rp({"version":"1.0","encoding":"UTF-8","feed":{"xmlns":"http://www.w3.org/2005/Atom","xmlns$openSearch":"http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/","xmlns$georss":"http://www.georss.org/georss","id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943"},"updated":{"$t":"2009-11-23T06:04:50.138-08:00"},"title":{"type":"text","$t":"ruang kata"},"subtitle":{"type":"html","$t":"dimana setiap langkah akan kuceritakan, sebab dalam kata ada kejujuran..."},"link":[{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#feed","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/posts/default"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default?alt\u003djson-in-script\u0026orderby\u003dpublished"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/"},{"rel":"hub","href":"http://pubsubhubbub.appspot.com/"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"}}],"generator":{"version":"7.00","uri":"http://www.blogger.com","$t":"Blogger"},"openSearch$totalResults":{"$t":"22"},"openSearch$startIndex":{"$t":"1"},"openSearch$itemsPerPage":{"$t":"25"},"entry":[{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-6255121021435971427"},"published":{"$t":"2009-11-16T05:36:00.000-08:00"},"updated":{"$t":"2009-11-16T05:42:31.086-08:00"},"title":{"type":"text","$t":"Dari Silsilah Menuju Gender dan Seksualitas"},"content":{"type":"html","$t":"Oleh: Sartika Nasmar\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e19 Juli 2009. Saya menuju ke sebuah rumah makan untuk menghadiri sebuah pelatihan seksualitas. Sebelumnya, Pino, seorang teman yang bekerja di Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Suawesi Selatan memberi info mengenai pelatihan tersebut. \u003cbr /\u003eSaya datang terlambat pagi itu. Lebih dari 20 orang sedang santai menikmati kopi susu dan pisang goreng tepung. Semua peserta perempuan. Kebanyakan dari mereka berpenampilan seperti laki-laki. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIni adalah PELATIHAN SEKSUALITAS, GENDER DAN HAM Komunitas Perempuan Serumpun (KIPAS). KIPAS adalah komunitas LBT (Lesbian, Biseksual, dan Transgender) di Makassar. Mereka adalah kelompok kegiatan dampingan Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Sulawesi Selatan. Anggotanya cukup banyak, lebih dari 80 perempuan. \u003cbr /\u003ePino berdiri di depan peserta. Ia adalah orang yang menyampaikan materi pada pelatihan tersebut. Semua peserta sudah saling kenal sebelumnya, kecuali saya. Ini adalah pelatihan pertama dalam komunitas ini. Kebanyakan yang ikut adalah lesbian hunter atau butchie, yakni lesbian yang berpenampilan seperti laki-laki pada umumnya.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaatnya belajar. Pino tidak segan-segan memberikan dua tugas. Pertama, memetakan silsilah keluarga dari garis perempuan saja. “Hanya perempuan, kita tidak menerima laki-laki di sini,” kata Pino, berulang-ulang. Kedua, menemukan bentuk ketidakadilan yang dialami keluarga perempuan kita dalam silsilah tersebut. Pino sedikit bersabar menjelaskan tugas yang ia berikan, banyak pertanyaan dari peserta. Saya mulai menulis, mencoret, mengingat-ingat nama, dan mengeluh karena lupa nama sepupu, tante dan saudari nenek. Peserta lainnya juga sibuk sepertiku. Bedanya, mereka mencoba mengingat nama keluarga mereka dengan bertanya ke peserta lain yang bukan keluarga. Lalu akan ditertawakan oleh peserta lain. Nurmi, salah seorang peserta saya dapati kebingungan. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa kedapatan mengaktivkan handphone. Mulai menekan-nekan tombol. Lalu menunggu dan menyapa ibunya setelah mendengar suara. Saya tidak mendengar jelas percakapan mereka. Nurmi hanya melirikku dan memberi kode agar saya tidak memberitahu peserta lain. Ia takut ditertawakan. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Sudah ki telfon mace ta’? tanyaku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Iye’. Sa lupa namanya sepupuku bela. Huss, jangan ki bilang-bilang sayang nah.” katanya, sedikit berbisik. Saya hanya tersenyum. Ingin rasanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Nurmi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTugas selesai. Pino memerintahkan peserta mempresentasikan pekerjaan masing-masing. Peserta saling tunjuk dengan ejekan dan pujian. Lalu satu persatu berdiri dan membaca tugas mereka. Membaca silsilah mulai dari yang tertua hingga  yang termuda. Lalu mengungkapkan ketidakadilan yang ada dalam keluarga mereka. Mulai dari poligami, tidak boleh melanjutkan sekolah, tidak dapat hak waris hingga trauma paska perceraian orang tua atau trauma karena perselingkuhan ayahnya. Semua tampak serius mendengarkan. Entah apa yang mereka pikirkan. Pino mencatat di kertas yang tertempel pada white board. Semua peserta mengungkapkan ada poligami dalam keluarga mereka, itu dialami oleh nenek, ibu hingga tante mereka. Bahkan, salah seorang kakek peserta mempunyai istri sebanyak 42 orang. Banyak juga di antara mereka tidak melanjutkan sekolah karena orang tua mereka lebih memprioritaskan anak laki-laki untuk mendapat pendidikan yang tinggi atau barang kesukaan. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePukul 12.00 Wita. Pino memberikan peserta tugas sambil menikmati makan siang. Peserta dibagi menjadi empat kelompok. Pino menyuruh tiap kelompok untuk menuliskan kesan dan menganalisa alasan mengapa mereka harus membuat silsilah keluarga hanya dari pihak perempuan saja. Waktu peserta hanya 90 menit untuk mengerjakan tugas dan menyelesaikan makan siang. Peserta tersebar di beberapa tempat tergantung kenyamanan mereka. Lebih banyak yang mengerjakan tugasnya di lantai. Ada yang sambil merokok hingga melepas sepatunya dan berdiskusi bersama.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWaktu telah habis, masing-masing kelompok presentasikan hasil kerjasama mereka. Setiap kelompok sepakat bahwa perempuan adalah sosok dimana perannya masih dinomor duakan dalam lingkungan keluarga. Ketidakadilan masih berjalan dan hak-hak yang seharusnya juga dimiliki oleh kaum perempuan masih terkendali dan dipegang oleh pihak laki-laki.  Ketidakadilan ini nampak dari silsilah keturunan nenek atau buyut mereka hingga pada diri mereka sendiri. Salah satu kelompok mengaku terharu karena dengan begitu mudahnya ketidakadilan itu terjadi dan terus berlanjut seiring dengan waktu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eNasma, peserta yang melakukan presentasi mewakili kelompok satu merasa lega. Mereka bisa berbagi bersama peserta yang lain. Ini adalah kali pertama mereka dengan terbuka berbicara mengenai masalah-masalah dalam keluarga mereka. Menambah kekuatan dan memulai hidup tanpa diskriminasi. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Teman-teman, dari semua yang anda sampaikan, dapat saya simpulkan bahwa tidak satu pun dari anda yang mengatakan bahwa silsilah keluarga itu tidak penting. \u003cbr /\u003e“Menurut anda, apakah orang tua anda lebih banyak mengungkit prestasi perempuan atau laki-laki?” Pino kembali melempar pertanyaan kepada peserta.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Kebanyakan laki-laki kak,” jawab beberapa peserta. Ada yang mengangguk, saling balas pandang, bengong atau hanya tersenyum saja.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePada sesi kedua, diskusi menjadi semakin menarik. Pino berbicara soal gender dan konstruksi sosial. Ia tetap melibatkan peserta untuk lebih interaktif dan punya inisisatif untuk berpikir terkait materi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Apa yang membuat teman-teman merasa sebagai perempuan?” tanya Pino. Peserta menjawab satu per satu dengan lantang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Karena punya ini’e,”kata salah satu peserta sambil mengarahkan tanganya ke vagina.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Karena punya tete’ (payudara),”  \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Karena berbeda secara biologis,” \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePino kemudian membagikan kertas dan menyuruh peserta menulis jawaban mereka. Hasilnya bermacam-macam, mulai dari perbedaan biologis, hal-hal yang umum dilakukan perempuan hingga menyinggung kodrat. Pino membagi tiga jawaban peserta dan menulisnya di white board. Pertama, menyatukan jawaban yang berkaitan dengan biologis dan menambahkan perbedaan-perbedaan susunan biologis antara laki-laki dan perempuan. Kedua, jawaban yang berkaitan dengan perasaan dan kesukaan. Seperti, suka memasak, suka bunga, butuh kasih sayang, ingin menikah tapi takut hamil hingga ketakutan tidur dengan laki-laki. Ketiga, Pino memisahkan jawaban yang menyinggung tentang kodrat. Hanya satu jawaban, yaitu takut melawan kodrat. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Saya sengaja pisahkan yah, biar kita bisa bahas satu-satu,” jelas Pino. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Mau ka tanya, apa maksudnya ini, mau menikah tapi takut hamil?” tanya Pino.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Malu-maluin kak sebagai hunter.” jawab salah seorang peserta. Peserta yang lain kemudian tertawa dan berteriak. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePino tersenyum dan mulai menjelaskan materinya sambil sesekali menulis di white board. “Perasaan apa lagi yang kalian rasakan dan bikin kalian merasa seperti perempuan?” Pino lagi-lagi bertanya memasuki pikiran peserta agar mendapat jawaban-jawaban lain. Tidak ada jawaban yang baru, hampir semua peserta mengatakan hal yang telah mereka tuliskan. Pino kemudian memberikan contoh. Saat ia kecil, Pino bisa dengan leluasa membuka baju dan telanjang dada di hadapan banyak orang tanpa rasa malu. Namun perlahan-lahan, seiring waktu ada perasaan dimana ada batasan yang harus ia pikirkan sebelum melakukan sesuatu, misalnya membuka baju. Perempuan tidak bisa leluasa membuka pakaiannya sama seperti yang dilakukan oleh laki-laki ketika sudah beranjak remaja. Peserta mengangguk seolah setuju dengan pendapat Pino.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePino kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai kodrat dan menghubungkannya dalam konsep penciptaan. Ada hukum yang bermain mengelilingi kodrat. Hukum alam dan hukum sosial. Hukum alam adalah sesuatu yang pasti, dimana ada kematian atau kehidupan, diciptakan oleh Tuhan. Ada hal-hal yang tidak bisa digugat. Sedangkan hukum sosial adalah hukum yang diciptakan oleh masyarakat dan dikonstruksi sedemikian rupa demi sebuah kepentingan. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKonstruksi sosial yang diciptakan masyarakat sangat mempengaruhi pola pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Mereka memisahkan dua peran dan memberikan nilai, ada plus dan minus. Hampir semua benda mempunyai jenis kelamin. Misalnya, warna. Pink identik dengan perempuan dan hitam diidentikkan dengan warna laki-laki. Dalam pembagian peran, laki-laki dikonstruksi sebagai kepala rumah tangga sekaligus pencari nafkah dan berada di wilayah publik sedangkan perempuan dikonstruksi sebagai ibu rumah tangga dimana wilayah kerjanya di dapur. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePino kemudian membagikan lagi kertas dan memberikan tugas mengenai apa penilaian masyarakat terhadap penampilan peserta yang mirip seperti penampilan laki-laki pada umumnya. Macam-macam jawaban yang tertulis. Balaki (tomboy), perempuan jadi-jadian, pembangkang, kagum karena bisa bekerja dalam dua peran, aneh dan pembawa sial. Ada nilai di dalamnya. Plus dan minus.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHari kedua pelatihan, beberapa peserta me-review materi hari sebelumnya. Lalu, Pino bersiap-siap dengan materinya di depan peserta. “Gender diciptakan oleh masyarakat seperti halnya warna, peran atau lainnya,” kata Pino. Ia mengajak peserta untuk menganalisa aktivitas para peserta bersama pasangannya selama 24 jam. Ia membedakan pembagian peran dalam hubungan lesbian dimana ada pengkotakan sebagai hunter (butchie) dan lines (femm) sesuai pengalaman peserta bersama pasangannya. Satu persatu mulai menjawab meski masih terlihat malu dan tertutup. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBeberapa peserta yang berperan sebagai hunter mengaku bekerja di luar rumah dan femmnya berada di rumah ketika ia bekerja. Ada juga yang membagi pekerjaan dalam rumah seperti mencuci pakaian, baju, menyetrika dan lain-lain. Nasma, peserta yang berperan sebagai hunter mengaku bahwa ia akan marah jika pasangannya pergi tanpa ijin. Ia akan mengontrol keberadaan pasangannya. Peserta yang lain menyetujui. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Soalnya kita khawatir kalau ada apa-apa terjadi kak sama pasangan ta’,” kata Imel, meyakinkan Pino. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRatna, seorang peserta kemudian mengomentari mengenai pembagian peran dalam hubungan lesbian dalam komunitasnya. Ia bercerita saat mengajak beberapa teman-teman berkumpul di posko komunitas mereka. Ia berteriak dan menyarankan para hunter agar mengajak pasangannya (femm) ikut berkumpul dan diskusi bersama. Namun, beberapa dari hunter menjawab bahwa lines sebaiknya berada di rumah saja. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSecara tidak sadar, masih banyak pasangan lesbian mengkotak-kotakkan posisi sebagai orang yang lebih kuat dan tidak kuat. Ketika kita merasa lebih kuat, ada kecenderungan seseorang meminta pelayanan khusus, memberi perlindungan, mengatasi rasa takut pasangan atau mengontrol aktivitas pasangan. Pino mencoba menganalisa dan menanyakan kembali kepada peserta. Beberapa peserta hanya mengangguk dan menunggu penjelasan dari Pino. Sama halnya pada hubungan pasangan heteroseksual, ada pembagian peran di dalamnya antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki akan dimaknai sebagai posisi paling kuat dan perempuan dimaknai posisi tidak kuat. Ada indikasi bahwa pola hubungan pasangan heteroseksual diadopsi pada hubungan homoseksual. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Kemarin teman-teman mengatakan bahwa perempuan masih dinomor duakan dalam keluarga. \u003cbr /\u003eJika teman-teman mengadopsi cara pasangan hetero dimana ada ketidakadilan di dalamnya bukankah anda juga sudah melakukan ketidakadilan pada pasangan anda yang juga perempuan?” tanya Pino.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePada sesi lain, Pino mengajak semua peserta bernyanyi. Sebuah lagu lama yang telah ia ubah sebagian liriknya dengan kata anu. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTeringat pada suatu anu.\u003cbr /\u003eKuberjalan-jalan di muka anumu.\u003cbr /\u003eRasa bergetar, dalam anuku.\u003cbr /\u003eIngin kuberanu.\u003cbr /\u003eSekilas nampaklah engkau di balik anu.\u003cbr /\u003eTersenyum dikau menusuk anuku.\u003cbr /\u003eApa daya sejak saat itu.\u003cbr /\u003eAnuku terganggu di setiap waktu.\u003cbr /\u003eRasa bergetar, dalam anuku. \u003cbr /\u003eIngin ku beranu. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSemua tertawa terbahak-bahak ketika menyanyikan lagu itu. Anu adalah bahan utama kelucuan. “Apa yang pertama kali anda pikirkan ketika menyanyikan lagu itu?” tanya Pino.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Itu kak, yang di bawah pusar,” kata Anjas, salah satu peserta. Bercinta, vagina, diraba, pelukan, french kiss, dll. Bermacam-macam jawaban peserta yang terdengar. