa meski bingung.
Lapar menyerang.

“Tok..tok..tok.., “

Wah, ada penjual bakso. Aku dan Mbak Inna makan.

Kapit mengetuk pintu kantor Daffodils. Ternyata ada pria di dalam. Namanya Momo. Ia bekerja di Daffodils. Beruntung karena ia dan Kapit saling kenal. Dia kemudian mengijinkan kami menginap di salah satu kelas bagian belakang dengan syarat hars bangun sebelum pukul 06:00.

“Alhamdulillah,” pikirku.

Kami masih duduk di teras, bercerita. Tak peduli malam sudah larut. Kami bahagia, setidaknya sudah mendapat tempat untuk tidur. Saatnya bersantai.

Mbak Inna memanjat sebuah pohon jambu yang ada di depan Daffodils menikmati rokok Tali Jagatnya. Aku duduk di kursi bambu sambil bersandar di dinding. Kapit duduk di lantai depan pintu kantor Daffodils.

Malam semakin larut. Sudah tak ada orang yang berkeliaran. Tak ada suara kecuali suara kami bertiga menemani malam. Kami memutuskan masuk ke dalam kelas, mencoba istirahat.

Di dalamnya ada 31 kursi plastik, warna hijau, mengelingi ruangan berbentuk U. Di sisi kanan ada meja dan kursi untuk guru alias teachernya. Ada Whiteboard. Sebuah kipas angin Panasonic yang terpasang di dinding mendinginkan ruangan. Dan lantai dibalut karpet.

Sangat nyaman untuk ukuran orang-orang terlantar seperti kami malam itu. Masing-masing mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Aku memilih di samping kanan meja guru. Kapit berbaring di atas kursi dan Mbak Inna masih santai, belum memilih tempat. Ia kemudian mengambil sebuah spidol dan menulis di papan tulis. Sebuah puisi.

Satu,dua, lelaki perempuan di setengah malam
Ketuk 3 kali dan bulan mengintip di balik dinginnya malam
Rona merah sembunyi pada lesung pipimu
Tali hitam di atas pundakku
Rambutnya yang manja
Kantuk yang tertahan di balik pagar
Ucapan selamat malam yang tertunda…
Have a nice dream..

Aku tersenyum membaca puisinya. Aku masih baring di lokasi yang aku pilih. Mbak Inna belum mau tidur. Kapit sibuk menerima telefon. Mbak Inna kemudian berlatih yoga. Ia memang sering melakukannya. Ia mempelajari semua gerakan dari buku. Badannya lentur. Wajahnya tenang. Aku senang melihatnya.

Kapit datang membawa dua gelas kopi hitam. Kantuk lenyap seketika digoda kopi dan tawa. Ucapan selamat malam dan mimpi indah pun tertunda.

Pukul 03:00. Aku kembali ke tempat tidurku yang kuanggap nyaman. Kembali mencoba memejamkan mata. Aku menyetel alarmku jam 05:15. Pintu gerbang kos akan dibuka 05:30, berharap bisa kembali ke kamar tepat waktu. Aku harus kursus jam 05:30.

Alarmku berbunyi. Mbak Inna masih tidur. Kapit tak ada, ia tidur bersama Momo. Aku membangunkan Mbak Inna. Keluar dari kelas, Kapit sudah menyiapkan motornya, ia akan segera pulang ke rumah.

“Aku pulang dulu yah,” katanya.

“Iya, thanks yah..” kataku.

Aku dan Mbak Inna menuju ke depan gerbang. Belum terbuka. Aku menikmati udara pagi, meski kantuk yang tersisa masih terasa. Gerbang dibuka, kami mengayuh sepeda ke tempat parkir kos. Lalu masuk kamar. Mbak Inna melanjutkan tidurnya. Aku bersiap-siap berangkat kursus meski sudah terlambat.
Sepeda onthel sewaanku menemani perjalananku. Mata kupaksa untuk menikmati pagi sambil mengingat kejadian semalam.

“Tak ada ucapan selamat malam dan mimpi indah. Tapi selalu akan ada kenangan yang indah,” pikirku.

Pare, 13 Agustus 2008.

