Oleh: Sartika Nasmar
19 Juli 2009. Saya menuju ke sebuah rumah makan untuk menghadiri sebuah pelatihan seksualitas. Sebelumnya, Pino, seorang teman yang bekerja di Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Suawesi Selatan memberi info mengenai pelatihan tersebut.
Saya datang terlambat pagi itu. Lebih dari 20 orang sedang santai menikmati kopi susu dan pisang goreng tepung. Semua peserta perempuan. Kebanyakan dari mereka berpenampilan seperti laki-laki.
Ini adalah PELATIHAN SEKSUALITAS, GENDER DAN HAM Komunitas Perempuan Serumpun (KIPAS). KIPAS adalah komunitas LBT (Lesbian, Biseksual, dan Transgender) di Makassar. Mereka adalah kelompok kegiatan dampingan Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Sulawesi Selatan. Anggotanya cukup banyak, lebih dari 80 perempuan.
Pino berdiri di depan peserta. Ia adalah orang yang menyampaikan materi pada pelatihan tersebut. Semua peserta sudah saling kenal sebelumnya, kecuali saya. Ini adalah pelatihan pertama dalam komunitas ini. Kebanyakan yang ikut adalah lesbian hunter atau butchie, yakni lesbian yang berpenampilan seperti laki-laki pada umumnya.
Saatnya belajar. Pino tidak segan-segan memberikan dua tugas. Pertama, memetakan silsilah keluarga dari garis perempuan saja. “Hanya perempuan, kita tidak menerima laki-laki di sini,” kata Pino, berulang-ulang. Kedua, menemukan bentuk ketidakadilan yang dialami keluarga perempuan kita dalam silsilah tersebut. Pino sedikit bersabar menjelaskan tugas yang ia berikan, banyak pertanyaan dari peserta. Saya mulai menulis, mencoret, mengingat-ingat nama, dan mengeluh karena lupa nama sepupu, tante dan saudari nenek. Peserta lainnya juga sibuk sepertiku. Bedanya, mereka mencoba mengingat nama keluarga mereka dengan bertanya ke peserta lain yang bukan keluarga. Lalu akan ditertawakan oleh peserta lain. Nurmi, salah seorang peserta saya dapati kebingungan.
Ia kedapatan mengaktivkan handphone. Mulai menekan-nekan tombol. Lalu menunggu dan menyapa ibunya setelah mendengar suara. Saya tidak mendengar jelas percakapan mereka. Nurmi hanya melirikku dan memberi kode agar saya tidak memberitahu peserta lain. Ia takut ditertawakan.
“Sudah ki telfon mace ta’? tanyaku.
“Iye’. Sa lupa namanya sepupuku bela. Huss, jangan ki bilang-bilang sayang nah.” katanya, sedikit berbisik. Saya hanya tersenyum. Ingin rasanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Nurmi.
Tugas selesai. Pino memerintahkan peserta mempresentasikan pekerjaan masing-masing. Peserta saling tunjuk dengan ejekan dan pujian. Lalu satu persatu berdiri dan membaca tugas mereka. Membaca silsilah mulai dari yang tertua hingga yang termuda. Lalu mengungkapkan ketidakadilan yang ada dalam keluarga mereka. Mulai dari poligami, tidak boleh melanjutkan sekolah, tidak dapat hak waris hingga trauma paska perceraian orang tua atau trauma karena perselingkuhan ayahnya. Semua tampak serius mendengarkan. Entah apa yang mereka pikirkan. Pino mencatat di kertas yang tertempel pada white board. Semua peserta mengungkapkan ada poligami dalam keluarga mereka, itu dialami oleh nenek, ibu hingga tante mereka. Bahkan, salah seorang kakek peserta mempunyai istri sebanyak 42 orang. Banyak juga di antara mereka tidak melanjutkan sekolah karena orang tua mereka lebih memprioritaskan anak laki-laki untuk mendapat pendidikan yang tinggi atau barang kesukaan.
Pukul 12.00 Wita. Pino memberikan peserta tugas sambil menikmati makan siang. Peserta dibagi menjadi empat kelompok. Pino menyuruh tiap kelompok untuk menuliskan kesan dan menganalisa alasan mengapa mereka harus membuat silsilah keluarga hanya dari pihak perempuan saja. Waktu peserta hanya 90 menit untuk mengerjakan tugas dan menyelesaikan makan siang. Peserta tersebar di beberapa tempat tergantung kenyamanan mereka. Lebih banyak yang mengerjakan tugasnya di lantai. Ada yang sambil merokok hingga melepas sepatunya dan berdiskusi bersama.
Waktu telah habis, masing-masing kelompok presentasikan hasil kerjasama mereka. Setiap kelompok sepakat bahwa perempuan adalah sosok dimana perannya masih dinomor duakan dalam lingkungan keluarga. Ketidakadilan masih berjalan dan hak-hak yang seharusnya juga dimiliki oleh kaum perempuan masih terkendali dan dipegang oleh pihak laki-laki. Ketidakadilan ini nampak dari silsilah keturunan nenek atau buyut mereka hingga pada diri mereka sendiri. Salah satu kelompok mengaku terharu karena dengan begitu mudahnya ketidakadilan itu terjadi dan terus berlanjut seiring dengan waktu.
Nasma, peserta yang melakukan presentasi mewakili kelompok satu merasa lega. Mereka bisa berbagi bersama peserta yang lain. Ini adalah kali pertama mereka dengan terbuka berbicara mengenai masalah-masalah dalam keluarga mereka. Menambah kekuatan dan memulai hidup tanpa diskriminasi.
“Teman-teman, dari semua yang anda sampaikan, dapat saya simpulkan bahwa tidak satu pun dari anda yang mengatakan bahwa silsilah keluarga itu tidak penting.
“Menurut anda, apakah orang tua anda lebih banyak mengungkit prestasi perempuan atau laki-laki?” Pino kembali melempar pertanyaan kepada peserta.
“Kebanyakan laki-laki kak,” jawab beberapa peserta. Ada yang mengangguk, saling balas pandang, bengong atau hanya tersenyum saja.
Pada sesi kedua, diskusi menjadi semakin menarik. Pino berbicara soal gender dan konstruksi sosial. Ia tetap melibatkan peserta untuk lebih interaktif dan punya inisisatif untuk berpikir terkait materi.
“Apa yang membuat teman-teman merasa sebagai perempuan?” tanya Pino. Peserta menjawab satu per satu dengan lantang.
“Karena punya ini’e,”kata salah satu peserta sambil mengarahkan tanganya ke vagina.
“Karena punya tete’ (payudara),”
“Karena berbeda secara biologis,”
Pino kemudian membagikan kertas dan menyuruh peserta menulis jawaban mereka. Hasilnya bermacam-macam, mulai dari perbedaan biologis, hal-hal yang umum dilakukan perempuan hingga menyinggung kodrat. Pino membagi tiga jawaban peserta dan menulisnya di white board. Pertama, menyatukan jawaban yang berkaitan dengan biologis dan menambahkan perbedaan-perbedaan susunan biologis antara laki-laki dan perempuan. Kedua, jawaban yang berkaitan dengan perasaan dan kesukaan. Seperti, suka memasak, suka bunga, butuh kasih sayang, ingin menikah tapi takut hamil hingga ketakutan tidur dengan laki-laki. Ketiga, Pino memisahkan jawaban yang menyinggung tentang kodrat. Hanya satu jawaban, yaitu takut melawan kodrat.
“Saya sengaja pisahkan yah, biar kita bisa bahas satu-satu,” jelas Pino.
“Mau ka tanya, apa maksudnya ini, mau menikah tapi takut hamil?” tanya Pino.
“Malu-maluin kak sebagai hunter.” jawab salah seorang peserta. Peserta yang lain kemudian tertawa dan berteriak.
Pino tersenyum dan mulai menjelaskan materinya sambil sesekali menulis di white board. “Perasaan apa lagi yang kalian rasakan dan bikin kalian merasa seperti perempuan?” Pino lagi-lagi bertanya memasuki pikiran peserta agar mendapat jawaban-jawaban lain. Tidak ada jawaban yang baru, hampir semua peserta mengatakan hal yang telah mereka tuliskan. Pino kemudian memberikan contoh. Saat ia kecil, Pino bisa dengan leluasa membuka baju dan telanjang dada di hadapan banyak orang tanpa rasa malu. Namun perlahan-lahan, seiring waktu ada perasaan dimana ada batasan yang harus ia pikirkan sebelum melakukan sesuatu, misalnya membuka baju. Perempuan tidak bisa leluasa membuka pakaiannya sama seperti yang dilakukan oleh laki-laki ketika sudah beranjak remaja. Peserta mengangguk seolah setuju dengan pendapat Pino.
Pino kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai kodrat dan menghubungkannya dalam konsep penciptaan. Ada hukum yang bermain mengelilingi kodrat. Hukum alam dan hukum sosial. Hukum alam adalah sesuatu yang pasti, dimana ada kematian atau kehidupan, diciptakan oleh Tuhan. Ada hal-hal yang tidak bisa digugat. Sedangkan hukum sosial adalah hukum yang diciptakan oleh masyarakat dan dikonstruksi sedemikian rupa demi sebuah kepentingan.
Konstruksi sosial yang diciptakan masyarakat sangat mempengaruhi pola pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Mereka memisahkan dua peran dan memberikan nilai, ada plus dan minus. Hampir semua benda mempunyai jenis kelamin. Misalnya, warna. Pink identik dengan perempuan dan hitam diidentikkan dengan warna laki-laki. Dalam pembagian peran, laki-laki dikonstruksi sebagai kepala rumah tangga sekaligus pencari nafkah dan berada di wilayah publik sedangkan perempuan dikonstruksi sebagai ibu rumah tangga dimana wilayah kerjanya di dapur.
Pino kemudian membagikan lagi kertas dan memberikan tugas mengenai apa penilaian masyarakat terhadap penampilan peserta yang mirip seperti penampilan laki-laki pada umumnya. Macam-macam jawaban yang tertulis. Balaki (tomboy), perempuan jadi-jadian, pembangkang, kagum karena bisa bekerja dalam dua peran, aneh dan pembawa sial. Ada nilai di dalamnya. Plus dan minus.
***
Hari kedua pelatihan, beberapa peserta me-review materi hari sebelumnya. Lalu, Pino bersiap-siap dengan materinya di depan peserta. “Gender diciptakan oleh masyarakat seperti halnya warna, peran atau lainnya,” kata Pino. Ia mengajak peserta untuk menganalisa aktivitas para peserta bersama pasangannya selama 24 jam. Ia membedakan pembagian peran dalam hubungan lesbian dimana ada pengkotakan sebagai hunter (butchie) dan lines (femm) sesuai pengalaman peserta bersama pasangannya. Satu persatu mulai menjawab meski masih terlihat malu dan tertutup.
Beberapa peserta yang berperan sebagai hunter mengaku bekerja di luar rumah dan femmnya berada di rumah ketika ia bekerja. Ada juga yang membagi pekerjaan dalam rumah seperti mencuci pakaian, baju, menyetrika dan lain-lain. Nasma, peserta yang berperan sebagai hunter mengaku bahwa ia akan marah jika pasangannya pergi tanpa ijin. Ia akan mengontrol keberadaan pasangannya. Peserta yang lain menyetujui.
“Soalnya kita khawatir kalau ada apa-apa terjadi kak sama pasangan ta’,” kata Imel, meyakinkan Pino.
Ratna, seorang peserta kemudian mengomentari mengenai pembagian peran dalam hubungan lesbian dalam komunitasnya. Ia bercerita saat mengajak beberapa teman-teman berkumpul di posko komunitas mereka. Ia berteriak dan menyarankan para hunter agar mengajak pasangannya (femm) ikut berkumpul dan diskusi bersama. Namun, beberapa dari hunter menjawab bahwa lines sebaiknya berada di rumah saja.
Secara tidak sadar, masih banyak pasangan lesbian mengkotak-kotakkan posisi sebagai orang yang lebih kuat dan tidak kuat. Ketika kita merasa lebih kuat, ada kecenderungan seseorang meminta pelayanan khusus, memberi perlindungan, mengatasi rasa takut pasangan atau mengontrol aktivitas pasangan. Pino mencoba menganalisa dan menanyakan kembali kepada peserta. Beberapa peserta hanya mengangguk dan menunggu penjelasan dari Pino. Sama halnya pada hubungan pasangan heteroseksual, ada pembagian peran di dalamnya antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki akan dimaknai sebagai posisi paling kuat dan perempuan dimaknai posisi tidak kuat. Ada indikasi bahwa pola hubungan pasangan heteroseksual diadopsi pada hubungan homoseksual.
