Minggu, 2009 Februari 08

Aborsi VS Becak

By: Sartika Nasmar

Hari kelima Inna berada di Pare. Kami berdua menyewa kamar di Sanjaya Kos Putri. Untuk memanfaatkan waktu, kami juga mengadakan diskusi di kos ini. Pesertanya semua perempuan. Awalnya, rencana kami diskusi diadakan di lantai dasar tempat di mana anak kos biasa menerima tamu, di ruang nonton. Tapi karena hujan , kami terpaksa mengadakan diskusi dalam kamar Inna di lantai 2. Terbayang betapa sempitnya di dalam ruangan 3 x 4 meter, yang di dalamnya ada lemari dua pintu dan tiga tempat tidur. Kami sempat bingung bagaimana mengakalinya.
Kami terpaksa harus menggeser dua tempat tidur ke satu sisi dan menurunkan kasur busanya untuk dijadikan tempat duduk peserta. Lumayan nyaman. Walau aku dan Inna harus duduk di lantai yang dingin karena hujan seharian.
Diskusi kali ini membuat kami sedikit khawatir karena salah satu peserta hamil tujuh bulan. Kami sempat merasa takut terjadi sesuatu setelah mendengar Inna memaparkan fakta-fakta mengenai aborsi.
Diskusi dimulai pukul 20।09 Wib.

***

26 Januari 2009, sekitar pukul 16।00 Wib. Diskusi juga kami lakukan di Asset (Asociation of Sulawesi Students) mengenai tema yang sama. Asset adalah sebuah perkumpulan anak Sulawesi yang belajar Bahasa Inggris di Pare. Antusias yang menyenangkan karena jumlah peserta yang cukup banyak. Mayoritas peserta laki-laki sekitar 20 orang, sedang perempuan hanya enam orang. Kami diserang berbagai macam pertanyaan dari banyak peserta laki-laki. Bahkan berebut. Jumran, ketua Asset menjadi moderator.

***

Sekitar pukul 18.30 Wib, aku dan Inna baru saja selesai makan malam menu nasi goreng di sebuah warung bernama Empat Mata. Nasi goreng yang enak yang akhirnya bisa kami nikmati setelah tiga hari kami idam-idamkan. Makan selesai, aku menunggu Inna menghabiskan rokoknya lalu menuju ke Oxford, salah satu lembaga kursus untuk mengadakan diskusi mengenai aborsi.
Dua sepeda onthel tua membawa kami menyusuri Jalan Anyelir. Tiba-tiba hujan, kami masih tak peduli. Semakin keras.
“Mbak, hujannya deras. Singgah dulu, laptopmu basah.” teriakku ke Inna.
Inna membelokkan sepedanya ke kanan menuju ke Expert Camp, tempat pertama kami melakukan diskusi yang sama. Kami menunggu hujan reda namun malah semakin deras. Kami memutuskan menuju ke Oxford dengan satu sepeda saja dan meminjam payung pada Ifa, seorang teman yang tinggal di Expert. Ternyata sulit. Ifa menyarankan agar kami jalan kaki saja. Dengan terpaksa sepeda kami titip dan meminjam dua payung. Angin sangat kencang. Kami meminta plastik, Ifa memberi kami tiga. Satu untuk membungkus tas dan dua lagi untuk membungkus kepala kami.
Kami siap berangkat. Payung terbuka lebar siap melindungi kami. Celana kami gulung hingga lutut. Lalu berjalan di antara hujan. Petir terasa mengabadikan perjalanan kami bak cahaya dari sebuah kamera. Tiba-tiba jalan menjadi sangat gelap, lampu mati. Hujan makin deras, angin kencang menyambar. Lumayan mengerikan, aku tidak suka gelap apalagi karena kami harus melewati sebuah pohon bambu yang besar. Ketakutanku terobati dengan tawa.
Pakaian kami sudah mulai basah. Dingin terasa menyentuh tulang. Akhirnya kami tiba di Jalan besar, Brawijaya. Oxford sudah dekat. Kami menyeberang jalan, melewati sebuah warung makan. Banyak orang berlindung dari hujan. Aku sengaja melewati jalan beraspal yang digenangi air untuk mencuci kaki. Sebuah angkutan umum menuju ke arahku dengan kecepatan tinggi, aku segera naik ke trotoar. Mobil menginjak genangan air dan membasahi baju, celana hingga wajahku. Aku dan Inna teriak dengan jengkel. Setelah itu tertawa.
Kami tiba di Oxford yang tampak gelap. Lampu masih mati. Aris menyambut kami dan mempersilahkan masuk. Aku dan Inna sedikit segan masuk karena dalam keadaan kotor. Baju dan celanaku basah, wajahku sedikit kotor akibat cipratan dari genangan air tadi. Inna terlihat menurunkan gulungan celananya lalu mengeluarkan materi dari tas yang basah walau telah dibungkus plastik. Semua rapi, menurut kami. Lalu masuk ke ruang utama di Oxford.
Ruangan itu tidak besar. Kami duduk di lantai yang dialasi karpet dua warna. Sisi kanan merah dan sisi kiri biru. Sebuah meja dengan kaki ukuran 30 centimeter berada di tengah. Di tiap sudut meja diletakkan lilin dengan api kecil menerangi semangat kami.
Kami duduk mengelilingi ruangan। Peserta nampak kedinginan bahkan seorang peserta wanita menutup sekujur tubuhnya dengan selimut tebal. Aris menjadi moderator malam itu, ia memperkenalkan kami. Sangat menakjubkan, terasa beda kali ini tepuk tangan mengawali diskusi walau aku dan Inna dalam keadaan basah dan kumal.

***

Siang hari aku dan Inna kembali memulai pekerjaan. Kami menuju ke sebuah camp putri untuk menawarkan proposal diskusi. Tepatnya, Cherry Camp. Saat itu kami menemui Miss Atin, Pembina di camp tersebut. Kami ngobrol santai dengannya di ruang depan. Sebuah televisi menyala menayangkan program sinetron dan ditonton oleh seorang wanita sambil menyeterika. Ia tepat berada di sebelah kanan saya.
Miss Atin menyambut hangat tawaran diskusi kami, ia bersedia mengumpulkan peserta camp। Kami menyepakati diskusi pada esok malam, 28 Januari 2009 jam 18.30 Wib.

***

27 Januari 2009, diskusi ke enam kami lakukan di sebuah lembaga kursus, Global-E. Kami mengadakan diskusi di ruangan terbuka bagian belakang Global-E. Pesertanya sangat banyak. Sekitar 30 orang. Peserta kali ini adalah murid dalam kelas Speaking yang diajar oleh Mr. Toto. Dia yang memperkenalkan Samsara ke peserta.
Awalnya diskusi dimulai dengan menggunakan Bahasa Inggris. Namun karena banyak yang kesulitan bertanya, lama-kelamaan berubah menjadi diskusi Bahasa Indonesia. Mr. Toto pun akhirnya mengijinkan pelajar-pelajarnya menggunakan Bahasa Indonesia.
“Everybody can speak. You can speak in Bahasa.”
“Really?” jawab seorang peserta.
“Yeah, of course. I give you special today.”
Tiba-tiba diskusi menjadi ramai dengan sorak।

***

Hari berikutnya aku dan Inna memutuskan istirahat dari pagi hingga sore. Kami hanya menunggu waktu untuk diskusi terakhir di Cherry Camp pukul 19.00 Wib. Hujan tak henti-hentinya sepanjang hari itu. Hingga petang muncul, gerimis masih mengiringi. Kapit datang ke kos pukul 18.30, bajunya sedikit basah. Ia kemudian meng-copy materi untuk persiapan diskusi malam ini. Ia tidak ikut dengan kami ke Cherry, ia harus ke Kediri membawa proposal yang diminta oleh seorang dosen di Universitas Kadiri untuk mengadakan seminar bersama Samsara.
Aku dan Inna terlambat ke Cherry karena menunggu hujan reda। Kami berangkat saat gerimis masih ada. Tiba di Cherry peserta terlihat menunggu kami dengan santai. Semua peserta perempuan sekitar 13 orang. Tak ada moderator. Diskusi malam itu nampak sepi. Aku dan Inna mencoba pertahankan semangat.