26 Sep 2008

Kali Pertama ke Pare

Pagi itu, pertengahan bulan Agustus di Yogyakarta. Aku telah bersiap-siap untuk keberangkatanku ke Jawa Timur. Tepatnya ke Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Sebuah tas yang lumayan besar berisi pakaian dan kantong plastik putih berisi selimut dan buku telah siap menemani perjalananku. Pukul 8.30, sebuah mobil dari sebuah agen perjalanan akan menjemputku. Aku duduk di sebuah ayunan yang terletak di depan kosku menunggu.
Bunyi klakson mobil terdengar. Bunyinya bukan berasal dari mobil, tapi dari handphoneku, tanda pesan masuk. “Tik, kamu tunggu di luar yah. Aku sudah di jalan menuju kosmu.” Sms itu dari Inna. Seorang teman yang akan berangkat bersamaku ke Pare. Ini adalah kali kedua ia ke sana. Sedang aku, adalah pertama kali. Penasaran mengganggu di kepalaku. Seperti apa desa ini?
Mobil akhirnya tiba. Aku mengangkat barangku ke dalam mobil. Aku dan Inna duduk paling depan. Kami berangkat. Satu jam, dua jam lalu enam jam kemudian kami tiba di Kabupaten Kediri.
“Assalamu Alaikum,” sapaku untuk kota ini. Kata ibuku jika kali pertama datang ke sebuah tempat harus ucapkan salam. Itu selalu kuingat.
Satu jam kemudian. Sebuah gerbang tertulis Selamat Datang di Kecamatan Pare menyambut rasa penasaranku. Sawah dan perkebunan tebu menjadi sasaran empuk mata menikmati keindahan desa sepanjang jalan.
“Belok kiri pak,” kata Inna ke supir.
“Tik, kita singgah di warung Pak Nur saja yah untuk sementara. Kita bisa makan di sana, bisa ngutang juga loh. Abis itu, kita cari kos lalu daftar kursus.” kata Inna.
Tujuanku ke Pare adalah kursus Bahasa Inggris. Daerah ini dikenal dengan julukan Kampung Inggris, yaitu di desa Tulungrejo, ada sekitar 60-an lembaga kursus di sini. Murah dan kualitasnya tidak kalah dengan tempat kursus yang mahal, menurut Inna. Dan aku akan tinggal di sini ini selama satu bulan.
Kami memasuki gang, jalannya lumayan rusak. Kami tiba di rumah Pak Nur. Teriakan histeris Pak Nur menyambut Inna, cukup mengagetkanku. Beberapa pria yang menikmati hidangan di warung memperhatikan kami. Aku berkenalan dengan Pak Nur dan istrinya. Rambut Pak Nur seperti vokalis Nidji. Ia lucu. Bahasanya Indonesia campur Inggris. Meski tak pernah ikut kursus, tapi ia bisa menggunakan Bahasa Inggris walau sedikit kacau. Setidaknya, ia masih lebih bisa dariku. Mungkin? Hahaha…
Kami memesan makanan. Istri Pak Nur yang menyiapkannya. Inna membuat es teh. Saat makan, beberapa teman Inna mendatangi kami. Mereka berbincang, bertanya kabar dan membicarakan brondong yang ikut kursus di sini. Menurut Inna, mereka menjadi salah satu hiburan paling menarik di desa ini. Aku tertawa mendengar perbincangan mereka. “Sepertinya menarik,” pikirku.
Di dinding warung Pak Nur banyak potongan koran yang ditempel. Semua berisi informasi tentang pariwisata dan tempat kursus di Pare. Sangat menarik. Berbagai macam tempat wisata terasa sangat menyenangkan di potongan koran tersebut. Gunung Kelud, candi peninggalan Majapahit, gua dan air terjun. Aku berjanji akan mengunjunginya selama aku berada di desa ini.
Setelah makan, kami berjalan sekitar 20 meter dari rumah Pak Nur. Di depan tertulis Lucky House, salah satu kos-kosan yang tersedia di desa ini. Ternyata semua kamar telah disewakan. Kami bingung. Kami memutuskan untuk menyewa satu kamar di rumah Pak Nur saja. Ia pun mengiyakan. Semua barang kami letakkan di sebuah kamar. Hanya ada lemari dan kasur kapok. Itu sudah cukup menurut kami dan sesuai harga, 75 ribu per bulan.
Urusan kamar selesai, setidaknya untuk sementara. Selanjutnya kami mencari tempat kursus. Kami meminjam sepeda mini milik istri Pak Nur. Inna memboncengku. Sungguh menggelikan, karena ukuran badan kami berdua serasa menyiksa sepeda itu. Tawa pun menemani pencarian kami.
Daffodils, lembaga kursus pertama yang kami kunjungi. Seorang wanita menyambut kami. Namanya Mita. Ia bekerja di Daffodils bagian office. Badannya agak kecil, rambut pendek dan ramah. Beberapa program sudah tidak menerima peserta lagi. Yang tersisa hanya program Pre-Intermediete. Di program ini, banyak diskusi dan debat dalam Bahasa Inggris. Inna mendaftar. Aku tidak. Aku belum sanggup harus berdebat dalam Bahasa Inggris. Aku ingin mengambil program Grammar dan Speaking dasar saja. Sebagai pemula tentunya.
Mita merekomendasikan kami ke Kresna, lembaga kursus Bahasa Inggris juga, tapi khusus Grammar. Jaraknya tidak jauh. Kami mengambil sepeda dan melanjutkan pencarian. Di depan Daffodils sebuah tulisan menarik perhatian kami. “Sanjaya House”. Kos-kosan juga. Pengamatan ditunda. Kami harus mendaftar kursus terlebih dahulu.
Perjalanan berlanjut ke Kresna. Jalanan semakin sempit dan tidak beraspal. Aku seperti ingin berjalan kaki saja karena jok belakang sepeda yang saya duduki terbuat besi tanpa busa. Rasanya tulang seperti ingin patah saat ban sepeda melewati batu-batuan. Untung saja jaraknya lumayan dekat.
Tiba di Kresna. Halaman parkirnya luas. Banyak sepeda. Sebelah kiri ada gazebo sederhana. Di dalamnya ada beberapa orang sedang belajar. Di depan ada dua ruangan. Aku menuju ke sebelah kanan, di bagian office. Seorang pria bertubuh kurus dan berkulit hitam menyambut kami. Aku mendaftar kelas grammar. Uang yang ku keluarkan hanya Rp. 80.000,- untuk empat kelas. Wah, murah!
Pendaftaran selesai. Tiba saatnya kembali memikirkan tempat tinggal yang nyaman. Teringat rumah kos yang terletak di depan Daffodils tadi. Kami pun menuju ke sana.
Gerbang Sanjaya di depan mata. Kami masuk. Bertanya. Dan ada kamar yang kosong. Kami memutuskan akan pindah ke sini. Harganya Rp. 90.000 ,- per bulan. Satu kamar ada tiga tempat tidur lengkap dengan kasur busa. Ada lemari bersusun tiga. Cermin. Lantai keramik. Kamar mandi di luar. Dan paling penting adalah batas jam malamnya bisa sampai jam 10. Kebanyakan kos di sini, hanya membatasi jam malam sampai jam 9 saja. Jika terlambat, maka hanya ada ucapan silahkan mencari penginapan jika punya uang atau silahkan tidur di jalan saja jika tak punya uang. Ough!
Barang telah kami pindahkan dari rumah Pak Nur ke Sanjaya House. Dengan becak tentunya. Senang dan lega rasanya, akhirnya bisa istirahat, mandi dan gosok gigi. Hehehe...
Petang usai. Inna mengajakku menemui seorang teman lamanya di sebuah warnet. Namanya Kapit. Awalnya kupikir dia seorang wanita, “Ka' Fit dengan nama panjang Fitri”, ternyata aku salah. Dia salah satu brondong versi Inna. Pakaiannya serba hitam, baju, celana dan kupluk. Ia ketawa cekikikan ketika bertemu kembali dengan Inna. Setelah dari warnet, kami ke sebuah warung makan. Minum kopi, es teh dan makan sambil bercerita. Kapit juga senang menulis. Kami berdiskusi tentang tulisan dan organisasi SAMSARA Abortion Recovery malam itu. Ia akan menjadi pengurus SAMSARA di wilayah Kediri.
Cuaca sangat dingin, tapi menyenangkan. Namun sayang, waktu dan ancaman tidur di jalan karena gerbang kos akan segera ditutup terasa menghantui. Kami pulang pukul 9.40, padahal diskusi malam itu terasa bersemangat.
Tiba di kos. Gerbang sedikit lagi akan ditutup. Masuk kamar lalu tidur dan berharap mendapat mimpi indah. Akh, hari ini terasa melelahkan.
Pare, 11 Agustus 2008. Kali pertama ke Pare.

3 Agu 2008

Dari Tjangkir 70 ke Tugu Yogya

Senin, 14 Juli 2008. Satu hari setelah kursus narasi Yogyakarta selesai. Aku dan teman (Inna Hudaya) berencana menuju Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tujuan kami adalah mencari tahu tentang Taring Padi, sebuah komunitas seniman. Mbak Inna ingin menulis tentang mereka, dan saya menemani saja, sekedar ingin berkenalan.

Pagi hari, Mbak Inna mengirim sms. “Tik, kamu ke kosku jam 3an saja yak. Aku masih instal laptop,” katanya. Aku ke kos Mbak Inna, di Jalan Kaliurang sebelum jam 3. Ia belum selesai meng-instal laptop barunya. Aku menunggu sambil bercanda dengan anak pemilik kos Mbak Inna. Namanya Jidan. Ia memperlihatkan beberapa permainan yang ia katakan sulap. Laptop Mbak Inna belum juga beres, aku malah sempat tertidur di kamarnya.

Saat bangun, Mbak Inna sudah selesai mandi. Sudah pukul 5.30. Kami tidak jadi berangkat ke Bantul. Kami ke warnet, hanya sebentar. Perut kami yang sudah meminta makan memaksa kami melanjutkan perjalanan pada sebuah angkringan di belakang Universitas Negeri Yogyakarta. Kami memesan nasi sego macan ditambah tiga sate usus, dua sate telur, satu ceker bakar, dua tempe goreng, satu gelas es teh dan air putih. Lalu duduk di tikar yang diletakkan di atas trotoar samping selokan mataram.

Makan selesai. Kami ke Jalan Janti. Warung Tjangkir 70, milik Ari, teman kursus juga. Ia tampak senang melihat kedatangan kami di warungnya. Kopi mentega (menu andalan Ari) dan kopi jahe menemani aku dan Mbak Inna dalam remang-remang lampu hias di warung itu. Ari menawarkan kami secara gratis telur asin. “Nih, ada telur asin. Gratis ko’. Tapi, awas loh kalau kentut bau,” katanya menghibur kami.

Kami bertiga bercerita, berdiskusi dan bercanda sambil memainkan dua laptop di atas meja. Foto-foto saat kursus menjadi bahan pembicaraan terhangat. Lagu-lagu dari laptop Mbak Inna, menemani kami berdiskusi. Berbagai macam aliran musik. Mulai dari Marginal Band, Ippank, Sapardi, hingga Trisna Livia (Gubuk derita). Tak perduli banyak orang di warung Ari. Suara tawa kami terdengar seperti dilakukan oleh lebih dari sepuluh orang.

Satu jam berlalu. Aku meminta segelas kopi jahe lagi ke Dita (teman Ari di warung).

Malam itu kami senang. Setiap mengakhiri perbincangan, Ari akan mengeluarkan dengkuran seperti babi dan berkata, “Bencong.” Ia memanggil aku dan Mbak Inna bencong. Kami memanggil Ari, tomboy. Hahaha…

Dua jam berlalu. Aku memesan Pizza mie kuah. Mbak Inna pesan teh tawar. Wajar saja kami lapar lagi, sudah jam setengah satu.