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMereka terlihat geli saat harus menyebut kata-kata yang berhubungan dengan seks. Pino mengajak peserta membahas pengasosiasian anu dalam kehidupan sosial. Dari dulu, anu sering diasosiasikan masyarakat sebagai pengganti kata untuk menyebutkan alat kelamin atau sesuatu yang berhubungan dengan seks. Sehingga ketika menyebut anu, pikiran secara otomatis akan mengarah ke perihal terkait seks, padahal anu bisa saja diartikan macam-macam. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSetelah makan siang, Pino mengajak peserta duduk di depan dan membentuk lingkaran. Semua peserta mengangkat kursi besi mereka masing-masing. Pino menginstruksikan peserta untuk melakukan apa yang ia perintahkan. Semua harus menutup mata. Ola, ketua KIPAS akan mengawasi peserta. Pino menyuruh peserta meraba bagian tubuh mulai dari kepala hingga kaki. Saat membuka mata, ia meminta tanggapan masing-masing peserta. Ada yang merasa geli dan ada juga yang tidak merasakan apa-apa. Setelah itu Pino membagikan kertas dan menyuruh peserta menggambar bentuk tubuh perempuan. Semua menggambar seadanya. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Teman-teman, tolong tentukan titik rangsangan di tubuh anda masing-masing dan tulis di atas kertas yang anda gambar.” perintah Pino.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSesi kali ini sangat penuh dengan tawa dan cekikikan peserta. Saya pun tak kuasa menahan tawa hingga rahang rasanya pegal dan mata berair. Saling mengejek dan menertawakan, saling mengintip jawaban peserta lalu mengganggu peserta lain. Ada yang malu memperlihatkan titik rangsang yang ia tuliskan namun tetap saja pada akhirnya ketahuan karena masing-masing harus merelakan rasa malu mereka. Materi ini berguna untuk memahami tubuh kita sendiri sebelum memahami tubuh pasangan kita. Komunikasi adalah cara yang paling ampuh untuk saling mengetahui keinginan, kesenangan dan apa yang diinginkan oleh kita dan pasangan. Kerjasama yang baik dalam hubungan akan dimulai pada komunikasi yang baik pula.  \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePada sesi terakhir, Pino meminta semua yang berada di ruangan tersebut membuat lingkaran dan saling mengaitkan lengan. “Saya minta masing-masing mengungkapkan perasaan dalam satu kata.” pinta Pino. Spirit, senang, gembira, bangga, haru dan masih banyak kata terlontar dari bibir-bibir peserta. Saatnya berpisah, ada jabat tangan, pelukan dan mengucapkan terimakasih. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSenang sekali rasanya mendapat teman yang menurut banyak orang adalah pendosa karena orientasi seksual yang berbeda pada umumnya. Mereka perempuan, ada dan tercatat dalam realitas sosial. Saya ingat diskusi bersama beberapa peserta mengenai kondisi lesbian dalam ruang publik. Tidak penting harus melakukan sesuatu dan dinilai oleh masyarakat bahwa yang berbuat adalah seorang lesbian. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Saya juga awalnya dicela sama tetangga saat membawa lines saya tinggal di rumah. Tapi saya buktikan sama mereka kalau saya juga bisa berbuat hal yang berguna dan inilah saya.” kata Imel. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Saya berpikir, kemenangan paling besar adalah ketika seorang lesbian telah melewati pertentangan batin dalam diri dan mengakui bahwa ia seorang lesbian.” kataku kepada peserta.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Iya, saya setuju kawan.” kata  Imel. Kami semua tersenyum lalu sibuk dengan rokok dan kopi masing-masing.\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-6255121021435971427?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/6255121021435971427/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d6255121021435971427","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/6255121021435971427"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/6255121021435971427"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/11/dari-silsilah-menuju-gender-dan.html","title":"Dari Silsilah Menuju Gender dan Seksualitas"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7301148183883146215"},"published":{"$t":"2009-08-02T22:51:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2009-08-02T23:01:15.574-07:00"},"title":{"type":"text","$t":"“Mereka Adalah Obat Saya.”"},"content":{"type":"html","$t":"Oleh: Sartika Nasmar\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaya memasuki sebuah gang di daerah pesisir kota Palopo, Sulawesi Selatan pada 25 Mei 2009, saat itu pukul 11:00 wita. Semakin ke dalam, gang semakin kecil. Saya menuju ke sebuah rumah. Hanya ada seorang anak perempuan, umurnya tujuh tahun. Saya menyapa dan bertanya apakah ibunya ada di rumah. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Bunda ada di dalam.” kata anak itu.\u003cbr /\u003eIbunya ternyata sudah mengetahui kedatanganku. Pintu memang sedang terbuka. Dia memanggilku. Saya sedikit mencari-cari, posisinya lumayan tersembunyi. Dia membantu ibunya membuat kue pesanan seseorang. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaya menunggu di teras. Seorang bocah yang lebih muda datang ke sampingku. Ia memandangiku. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaya memberinya nama Windinara, adalah ibu kedua anak itu. Ia ODHA (orang dengan HIV dan AIDS). Pagi itu, ia sedikit kumal dengan daster merah bertuliskan Bali. Rambutnya diikat berantakan. Ia tak bisa menemaniku. Ia menyuruhku datang saat sore. \u003cbr /\u003ePukul 16:00 wita, saya kembali ke rumahnya. Saat kuparkir sepeda, ia memanggilku dari arah belakang rumah. Ia masih dengan dasternya, tapi lebih kumal dari sebelumnya. Ia belum bisa menemuiku. Saya pulang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMalam, saya datang lagi dan ia menyambutku dengan penampilan berbeda. Rambutnya basah terurai. Dasternya sudah berubah warna hitam bermotif  bunga. Wajahnya nampak riang. Windi menyuruhku masuk. Kami duduk bersebelahan. Terasa akrab.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWindi tahu bahwa HIV ada dalam tubuhnya pada awal 2006. Ia tertular dari suaminya. Sebut saja, Raka. Seorang pecandu narkoba suntik. Empat bulan suaminya sakit parah. Kata dokter, paru-parunya rusak. Windi membawa suaminya ke Rumah Sakit Umum dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBelum terpikir bahwa suaminya mengidap HIV, walau ia tahu suaminya seorang pecandu. Raka awalnya tidak ingin diperiksa saat alat tes HIV dan AIDS ada di hadapannya. Ia takut dan tidak siap menerima hasilnya. Dokter menyuruhnya pulang dan berpikir.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Bunda, dokter menyuruh saya tes HIV.” kata Raka.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWindi kaget. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Periksa saja. Lebih baik tahu sekarang daripada terlambat.” bujuk Windi.\u003cbr /\u003eBesoknya mereka kembali ke rumah sakit.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWindi menerima hasil pemeriksaan keesokan harinya. Reaktif. Raka belum melihatnya. Windi terpaksa bohong. Ia memperlihatkan tulisan non reaktif, beruntung Raka percaya. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSebulan di Makassar, kondisi Raka makin parah walau ia rutin check up. Ingatannya sudah tidak kuat lagi dan kulitnya bersisik. Windi membawa suaminya kembali ke Rumah Sakit. Kali ini Raka harus dirawat, CD4nya hanya 11. Windi menyampaikan kepada dokter bahwa suaminya belum tahu tentang penyakitnya. Saat itu juga Windi berterus terang. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ayah, saya berada di sini karena saya dukung ayah. Saya ingin lihat ayah sembuh.” kata Windi, lembut.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Memangnya kenapa?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Sabar ayah. Ini mungkin cobaan buat kita. Ayah positif  HIV.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRaka shock, mulai bertanya-tanya dan tidak terima. Windi kewalahan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ayah, sabar. Seandainya saya ingin marah dan memakimu kasar, saya akan bilang ini pelajaran buat ayah. Saya sudah sering bilang agar ayah berhenti menggunakan narkoba. Ayah tidak mendengar saya. Sering pulang malam, mengajak saya bertengkar. Tapi saya masih di sini. Dukung ayah supaya sembuh.” keluhnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRaka akhirnya sadar. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSelama di Rumah Sakit, Windi setia mendampingi Raka. Raka ditempatkan di ruangan perawatan Lontara 1. Ada 6 pasien yang penyakitnya sama. Mereka sering saling menghibur dan tertawa bersama. Dua orang konselor juga membantu mendampingi seluruh pasien. Mereka adalah waria. Ade Rinalda dan Indri Morisette. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMereka berkenalan satu sama lain. Windi mulai menerima dan beradaptasi dengan kehidupan di rumah sakit. Raka tetap putus asa, dia depresi seolah tidak siap menerima kenyataan bahwa sebuah virus ada dalam tubuhnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeminggu kemudian, Windi berpikir untuk periksa juga. Dia curiga virus tersebut juga ada dalam tubuhnya. Dia tidak ingin tahu setelah ia sudah benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Windi mendatangi seorang perawat. Perawat itu menyarankan untuk menunda dan fokus pada perawatan Raka. Windi tetap penasaran. Ia tidak mau virus ini merenggut kekuatannya. Cukup terjadi pada suaminya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWindi melakukan tes HIV bersama Ade Rinalda. Hasilnya reaktif. Windi tidak kaget virus itu juga ada dalam tubuhnya. Ia yakin mengingat usia pernikahannya dengan Raka sudah tujuh tahun. Mustahil jika ia tidak tertular, pikirnya. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTiba di kamar, Raka terus-terusan mengeluh. tidak mau makan dan minum obat. Windi lelah mendengarnya. Mereka bertengkar. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Saya capek lihat kamu seperti itu. Saya bahkan kasihan lihat diriku. Saya tidak tahu apa-apa, saya tidak pakai narkoba, tidak melakukan hubungan seks dengan siapa pun selain kamu, saya tidak pernah keluar rumah tanpa seizinmu. Tapi apa yang saya dapat ayah. Ini hasilnya.” teriak Windi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRaka kaget. Windi tiba-tiba diam. Ia tidak ingin suaminya tahu bahwa ia juga positif  HIV.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Saya hanya ingin beri ayah dukungan. Tapi saya juga butuh dukungan dengan lihat ayah kuat agar saya juga kuat. Ayo minum obat, jangan suka mengeluh. Terima kenyataan ayah.” pintanya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWindi sempat mengalami dilema. Ia memikirkan anaknya yang berada 360 kilometer darinya. Mereka diasuh oleh ibu Windi di Palopo. Anak pertamanya masih berusia 5 tahun saat itu. Yang kedua 3 tahun. Namun, di sisi lain, Windi tidak bisa meninggalkan Raka sendirian.    \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMenjelang tiga bulan Raka dirawat di rumah sakit. Kondisinya sudah mulai membaik, CD4nya meningkat menjadi 175. Satu minggu sebelum keluar dari rumah sakit, Indri mengajak Windi mengikuti sebuah pelatihan. Indri ingin Windi mewakili kota Palopo untuk belajar banyak mengenai HIV dan AIDS. Windi minta ijin ke Raka lebih dulu. Raka tidak setuju. Mereka akan kembali ke Palopo. Windi terus membujuk, akhirnya Raka memberi ijin.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePada hari  terakhir pelatihan adalah jadwal yang sama mereka pulang ke Palopo. Pelatihan selesai pukul 18:00 wita. Windi tidak langsung pulang. Ia menghadiri acara perpisahan panitia dan peserta. Pukul 20:00 wita, ia tiba di rumah. Raka baru saja berangkat dan membawa semua pakaian serta uang. Windi kecewa. Tujuh bulan Raka sakit, tak pernah ia meninggalkan Raka. Tapi untuk waktu lima menit, Raka tidak bisa menunggunya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKeesokan harinya Windi berangkat ke Palopo. Ia langsung menuju ke rumah orang tua Raka.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Mana pakaianku?” tanya Windi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRaka hanya diam. Windi makin marah, kecewa. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ayah, tega sekali. Asal ayah tahu, saya juga positif  HIV. Virus ini saya dapat dari ayah.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWindi pulang ke rumah orang tuanya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSudah tiga bulan ia tidak bertemu Raka. Ia gunakan waktunya untuk belajar dan memotivasi diri. Lalu salah satu saudara Raka tiba-tiba datang menemuinya. Ia memberi kabar.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Dek, Raka sakit parah. Tidak ada gunanya menjenguk jika ia sudah meninggal.”\u003cbr /\u003eKata-kata itu meluluhkan kemarahan Windi selama ini. Hari itu juga ia menjenguk Raka. Windi menangis. Raka sangat kurus, kakinya kaku, lama tak bergerak. Daya ingatnya sudah tidak kuat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Sama siapa ke sini?” tanya Raka.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ayah.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRaka tertawa. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Kamu semakin gagah.” puji Windi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRaka tersenyum.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Saya minta maaf  bunda.” kata Raka.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Iya, saya juga minta maaf. Kenapa berhenti minum obat?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Parcuma saya hidup. Tidak ada gunanya.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ayah, ingat anak-anak.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Kamu yang mendapatkannya.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaat itu Raka menghentikan Anti Retro-viral Theraphy. Ia mengkonsumsi buah merah yang disebut-sebut mampu menyembuhkan HIV dan AIDS setelah menyaksikan berita di televisi.Windi sangat ingat peristiwa itu. Saat bercerita, Windi menyandarkan kepalanya di kursi dan memegang tangan anaknya. Lalu meneruskan ceritanya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Bunda, saya akan pergi ke suatu tempat yang sangat indah tapi saya tidak tahu harus lewat mana.” kata Raka.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Kalau mau tahu, Ayah sebaiknya zikir. Pasti akan Ayah temukan jalannya.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Jadi, kalau saya zikir, saya bisa buka pintunya?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Iya, Ayah bisa zikirkan?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Pasti, saya kan Islam.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWindi terus menjaga Raka. Mereka bercerita sepajang malam.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Saya ingin cium bunda tapi saya tidak bisa bergerak.” kata Raka. Windi mendekatkan pipi ke bibir Raka. Raka tertawa, air matanya mengalir. “Bunda, kapan kita bisa bertemu lagi?” \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eItu pertanyaan terakhir Raka. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePukul 10:00 wita, Raka akhirnya menemukan jalan itu. Ia berhasil membuka pintu menuju tempat yang ia katakan indah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWindi bergabung dalam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Palopo Plus. Saat ini anggotanya hanya tiga orang. Dua ODHA dan satu lagi OHIDA (Orang yang hidup dengan ODHA). ODHA lainnya memilih menyembunyikan diri. Di Palopo ada 38 kasus HIV dan AIDS. KDS Palopo Plus dan KPA Kotamadya Palopo sering bekerjasama melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai HIV dan AIDS di Kota Palopo. Sayang, sejak lima bulan terakhir KDS Palopo Plus vakum.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWindi masih menyimpan harapan untuk ODHA di Palopo.  \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Saya ingin punya satu usaha bersama teman-teman. Keuntungannya ingin kami pakai untuk membantu biaya pengobatan dan perawatan  ODHA di Palopo. “\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eOrang tua Windi sudah tahu. Mereka kadang khawatir Windi ikut dalam kegiatan KPA dan KDS. Ibu Windi takut jika ia hanya menjadi objek dengan status ODHA.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Saya tidak pernah menangis. Kasihan orang tua dan anak-anak saya. Jika saya mengeluh mereka akan lemah. Tapi jika saya kuat, mereka juga akan lebih kuat menerima saya.” kata Windi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWindi tidak menyerah. Ia mengerti kekhawatiran Ibunya. Tidak semua orang bisa memberinya dukungan sosial. Mereka bisa tidak hanya menjauhi Windi, tapi keluarganya. Apalagi pengetahuan masyarakat di kota Palopo masih minim tentang HIV dan AIDS.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSi sulung sedang asik bermain, Windi mengelus kepalanya. Ia memeluk dan mencium si bungsu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ini mungkin salah satu mukjizat dari Tuhan. Kedua anak saya sehat. Mereka adalah obat saya.”\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7301148183883146215?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7301148183883146215/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d7301148183883146215","title":"2 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7301148183883146215"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7301148183883146215"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/08/mereka-adalah-obat-saya.html","title":"“Mereka Adalah Obat Saya.”"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"2"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-5644856632331118883"},"published":{"$t":"2009-07-22T00:22:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2009-07-22T00:34:58.046-07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Ugo, Si Pemuja Kuda"},"content":{"type":"html","$t":"Oleh: Sartika Nasmar\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSuatu sore di Kersan, Bantul, Yogyakarta. Tepat di sebuah sudut jalan, berdiri bangunan sederhana yang difungsikan sebagai kandang kuda. Di tengahnya ada arena. Seorang pria berdiri sibuk melatih seekor kuda. Silver Surfer. “Trot, trot..” kata pria itu memberi perintah. Tak ada tanggapan dari Silver Surfer. Ia hanya diam. Sesekali cambukan menjadi ancaman latihannya. Namun ia hanya berlari kecil lalu mengangkat kaki belakangnya seolah ingin berontak. Silver Surfer diam. Menghadap ke jalan dengan perkasa. Semakin kaku dan tak ingin berlari. Mundur pun ia enggan. Pria tadi kemudian memaksa, mendorong lalu akhirnya menyerah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUgo Untoro yang sedari tadi memperhatikan dari luar, kini memasuki arena. Hari itu ia melatih Silver Surfer, salah satu kuda kesayangannya. Selain Silver Surfer, ia masih memiliki tiga kuda. Ia kemudian mengambil tali yang mengikat Silver Surfer lalu mengangkat dan memainkannya ke atas, ke bawah, samping kiri dan kanan. ”Trot.., Trot..,” perintahnya. Sebatang rokok masih menempel di bibirnya, mengeluarkan kepulan asap. Ia tampak serius. Perlahan-lahan Silver Surfer mau berlari dan akhirnya mengelilingi arena. Ugo keluar dari arena.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTempat tidur kayu. Dispenser. Foto-foto Ugo menunggang kuda. Penghargaan Silver Surfer. Ada satu kamar dan dapur. Sebuah rumah sederhana terletak di sebelah kiri arena.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUgo duduk di tempat tidur kayu. Menghisap rokok ditemani sebotol bir. Masih memperhatikan kuda-kudanya. Silver Surfer sedang berlatih dan tiga lainnya dibersihkan. Berkunjung di kandang miliknya adalah rutinitasnya sehari-hari apalagi jarak kandangnya tak jauh dari rumahnya. Ia cukup berjalan kaki.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUgo meluruskan badannya sambil memegang punggung. Lalu menghembuskan nafas. Matanya terlihat lelah. Merah. Pengaruh alkohol mulai terasa. Ia masih memperhatikan kuda-kudanya.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUGO adalah seorang pemuja kuda. Ia mengenal segala seluk beluk kuda. Dimulai dari sejarah kuda yang mengikuti sejarah manusia. Ia tidak hanya memelihara kuda sebagai bentuk kesenangannya terhadap binatang ini. Tapi, ia membaca semua pengetahuan tentang kuda dan memahami literaturnya. Kuda adalah binatang yang setia, patuh dan berguna. Kuda sahabat manusia. Simbol yang membawa kecantikan pada wanita dan keperkasaan pada pria. Menurut persepsi Ugo, kuda mampu membawa kita menjadikannya patokan memahami realitas.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Aku berpikir bahwa kuda adalah ciptaan manusia, bisa ditundukkan,” ujar Ugo.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSebatang rokok ia bakar. Lalu dihisap dalam-dalam. Kepulan asap keluar dari mulutnya. Matanya memandang Silver Surfer.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Aku dan kudaku seperti ada ikatan. Secara personal aku anggap kami saling melayani. Aku selalu berusaha mengetahui kuda bukan dari fisiknya, tapi dengan hati.” tambahnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa mulai tertarik dengan kuda sejak enam tahun yang lalu. Kuda pertamanya bernama Basuki Abdullah. Ia membelinya seharga 4,5 juta rupiah dari tukang andong di Imogiri. Waktu itu ia belum banyak tahu tentang kuda. Kala itu, seorang pria mendekati Ugo.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Ngapain kamu pelihara kuda itu?” kata pria itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Kuda itu tidak sehat, aku punya kuda bagus,” tambah orang itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUgo terjebak oleh kata-kata pria tersebut. Terpaksa ia tukar. Beberapa lama kemudian, ia sadar bahwa ia telah ditipu. Dibodoh-bodohi. Basuki Abdullah adalah kuda yang sehat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDari kejadian itu, ia belajar tentang kuda. Mencari tahu segala informasi yang berkaitan dengan kuda.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePada tahun 2005, seekor kudanya mati dalam pacuan kuda. Namanya Badai Lembut. Saat di arena, Badai Lembut jatuh. Ugo panik. Meski ia tahu bahwa itu adalah resiko pacuan kuda.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMalam sebelum Badai Lembut bertanding, Ugo duduk di sebuah ruangan dalam rumahnya sambil menggambar sketsa di sebuah buku tulis. Imajinasinya memberi Ugo petunjuk kepada penanya menggambar keperkasaan Badai Lembut. Lalu ia membayangkan jokinya kemudian menggabungkannya bersama Badai Lembut dalam satu kertas. Jokinya bernama Jumadi. Ia kemudian melanjutkan dengan menggambar kuda yang akan menjadi lawan Badai Lembut. Wijaya. Semua bersatu menjadi sketsa sederhana malam itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eEsoknya, pacuan kuda di mulai. Badai Lembut jatuh bersama Jumadi ketika nyaris mencapai garis finish. Disusul Wijaya. Ugo panik mendengar ringkik kudanya. Badai Lembut, Wijaya dan Jumadi tewas dalam kejadian itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMira Utami, nama seekor kuda. Teman Ugo, pemilik hewan itu, meminta Mira Utami menjadi obyek lukisannya. Ugo menyetujui. Ia kemudian dengan serius melukis kuda Mira. Selesai. Beberapa lama kemudian ia mendengar kabar bahwa Mira Utami mati. Ugo tak mau melukis kuda orang lain lagi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRingkik Badai Lembut menjadi inspirasinya berkarya. Derap kaki Badai Lembut yang lincah memberi semangat untuk lebih memahami kuda meski kematiannya masih menjadi mimpi buruk bagi Ugo.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa tidak hanya sekedar melukis atau mambuat karya instalasi tentang kuda. Tapi, melakukan riset mulai dari sejarah dan anatomi kuda.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePada Maret 2007, karya seni lukis dan instalasi Ugo Untoro dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta. Poem of Blood. Materi utama karyanya menggunakan kulit kuda dan bangkainya. Sebuah karya yang terkesan horor. Pada masing-masing bagian tubuh kuda diberikan identitas atau tanda dari besi panas.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUgo menciptakan Poem of Blood seolah menceritakan nasib kuda. Ia menggantung kulit kuda di atas besi lalu ia beri judul ”Menjemur Sejarah”. Ia juga meletakkan bangkai kuda yang teronggok di atas pasir yang penuh dengan jejak kuda dalam sebuah arena. Tampak mengharukan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKuda memberinya semangat dan pemahaman yang tidak sama dengan yang dimiliki orang lain. Ia memahami kuda secara klise dan personal. Kuda tidak hanya perkasa tapi adalah saksi sejarah. Sejak dulu, manusia tak pernah memilih Zebra, Jepara atau binatang lain sebagai alat tunggang. Tapi, mereka memilih kuda. Memahami dan saling melayani. Kuda tidak hanya untuk tunggangan atau alat transportasi baginya. Namun, lebih kepada sahabat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSosok keperkasaan dan romantis yang ia rasakan dari seekor kuda juga dipengaruhi dari kegemarannya membaca komik dan menonton film. Pendekar dan kuda. Penuh petualangan. ”Pokoknya romantis banget gitu loh..” katanya meyakinkan. Ia bahkan tak segan untuk menunggangi kudanya berjalan-jalan keliling kampung atau ke tempat yang ramai sambil bergaya koboi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMASA kecil Ugo berlalu dengan kesederhanaan. Ayahnya adalah seorang guru Sekolah Dasar. Ia lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 28 Juni 1970.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUgo kecil tergolong anak yang nakal. Ia dan adik laki-lakinya senang menggambar. Lantai rumahnya terbuat dari semen dan berwarna agak hitam. Mereka menggambar di lantai. Setiap hari ibunya harus mengepel setelah mereka membuat lantai kotor dengan coretan. Sehari bisa sampai berkali-kali. Jika ibunya lelah, ia terpaksa membiarkan lantai rumahnya penuh dengan gambar karya anak-anaknya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa tidak hanya menggambar. Ugo senang baca komik. Nonton kartun. Membuat wayang. Layang-layang. Boneka. Ikut gerobak sapi. Bermain hujan. Dan bolos sekolah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAyah Ugo juga senang membuat wayang dari kardus. Ia kadang-kadang memberikan hadiah wayang kepada anaknya. Bahkan jika tidak diberi, Ugo tidak ingin masuk sekolah. Sejak kecil, ayahnya sudah memberinya kebebasan membaca komik dan menonton film kartun yang ia senangi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeperti anak-anak pada umumnya, cita-citanya ingin menjadi dokter atau insinyur. Saat di Sekolah Dasar. Ugo menjadi murid ayahnya sendiri dalam mata pelajaran matematika. Ia benci matematika. Ia selalu bolos. Lalu ikut gerobak sapi tetangganya. Hingga di SMU pun, ia tetap saja suka bolos sekolah.Suatu hari gurunya bosan memperingatinya untuk tidak bolos sekolah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Pokoknya kamu harus belajar. Harus masuk kelas. Tidak boleh bolos. Kalau kamu masuk, aku beri kamu nilai enam,” kata gurunya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUgo pun tak lagi membolos. Ia masuk ke kelas tapi tetap tak belajar. Hanya duduk dan menggambar gurunya yang sedang mengajar. Saat ijazah diterima, ia langsung memeriksa nilai yang dijanjikan oleh gurunya tersebut. Hasilnya, tetap saja nilai lima.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSelepas sekolah menengah, Ugo bingung dengan cita-cita. Ia bahkan tak memilikinya. Tak ada yang menarik menurutnya. Ia memutuskan menganggur selama satu tahun sambil terus memikirkan masa depannya. Yang terbersit saat itu hanya ingin menggambar. Ia juga tidak mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPT) Nasional seperti banyak pelajar yang baru saja menyelesaikan sekolah menengahnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSuatu hari, Ugo duduk di sebuah kursi dalam teras rumahnya. Santai, pikirnya. Sebuah koran jatuh tepat di belakang punggungnya. Ia heran. Yang melempar koran ternyata ayahnya, tanpa suara. Hanya lewat saja. Ia membaca halaman yang sudah sengaja dibuka oleh ayahnya. Isinya adalah iklan pendaftaran mahasiswa baru di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTahun 1988, Ugo tiba di Yogyakarta setelah mengetahui dirinya lulus di ASRI. Dia pun mulai menjalani awal-awal kuliahnya. Meski ia tetap harus dipertemukan lagi dengan mata pelajaran teori pada semester awal. Lagi-lagi ia bolos. Bertemu dengan teman barunya yang sama-sama tak suka pelajaran pada semester awal. Mata kuliah dasar umum.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Woi, tinggal wae. Udah ditinggal saja. Nggak usah masuk.” kata teman-temannya saat itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eLama-kelamaan Ugo menikmati masa ia menjadi mahasiswa.Suasana kampus yang terletak di Gampingan membuatnya betah berlama-lama di kampus. Sejuk. Asri. ”Seperti rumah sendiri,” pikirnya. Tidak ada senioritas di sana. Ugo mulai sering berkumpul bersama teman-temannya. Main. Bolos. Minum alkohol. Dan menyelesaikan masalah sama-sama. Dosennya pun seperti teman. Jika tak bisa bayar uang semester, bisa pinjam pada mereka.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTahun 1995. Ia mendengar kabar bahwa kampusnya akan pindah ke daerah Bantul dan berganti nama menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Ia khawatir. Kuliahnya belum kelar. Sedang teman-teman seangkatannya sudah selesai. Dengan cepat, ia menyelesaikan tugas akhirnya. Selesai dan mendapat gelar sarjana.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Kalau ASRI gak pindah, aku mungkin akan tetap di sana. Jadi mahasiswa terus,” kata Ugo.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUgo adalah pelukis yang sarjana.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSetelah menyelesaikan kuliahnya ia memutuskan menikah dengan Trisni Rahayu. Wanita yang telah ia pacari selama dua tahun. Usianya jauh lebih tua dari Ugo, terpaut 10 tahun.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMenikah menjadi pilihan Ugo. Ia ingin membuktikan kepada dirinya untuk lebih bertanggung jawab. Ia melamar dengan modal nekat menghadap orang tua Yayuk, seorang anggota Angkatan Laut. Sendirian dan dalam keadaan mabuk. Tak heran, jika ia mendapat suara gertak dari ayah Yayuk. Awalnya, ia tak mendapat restu karena berbeda agama. Ugo, islam dan Yayuk, katolik.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKenekatan membuahkan hasil. Pernikahan dilakukan di Purbalingga.