1 Mar 2013

Belajar Ketahanan Pangan dari Perempuan Desa


Sartika Nasmar




SAYA mengunjungi Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 13 Februari 2013. Pesawat saya tiba sekitar pukul satu siang di Bandara El Tari Kupang. Rasanya bahagia sekali, akhirnya bisa menginjakkan kaki di wilayah yang telah lama kuidam-idamkan. Terlalu banyak cerita yang kudengar dan membuat saya penasaran. Saya tak sabar melakukan petualangan.

Keesokan harinya, saya memulai perjalanan. Saya mengunjungi kantor CIS Timor di jalan KB Lestari Kota Kupang. Di sana saya bertemu dengan relawan-relawan yang menginspirasi saya dan membuat rasa penasaran semakin melayang-layang.

CIS Timor adalah sebuah perkumpulan relawan yang didirikan tahun 1999. Awalnya terbentuk untuk membantu eksodus Timor-Timor yang berada di wilayah Kota Kupang. Tapi kemudian pada tahun 2006 mereka kemudian mengurus lintas bidang, mulai dari advokasi, gender dan pengurangan resiko bencana. Saat ini anggota relawan CIS Timor sekitar 60 orang. Kantor CIS Timor juga menjadi sekretariat NTT Policy Forum, sebuah organisasi yang mengerjakan program Local Initiative ti Strenghthen and Empower Women (LISTEN) yang didanai oleh Oxfam. Oxfam sendiri merupakan konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.

Saya mengunjungi tujuh desa dan dua kelurahan selama satu minggu. Bertemu hampir lima puluhan perempuan dari desa dan mendengarkan cerita-cerita perjuangan mereka melawan dampak negatif perubahan iklim. Kenapa mereka mau terlibat? Jawab mereka sederhana, karena mereka perempuan. Setiap hari mereka berada di dapur dan memantau persediaan makanan untuk keluarga mereka. Dan saatnya keluar dari rumah untuk mencari solusi untuk ketahanan pangan mereka.

80 persen penduduk Nusa Tenggara Timur adalah petani. Setiap tahun mereka selalu berhadapan dengan kekeringan. Kurangnya curah hujan mempengaruhi ketidaksuburan lahan-lahan mereka. Tentu saja kemudian berpengaruh pada produksi pangan mereka. Dari tahun ke tahun, masalah yang mereka hadapi selalu sama. Mereka tidak berhasil memproduksi pangan dalam satu musim.

“Dominasi laki-laki sangat kuat di pemerintah desa dan Badan Permusyawatan Desa.  Mereka tidak sadar ketika kurang pangan dan kemudian mengganggu produksi, yang paling terganggu perempuan karena mereka mengurus rumah tangga,” kata Zarniel Woleka, koordinator CIS Timor.

Ini membuat saya semakin tertarik. 

Program ini mengajak agar perempuan bicara dan menyampaikan kepada pemerintahnya bahwa pangan tak pernah cukup dalam satu tahun. Perempuan-perempuan dilatih dalam sebuah kegiatan bernama Sekolah Anggaran Perempuan (SAP). Melakukan penelitian. Mendatangi kantor desa, rumah aparat desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan masyarakat. Mencari informasi mengenai Alokasi Dana Desa (ADD). Apakah tepat sasaran?

Ada yang tepat tapi ada juga tidak. Banyak desa yang hanya fokus pada pembangunan fisik saja. Seperti hasil temuan Gernelia D. Noki-Djaga dan teman-teman kelompoknya., salah satu kelompok yang terlibat dalam program LISTEN. Ia adalah ibu rumah tangga. Tinggal di Desa Raknamo. Sejak tahun 2010, ia menjadi ketua Kelompok Perempuan Pemantau Anggaran (KPPA). Kelompok yang didirikan disetiap desa untuk menjadi wadah para perempuan desa melakukan kegiatan dan advokasi agar muncul keterlibatan perempuan dalam pembangunan desa. Khususnya dalam isu ketahanan pangan.

“Pertama kali membuat kelompok, kepala desa sangat mendukung. Tetapi setelah dia tahu apa yang KPPA perjuangkan yakni memantau anggaran, dia menjauh,” kata Mama La, sapaan akrab untuk Gernelia. 

Dengan tegas ia telah menyampaikan tujuan baiknya kepada kepala desa bahwa kehadiran mereka tidak ingin mengelolah ADD tersebut. Tapi hanya ingin mengawal saja, apakah ADD telah dimanfaatkan sesuai dengan posnya masing-masing: 30 persen untuk pembangunan fisik dan pembayaran aparat desa dan 70 persen adalah dana untuk pemberdayaan masyarakat.
Dua tahun berturut-turut, ADD Desa Raknamo hanya difokuskan pada pembangunan fisik. Tak ada anggaran untuk pemberdayaan masyarakat. Ini menyalahi aturan, pikir Mama La.

“Padahal jika dikelolah dengan baik, kan yang tahu anak kelaparan atau tidak itu kan perempuan, yang tahu anak sudah makan atau tidak hari ini kan perempuan, yang tau lumbung itu cukup ka tidak untuk satu tahun, kan perempuan,” omelnya menggebu-gebu.

Tapi tak masalah baginya tanpa ada dukungan dari kepala desanya. Tujuan utama mereka saat ini adalah mendorong keterlibatan perempuan dan mengangkat posisi dan harga diri perempuan di desa mereka. Dan mencari solusi agar pangan di dalam rumah tetap mencukupi.

Sekitar 120 kilometer dari desa Raknamo, hal yang menakjubkan saya dapatkan di Desa Eno Neontes, di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kami berbincang-bincang penuh tawa di sebuah bangunan yang berdekatan dengan kantor desa. Eno Neontes adalah desa yang lumayan jauh dan akses jalan yang tidak mulus. Tapi pemandangannya sangat indah.