Aku dan Mbak Inna memang berniat begadang malam itu. Aku ingin menikmati Yogya malam hari. Aku ingat Ari pernah berkata padaku, jika berada di kota ini dan belum foto di Tugu Yogya, maka kamu belum sah menginjakkan kaki di kota ini. Entah apa alasannya. Mungkin karena nilai sejarahnya. Jadi, aku meminta Mbak Inna menemaniku ke Tugu tersebut untuk foto. Kebetulan malam itu aku membawa sebuah kamera digital. Ari ingin ikut. Kami menunggu hingga warungnya tutup.

Pukul 2.00, warung sepi. Pengunjung telah pulang. Tinggal aku, Mbak Inna, Ari dan Dita. Aku dan Mbak Inna masih berhadapan dengan laptop. Ari cuci piring. Dita menggulung terpal dan menghitung uang hasil penjualan makanan dan minuman di warungnya malam itu.

Lampu warung mati. Kami siap berangkat. Di depan ada dua wanita seperti menunggu seseorang. Tidak lama kemudian dua pria datang dengan mengendarai mobil. “Waduh, bahaya nih warung gua dijadiin tempat mesum,” kata Ari, khawatir.

Aku memilih naik sepeda Phoenix milik Ari. Sedang Ari dan Mbak Inna naik motor shogun hijau yang kupinjam dari teman. “Benar kamu mau naik sepeda? Jangan sok lo.” kata Ari meyakinkanku. Tekadku sudah bulat akan bersepeda malam itu. Meski kadang aku harus mengayuhnya sekuat tenaga. Sesekali aku memegang tangan Mbak Inna lalu ia menarikku. Mereka tertawa melihatku kelelahan. Tiba di tikungan dari Jalan Janti ke Jalan Solo, ada dua orang polisi berjaga. Dari pinggir jalan terdengar suara pria menggoda. Aku tidak peduli. Kali ini aku sendiri. Mereka meninggalkanku. Lalu hilang. Aku mencari, melihat ke kiri, kanan, dan ke belakang. Aku tak menemukan mereka. Aku mulai khawatir. Lalu ada suara tawa dari samping kiri, trotoar yang gelap. Aku mengenal suara tawa itu. Mbak Inna dan Ari. Seorang pria di atas becak sambil baring ikut menertawakanku. Aku sedikit lega meski masih ngos-ngosan. Kami melanjutkan perjalanan.

“Masih kuat ga’?” tanya Mbak Inna.

“Masih Mbak. Tenang aja.” kataku.

“Tik, giginya diganti. Biar ga’ keras kayuhnya.”

“Gigi apa?” tanyaku.

“Wah, dasar wong deso.” ejek Ari, sambil tertawa sekeras-kerasnya.

Aku mengikuti saran mereka. Ternyata memang benar, aku mulai ringan mengayuh sepeda itu. “Wah, dasar wong deso,” batinku.

Aku meminta singgah membeli minuman. Aku lelah. Lututku gemetar. Keringat mengalir. Punggungku panas dan pedis akibat koyo cabe pemberian Mbak Inna. Obat pegal-pegal katanya. Tawa mereka semakin menggila. Aku membiarkan mereka melakukannya. Aku pasrah. Kami singgah di Circle Klei. Aku langsung baring dan meluruskan kaki di tangga toko. Mereka terus menertawakanku sambil masuk ke dalam toko. Aku membeli pocari sweat. Mbak inna membeli sebotol bir (Heineken). Kami foto di depan toko dengan berbagai macam gaya. Kami bahkan meminta tolong kepada seorang pria untuk memotret kami bertiga. Kami tidak peduli pada orang lain malam itu. Yogya serasa hanya milik kami bertiga.

Ari mulai candaannya. “Tik, aku punya candaan,” katanya. “Tapi kamu harus janji jangan marah ya?” tambahnya, meyakinkanku. Aku tidak curiga sama sekali. Kami berhadapan. Ia kemudian mendengus ke wajahku. Ada cairan yang muncrat dari hidungnya. Ia lari. “Wah, kurang ajar kamu Ri’.” Aku mulai marah dan mengejarnya sambil mengeluarkan beberapa kalimat menyakitkan hati. “Tadi kamu kan sudah janji, tidak marah,” Ari membela diri. Mbak Inna hanya tertawa sambil menghisap rokoknya. Aku mencuci mukaku dengan air pocari sweat.

Aku mulai mencari cara untuk balas dendam. “Ri’, aku punya candaan. Tapi kamu jangan marah ya?” tanyaku. Ari curiga aku akan balas dendam. Aku memasukkan air pocari sweat ke dalam mulut lalu kusemburkan ke arahnya. Ia berhasil lolos. Tidak kena. Aku masih mencari cara lain.

Aku lapar. Wajar saja, naik sepeda menguras banyak tenagaku. Aku beli es krim dan Chitato. Sambil makan es krim, aku mulai berkata. “Ari, aku punya candaan.” Aku menyuruhnya menutup mata. Ia melakukannya. Lalu kucolek es krimku dan kutaruh ke wajahnya. Kali ini aku berhasil membalas, meski tidak terlalu menyakitinya. “Kurang ajar,” katanya sambil tertawa.

Makanan dan minuman habis. Kami melanjutkan perjalanan ke Tugu. Aku masih memilih naik sepeda. Ari dan Mbak Inna naik motor. Aku berusaha mengejar mereka. Kadang-kadang mereka melewati jalan yang tidak perlu dilalui, hanya untuk buatku makin lelah. Pukul empat, kami tiba di jembatan Gondolayu. Mbak Inna turun dari motor lalu berpose di tembok jembatan minta difoto. Kamera jatuh. Rusak. Mbak Inna masih bertahan dengan gayanya. Ari memeriksa kembali kamera. Mbak Inna kecewa tahu kamera rusak. Aku juga kecewa tentunya.

Tak ada foto. Kami berdiri menghadap Sungai Code. Sungai yang membelah Provinsi Yogyakarta. Mata airnya ada di kaki Gunung Merapi. Di sekitar sungai ada pemukiman. Tata bangunannya indah, arsitekturnya bernama Romo Mangun. Kami memandang dari sisi jembatan dengan cahaya lampu yang berdiri kokoh berjejer di sepanjang jembatan Gondolayu. Sangat indah.

Kembali ke tujuan awal kami adalah foto di Tugu Yogya yang letaknya sudah di depan mata. Ari mencoba perbaiki kamera. Tapi tidak bisa dipakai lagi. Kami memutuskan tetap ke Tugu. Akhirnya sampai juga. Ada dua wanita yang sedang berpose di sekitar Tugu. Mereka memakai baju tanpa lengan. Model rambut mereka sama, panjangnya sebahu dan lurus. Satu diantara mereka bibirnya sumbing.

Sedang kami, tak ada foto sesuai rencana. Hanya bercerita. Mbak Inna menceritakan sejarah Tugu Yogya kepadaku. Layaknya seorang ibu yang sedang mendongengkan anaknya. Aku mendengar cerita. Sesekali aku menoleh ke Mbak Inna, lalu menoleh ke Ari, dan kadang-kadang mataku tertutup karena ngantuk. Ia tetap bercerita.

Tugu Yogya terletak di perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi di sisi selatan, Jalan AM. Sangaji di sisi utara, Jenderal Soedirman di sebelah timur dan Pangeran Diponegoro di sebelah barat. Tugu ini berdiri setinggi 15 meter dan diresmikan pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 tahun jawa.

“Kamu tau ngga’ soal kosmik Jogja?” tanya Mbak Inna.

“Tidak,” jawabku.

“Di Jogja ada empat titik yaitu Laut Kidul di selatan, Merapi di utara, di timur ada Gunung Lawu dan di barat (aku lupa). Ke-empat titik itu adalah bekas tempat pertemuan kanjeng ratu Kidul dan panembahan Senopati. Tugu ada tepat di tengah-tengahnya. Itu sebabnya upacara labuhan biasanya diadakan di Parangkusumo, Merapi, Lawu dan...lupa.” katanya.

“Tik, konon katanya ada lorong atau jalan rahasia di bawah Tugu ini. Lorongnya menghubungkan empat titik itu.” kata Arie.