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAnak semata wayangnya, Tanah Liat, juga banyak mempengaruhi karya-karya, baik itu lukisan atau puisinya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDI Yogyakarta, Ugo menghabiskan waktu di Jalan Malioboro. Di sanalah ia mengerti realita hidup. Setiap hari ia berkunjung ke sana. Ia bergaul dengan siapa saja, hingga mencari uang. Saat itu ia kembali bingung, ingin menjadi penulis atau pelukis. Ia senang menulis puisi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi sepanjang jalan Malioboro, ia menghasilkan uang dengan menjadi pelukis potret. Bayarannya lumayan untuk kebutuhannya sehari-hari. Selain melukis, Ugo dan seorang temannya juga menjual barang dagangan seperti souvenir dan gelang manik-manik di jalan Mallioboro. Kadang-kadang jika di sana tidak laku, maka ia akan pindah sambil membawa dagangannya ke jalan Solo. Dagangannya juga tidak laku. Ia menyerah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Sabar, mas. Sabar. Orang dagang itu harus sabar.” kata seorang temannya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Ah, ora iso aku. Ora iso.” Kata Ugo, menyerah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa kembali melukis demi mendapatkan uang. Ia sadar bahwa gaji yang didapatkan ayahnya sebagai seorang guru tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Apalagi jika harus membeli perlengkapan mengikuti praktek melukis di kampusnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUGO mengawali karir melukisnya saat kuliah di ASRI. Berbagai karyanya muncul dengan gaya corat-coret.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKarya-karya pertamanya selama ia kuliah membawa Ugo Untoro pada pameran pertamanya bertajuk ”corat-coret 91-95”.\u003cbr /\u003eMelukis kemudian menjadi pilihan hidupnya. Ia menemukan kenikmatan melukis. Dalam katalog pameran Corat-coret 91-95. Ugo menulis:\u003cbr /\u003e“Tak perlu lagi saya mengejar bentuk, sebab sudah ada David, Rembrandt, Vermeer, Cezanne ataupun Basoeki Abdullah. Tak perlu lagi saya mengejar warna, sebab sudah ada Delacroix, Manet, Monet atau Seurat. Tak perlu lagi saya mengejar garis, sebab sudah ada Durer, Matisse, Miro ataupun Oesman Effendi. Tak perlu lagi saya mengejar isi, sebab sudah ada Van Gogh, Gauguin, Dali ataupun Rusli dan Amang Rahman. Belum lagi keterpukauan akan para jenial seperti Michelangelo, Da Vinci, Picasso, Kandinsky, Mondrian dan Paul Klee.”\u003cbr /\u003ePada tahun 1998, Ugo memenangkan Lomba Lukis Nasional yang diselenggarakan Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan promotor Phillip Morris. ”Huruf-huruf Baru”, judul karyanya berhasil masuk dalam nominasi. Dalam karyanya, ia membagi gambar dengan kotak-kotak yang berisi simbol kehidupan baru. Kertas rokok menjadi media yang digunakan menggambar. Menurut Ugo, yang dikutip Bernas (22/10), ”Lukisan yang diikutkan lomba ini saya anggap puncak karya corat-coret karna telah banyak yang menggunakan gaya ini.”\u003cbr /\u003ePadahal awalnya, gaya corat-coret yang ia tekuni selama bertahun-tahun kadang ditertawakan oleh teman-teman dan dosen di kampusnya. Ia tetap melukis hingga orang-orang yang tadinya menertawai akhirnya menerima. Bahkan ada yang mengikuti.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa meninggalkan gaya corat-coretnya. Ugo tak ingin punya style dalam menggambarkan karya-karyanya. Tak ingin dicap pelukis dekoratif. Ia tidak terikat oleh teknik atau ’isme’ yang berlaku dalam ilmu seni rupa. ”Silahkan saja orang menggunakan istilah itu, selama ia tetap konsisten. Tapi untuk aku sendiri, aku menolak dan tidak suka istilah itu.” tambahnya. Ugo menggunakan bahasa dan caranya sendiri dalam melukis apa yang ada dipikirannya atau batinnya saat itu dan dituangkan dalam kanvas.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMelukis adalah kejutan. Ugo kadang tak bisa menebak hasil lukisannya akan seperti apa meski telah merencanakan objeknya. ”Sama ketika orang memancing. Tak tahu apakah ia akan mendapat ikan yang besar atau kecil. Hasilnya adalah kejutan. Menargetkan sesuatu yang belum kita tahu.” kata Ugo.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTahun 1998, Ugo membeli sebidang tanah di kawasan Kersan untuk membangun sebuah rumah yang akan ia huni bersama istri dan anak semata wayangnya. Ia berharap agar segera pindah dari rumah kontrakannya karena tak nyaman baginya untuk bekerja.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa akhirnya pindah ke rumah barunya, tapi tidak untuk dihuni melainkan sebagai studio. Lama-kelamaan teman-teman Ugo juga sering berkumpul di sana. Ada yang melukis atau sekedar kumpul-kumpul hingga mabuk-mabukan. Pada akhirnya, ia tak bisa bekerja di sana lagi. Hingga seorang temannya menyarankan agar studionya dijadikan tempat pameran. Ugo setuju dan ia kembali bekerja di rumah kontrakannya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBekas studio Ugo pun berubah menjadi tempat pameran bernama Museum dan Tanah Liat. Keinginan Ugo melihat seniman muda terus berkarya membuatnya harus merelakan studio miliknya dijadikan museum. Disewa atau tidak, bukan masalah baginya.\u003cbr /\u003e”Aku ingin melihat para seniman muda terus berkarya. Sekali mengayunkan pedang, ya sudah. Apa yang terjadi, terjadilah. Menang atau kalah. Itu pilihan kita.” pesannya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTahun 2007, Ugo dinobatkan sebagai salah satu tokoh seni versi majalah TEMPO melalui karyanya Poem of Blood.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Aku tak peduli harus ikut bahasa atau konsep apa, aku punya bahasa, kekhasan dan sudut pandang sendiri untuk mengungkapkan keindahanku,” kata Ugo.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTak peduli dengan istilah professional, ia berkarya tanpa berpikir ingin menjadi siapa atau mendapatkan gelar apapun. Bahkan untuk predikat maestro.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Yang terpenting adalah aku tetap berkarya. Selesai atau tidak, aku merasa melukis adalah tugasku dan itu full kulakukan.” yakinnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePs: Tulisan ini pertama kali dipublikasikan oleh http://www.panyingkul.com\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-5644856632331118883?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/5644856632331118883/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d5644856632331118883","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5644856632331118883"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5644856632331118883"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/07/ugo-si-pemuja-kuda.html","title":"Ugo, Si Pemuja Kuda"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-8466013728769266939"},"published":{"$t":"2009-02-08T03:38:00.000-08:00"},"updated":{"$t":"2009-02-15T06:07:37.639-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Samsara"}],"title":{"type":"text","$t":"Aborsi VS Becak"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv align\u003d\"justify\"\u003eBy: Sartika Nasmar\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHari kelima Inna berada di Pare. Kami berdua menyewa kamar di Sanjaya Kos Putri. Untuk memanfaatkan waktu, kami juga mengadakan diskusi di kos ini. Pesertanya semua perempuan. Awalnya, rencana kami diskusi diadakan di lantai dasar tempat di mana anak kos biasa menerima tamu, di ruang nonton. Tapi karena hujan , kami terpaksa mengadakan diskusi dalam kamar Inna di lantai 2. Terbayang betapa sempitnya di dalam ruangan 3 x 4 meter, yang di dalamnya ada lemari dua pintu dan tiga tempat tidur. Kami sempat bingung bagaimana mengakalinya.\u003cbr /\u003eKami terpaksa harus menggeser dua tempat tidur ke satu sisi dan menurunkan kasur busanya untuk dijadikan tempat duduk peserta. Lumayan nyaman. Walau aku dan Inna harus duduk di lantai yang dingin karena hujan seharian.\u003cbr /\u003eDiskusi kali ini membuat kami sedikit khawatir karena salah satu peserta hamil tujuh bulan. Kami sempat merasa takut terjadi sesuatu setelah mendengar Inna memaparkan fakta-fakta mengenai aborsi.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003eDiskusi dimulai pukul 20।09 Wib.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e26 Januari 2009, sekitar pukul 16।00 Wib. Diskusi juga kami lakukan di Asset (Asociation of Sulawesi Students) mengenai tema yang sama. Asset adalah sebuah perkumpulan anak Sulawesi yang belajar Bahasa Inggris di Pare. Antusias yang menyenangkan karena jumlah peserta yang cukup banyak. Mayoritas peserta laki-laki sekitar 20 orang, sedang perempuan hanya enam orang. Kami diserang berbagai macam pertanyaan dari banyak peserta laki-laki. Bahkan berebut. Jumran, ketua Asset menjadi moderator.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSekitar pukul 18.30 Wib, aku dan Inna baru saja selesai makan malam menu nasi goreng di sebuah warung bernama Empat Mata. Nasi goreng yang enak yang akhirnya bisa kami nikmati setelah tiga hari kami idam-idamkan. Makan selesai, aku menunggu Inna menghabiskan rokoknya lalu menuju ke Oxford, salah satu lembaga kursus untuk mengadakan diskusi mengenai aborsi.\u003cbr /\u003eDua sepeda onthel tua membawa kami menyusuri Jalan Anyelir. Tiba-tiba hujan, kami masih tak peduli. Semakin keras.\u003cbr /\u003e“Mbak, hujannya deras. Singgah dulu, laptopmu basah.” teriakku ke Inna.\u003cbr /\u003eInna membelokkan sepedanya ke kanan menuju ke Expert Camp, tempat pertama kami melakukan diskusi yang sama. Kami menunggu hujan reda namun malah semakin deras. Kami memutuskan menuju ke Oxford dengan satu sepeda saja dan meminjam payung pada Ifa, seorang teman yang tinggal di Expert. Ternyata sulit. Ifa menyarankan agar kami jalan kaki saja. Dengan terpaksa sepeda kami titip dan meminjam dua payung. Angin sangat kencang. Kami meminta plastik, Ifa memberi kami tiga. Satu untuk membungkus tas dan dua lagi untuk membungkus kepala kami.\u003cbr /\u003eKami siap berangkat. Payung terbuka lebar siap melindungi kami. Celana kami gulung hingga lutut. Lalu berjalan di antara hujan. Petir terasa mengabadikan perjalanan kami bak cahaya dari sebuah kamera. Tiba-tiba jalan menjadi sangat gelap, lampu mati. Hujan makin deras, angin kencang menyambar. Lumayan mengerikan, aku tidak suka gelap apalagi karena kami harus melewati sebuah pohon bambu yang besar. Ketakutanku terobati dengan tawa.\u003cbr /\u003ePakaian kami sudah mulai basah. Dingin terasa menyentuh tulang. Akhirnya kami tiba di Jalan besar, Brawijaya. Oxford sudah dekat. Kami menyeberang jalan, melewati sebuah warung makan. Banyak orang berlindung dari hujan. Aku sengaja melewati jalan beraspal yang digenangi air untuk mencuci kaki. Sebuah angkutan umum menuju ke arahku dengan kecepatan tinggi, aku segera naik ke trotoar. Mobil menginjak genangan air dan membasahi baju, celana hingga wajahku. Aku dan Inna teriak dengan jengkel. Setelah itu tertawa.\u003cbr /\u003eKami tiba di Oxford yang tampak gelap. Lampu masih mati. Aris menyambut kami dan mempersilahkan masuk. Aku dan Inna sedikit segan masuk karena dalam keadaan kotor. Baju dan celanaku basah, wajahku sedikit kotor akibat cipratan dari genangan air tadi. Inna terlihat menurunkan gulungan celananya lalu mengeluarkan materi dari tas yang basah walau telah dibungkus plastik. Semua rapi, menurut kami. Lalu masuk ke ruang utama di Oxford.\u003cbr /\u003eRuangan itu tidak besar. Kami duduk di lantai yang dialasi karpet dua warna. Sisi kanan merah dan sisi kiri biru. Sebuah meja dengan kaki ukuran 30 centimeter berada di tengah. Di tiap sudut meja diletakkan lilin dengan api kecil menerangi semangat kami.\u003cbr /\u003eKami duduk mengelilingi ruangan। Peserta nampak kedinginan bahkan seorang peserta wanita menutup sekujur tubuhnya dengan selimut tebal. Aris menjadi moderator malam itu, ia memperkenalkan kami. Sangat menakjubkan, terasa beda kali ini tepuk tangan mengawali diskusi walau aku dan Inna dalam keadaan basah dan kumal.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSiang hari aku dan Inna kembali memulai pekerjaan. Kami menuju ke sebuah camp putri untuk menawarkan proposal diskusi. Tepatnya, Cherry Camp. Saat itu kami menemui Miss Atin, Pembina di camp tersebut. Kami ngobrol santai dengannya di ruang depan. Sebuah televisi menyala menayangkan program sinetron dan ditonton oleh seorang wanita sambil menyeterika. Ia tepat berada di sebelah kanan saya.\u003cbr /\u003eMiss Atin menyambut hangat tawaran diskusi kami, ia bersedia mengumpulkan peserta camp। Kami menyepakati diskusi pada esok malam, 28 Januari 2009 jam 18.30 Wib.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e27 Januari 2009, diskusi ke enam kami lakukan di sebuah lembaga kursus, Global-E. Kami mengadakan diskusi di ruangan terbuka bagian belakang Global-E. Pesertanya sangat banyak. Sekitar 30 orang. Peserta kali ini adalah murid dalam kelas Speaking yang diajar oleh Mr. Toto. Dia yang memperkenalkan Samsara ke peserta.\u003cbr /\u003eAwalnya diskusi dimulai dengan menggunakan Bahasa Inggris. Namun karena banyak yang kesulitan bertanya, lama-kelamaan berubah menjadi diskusi Bahasa Indonesia. Mr. Toto pun akhirnya mengijinkan pelajar-pelajarnya menggunakan Bahasa Indonesia.\u003cbr /\u003e“Everybody can speak. You can speak in Bahasa.”\u003cbr /\u003e“Really?” jawab seorang peserta.\u003cbr /\u003e“Yeah, of course. I give you special today.”\u003cbr /\u003eTiba-tiba diskusi menjadi ramai dengan sorak।\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHari berikutnya aku dan Inna memutuskan istirahat dari pagi hingga sore. Kami hanya menunggu waktu untuk diskusi terakhir di Cherry Camp pukul 19.00 Wib. Hujan tak henti-hentinya sepanjang hari itu. Hingga petang muncul, gerimis masih mengiringi. Kapit datang ke kos pukul 18.30, bajunya sedikit basah. Ia kemudian meng-copy materi untuk persiapan diskusi malam ini. Ia tidak ikut dengan kami ke Cherry, ia harus ke Kediri membawa proposal yang diminta oleh seorang dosen di Universitas Kadiri untuk mengadakan seminar bersama Samsara.\u003cbr /\u003eAku dan Inna terlambat ke Cherry karena menunggu hujan reda। Kami berangkat saat gerimis masih ada. Tiba di Cherry peserta terlihat menunggu kami dengan santai. Semua peserta perempuan sekitar 13 orang. Tak ada moderator. Diskusi malam itu nampak sepi. Aku dan Inna mencoba pertahankan semangat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku dan Inna sedikit lega karena sosialisasi dan edukasi selesai. Pikir kami. Aku membuat laporan sedang Inna membuat sebuah tulisan mengenai pengalaman kami selama di Pare. Tiba-tiba sebuah pesan diterima Inna di handphonenya. Sms itu dari Direktur Smart (salah satu lembaga kursus), Miss Uun. Ia meminta Samsara mengisi diskusi di Story Camp 1 dan 4 malam ini, 29 Januari 2009. Inna menanyakan kesiapanku. Aku dengan senang hati menyetujui. Aku menghubungi Kapit, menyuruh ia datang lebih cepat untuk meng-copy materi yang sudah habis.\u003cbr /\u003ePukul 18.00, aku dan Inna berangkat. Kami memilih jalan kaki karena hujan dan harus menggunakan payung. Sebelumnya kami singgah di warung tepat di sebelah Story 1, kami memesan nasi goreng satu porsi dan segelas teh hangat. Kapit menyusul kami. Setelah makan, kami masih duduk sambil menyiapkan materi. Tiba-tiba seorang pria mengintip dari arah Story 1.\u003cbr /\u003e“Samsara yah?” katanya.\u003cbr /\u003e“Iya pak.” jawab Inna.\u003cbr /\u003e“Udah ditunggu dari tadi.”\u003cbr /\u003e“Oh, iya pak. Kami sedang menyiapkan materi dulu, setelah itu kami masuk.”