“Kemarin teman-teman mengatakan bahwa perempuan masih dinomor duakan dalam keluarga.
Jika teman-teman mengadopsi cara pasangan hetero dimana ada ketidakadilan di dalamnya bukankah anda juga sudah melakukan ketidakadilan pada pasangan anda yang juga perempuan?” tanya Pino.
Pada sesi lain, Pino mengajak semua peserta bernyanyi. Sebuah lagu lama yang telah ia ubah sebagian liriknya dengan kata anu.
Teringat pada suatu anu.
Kuberjalan-jalan di muka anumu.
Rasa bergetar, dalam anuku.
Ingin kuberanu.
Sekilas nampaklah engkau di balik anu.
Tersenyum dikau menusuk anuku.
Apa daya sejak saat itu.
Anuku terganggu di setiap waktu.
Rasa bergetar, dalam anuku.
Ingin ku beranu.
Semua tertawa terbahak-bahak ketika menyanyikan lagu itu. Anu adalah bahan utama kelucuan. “Apa yang pertama kali anda pikirkan ketika menyanyikan lagu itu?” tanya Pino.
“Itu kak, yang di bawah pusar,” kata Anjas, salah satu peserta. Bercinta, vagina, diraba, pelukan, french kiss, dll. Bermacam-macam jawaban peserta yang terdengar.
Mereka terlihat geli saat harus menyebut kata-kata yang berhubungan dengan seks. Pino mengajak peserta membahas pengasosiasian anu dalam kehidupan sosial. Dari dulu, anu sering diasosiasikan masyarakat sebagai pengganti kata untuk menyebutkan alat kelamin atau sesuatu yang berhubungan dengan seks. Sehingga ketika menyebut anu, pikiran secara otomatis akan mengarah ke perihal terkait seks, padahal anu bisa saja diartikan macam-macam.
Setelah makan siang, Pino mengajak peserta duduk di depan dan membentuk lingkaran. Semua peserta mengangkat kursi besi mereka masing-masing. Pino menginstruksikan peserta untuk melakukan apa yang ia perintahkan. Semua harus menutup mata. Ola, ketua KIPAS akan mengawasi peserta. Pino menyuruh peserta meraba bagian tubuh mulai dari kepala hingga kaki. Saat membuka mata, ia meminta tanggapan masing-masing peserta. Ada yang merasa geli dan ada juga yang tidak merasakan apa-apa. Setelah itu Pino membagikan kertas dan menyuruh peserta menggambar bentuk tubuh perempuan. Semua menggambar seadanya.
“Teman-teman, tolong tentukan titik rangsangan di tubuh anda masing-masing dan tulis di atas kertas yang anda gambar.” perintah Pino.
Sesi kali ini sangat penuh dengan tawa dan cekikikan peserta. Saya pun tak kuasa menahan tawa hingga rahang rasanya pegal dan mata berair. Saling mengejek dan menertawakan, saling mengintip jawaban peserta lalu mengganggu peserta lain. Ada yang malu memperlihatkan titik rangsang yang ia tuliskan namun tetap saja pada akhirnya ketahuan karena masing-masing harus merelakan rasa malu mereka. Materi ini berguna untuk memahami tubuh kita sendiri sebelum memahami tubuh pasangan kita. Komunikasi adalah cara yang paling ampuh untuk saling mengetahui keinginan, kesenangan dan apa yang diinginkan oleh kita dan pasangan. Kerjasama yang baik dalam hubungan akan dimulai pada komunikasi yang baik pula.
Pada sesi terakhir, Pino meminta semua yang berada di ruangan tersebut membuat lingkaran dan saling mengaitkan lengan. “Saya minta masing-masing mengungkapkan perasaan dalam satu kata.” pinta Pino. Spirit, senang, gembira, bangga, haru dan masih banyak kata terlontar dari bibir-bibir peserta. Saatnya berpisah, ada jabat tangan, pelukan dan mengucapkan terimakasih.
Senang sekali rasanya mendapat teman yang menurut banyak orang adalah pendosa karena orientasi seksual yang berbeda pada umumnya. Mereka perempuan, ada dan tercatat dalam realitas sosial. Saya ingat diskusi bersama beberapa peserta mengenai kondisi lesbian dalam ruang publik. Tidak penting harus melakukan sesuatu dan dinilai oleh masyarakat bahwa yang berbuat adalah seorang lesbian.
“Saya juga awalnya dicela sama tetangga saat membawa lines saya tinggal di rumah. Tapi saya buktikan sama mereka kalau saya juga bisa berbuat hal yang berguna dan inilah saya.” kata Imel.
“Saya berpikir, kemenangan paling besar adalah ketika seorang lesbian telah melewati pertentangan batin dalam diri dan mengakui bahwa ia seorang lesbian.” kataku kepada peserta.
“Iya, saya setuju kawan.” kata Imel. Kami semua tersenyum lalu sibuk dengan rokok dan kopi masing-masing.
Senin, 16 November 2009
Dari Silsilah Menuju Gender dan Seksualitas
Minggu, 02 Agustus 2009
“Mereka Adalah Obat Saya.”
Oleh: Sartika Nasmar
Saya memasuki sebuah gang di daerah pesisir kota Palopo, Sulawesi Selatan pada 25 Mei 2009, saat itu pukul 11:00 wita. Semakin ke dalam, gang semakin kecil. Saya menuju ke sebuah rumah. Hanya ada seorang anak perempuan, umurnya tujuh tahun. Saya menyapa dan bertanya apakah ibunya ada di rumah.
“Bunda ada di dalam.” kata anak itu.
Ibunya ternyata sudah mengetahui kedatanganku. Pintu memang sedang terbuka. Dia memanggilku. Saya sedikit mencari-cari, posisinya lumayan tersembunyi. Dia membantu ibunya membuat kue pesanan seseorang.
Saya menunggu di teras. Seorang bocah yang lebih muda datang ke sampingku. Ia memandangiku.
Saya memberinya nama Windinara, adalah ibu kedua anak itu. Ia ODHA (orang dengan HIV dan AIDS). Pagi itu, ia sedikit kumal dengan daster merah bertuliskan Bali. Rambutnya diikat berantakan. Ia tak bisa menemaniku. Ia menyuruhku datang saat sore.
Pukul 16:00 wita, saya kembali ke rumahnya. Saat kuparkir sepeda, ia memanggilku dari arah belakang rumah. Ia masih dengan dasternya, tapi lebih kumal dari sebelumnya. Ia belum bisa menemuiku. Saya pulang.
Malam, saya datang lagi dan ia menyambutku dengan penampilan berbeda. Rambutnya basah terurai. Dasternya sudah berubah warna hitam bermotif bunga. Wajahnya nampak riang. Windi menyuruhku masuk. Kami duduk bersebelahan. Terasa akrab.
***
Windi tahu bahwa HIV ada dalam tubuhnya pada awal 2006. Ia tertular dari suaminya. Sebut saja, Raka. Seorang pecandu narkoba suntik. Empat bulan suaminya sakit parah. Kata dokter, paru-parunya rusak. Windi membawa suaminya ke Rumah Sakit Umum dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Belum terpikir bahwa suaminya mengidap HIV, walau ia tahu suaminya seorang pecandu. Raka awalnya tidak ingin diperiksa saat alat tes HIV dan AIDS ada di hadapannya. Ia takut dan tidak siap menerima hasilnya. Dokter menyuruhnya pulang dan berpikir.
“Bunda, dokter menyuruh saya tes HIV.” kata Raka.
Windi kaget.
“Periksa saja. Lebih baik tahu sekarang daripada terlambat.” bujuk Windi.
Besoknya mereka kembali ke rumah sakit.
Windi menerima hasil pemeriksaan keesokan harinya. Reaktif. Raka belum melihatnya. Windi terpaksa bohong. Ia memperlihatkan tulisan non reaktif, beruntung Raka percaya.
Sebulan di Makassar, kondisi Raka makin parah walau ia rutin check up. Ingatannya sudah tidak kuat lagi dan kulitnya bersisik. Windi membawa suaminya kembali ke Rumah Sakit. Kali ini Raka harus dirawat, CD4nya hanya 11. Windi menyampaikan kepada dokter bahwa suaminya belum tahu tentang penyakitnya. Saat itu juga Windi berterus terang.
“Ayah, saya berada di sini karena saya dukung ayah. Saya ingin lihat ayah sembuh.” kata Windi, lembut.
“Memangnya kenapa?”
“Sabar ayah. Ini mungkin cobaan buat kita. Ayah positif HIV.”
Raka shock, mulai bertanya-tanya dan tidak terima. Windi kewalahan.
“Ayah, sabar. Seandainya saya ingin marah dan memakimu kasar, saya akan bilang ini pelajaran buat ayah. Saya sudah sering bilang agar ayah berhenti menggunakan narkoba. Ayah tidak mendengar saya. Sering pulang malam, mengajak saya bertengkar. Tapi saya masih di sini. Dukung ayah supaya sembuh.” keluhnya.
Raka akhirnya sadar.
Selama di Rumah Sakit, Windi setia mendampingi Raka. Raka ditempatkan di ruangan perawatan Lontara 1. Ada 6 pasien yang penyakitnya sama. Mereka sering saling menghibur dan tertawa bersama. Dua orang konselor juga membantu mendampingi seluruh pasien. Mereka adalah waria. Ade Rinalda dan Indri Morisette.
Mereka berkenalan satu sama lain. Windi mulai menerima dan beradaptasi dengan kehidupan di rumah sakit. Raka tetap putus asa, dia depresi seolah tidak siap menerima kenyataan bahwa sebuah virus ada dalam tubuhnya.
Seminggu kemudian, Windi berpikir untuk periksa juga. Dia curiga virus tersebut juga ada dalam tubuhnya. Dia tidak ingin tahu setelah ia sudah benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Windi mendatangi seorang perawat. Perawat itu menyarankan untuk menunda dan fokus pada perawatan Raka. Windi tetap penasaran. Ia tidak mau virus ini merenggut kekuatannya. Cukup terjadi pada suaminya.
Windi melakukan tes HIV bersama Ade Rinalda. Hasilnya reaktif. Windi tidak kaget virus itu juga ada dalam tubuhnya. Ia yakin mengingat usia pernikahannya dengan Raka sudah tujuh tahun. Mustahil jika ia tidak tertular, pikirnya.
Tiba di kamar, Raka terus-terusan mengeluh. tidak mau makan dan minum obat. Windi lelah mendengarnya. Mereka bertengkar.
“Saya capek lihat kamu seperti itu. Saya bahkan kasihan lihat diriku. Saya tidak tahu apa-apa, saya tidak pakai narkoba, tidak melakukan hubungan seks dengan siapa pun selain kamu, saya tidak pernah keluar rumah tanpa seizinmu. Tapi apa yang saya dapat ayah. Ini hasilnya.” teriak Windi.
Raka kaget. Windi tiba-tiba diam. Ia tidak ingin suaminya tahu bahwa ia juga positif HIV.
“Saya hanya ingin beri ayah dukungan. Tapi saya juga butuh dukungan dengan lihat ayah kuat agar saya juga kuat. Ayo minum obat, jangan suka mengeluh. Terima kenyataan ayah.” pintanya.
Windi sempat mengalami dilema. Ia memikirkan anaknya yang berada 360 kilometer darinya. Mereka diasuh oleh ibu Windi di Palopo. Anak pertamanya masih berusia 5 tahun saat itu. Yang kedua 3 tahun. Namun, di sisi lain, Windi tidak bisa meninggalkan Raka sendirian.
Menjelang tiga bulan Raka dirawat di rumah sakit. Kondisinya sudah mulai membaik, CD4nya meningkat menjadi 175. Satu minggu sebelum keluar dari rumah sakit, Indri mengajak Windi mengikuti sebuah pelatihan. Indri ingin Windi mewakili kota Palopo untuk belajar banyak mengenai HIV dan AIDS. Windi minta ijin ke Raka lebih dulu. Raka tidak setuju. Mereka akan kembali ke Palopo. Windi terus membujuk, akhirnya Raka memberi ijin.