“Oh, ya? Terus kita bisa ke sana tidak?” tanyaku.

“Ye, orang bilang katanya. Tapi nggak tahu benar atau tidak.” balas Arie.

Kami memandang beberapa orang yang datang ke Tugu foto dengan bermacam gaya. Ada yang duduk di depan Tugu dan di tengah jalan sambil melompat. Wah, bikin iri saja. Aku mengeluarkan hpku. Berpose bersama Mbak Inna. Padahal hpku tidak punya fasilitas kamera, hanya sekedar mengobati kekecewaan karena kamera rusak.

Empat lampu yang mengelilingi Tugu mati. Lampu jalan juga mati. Sudah banyak kendaraan melintas. Kami masih di Tugu. Hanya kami bertiga. Duduk bercerita. Aku dipijat Mbak Inna. “Sepertinya nggak lucu kita masih duduk di sini kalau sudah terang, udah pagi nih,” kata Ari. Kami tertawa. Lalu memutuskan pulang. Sudah jam enam. Kami menyeberang menuju tempat kami memarkir motor dan sepeda. Kami pulang. Ari dengan sepedanya menuju Asrama Lampung. Aku dan Mbak Inna naik motor menuju Jalan Kaliurang.

Dingin sekali pagi itu. Tapi aku bahagia, meski tak tidur untuk satu malam. Pengalaman malam itu, kuyakin tak akan terganti di hari-hari berikutnya.

Tiba di Kaliurang, aku dan Mbak Inna singgah di warnet. Cek email (walah, sok penting buanget), tak terasa sudah setengah sembilan pagi. Kami makan bubur ayam, lalu pulang ke kos Mbak Inna. Tak ada lagi perbincangan. Aku bergegas tidur.

16 Juli 2008.

24 Jun 2008

Ingat pesan Ibu

Suara Michael Buble menyanyikan lagu I Wanna Go Home mengingatkanku suasana rumah. Aku rindu rumah. Aku rindu kampung halaman. Aku rindu Ibu. Aku rindu Ayah. Aku rindu kakak, adik dan keponakanku Lingga.

Aku tak pernah menyangka meninggalkan mereka adalah kepedihan yang mendalam.

Sunyi.

Rindu.

Tentu saja ada air mata.

Tapi bukan menyerah. Air mataku hanya sebatas ungkapan rindu saja.

“Hati-hati ko nak, di kampungnya orang. Jangan ko lupa salat sama berdoa. Ingat kalau tinggal di sana, jangan suka tumpuk baju kotor. Kalau mandi, langsung dicuci. Rajin-rajin ko bersihkan kamarmu le’,” pesan Ibuku sebelum aku meninggalkan rumah.

Sebelum berangkat, aku pamit kemudian memeluk, mencium pipi dan tangan Ibu. Ia menangis. Ini kali pertama ia melepasku ke Pulau jawa, Yogyakarta. Tatapannya seolah-olah ingin melarangku pergi. Tapi tak ia lakukan. Selain Ibu, ada Tante Ida, saudara sepupu Ibu yang datang berkumjung ke rumah. Sama seperti Ibu, ia juga memeluk dan menciumku. Keponakanku, Lingga sedang tidur di dalam sebuah ayunan berwarna biru. Aku menatapnya dengan penuh kasih sayang kemudian mencium pipi lembutnya. Hanya sebentar. Aku tak ingin mengganggu tidurnya. Adikku berteriak mengucapkan selamat tinggal dari kamar mandi belakang. Sedang Ayah dan Kakakku tak ada di rumah saat aku berangkat. Mereka ke kantor. Aku hanya pamit lewat telepon.

“Hati-hati ya nak, jangan lupa kasi’ kabar kalau sudah tiba,” pesan Ayah melalui telepon.

Matahari sangat terik. Saat itu pukul 14:58 wita. Kupandangi rumah petak Ayah yang belum selesai dibangun. Ibu dan Tante Ida masih berdiri di pintu rumah. Memandangku dengan doa. Dadaku seperti ingin meledak. Bibirku bergetar. Mataku merah menahan tangis. Aku tak ingin Ibu melihatku menangis. Aku ingin tampak tegar dan kuat di depan Ibu agar ia bisa lebih tegar dariku.

Aku ke Yogyakarta. Kota pelajar, kata banyak orang. sebut saja perjalananku ini dengan merantau. Di Yogya, aku akan mengikuti kursus narasi yang diselenggarakan Pantau.

Pesawat Merpati membawa aku bersama Eko menuju Yogyakarta. Aku menginjakkan kaki di kota ini malam hari. Pukul 22:30. Kami dijemput Mbak Dian Lestariningsih di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Dengan Taxi, kami menuju rumah kos-kos-an Mbak Dian di jalan Seturan. Hatiku masih berdebar-debar. Aku berpikir, bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru lagi. “Setelah hotel Seturan, belok kiri ya pak,”kata Mbak Dian kepada supirTaxi.

Kami singgah di sebuah rumah bergaya minimalis. Di depan pagar ada tulisan: terima kos putri. Mbak Dian membuka pagar besi cat warna merah. Di sisi kiri ada sebuah kolam kecil. Airnya sangat kotor. Sebelah kolam ada sebuah mushollah. Sedang di sisi kanan, dekat garasi ada sebuah ayunan besi.

“Mas Aan…” teriak Mbak Dian sambil berdiri di salah satu pintu. Seorang pria, kemudian membuka pintu dengan tersenyum. Dialah Mas Aan, pemilik rumah yang ia jadikan kos-kosan. Sebuah jam berukuran kecil di atas televisi Mas Aan kemudian menarik perhatianku. Pukul 21:47 wib. Saat itu aku baru sadar kalau perbedaan waktu di Yogya lebih cepat sekitar 60 menit dari Makassar.

Eko dijemput oleh Nay di kos Mbak Dian. Tinggal aku, mbak Dian dan Mas Aan. Mbak dian mengajakku ke lantai 2, tepatnya di kamar yang telah ia sediakan untukku.

“Ini kamarmu lo Tik. Sudah ta’ bersihkan. Sudah ada kasur dan dua bantal,” kata Mbak Dian.

“Di sini kamar mandinya,” sambil membuka pintu kamar mandi. Sudah tersedia sebuah baskom lengkap dengan gayungnya. Ia kemudian berjalan keluar. Aku memperhatikannya. Tak lama kemudian, ia datang membawa kursi plastik dan menaruh baskom di atasnya. Di bawah keran air. Lalu memutar keran air tersebut.

“Biasanya anak kos mandinya kaya’ gini,”sambil memainkan gayung naik turun seperti sedang mandi. Aku memberikan senyum termanisku kepadanya.

“Apalagi ya? Kamu butuh apa lagi?”tanyanya kemudian.

“Ndak usah Mbak, ini sudah cukup,”jawabku lugu.

Ia kemudian keluar dari kamarku. Ia belum berhenti bicara. Ia kemudian memberiku air mineral dan roti tawar yang dibungkus dalam kantong plastik warna putih. “Makasih banyak Mbak,”kataku.

“Besok ada peserta juga yang mau nginap di sini. Dari Surabaya. Namanya Khanis. Ia kerja di GAYa NUSANTARA. Tapi kayaknya ia akan bolak-balik Yogya Surabaya deh,” jelas Mbak Dian.

GAYa NUSANTARA sebuah lembaga yang mendukung adanya keanekaragaman seks, gender dan seksualitas. Anggotanya banyak kaum homo dan lesbian. Aku bertanya dalam hati, “jangan sampai Mbak Khanis juga lesbian, bisa gawat.” Malam itu aku gelisah. Intinya aku penasaran. Apakah Khanis seorang lesbian.

Mbak Dian kemudian membuyarkan pikiran tentang Mbak Khanis dengan mengajakku ke warung kopi. Tentu saja aku mau meski lelah masih mengganggu tubuhku.