\u003cbr /\u003eKami masuk ke Story 1, sebuah asrama putri khusus English Area. Bangunan yang sangat bagus. Ruang diskusi sangat luas, pesertanya pun sangat banyak. Mereka kebanyakan adalah remaja yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Umum. Suasana sangat ramai. Mereka tampak senang dan antusias dengan adanya diskusi ini. Pertanyaan satu per satu muncul. Teriakan, istighfar, ekspresi meringis hingga ingin muntah dan bersendawa meramaikan diskusi saat seorang peserta bertanya mengenai metode dan proses aborsi.\u003cbr /\u003e“Stop miss,” pinta seorang peserta ke Inna. Ia mengelus perutnya. Gigi atas dan bawahnya bersatu. Lalu menutup telinga.\u003cbr /\u003e“Aku aja ditabrak becak, pemulihannya lama. Apalagi aborsi?” canda seorang peserta mencairkan suasana tegang.\u003cbr /\u003eDiskusi selesai 20.30. Miss Uun mengajak kami langsung menuju ke Story 4, camp selanjutnya di mana kami akan melakukan diskusi terakhir hari ini. Pesertanya tidak banyak, semua laki-laki. Diskusi dibuka oleh Miss Uun. Di Story 4 kami lebih banyak membahas mengenai aborsi dan lelaki. Kapit mengawali diskusi sebelum Inna. Sedang aku menjelaskan mengenai Post Abortion Syndrome.\u003cbr /\u003eWalau peserta hanya 12 orang namun antusias dan rasa ingin tahu mereka yang sangat besar membuat kami bersemangat। Suasana diskusi yang menyenangkan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami selalu membuka diskusi dengan memperkenalkan Samsara. Lalu dilanjutkan dengan sedikit prolog mengenai data aborsi di Indonesia. Mendengar angka aborsi yang tinggi di Indonesia, banyak peserta yang tidak menyangka dan tak terpikirkan.\u003cbr /\u003e“Jumlah aborsi di Indonesia sebanyak 2.600.000 pada tahun 2006. Jika dibagi lagi maka ada 7123 kasus per harinya dengan asumsi 5-6 kasus per detik.”\u003cbr /\u003e“Astaghfirullah,”\u003cbr /\u003e“Wah, banyak juga yah?”\u003cbr /\u003e“Berarti sekarang ada yang aborsi dong?”\u003cbr /\u003eKami selalu mendapatkan statement seperti itu saat memaparkan angka aborsi.\u003cbr /\u003eInna melanjutkan dengan materinya. Inna selalu mengawali dengan mencari tahu sejauh mana pengetahuan peserta mengenai aborsi. Para peserta malam itu masing-masing mengeluarkan pendapat. Dosa, tidak bertanggung jawab, menyakitkan, tidak bermoral, tidak mendapat pasangan yang baik, bukan wanita baik-baik, tidak mendapat pengetahuan yang benar, pengguguran yang sakit, pembunuhan, membuang bayi, dan pemaksaan kelahiran. Pendapat-pendapat ini sering muncul di semua tempat dimana kami melakukan diskusi.\u003cbr /\u003eKetika aborsi menjadi bahan pembicaraan, anggapan yang muncul kebanyakan hanya mengingat aborsi dari segi medis, hukum dan agama. Tanpa kita sadari bahwa aborsi juga memiliki dampak terhadap mental yang bisa saja terjadi pada perempuan atau lelaki, pasangan dan keluarga paska terjadinya aborsi. Gangguan mental tersebut dikenal dengan Post Abortion Syndrome (PAS).\u003cbr /\u003eSuatu malam, setelah diskusi. Aku menerima sebuah sms dari salah seorang peserta diskusi. “Mbak, berapa lama biasanya PAS terjadi setelah aborsi?”\u003cbr /\u003ePAS bisa terjadi beberapa saat setelah aborsi dan bisa juga terjadi bertahun-tahun setelah aborsi. Itu tergantung bagaimana tingkat traumatis seseorang. Aborsi yang menyakitkan, adanya infeksi paska aborsi, paksaan melakukan aborsi dan sistem nilai dan kepercayaan yang dianut seseorang adalah faktor-faktor yang menyebabkan aborsi dapat menjadi traumatis.\u003cbr /\u003eAborsi yang menyakitkan banyak terjadi pada tindakan aborsi yang tidak aman atau dilakukan dengan standar medis yang tidak tepat. Misalnya oleh tenaga medis illegal dan tindakan aborsi secara tradisional. Biasanya dengan menggunakan alat atau benda tajam, obat-obatan hingga melakukan tekanan dan pemijatan pada bagian abdomen dengan teknik yang justru dapat menimbulkan efek yang lebih menyakitkan pada kesehatan fisik dan mental seorang perempuan.\u003cbr /\u003eDari segi medis, aborsi yang tidak tuntas dapat menyebabkan infeksi pada rahim. Beberapa efek pada kesehatan bisa muncul pasca aborsi yang tidak tuntas tersebut. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Brian Clowes, Facts of Life disebutkan beberapa resiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi perempuan pada saat aborsi dan paska aborsi.\u003cbr /\u003e1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat.\u003cbr /\u003e2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.\u003cbr /\u003e3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius di sekitar kandungan.\u003cbr /\u003e4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation).\u003cbr /\u003e5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.\u003cbr /\u003e6. Kanker payudara (terjadi karena ketidakseimbangan hormone estrogen pada wanita).\u003cbr /\u003e7. Kanker indung telur (Ovarium cancer).\u003cbr /\u003e8. Kanker leher rahim (Cervical cancer).\u003cbr /\u003e9. Kanker hati (Liver cancer).\u003cbr /\u003e10. Kelainan pada ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada kehamilan selanjutnya.\u003cbr /\u003e11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy).\u003cbr /\u003e12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).\u003cbr /\u003e13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).\u003cbr /\u003eTrauma muncul biasanya disebabkan karena ketakutan seorang perempuan jika mengalami akibat yang bisa diderita apalagi jika aborsi yang mereka lakukan tidak tuntas. Namun bagi perempuan yang melakukan aborsi secara tradisional terkadang lebih memiliki efek mental yang lebih. Karena peluang mengalami infeksi lebih besar. Ini banyak dialami oleh remaja atau perempuan yang belum menikah. Mereka akan lebih merasa tertekan dengan ketakutan untuk mengontrol kesehatan rahim mereka.\u003cbr /\u003eBahkan beberapa kasus yang terjadi pada perempuan yang sedang mengalami PAS, tidak mempunyai keinginan untuk memeriksakan kesehatan mereka ke dokter. Ini biasa diakibatkan karena tingkat kepercayaan diri dan merasa tidak berharga menghantui pikiran mereka sendiri. Ini banyak dialami oleh perempuan yang melakukan aborsi karena paksaan dari pasangan dan orang tua mereka.\u003cbr /\u003eBanyak sekali perempuan yang mengalami kehamilan terpaksa memilih aborsi karena paksaan. Mereka tidak punya kekuatan untuk mengatakan tidak dan menolak paksaan tersebut. Alasan paksaan dari seorang laki-laki biasanya disebabkan karena belum siap dari segi finansial dan takut pada orang tua mereka. Sedang alasan yang berasal dari paksan orang tua untuk mempertahankan image mereka karena malu pada masyarakat. Namun, jika ini kemudian dikaitkan dengan hukum maka hukuman terberat akan dijatuhkan pada perempuan sebagai pelaku aborsi.\u003cbr /\u003eKetakutan hidup dalam bayang-bayang penilaian masyarakat yang negatif karena mengalami kehamilan pra-nikah membuat seorang perempuan dan keluarga memutuskan untuk aborsi. Ini erat kaitannya dengan sistem nilai dan kepercayaan yang dianut seseorang. Agama dan moral menjadi tolak ukur banyak orang dalam menilai orang lain. Banyak peserta yang beranggapan bahwa orang yang melakukan aborsi tidak mendapatkan dua hal tersebut dengan cara yang tepat.\u003cbr /\u003eSejak kecil kita dididik untuk memiliki dan memahami dua hal tersebut. Apakah itu efektif, kembali kepada individu masing-masing. Bagaimana seseorang mengontrol diri tergantung bagaimana mekanisme pertahanan diri mereka. Pendidikan dalam keluarga akan sangat berperan penting dalam menjaga mekanisme pertahanan diri tersebut.\u003cbr /\u003ePerempuan yang memegang sistem nilai dan kepercayaan dimana aborsi adalah suatu tindakan yang tidak dibenarkan, biasanya lebih rentan mengalami trauma. Aborsi bukanlah keputusan yang mudah. Diperlukan kesiapan fisik dan mental melakukannya.\u003cbr /\u003e“Apa yang bisa kita lakukan untuk menekan angka aborsi?” tanya seorang peserta pada saat diskusi di Asset.\u003cbr /\u003eAborsi kerap diidentikkan menjadi masalah kaum perempuan saja. Asumsi itu masih banyak disimpan dalam memori masyarakat. Aborsi memang dilakukan dan dirasakan langsung oleh kaum perempuan, itu sudah tentu terjadi. Namun, timbulnya kehamilan melalui proses kerja sama intim antara laki-laki dan perempuan. Hal yang pertama adalah merubah asumsi itu, hingga muncul tanggung jawab bersama dan kesadaran bersama.\u003cbr /\u003eUntuk menekan angka aborsi, dalam beberapa diskusi kami lebih banyak membahas akar permasalahan yang menyebabkan adanya kehamilan tidak diinginkan hingga menyebabkan aborsi.\u003cbr /\u003eKurangnya pendidikan seks untuk remaja. Banyak dari klien kami yang sudah melakukan aborsi mengakui bahwa mereka tidak tahu sama sekali mengenai pendidikan seks. Bagaimana menjaga dengan baik kesehatan reproduksi mereka dan sulit membuat keputusan menolak jika terjebak dalam ajakan berhubungan seksual.\u003cbr /\u003e“Saya setuju jika pendidikan seks diberikan kepada setiap orang. Tapi, dengan adanya diskusi-diskusi seperti ini saya pikir akan terlihat seperti menakut-nakuti. Inikan cenderung akan membuat orang takut, bukan berpikir.” kata seorang peserta di Oxford.\u003cbr /\u003e“Saya pikir ini bukan menakut-nakuti tapi kita lebih berbicara pada pendidikan resiko. Orang-orang harus sadar bahwa segala sesuatu yang dilakukan akan selalu ada resikonya.” sanggah Miss Uun, peserta diskusi.\u003cbr /\u003eSelalu ada pilihan dalam hidup. Segala pilihan yang ada dihadapan kita, selalu diikuti oleh resiko. Kita selalu dididik mengenai apa yang baik dan apa yang salah. Tapi sangat jarang kita diberikan pengetahuan mengenai alasan mengapa hal itu salah atau benar sehingga resiko kadang terlupakan.\u003cbr /\u003eHasrat seksual tidak bisa dipungkiri ada dalam diri kita. Mengakui dan merasakannya adalah suatu hal yang normal. Semua tergantung pada pilihan anda mengendalikannya. Melakukan hubungan seks pra-nikah membutuhkan tanggung jawab besar. Melakukannya atau tidak adalah hak setiap orang. Pendidikan seks yang tepat dengan memasukkan informasi mengenai kesehatan reproduksi akan berguna dalam pembentukan sikap dan pengambilan keputusan. Khususnya kepada remaja, dengan adanya pendidikan seks akan membantu mereka dalam memilih informasi yang akurat dan tidak akurat sesuai dengan tatanan moral, apalagi jika dikaitkan dengan isu yang sensitif seperti seksualitas, aborsi dan kontrasepsi.\u003cbr /\u003ePermasalahan yang juga muncul pada kehamilan tidak diinginkan karena tingkat penggunaan kontrasepsi yang rendah di Indonesia. Metode kontrasepsi digunakan untuk mencegah kehamilan. Bagi pasangan pra nikah, satu-satunya alat kontrasepsi yang bisa dengan mudah mereka dapatkan adalah kondom. Kondom adalah selaput karet/latex yang dipasang pada penis selama berhubungan seksual sehingga mencegah sperma bertemu dengan sel telur.\u003cbr /\u003eSalah satu penyebab rendahnya pemakaian alat kontrasepsi terutama kondom karena adanya asumsi melegalkan hubungan seks. Hal tersebut erat kaitannya dengan rendahnya penggunaan kontrasepsi. Banyak pasangan yang malu untuk membeli kondom.\u003cbr /\u003eBudaya kita tidak memberikan ruang bagi seorang perempuan menjadi seorang single mother. Ini dirasakan bagi perempuan yang hamil sebelum adanya ikatan pernikahan. Judgement dari masyarakat menjadi hal yang menakutkan daripada menyelamatkan janin mereka. Di beberapa negara dimana aborsi legal misalnya, sebagian besar perempuan memutuskan untuk melakukan aborsi dengan kesadaran bahwa itu adalah hak reproduksi mereka. Sedang di Indonesia, tidak. Banyak perempuan yang melakukan aborsi dengan alasan takut pada orang tua, malu atau bahkan dipaksa.\u003cbr /\u003eLegal atau ilegalnya status hukum aborsi bisa saja bukan hal yang menentukan untuk menekan angka aborsi di Indonesia. Namun hanya akan mengubah aborsi yang tidak aman menjadi aman. Kita membutuhkan tindakan preventif. Samsara setuju bahwa pendidikan seks dengan dipaketkan dengan pendidikan resiko akan lebih bermanfaat sebagai suatu langkah awal.\u003cbr /\u003eKami sangat optimis bahwa perubahan akan muncul walau dengan mengadakan diskusi dalam lingkup yang kecil. Kedekatan personal terasa membantu dalam mengatasi dampak aborsi. Kepedulian terasa bersatu dengan kita pada saat-saat diskusi akan berakhir dengan beberapa tawaran dari peserta.\u003cbr /\u003e“Apa yang harus kami lakukan untuk membantu memulihkan perempuan atau pasangan kami jika mengalami PAS?”\u003cbr /\u003eHaru dan bahagia terasa mengelilingi hati kecil kami, Samsara Abortion Recovery. Terimakasih Pare.\u003c/div\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-8466013728769266939?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/8466013728769266939/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d8466013728769266939","title":"1 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/8466013728769266939"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/8466013728769266939"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/02/terimakasih-pare.html","title":"Aborsi VS Becak"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"1"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-2233082091101126373"},"published":{"$t":"2009-01-28T15:36:00.000-08:00"},"updated":{"$t":"2009-02-08T03:43:44.362-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Samsara"}],"title":{"type":"text","$t":"Bayi Jadi Tuyul?"},"content":{"type":"html","$t":"By: Sartika Nasmar\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi sebuah warung lesehan Pecel Pincuk Pare, Kediri. Kami kembali mengadakan diskusi yang kedua kalinya sebagai Program Sosialisasi dan Edukasi di SAMSARA. Selang satu hari setelah diskusi di sebuah asrama yang dihuni khusus wanita, Expert Camp. Tepatnya tanggal 22 Januari 2008, dalam diskusi kali ini kami mengundang salah satu lembaga kursus yaitu Access.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAwalnya aku menawari diskusi ini melalui telefon dan alhamdulillah Ramdan (General Manager Access) sangat menyambut baik penawaranku mewakili SAMSARA. Kami kemudian berjanji ketemu untuk menjelaskan lebih detail mengenai materi diskusi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePetang muncul, materi dan kuisioner belum selesai dicopy. Aku dan Inna khawatir terlambat dan teman-teman dari Access malah datang lebih dulu dari kami. Kami segera menyelesaikan pekerjaan kami dan menuju kos dengan motor pinjaman.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami tiba tepat pukul 07.00 di kos. Kami hanya ganti baju lalu langsung ke Pecel Pincuk dengan kecepatan tinggi. Akhirnya tiba. Kami parkir sepeda tua sewaan di tempat yang sudah ditentukan lalu masuk dan memilih tempat duduk tepat di tengah. Belum ada satu pun teman-teman dari Access yang datang. Kami menunggu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Mbak, aku curiga malam ini yang datang dari Access semuanya teacher, mana mereka minta diskusi Bahasa Inggris. Mampus dah..,” kataku ke Inna.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Iya, Tik. Aku kok rada-rada grogi juga yah?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ya udah mbak. Entar kita pakai bahasa Indonesia saja. Daripada ada kesalahan makna nantinya.” bujukku mencari selamat dunia akhirat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Iya, benar juga.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku sedikit lega. “Aman.” pikirku. Setidaknya malam ini aku tidak hanya menyelamatkan diriku dari ketidakcakapan berbahasa Inggris, tapi juga menyelamatkan Kapit yang juga akan hadir pada diskusi malam ini.