Pada hari terakhir pelatihan adalah jadwal yang sama mereka pulang ke Palopo. Pelatihan selesai pukul 18:00 wita. Windi tidak langsung pulang. Ia menghadiri acara perpisahan panitia dan peserta. Pukul 20:00 wita, ia tiba di rumah. Raka baru saja berangkat dan membawa semua pakaian serta uang. Windi kecewa. Tujuh bulan Raka sakit, tak pernah ia meninggalkan Raka. Tapi untuk waktu lima menit, Raka tidak bisa menunggunya.
Keesokan harinya Windi berangkat ke Palopo. Ia langsung menuju ke rumah orang tua Raka.
“Mana pakaianku?” tanya Windi.
Raka hanya diam. Windi makin marah, kecewa.
“Ayah, tega sekali. Asal ayah tahu, saya juga positif HIV. Virus ini saya dapat dari ayah.”
Windi pulang ke rumah orang tuanya.
***
Sudah tiga bulan ia tidak bertemu Raka. Ia gunakan waktunya untuk belajar dan memotivasi diri. Lalu salah satu saudara Raka tiba-tiba datang menemuinya. Ia memberi kabar.
“Dek, Raka sakit parah. Tidak ada gunanya menjenguk jika ia sudah meninggal.”
Kata-kata itu meluluhkan kemarahan Windi selama ini. Hari itu juga ia menjenguk Raka. Windi menangis. Raka sangat kurus, kakinya kaku, lama tak bergerak. Daya ingatnya sudah tidak kuat.
“Sama siapa ke sini?” tanya Raka.
“Ayah.”
Raka tertawa.
“Kamu semakin gagah.” puji Windi.
Raka tersenyum.
“Saya minta maaf bunda.” kata Raka.
“Iya, saya juga minta maaf. Kenapa berhenti minum obat?”
“Parcuma saya hidup. Tidak ada gunanya.”
“Ayah, ingat anak-anak.”
“Kamu yang mendapatkannya.”
Saat itu Raka menghentikan Anti Retro-viral Theraphy. Ia mengkonsumsi buah merah yang disebut-sebut mampu menyembuhkan HIV dan AIDS setelah menyaksikan berita di televisi.Windi sangat ingat peristiwa itu. Saat bercerita, Windi menyandarkan kepalanya di kursi dan memegang tangan anaknya. Lalu meneruskan ceritanya.
“Bunda, saya akan pergi ke suatu tempat yang sangat indah tapi saya tidak tahu harus lewat mana.” kata Raka.
“Kalau mau tahu, Ayah sebaiknya zikir. Pasti akan Ayah temukan jalannya.”
“Jadi, kalau saya zikir, saya bisa buka pintunya?”
“Iya, Ayah bisa zikirkan?”
“Pasti, saya kan Islam.”
Windi terus menjaga Raka. Mereka bercerita sepajang malam.
“Saya ingin cium bunda tapi saya tidak bisa bergerak.” kata Raka. Windi mendekatkan pipi ke bibir Raka. Raka tertawa, air matanya mengalir. “Bunda, kapan kita bisa bertemu lagi?”
Itu pertanyaan terakhir Raka.
Pukul 10:00 wita, Raka akhirnya menemukan jalan itu. Ia berhasil membuka pintu menuju tempat yang ia katakan indah.
***
Windi bergabung dalam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Palopo Plus. Saat ini anggotanya hanya tiga orang. Dua ODHA dan satu lagi OHIDA (Orang yang hidup dengan ODHA). ODHA lainnya memilih menyembunyikan diri. Di Palopo ada 38 kasus HIV dan AIDS. KDS Palopo Plus dan KPA Kotamadya Palopo sering bekerjasama melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai HIV dan AIDS di Kota Palopo. Sayang, sejak lima bulan terakhir KDS Palopo Plus vakum.
Windi masih menyimpan harapan untuk ODHA di Palopo.
“Saya ingin punya satu usaha bersama teman-teman. Keuntungannya ingin kami pakai untuk membantu biaya pengobatan dan perawatan ODHA di Palopo. “
Orang tua Windi sudah tahu. Mereka kadang khawatir Windi ikut dalam kegiatan KPA dan KDS. Ibu Windi takut jika ia hanya menjadi objek dengan status ODHA.
“Saya tidak pernah menangis. Kasihan orang tua dan anak-anak saya. Jika saya mengeluh mereka akan lemah. Tapi jika saya kuat, mereka juga akan lebih kuat menerima saya.” kata Windi.
Windi tidak menyerah. Ia mengerti kekhawatiran Ibunya. Tidak semua orang bisa memberinya dukungan sosial. Mereka bisa tidak hanya menjauhi Windi, tapi keluarganya. Apalagi pengetahuan masyarakat di kota Palopo masih minim tentang HIV dan AIDS.
Si sulung sedang asik bermain, Windi mengelus kepalanya. Ia memeluk dan mencium si bungsu.
“Ini mungkin salah satu mukjizat dari Tuhan. Kedua anak saya sehat. Mereka adalah obat saya.”
Rabu, 22 Juli 2009
Ugo, Si Pemuja Kuda
Oleh: Sartika Nasmar
Suatu sore di Kersan, Bantul, Yogyakarta. Tepat di sebuah sudut jalan, berdiri bangunan sederhana yang difungsikan sebagai kandang kuda. Di tengahnya ada arena. Seorang pria berdiri sibuk melatih seekor kuda. Silver Surfer. “Trot, trot..” kata pria itu memberi perintah. Tak ada tanggapan dari Silver Surfer. Ia hanya diam. Sesekali cambukan menjadi ancaman latihannya. Namun ia hanya berlari kecil lalu mengangkat kaki belakangnya seolah ingin berontak. Silver Surfer diam. Menghadap ke jalan dengan perkasa. Semakin kaku dan tak ingin berlari. Mundur pun ia enggan. Pria tadi kemudian memaksa, mendorong lalu akhirnya menyerah.
Ugo Untoro yang sedari tadi memperhatikan dari luar, kini memasuki arena. Hari itu ia melatih Silver Surfer, salah satu kuda kesayangannya. Selain Silver Surfer, ia masih memiliki tiga kuda. Ia kemudian mengambil tali yang mengikat Silver Surfer lalu mengangkat dan memainkannya ke atas, ke bawah, samping kiri dan kanan. ”Trot.., Trot..,” perintahnya. Sebatang rokok masih menempel di bibirnya, mengeluarkan kepulan asap. Ia tampak serius. Perlahan-lahan Silver Surfer mau berlari dan akhirnya mengelilingi arena. Ugo keluar dari arena.
Tempat tidur kayu. Dispenser. Foto-foto Ugo menunggang kuda. Penghargaan Silver Surfer. Ada satu kamar dan dapur. Sebuah rumah sederhana terletak di sebelah kiri arena.
Ugo duduk di tempat tidur kayu. Menghisap rokok ditemani sebotol bir. Masih memperhatikan kuda-kudanya. Silver Surfer sedang berlatih dan tiga lainnya dibersihkan. Berkunjung di kandang miliknya adalah rutinitasnya sehari-hari apalagi jarak kandangnya tak jauh dari rumahnya. Ia cukup berjalan kaki.
Ugo meluruskan badannya sambil memegang punggung. Lalu menghembuskan nafas. Matanya terlihat lelah. Merah. Pengaruh alkohol mulai terasa. Ia masih memperhatikan kuda-kudanya.
***
UGO adalah seorang pemuja kuda. Ia mengenal segala seluk beluk kuda. Dimulai dari sejarah kuda yang mengikuti sejarah manusia. Ia tidak hanya memelihara kuda sebagai bentuk kesenangannya terhadap binatang ini. Tapi, ia membaca semua pengetahuan tentang kuda dan memahami literaturnya. Kuda adalah binatang yang setia, patuh dan berguna. Kuda sahabat manusia. Simbol yang membawa kecantikan pada wanita dan keperkasaan pada pria. Menurut persepsi Ugo, kuda mampu membawa kita menjadikannya patokan memahami realitas.
”Aku berpikir bahwa kuda adalah ciptaan manusia, bisa ditundukkan,” ujar Ugo.
Sebatang rokok ia bakar. Lalu dihisap dalam-dalam. Kepulan asap keluar dari mulutnya. Matanya memandang Silver Surfer.
”Aku dan kudaku seperti ada ikatan. Secara personal aku anggap kami saling melayani. Aku selalu berusaha mengetahui kuda bukan dari fisiknya, tapi dengan hati.” tambahnya.
Ia mulai tertarik dengan kuda sejak enam tahun yang lalu. Kuda pertamanya bernama Basuki Abdullah. Ia membelinya seharga 4,5 juta rupiah dari tukang andong di Imogiri. Waktu itu ia belum banyak tahu tentang kuda. Kala itu, seorang pria mendekati Ugo.
”Ngapain kamu pelihara kuda itu?” kata pria itu.
”Kuda itu tidak sehat, aku punya kuda bagus,” tambah orang itu.
Ugo terjebak oleh kata-kata pria tersebut. Terpaksa ia tukar. Beberapa lama kemudian, ia sadar bahwa ia telah ditipu. Dibodoh-bodohi. Basuki Abdullah adalah kuda yang sehat.
Dari kejadian itu, ia belajar tentang kuda. Mencari tahu segala informasi yang berkaitan dengan kuda.
Pada tahun 2005, seekor kudanya mati dalam pacuan kuda. Namanya Badai Lembut. Saat di arena, Badai Lembut jatuh. Ugo panik. Meski ia tahu bahwa itu adalah resiko pacuan kuda.
Malam sebelum Badai Lembut bertanding, Ugo duduk di sebuah ruangan dalam rumahnya sambil menggambar sketsa di sebuah buku tulis. Imajinasinya memberi Ugo petunjuk kepada penanya menggambar keperkasaan Badai Lembut. Lalu ia membayangkan jokinya kemudian menggabungkannya bersama Badai Lembut dalam satu kertas. Jokinya bernama Jumadi. Ia kemudian melanjutkan dengan menggambar kuda yang akan menjadi lawan Badai Lembut. Wijaya. Semua bersatu menjadi sketsa sederhana malam itu.
Esoknya, pacuan kuda di mulai. Badai Lembut jatuh bersama Jumadi ketika nyaris mencapai garis finish. Disusul Wijaya. Ugo panik mendengar ringkik kudanya. Badai Lembut, Wijaya dan Jumadi tewas dalam kejadian itu.
Mira Utami, nama seekor kuda. Teman Ugo, pemilik hewan itu, meminta Mira Utami menjadi obyek lukisannya. Ugo menyetujui. Ia kemudian dengan serius melukis kuda Mira. Selesai. Beberapa lama kemudian ia mendengar kabar bahwa Mira Utami mati. Ugo tak mau melukis kuda orang lain lagi.
Ringkik Badai Lembut menjadi inspirasinya berkarya. Derap kaki Badai Lembut yang lincah memberi semangat untuk lebih memahami kuda meski kematiannya masih menjadi mimpi buruk bagi Ugo.
Ia tidak hanya sekedar melukis atau mambuat karya instalasi tentang kuda. Tapi, melakukan riset mulai dari sejarah dan anatomi kuda.
Pada Maret 2007, karya seni lukis dan instalasi Ugo Untoro dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta. Poem of Blood. Materi utama karyanya menggunakan kulit kuda dan bangkainya. Sebuah karya yang terkesan horor. Pada masing-masing bagian tubuh kuda diberikan identitas atau tanda dari besi panas.
Ugo menciptakan Poem of Blood seolah menceritakan nasib kuda. Ia menggantung kulit kuda di atas besi lalu ia beri judul ”Menjemur Sejarah”. Ia juga meletakkan bangkai kuda yang teronggok di atas pasir yang penuh dengan jejak kuda dalam sebuah arena. Tampak mengharukan.
Kuda memberinya semangat dan pemahaman yang tidak sama dengan yang dimiliki orang lain. Ia memahami kuda secara klise dan personal. Kuda tidak hanya perkasa tapi adalah saksi sejarah. Sejak dulu, manusia tak pernah memilih Zebra, Jepara atau binatang lain sebagai alat tunggang. Tapi, mereka memilih kuda. Memahami dan saling melayani. Kuda tidak hanya untuk tunggangan atau alat transportasi baginya. Namun, lebih kepada sahabat.