Udara malam Yogya sangat dingin. Aku mengancing rapat resleting jaketku. Dingin masih juga aku rasakan. Motor Mbak Dian terus melaju dengan kecepatan agak tinggi sambil memberitahuku nama jalan yang kami lewati. Kami kemudian tiba di warung kopi plus di daerah Bandeng. Memasuki warung itu, aku merasa seperti berada di desa. Suasananya begitu nikmat. Remang-remang. Lagu bahasa Jawa makin membuatku seperti di desa.

Kami memesan makanan dan minuman. Aku memesan mie goring telur dan teh manis hangat. Mbak Dian memesan teh jahe dan roti coklat keju. Sedang teman Mbak Dian, Mas Andre memesan kopi dan nasi kucing. “empat belas ribu Mbak,”kata pria yang bekerja seagai kasir di warung itu. Aku kaget. “Apa? Pesan sebanyak ini bayarnya hanya empat belas ribu? Apa tidak rugi?”tanyaku dalam hati. Pulang dari warung itu, aku menanyakannya pada Mbak Dian. Mbak Dian hanya tersenyum.

Sekitar pukul 00:00 kami kembali ke kos-kosan.

Malam itu aku tidur di kamar Mbak Dian menemaninya nonton bola. Pertandingan belum selesai aku sudah tertidur. Paginya aku kembali ke kamar. Tak lama kemudian, Mbak Dian berangkat ke kantor. Aku sendiri bingung mau ke mana. Eko tak bisa keluar, ia tak tahu jalan di Yogya. Karna bosan di kamar, aku memilih keluar. Singgah di sebuah bengkel yang juga menjual pulsa. Kuhabiskan pagi pertamaku di sebuah bengkel bersama Pak Juanda, pemilik bengkel.

Aku bosan. Lama menunggu kabar Eko selanjutnya, aku kemudian mengirim sms ke Jalling, temanku yang sekarang berada di Yogya. Ia membalas, dan menyuruhku menunggu di Bengkel Pak Juanda. Hanya dua puluh menit, ia sudah tiba. Ia pun mengajakku keliling Yogya dengan Trans Yogya atau lebih dikenal Busway.

Masih hari pertama di Yogya, aku sudah rindu rumah. Rindu Ibu. Rindu Ayah. Rindu kakak, adik dan keponakanku Lingga.

Ibu kemudian menelponku.

“Di mana ko nak?”tanyanya.

“Di atas busway,”jawabku.

Ia kemudian tertawa.

“Hati-hati ko le’ nak, belajar ko baik-baik di situ. Jangan lupa salat,” kata Ibu mengulang pesannya saat aku berangkat.

“Iye’ ma’. Jangan khawatir. Baik-baik ja di sini,”

Setelah mengucapkan salam, Ibu mematikan telepon. Aku masih di atas busway.

Mengingat Ibu.

Merindukan Ibu.


Seturan, Yogyakarta.
25 Juni 2008

Punto ada di Yogya

Namanya Punto Wijayanto. Dipanggil Punto. Lahir di Jakarta, 16 November 1977. Oleh ayahnya, Waluyo, seorang karyawan PT. Pertamina, ia diberi nama yang mirip dengan salah satu tokoh wayang, Punto Dewo.

“Karena anak pertama kali ya, makanya dikasih nama Punto, kaya’ tokoh wayang itu kan anak pertama juga, dari lima bersaudara, tapi aku cuma tiga aja,” kata Punto.

Badannya agak gemuk. 70 kilogram beratnya. Kalau tingginya 165. Suka senyum dan ramah. Belum menikah. “Masih normal,”katanya sambil tersenyum. Di Yogya, ia tinggal bersama orang tuanya di Jalan Kaliurang Desa Sidoarjo, Sleman.

Sebelum tinggal di Yogyakarta, ia dan keluarganya berpindah-pindah. Mulai dari Jakarta, Kalimantan, Aceh, dan Palembang. “Ikut Bapak, kerja di kota-kota itu,”katanya. Beruntung pada saat di Aceh, ia tak pernah merasakan dampak dari perseteruan antara Gerakan Aceh Merdeka dan TNI. “Soalnya aku tinggalnya di Aceh bagian timur gitu, jauh dari tempatnya GAM.” Ia dan keluarganya meninggalkan Aceh pada tahun 1991 dan pindah ke Palembang.

Memasuki Sekolah Menegah Atas, Punto meninggalkan keluarganya dan sekolah di Yogyakarta. Nama sekolahnya SMU De Pritto. Salah satu sekolah swasta di Yogyakarta. Sejak di SMP, Punto senang menulis. Bahkan saat di SMU ia aktif menulis di majalah dinding (mading) sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikulernya.

“Yogya terkenal sebagai kota pelajar, makanya aku memilih untuk sekolah di sini.”kata Punto meyakinkan.

Setelah lulus SMU, ia melanjutkan kuliahnya di UGM jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 1997. Sejak kuliah, ia sudah mulai bekerja sebagai freelance di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat, Yogya Heritage Society (YHS). Yaitu lembaga yang bergerak dalam bidang pelestarian warisan budaya namun, lebih fokus pada pelestarian pembangunan bersejarah. Sekarang Punto adalah konsultan arsitektur di LSM tersebut dan sedang menangani proyek pembangunan yang bekerja sama dengan Bank Indonesia Yogyakarta.

Gembiraloka. Nama kelompok yang ia buat bersama teman-teman kerjanya. “Gembiraloka itu nama kebun binatang di Yogya, soalnya anggotanya hewan semua,”ujar Punto sambil tertawa. “bercanda, kok.” Sebelumnya, ia juga mempunyai kelompok Gerilya Kota. Anggotanya tiga orang. Kegiatannya mengadakan pelatihan-pelatihan. “Biasanya film,”katanya. Tapi karena bekerja, ia berhenti dari kelompok Gerilya Kota.

Pasca gempa melanda Yogyakarta, ia dan teman-temannya mendatangi Desa Giriloyo, Kecamatan Imogiri. Mereka mencoba memperbaiki roda perekonomian di desa ini yang sempat macet akibat gempa. Mereka mengumpulkan para pembuat batik yang ada di desa ini. Dengan menyiapkan bahan-bahannya, Punto dan teman-temannya terus memberikan dukungan kepada warga desa agar kembali membangun perekonomian di Giriloyo.

“Ngga’ ada yang menarik, hidupku datar-datar saja. Aku lagi menunggu hidupku bervariasi,”katanya sambil menggerakkan ujung jari telunjuknya naik turun.

Kalau merasa bosan, ia lebih suka nonton film. Studio Twenty One pun menjadi tempat favoritnya. Kadang-kadang ia berkumpul bersama teman-temannya di cafe-cafe sekitar Yogya.

“Yogya dianggap sebagai kota yang enak untuk masa tua” sambil mengenang ucapan Ayahnya. “Ayahku mau menetap di sini. Tapi kalau untuk generasiku belum tahu,” katanya sambil tersenyum.

18 Jun 2008

Menjadi Kontributor di Kota Palopo

Di penghujung tahun 2007. Aku sedang berjalan-jalan di salah satu pusat pertokoan di Kota Makassar. Rencananya ingin membeli sandal. Tiba-tiba handphoneku yang sedikit lagi akan lowbet berdering. Kulihat nama seorang pria yang lama tak kujumpai. Kak Abo memanggil… . Jujur saja saya heran. Tak biasanya. Pasti ada sesuatu, pikirku. Setelah kuterima, ia hanya berbicara sebentar.

“Tik, lagi di mana dek? bisa telfon balik ka’??” pintanya.

“Iya Kak. Tunggu beberapa menit. Saya cari wartel dulu, soalnya tidak ada pulsaku kodong..” jawabku jujur.

Handphone kemudian kami matikan.

Saya berjalan menuju sebuah wartel yang berada di lantai 1 pertokoan. Saya menekan nomor telepon milik Kak Abo sesuai yang tertera di handphoneku. Cepat sekali ia menjawab. Seperti biasa, awalnya basa-basi, Kak Abo sering bercanda. Meski telah kuduga sebelumnya, ia menawariku sebuah pekerjaan yang sesungguhnya sangat kuinginkan. Kebetulan pada saat itu, statusku pengangguran. Maklum, baru 1 bulan selesai wisuda.