***

Aku dan Inna sedikit lega karena sosialisasi dan edukasi selesai. Pikir kami. Aku membuat laporan sedang Inna membuat sebuah tulisan mengenai pengalaman kami selama di Pare. Tiba-tiba sebuah pesan diterima Inna di handphonenya. Sms itu dari Direktur Smart (salah satu lembaga kursus), Miss Uun. Ia meminta Samsara mengisi diskusi di Story Camp 1 dan 4 malam ini, 29 Januari 2009. Inna menanyakan kesiapanku. Aku dengan senang hati menyetujui. Aku menghubungi Kapit, menyuruh ia datang lebih cepat untuk meng-copy materi yang sudah habis.
Pukul 18.00, aku dan Inna berangkat. Kami memilih jalan kaki karena hujan dan harus menggunakan payung. Sebelumnya kami singgah di warung tepat di sebelah Story 1, kami memesan nasi goreng satu porsi dan segelas teh hangat. Kapit menyusul kami. Setelah makan, kami masih duduk sambil menyiapkan materi. Tiba-tiba seorang pria mengintip dari arah Story 1.
“Samsara yah?” katanya.
“Iya pak.” jawab Inna.
“Udah ditunggu dari tadi.”
“Oh, iya pak. Kami sedang menyiapkan materi dulu, setelah itu kami masuk.”
Kami masuk ke Story 1, sebuah asrama putri khusus English Area. Bangunan yang sangat bagus. Ruang diskusi sangat luas, pesertanya pun sangat banyak. Mereka kebanyakan adalah remaja yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Umum. Suasana sangat ramai. Mereka tampak senang dan antusias dengan adanya diskusi ini. Pertanyaan satu per satu muncul. Teriakan, istighfar, ekspresi meringis hingga ingin muntah dan bersendawa meramaikan diskusi saat seorang peserta bertanya mengenai metode dan proses aborsi.
“Stop miss,” pinta seorang peserta ke Inna. Ia mengelus perutnya. Gigi atas dan bawahnya bersatu. Lalu menutup telinga.
“Aku aja ditabrak becak, pemulihannya lama. Apalagi aborsi?” canda seorang peserta mencairkan suasana tegang.
Diskusi selesai 20.30. Miss Uun mengajak kami langsung menuju ke Story 4, camp selanjutnya di mana kami akan melakukan diskusi terakhir hari ini. Pesertanya tidak banyak, semua laki-laki. Diskusi dibuka oleh Miss Uun. Di Story 4 kami lebih banyak membahas mengenai aborsi dan lelaki. Kapit mengawali diskusi sebelum Inna. Sedang aku menjelaskan mengenai Post Abortion Syndrome.
Walau peserta hanya 12 orang namun antusias dan rasa ingin tahu mereka yang sangat besar membuat kami bersemangat। Suasana diskusi yang menyenangkan.

***

Kami selalu membuka diskusi dengan memperkenalkan Samsara. Lalu dilanjutkan dengan sedikit prolog mengenai data aborsi di Indonesia. Mendengar angka aborsi yang tinggi di Indonesia, banyak peserta yang tidak menyangka dan tak terpikirkan.
“Jumlah aborsi di Indonesia sebanyak 2.600.000 pada tahun 2006. Jika dibagi lagi maka ada 7123 kasus per harinya dengan asumsi 5-6 kasus per detik.”
“Astaghfirullah,”
“Wah, banyak juga yah?”
“Berarti sekarang ada yang aborsi dong?”
Kami selalu mendapatkan statement seperti itu saat memaparkan angka aborsi.
Inna melanjutkan dengan materinya. Inna selalu mengawali dengan mencari tahu sejauh mana pengetahuan peserta mengenai aborsi. Para peserta malam itu masing-masing mengeluarkan pendapat. Dosa, tidak bertanggung jawab, menyakitkan, tidak bermoral, tidak mendapat pasangan yang baik, bukan wanita baik-baik, tidak mendapat pengetahuan yang benar, pengguguran yang sakit, pembunuhan, membuang bayi, dan pemaksaan kelahiran. Pendapat-pendapat ini sering muncul di semua tempat dimana kami melakukan diskusi.
Ketika aborsi menjadi bahan pembicaraan, anggapan yang muncul kebanyakan hanya mengingat aborsi dari segi medis, hukum dan agama. Tanpa kita sadari bahwa aborsi juga memiliki dampak terhadap mental yang bisa saja terjadi pada perempuan atau lelaki, pasangan dan keluarga paska terjadinya aborsi. Gangguan mental tersebut dikenal dengan Post Abortion Syndrome (PAS).
Suatu malam, setelah diskusi. Aku menerima sebuah sms dari salah seorang peserta diskusi. “Mbak, berapa lama biasanya PAS terjadi setelah aborsi?”
PAS bisa terjadi beberapa saat setelah aborsi dan bisa juga terjadi bertahun-tahun setelah aborsi. Itu tergantung bagaimana tingkat traumatis seseorang. Aborsi yang menyakitkan, adanya infeksi paska aborsi, paksaan melakukan aborsi dan sistem nilai dan kepercayaan yang dianut seseorang adalah faktor-faktor yang menyebabkan aborsi dapat menjadi traumatis.
Aborsi yang menyakitkan banyak terjadi pada tindakan aborsi yang tidak aman atau dilakukan dengan standar medis yang tidak tepat. Misalnya oleh tenaga medis illegal dan tindakan aborsi secara tradisional. Biasanya dengan menggunakan alat atau benda tajam, obat-obatan hingga melakukan tekanan dan pemijatan pada bagian abdomen dengan teknik yang justru dapat menimbulkan efek yang lebih menyakitkan pada kesehatan fisik dan mental seorang perempuan.
Dari segi medis, aborsi yang tidak tuntas dapat menyebabkan infeksi pada rahim. Beberapa efek pada kesehatan bisa muncul pasca aborsi yang tidak tuntas tersebut. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Brian Clowes, Facts of Life disebutkan beberapa resiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi perempuan pada saat aborsi dan paska aborsi.
1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat.
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius di sekitar kandungan.
4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation).
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
6. Kanker payudara (terjadi karena ketidakseimbangan hormone estrogen pada wanita).
7. Kanker indung telur (Ovarium cancer).
8. Kanker leher rahim (Cervical cancer).
9. Kanker hati (Liver cancer).
10. Kelainan pada ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada kehamilan selanjutnya.
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy).
12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).
Trauma muncul biasanya disebabkan karena ketakutan seorang perempuan jika mengalami akibat yang bisa diderita apalagi jika aborsi yang mereka lakukan tidak tuntas. Namun bagi perempuan yang melakukan aborsi secara tradisional terkadang lebih memiliki efek mental yang lebih. Karena peluang mengalami infeksi lebih besar. Ini banyak dialami oleh remaja atau perempuan yang belum menikah. Mereka akan lebih merasa tertekan dengan ketakutan untuk mengontrol kesehatan rahim mereka.
Bahkan beberapa kasus yang terjadi pada perempuan yang sedang mengalami PAS, tidak mempunyai keinginan untuk memeriksakan kesehatan mereka ke dokter. Ini biasa diakibatkan karena tingkat kepercayaan diri dan merasa tidak berharga menghantui pikiran mereka sendiri. Ini banyak dialami oleh perempuan yang melakukan aborsi karena paksaan dari pasangan dan orang tua mereka.
Banyak sekali perempuan yang mengalami kehamilan terpaksa memilih aborsi karena paksaan. Mereka tidak punya kekuatan untuk mengatakan tidak dan menolak paksaan tersebut. Alasan paksaan dari seorang laki-laki biasanya disebabkan karena belum siap dari segi finansial dan takut pada orang tua mereka. Sedang alasan yang berasal dari paksan orang tua untuk mempertahankan image mereka karena malu pada masyarakat. Namun, jika ini kemudian dikaitkan dengan hukum maka hukuman terberat akan dijatuhkan pada perempuan sebagai pelaku aborsi.
Ketakutan hidup dalam bayang-bayang penilaian masyarakat yang negatif karena mengalami kehamilan pra-nikah membuat seorang perempuan dan keluarga memutuskan untuk aborsi. Ini erat kaitannya dengan sistem nilai dan kepercayaan yang dianut seseorang. Agama dan moral menjadi tolak ukur banyak orang dalam menilai orang lain. Banyak peserta yang beranggapan bahwa orang yang melakukan aborsi tidak mendapatkan dua hal tersebut dengan cara yang tepat.
Sejak kecil kita dididik untuk memiliki dan memahami dua hal tersebut. Apakah itu efektif, kembali kepada individu masing-masing. Bagaimana seseorang mengontrol diri tergantung bagaimana mekanisme pertahanan diri mereka. Pendidikan dalam keluarga akan sangat berperan penting dalam menjaga mekanisme pertahanan diri tersebut.
Perempuan yang memegang sistem nilai dan kepercayaan dimana aborsi adalah suatu tindakan yang tidak dibenarkan, biasanya lebih rentan mengalami trauma. Aborsi bukanlah keputusan yang mudah. Diperlukan kesiapan fisik dan mental melakukannya.
“Apa yang bisa kita lakukan untuk menekan angka aborsi?” tanya seorang peserta pada saat diskusi di Asset.
Aborsi kerap diidentikkan menjadi masalah kaum perempuan saja. Asumsi itu masih banyak disimpan dalam memori masyarakat. Aborsi memang dilakukan dan dirasakan langsung oleh kaum perempuan, itu sudah tentu terjadi. Namun, timbulnya kehamilan melalui proses kerja sama intim antara laki-laki dan perempuan. Hal yang pertama adalah merubah asumsi itu, hingga muncul tanggung jawab bersama dan kesadaran bersama.
Untuk menekan angka aborsi, dalam beberapa diskusi kami lebih banyak membahas akar permasalahan yang menyebabkan adanya kehamilan tidak diinginkan hingga menyebabkan aborsi.
Kurangnya pendidikan seks untuk remaja. Banyak dari klien kami yang sudah melakukan aborsi mengakui bahwa mereka tidak tahu sama sekali mengenai pendidikan seks. Bagaimana menjaga dengan baik kesehatan reproduksi mereka dan sulit membuat keputusan menolak jika terjebak dalam ajakan berhubungan seksual.
“Saya setuju jika pendidikan seks diberikan kepada setiap orang. Tapi, dengan adanya diskusi-diskusi seperti ini saya pikir akan terlihat seperti menakut-nakuti. Inikan cenderung akan membuat orang takut, bukan berpikir.” kata seorang peserta di Oxford.
“Saya pikir ini bukan menakut-nakuti tapi kita lebih berbicara pada pendidikan resiko. Orang-orang harus sadar bahwa segala sesuatu yang dilakukan akan selalu ada resikonya.” sanggah Miss Uun, peserta diskusi.
Selalu ada pilihan dalam hidup. Segala pilihan yang ada dihadapan kita, selalu diikuti oleh resiko. Kita selalu dididik mengenai apa yang baik dan apa yang salah. Tapi sangat jarang kita diberikan pengetahuan mengenai alasan mengapa hal itu salah atau benar sehingga resiko kadang terlupakan.
Hasrat seksual tidak bisa dipungkiri ada dalam diri kita. Mengakui dan merasakannya adalah suatu hal yang normal. Semua tergantung pada pilihan anda mengendalikannya. Melakukan hubungan seks pra-nikah membutuhkan tanggung jawab besar. Melakukannya atau tidak adalah hak setiap orang. Pendidikan seks yang tepat dengan memasukkan informasi mengenai kesehatan reproduksi akan berguna dalam pembentukan sikap dan pengambilan keputusan. Khususnya kepada remaja, dengan adanya pendidikan seks akan membantu mereka dalam memilih informasi yang akurat dan tidak akurat sesuai dengan tatanan moral, apalagi jika dikaitkan dengan isu yang sensitif seperti seksualitas, aborsi dan kontrasepsi.
Permasalahan yang juga muncul pada kehamilan tidak diinginkan karena tingkat penggunaan kontrasepsi yang rendah di Indonesia. Metode kontrasepsi digunakan untuk mencegah kehamilan. Bagi pasangan pra nikah, satu-satunya alat kontrasepsi yang bisa dengan mudah mereka dapatkan adalah kondom. Kondom adalah selaput karet/latex yang dipasang pada penis selama berhubungan seksual sehingga mencegah sperma bertemu dengan sel telur.
Salah satu penyebab rendahnya pemakaian alat kontrasepsi terutama kondom karena adanya asumsi melegalkan hubungan seks. Hal tersebut erat kaitannya dengan rendahnya penggunaan kontrasepsi. Banyak pasangan yang malu untuk membeli kondom.
Budaya kita tidak memberikan ruang bagi seorang perempuan menjadi seorang single mother. Ini dirasakan bagi perempuan yang hamil sebelum adanya ikatan pernikahan. Judgement dari masyarakat menjadi hal yang menakutkan daripada menyelamatkan janin mereka. Di beberapa negara dimana aborsi legal misalnya, sebagian besar perempuan memutuskan untuk melakukan aborsi dengan kesadaran bahwa itu adalah hak reproduksi mereka. Sedang di Indonesia, tidak. Banyak perempuan yang melakukan aborsi dengan alasan takut pada orang tua, malu atau bahkan dipaksa.
Legal atau ilegalnya status hukum aborsi bisa saja bukan hal yang menentukan untuk menekan angka aborsi di Indonesia. Namun hanya akan mengubah aborsi yang tidak aman menjadi aman. Kita membutuhkan tindakan preventif. Samsara setuju bahwa pendidikan seks dengan dipaketkan dengan pendidikan resiko akan lebih bermanfaat sebagai suatu langkah awal.
Kami sangat optimis bahwa perubahan akan muncul walau dengan mengadakan diskusi dalam lingkup yang kecil. Kedekatan personal terasa membantu dalam mengatasi dampak aborsi. Kepedulian terasa bersatu dengan kita pada saat-saat diskusi akan berakhir dengan beberapa tawaran dari peserta.
“Apa yang harus kami lakukan untuk membantu memulihkan perempuan atau pasangan kami jika mengalami PAS?”
Haru dan bahagia terasa mengelilingi hati kecil kami, Samsara Abortion Recovery. Terimakasih Pare.