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKapit adalah salah satu anggota Samsara di Bidang Sosialisasi dan Edukasi. Malam ini ia dijadwalkan akan membuka diskusi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi sela-sela kami menunggu aku menyusun materi dan kuisioner untuk dibagi kepada peserta diskusi. Satu per satu mulai bermunculan. Mereka memilih tempat yang berbeda dengan kami dan memesan makanan. Aku dan Inna akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Sepertinya dugaanku mulai terbukti sedikit demi sedikit. Yang datang sebagian besar adalah tenaga pengajar dari Access.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKapit datang dengan penampilan khasnya pakaian warna hitam. Nyaris tak terlihat. Ia langsung duduk di antara aku dan Inna. Aku mengeluarkan laptop dari tas Inna. Malam itu aku menjadi notulen.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami masih menunggu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDiskusi dimulai pukul 19.53 Wib. Kapit membuka diskusi. Suasana menjadi hening dan serius. Ia memperkenalkan Samsara, lalu aku dan Inna. Ia kemudian berbicara sedikit mengenai aborsi, isu yang ada di sekitar kita namun tidak banyak yang ingin membicarakannya terbuka. Tak bisa kita pungkiri, itu memang ada.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMateri selanjutnya mengenai aborsi secara garis besar dijelaskan oleh Inna. Ia mengawali dengan melanjutkan obrolan dari Kapit. Banyak yang tidak menyadari bahwa aborsi telah banyak terjadi tanpa sadar bahwa jumlah kasus aborsi di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Bahkan aborsi menyumbang 11 persen untuk Angka Kematian Ibu (AKI) dimana Indonesia memegang rekor tertinggi di ASEAN. Dan banyak yang beranggapan bahwa aborsi hanya masalah perempuan tanpa sadar bahwa lelaki juga bisa mengalami efek psikologis.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAborsi yang tidak aman dan tidak memenuhi standar medis hingga kini masih menjadi pilihan paling banyak bagi perempuan yang belum menikah. Tapi aborsi dengan cara ini juga masih banyak digunakan oleh perempuan sudah menikah. Ini disebabkan karena status hukum aborsi di Indonesia masih ilegal.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeperti biasa Inna selalu menanyakan kepada peserta pertanyaan yang sama mengenai aborsi. “Apa yang terlintas dalam kepala anda pertama kali mendengar aborsi?”\u003cbr /\u003e“Saya belum pernah aborsi.” kata salah seorang peserta pria sambil tertawa. Peserta yang lain ikut tertawa.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami menunggu jawaban selanjutnya, cukup lama kemudian muncul jawaban baru dari peserta pria lain.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Yang terlintas dalam pikiran saya, aborsi adalah perempuan dan remaja. Tapi apakah ada data yang menggambarkan seberapa besar porsi dilakukan oleh remaja?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami sudah sangat sering mendengar statement bahwa pelaku aborsi terbesar adalah seorang remaja. Namun jika melihat penelitian dari Yayasan Kesehatan Perempuan pada tahun 2003 menyebutkan bahwa 87 persen yang melakukan aborsi adalah ibu rumah tangga. Sedangkan 12 persen lainnya adalah remaja putri. Tidak hanya satu penelitian yang menunjukan bahwa sebagian besar pelaku aborsi terbesar di Indonesia adalah ibu rumah tangga. Tapi ini bisa jadi hanya data berbasis klinis. Lalu bagaimana dengan wanita yang melakukan aborsi diam-diam di tenaga media ilegal atau dukun? Bisa jadi pula jumlah 2.600.000 aborsi di Indonesia ini malah jauh lebih besar jika menambah jumlah angka yang tidak terjangkau. Misalnya pada beberapa kasus aborsi traadisional yang tidak dilakukan di tenaga medis ahli.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eInna melanjutkan materinya mengenai proses aborsi yang dilakukan beberapa orang. Bagaimana aborsi tidak aman bisa lebih menyakitkan daripada melahirkan normal. Seorang peserta wanita yang hadir tiba-tiba menjerit dan berbalik arah seolah tak ingin mendengar Inna. Suasana menjadi sedikit tegang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAborsi juga menjadi lahan para mafia aborsi yang banyak dilakukan oleh tenaga medis ilegal, bahkan banyak dilakukan oleh dokter dan bidan. Belum lagi oleh jaringan-jaringan tertentu yang menjual obat-obatan untuk aborsi dari tangan ke tangan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSuasana makin tegang, sangat terlihat pada ekspresi tiga peserta wanita. Tiba-tiba muncul pertanyaan yang mengejutkan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Mbak, benar gak sih soal mitos bayi yang diaborsi bisa jadi tuyul?” tanya Ramdan membuat candaan. Semuanya tertawa. “Nih, buat refreshing nih. Tegang semua soalnya.” katanya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeorang peserta pun sempat bertanya peran Samsara seperti apa dalam menangani persoalan aborsi ini. Kami selalu menerima pertanyaan yang sama dalam setiap diskusi dan selalu pula diawal diskusi kami menggambarkan visi Samsara untuk membantu memulihkan penderitaan seseorang pasca aborsi secara psikologis. Yang perlu digarisbawahi bahwa kami tidak mendukung aborsi. Kami sering menerima permintaan dari beberapa pasangan melalui email menanyakan lokasi aborsi yang aman. Kami lebih menyarankan untuk ke dokter dengan memberikan mereka pilihan dan gambaran resiko yang akan mereka terima dari setiap pilihan itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBeberapa terlihat tercengang. Beberapa juga bingung.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDalam beberapa hubungan dalam arti pasangan, jika dihadapkan permasalahan pasca aborsi. Bagaimana cara mengkonseling pasangan? Kebanyakan orang yang mengalami Post Abortion Syndrom adalah wanita namun bukan berarti lelaki tidak bisa mengalaminya. Ini juga menjadi materi menarik dalam diskusi malam itu. Ini merupakan pertanyaan dari seorang peserta pria. Lelaki harus lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan atau pasangannya. Mengalami PAS biasanya akan banyak air mata dan sangat menghabiskan energi. Kita sebaiknya lebih melihat pada akar permasalahan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMisalnya pasangan kita mengalami gelisah. Kita harus mencari tahu apa yang menyebabkan gelisah itu. Orang yang mengalami trauma cenderung ingin melupakannya, namun sebenarnya hal yang perlu kita lakukan adalah mengakui adanya sebuah permasalahan. Itu akan membantu memunculkan kesadaran dan kita akan lebih mudah memahami situasi pasangan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Proses pemulihan lebih sulit dari proses pembikinan.” canda Ramdan lagi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSangat jarang kita diajarkan untuk memahami emosi-emosi yang terekam dalam hidup. Kita malah cenderung berusaha untuk merasa kuat. Tidak ingin mengakui masalah hingga akhirnya tersimpan terus dalam alam bawah sadar kita dan mengakibatkan depresi berkepanjangan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eYang perlu dilakukan dalam pemulihan adalah adanya keinginan dan lingkungan yang mendukung. Walaupun laki-laki dan perempuan melakukan konseling atau pendampingan dalam jangka waktu lama tanpa ada komitmen untuk sembuh bisa saja gagal. Konselor bukan pemeran utama tapi hanya pemeran pembantu untuk memulihkan seseorang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Untuk membuat orang percaya dengan kita biasanya membutuhkan rekomendasi dari medis.\u003cbr /\u003eApakah Samsara hingga hari ini telah bekerjasama dengan tim medis?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami menyadari bahwa bekerjasama dengan tim medis misalnya seorang dokter akan sangat mendukung gerakan Samsara walau kami lebih fokus pada psikologis. Namun, kami juga memikirkan seperti apa kami dapat memberikan kontribusi untuk menggadeng seorang dokter dalam organisasi kami sementara kami masih mengerjakan proyek idealis.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Yakinkan mereka untuk melakukan aborsi dengan baik.” pesan seorang peserta lagi.\u003cbr /\u003eInna tersenyum. Aku tidak tahu apa Kapit juga senyum, terlalu gelap untuk memastikannya. Yang pasti aku tidak tersenyum karena sibuk memperhatikan yang lain.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Lalu apa ada solusi dari pemerintah untuk memperkecil jumlah aborsi?” tanya peserta ke Inna.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUpaya pemerintah saat ini hanya pada penekanan angka kehamilan dan penularan penyakit menular seks yakni memberikan kesadaran akan penggunaan alat kontrasepsi.\u003cbr /\u003eSaat menulis ini aku tiba-tiba ingat pada International Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo, Mesir pada tahun 1994. Sebanyak 179 delegasi hadir dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh United Nation. Dalam pertemuan itu menyepakati visi 20 tahun ke depan yang berisi panduan nasional dan internasional keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pencegahan HIV/AIDS, pemberdayaan perempuan serta usaha pembangunan yang lain. Salah satu delegasi yang ikut menandatangani kesepakatan tersebut adalah Indonesia.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSalah satu kesepakatan Kairo pada saat itu menegaskan:\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003e\u003cbr /\u003eAll governments and relevant intergovernmental and non-governmental organizations are urged to strengthen their commitment to women health, to deal with the health impact of unsafe abortion as a major public health concern and reduce the recourse to abortion through expanded and improved family planning services. Prevention of unwanted pregnancies must always be given the highest priority and all attempts should be made to eliminate the need for abortion. Women who have unwanted pregnancies should have ready access to reliable information and compassionate counseling. Any measures or changes related to abortion within the health system can only be determined at the national or local level according to the national legislative process. In circumstances in which abortion is not against the law, such abortion should be safe. In all cases, women should have access to quality services for management of complications arising from abortion. Post-abortion counseling, education and family planning services should be offered promptly, which will also help to avoid repeat abortions.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeluruh pemerintah dan organisasi lintas-departemen dan LSM, didorong untuk memperkuat komitmen pada kesehatan perempuan, untuk menyikapi dampak kesehatan atas aborsi yang tidak aman sebagai masalah kesehatan publik yang utama dan untuk menekan pengulangan aborsi melalui pelayanan perencanaan keluarga yang telah lebih dikembangkan dan diperbaiki. Pencegahan kehamilan yang tak diinginkan harus selalu menjadi prioritas tertinggi dan semua usaha harus dilaksanakan untuk melenyapkan kebutuhan akan aborsi. Perempuan yang mengalami kehamilan tak diinginkan harus memiliki akses yang siap terhadap informasi yang dapat diandalkan dan konseling yang manusiawi. Setiap tindakan dan perubahan yang berhubungan dengan aborsi di dalam sistem kesehatan hanya dapat ditentukan pada tingkat nasional atau lokal, tergantung dari proses legislatif nasional. Dalam segala kasus, perempuan harus punya akses untuk pelayanan yang berkualitas dalam manajemen terhadap komplikasi yang muncul dari aborsi. Konseling paska aborsi, pendidikan dan pelayanan perencanaan keluarga harus ditawarkan yang mana akan juga membantu menghindarkan pengulangan aborsi di kemudian hari.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAborsi merupakan bagian dari hak reproduksi dan kesehatan reproduksi seseorang jika memang itu perlu. Tapi aku tetap berpikir bahwa pemenuhan tetap harus sesuai dan diatur jelas. Pemberian jalan keluar untuk Kehamilan Tidak Diinginkan dan menekan aborsi tidak aman adalah kuncinya. Legal atau illegal aborsi dengan akses atau tanpa akses kontrolnya ada pada anda. Seperti pesan yang ditulis oleh seorang psikolog dari Amerika, Vincent Rue;\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Pengguguran berakibat menyakitkan, tanpa memperhatikan seberapa besar kepercayaan religiusnya seorang perempuan atau bagaimana positif keyakinannya untuk membuat keputusan aborsi.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTentukan pilihan anda, jangan sampai apa yang anda korbankan lebih berharga dari harga yang harus anda bayar, Post Abortion Syndrome. \u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-2233082091101126373?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/2233082091101126373/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d2233082091101126373","title":"3 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2233082091101126373"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2233082091101126373"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/01/bayi-jadi-tuyul.html","title":"Bayi Jadi Tuyul?"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"3"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-1086204743853917926"},"published":{"$t":"2009-01-24T10:42:00.000-08:00"},"updated":{"$t":"2009-01-29T01:01:47.875-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Samsara"}],"title":{"type":"text","$t":"“Why, Ough \u0026 Allahu Akbar”"},"content":{"type":"html","$t":"By: Sartika Nasmar\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e20 Januari 2009, pukul 18:59 Wib. Dalam sebuah ruangan berukuran 3 x 4 meter di Expert Camp, salah satu asrama untuk wanita yang terletak di Jalan Anyelir, Pare. Sebuah diskusi kecil akan segera di mulai. Malam itu agenda diskusi akan membahas seputar Kesehatan Reproduksi dan Aborsi. Mentor asrama, Ms. Vivin kemudian mempersilahkan kami untuk memulai diskusi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMalam ini SAMSARA diwakili oleh dua orang anggota, Inna Hudaya (Managing Director \u0026amp; Konselor) dan Sartika Nasmar (Divisi Sosialisasi \u0026amp; Edukasi). Sebelum di mulai, aku membagikan 10 rangkap materi mengenai data aborsi dan efek secara fisik dan mental. Sedang Inna Hudaya menuju ke depan dan bersiap-siap memulai diskusi. Materi telah tersebar ke peserta program, sebagian dari mereka sedang membacanya. Inna Hudaya kemudian memperkenalkan SAMSARA sebagai sebuah organisasi non-profit untuk membantu pemulihan bagi orang-orang yang menderita akibat efek pasca-aborsi sekaligus memberi edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan aborsi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMalam itu peserta yang hadir sebanyak 20 orang. Pria delapan orang dan perempuan 12 orang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIntinya, kami ingin mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dapat kita share dalam diskusi mengenai kesehatan reproduksi dan aborsi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePerbincangan dimulai dengan melempar isu Kesehatan Reproduksi. Tak ada tanggapan. Entah. Kesehatan reproduksi tentu saja tidak hanya  penting diketahui oleh wanita saja, tapi pria juga perlu memahaminya apalagi setelah menikah. Sebagian peserta pria tersenyum tipis mendengar tanggapan Inna. Sebagian lagi terlihat geli dan malu-malu.