Sosok keperkasaan dan romantis yang ia rasakan dari seekor kuda juga dipengaruhi dari kegemarannya membaca komik dan menonton film. Pendekar dan kuda. Penuh petualangan. ”Pokoknya romantis banget gitu loh..” katanya meyakinkan. Ia bahkan tak segan untuk menunggangi kudanya berjalan-jalan keliling kampung atau ke tempat yang ramai sambil bergaya koboi.
***
MASA kecil Ugo berlalu dengan kesederhanaan. Ayahnya adalah seorang guru Sekolah Dasar. Ia lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 28 Juni 1970.
Ugo kecil tergolong anak yang nakal. Ia dan adik laki-lakinya senang menggambar. Lantai rumahnya terbuat dari semen dan berwarna agak hitam. Mereka menggambar di lantai. Setiap hari ibunya harus mengepel setelah mereka membuat lantai kotor dengan coretan. Sehari bisa sampai berkali-kali. Jika ibunya lelah, ia terpaksa membiarkan lantai rumahnya penuh dengan gambar karya anak-anaknya.
Ia tidak hanya menggambar. Ugo senang baca komik. Nonton kartun. Membuat wayang. Layang-layang. Boneka. Ikut gerobak sapi. Bermain hujan. Dan bolos sekolah.
Ayah Ugo juga senang membuat wayang dari kardus. Ia kadang-kadang memberikan hadiah wayang kepada anaknya. Bahkan jika tidak diberi, Ugo tidak ingin masuk sekolah. Sejak kecil, ayahnya sudah memberinya kebebasan membaca komik dan menonton film kartun yang ia senangi.
Seperti anak-anak pada umumnya, cita-citanya ingin menjadi dokter atau insinyur. Saat di Sekolah Dasar. Ugo menjadi murid ayahnya sendiri dalam mata pelajaran matematika. Ia benci matematika. Ia selalu bolos. Lalu ikut gerobak sapi tetangganya. Hingga di SMU pun, ia tetap saja suka bolos sekolah.Suatu hari gurunya bosan memperingatinya untuk tidak bolos sekolah.
”Pokoknya kamu harus belajar. Harus masuk kelas. Tidak boleh bolos. Kalau kamu masuk, aku beri kamu nilai enam,” kata gurunya.
Ugo pun tak lagi membolos. Ia masuk ke kelas tapi tetap tak belajar. Hanya duduk dan menggambar gurunya yang sedang mengajar. Saat ijazah diterima, ia langsung memeriksa nilai yang dijanjikan oleh gurunya tersebut. Hasilnya, tetap saja nilai lima.
Selepas sekolah menengah, Ugo bingung dengan cita-cita. Ia bahkan tak memilikinya. Tak ada yang menarik menurutnya. Ia memutuskan menganggur selama satu tahun sambil terus memikirkan masa depannya. Yang terbersit saat itu hanya ingin menggambar. Ia juga tidak mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPT) Nasional seperti banyak pelajar yang baru saja menyelesaikan sekolah menengahnya.
Suatu hari, Ugo duduk di sebuah kursi dalam teras rumahnya. Santai, pikirnya. Sebuah koran jatuh tepat di belakang punggungnya. Ia heran. Yang melempar koran ternyata ayahnya, tanpa suara. Hanya lewat saja. Ia membaca halaman yang sudah sengaja dibuka oleh ayahnya. Isinya adalah iklan pendaftaran mahasiswa baru di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta.
Tahun 1988, Ugo tiba di Yogyakarta setelah mengetahui dirinya lulus di ASRI. Dia pun mulai menjalani awal-awal kuliahnya. Meski ia tetap harus dipertemukan lagi dengan mata pelajaran teori pada semester awal. Lagi-lagi ia bolos. Bertemu dengan teman barunya yang sama-sama tak suka pelajaran pada semester awal. Mata kuliah dasar umum.
”Woi, tinggal wae. Udah ditinggal saja. Nggak usah masuk.” kata teman-temannya saat itu.
Lama-kelamaan Ugo menikmati masa ia menjadi mahasiswa.Suasana kampus yang terletak di Gampingan membuatnya betah berlama-lama di kampus. Sejuk. Asri. ”Seperti rumah sendiri,” pikirnya. Tidak ada senioritas di sana. Ugo mulai sering berkumpul bersama teman-temannya. Main. Bolos. Minum alkohol. Dan menyelesaikan masalah sama-sama. Dosennya pun seperti teman. Jika tak bisa bayar uang semester, bisa pinjam pada mereka.
Tahun 1995. Ia mendengar kabar bahwa kampusnya akan pindah ke daerah Bantul dan berganti nama menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Ia khawatir. Kuliahnya belum kelar. Sedang teman-teman seangkatannya sudah selesai. Dengan cepat, ia menyelesaikan tugas akhirnya. Selesai dan mendapat gelar sarjana.
”Kalau ASRI gak pindah, aku mungkin akan tetap di sana. Jadi mahasiswa terus,” kata Ugo.
Ugo adalah pelukis yang sarjana.
Setelah menyelesaikan kuliahnya ia memutuskan menikah dengan Trisni Rahayu. Wanita yang telah ia pacari selama dua tahun. Usianya jauh lebih tua dari Ugo, terpaut 10 tahun.
Menikah menjadi pilihan Ugo. Ia ingin membuktikan kepada dirinya untuk lebih bertanggung jawab. Ia melamar dengan modal nekat menghadap orang tua Yayuk, seorang anggota Angkatan Laut. Sendirian dan dalam keadaan mabuk. Tak heran, jika ia mendapat suara gertak dari ayah Yayuk. Awalnya, ia tak mendapat restu karena berbeda agama. Ugo, islam dan Yayuk, katolik.
Kenekatan membuahkan hasil. Pernikahan dilakukan di Purbalingga.
Anak semata wayangnya, Tanah Liat, juga banyak mempengaruhi karya-karya, baik itu lukisan atau puisinya.
***
DI Yogyakarta, Ugo menghabiskan waktu di Jalan Malioboro. Di sanalah ia mengerti realita hidup. Setiap hari ia berkunjung ke sana. Ia bergaul dengan siapa saja, hingga mencari uang. Saat itu ia kembali bingung, ingin menjadi penulis atau pelukis. Ia senang menulis puisi.
Di sepanjang jalan Malioboro, ia menghasilkan uang dengan menjadi pelukis potret. Bayarannya lumayan untuk kebutuhannya sehari-hari. Selain melukis, Ugo dan seorang temannya juga menjual barang dagangan seperti souvenir dan gelang manik-manik di jalan Mallioboro. Kadang-kadang jika di sana tidak laku, maka ia akan pindah sambil membawa dagangannya ke jalan Solo. Dagangannya juga tidak laku. Ia menyerah.
”Sabar, mas. Sabar. Orang dagang itu harus sabar.” kata seorang temannya.
”Ah, ora iso aku. Ora iso.” Kata Ugo, menyerah.
Ia kembali melukis demi mendapatkan uang. Ia sadar bahwa gaji yang didapatkan ayahnya sebagai seorang guru tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Apalagi jika harus membeli perlengkapan mengikuti praktek melukis di kampusnya.
***
UGO mengawali karir melukisnya saat kuliah di ASRI. Berbagai karyanya muncul dengan gaya corat-coret.
Karya-karya pertamanya selama ia kuliah membawa Ugo Untoro pada pameran pertamanya bertajuk ”corat-coret 91-95”.
Melukis kemudian menjadi pilihan hidupnya. Ia menemukan kenikmatan melukis. Dalam katalog pameran Corat-coret 91-95. Ugo menulis:
“Tak perlu lagi saya mengejar bentuk, sebab sudah ada David, Rembrandt, Vermeer, Cezanne ataupun Basoeki Abdullah. Tak perlu lagi saya mengejar warna, sebab sudah ada Delacroix, Manet, Monet atau Seurat. Tak perlu lagi saya mengejar garis, sebab sudah ada Durer, Matisse, Miro ataupun Oesman Effendi. Tak perlu lagi saya mengejar isi, sebab sudah ada Van Gogh, Gauguin, Dali ataupun Rusli dan Amang Rahman. Belum lagi keterpukauan akan para jenial seperti Michelangelo, Da Vinci, Picasso, Kandinsky, Mondrian dan Paul Klee.”
Pada tahun 1998, Ugo memenangkan Lomba Lukis Nasional yang diselenggarakan Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan promotor Phillip Morris. ”Huruf-huruf Baru”, judul karyanya berhasil masuk dalam nominasi. Dalam karyanya, ia membagi gambar dengan kotak-kotak yang berisi simbol kehidupan baru. Kertas rokok menjadi media yang digunakan menggambar. Menurut Ugo, yang dikutip Bernas (22/10), ”Lukisan yang diikutkan lomba ini saya anggap puncak karya corat-coret karna telah banyak yang menggunakan gaya ini.”
Padahal awalnya, gaya corat-coret yang ia tekuni selama bertahun-tahun kadang ditertawakan oleh teman-teman dan dosen di kampusnya. Ia tetap melukis hingga orang-orang yang tadinya menertawai akhirnya menerima. Bahkan ada yang mengikuti.
Ia meninggalkan gaya corat-coretnya. Ugo tak ingin punya style dalam menggambarkan karya-karyanya. Tak ingin dicap pelukis dekoratif. Ia tidak terikat oleh teknik atau ’isme’ yang berlaku dalam ilmu seni rupa. ”Silahkan saja orang menggunakan istilah itu, selama ia tetap konsisten. Tapi untuk aku sendiri, aku menolak dan tidak suka istilah itu.” tambahnya. Ugo menggunakan bahasa dan caranya sendiri dalam melukis apa yang ada dipikirannya atau batinnya saat itu dan dituangkan dalam kanvas.
Melukis adalah kejutan. Ugo kadang tak bisa menebak hasil lukisannya akan seperti apa meski telah merencanakan objeknya. ”Sama ketika orang memancing. Tak tahu apakah ia akan mendapat ikan yang besar atau kecil. Hasilnya adalah kejutan. Menargetkan sesuatu yang belum kita tahu.” kata Ugo.
Tahun 1998, Ugo membeli sebidang tanah di kawasan Kersan untuk membangun sebuah rumah yang akan ia huni bersama istri dan anak semata wayangnya. Ia berharap agar segera pindah dari rumah kontrakannya karena tak nyaman baginya untuk bekerja.
Ia akhirnya pindah ke rumah barunya, tapi tidak untuk dihuni melainkan sebagai studio. Lama-kelamaan teman-teman Ugo juga sering berkumpul di sana. Ada yang melukis atau sekedar kumpul-kumpul hingga mabuk-mabukan. Pada akhirnya, ia tak bisa bekerja di sana lagi. Hingga seorang temannya menyarankan agar studionya dijadikan tempat pameran. Ugo setuju dan ia kembali bekerja di rumah kontrakannya.
Bekas studio Ugo pun berubah menjadi tempat pameran bernama Museum dan Tanah Liat. Keinginan Ugo melihat seniman muda terus berkarya membuatnya harus merelakan studio miliknya dijadikan museum. Disewa atau tidak, bukan masalah baginya.
”Aku ingin melihat para seniman muda terus berkarya. Sekali mengayunkan pedang, ya sudah. Apa yang terjadi, terjadilah. Menang atau kalah. Itu pilihan kita.” pesannya.
Tahun 2007, Ugo dinobatkan sebagai salah satu tokoh seni versi majalah TEMPO melalui karyanya Poem of Blood.
“Aku tak peduli harus ikut bahasa atau konsep apa, aku punya bahasa, kekhasan dan sudut pandang sendiri untuk mengungkapkan keindahanku,” kata Ugo.
Tak peduli dengan istilah professional, ia berkarya tanpa berpikir ingin menjadi siapa atau mendapatkan gelar apapun. Bahkan untuk predikat maestro.
”Yang terpenting adalah aku tetap berkarya. Selesai atau tidak, aku merasa melukis adalah tugasku dan itu full kulakukan.” yakinnya.