Read More..

Rabu, 2009 Januari 28

Bayi Jadi Tuyul?

By: Sartika Nasmar

Di sebuah warung lesehan Pecel Pincuk Pare, Kediri. Kami kembali mengadakan diskusi yang kedua kalinya sebagai Program Sosialisasi dan Edukasi di SAMSARA. Selang satu hari setelah diskusi di sebuah asrama yang dihuni khusus wanita, Expert Camp. Tepatnya tanggal 22 Januari 2008, dalam diskusi kali ini kami mengundang salah satu lembaga kursus yaitu Access.

Awalnya aku menawari diskusi ini melalui telefon dan alhamdulillah Ramdan (General Manager Access) sangat menyambut baik penawaranku mewakili SAMSARA. Kami kemudian berjanji ketemu untuk menjelaskan lebih detail mengenai materi diskusi.

Petang muncul, materi dan kuisioner belum selesai dicopy. Aku dan Inna khawatir terlambat dan teman-teman dari Access malah datang lebih dulu dari kami. Kami segera menyelesaikan pekerjaan kami dan menuju kos dengan motor pinjaman.

Kami tiba tepat pukul 07.00 di kos. Kami hanya ganti baju lalu langsung ke Pecel Pincuk dengan kecepatan tinggi. Akhirnya tiba. Kami parkir sepeda tua sewaan di tempat yang sudah ditentukan lalu masuk dan memilih tempat duduk tepat di tengah. Belum ada satu pun teman-teman dari Access yang datang. Kami menunggu.

“Mbak, aku curiga malam ini yang datang dari Access semuanya teacher, mana mereka minta diskusi Bahasa Inggris. Mampus dah..,” kataku ke Inna.

“Iya, Tik. Aku kok rada-rada grogi juga yah?”

“Ya udah mbak. Entar kita pakai bahasa Indonesia saja. Daripada ada kesalahan makna nantinya.” bujukku mencari selamat dunia akhirat.

“Iya, benar juga.”

Aku sedikit lega. “Aman.” pikirku. Setidaknya malam ini aku tidak hanya menyelamatkan diriku dari ketidakcakapan berbahasa Inggris, tapi juga menyelamatkan Kapit yang juga akan hadir pada diskusi malam ini.

Kapit adalah salah satu anggota Samsara di Bidang Sosialisasi dan Edukasi. Malam ini ia dijadwalkan akan membuka diskusi.

Di sela-sela kami menunggu aku menyusun materi dan kuisioner untuk dibagi kepada peserta diskusi. Satu per satu mulai bermunculan. Mereka memilih tempat yang berbeda dengan kami dan memesan makanan. Aku dan Inna akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Sepertinya dugaanku mulai terbukti sedikit demi sedikit. Yang datang sebagian besar adalah tenaga pengajar dari Access.

Kapit datang dengan penampilan khasnya pakaian warna hitam. Nyaris tak terlihat. Ia langsung duduk di antara aku dan Inna. Aku mengeluarkan laptop dari tas Inna. Malam itu aku menjadi notulen.

Kami masih menunggu.

Diskusi dimulai pukul 19.53 Wib. Kapit membuka diskusi. Suasana menjadi hening dan serius. Ia memperkenalkan Samsara, lalu aku dan Inna. Ia kemudian berbicara sedikit mengenai aborsi, isu yang ada di sekitar kita namun tidak banyak yang ingin membicarakannya terbuka. Tak bisa kita pungkiri, itu memang ada.