\u003cbr /\u003eSesuai target dan materi sasaran, kita akan lebih banyak membahas mengenai aborsi dan efeknya yang dapat menyerang fisik dan mental (PAS).\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKemudian Inna Hudaya memberikan pertanyaan kedua. “Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata aborsi?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSatu per satu memberi jawaban yang berbeda.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“About kill baby,” jawab Ms. Vivin. “And then open mouth like this…” sambil membuka mulutnya lebar seolah menunjukkan ekspresi mengagetkan. Kemudian muncul pendapat berbeda.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Risk of sex,”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“The big crime,”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Danger for self,”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Just for women,”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Big sin,”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Consecuenci of free sex,”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Low education about sex education,”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeks selalu menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan, mungkin seperti itu yang terjadi malam itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKemudian tak ada ekspresi mengagetkan ketika Inna mulai mengungkapkan jumlah aborsi di Indonesia setiap tahunnya sebanyak 2.600.000 kasus. Para peserta program terlihat menyimak fakta-fakta tersebut.  Berlanjut pada fakta pelaku aborsi yang sebagian besar dilakukan oleh ibu rumah tangga. Ruangan seketika ramai dengan pertanyaan,\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Why?” atau sekedar teriakan, “Ouuh..,”.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eInna masih memberikan fakta selanjutnya bahwa itu yang melakukan di tempat-tempat yang dianggap legal seperti dokter dan tenaga medis legal. Belum termasuk para post-abortus yang melakukan aborsi secara tradisional atau dengan jamu-jamuan dan tenaga medis illegal. Pembicaraan berlanjut untuk mensosialisasikan Post Abortion Syndrom kepada peserta. Ini adalah kali pertama mereka mendengar gejala psikologis yang dapat menyerang siapa saja pasca aborsi. Semua gejala-gejala disebutkan oleh Inna.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAborsi sudah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan pada zaman dahulu, proses aborsi dilakukan dengan cara menendang atau memukul bagian perut ibu lalu dilanjutkan dengan mengendarai kuda yang berlari kencang hingga bayi lahir prematur. Namun jika setelah bayi lahir dalam keadaan masih bernyawa maka bayi kemudian dibunuh atau ditinggalkan begitu saja.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Oh, God!?!” teriak Ms. Vivin. Ia menjerit beberapa kali. Peserta wanita lain hanya bisa, “Haaaa…,” dengan suara yang sedikit tertahan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Apa alasan mereka melakukan aborsi?” tanya salah seorang pria.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Bagi ibu rumah tangga, faktor ekonomi, kegagalan kontrasepsi, jarak anak yang terlalu dekat, tuntutan pekerjaan, hasil perslingkuhan, usia ibu yang sudah tua dan beberapa di antaranya atas permintaan suami mereka. Sedang bagi remaja biasanya dengan alasan karena belum menikah dan tidak siap, takut pada orang tua, malu, gagal kontrasepsi, atas perintah orang tua atas nama image, dan hasil perkosaan hingga menyebabkan depresi.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eYang paling penting untuk diketahui adalah perubahan konstruksi atau pola pikir yang berkembang di masyarakat bahwa pelaku aborsi terbesar dilakukan oleh remaja atau wanita yang belum menikah. Tapi, menurut hasil penelitian dari beberapa lembaga mengatakan bahwa sebagian besar pelakunya adalah ibu rumah tangga. Ini kemudian secara tidak langsung menciptakan sebuah diskriminasi kepada wanita yang belum menikah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Bagaimana dengan status hukum aborsi di Indonesia?” tanya seorang peserta wanita.\u003cbr /\u003eDi Indonesia, aborsi masih dianggap illegal dan kriminal. Tapi, dianggap tidak melanggar hukum dan dibolehkan jika kehamilan akan mengancam keselamatan ibu dan bayi serta apabila kehamilan tersebut adalah hasil sebuah perkosaan. Tapi pada kenyataannya pun tidak seperti itu, karena banyak aborsi dilakukan dan diijinkan sebagai contoh dengan alasan ekonomi tadi. Tapi tetap saja jumlah aborsi yang tidak terdeteksi karena dilakukan di tempat-tempat illegal menjadi sulit dijamah. Apalagi banyak pula wanita yang belum menikah dan mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang bermaksud aborsi dengan cara aman, misalnya dokter kemudian mendapat tekanan psikologis berupa judgement  sehingga memutuskan memilih ke tenaga illegal.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSejenak kita melihat definisi dan jenis aborsi. Aborsi adalah penghentian kehamilan di mana fetus belum mempunyai kemampuan untuk hidup di luar kandungan. Jenisnya terbagi dua, yaitu spontaneous abortion atau aborsi yang terjadi secara spontan dan provokatus abortion atau aborsi yang terjadi karena disengaja dan dengan menggunakan alat atau bahan tertentu untuk menghentikan kehamilan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Saya ingin mempromosikan buku, kalian bisa membaca dan mengetahui mengenai aborsi mulai dari sebuah pengalaman hingga fakta ilmiah.” kata Inna.\u003cbr /\u003eSepertinya tiada yang tertawa dalam ruangan itu selain saya. Aku menganggap dalam SAMSARA, salah satu divisi sedikit harus direvisi. Mungkin seperti Divisi Sosialisasi, Edukasi \u0026amp; Promosi. Mungkin??\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Hahahahaaaa…”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKembali ke topik. Banyak yang tidak ingin membicarakan mengenai aborsi tapi ini tidak berarti bahwa ini tidak terjadi. Di kota-kota besar mungkin telah terekspose dengan sempurna dalam bentuk sebuah tindakan kriminal tanpa peduli apa alasan seorang wanita melakukannya. Bahkan, kami percaya bahwa di desa kecil seperti Pare pun aborsi dapat kita temukan. Lalu, mengapa tak ingin memunculkan ini sebagai sebuah bahan untuk sebuah pelajaran untuk menjadi lebih waspada dan hati-hati.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSAMSARA hadir untuk mensosialisasikan dampak aborsi secara psikologis yang dapat diderita bukan hanya kepada perempuan sebagai post-abortus saja, tapi juga dapat terjadi pada lelaki, keluarga, teman dan orang-orang yang berada di lingkungan post-abortus. Banyak sekali yang mengalaminya tapi tidak sadar bahwa apa yang mereka rasakan adalah Post Abortion Syndrom (PAS). Dan tidak banyak yang dapat mempertahankan semangat hidupnya akibat PAS, rasa bersalah yang tidak mampu dipahami menjadi hal tersulit yang dapat menyebabkan berkurangnya kepercayaan pada kelanjutan hidup seorang post-abortus, ditambah dengan judgement dari masyarakat sebagai pembuat dosa karena telah menghilangkan nyawa, misalnya. Semua orang dengan tingkat religi yang tinggi atau rendah pun akan menganggap aborsi sebagai sebuah kesalahan, bahkan dosa. Namun, kembali kepada hati nurani. Antara ibu dan bayi. Bayi yang telah di aborsi sudah meninggal, tak bisa kembali lagi tentunya. Sedang ibunya, masih hidup dan punya hak untuk mendapatkan kembali semangat hidupnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAborsi lebih menyakitkan daripada melahirkan dengan normal. Mengapa? Karena pada saat anda memutuskan untuk melakukan aborsi, bisa jadi tubuh dan mental anda belum siap mengeluarkan bayi. Jika anda melewati proses melahirkan normal, pada saat bayi keluar dari rahim maka serviks atau mulut rahim akan terbuka dengan alami sesuai dengan jalan yang memang telah terbentuk alami. Sedangkan saat aborsi, serviks dipaksa untuk terbuka dalam diameter 6-7 milimeter, belum lagi ketika alat atau bahan tertentu dimasukkan untuk membunuh janin yang ada dalam uterus (rahim). Ini bisa megakibatkan pendarahan hingga menyebabkan kematian.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami bahkan pernah mendapat cerita dari salah satu klien yang melakukan aborsi secara tradisional dengan menggunakan krim atau cairan untuk melemahkan janin lalu ditambah dengan memasukkan tiga batang pohon singkong untuk memecahkan ketuban melalui vagina hingga ke rahim. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Allahu Akbar..,” teriak salah satu peserta wanita yang berada di samping saya. Histeris dan berhasil mengagetkan saya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAborsi adalah salah satu konsekuensi akibat minimnya pengetahuan seks. Kebanyakan orang beranggapan bahwa seks hanya sebatas kesenangan tanpa memikirkan harga yang harus dibayar. Apalagi bagi perempuan misalnya karena dalam hal ini, yang paling merasakan dampak kerugian dan harus membayar mahal atas ketidakpahaman mengenai seks dalam arti benar. Membayar mahal dalam arti bukan materi, melainkan sebagai contoh kehamilan yang tidak diinginkan hingga aborsi dan harus merasakan kesakitan luar bisa apalagi jika traumatis menghantui mereka. Bukankah itu mahal?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTiba-tiba, ada pertanyaan baru.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Apa yang harus saya lakukan jika seorang teman meminta tolong diantar untuk melakukan aborsi?” pertanyaan ini terlontar dari seorang wanita. Ia terdengar gugup.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tolak.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAnda kemungkinan besar dapat mengalami PAS walau hanya sebatas mengantar. Aku sedikit ingin berbagi, saat aku membaca beberapa email dari beberapa klien SAMSARA yang berbagi pengalaman aborsinya. Aku berpikir untuk menulisnya dan aku coba. Setelah itu, aku gelisah dan beberapa kali mimpi buruk hingga harus konseling dengan salah satu konselor di SAMSARA. Sekali lagi, aku hanya membaca dan menulis lalu aku bisa ikut mengalami gejala yang sama.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBanyak pertanyaan malam itu hingga pada keadaan menyalahkan kebudayaan barat yang mulai mempengaruhi budaya timur. Lalu jika itu memang benar ada, untuk apa pikiran diciptakan dalam hidup anda? Budaya barat, baik atau buruk, saya beranggapan bahwa jungkir balik pun budaya tersebut anda anggap akan mempengaruhi anda, jika anda menggunakan pikiran untuk mengontrol sistem pengendalian yang anda anggap baik atau buruk anda gunakan, maka tidak ada hal yang negative yang akan anda dapatkan.\u003cbr /\u003eDiskusi selesai pukul 08.30. Aku dan Inna melanjutkan diskusi di kos pagi harinya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tik, jumlah aborsi  kan ada 2.600.000 tuh tahun 2006. Kamu tahu gak berapa kasus yang terjadi perharinya. Coba kamu bagi sekarang.” kata Inna.\u003cbr /\u003eAku kemudian memanfaatkan fasilitas kalkulator di handphoneku. Kubagi 2.600.000 dengan jumlah hari dalam setahun, 365. Hasilnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“7.120 orang mbak. Gila… itu per hari? Jadi setiap jam ada berapa yah yang aborsi?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJumlah yang mengagetkan jika kita menghitung dalam skala atau frekuensi hari di banding tahun. Lalu bisakah anda bayangkan jika 2.600.000 perempuan itu semuanya mengalami Post Abortion Syndrom? Semoga tidak tentunya. Pesan terakhir untuk menghindarinya, jika anda setuju.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Save your body… save your life..” pesan SAMSARA.\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-1086204743853917926?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/1086204743853917926/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d1086204743853917926","title":"2 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1086204743853917926"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1086204743853917926"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/01/why-ough-allahu-akbar.html","title":"“Why, Ough \u0026 Allahu Akbar”"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"2"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-271658570167744104"},"published":{"$t":"2008-11-27T06:08:00.000-08:00"},"updated":{"$t":"2009-01-29T00:59:34.912-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Memories"}],"title":{"type":"text","$t":"Ucapan Selamat Malam Yang Tertunda"},"content":{"type":"html","$t":"Hari kedua saat aku berada di Pare, Jawa Timur. Aku menghabiskan malam bersama Mbak Inna di sebuah warnet memanfaatkan Paman Google. Internet memang terkadang membuat kita lupa waktu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tik, dah selesai belum?” tanya Mbak Inna.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Iya, mbak. Dikit lagi.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku  segera menyelesaikan pekerjaanku. Berpamitan dengan Paman Google lalu menuju operator. 15 menit lagi pukul 22:00 wib. Gerbang kos akan segera ditutup. Kami mengambil sepeda onthel di tempat parkir lalu mengayuhnya dengan kecepatan yang biasa-biasa saja menuju kos. Pagar tinggi berwarna hijau di depan mata dan dalam keadaan tergembok. Kami terlambat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Gawat.” pikir kami.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Bagaimana masuknya?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeorang wanita dengan mengendarai motor Shogun juga singgah di depan kos kami. Ternyata dia juga tinggal di kos yang sama denganku. Namanya Diah. Badannya gemuk. Tomboy. Dia agak marah melihat gerbang yang terkunci.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Sial. Padahal aku sudah sms Mas Ari. Kosnya jangan ditutup, aku lagi ma’em,” katanya.\u003cbr /\u003eDia kemudian mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menghubungi Ari, penjaga kos. Tidak ada jawaban. Dia semakin marah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami menunggu sambil berpikir. Aku tidak tahu Diah memikirkan apa. Tapi aku dan Mbak Inna sama-sama memikirkan harus tidur di mana malam ini. Memanjat pagar sempat singgah dalam benak kami, tapi tak mungkin membiarkan sepeda terparkir di luar gerbang. Secara, itu sepeda sewaan.\u003cbr /\u003eMbak Inna menghubungi Kapit, seorang teman yang tinggal di Pare. Berharap ada pertolongan di saat-saat genting seperti ini. Selang beberapa menit ia tiba. Belum berkata apa-apa, ia sudah tertawa cekikikan melihat nasib kami yang terlantar.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDiah pamit akan nginap di kos temannya. Sayang sekali tak mengajak kami.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami terpaksa menumpang di teras Daffodils, salah satu lembaga kursus di Pare. Letaknya tepat di depan kos kami. Di atas kursi bambu kami bertiga bercerita. Tertawa meski bingung.\u003cbr /\u003eLapar menyerang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tok..tok..tok.., “\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWah, ada penjual bakso. Aku dan Mbak Inna makan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKapit mengetuk pintu kantor Daffodils. Ternyata ada pria di dalam. Namanya Momo. Ia bekerja di Daffodils. Beruntung karena ia dan Kapit saling kenal. Dia kemudian mengijinkan kami menginap di salah satu kelas bagian belakang dengan syarat hars bangun sebelum pukul 06:00.