Menjadi kontributor. Tapi, untuk wilayah Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur. Aku tidak langsung memberi jawaban kepada Kak Abo. Barulah setelah beberapa hari aku menerima tawaran tersebut, tapi aku meminta wilayah lain yaitu Kota Palopo dan Kabupaten Luwu. Mungkin aku sudah keterlaluan karena harus memilih wilayah sendiri. Tapi, aku mempunyai pertimbangan lain mengapa aku ingin di tempatkan di Palopo.

Setelah mengirim lamaran, wawancara, hingga belajar meliput dan ngedit di Biro Makassar, beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 3 Januari 2008 aku berangkat ke Palopo. Sebelum berangkat berbagai macam pesan-pesan dari senior-seniorku di Biro serasa mengepung telingaku. Aku tidak keberatan. Karna kupikir aku memang masih perlu banyak belajar.

Hari pertama di Palopo aku langsung diperkenalkan dengan beberapa wajah-wajah lama dan wajah-wajah baru yang tentu saja asing bagiku. Akan kuperkenalkan satu persatu..

ADAM DJUMADIN. Lebih sering dipanggil Adam atau DJ, singkatan dari Djumadin. Kadang-kadang ia selalu marah jika aku salah menyebut Djumadin menjadi Djumain. Adam adalah kontributor TRANS TV. Wilayah liputannya cukup luas mencakup seluruh Kabupaten dan Kota di Luwu Raya, ditambah Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang.

Adam kuliah di Stikom Fajar Makassar semester tujuh. Sekarang ini ia sudah Kuliah Kerja Lapang Plus (KKLP).

“Tak perlu susah..” katanya. ”Saya kan sudah diterima di TRANS TV, jadi saya tinggal mencari judul laporan dan yang saya tulis pengalaman liputan saya di Palopo.” tambahnya.
Aku kemudian meminjamkan laporan KKLPku sebagai contoh. Masalahnya, adam tidak mempunyai buku petunjuk membuat laporan KKLP sesuai keinginan Stikom. Entahlah mengapa Adam tidak memilikinya, mungkin ia tidak tahu.

Di pagi pertama bertugas di Palopo, aku mengirimkan pesan ke Adam melalui sms. ”jemput dulue..” pintaku. Sekitar jam 10 dengan motor Thunder kesayangannya ia menjemputku.

Adam pria yang baik, kadang-kadang lucu, tapi kadang-kadang menjengkelkan.

“Ia tipe pria melankolis dan centimentil”kata seorang teman wartawan wanita yang juga bertugas di Palopo.

Adam tidak pelit, peduli dan bersahabat. Pintar memainkan gitar dan bernyanyi. Suaranya lumayan bagus. Terkadang jika ia ingin melucu, ia akan bernyanyi sambil menirukan suara vokalis Naff atau Fadli Padi.

Bahkan Adam sendiri kadang tidak menyangka jika saat ini ia bisa bekerja di media elektronik. Padahal ia kuliah di Stikom jurusan Jurnalistik. Awalnya, ia hanya iseng-iseng melamar di Trans tv untuk wilayah Sulbar. Namun, tak ia sangka 2 minggu setelah lamaran ia kirim, pihak Trans tv Makassar memanggilnya untuk bergabung di wilayah lain yaitu Luwu Raya, Toraja dan Enrekang.

Awal ia bekerja, ia mengaku kesulitan. Apalagi dalam pembuatan naskah, karena ia telah terbiasa membuat berita untuk media cetak.

”saya dulu setengah mati sekali ka bikin naskah berita tv , karena basic ilmuku di media cetak. Tapi, setelah biasa ma’, itu mi naskah berita tv yang paling bodo’.!!” kenangnya.

Di Palopo, Adam tinggal di Biro Tribun Timur bersama kakaknya yang juga bekerja sebagai wartawan Tribun di Kota Palopo. Irwandi Djumadin. Kami biasa memanggilnya Kak Wandi. Yang tinggal di Biro Tribun, bukan hanya mereka berdua, tapi juga istrinya, Sandra dan anaknya yang baru berumur 3 bulan, bernama Tiara.

Kak Wandi sudah sekitar 5 tahun menjadi wartawan Tribun Timur untuk Kota Palopo. Dari masih bujangan hingga ia punya 1 anak. Mungkin juga akan lebih. Sebelum Tiara lahir, kami sering berkumpul, bercerita, tertawa hingga numpang tidur di Tribun. Tapi, sekarang tidak lagi. Kami tidak ingin tawa terbahak-bahak kami mengganggu bayi mungil itu.

Kak Wandi sangat baik. Orangnya santai. Ia senang memelihara ayam jantan. Di samping Biro, ia memiliki kandang ayam. Entah berapa jumlah ayam jantan yang ia punya. Jika ingin buat ia marah, caranya gampang. Tinggal curi ayam jantannya saja. Hahaha... Setiap pagi kegiatan rutinnya adalah memandikan ayam lebih dulu sebelum ia mandi. Jika ingin melihatnya begitu lucu juga gampang, suruh saja ia bernyanyi. Ekspresinya akan membuat anda tertawa terbahak-bahak.

Orang ketiga yang akan kuperkenalkan adalah Suaib Laibe. Ia kontributor RCTI untuk wilayah Luwu Raya, Kota Palopo dan Kabupaten Toraja. Sebelum bekerja di RCTI, ia pernah menjadi redaktur di koran harian Palopo Pos. Ia Bekerja di RCTI baru sekitar 8 bulan. Selain di RCTI, ia memiliki beberapa pekerjaan lain. Ia adalah salah satu konsultan publik di Komisi Pemilihan Umum Kota Palopo. Ia juga bekerja di Komisi Penanggulangan Aids Kota Palopo.

Pria berkulit hitam ini sangat cuek. Tidak lagi bujangan. Ia sudah punya 5 anak. Ia penyuka warna hitam. Setiap hari warna bajunya sama dengan warna kulitnya, hingga jika gelap ia bisa saja tak terlihat.

Pria asal Kecamatan Wotu ini sulit bangun pagi. Jam 12 malam handphonenya tidak aktif lagi. Setelah jam 10 pagi menjelang sianglah baru handphone kembali ia aktifkan. Jika sedang istirahat, ia tak mau diganggu, katanya.

Pria yang tak kalah gilanya adalah Son Abdul Rahim. Awal saya di Palopo, ia masih bekerja sebagai stringer di SCTV. Tapi, 1 bulan kemudian ia menjadi kontributor setelah mendaftar di tvOne untuk wilayah Luwu Utara dan Luwu Timur. Sebelumnya, ia juga pernah bekerja di Palopo Pos. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Biro Palopo Pos di Kabupaten Tana Toraja.

Ia ulet. Pekerja keras. Lucu. Kadang menjengkelkan. Harus kuakui ia punya jaringan yang kuat di Kota Palopo. Karena berada di naungan perusahaan yang sama, saya dan Son sering sama-sama. Mulai dari diskusi sampai liputan. Saya menyebutnya Pria Perantau. Ia berasal dari Pulau Sumatera. Bertahun-tahun di Palopo, hanya sekali ia berkunjung di kampungnya. Bahkan ketika ayahnya meninggal, ia juga tidak pulang ke kampungnya. Tapi, keluarganya banyak di Palopo. Cek percek, ayahnya keturunan Bua Kecamatan Luwu Sulawesi Selatan.

Ia pandai berpantun. Rencananya paling menggiurkan dalam waktu dekat ini adalah menikah. Bulan Agustus rencananya. Nama pacarnya Anni Salkar. Umurnya jauh bedanya minta ampun. Sebaiknya tak kusebutkan, karena dijamin anda akan menyebut kata TIDAK ADIL.

Pria lainnya adalah Wahyudi Baso. Bekerja sebagai Koresponden SCTV. Ia wartawan Tv yang paling tua di Palopo, karena memang umurnya sudah melebihi usia panik. Ia belum menikah. Bukannya tidak mau, tapi entahlah.