Materi selanjutnya mengenai aborsi secara garis besar dijelaskan oleh Inna. Ia mengawali dengan melanjutkan obrolan dari Kapit. Banyak yang tidak menyadari bahwa aborsi telah banyak terjadi tanpa sadar bahwa jumlah kasus aborsi di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Bahkan aborsi menyumbang 11 persen untuk Angka Kematian Ibu (AKI) dimana Indonesia memegang rekor tertinggi di ASEAN. Dan banyak yang beranggapan bahwa aborsi hanya masalah perempuan tanpa sadar bahwa lelaki juga bisa mengalami efek psikologis.

Aborsi yang tidak aman dan tidak memenuhi standar medis hingga kini masih menjadi pilihan paling banyak bagi perempuan yang belum menikah. Tapi aborsi dengan cara ini juga masih banyak digunakan oleh perempuan sudah menikah. Ini disebabkan karena status hukum aborsi di Indonesia masih ilegal.

Seperti biasa Inna selalu menanyakan kepada peserta pertanyaan yang sama mengenai aborsi. “Apa yang terlintas dalam kepala anda pertama kali mendengar aborsi?”
“Saya belum pernah aborsi.” kata salah seorang peserta pria sambil tertawa. Peserta yang lain ikut tertawa.

Kami menunggu jawaban selanjutnya, cukup lama kemudian muncul jawaban baru dari peserta pria lain.

“Yang terlintas dalam pikiran saya, aborsi adalah perempuan dan remaja. Tapi apakah ada data yang menggambarkan seberapa besar porsi dilakukan oleh remaja?”

Kami sudah sangat sering mendengar statement bahwa pelaku aborsi terbesar adalah seorang remaja. Namun jika melihat penelitian dari Yayasan Kesehatan Perempuan pada tahun 2003 menyebutkan bahwa 87 persen yang melakukan aborsi adalah ibu rumah tangga. Sedangkan 12 persen lainnya adalah remaja putri. Tidak hanya satu penelitian yang menunjukan bahwa sebagian besar pelaku aborsi terbesar di Indonesia adalah ibu rumah tangga. Tapi ini bisa jadi hanya data berbasis klinis. Lalu bagaimana dengan wanita yang melakukan aborsi diam-diam di tenaga media ilegal atau dukun? Bisa jadi pula jumlah 2.600.000 aborsi di Indonesia ini malah jauh lebih besar jika menambah jumlah angka yang tidak terjangkau. Misalnya pada beberapa kasus aborsi traadisional yang tidak dilakukan di tenaga medis ahli.

Inna melanjutkan materinya mengenai proses aborsi yang dilakukan beberapa orang. Bagaimana aborsi tidak aman bisa lebih menyakitkan daripada melahirkan normal. Seorang peserta wanita yang hadir tiba-tiba menjerit dan berbalik arah seolah tak ingin mendengar Inna. Suasana menjadi sedikit tegang.

Aborsi juga menjadi lahan para mafia aborsi yang banyak dilakukan oleh tenaga medis ilegal, bahkan banyak dilakukan oleh dokter dan bidan. Belum lagi oleh jaringan-jaringan tertentu yang menjual obat-obatan untuk aborsi dari tangan ke tangan.

Suasana makin tegang, sangat terlihat pada ekspresi tiga peserta wanita. Tiba-tiba muncul pertanyaan yang mengejutkan.

“Mbak, benar gak sih soal mitos bayi yang diaborsi bisa jadi tuyul?” tanya Ramdan membuat candaan. Semuanya tertawa. “Nih, buat refreshing nih. Tegang semua soalnya.” katanya.

Seorang peserta pun sempat bertanya peran Samsara seperti apa dalam menangani persoalan aborsi ini. Kami selalu menerima pertanyaan yang sama dalam setiap diskusi dan selalu pula diawal diskusi kami menggambarkan visi Samsara untuk membantu memulihkan penderitaan seseorang pasca aborsi secara psikologis. Yang perlu digarisbawahi bahwa kami tidak mendukung aborsi. Kami sering menerima permintaan dari beberapa pasangan melalui email menanyakan lokasi aborsi yang aman. Kami lebih menyarankan untuk ke dokter dengan memberikan mereka pilihan dan gambaran resiko yang akan mereka terima dari setiap pilihan itu.

Beberapa terlihat tercengang. Beberapa juga bingung.

Dalam beberapa hubungan dalam arti pasangan, jika dihadapkan permasalahan pasca aborsi. Bagaimana cara mengkonseling pasangan? Kebanyakan orang yang mengalami Post Abortion Syndrom adalah wanita namun bukan berarti lelaki tidak bisa mengalaminya. Ini juga menjadi materi menarik dalam diskusi malam itu. Ini merupakan pertanyaan dari seorang peserta pria. Lelaki harus lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan atau pasangannya. Mengalami PAS biasanya akan banyak air mata dan sangat menghabiskan energi. Kita sebaiknya lebih melihat pada akar permasalahan.

Misalnya pasangan kita mengalami gelisah. Kita harus mencari tahu apa yang menyebabkan gelisah itu. Orang yang mengalami trauma cenderung ingin melupakannya, namun sebenarnya hal yang perlu kita lakukan adalah mengakui adanya sebuah permasalahan. Itu akan membantu memunculkan kesadaran dan kita akan lebih mudah memahami situasi pasangan.

“Proses pemulihan lebih sulit dari proses pembikinan.” canda Ramdan lagi.

Sangat jarang kita diajarkan untuk memahami emosi-emosi yang terekam dalam hidup. Kita malah cenderung berusaha untuk merasa kuat. Tidak ingin mengakui masalah hingga akhirnya tersimpan terus dalam alam bawah sadar kita dan mengakibatkan depresi berkepanjangan.

Yang perlu dilakukan dalam pemulihan adalah adanya keinginan dan lingkungan yang mendukung. Walaupun laki-laki dan perempuan melakukan konseling atau pendampingan dalam jangka waktu lama tanpa ada komitmen untuk sembuh bisa saja gagal. Konselor bukan pemeran utama tapi hanya pemeran pembantu untuk memulihkan seseorang.

“Untuk membuat orang percaya dengan kita biasanya membutuhkan rekomendasi dari medis.
Apakah Samsara hingga hari ini telah bekerjasama dengan tim medis?”

Kami menyadari bahwa bekerjasama dengan tim medis misalnya seorang dokter akan sangat mendukung gerakan Samsara walau kami lebih fokus pada psikologis. Namun, kami juga memikirkan seperti apa kami dapat memberikan kontribusi untuk menggadeng seorang dokter dalam organisasi kami sementara kami masih mengerjakan proyek idealis.

“Yakinkan mereka untuk melakukan aborsi dengan baik.” pesan seorang peserta lagi.
Inna tersenyum. Aku tidak tahu apa Kapit juga senyum, terlalu gelap untuk memastikannya. Yang pasti aku tidak tersenyum karena sibuk memperhatikan yang lain.

“Lalu apa ada solusi dari pemerintah untuk memperkecil jumlah aborsi?” tanya peserta ke Inna.

Upaya pemerintah saat ini hanya pada penekanan angka kehamilan dan penularan penyakit menular seks yakni memberikan kesadaran akan penggunaan alat kontrasepsi.
Saat menulis ini aku tiba-tiba ingat pada International Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo, Mesir pada tahun 1994. Sebanyak 179 delegasi hadir dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh United Nation. Dalam pertemuan itu menyepakati visi 20 tahun ke depan yang berisi panduan nasional dan internasional keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pencegahan HIV/AIDS, pemberdayaan perempuan serta usaha pembangunan yang lain. Salah satu delegasi yang ikut menandatangani kesepakatan tersebut adalah Indonesia.

Salah satu kesepakatan Kairo pada saat itu menegaskan:


All governments and relevant intergovernmental and non-governmental organizations are urged to strengthen their commitment to women health, to deal with the health impact of unsafe abortion as a major public health concern and reduce the recourse to abortion through expanded and improved family planning services. Prevention of unwanted pregnancies must always be given the highest priority and all attempts should be made to eliminate the need for abortion. Women who have unwanted pregnancies should have ready access to reliable information and compassionate counseling. Any measures or changes related to abortion within the health system can only be determined at the national or local level according to the national legislative process. In circumstances in which abortion is not against the law, such abortion should be safe. In all cases, women should have access to quality services for management of complications arising from abortion. Post-abortion counseling, education and family planning services should be offered promptly, which will also help to avoid repeat abortions.