Ps: Tulisan ini pertama kali dipublikasikan oleh http://www.panyingkul.com
Minggu, 08 Februari 2009
Aborsi VS Becak
Hari kelima Inna berada di Pare. Kami berdua menyewa kamar di Sanjaya Kos Putri. Untuk memanfaatkan waktu, kami juga mengadakan diskusi di kos ini. Pesertanya semua perempuan. Awalnya, rencana kami diskusi diadakan di lantai dasar tempat di mana anak kos biasa menerima tamu, di ruang nonton. Tapi karena hujan , kami terpaksa mengadakan diskusi dalam kamar Inna di lantai 2. Terbayang betapa sempitnya di dalam ruangan 3 x 4 meter, yang di dalamnya ada lemari dua pintu dan tiga tempat tidur. Kami sempat bingung bagaimana mengakalinya.
Kami terpaksa harus menggeser dua tempat tidur ke satu sisi dan menurunkan kasur busanya untuk dijadikan tempat duduk peserta. Lumayan nyaman. Walau aku dan Inna harus duduk di lantai yang dingin karena hujan seharian.
Diskusi kali ini membuat kami sedikit khawatir karena salah satu peserta hamil tujuh bulan. Kami sempat merasa takut terjadi sesuatu setelah mendengar Inna memaparkan fakta-fakta mengenai aborsi.
Diskusi dimulai pukul 20।09 Wib.
***
26 Januari 2009, sekitar pukul 16।00 Wib. Diskusi juga kami lakukan di Asset (Asociation of Sulawesi Students) mengenai tema yang sama. Asset adalah sebuah perkumpulan anak Sulawesi yang belajar Bahasa Inggris di Pare. Antusias yang menyenangkan karena jumlah peserta yang cukup banyak. Mayoritas peserta laki-laki sekitar 20 orang, sedang perempuan hanya enam orang. Kami diserang berbagai macam pertanyaan dari banyak peserta laki-laki. Bahkan berebut. Jumran, ketua Asset menjadi moderator.
***
Sekitar pukul 18.30 Wib, aku dan Inna baru saja selesai makan malam menu nasi goreng di sebuah warung bernama Empat Mata. Nasi goreng yang enak yang akhirnya bisa kami nikmati setelah tiga hari kami idam-idamkan. Makan selesai, aku menunggu Inna menghabiskan rokoknya lalu menuju ke Oxford, salah satu lembaga kursus untuk mengadakan diskusi mengenai aborsi.
Dua sepeda onthel tua membawa kami menyusuri Jalan Anyelir. Tiba-tiba hujan, kami masih tak peduli. Semakin keras.
“Mbak, hujannya deras. Singgah dulu, laptopmu basah.” teriakku ke Inna.
Inna membelokkan sepedanya ke kanan menuju ke Expert Camp, tempat pertama kami melakukan diskusi yang sama. Kami menunggu hujan reda namun malah semakin deras. Kami memutuskan menuju ke Oxford dengan satu sepeda saja dan meminjam payung pada Ifa, seorang teman yang tinggal di Expert. Ternyata sulit. Ifa menyarankan agar kami jalan kaki saja. Dengan terpaksa sepeda kami titip dan meminjam dua payung. Angin sangat kencang. Kami meminta plastik, Ifa memberi kami tiga. Satu untuk membungkus tas dan dua lagi untuk membungkus kepala kami.
Kami siap berangkat. Payung terbuka lebar siap melindungi kami. Celana kami gulung hingga lutut. Lalu berjalan di antara hujan. Petir terasa mengabadikan perjalanan kami bak cahaya dari sebuah kamera. Tiba-tiba jalan menjadi sangat gelap, lampu mati. Hujan makin deras, angin kencang menyambar. Lumayan mengerikan, aku tidak suka gelap apalagi karena kami harus melewati sebuah pohon bambu yang besar. Ketakutanku terobati dengan tawa.
Pakaian kami sudah mulai basah. Dingin terasa menyentuh tulang. Akhirnya kami tiba di Jalan besar, Brawijaya. Oxford sudah dekat. Kami menyeberang jalan, melewati sebuah warung makan. Banyak orang berlindung dari hujan. Aku sengaja melewati jalan beraspal yang digenangi air untuk mencuci kaki. Sebuah angkutan umum menuju ke arahku dengan kecepatan tinggi, aku segera naik ke trotoar. Mobil menginjak genangan air dan membasahi baju, celana hingga wajahku. Aku dan Inna teriak dengan jengkel. Setelah itu tertawa.
Kami tiba di Oxford yang tampak gelap. Lampu masih mati. Aris menyambut kami dan mempersilahkan masuk. Aku dan Inna sedikit segan masuk karena dalam keadaan kotor. Baju dan celanaku basah, wajahku sedikit kotor akibat cipratan dari genangan air tadi. Inna terlihat menurunkan gulungan celananya lalu mengeluarkan materi dari tas yang basah walau telah dibungkus plastik. Semua rapi, menurut kami. Lalu masuk ke ruang utama di Oxford.
Ruangan itu tidak besar. Kami duduk di lantai yang dialasi karpet dua warna. Sisi kanan merah dan sisi kiri biru. Sebuah meja dengan kaki ukuran 30 centimeter berada di tengah. Di tiap sudut meja diletakkan lilin dengan api kecil menerangi semangat kami.
Kami duduk mengelilingi ruangan। Peserta nampak kedinginan bahkan seorang peserta wanita menutup sekujur tubuhnya dengan selimut tebal. Aris menjadi moderator malam itu, ia memperkenalkan kami. Sangat menakjubkan, terasa beda kali ini tepuk tangan mengawali diskusi walau aku dan Inna dalam keadaan basah dan kumal.
***
Siang hari aku dan Inna kembali memulai pekerjaan. Kami menuju ke sebuah camp putri untuk menawarkan proposal diskusi. Tepatnya, Cherry Camp. Saat itu kami menemui Miss Atin, Pembina di camp tersebut. Kami ngobrol santai dengannya di ruang depan. Sebuah televisi menyala menayangkan program sinetron dan ditonton oleh seorang wanita sambil menyeterika. Ia tepat berada di sebelah kanan saya.
Miss Atin menyambut hangat tawaran diskusi kami, ia bersedia mengumpulkan peserta camp। Kami menyepakati diskusi pada esok malam, 28 Januari 2009 jam 18.30 Wib.
***
27 Januari 2009, diskusi ke enam kami lakukan di sebuah lembaga kursus, Global-E. Kami mengadakan diskusi di ruangan terbuka bagian belakang Global-E. Pesertanya sangat banyak. Sekitar 30 orang. Peserta kali ini adalah murid dalam kelas Speaking yang diajar oleh Mr. Toto. Dia yang memperkenalkan Samsara ke peserta.
Awalnya diskusi dimulai dengan menggunakan Bahasa Inggris. Namun karena banyak yang kesulitan bertanya, lama-kelamaan berubah menjadi diskusi Bahasa Indonesia. Mr. Toto pun akhirnya mengijinkan pelajar-pelajarnya menggunakan Bahasa Indonesia.
“Everybody can speak. You can speak in Bahasa.”
“Really?” jawab seorang peserta.
“Yeah, of course. I give you special today.”
Tiba-tiba diskusi menjadi ramai dengan sorak।
***
Hari berikutnya aku dan Inna memutuskan istirahat dari pagi hingga sore. Kami hanya menunggu waktu untuk diskusi terakhir di Cherry Camp pukul 19.00 Wib. Hujan tak henti-hentinya sepanjang hari itu. Hingga petang muncul, gerimis masih mengiringi. Kapit datang ke kos pukul 18.30, bajunya sedikit basah. Ia kemudian meng-copy materi untuk persiapan diskusi malam ini. Ia tidak ikut dengan kami ke Cherry, ia harus ke Kediri membawa proposal yang diminta oleh seorang dosen di Universitas Kadiri untuk mengadakan seminar bersama Samsara.
Aku dan Inna terlambat ke Cherry karena menunggu hujan reda। Kami berangkat saat gerimis masih ada. Tiba di Cherry peserta terlihat menunggu kami dengan santai. Semua peserta perempuan sekitar 13 orang. Tak ada moderator. Diskusi malam itu nampak sepi. Aku dan Inna mencoba pertahankan semangat.
***
Aku dan Inna sedikit lega karena sosialisasi dan edukasi selesai. Pikir kami. Aku membuat laporan sedang Inna membuat sebuah tulisan mengenai pengalaman kami selama di Pare. Tiba-tiba sebuah pesan diterima Inna di handphonenya. Sms itu dari Direktur Smart (salah satu lembaga kursus), Miss Uun. Ia meminta Samsara mengisi diskusi di Story Camp 1 dan 4 malam ini, 29 Januari 2009. Inna menanyakan kesiapanku. Aku dengan senang hati menyetujui. Aku menghubungi Kapit, menyuruh ia datang lebih cepat untuk meng-copy materi yang sudah habis.
Pukul 18.00, aku dan Inna berangkat. Kami memilih jalan kaki karena hujan dan harus menggunakan payung. Sebelumnya kami singgah di warung tepat di sebelah Story 1, kami memesan nasi goreng satu porsi dan segelas teh hangat. Kapit menyusul kami. Setelah makan, kami masih duduk sambil menyiapkan materi. Tiba-tiba seorang pria mengintip dari arah Story 1.
“Samsara yah?” katanya.
“Iya pak.” jawab Inna.
“Udah ditunggu dari tadi.”
“Oh, iya pak. Kami sedang menyiapkan materi dulu, setelah itu kami masuk.”
Kami masuk ke Story 1, sebuah asrama putri khusus English Area. Bangunan yang sangat bagus. Ruang diskusi sangat luas, pesertanya pun sangat banyak. Mereka kebanyakan adalah remaja yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Umum. Suasana sangat ramai. Mereka tampak senang dan antusias dengan adanya diskusi ini. Pertanyaan satu per satu muncul. Teriakan, istighfar, ekspresi meringis hingga ingin muntah dan bersendawa meramaikan diskusi saat seorang peserta bertanya mengenai metode dan proses aborsi.
“Stop miss,” pinta seorang peserta ke Inna. Ia mengelus perutnya. Gigi atas dan bawahnya bersatu. Lalu menutup telinga.
“Aku aja ditabrak becak, pemulihannya lama. Apalagi aborsi?” canda seorang peserta mencairkan suasana tegang.
Diskusi selesai 20.30. Miss Uun mengajak kami langsung menuju ke Story 4, camp selanjutnya di mana kami akan melakukan diskusi terakhir hari ini. Pesertanya tidak banyak, semua laki-laki. Diskusi dibuka oleh Miss Uun. Di Story 4 kami lebih banyak membahas mengenai aborsi dan lelaki. Kapit mengawali diskusi sebelum Inna. Sedang aku menjelaskan mengenai Post Abortion Syndrome.
Walau peserta hanya 12 orang namun antusias dan rasa ingin tahu mereka yang sangat besar membuat kami bersemangat। Suasana diskusi yang menyenangkan.
***
Kami selalu membuka diskusi dengan memperkenalkan Samsara. Lalu dilanjutkan dengan sedikit prolog mengenai data aborsi di Indonesia. Mendengar angka aborsi yang tinggi di Indonesia, banyak peserta yang tidak menyangka dan tak terpikirkan.
“Jumlah aborsi di Indonesia sebanyak 2.600.000 pada tahun 2006. Jika dibagi lagi maka ada 7123 kasus per harinya dengan asumsi 5-6 kasus per detik.”
“Astaghfirullah,”
“Wah, banyak juga yah?”
“Berarti sekarang ada yang aborsi dong?”
Kami selalu mendapatkan statement seperti itu saat memaparkan angka aborsi.
Inna melanjutkan dengan materinya. Inna selalu mengawali dengan mencari tahu sejauh mana pengetahuan peserta mengenai aborsi. Para peserta malam itu masing-masing mengeluarkan pendapat. Dosa, tidak bertanggung jawab, menyakitkan, tidak bermoral, tidak mendapat pasangan yang baik, bukan wanita baik-baik, tidak mendapat pengetahuan yang benar, pengguguran yang sakit, pembunuhan, membuang bayi, dan pemaksaan kelahiran. Pendapat-pendapat ini sering muncul di semua tempat dimana kami melakukan diskusi.
Ketika aborsi menjadi bahan pembicaraan, anggapan yang muncul kebanyakan hanya mengingat aborsi dari segi medis, hukum dan agama. Tanpa kita sadari bahwa aborsi juga memiliki dampak terhadap mental yang bisa saja terjadi pada perempuan atau lelaki, pasangan dan keluarga paska terjadinya aborsi. Gangguan mental tersebut dikenal dengan Post Abortion Syndrome (PAS).