Kak Yudi sangat baik. Sabar. Suka tertawa dan suka mengalah. Apalagi jika menghadapiku. Ia memanggilku Tikko. Badannya gemuk, tinggi, berkulit putih dan kepalanya hanya berambut sedikit.

Selain menjadi wartawan, Kak Yudi juga membantu dokumentasi Komisi Pemilihan Umum Kota Palopo selama Pilwalkot 2008 ini. Ia sering mengajariku pengambilan gambar, meliput di lapangan hingga menasehatiku soal apapun.

Wartawan lainnya yang ingin kuceritakan adalah Mulyadi Abdillah. Tapi lebih sering dipanggil Ipung. Ia alumni Stikom Fajar juga. Sekarang bekerja di Koran Sindo. Ia sudah mempunyai pengalaman jurnalistik yang lumayan banyak. Beberapa media pernah ia tempati bekerja. Mulai dari Harian Fajar, Pedoman Rakyat, Majalah Ekspose dan sekarang Seputar Indonesia.

Jujur saja aku segan padanya. Waktu kuliah dulu, kami belajar dalam organisasi yang sama. Sanggar Seni Karampuang. Saya banyak belajar darinya bukan hanya dalam hal jurnalistik tapi persoalan hidup. Saya sering konsultasi dengannya. Jujur saja, di Kota Palopo ini, ia-lah yang sering kumintai pendapat, apalagi dalam hal pekerjaan.

Sulit menjelaskan karakter pria satu ini. Ia cool. Tidak banyak bicara, tenang tapi kalau marah bisa bikin ketakutan. Hahahaaa... Dari segi penampilan, Kak Ipung, pria gondrong sebahu ini cuek. Baju kaos, celana jeans dan sandal atau sepatu kulit sudah cukup baginya.

Dan lelaki lain sudah sedikit berumur yang ingin kuceritakan bernama Ucenk Husain. Bekerja sebagai kontributor di Metro Tv. Badannya kecil dan berambut keriting. Ia sudah pernah menikah. Tapi, dua tahun yang lalu, istrinya meninggal karena kanker payudara. Kak Nia nama almarhum istrinya. Cantik, perhatian dan sosok wanita yang kuat. Waktu Kak Nia masih hidup, mereka sering liputan berdua. Kebetulan Kak Nia juga bekerja sebagai wartawan tv.

Saat penyakit Kak Nia semakin parah, Kak Uceng setia menemani, bahkan hingga ajal menjemputnya. Saat Kak Nia meninggal dan dikuburkan, Kak Uceng menangis sambil memeluk nisan istrinya dan terus berkata sayang pada mendiang istrinya.

Kak Uceng, penikmat rokok Dji Sam Soe ini akhirnya harus menikmati masa tuanya di Kota Palopo dengan berat hati. Setelah lama bekerja di Makassar, ia kembali ditugaskan di Kota ini. Sebelum di Makassar, ia memang sudah lama menjadi wartawan tv untuk Metro tv di Kota Palopo dan Luwu Raya bahkan Kabupaten Tana Toraja.

Pernah sekali waktu, kami mengadakan pesta kecil-kecilan di Biro Tribun Timur. Kak Son membeli beberapa ikan Baronang untuk dibakar. Salah satu ikan ukurannya lumayan besar. Kak Uceng dengan rasa percaya diri dan keyakinan yang entah tiba-tiba berasal dari mana kemudian menawarkan diri untuk membuat masakan dari bahan ikan tersebut. Katanya mau buat parede (ikan masak yang dimasak dengan bahan sederhana misalnya, cabe, garam dan kunyit. Biasa dicampur daun kedondong atau belimbing biar kecut). Tapi karena tak ada daun kedondong dan belimbing, Kak Uceng mencampur bahan lain untuk membuat masakannya sedikit kecut yaitu jeruk nipis. Melihat atau mendengar, sepertinya enak jika ia hanya memeras air jeruk nipisnya. Tapi Kak Uceng membiarkan biji dan kulitnya ia ulek dan dicampur ke dalam parede. Hasilnya, pasti pahitlah. Tak ada rasa bersalah di wajahnya. berniat membela diri ia bahkan mencoba membohongi kami dengan berkata, ”biji jeruk nipis bisa jadi obat,”. Sambil tertawa kami semua membalas dengan menyebutnya, ” betul-betul Kak Uceng gila. Hahaha..”

Membicarakan masakan, teman yang akan saya ceritakan lagi adalah seorang wartawan wanita yang katanya jago masak. Belum terbukti sih... aku Cuma pernah merasakan sayur kangkung tumis buatannya yang rasanya lumayan enak juga.

Wanita ini bekerja di Harian Fajar. Rosmini Hamid. Diperkeren menjadi Mimi. Tomboy. Jago Taekwondo dan jago main billiar. Sedikit-sedikit mau hajar orang. Setiap hari ia menggunakan jilbab. Warna biji matanya tidak seperti warna biji mata pribumi. Warnanya coklat. Mimi pakai softlens. Matanya minus 3.

Di Palopo, ia tinggal di kamar kos ukuran 4 X 4 meter. Sendirian. Kadang-kadang aku menemaninya menginap di kamar kos itu. Kami dekat. Sering bercerita berdua. Biasa, urusan wanita. Hal yang paling mnjengkelkan darinya karena ia sulit dibangunkan saat tidur. Butuh tenaga dan taktik khusus untuk membangunkannya.

Sebelum di bertugas di Palopo, Mimi ditempatkan oleh perusahaan tempatnya bekerja di Kota Makassar. Selama empat tahun, ia bekerja sebagai wartawan Hiburan. Tak heran jika ia tergila-gila jika ada artis ibukota yang akan datang ke Makassar, maka Mimi tidak tanggung-tanggung akan mengeluarkan teriakan histeris. Ia pernah meliput dan melakukan wawancara khusus dengan Tibo beberapa hari sebelum ia di eksekusi di lembaga pemasyarakatan di Palu, Sulawesi Tengah. ”Saat itulah aku betul-betul merasa menjadi wartawan,” katanya bangga.

Kawan lain yang akan kuceritakan adalah Salam Abadi. Bekerja di ANTV. Kupanggil ia Kak Salam. Sudah punya istri dan dua orang anak. Ia ayah yang baik. Setiap pulang kerja, ia selalu menyempatkan untuk singgah ke toko membeli roti tawar untuk anaknya. Ia termasuk wartawan paling sabar di kota ini. Tak pernah mengeluh pada saat liputan. Kak Salam selalu tersenyum meski pada saat liputan, isi kantongnya sudah tak mendukung lagi.

Ukuran tubuhnya hampir sama dengan Kak Ipung. Badan agak kurus. Tingginya sekitar 165 cm. Kulit putih dan rambut ikal dan cara berpakaiannya sederhana.

Pada saat banjir melanda Kabupaten Luwu Utara, kami sering meliput bersama. Dan yang tak bisa kami lupa, ketika aku, Kak Salam dan Kak Son meliput banjir di Desa Lara I Kecamatan Baebunta. Untuk menuju ke desa itu, kami menggunakan dua motor. Aku berboncengan dengan Kak Son dan Kak Salam sendiri dengan motor Shogunnya. Motor kami harus melewati jalan-jalan desa yang sudah tergenang air. Kadang aku harus turun berjalan kaki dan Kak Son serta Kak Salam harus mendorong motor. Banjir yang lumayan tinggi, membuat motor Kak Salam mogok karena kemasukan air. Kami terpaksa harus berhenti dan mencoba memperbaiki motor tersebut dengan sekuat tenaga. Kak Salam dan Kak Son bahkan harus mengangkat dan membalikkan motor Kak Salam agar airnya bisa keluar. Dan yang paling lucu, pada saat mereka mengangkat motor itu, Kak Salam masih sempat memohon padaku agar difoto sebagai kenang-kenangan. Kami pun tertawa terbahak-bahak, meski beban mereka berkilo-kilo.