Seluruh pemerintah dan organisasi lintas-departemen dan LSM, didorong untuk memperkuat komitmen pada kesehatan perempuan, untuk menyikapi dampak kesehatan atas aborsi yang tidak aman sebagai masalah kesehatan publik yang utama dan untuk menekan pengulangan aborsi melalui pelayanan perencanaan keluarga yang telah lebih dikembangkan dan diperbaiki. Pencegahan kehamilan yang tak diinginkan harus selalu menjadi prioritas tertinggi dan semua usaha harus dilaksanakan untuk melenyapkan kebutuhan akan aborsi. Perempuan yang mengalami kehamilan tak diinginkan harus memiliki akses yang siap terhadap informasi yang dapat diandalkan dan konseling yang manusiawi. Setiap tindakan dan perubahan yang berhubungan dengan aborsi di dalam sistem kesehatan hanya dapat ditentukan pada tingkat nasional atau lokal, tergantung dari proses legislatif nasional. Dalam segala kasus, perempuan harus punya akses untuk pelayanan yang berkualitas dalam manajemen terhadap komplikasi yang muncul dari aborsi. Konseling paska aborsi, pendidikan dan pelayanan perencanaan keluarga harus ditawarkan yang mana akan juga membantu menghindarkan pengulangan aborsi di kemudian hari.

Aborsi merupakan bagian dari hak reproduksi dan kesehatan reproduksi seseorang jika memang itu perlu. Tapi aku tetap berpikir bahwa pemenuhan tetap harus sesuai dan diatur jelas. Pemberian jalan keluar untuk Kehamilan Tidak Diinginkan dan menekan aborsi tidak aman adalah kuncinya. Legal atau illegal aborsi dengan akses atau tanpa akses kontrolnya ada pada anda. Seperti pesan yang ditulis oleh seorang psikolog dari Amerika, Vincent Rue;

“Pengguguran berakibat menyakitkan, tanpa memperhatikan seberapa besar kepercayaan religiusnya seorang perempuan atau bagaimana positif keyakinannya untuk membuat keputusan aborsi.”

Tentukan pilihan anda, jangan sampai apa yang anda korbankan lebih berharga dari harga yang harus anda bayar, Post Abortion Syndrome.

Read More..

Sabtu, 2009 Januari 24

“Why, Ough & Allahu Akbar”

By: Sartika Nasmar

20 Januari 2009, pukul 18:59 Wib. Dalam sebuah ruangan berukuran 3 x 4 meter di Expert Camp, salah satu asrama untuk wanita yang terletak di Jalan Anyelir, Pare. Sebuah diskusi kecil akan segera di mulai. Malam itu agenda diskusi akan membahas seputar Kesehatan Reproduksi dan Aborsi. Mentor asrama, Ms. Vivin kemudian mempersilahkan kami untuk memulai diskusi.

Malam ini SAMSARA diwakili oleh dua orang anggota, Inna Hudaya (Managing Director & Konselor) dan Sartika Nasmar (Divisi Sosialisasi & Edukasi). Sebelum di mulai, aku membagikan 10 rangkap materi mengenai data aborsi dan efek secara fisik dan mental. Sedang Inna Hudaya menuju ke depan dan bersiap-siap memulai diskusi. Materi telah tersebar ke peserta program, sebagian dari mereka sedang membacanya. Inna Hudaya kemudian memperkenalkan SAMSARA sebagai sebuah organisasi non-profit untuk membantu pemulihan bagi orang-orang yang menderita akibat efek pasca-aborsi sekaligus memberi edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan aborsi.

Malam itu peserta yang hadir sebanyak 20 orang. Pria delapan orang dan perempuan 12 orang.

Intinya, kami ingin mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dapat kita share dalam diskusi mengenai kesehatan reproduksi dan aborsi.

Perbincangan dimulai dengan melempar isu Kesehatan Reproduksi. Tak ada tanggapan. Entah. Kesehatan reproduksi tentu saja tidak hanya penting diketahui oleh wanita saja, tapi pria juga perlu memahaminya apalagi setelah menikah. Sebagian peserta pria tersenyum tipis mendengar tanggapan Inna. Sebagian lagi terlihat geli dan malu-malu.
Sesuai target dan materi sasaran, kita akan lebih banyak membahas mengenai aborsi dan efeknya yang dapat menyerang fisik dan mental (PAS).

Kemudian Inna Hudaya memberikan pertanyaan kedua. “Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata aborsi?”

Satu per satu memberi jawaban yang berbeda.

“About kill baby,” jawab Ms. Vivin. “And then open mouth like this…” sambil membuka mulutnya lebar seolah menunjukkan ekspresi mengagetkan. Kemudian muncul pendapat berbeda.

“Risk of sex,”

“The big crime,”

“Danger for self,”

“Just for women,”

“Big sin,”

“Consecuenci of free sex,”

“Low education about sex education,”

Seks selalu menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan, mungkin seperti itu yang terjadi malam itu.

Kemudian tak ada ekspresi mengagetkan ketika Inna mulai mengungkapkan jumlah aborsi di Indonesia setiap tahunnya sebanyak 2.600.000 kasus. Para peserta program terlihat menyimak fakta-fakta tersebut. Berlanjut pada fakta pelaku aborsi yang sebagian besar dilakukan oleh ibu rumah tangga. Ruangan seketika ramai dengan pertanyaan,

“Why?” atau sekedar teriakan, “Ouuh..,”.

Inna masih memberikan fakta selanjutnya bahwa itu yang melakukan di tempat-tempat yang dianggap legal seperti dokter dan tenaga medis legal. Belum termasuk para post-abortus yang melakukan aborsi secara tradisional atau dengan jamu-jamuan dan tenaga medis illegal. Pembicaraan berlanjut untuk mensosialisasikan Post Abortion Syndrom kepada peserta. Ini adalah kali pertama mereka mendengar gejala psikologis yang dapat menyerang siapa saja pasca aborsi. Semua gejala-gejala disebutkan oleh Inna.

Aborsi sudah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan pada zaman dahulu, proses aborsi dilakukan dengan cara menendang atau memukul bagian perut ibu lalu dilanjutkan dengan mengendarai kuda yang berlari kencang hingga bayi lahir prematur. Namun jika setelah bayi lahir dalam keadaan masih bernyawa maka bayi kemudian dibunuh atau ditinggalkan begitu saja.

“Oh, God!?!” teriak Ms. Vivin. Ia menjerit beberapa kali. Peserta wanita lain hanya bisa, “Haaaa…,” dengan suara yang sedikit tertahan.

“Apa alasan mereka melakukan aborsi?” tanya salah seorang pria.

“Bagi ibu rumah tangga, faktor ekonomi, kegagalan kontrasepsi, jarak anak yang terlalu dekat, tuntutan pekerjaan, hasil perslingkuhan, usia ibu yang sudah tua dan beberapa di antaranya atas permintaan suami mereka. Sedang bagi remaja biasanya dengan alasan karena belum menikah dan tidak siap, takut pada orang tua, malu, gagal kontrasepsi, atas perintah orang tua atas nama image, dan hasil perkosaan hingga menyebabkan depresi.”

Yang paling penting untuk diketahui adalah perubahan konstruksi atau pola pikir yang berkembang di masyarakat bahwa pelaku aborsi terbesar dilakukan oleh remaja atau wanita yang belum menikah. Tapi, menurut hasil penelitian dari beberapa lembaga mengatakan bahwa sebagian besar pelakunya adalah ibu rumah tangga. Ini kemudian secara tidak langsung menciptakan sebuah diskriminasi kepada wanita yang belum menikah.

“Bagaimana dengan status hukum aborsi di Indonesia?” tanya seorang peserta wanita.
Di Indonesia, aborsi masih dianggap illegal dan kriminal. Tapi, dianggap tidak melanggar hukum dan dibolehkan jika kehamilan akan mengancam keselamatan ibu dan bayi serta apabila kehamilan tersebut adalah hasil sebuah perkosaan. Tapi pada kenyataannya pun tidak seperti itu, karena banyak aborsi dilakukan dan diijinkan sebagai contoh dengan alasan ekonomi tadi. Tapi tetap saja jumlah aborsi yang tidak terdeteksi karena dilakukan di tempat-tempat illegal menjadi sulit dijamah. Apalagi banyak pula wanita yang belum menikah dan mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang bermaksud aborsi dengan cara aman, misalnya dokter kemudian mendapat tekanan psikologis berupa judgement sehingga memutuskan memilih ke tenaga illegal.

Sejenak kita melihat definisi dan jenis aborsi. Aborsi adalah penghentian kehamilan di mana fetus belum mempunyai kemampuan untuk hidup di luar kandungan. Jenisnya terbagi dua, yaitu spontaneous abortion atau aborsi yang terjadi secara spontan dan provokatus abortion atau aborsi yang terjadi karena disengaja dan dengan menggunakan alat atau bahan tertentu untuk menghentikan kehamilan.

“Saya ingin mempromosikan buku, kalian bisa membaca dan mengetahui mengenai aborsi mulai dari sebuah pengalaman hingga fakta ilmiah.” kata Inna.
Sepertinya tiada yang tertawa dalam ruangan itu selain saya. Aku menganggap dalam SAMSARA, salah satu divisi sedikit harus direvisi. Mungkin seperti Divisi Sosialisasi, Edukasi & Promosi. Mungkin??