Suatu malam, setelah diskusi. Aku menerima sebuah sms dari salah seorang peserta diskusi. “Mbak, berapa lama biasanya PAS terjadi setelah aborsi?”
PAS bisa terjadi beberapa saat setelah aborsi dan bisa juga terjadi bertahun-tahun setelah aborsi. Itu tergantung bagaimana tingkat traumatis seseorang. Aborsi yang menyakitkan, adanya infeksi paska aborsi, paksaan melakukan aborsi dan sistem nilai dan kepercayaan yang dianut seseorang adalah faktor-faktor yang menyebabkan aborsi dapat menjadi traumatis.
Aborsi yang menyakitkan banyak terjadi pada tindakan aborsi yang tidak aman atau dilakukan dengan standar medis yang tidak tepat. Misalnya oleh tenaga medis illegal dan tindakan aborsi secara tradisional. Biasanya dengan menggunakan alat atau benda tajam, obat-obatan hingga melakukan tekanan dan pemijatan pada bagian abdomen dengan teknik yang justru dapat menimbulkan efek yang lebih menyakitkan pada kesehatan fisik dan mental seorang perempuan.
Dari segi medis, aborsi yang tidak tuntas dapat menyebabkan infeksi pada rahim. Beberapa efek pada kesehatan bisa muncul pasca aborsi yang tidak tuntas tersebut. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Brian Clowes, Facts of Life disebutkan beberapa resiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi perempuan pada saat aborsi dan paska aborsi.
1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat.
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius di sekitar kandungan.
4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation).
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
6. Kanker payudara (terjadi karena ketidakseimbangan hormone estrogen pada wanita).
7. Kanker indung telur (Ovarium cancer).
8. Kanker leher rahim (Cervical cancer).
9. Kanker hati (Liver cancer).
10. Kelainan pada ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada kehamilan selanjutnya.
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy).
12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).
Trauma muncul biasanya disebabkan karena ketakutan seorang perempuan jika mengalami akibat yang bisa diderita apalagi jika aborsi yang mereka lakukan tidak tuntas. Namun bagi perempuan yang melakukan aborsi secara tradisional terkadang lebih memiliki efek mental yang lebih. Karena peluang mengalami infeksi lebih besar. Ini banyak dialami oleh remaja atau perempuan yang belum menikah. Mereka akan lebih merasa tertekan dengan ketakutan untuk mengontrol kesehatan rahim mereka.
Bahkan beberapa kasus yang terjadi pada perempuan yang sedang mengalami PAS, tidak mempunyai keinginan untuk memeriksakan kesehatan mereka ke dokter. Ini biasa diakibatkan karena tingkat kepercayaan diri dan merasa tidak berharga menghantui pikiran mereka sendiri. Ini banyak dialami oleh perempuan yang melakukan aborsi karena paksaan dari pasangan dan orang tua mereka.
Banyak sekali perempuan yang mengalami kehamilan terpaksa memilih aborsi karena paksaan. Mereka tidak punya kekuatan untuk mengatakan tidak dan menolak paksaan tersebut. Alasan paksaan dari seorang laki-laki biasanya disebabkan karena belum siap dari segi finansial dan takut pada orang tua mereka. Sedang alasan yang berasal dari paksan orang tua untuk mempertahankan image mereka karena malu pada masyarakat. Namun, jika ini kemudian dikaitkan dengan hukum maka hukuman terberat akan dijatuhkan pada perempuan sebagai pelaku aborsi.
Ketakutan hidup dalam bayang-bayang penilaian masyarakat yang negatif karena mengalami kehamilan pra-nikah membuat seorang perempuan dan keluarga memutuskan untuk aborsi. Ini erat kaitannya dengan sistem nilai dan kepercayaan yang dianut seseorang. Agama dan moral menjadi tolak ukur banyak orang dalam menilai orang lain. Banyak peserta yang beranggapan bahwa orang yang melakukan aborsi tidak mendapatkan dua hal tersebut dengan cara yang tepat.
Sejak kecil kita dididik untuk memiliki dan memahami dua hal tersebut. Apakah itu efektif, kembali kepada individu masing-masing. Bagaimana seseorang mengontrol diri tergantung bagaimana mekanisme pertahanan diri mereka. Pendidikan dalam keluarga akan sangat berperan penting dalam menjaga mekanisme pertahanan diri tersebut.
Perempuan yang memegang sistem nilai dan kepercayaan dimana aborsi adalah suatu tindakan yang tidak dibenarkan, biasanya lebih rentan mengalami trauma. Aborsi bukanlah keputusan yang mudah. Diperlukan kesiapan fisik dan mental melakukannya.
“Apa yang bisa kita lakukan untuk menekan angka aborsi?” tanya seorang peserta pada saat diskusi di Asset.
Aborsi kerap diidentikkan menjadi masalah kaum perempuan saja. Asumsi itu masih banyak disimpan dalam memori masyarakat. Aborsi memang dilakukan dan dirasakan langsung oleh kaum perempuan, itu sudah tentu terjadi. Namun, timbulnya kehamilan melalui proses kerja sama intim antara laki-laki dan perempuan. Hal yang pertama adalah merubah asumsi itu, hingga muncul tanggung jawab bersama dan kesadaran bersama.
Untuk menekan angka aborsi, dalam beberapa diskusi kami lebih banyak membahas akar permasalahan yang menyebabkan adanya kehamilan tidak diinginkan hingga menyebabkan aborsi.
Kurangnya pendidikan seks untuk remaja. Banyak dari klien kami yang sudah melakukan aborsi mengakui bahwa mereka tidak tahu sama sekali mengenai pendidikan seks. Bagaimana menjaga dengan baik kesehatan reproduksi mereka dan sulit membuat keputusan menolak jika terjebak dalam ajakan berhubungan seksual.
“Saya setuju jika pendidikan seks diberikan kepada setiap orang. Tapi, dengan adanya diskusi-diskusi seperti ini saya pikir akan terlihat seperti menakut-nakuti. Inikan cenderung akan membuat orang takut, bukan berpikir.” kata seorang peserta di Oxford.
“Saya pikir ini bukan menakut-nakuti tapi kita lebih berbicara pada pendidikan resiko. Orang-orang harus sadar bahwa segala sesuatu yang dilakukan akan selalu ada resikonya.” sanggah Miss Uun, peserta diskusi.
Selalu ada pilihan dalam hidup. Segala pilihan yang ada dihadapan kita, selalu diikuti oleh resiko. Kita selalu dididik mengenai apa yang baik dan apa yang salah. Tapi sangat jarang kita diberikan pengetahuan mengenai alasan mengapa hal itu salah atau benar sehingga resiko kadang terlupakan.
Hasrat seksual tidak bisa dipungkiri ada dalam diri kita. Mengakui dan merasakannya adalah suatu hal yang normal. Semua tergantung pada pilihan anda mengendalikannya. Melakukan hubungan seks pra-nikah membutuhkan tanggung jawab besar. Melakukannya atau tidak adalah hak setiap orang. Pendidikan seks yang tepat dengan memasukkan informasi mengenai kesehatan reproduksi akan berguna dalam pembentukan sikap dan pengambilan keputusan. Khususnya kepada remaja, dengan adanya pendidikan seks akan membantu mereka dalam memilih informasi yang akurat dan tidak akurat sesuai dengan tatanan moral, apalagi jika dikaitkan dengan isu yang sensitif seperti seksualitas, aborsi dan kontrasepsi.
Permasalahan yang juga muncul pada kehamilan tidak diinginkan karena tingkat penggunaan kontrasepsi yang rendah di Indonesia. Metode kontrasepsi digunakan untuk mencegah kehamilan. Bagi pasangan pra nikah, satu-satunya alat kontrasepsi yang bisa dengan mudah mereka dapatkan adalah kondom. Kondom adalah selaput karet/latex yang dipasang pada penis selama berhubungan seksual sehingga mencegah sperma bertemu dengan sel telur.
Salah satu penyebab rendahnya pemakaian alat kontrasepsi terutama kondom karena adanya asumsi melegalkan hubungan seks. Hal tersebut erat kaitannya dengan rendahnya penggunaan kontrasepsi. Banyak pasangan yang malu untuk membeli kondom.
Budaya kita tidak memberikan ruang bagi seorang perempuan menjadi seorang single mother. Ini dirasakan bagi perempuan yang hamil sebelum adanya ikatan pernikahan. Judgement dari masyarakat menjadi hal yang menakutkan daripada menyelamatkan janin mereka. Di beberapa negara dimana aborsi legal misalnya, sebagian besar perempuan memutuskan untuk melakukan aborsi dengan kesadaran bahwa itu adalah hak reproduksi mereka. Sedang di Indonesia, tidak. Banyak perempuan yang melakukan aborsi dengan alasan takut pada orang tua, malu atau bahkan dipaksa.
Legal atau ilegalnya status hukum aborsi bisa saja bukan hal yang menentukan untuk menekan angka aborsi di Indonesia. Namun hanya akan mengubah aborsi yang tidak aman menjadi aman. Kita membutuhkan tindakan preventif. Samsara setuju bahwa pendidikan seks dengan dipaketkan dengan pendidikan resiko akan lebih bermanfaat sebagai suatu langkah awal.
Kami sangat optimis bahwa perubahan akan muncul walau dengan mengadakan diskusi dalam lingkup yang kecil. Kedekatan personal terasa membantu dalam mengatasi dampak aborsi. Kepedulian terasa bersatu dengan kita pada saat-saat diskusi akan berakhir dengan beberapa tawaran dari peserta.
“Apa yang harus kami lakukan untuk membantu memulihkan perempuan atau pasangan kami jika mengalami PAS?”
Haru dan bahagia terasa mengelilingi hati kecil kami, Samsara Abortion Recovery. Terimakasih Pare.
Rabu, 28 Januari 2009
Bayi Jadi Tuyul?
By: Sartika Nasmar
Di sebuah warung lesehan Pecel Pincuk Pare, Kediri. Kami kembali mengadakan diskusi yang kedua kalinya sebagai Program Sosialisasi dan Edukasi di SAMSARA. Selang satu hari setelah diskusi di sebuah asrama yang dihuni khusus wanita, Expert Camp. Tepatnya tanggal 22 Januari 2008, dalam diskusi kali ini kami mengundang salah satu lembaga kursus yaitu Access.
Awalnya aku menawari diskusi ini melalui telefon dan alhamdulillah Ramdan (General Manager Access) sangat menyambut baik penawaranku mewakili SAMSARA. Kami kemudian berjanji ketemu untuk menjelaskan lebih detail mengenai materi diskusi.
Petang muncul, materi dan kuisioner belum selesai dicopy. Aku dan Inna khawatir terlambat dan teman-teman dari Access malah datang lebih dulu dari kami. Kami segera menyelesaikan pekerjaan kami dan menuju kos dengan motor pinjaman.
Kami tiba tepat pukul 07.00 di kos. Kami hanya ganti baju lalu langsung ke Pecel Pincuk dengan kecepatan tinggi. Akhirnya tiba. Kami parkir sepeda tua sewaan di tempat yang sudah ditentukan lalu masuk dan memilih tempat duduk tepat di tengah. Belum ada satu pun teman-teman dari Access yang datang. Kami menunggu.
“Mbak, aku curiga malam ini yang datang dari Access semuanya teacher, mana mereka minta diskusi Bahasa Inggris. Mampus dah..,” kataku ke Inna.
“Iya, Tik. Aku kok rada-rada grogi juga yah?”
“Ya udah mbak. Entar kita pakai bahasa Indonesia saja. Daripada ada kesalahan makna nantinya.” bujukku mencari selamat dunia akhirat.
“Iya, benar juga.”
Aku sedikit lega. “Aman.” pikirku. Setidaknya malam ini aku tidak hanya menyelamatkan diriku dari ketidakcakapan berbahasa Inggris, tapi juga menyelamatkan Kapit yang juga akan hadir pada diskusi malam ini.
Kapit adalah salah satu anggota Samsara di Bidang Sosialisasi dan Edukasi. Malam ini ia dijadwalkan akan membuka diskusi.