Mama-mama di sana, begitu mengagumkan. Saya harus memberikan semua jempol yang saya miliki untuk perjuangan mereka. Mulai dari menginisiasi listrik masuk desa, motor air untuk pertanian, angkutan mobil pedesaan sampai tersedianya bidan desa. Saya yakin ketika orang-orang melihat penampilan mereka, mungkin tak akan ada yang percaya bahwa mereka mampu melakukannya. Datang ke pertemuan menggunakan pakaian seadanya dan sarung menutupi pinggang hingga kaki mereka. Makan sirih pinang. Bahkan salah satu mama, asik menyusui anaknya sambil tetap fokus bercerita tentang pembangunan desa.

Terlalu banyak cerita menarik yang saya temukan. Banyak sekali kehebatan. Juga di Desa Pusu, masih di kabupaten yang sama dengan Eno Neontes. Demi menjaga ketahanan pangan mereka, saat ini mereka sedang merencanakan pembuatan pupuk organik untuk perkebunan.

Yance Babis, ketua KPPA Desa Pusu mengatakan bahwa dalam setahun mereka telah menyiapkan jagung yang disimpan di loteng rumah. Jumlahnya tergantung berapa banyak jagung yang ditanam. Tidak banyak warga desa ini yang menjual jagung yang telah dipanen. Hanya disimpan saja untuk dimakan. Tapi bukan berarti setiap hari mereka juga makan jagung terus menerus. Kadang, mereka mengkonsumsi beras, ubi-ubian, pisang serta sayur-sayuran. Tapi ketika kehabisan uang, maka jagung akan jadi santapan utama. Di Desa Pusu tak ada sawah. Di sana, masyarakat mengandalkan hasil-hasil perkebunan.

“Kalau katong biking pupuk organik kan bisa kurangi itu orang pakai pupuk kimia. Karena tanah juga bisa tidak bagus,” katanya.

Rencana besar jangka pendek mereka adalah pembuatan pupuk organik agar dapat membantu mereka untuk tetap menjaga ketahanan pangan. Selama ini, mereka selalu kehabisan stok jagung setahun dan terpaksa menjual ternak untuk membeli beras. Jika pupuk organik tetap ada, menurutnya, lahan bisa tetap subur dan bisa menanam jagung dan sayur-sayuran lebih banyak.

“Tapi, kita juga mau biking koperasi untuk bahan pertanian. Kerjasama deng papa-papa tapi, mereka untuk bersih-bersih lahan,”

Agustus sampai akhir Oktober adalah masa dimana desa Pusu mengalami kekeringan yang parah. Dan kebutuhan akan pupuk tinggi sehingga masyarakat beramai-ramai menggunakan pupuk kimia. Setelah melakukan percakapan dengan anggota kelompok, ternyata tak ada yang menyediakan pupuk organik.

Saya berpikir bahwa perjuangan para perempuan di desa adalah cara yang bijak untuk mengajarkan pemerintah menjaga ketahanan pangan mereka. Dan anggaran-anggaran yang masuk ke desa dapat dimanfaatkan oleh pemerintah desa untuk mengurus masalah ini. Tidak hanya membangun gedung dan melupakan kebutuhan pangan warganya.

Zarniel Woleka mengatakan pada saya, mereka sengaja mulai dengan kelompok perempuan. Karena menurutnya, dominasi laki-laki sangat kuat di pemerintah desa, di BPD dan mereka tidak sadar ketika kurang pangan dan kemudian mengganggu produksi, yang paling terganggu perempuan karena mereka mengurus rumah tangga.

“Karena itu kami ingin anggaran itu beri mereka supaya dikelolah dengan cara berbeda untuk penuhi kebutuhan pangan. Dan saat ini, efeknya cukup baik. Kalau dulu perempuan-perempuan itu hanya tahu urus masak, di rumah saja, gosip tentang menu, sekarang berubah menjadi bergosip tentang pemerintah dan kebijakan desa mereka yang perspektifnya itu bukan pada pangan.” kata Zarniel.

Pangan memang begitu lekat dengan perempuan. Mereka selalu dikait-kaitkan dengan dapur dan makanan. Tapi, hampir semua perempuan yang terlibat dalam KPPA menunjukkan pada saya bahwa ini mengubah hidupnya. Mereka memang masih sering berada di dapur, hampir setiap hari malah. Tapi, keterlibatan mereka dalam pembangunan desa membuat suami dan laki-laki di sekeliling mereka juga berubah. Menjadi lebih menghargai dan mendukung setiap aktivitas mereka setelah melihat hasil yang mereka berikan untuk desa.

Seperti yang dikatakan oleh Mama Mery di Desa Eno Neontes, “Kepentingan di desa saja bisa kami atur, apalagi kalau hanya kepentingan di rumah,”

Saya bisa melihat, betapa ia percaya diri mengatakannya.

 



 


3 komentar:

pnktrahman mengatakan...

Siapakah yang paling rentan dari dampak perubahan iklim? jawabnya adalah perempuan. Tulisan ini telah menunjukkan perjuangan perempuan dalam memperkuat ketahanan diri dan keluarganya.

Berharap yang terbaik untuk tulisan ini, semoga bisa jadi Juara.

Sartika Nasmar mengatakan...

Terimakasih Kak Rahman, perempuan-perempuan di Kupang banyak mengajarkan saya cara bertahan dalam kondisi apapun. Saya jadi ingat Mama La, salah satu anggota KPPA Raknamo pernah bilang ke saya, "Kami perempuan desa, yakin lebih punya banyak cara bertahan daripada perempuan di kota,"

MWN mengatakan...

Baru sekali ini mengunjungi blogmu. Senang membacanya.