“Hahahahaaaa…”

Kembali ke topik. Banyak yang tidak ingin membicarakan mengenai aborsi tapi ini tidak berarti bahwa ini tidak terjadi. Di kota-kota besar mungkin telah terekspose dengan sempurna dalam bentuk sebuah tindakan kriminal tanpa peduli apa alasan seorang wanita melakukannya. Bahkan, kami percaya bahwa di desa kecil seperti Pare pun aborsi dapat kita temukan. Lalu, mengapa tak ingin memunculkan ini sebagai sebuah bahan untuk sebuah pelajaran untuk menjadi lebih waspada dan hati-hati.

SAMSARA hadir untuk mensosialisasikan dampak aborsi secara psikologis yang dapat diderita bukan hanya kepada perempuan sebagai post-abortus saja, tapi juga dapat terjadi pada lelaki, keluarga, teman dan orang-orang yang berada di lingkungan post-abortus. Banyak sekali yang mengalaminya tapi tidak sadar bahwa apa yang mereka rasakan adalah Post Abortion Syndrom (PAS). Dan tidak banyak yang dapat mempertahankan semangat hidupnya akibat PAS, rasa bersalah yang tidak mampu dipahami menjadi hal tersulit yang dapat menyebabkan berkurangnya kepercayaan pada kelanjutan hidup seorang post-abortus, ditambah dengan judgement dari masyarakat sebagai pembuat dosa karena telah menghilangkan nyawa, misalnya. Semua orang dengan tingkat religi yang tinggi atau rendah pun akan menganggap aborsi sebagai sebuah kesalahan, bahkan dosa. Namun, kembali kepada hati nurani. Antara ibu dan bayi. Bayi yang telah di aborsi sudah meninggal, tak bisa kembali lagi tentunya. Sedang ibunya, masih hidup dan punya hak untuk mendapatkan kembali semangat hidupnya.

Aborsi lebih menyakitkan daripada melahirkan dengan normal. Mengapa? Karena pada saat anda memutuskan untuk melakukan aborsi, bisa jadi tubuh dan mental anda belum siap mengeluarkan bayi. Jika anda melewati proses melahirkan normal, pada saat bayi keluar dari rahim maka serviks atau mulut rahim akan terbuka dengan alami sesuai dengan jalan yang memang telah terbentuk alami. Sedangkan saat aborsi, serviks dipaksa untuk terbuka dalam diameter 6-7 milimeter, belum lagi ketika alat atau bahan tertentu dimasukkan untuk membunuh janin yang ada dalam uterus (rahim). Ini bisa megakibatkan pendarahan hingga menyebabkan kematian.

Kami bahkan pernah mendapat cerita dari salah satu klien yang melakukan aborsi secara tradisional dengan menggunakan krim atau cairan untuk melemahkan janin lalu ditambah dengan memasukkan tiga batang pohon singkong untuk memecahkan ketuban melalui vagina hingga ke rahim.

“Allahu Akbar..,” teriak salah satu peserta wanita yang berada di samping saya. Histeris dan berhasil mengagetkan saya.

Aborsi adalah salah satu konsekuensi akibat minimnya pengetahuan seks. Kebanyakan orang beranggapan bahwa seks hanya sebatas kesenangan tanpa memikirkan harga yang harus dibayar. Apalagi bagi perempuan misalnya karena dalam hal ini, yang paling merasakan dampak kerugian dan harus membayar mahal atas ketidakpahaman mengenai seks dalam arti benar. Membayar mahal dalam arti bukan materi, melainkan sebagai contoh kehamilan yang tidak diinginkan hingga aborsi dan harus merasakan kesakitan luar bisa apalagi jika traumatis menghantui mereka. Bukankah itu mahal?

Tiba-tiba, ada pertanyaan baru.

“Apa yang harus saya lakukan jika seorang teman meminta tolong diantar untuk melakukan aborsi?” pertanyaan ini terlontar dari seorang wanita. Ia terdengar gugup.

“Tolak.”

Anda kemungkinan besar dapat mengalami PAS walau hanya sebatas mengantar. Aku sedikit ingin berbagi, saat aku membaca beberapa email dari beberapa klien SAMSARA yang berbagi pengalaman aborsinya. Aku berpikir untuk menulisnya dan aku coba. Setelah itu, aku gelisah dan beberapa kali mimpi buruk hingga harus konseling dengan salah satu konselor di SAMSARA. Sekali lagi, aku hanya membaca dan menulis lalu aku bisa ikut mengalami gejala yang sama.

Banyak pertanyaan malam itu hingga pada keadaan menyalahkan kebudayaan barat yang mulai mempengaruhi budaya timur. Lalu jika itu memang benar ada, untuk apa pikiran diciptakan dalam hidup anda? Budaya barat, baik atau buruk, saya beranggapan bahwa jungkir balik pun budaya tersebut anda anggap akan mempengaruhi anda, jika anda menggunakan pikiran untuk mengontrol sistem pengendalian yang anda anggap baik atau buruk anda gunakan, maka tidak ada hal yang negative yang akan anda dapatkan.
Diskusi selesai pukul 08.30. Aku dan Inna melanjutkan diskusi di kos pagi harinya.

“Tik, jumlah aborsi kan ada 2.600.000 tuh tahun 2006. Kamu tahu gak berapa kasus yang terjadi perharinya. Coba kamu bagi sekarang.” kata Inna.
Aku kemudian memanfaatkan fasilitas kalkulator di handphoneku. Kubagi 2.600.000 dengan jumlah hari dalam setahun, 365. Hasilnya.

“7.120 orang mbak. Gila… itu per hari? Jadi setiap jam ada berapa yah yang aborsi?”

Jumlah yang mengagetkan jika kita menghitung dalam skala atau frekuensi hari di banding tahun. Lalu bisakah anda bayangkan jika 2.600.000 perempuan itu semuanya mengalami Post Abortion Syndrom? Semoga tidak tentunya. Pesan terakhir untuk menghindarinya, jika anda setuju.

“Save your body… save your life..” pesan SAMSARA.

Read More..

Kamis, 2008 November 27

Ucapan Selamat Malam Yang Tertunda

Hari kedua saat aku berada di Pare, Jawa Timur. Aku menghabiskan malam bersama Mbak Inna di sebuah warnet memanfaatkan Paman Google. Internet memang terkadang membuat kita lupa waktu.

“Tik, dah selesai belum?” tanya Mbak Inna.

“Iya, mbak. Dikit lagi.”

Aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Berpamitan dengan Paman Google lalu menuju operator. 15 menit lagi pukul 22:00 wib. Gerbang kos akan segera ditutup. Kami mengambil sepeda onthel di tempat parkir lalu mengayuhnya dengan kecepatan yang biasa-biasa saja menuju kos. Pagar tinggi berwarna hijau di depan mata dan dalam keadaan tergembok. Kami terlambat.

“Gawat.” pikir kami.

“Bagaimana masuknya?”

Seorang wanita dengan mengendarai motor Shogun juga singgah di depan kos kami. Ternyata dia juga tinggal di kos yang sama denganku. Namanya Diah. Badannya gemuk. Tomboy. Dia agak marah melihat gerbang yang terkunci.

“Sial. Padahal aku sudah sms Mas Ari. Kosnya jangan ditutup, aku lagi ma’em,” katanya.
Dia kemudian mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menghubungi Ari, penjaga kos. Tidak ada jawaban. Dia semakin marah.

Kami menunggu sambil berpikir. Aku tidak tahu Diah memikirkan apa. Tapi aku dan Mbak Inna sama-sama memikirkan harus tidur di mana malam ini. Memanjat pagar sempat singgah dalam benak kami, tapi tak mungkin membiarkan sepeda terparkir di luar gerbang. Secara, itu sepeda sewaan.
Mbak Inna menghubungi Kapit, seorang teman yang tinggal di Pare. Berharap ada pertolongan di saat-saat genting seperti ini. Selang beberapa menit ia tiba. Belum berkata apa-apa, ia sudah tertawa cekikikan melihat nasib kami yang terlantar.

Diah pamit akan nginap di kos temannya. Sayang sekali tak mengajak kami.

Kami terpaksa menumpang di teras Daffodils, salah satu lembaga kursus di Pare. Letaknya tepat di depan kos kami. Di atas kursi bambu kami bertiga bercerita. Tertawa meski bingung.
Lapar menyerang.

“Tok..tok..tok.., “

Wah, ada penjual bakso. Aku dan Mbak Inna makan.