Tenaga dan pikiran yang kami keluarkan ternyata tak membuat motor Kak Salam bisa kembali normal. Waktu terus berjalan. Matahari semakin dekat dengan kepala. Keringat mulai menetes deras dan terasa mengalir di kulit. Kami memutuskan untuk meninggalkan motor Kak Salam disalah satu rumah penduduk sambil menjemurnya di bawah terik sinar matahari. Untuk menuju ke lokasi banjir terparah, kami bertiga naik dalam satu motor dan memaksa motor kesayanganku mengangkut kami dan melewati genangan air.

Semua teman dekatku di Palopo telah kuceritakan. Di antara mereka aku yang paling muda. Mereka sering bilang aku anak kecil. Mungkin karena badanku yang kecil dan sikapku yang sedikit manja kepada mereka. Kami semua sering berkumpul bersama. Meliput peristiwa bersama. Saling menukar informasi. Saling bercanda. Saling mencela. Kadang tak sependapat. Kadang pula bersitegang. Tapi tak ada dendam karena kami hidup dan bekerja dalam kota yang sama. Palopo. Kota kecil dimana semua kenangan masa kecilku mengalir indah di kota ini.

Sartika
Malili, 16 Juni 2008

9 Mei 2008

Sulis

Akhirnya, setelah dua bulan di servis, si SULIS (kamera kesayanganku) kembali. Senang sekali rasanya, apalagi uang yang digunakan buat bayar ongkos servisnya pakai duit sendiri. Dua bulan tak melihat sulis, rasa penasaran terus muncul di kepalaku. rindu? PASTI. Saat bertemu kembali, saya berteriak asli senang tiada tara. Teman-teman yang saat itu sedang sibuk buat berita masing-masing, seketika menoleh ke arahku. Ada yang bilang saya gila.. ada yang bilang, "wei, santai mako, cewe'...". Hanya ada satu kata yang langsung kupikirkan, TIDAK PEDULI. Yang pasti saya sudah mendapatkan kameraku kembali. Tidak sabar ingin langsung ku pakai liputan.

Sulis..Sulis...

22 Apr 2008

RUSAK TOTAL

Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, banjir terjadi Kabupaten Luwu Utara. Tapi kali ini banjirnya di 7 Kecamatan. Parahkan??? Bersama seorang teman yang agak gila (hahahaaaa) saya berangkat ke sebuah Desa yang banjirnya tak pernah surut-surut. Desa Teteuri, terletak di kecamatan Sabbang, sekitar 10 kilometer dari ibukota Kabupaten Luwu Utara, Masamba.

Tiba di lokasi, banjir sudah sampai di sebuah jembatan besar yang jaraknya tidak jauh dari jalan poros Sulawesi. Sekitar puluhan siswa tampak bersenang-senang bermain air bahkan mandi bersama teman-teman sekolah mereka. Kebetulan hari itu, mereka pulang cepat karena banjir.

Untuk menuju ke seberang jembatan, saya dan teman saya, Son Abdul Rahim, harus turun dari motor. Mesin motor terpaksa dimatikan, dan Son harus mendorong motor ke seberang jembatan. Saya sendiri harus menumpang pada sebuah mobil milik Dinas Sosial yang akan mengantarkan bantuan ke desa-desa yang terendam banjir. Karena jaraknya dekat, saya memilih tidak duduk di dalam mobil bersama pegawai Dinas Sosial, tapi saya memilih berdiri sambil pada sisi kiri mobil dengan memegang sebuah besi agar posisi berdiri tetap aman.

Tiba di seberang saya turun dari mobil dan naik motor menuju lokasi banjir yang lumayan parah bersama Son. Di tengah perjalanan, saya melihat sekelompok murid SD yang bersepeda. Dari jauh, saya pikir anak-anak tersebut adalah anak laki-laki karena sepeda yang mereka gunakan adalah sepeda BMX yang lebih sering digunakan oleh anak laki-laki. Ternyata setelah melihat dari dekat, semua anak adalah anak perempuan. Waduh, saya tertawa terbahak-bahak di atas motor. Anak-anak perempuan tersebut sangat tomboy menggunakan sepeda tersebut. Mereka menyapa kami, “haloooooo tanta…”. Saya lagi-lagi tertawa sekeras-kerasnya.

Sekedar info bahwa anak sekolah di desa ini kebanyakan menggunakan sepeda ke sekolah karena letak sekolah mereka lumayan jauh. Bukan hanya murid SD kelas 4 atau 5 saja yang bias menggunakan sepeda, tapi ada juga anak kelas 1 SD. Bagi anak yang menggunakan sepeda, akan terbilang lumayan kaya jika ia memiliki sepeda. Jadi, ada juga anak-anak sekolah yang harus rela berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya untuk pergi ke sekolah. Bahkan, ada diantara mereka yang hanya menggunakan sandal ke sekolah. Ada juga yang menggunakan sepatu, tapi saat berjalan pulang dari sekolah ia melepas sepatu dan memegang sepatunya sambil berjalan.

Hahahaaaa… jadi ingat waktu kecil.

Pulang dari sekolah saya juga kadang-kadang melakukan hal yang sama. Saya ingat, saat kelas 5 SD, bapak juga memberikanku sepeda untuk digunakan ke sekolah. Walau jarak dari rumah ke sekolah lumayan dekat, saya tetap memilih naik sepeda. Suatu hari, saat ingin ke sekolah sepeda pemberian bapak itu tidak ada di halaman rumah. Menurut kakak, sepedanya dipinjam sepupu. Walau dalam keadaan marah dan menangis, saya tetap pergi ke sekolah. Tapi… pulang dari sekolah, sepupu saya bukannya bilang terima kasih tapi malah mengejek karena saya harus menagis. Tiba-tiba saja batu merah yang lumayan agak besar melayang ke kepala sepupu saya. Siapa yang lempar ya…??? Ya.. tentu saja saya. Hahahaaaa… untung saja sepupu saya tidak apa-apa, Cuma benjol sedikit.

Kembali ke kisah di Teteuri…

Waktu tiba di lokasi, kami bertemu dengan seorang Kepala Dusun Mangkallang. Kami kemudian berbincang-bincang mengenai keadaan warga di Mangkallang. Ternyata belum ada yang mau mengungsi juga, karena sudah biasa. Ketinggian air juga masih sama saat beberapa hari yang lalu meliput di sana. Tiba-tiba saja handphone Son berdering. Katanya dari delik sandi atau panggilan buat seseorang yang sering memberi informasi kepada kami jika ada peristiwa. Dari delik sandi tersebut, kami menerima info bahwa di kecamatan Mappadeceng juga mengalami banjir yang parah. Saya dan Son memilih menuju ke mappadeceng.

Di perjalanan, saya melihat tiga orang bocah sedang membantu ibunya mencabut daun ubi jalar di pinggir-pinggir jalan. Ketiga bocah itu dengan asyiknya bernyanyi sambil tertawa terbahak-bahak. Sangat menyenangkan melihat mereka bahagia. Mau tau lagu apa??? “11 januari bertemu, menjalani kisah cinta ini… aluri berkata engkaulah.. milikku..”. Weits, salut buat GIGI.

Lanjut…

Kami kemudian bertemu dengan kepala Desa Teteuri. Beliau membawa kami ke sebuah rumah yang digunakan warga untuk mengungsi karena banjir. Naik peraaaaaahu lagi. Lebih tepatnya sampan. Saat tiba di lokasi, ternyata rumah pengungsian itu juga sedang tergenang air. Pengungsian saja terendam banjir, bagaimana dengan rumah mereka???

Dan untuk kesekian kalinya terjadi pada saya. Lagi-lagi saya jatuh diu sebuah selokan yang airnya setinggi dada. (bagi yang ingin tertawa, SILAHKAN!!! Meski melukai hati saya). Namun, sayangnya dan sangat saya sesalkan hingga ingin berteriak sekeras-kerasnya…. Handphone Samsung satu-satunya milikku, yang sangat kusayangi harus ikut terendam. Hiks…hiks…hiks… Son kemudian memisahkan satu persatu bagian handphone mulai dari casing, baterai dan sebagainya, lalu menjemurnya.

Hasilnya, sampai hari ini RUSAK TOTAL.

Sudah mi deh..., nda mood ma’ menulis ingat handphoneku. Hehehe…