Di sela-sela kami menunggu aku menyusun materi dan kuisioner untuk dibagi kepada peserta diskusi. Satu per satu mulai bermunculan. Mereka memilih tempat yang berbeda dengan kami dan memesan makanan. Aku dan Inna akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Sepertinya dugaanku mulai terbukti sedikit demi sedikit. Yang datang sebagian besar adalah tenaga pengajar dari Access.
Kapit datang dengan penampilan khasnya pakaian warna hitam. Nyaris tak terlihat. Ia langsung duduk di antara aku dan Inna. Aku mengeluarkan laptop dari tas Inna. Malam itu aku menjadi notulen.
Kami masih menunggu.
Diskusi dimulai pukul 19.53 Wib. Kapit membuka diskusi. Suasana menjadi hening dan serius. Ia memperkenalkan Samsara, lalu aku dan Inna. Ia kemudian berbicara sedikit mengenai aborsi, isu yang ada di sekitar kita namun tidak banyak yang ingin membicarakannya terbuka. Tak bisa kita pungkiri, itu memang ada.
Materi selanjutnya mengenai aborsi secara garis besar dijelaskan oleh Inna. Ia mengawali dengan melanjutkan obrolan dari Kapit. Banyak yang tidak menyadari bahwa aborsi telah banyak terjadi tanpa sadar bahwa jumlah kasus aborsi di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Bahkan aborsi menyumbang 11 persen untuk Angka Kematian Ibu (AKI) dimana Indonesia memegang rekor tertinggi di ASEAN. Dan banyak yang beranggapan bahwa aborsi hanya masalah perempuan tanpa sadar bahwa lelaki juga bisa mengalami efek psikologis.
Aborsi yang tidak aman dan tidak memenuhi standar medis hingga kini masih menjadi pilihan paling banyak bagi perempuan yang belum menikah. Tapi aborsi dengan cara ini juga masih banyak digunakan oleh perempuan sudah menikah. Ini disebabkan karena status hukum aborsi di Indonesia masih ilegal.
Seperti biasa Inna selalu menanyakan kepada peserta pertanyaan yang sama mengenai aborsi. “Apa yang terlintas dalam kepala anda pertama kali mendengar aborsi?”
“Saya belum pernah aborsi.” kata salah seorang peserta pria sambil tertawa. Peserta yang lain ikut tertawa.
Kami menunggu jawaban selanjutnya, cukup lama kemudian muncul jawaban baru dari peserta pria lain.
“Yang terlintas dalam pikiran saya, aborsi adalah perempuan dan remaja. Tapi apakah ada data yang menggambarkan seberapa besar porsi dilakukan oleh remaja?”
Kami sudah sangat sering mendengar statement bahwa pelaku aborsi terbesar adalah seorang remaja. Namun jika melihat penelitian dari Yayasan Kesehatan Perempuan pada tahun 2003 menyebutkan bahwa 87 persen yang melakukan aborsi adalah ibu rumah tangga. Sedangkan 12 persen lainnya adalah remaja putri. Tidak hanya satu penelitian yang menunjukan bahwa sebagian besar pelaku aborsi terbesar di Indonesia adalah ibu rumah tangga. Tapi ini bisa jadi hanya data berbasis klinis. Lalu bagaimana dengan wanita yang melakukan aborsi diam-diam di tenaga media ilegal atau dukun? Bisa jadi pula jumlah 2.600.000 aborsi di Indonesia ini malah jauh lebih besar jika menambah jumlah angka yang tidak terjangkau. Misalnya pada beberapa kasus aborsi traadisional yang tidak dilakukan di tenaga medis ahli.
Inna melanjutkan materinya mengenai proses aborsi yang dilakukan beberapa orang. Bagaimana aborsi tidak aman bisa lebih menyakitkan daripada melahirkan normal. Seorang peserta wanita yang hadir tiba-tiba menjerit dan berbalik arah seolah tak ingin mendengar Inna. Suasana menjadi sedikit tegang.
Aborsi juga menjadi lahan para mafia aborsi yang banyak dilakukan oleh tenaga medis ilegal, bahkan banyak dilakukan oleh dokter dan bidan. Belum lagi oleh jaringan-jaringan tertentu yang menjual obat-obatan untuk aborsi dari tangan ke tangan.
Suasana makin tegang, sangat terlihat pada ekspresi tiga peserta wanita. Tiba-tiba muncul pertanyaan yang mengejutkan.
“Mbak, benar gak sih soal mitos bayi yang diaborsi bisa jadi tuyul?” tanya Ramdan membuat candaan. Semuanya tertawa. “Nih, buat refreshing nih. Tegang semua soalnya.” katanya.
Seorang peserta pun sempat bertanya peran Samsara seperti apa dalam menangani persoalan aborsi ini. Kami selalu menerima pertanyaan yang sama dalam setiap diskusi dan selalu pula diawal diskusi kami menggambarkan visi Samsara untuk membantu memulihkan penderitaan seseorang pasca aborsi secara psikologis. Yang perlu digarisbawahi bahwa kami tidak mendukung aborsi. Kami sering menerima permintaan dari beberapa pasangan melalui email menanyakan lokasi aborsi yang aman. Kami lebih menyarankan untuk ke dokter dengan memberikan mereka pilihan dan gambaran resiko yang akan mereka terima dari setiap pilihan itu.
Beberapa terlihat tercengang. Beberapa juga bingung.
Dalam beberapa hubungan dalam arti pasangan, jika dihadapkan permasalahan pasca aborsi. Bagaimana cara mengkonseling pasangan? Kebanyakan orang yang mengalami Post Abortion Syndrom adalah wanita namun bukan berarti lelaki tidak bisa mengalaminya. Ini juga menjadi materi menarik dalam diskusi malam itu. Ini merupakan pertanyaan dari seorang peserta pria. Lelaki harus lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan atau pasangannya. Mengalami PAS biasanya akan banyak air mata dan sangat menghabiskan energi. Kita sebaiknya lebih melihat pada akar permasalahan.
Misalnya pasangan kita mengalami gelisah. Kita harus mencari tahu apa yang menyebabkan gelisah itu. Orang yang mengalami trauma cenderung ingin melupakannya, namun sebenarnya hal yang perlu kita lakukan adalah mengakui adanya sebuah permasalahan. Itu akan membantu memunculkan kesadaran dan kita akan lebih mudah memahami situasi pasangan.
“Proses pemulihan lebih sulit dari proses pembikinan.” canda Ramdan lagi.
Sangat jarang kita diajarkan untuk memahami emosi-emosi yang terekam dalam hidup. Kita malah cenderung berusaha untuk merasa kuat. Tidak ingin mengakui masalah hingga akhirnya tersimpan terus dalam alam bawah sadar kita dan mengakibatkan depresi berkepanjangan.
Yang perlu dilakukan dalam pemulihan adalah adanya keinginan dan lingkungan yang mendukung. Walaupun laki-laki dan perempuan melakukan konseling atau pendampingan dalam jangka waktu lama tanpa ada komitmen untuk sembuh bisa saja gagal. Konselor bukan pemeran utama tapi hanya pemeran pembantu untuk memulihkan seseorang.
“Untuk membuat orang percaya dengan kita biasanya membutuhkan rekomendasi dari medis.
Apakah Samsara hingga hari ini telah bekerjasama dengan tim medis?”
Kami menyadari bahwa bekerjasama dengan tim medis misalnya seorang dokter akan sangat mendukung gerakan Samsara walau kami lebih fokus pada psikologis. Namun, kami juga memikirkan seperti apa kami dapat memberikan kontribusi untuk menggadeng seorang dokter dalam organisasi kami sementara kami masih mengerjakan proyek idealis.
“Yakinkan mereka untuk melakukan aborsi dengan baik.” pesan seorang peserta lagi.
Inna tersenyum. Aku tidak tahu apa Kapit juga senyum, terlalu gelap untuk memastikannya. Yang pasti aku tidak tersenyum karena sibuk memperhatikan yang lain.
“Lalu apa ada solusi dari pemerintah untuk memperkecil jumlah aborsi?” tanya peserta ke Inna.
Upaya pemerintah saat ini hanya pada penekanan angka kehamilan dan penularan penyakit menular seks yakni memberikan kesadaran akan penggunaan alat kontrasepsi.
Saat menulis ini aku tiba-tiba ingat pada International Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo, Mesir pada tahun 1994. Sebanyak 179 delegasi hadir dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh United Nation. Dalam pertemuan itu menyepakati visi 20 tahun ke depan yang berisi panduan nasional dan internasional keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pencegahan HIV/AIDS, pemberdayaan perempuan serta usaha pembangunan yang lain. Salah satu delegasi yang ikut menandatangani kesepakatan tersebut adalah Indonesia.
Salah satu kesepakatan Kairo pada saat itu menegaskan:
All governments and relevant intergovernmental and non-governmental organizations are urged to strengthen their commitment to women health, to deal with the health impact of unsafe abortion as a major public health concern and reduce the recourse to abortion through expanded and improved family planning services. Prevention of unwanted pregnancies must always be given the highest priority and all attempts should be made to eliminate the need for abortion. Women who have unwanted pregnancies should have ready access to reliable information and compassionate counseling. Any measures or changes related to abortion within the health system can only be determined at the national or local level according to the national legislative process. In circumstances in which abortion is not against the law, such abortion should be safe. In all cases, women should have access to quality services for management of complications arising from abortion. Post-abortion counseling, education and family planning services should be offered promptly, which will also help to avoid repeat abortions.
Seluruh pemerintah dan organisasi lintas-departemen dan LSM, didorong untuk memperkuat komitmen pada kesehatan perempuan, untuk menyikapi dampak kesehatan atas aborsi yang tidak aman sebagai masalah kesehatan publik yang utama dan untuk menekan pengulangan aborsi melalui pelayanan perencanaan keluarga yang telah lebih dikembangkan dan diperbaiki. Pencegahan kehamilan yang tak diinginkan harus selalu menjadi prioritas tertinggi dan semua usaha harus dilaksanakan untuk melenyapkan kebutuhan akan aborsi. Perempuan yang mengalami kehamilan tak diinginkan harus memiliki akses yang siap terhadap informasi yang dapat diandalkan dan konseling yang manusiawi. Setiap tindakan dan perubahan yang berhubungan dengan aborsi di dalam sistem kesehatan hanya dapat ditentukan pada tingkat nasional atau lokal, tergantung dari proses legislatif nasional. Dalam segala kasus, perempuan harus punya akses untuk pelayanan yang berkualitas dalam manajemen terhadap komplikasi yang muncul dari aborsi. Konseling paska aborsi, pendidikan dan pelayanan perencanaan keluarga harus ditawarkan yang mana akan juga membantu menghindarkan pengulangan aborsi di kemudian hari.
Aborsi merupakan bagian dari hak reproduksi dan kesehatan reproduksi seseorang jika memang itu perlu. Tapi aku tetap berpikir bahwa pemenuhan tetap harus sesuai dan diatur jelas. Pemberian jalan keluar untuk Kehamilan Tidak Diinginkan dan menekan aborsi tidak aman adalah kuncinya. Legal atau illegal aborsi dengan akses atau tanpa akses kontrolnya ada pada anda. Seperti pesan yang ditulis oleh seorang psikolog dari Amerika, Vincent Rue;
“Pengguguran berakibat menyakitkan, tanpa memperhatikan seberapa besar kepercayaan religiusnya seorang perempuan atau bagaimana positif keyakinannya untuk membuat keputusan aborsi.”
Tentukan pilihan anda, jangan sampai apa yang anda korbankan lebih berharga dari harga yang harus anda bayar, Post Abortion Syndrome.
Sabtu, 24 Januari 2009
“Why, Ough & Allahu Akbar”
By: Sartika Nasmar
20 Januari 2009, pukul 18:59 Wib. Dalam sebuah ruangan berukuran 3 x 4 meter di Expert Camp, salah satu asrama untuk wanita yang terletak di Jalan Anyelir, Pare. Sebuah diskusi kecil akan segera di mulai. Malam itu agenda diskusi akan membahas seputar Kesehatan Reproduksi dan Aborsi. Mentor asrama, Ms. Vivin kemudian mempersilahkan kami untuk memulai diskusi.