Kapit mengetuk pintu kantor Daffodils. Ternyata ada pria di dalam. Namanya Momo. Ia bekerja di Daffodils. Beruntung karena ia dan Kapit saling kenal. Dia kemudian mengijinkan kami menginap di salah satu kelas bagian belakang dengan syarat hars bangun sebelum pukul 06:00.

“Alhamdulillah,” pikirku.

Kami masih duduk di teras, bercerita. Tak peduli malam sudah larut. Kami bahagia, setidaknya sudah mendapat tempat untuk tidur. Saatnya bersantai.

Mbak Inna memanjat sebuah pohon jambu yang ada di depan Daffodils menikmati rokok Tali Jagatnya. Aku duduk di kursi bambu sambil bersandar di dinding. Kapit duduk di lantai depan pintu kantor Daffodils.

Malam semakin larut. Sudah tak ada orang yang berkeliaran. Tak ada suara kecuali suara kami bertiga menemani malam. Kami memutuskan masuk ke dalam kelas, mencoba istirahat.

Di dalamnya ada 31 kursi plastik, warna hijau, mengelingi ruangan berbentuk U. Di sisi kanan ada meja dan kursi untuk guru alias teachernya. Ada Whiteboard. Sebuah kipas angin Panasonic yang terpasang di dinding mendinginkan ruangan. Dan lantai dibalut karpet.

Sangat nyaman untuk ukuran orang-orang terlantar seperti kami malam itu. Masing-masing mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Aku memilih di samping kanan meja guru. Kapit berbaring di atas kursi dan Mbak Inna masih santai, belum memilih tempat. Ia kemudian mengambil sebuah spidol dan menulis di papan tulis. Sebuah puisi.

Satu,dua, lelaki perempuan di setengah malam
Ketuk 3 kali dan bulan mengintip di balik dinginnya malam
Rona merah sembunyi pada lesung pipimu
Tali hitam di atas pundakku
Rambutnya yang manja
Kantuk yang tertahan di balik pagar
Ucapan selamat malam yang tertunda…
Have a nice dream..

Aku tersenyum membaca puisinya. Aku masih baring di lokasi yang aku pilih. Mbak Inna belum mau tidur. Kapit sibuk menerima telefon. Mbak Inna kemudian berlatih yoga. Ia memang sering melakukannya. Ia mempelajari semua gerakan dari buku. Badannya lentur. Wajahnya tenang. Aku senang melihatnya.

Kapit datang membawa dua gelas kopi hitam. Kantuk lenyap seketika digoda kopi dan tawa. Ucapan selamat malam dan mimpi indah pun tertunda.

Pukul 03:00. Aku kembali ke tempat tidurku yang kuanggap nyaman. Kembali mencoba memejamkan mata. Aku menyetel alarmku jam 05:15. Pintu gerbang kos akan dibuka 05:30, berharap bisa kembali ke kamar tepat waktu. Aku harus kursus jam 05:30.

Alarmku berbunyi. Mbak Inna masih tidur. Kapit tak ada, ia tidur bersama Momo. Aku membangunkan Mbak Inna. Keluar dari kelas, Kapit sudah menyiapkan motornya, ia akan segera pulang ke rumah.

“Aku pulang dulu yah,” katanya.

“Iya, thanks yah..” kataku.

Aku dan Mbak Inna menuju ke depan gerbang. Belum terbuka. Aku menikmati udara pagi, meski kantuk yang tersisa masih terasa. Gerbang dibuka, kami mengayuh sepeda ke tempat parkir kos. Lalu masuk kamar. Mbak Inna melanjutkan tidurnya. Aku bersiap-siap berangkat kursus meski sudah terlambat.
Sepeda onthel sewaanku menemani perjalananku. Mata kupaksa untuk menikmati pagi sambil mengingat kejadian semalam.

“Tak ada ucapan selamat malam dan mimpi indah. Tapi selalu akan ada kenangan yang indah,” pikirku.

Pare, 13 Agustus 2008.

Read More..

Jumat, 2008 September 26

Kali Pertama ke Pare

Pagi itu, pertengahan bulan Agustus di Yogyakarta. Aku telah bersiap-siap untuk keberangkatanku ke Jawa Timur. Tepatnya ke Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Sebuah tas yang lumayan besar berisi pakaian dan kantong plastik putih berisi selimut dan buku telah siap menemani perjalananku. Pukul 8.30, sebuah mobil dari sebuah agen perjalanan akan menjemputku. Aku duduk di sebuah ayunan yang terletak di depan kosku menunggu.
Bunyi klakson mobil terdengar. Bunyinya bukan berasal dari mobil, tapi dari handphoneku, tanda pesan masuk. “Tik, kamu tunggu di luar yah. Aku sudah di jalan menuju kosmu.” Sms itu dari Inna. Seorang teman yang akan berangkat bersamaku ke Pare. Ini adalah kali kedua ia ke sana. Sedang aku, adalah pertama kali. Penasaran mengganggu di kepalaku. Seperti apa desa ini?
Mobil akhirnya tiba. Aku mengangkat barangku ke dalam mobil. Aku dan Inna duduk paling depan. Kami berangkat. Satu jam, dua jam lalu enam jam kemudian kami tiba di Kabupaten Kediri.
“Assalamu Alaikum,” sapaku untuk kota ini. Kata ibuku jika kali pertama datang ke sebuah tempat harus ucapkan salam. Itu selalu kuingat.
Satu jam kemudian. Sebuah gerbang tertulis Selamat Datang di Kecamatan Pare menyambut rasa penasaranku. Sawah dan perkebunan tebu menjadi sasaran empuk mata menikmati keindahan desa sepanjang jalan.
“Belok kiri pak,” kata Inna ke supir.
“Tik, kita singgah di warung Pak Nur saja yah untuk sementara. Kita bisa makan di sana, bisa ngutang juga loh. Abis itu, kita cari kos lalu daftar kursus.” kata Inna.
Tujuanku ke Pare adalah kursus Bahasa Inggris. Daerah ini dikenal dengan julukan Kampung Inggris, yaitu di desa Tulungrejo, ada sekitar 60-an lembaga kursus di sini. Murah dan kualitasnya tidak kalah dengan tempat kursus yang mahal, menurut Inna. Dan aku akan tinggal di sini ini selama satu bulan.
Kami memasuki gang, jalannya lumayan rusak. Kami tiba di rumah Pak Nur. Teriakan histeris Pak Nur menyambut Inna, cukup mengagetkanku. Beberapa pria yang menikmati hidangan di warung memperhatikan kami. Aku berkenalan dengan Pak Nur dan istrinya. Rambut Pak Nur seperti vokalis Nidji. Ia lucu. Bahasanya Indonesia campur Inggris. Meski tak pernah ikut kursus, tapi ia bisa menggunakan Bahasa Inggris walau sedikit kacau. Setidaknya, ia masih lebih bisa dariku. Mungkin? Hahaha…
Kami memesan makanan. Istri Pak Nur yang menyiapkannya. Inna membuat es teh. Saat makan, beberapa teman Inna mendatangi kami. Mereka berbincang, bertanya kabar dan membicarakan brondong yang ikut kursus di sini. Menurut Inna, mereka menjadi salah satu hiburan paling menarik di desa ini. Aku tertawa mendengar perbincangan mereka. “Sepertinya menarik,” pikirku.
Di dinding warung Pak Nur banyak potongan koran yang ditempel. Semua berisi informasi tentang pariwisata dan tempat kursus di Pare. Sangat menarik. Berbagai macam tempat wisata terasa sangat menyenangkan di potongan koran tersebut. Gunung Kelud, candi peninggalan Majapahit, gua dan air terjun. Aku berjanji akan mengunjunginya selama aku berada di desa ini.
Setelah makan, kami berjalan sekitar 20 meter dari rumah Pak Nur. Di depan tertulis Lucky House, salah satu kos-kosan yang tersedia di desa ini. Ternyata semua kamar telah disewakan. Kami bingung. Kami memutuskan untuk menyewa satu kamar di rumah Pak Nur saja. Ia pun mengiyakan. Semua barang kami letakkan di sebuah kamar. Hanya ada lemari dan kasur kapok. Itu sudah cukup menurut kami dan sesuai harga, 75 ribu per bulan.
Urusan kamar selesai, setidaknya untuk sementara. Selanjutnya kami mencari tempat kursus. Kami meminjam sepeda mini milik istri Pak Nur. Inna memboncengku. Sungguh menggelikan, karena ukuran badan kami berdua serasa menyiksa sepeda itu. Tawa pun menemani pencarian kami.
Daffodils, lembaga kursus pertama yang kami kunjungi. Seorang wanita menyambut kami. Namanya Mita. Ia bekerja di Daffodils bagian office. Badannya agak kecil, rambut pendek dan ramah. Beberapa program sudah tidak menerima peserta lagi. Yang tersisa hanya program Pre-Intermediete. Di program ini, banyak diskusi dan debat dalam Bahasa Inggris. Inna mendaftar. Aku tidak. Aku belum sanggup harus berdebat dalam Bahasa Inggris. Aku ingin mengambil program Grammar dan Speaking dasar saja. Sebagai pemula tentunya.
Mita merekomendasikan kami ke Kresna, lembaga kursus Bahasa Inggris juga, tapi khusus Grammar. Jaraknya tidak jauh. Kami mengambil sepeda dan melanjutkan pencarian. Di depan Daffodils sebuah tulisan menarik perhatian kami. “Sanjaya House”. Kos-kosan juga. Pengamatan ditunda. Kami harus mendaftar kursus terlebih dahulu.
Perjalanan berlanjut ke Kresna. Jalanan semakin sempit dan tidak beraspal. Aku seperti ingin berjalan kaki saja karena jok belakang sepeda yang saya duduki terbuat besi tanpa busa. Rasanya tulang seperti ingin patah saat ban sepeda melewati batu-batuan. Untung saja jaraknya lumayan dekat.
Tiba di Kresna. Halaman parkirnya luas. Banyak sepeda. Sebelah kiri ada gazebo sederhana. Di dalamnya ada beberapa orang sedang belajar. Di depan ada dua ruangan. Aku menuju ke sebelah kanan, di bagian office. Seorang pria bertubuh kurus dan berkulit hitam menyambut kami. Aku mendaftar kelas grammar. Uang yang ku keluarkan hanya Rp. 80.000,- untuk empat kelas. Wah, murah!
Pendaftaran selesai. Tiba saatnya kembali memikirkan tempat tinggal yang nyaman. Teringat rumah kos yang terletak di depan Daffodils tadi. Kami pun menuju ke sana.
Gerbang Sanjaya di depan mata. Kami masuk. Bertanya. Dan ada kamar yang kosong. Kami memutuskan akan pindah ke sini. Harganya Rp. 90.000 ,- per bulan. Satu kamar ada tiga tempat tidur lengkap dengan kasur busa. Ada lemari bersusun tiga. Cermin. Lantai keramik. Kamar mandi di luar. Dan paling penting adalah batas jam malamnya bisa sampai jam 10. Kebanyakan kos di sini, hanya membatasi jam malam sampai jam 9 saja. Jika terlambat, maka hanya ada ucapan silahkan mencari penginapan jika punya uang atau silahkan tidur di jalan saja jika tak punya uang. Ough!
Barang telah kami pindahkan dari rumah Pak Nur ke Sanjaya House. Dengan becak tentunya. Senang dan lega rasanya, akhirnya bisa istirahat, mandi dan gosok gigi. Hehehe...
Petang usai. Inna mengajakku menemui seorang teman lamanya di sebuah warnet. Namanya Kapit. Awalnya kupikir dia seorang wanita, “Ka' Fit dengan nama panjang Fitri”, ternyata aku salah. Dia salah satu brondong versi Inna. Pakaiannya serba hitam, baju, celana dan kupluk. Ia ketawa cekikikan ketika bertemu kembali dengan Inna. Setelah dari warnet, kami ke sebuah warung makan. Minum kopi, es teh dan makan sambil bercerita. Kapit juga senang menulis. Kami berdiskusi tentang tulisan dan organisasi SAMSARA Abortion Recovery malam itu. Ia akan menjadi pengurus SAMSARA di wilayah Kediri.
Cuaca sangat dingin, tapi menyenangkan. Namun sayang, waktu dan ancaman tidur di jalan karena gerbang kos akan segera ditutup terasa menghantui. Kami pulang pukul 9.40, padahal diskusi malam itu terasa bersemangat.
Tiba di kos. Gerbang sedikit lagi akan ditutup. Masuk kamar lalu tidur dan berharap mendapat mimpi indah. Akh, hari ini terasa melelahkan.
Pare, 11 Agustus 2008. Kali pertama ke Pare.