Malam ini SAMSARA diwakili oleh dua orang anggota, Inna Hudaya (Managing Director & Konselor) dan Sartika Nasmar (Divisi Sosialisasi & Edukasi). Sebelum di mulai, aku membagikan 10 rangkap materi mengenai data aborsi dan efek secara fisik dan mental. Sedang Inna Hudaya menuju ke depan dan bersiap-siap memulai diskusi. Materi telah tersebar ke peserta program, sebagian dari mereka sedang membacanya. Inna Hudaya kemudian memperkenalkan SAMSARA sebagai sebuah organisasi non-profit untuk membantu pemulihan bagi orang-orang yang menderita akibat efek pasca-aborsi sekaligus memberi edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan aborsi.
Malam itu peserta yang hadir sebanyak 20 orang. Pria delapan orang dan perempuan 12 orang.
Intinya, kami ingin mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dapat kita share dalam diskusi mengenai kesehatan reproduksi dan aborsi.
Perbincangan dimulai dengan melempar isu Kesehatan Reproduksi. Tak ada tanggapan. Entah. Kesehatan reproduksi tentu saja tidak hanya penting diketahui oleh wanita saja, tapi pria juga perlu memahaminya apalagi setelah menikah. Sebagian peserta pria tersenyum tipis mendengar tanggapan Inna. Sebagian lagi terlihat geli dan malu-malu.
Sesuai target dan materi sasaran, kita akan lebih banyak membahas mengenai aborsi dan efeknya yang dapat menyerang fisik dan mental (PAS).
Kemudian Inna Hudaya memberikan pertanyaan kedua. “Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata aborsi?”
Satu per satu memberi jawaban yang berbeda.
“About kill baby,” jawab Ms. Vivin. “And then open mouth like this…” sambil membuka mulutnya lebar seolah menunjukkan ekspresi mengagetkan. Kemudian muncul pendapat berbeda.
“Risk of sex,”
“The big crime,”
“Danger for self,”
“Just for women,”
“Big sin,”
“Consecuenci of free sex,”
“Low education about sex education,”
Seks selalu menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan, mungkin seperti itu yang terjadi malam itu.
Kemudian tak ada ekspresi mengagetkan ketika Inna mulai mengungkapkan jumlah aborsi di Indonesia setiap tahunnya sebanyak 2.600.000 kasus. Para peserta program terlihat menyimak fakta-fakta tersebut. Berlanjut pada fakta pelaku aborsi yang sebagian besar dilakukan oleh ibu rumah tangga. Ruangan seketika ramai dengan pertanyaan,
“Why?” atau sekedar teriakan, “Ouuh..,”.
Inna masih memberikan fakta selanjutnya bahwa itu yang melakukan di tempat-tempat yang dianggap legal seperti dokter dan tenaga medis legal. Belum termasuk para post-abortus yang melakukan aborsi secara tradisional atau dengan jamu-jamuan dan tenaga medis illegal. Pembicaraan berlanjut untuk mensosialisasikan Post Abortion Syndrom kepada peserta. Ini adalah kali pertama mereka mendengar gejala psikologis yang dapat menyerang siapa saja pasca aborsi. Semua gejala-gejala disebutkan oleh Inna.
Aborsi sudah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan pada zaman dahulu, proses aborsi dilakukan dengan cara menendang atau memukul bagian perut ibu lalu dilanjutkan dengan mengendarai kuda yang berlari kencang hingga bayi lahir prematur. Namun jika setelah bayi lahir dalam keadaan masih bernyawa maka bayi kemudian dibunuh atau ditinggalkan begitu saja.
“Oh, God!?!” teriak Ms. Vivin. Ia menjerit beberapa kali. Peserta wanita lain hanya bisa, “Haaaa…,” dengan suara yang sedikit tertahan.
“Apa alasan mereka melakukan aborsi?” tanya salah seorang pria.
“Bagi ibu rumah tangga, faktor ekonomi, kegagalan kontrasepsi, jarak anak yang terlalu dekat, tuntutan pekerjaan, hasil perslingkuhan, usia ibu yang sudah tua dan beberapa di antaranya atas permintaan suami mereka. Sedang bagi remaja biasanya dengan alasan karena belum menikah dan tidak siap, takut pada orang tua, malu, gagal kontrasepsi, atas perintah orang tua atas nama image, dan hasil perkosaan hingga menyebabkan depresi.”
Yang paling penting untuk diketahui adalah perubahan konstruksi atau pola pikir yang berkembang di masyarakat bahwa pelaku aborsi terbesar dilakukan oleh remaja atau wanita yang belum menikah. Tapi, menurut hasil penelitian dari beberapa lembaga mengatakan bahwa sebagian besar pelakunya adalah ibu rumah tangga. Ini kemudian secara tidak langsung menciptakan sebuah diskriminasi kepada wanita yang belum menikah.
“Bagaimana dengan status hukum aborsi di Indonesia?” tanya seorang peserta wanita.
Di Indonesia, aborsi masih dianggap illegal dan kriminal. Tapi, dianggap tidak melanggar hukum dan dibolehkan jika kehamilan akan mengancam keselamatan ibu dan bayi serta apabila kehamilan tersebut adalah hasil sebuah perkosaan. Tapi pada kenyataannya pun tidak seperti itu, karena banyak aborsi dilakukan dan diijinkan sebagai contoh dengan alasan ekonomi tadi. Tapi tetap saja jumlah aborsi yang tidak terdeteksi karena dilakukan di tempat-tempat illegal menjadi sulit dijamah. Apalagi banyak pula wanita yang belum menikah dan mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang bermaksud aborsi dengan cara aman, misalnya dokter kemudian mendapat tekanan psikologis berupa judgement sehingga memutuskan memilih ke tenaga illegal.
Sejenak kita melihat definisi dan jenis aborsi. Aborsi adalah penghentian kehamilan di mana fetus belum mempunyai kemampuan untuk hidup di luar kandungan. Jenisnya terbagi dua, yaitu spontaneous abortion atau aborsi yang terjadi secara spontan dan provokatus abortion atau aborsi yang terjadi karena disengaja dan dengan menggunakan alat atau bahan tertentu untuk menghentikan kehamilan.
“Saya ingin mempromosikan buku, kalian bisa membaca dan mengetahui mengenai aborsi mulai dari sebuah pengalaman hingga fakta ilmiah.” kata Inna.
Sepertinya tiada yang tertawa dalam ruangan itu selain saya. Aku menganggap dalam SAMSARA, salah satu divisi sedikit harus direvisi. Mungkin seperti Divisi Sosialisasi, Edukasi & Promosi. Mungkin??
“Hahahahaaaa…”
Kembali ke topik. Banyak yang tidak ingin membicarakan mengenai aborsi tapi ini tidak berarti bahwa ini tidak terjadi. Di kota-kota besar mungkin telah terekspose dengan sempurna dalam bentuk sebuah tindakan kriminal tanpa peduli apa alasan seorang wanita melakukannya. Bahkan, kami percaya bahwa di desa kecil seperti Pare pun aborsi dapat kita temukan. Lalu, mengapa tak ingin memunculkan ini sebagai sebuah bahan untuk sebuah pelajaran untuk menjadi lebih waspada dan hati-hati.
SAMSARA hadir untuk mensosialisasikan dampak aborsi secara psikologis yang dapat diderita bukan hanya kepada perempuan sebagai post-abortus saja, tapi juga dapat terjadi pada lelaki, keluarga, teman dan orang-orang yang berada di lingkungan post-abortus. Banyak sekali yang mengalaminya tapi tidak sadar bahwa apa yang mereka rasakan adalah Post Abortion Syndrom (PAS). Dan tidak banyak yang dapat mempertahankan semangat hidupnya akibat PAS, rasa bersalah yang tidak mampu dipahami menjadi hal tersulit yang dapat menyebabkan berkurangnya kepercayaan pada kelanjutan hidup seorang post-abortus, ditambah dengan judgement dari masyarakat sebagai pembuat dosa karena telah menghilangkan nyawa, misalnya. Semua orang dengan tingkat religi yang tinggi atau rendah pun akan menganggap aborsi sebagai sebuah kesalahan, bahkan dosa. Namun, kembali kepada hati nurani. Antara ibu dan bayi. Bayi yang telah di aborsi sudah meninggal, tak bisa kembali lagi tentunya. Sedang ibunya, masih hidup dan punya hak untuk mendapatkan kembali semangat hidupnya.
Aborsi lebih menyakitkan daripada melahirkan dengan normal. Mengapa? Karena pada saat anda memutuskan untuk melakukan aborsi, bisa jadi tubuh dan mental anda belum siap mengeluarkan bayi. Jika anda melewati proses melahirkan normal, pada saat bayi keluar dari rahim maka serviks atau mulut rahim akan terbuka dengan alami sesuai dengan jalan yang memang telah terbentuk alami. Sedangkan saat aborsi, serviks dipaksa untuk terbuka dalam diameter 6-7 milimeter, belum lagi ketika alat atau bahan tertentu dimasukkan untuk membunuh janin yang ada dalam uterus (rahim). Ini bisa megakibatkan pendarahan hingga menyebabkan kematian.
Kami bahkan pernah mendapat cerita dari salah satu klien yang melakukan aborsi secara tradisional dengan menggunakan krim atau cairan untuk melemahkan janin lalu ditambah dengan memasukkan tiga batang pohon singkong untuk memecahkan ketuban melalui vagina hingga ke rahim.
“Allahu Akbar..,” teriak salah satu peserta wanita yang berada di samping saya. Histeris dan berhasil mengagetkan saya.
Aborsi adalah salah satu konsekuensi akibat minimnya pengetahuan seks. Kebanyakan orang beranggapan bahwa seks hanya sebatas kesenangan tanpa memikirkan harga yang harus dibayar. Apalagi bagi perempuan misalnya karena dalam hal ini, yang paling merasakan dampak kerugian dan harus membayar mahal atas ketidakpahaman mengenai seks dalam arti benar. Membayar mahal dalam arti bukan materi, melainkan sebagai contoh kehamilan yang tidak diinginkan hingga aborsi dan harus merasakan kesakitan luar bisa apalagi jika traumatis menghantui mereka. Bukankah itu mahal?
Tiba-tiba, ada pertanyaan baru.
“Apa yang harus saya lakukan jika seorang teman meminta tolong diantar untuk melakukan aborsi?” pertanyaan ini terlontar dari seorang wanita. Ia terdengar gugup.
“Tolak.”
Anda kemungkinan besar dapat mengalami PAS walau hanya sebatas mengantar. Aku sedikit ingin berbagi, saat aku membaca beberapa email dari beberapa klien SAMSARA yang berbagi pengalaman aborsinya. Aku berpikir untuk menulisnya dan aku coba. Setelah itu, aku gelisah dan beberapa kali mimpi buruk hingga harus konseling dengan salah satu konselor di SAMSARA. Sekali lagi, aku hanya membaca dan menulis lalu aku bisa ikut mengalami gejala yang sama.
Banyak pertanyaan malam itu hingga pada keadaan menyalahkan kebudayaan barat yang mulai mempengaruhi budaya timur. Lalu jika itu memang benar ada, untuk apa pikiran diciptakan dalam hidup anda? Budaya barat, baik atau buruk, saya beranggapan bahwa jungkir balik pun budaya tersebut anda anggap akan mempengaruhi anda, jika anda menggunakan pikiran untuk mengontrol sistem pengendalian yang anda anggap baik atau buruk anda gunakan, maka tidak ada hal yang negative yang akan anda dapatkan.
Diskusi selesai pukul 08.30. Aku dan Inna melanjutkan diskusi di kos pagi harinya.
“Tik, jumlah aborsi kan ada 2.600.000 tuh tahun 2006. Kamu tahu gak berapa kasus yang terjadi perharinya. Coba kamu bagi sekarang.” kata Inna.
Aku kemudian memanfaatkan fasilitas kalkulator di handphoneku. Kubagi 2.600.000 dengan jumlah hari dalam setahun, 365. Hasilnya.
“7.120 orang mbak. Gila… itu per hari? Jadi setiap jam ada berapa yah yang aborsi?”
Jumlah yang mengagetkan jika kita menghitung dalam skala atau frekuensi hari di banding tahun. Lalu bisakah anda bayangkan jika 2.600.000 perempuan itu semuanya mengalami Post Abortion Syndrom? Semoga tidak tentunya. Pesan terakhir untuk menghindarinya, jika anda setuju.
“Save your body… save your life..” pesan SAMSARA.