Read More..

Minggu, 2008 September 21

The Secret dalam SAMSARA

Oleh : Sartika Nasmar
(Samsara Officer)

Pagi hari, tepatnya tanggal 20 September 2008. Salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris (Daffodils) di Kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur mengadakan acara Nonton Bareng dan Diskusi membahas sebuah film yang berjudul The Secret. Film yang sangat menarik tentang bagaimana menumbuhkan motivasi terhadap diri sendiri dengan menstimulasi pikiran positif dan imajinasi serta visualisasi menuju kenyataan.

Aku pernah mendengar film ini dari seorang teman, Mbak Inna. Dia adalah Direktur SAMSARA. Aku kemudian mengirim sms dan semakin membuatku penasaran karena ternyata pesan dalam film ini digunakan dalam program pemulihan di SAMSARA.

SAMSARA adalah lembaga non-profit yang berdedikasi dan menyediakan informasi serta memberikan pemulihan kepada para post abortus secara psikologis.

Setelah menonton dan diskusi, aku melanjutkan obrolan dengan trainernya (orang yang mempunyai pengalaman dan merasa berhasil dengan mengaplikasikan pesan dalam film ini). Namanya Farida. Seorang single parent. Lebih sering dipanggil Umi Yanti. Seorang wanita luar biasa dan tegar. Ia pernah aktif di beberapa LSM.

Aku menceritakan tentang SAMSARA dan program pemulihan yang kita gunakan yang terkait dengan film ini. Ia dan para pengajar di Daffodils merasa tertarik. Aku kemudian diundang untuk sharing pada sesi ke-2 pukul 14:00. Awalnya aku sungkan karena aku sadar, aku belum pernah menangani seorang post abortus dengan metode pemulihan apapun. Tapi kemudian aku berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mensosialisasikan organisasi SAMSARA ke sebuah forum meski kecil-kecilan.

Dengan senang hati aku kemuadian berkata "Iya."

Sesi ke-2 dimulai. Film usai. Aku diperkenankan bicara. Suatu kehormatan tentunya. Mengingat tugas sebagai bagian dari SAMSARA bidang sosialisasi dan edukasi maka langkah awal adalah memperkenalkan organisasi ini ke dalam forum. Awalnya respon yang kuterima adalah "Wow" dan ekspresi kaget mendengar kata aborsi bahkan ada yang tertawa cekikikan.

Sebenarnya ini adalah diskusi non formal dan saya diperkenankan memberi sebuah contoh penderita PAS (Post Abortion Syndrom) yang berhasil menyembuhkan dirinya dengan metode dalam film. Dalam SAMSARA sendiri, aku menemukan kesamaan pada program "pemulihan yang dilakukan oleh diri sendiri".

PAS adalah penderitaan mental dan emosional pada perempuan setelah aborsi. Namun, PAS tidak hanya diderita oleh perempuan saja. Tapi, lelaki atau orang yang terlibat pun bisa mengalaminya. (Baca: Post Abortus Syndrom di www.abortus.blogspot.com)

Aku menceritakan bagaimana keberhasilan seorang penderita yang telah berusaha keluar dari PAS dengan mengobati dirinya sendiri.Bagaimana seorang penderita PAS mampu untuk memahami rasa bersalah dan memaafkan diri sendiri serta memberi peluang bagi mereka untuk tetap bertahan dan melanjutkan hidup mereka tanpa bayang-bayang penyesalan tapi kekuatan.

Tiba-tiba ruangan tenang. Peserta diskusi dengan jumlah sekitar 30 orang kemudian tak bersuara. Aku sedikit gugup. Entah apakah ini berhasil atau tidak. Aku tidak tahu apa tanda dari diamnya mereka. Aku hanya terus bercerita. Mencoba memberikan semangat untuk menjadi diri sendiri dan optimis dengan mimpi dan keyakinan.

Aku menutup pembicaraanku dengan mengucapkan 'Save your body and save your live'. Respon tepuk tangan buat SAMSARA terdengar. Syukur alhamdulillah.

Ucapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi dari Umi Yanti buat SAMSARA. Aku sempat mengcopy artikel dalam blog SAMSARA tentang program pemulihan dan tetap meminta saran dari beliau karena aku yakin kita masih tetap butuh saran dari siapa pun untuk bergerak maju.

Aku percaya bahwa segala sesuatunya bisa dibentuk oleh akal dengan ketertarikan. Sesuatu hal yang tidak bisa membunuh kita akan menjadi alat atau senjata kita untuk menjadi lebih kuat. Aku sadar bahwa hanya diri kita yang mampu menciptakan realitas dalam diri kita. Begitupun SAMSARA, semoga perjuangan kita akan mampu membuka realitas terhadap kasus aborsi.

Semoga bermanfaat.

Read More..
 
© free template by Blogspot tutorial