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Alhamdulillah,” pikirku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami masih duduk di teras, bercerita. Tak peduli malam sudah larut. Kami bahagia, setidaknya sudah mendapat tempat untuk tidur. Saatnya bersantai.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMbak Inna memanjat sebuah pohon jambu yang ada di depan Daffodils menikmati rokok Tali Jagatnya. Aku duduk di kursi bambu sambil bersandar di dinding. Kapit duduk di lantai depan pintu kantor Daffodils.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMalam semakin larut. Sudah tak ada orang yang berkeliaran. Tak ada suara kecuali suara kami bertiga menemani malam. Kami memutuskan masuk ke dalam kelas, mencoba istirahat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi dalamnya ada 31 kursi plastik, warna hijau, mengelingi ruangan berbentuk U. Di sisi kanan ada meja dan kursi untuk guru alias teachernya. Ada Whiteboard. Sebuah kipas angin Panasonic yang terpasang di dinding mendinginkan ruangan. Dan lantai dibalut karpet.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSangat nyaman untuk ukuran orang-orang terlantar seperti kami malam itu. Masing-masing mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Aku memilih di samping kanan meja guru. Kapit berbaring di atas kursi dan Mbak Inna masih santai, belum memilih tempat. Ia kemudian mengambil sebuah spidol dan menulis di papan tulis. Sebuah puisi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSatu,dua, lelaki perempuan di setengah malam\u003cbr /\u003eKetuk 3 kali dan bulan mengintip di balik dinginnya malam\u003cbr /\u003eRona merah sembunyi pada lesung pipimu\u003cbr /\u003eTali hitam di atas pundakku\u003cbr /\u003eRambutnya yang manja\u003cbr /\u003eKantuk yang tertahan di balik pagar\u003cbr /\u003eUcapan selamat malam yang tertunda…\u003cbr /\u003eHave a nice dream..\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku tersenyum  membaca puisinya. Aku masih baring di lokasi yang aku pilih. Mbak Inna belum mau tidur. Kapit sibuk menerima telefon. Mbak Inna kemudian berlatih yoga. Ia memang sering melakukannya. Ia mempelajari semua gerakan dari buku. Badannya lentur. Wajahnya tenang. Aku senang melihatnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKapit datang membawa dua gelas kopi hitam. Kantuk lenyap seketika digoda kopi dan tawa. Ucapan selamat malam dan mimpi indah pun tertunda.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePukul 03:00. Aku kembali ke tempat tidurku yang kuanggap nyaman. Kembali mencoba memejamkan mata. Aku menyetel alarmku jam 05:15. Pintu gerbang kos akan dibuka 05:30, berharap bisa kembali ke kamar tepat waktu. Aku harus kursus jam 05:30.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAlarmku berbunyi. Mbak Inna masih tidur. Kapit tak ada, ia tidur bersama Momo. Aku membangunkan Mbak Inna. Keluar dari kelas, Kapit sudah menyiapkan motornya, ia akan segera pulang ke rumah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Aku pulang dulu yah,” katanya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Iya, thanks yah..” kataku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku dan Mbak Inna menuju ke depan gerbang. Belum terbuka. Aku menikmati udara pagi, meski kantuk yang tersisa masih terasa. Gerbang dibuka, kami mengayuh sepeda ke tempat parkir kos. Lalu masuk kamar. Mbak Inna melanjutkan tidurnya. Aku bersiap-siap berangkat kursus meski sudah terlambat.\u003cbr /\u003eSepeda onthel sewaanku menemani perjalananku. Mata kupaksa untuk menikmati pagi sambil mengingat kejadian semalam.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tak ada ucapan selamat malam dan mimpi indah. Tapi selalu akan ada kenangan yang indah,” pikirku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePare, 13 Agustus 2008.\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-271658570167744104?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/271658570167744104/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d271658570167744104","title":"6 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/271658570167744104"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/271658570167744104"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/11/ucapan-selamat-malam-yang-tertunda.html","title":"Ucapan Selamat Malam Yang Tertunda"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"6"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-1903815478506044703"},"published":{"$t":"2008-09-26T09:26:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-30T03:14:08.647-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Memories"}],"title":{"type":"text","$t":"Kali Pertama ke Pare"},"content":{"type":"html","$t":"Pagi itu, pertengahan bulan Agustus di Yogyakarta. Aku telah bersiap-siap untuk keberangkatanku ke Jawa Timur. Tepatnya ke Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Sebuah tas yang lumayan besar berisi pakaian dan kantong plastik putih berisi selimut dan buku telah siap menemani perjalananku. Pukul 8.30, sebuah mobil dari sebuah agen perjalanan akan menjemputku. Aku duduk di sebuah ayunan yang terletak di depan kosku menunggu.\u003cbr /\u003eBunyi klakson mobil terdengar. Bunyinya bukan berasal dari mobil, tapi dari handphoneku, tanda pesan masuk. “Tik, kamu tunggu di luar yah. Aku sudah di jalan menuju kosmu.” Sms itu dari Inna. Seorang teman yang akan berangkat bersamaku ke Pare. Ini adalah kali kedua ia ke sana. Sedang aku, adalah pertama kali. Penasaran mengganggu di kepalaku. Seperti apa desa ini?\u003cbr /\u003eMobil akhirnya tiba. Aku mengangkat barangku ke dalam mobil. Aku dan Inna duduk paling depan. Kami berangkat. Satu jam, dua jam lalu enam jam kemudian kami tiba di Kabupaten Kediri.\u003cbr /\u003e“Assalamu Alaikum,” sapaku untuk kota ini. Kata ibuku jika kali pertama datang ke sebuah tempat harus ucapkan salam. Itu selalu kuingat.\u003cbr /\u003eSatu jam kemudian. Sebuah gerbang tertulis Selamat Datang di Kecamatan Pare menyambut rasa penasaranku. Sawah dan perkebunan tebu menjadi sasaran empuk mata menikmati keindahan desa sepanjang jalan.\u003cbr /\u003e“Belok kiri pak,” kata Inna ke supir.\u003cbr /\u003e“Tik, kita singgah di warung Pak Nur saja yah untuk sementara. Kita bisa makan di sana, bisa ngutang juga loh. Abis itu, kita cari kos lalu daftar kursus.” kata Inna.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003eTujuanku ke Pare adalah kursus Bahasa Inggris. Daerah ini dikenal dengan julukan Kampung Inggris, yaitu di desa Tulungrejo, ada sekitar 60-an lembaga kursus di sini. Murah dan kualitasnya tidak kalah dengan tempat kursus yang mahal, menurut Inna. Dan aku akan tinggal di sini ini selama satu bulan.\u003cbr /\u003eKami memasuki gang, jalannya lumayan rusak. Kami tiba di rumah Pak Nur. Teriakan histeris Pak Nur menyambut Inna, cukup mengagetkanku. Beberapa pria yang menikmati hidangan di warung memperhatikan kami. Aku berkenalan dengan Pak Nur dan istrinya. Rambut Pak Nur seperti vokalis Nidji. Ia lucu. Bahasanya Indonesia campur Inggris. Meski tak pernah ikut kursus, tapi ia bisa menggunakan Bahasa Inggris walau sedikit kacau. Setidaknya, ia masih lebih bisa dariku. Mungkin? Hahaha…\u003cbr /\u003eKami memesan makanan. Istri Pak Nur yang menyiapkannya. Inna membuat es teh. Saat makan, beberapa teman Inna mendatangi kami. Mereka berbincang, bertanya kabar dan membicarakan brondong yang ikut kursus di sini. Menurut Inna, mereka menjadi salah satu hiburan paling menarik di desa ini. Aku tertawa mendengar perbincangan mereka. “Sepertinya menarik,” pikirku.\u003cbr /\u003eDi dinding warung Pak Nur banyak potongan koran yang ditempel. Semua berisi informasi tentang pariwisata dan tempat kursus di Pare. Sangat menarik. Berbagai macam tempat wisata terasa sangat menyenangkan di potongan koran tersebut. Gunung Kelud, candi peninggalan Majapahit, gua dan air terjun. Aku berjanji akan mengunjunginya selama aku berada di desa ini.\u003cbr /\u003eSetelah makan, kami berjalan sekitar 20 meter dari rumah Pak Nur. Di depan tertulis Lucky House, salah satu kos-kosan yang tersedia di desa ini. Ternyata semua kamar telah disewakan. Kami bingung. Kami memutuskan untuk menyewa satu kamar di rumah Pak Nur saja. Ia pun mengiyakan. Semua barang kami letakkan di sebuah kamar. Hanya ada lemari dan kasur kapok. Itu sudah cukup menurut kami dan sesuai harga, 75 ribu per bulan.\u003cbr /\u003eUrusan kamar selesai, setidaknya untuk sementara. Selanjutnya kami mencari tempat kursus. Kami meminjam sepeda mini milik istri Pak Nur. Inna memboncengku. Sungguh menggelikan, karena ukuran badan kami berdua serasa menyiksa sepeda itu. Tawa pun menemani pencarian kami.\u003cbr /\u003eDaffodils, lembaga kursus pertama yang kami kunjungi. Seorang wanita menyambut kami. Namanya Mita. Ia bekerja di Daffodils bagian office. Badannya agak kecil, rambut pendek dan ramah.  Beberapa program sudah tidak menerima peserta lagi. Yang tersisa hanya program Pre-Intermediete. Di program ini, banyak diskusi dan debat dalam Bahasa Inggris. Inna mendaftar. Aku tidak. Aku belum sanggup harus berdebat dalam Bahasa Inggris. Aku ingin mengambil program Grammar dan Speaking dasar saja. Sebagai pemula tentunya.\u003cbr /\u003eMita merekomendasikan kami ke Kresna, lembaga kursus Bahasa Inggris juga, tapi khusus Grammar. Jaraknya tidak jauh. Kami mengambil sepeda dan melanjutkan pencarian. Di depan Daffodils sebuah tulisan menarik perhatian kami. “Sanjaya House”. Kos-kosan juga. Pengamatan ditunda. Kami harus mendaftar kursus terlebih dahulu.\u003cbr /\u003ePerjalanan berlanjut ke Kresna. Jalanan semakin sempit dan tidak beraspal. Aku seperti ingin berjalan kaki saja karena jok belakang sepeda yang saya duduki terbuat besi tanpa busa. Rasanya tulang  seperti ingin patah saat ban sepeda melewati batu-batuan. Untung saja jaraknya lumayan dekat.\u003cbr /\u003eTiba di Kresna. Halaman parkirnya luas. Banyak sepeda. Sebelah kiri ada gazebo  sederhana. Di dalamnya ada beberapa orang sedang belajar.  Di depan ada dua ruangan. Aku menuju ke sebelah kanan, di bagian office. Seorang pria bertubuh kurus dan berkulit hitam menyambut kami. Aku mendaftar kelas grammar. Uang yang ku keluarkan hanya Rp. 80.000,- untuk empat kelas. Wah, murah!\u003cbr /\u003ePendaftaran selesai. Tiba saatnya kembali memikirkan tempat tinggal yang nyaman. Teringat rumah kos yang terletak di depan Daffodils tadi. Kami pun menuju ke sana.\u003cbr /\u003eGerbang Sanjaya di depan mata. Kami masuk. Bertanya. Dan ada kamar yang kosong. Kami memutuskan akan pindah ke sini. Harganya Rp. 90.000 ,- per bulan. Satu kamar ada tiga tempat tidur lengkap dengan kasur busa. Ada lemari bersusun tiga. Cermin. Lantai keramik. Kamar mandi di luar. Dan paling penting adalah batas jam malamnya bisa sampai jam 10. Kebanyakan kos di sini, hanya membatasi jam malam sampai jam 9 saja. Jika terlambat, maka hanya ada ucapan silahkan mencari penginapan jika punya uang atau silahkan tidur di jalan saja jika tak punya uang. Ough!\u003cbr /\u003eBarang telah kami pindahkan dari rumah Pak Nur ke Sanjaya House. Dengan becak tentunya. Senang dan lega rasanya, akhirnya bisa istirahat, mandi dan gosok gigi. Hehehe...\u003cbr /\u003ePetang usai. Inna mengajakku menemui seorang teman lamanya di sebuah warnet. Namanya Kapit. Awalnya kupikir dia seorang wanita, “Ka' Fit dengan nama panjang Fitri”, ternyata aku salah. Dia salah satu brondong versi Inna. Pakaiannya serba hitam, baju, celana dan kupluk. Ia ketawa cekikikan ketika bertemu kembali dengan Inna. Setelah dari warnet, kami ke sebuah warung makan. Minum kopi, es teh dan makan sambil bercerita. Kapit juga senang menulis. Kami berdiskusi tentang tulisan dan organisasi SAMSARA Abortion Recovery malam itu. Ia akan menjadi pengurus SAMSARA di wilayah Kediri.\u003cbr /\u003eCuaca sangat dingin, tapi menyenangkan. Namun sayang, waktu dan ancaman tidur di jalan karena gerbang kos akan segera ditutup terasa menghantui. Kami pulang pukul 9.40, padahal diskusi malam itu terasa bersemangat.\u003cbr /\u003eTiba di kos. Gerbang sedikit lagi akan ditutup. Masuk kamar lalu tidur dan berharap mendapat mimpi indah. Akh, hari ini terasa melelahkan.\u003cbr /\u003ePare, 11 Agustus 2008. Kali pertama ke Pare.\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-1903815478506044703?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/1903815478506044703/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d1903815478506044703","title":"3 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1903815478506044703"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1903815478506044703"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/09/kali-pertama-ke-pare.html","title":"Kali Pertama ke Pare"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"3"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-5408873465144606650"},"published":{"$t":"2008-09-21T08:03:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-30T03:14:18.783-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Samsara"}],"title":{"type":"text","$t":"The Secret dalam SAMSARA"},"content":{"type":"html","$t":"Oleh : Sartika Nasmar\u003cbr /\u003e(Samsara Officer)\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePagi hari, tepatnya tanggal 20 September 2008. Salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris (Daffodils) di Kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur mengadakan acara Nonton Bareng dan Diskusi membahas sebuah film yang berjudul The Secret. Film yang sangat menarik tentang bagaimana menumbuhkan motivasi terhadap diri sendiri dengan menstimulasi pikiran positif dan imajinasi serta visualisasi menuju kenyataan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku pernah mendengar film ini dari seorang teman, Mbak Inna. Dia adalah Direktur SAMSARA. Aku kemudian mengirim sms dan semakin membuatku penasaran karena ternyata pesan dalam film ini digunakan dalam program pemulihan di SAMSARA.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSAMSARA adalah lembaga non-profit yang berdedikasi dan menyediakan informasi serta memberikan pemulihan kepada para post abortus secara psikologis.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSetelah menonton dan diskusi, aku melanjutkan obrolan dengan trainernya (orang yang mempunyai pengalaman dan merasa berhasil dengan mengaplikasikan pesan dalam film ini). Namanya Farida. Seorang single parent. Lebih sering dipanggil Umi Yanti. Seorang wanita luar biasa dan tegar. Ia pernah aktif di beberapa LSM.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku menceritakan tentang SAMSARA dan program pemulihan yang kita gunakan yang terkait dengan film ini. Ia dan para pengajar di Daffodils merasa tertarik. Aku kemudian diundang untuk sharing pada sesi ke-2 pukul 14:00. Awalnya aku sungkan karena aku sadar, aku belum pernah menangani seorang post abortus dengan metode pemulihan apapun. Tapi kemudian aku berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mensosialisasikan organisasi SAMSARA ke sebuah forum meski kecil-kecilan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDengan senang hati aku kemuadian berkata \"Iya.\"\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSesi ke-2 dimulai. Film usai. Aku diperkenankan bicara. Suatu kehormatan tentunya. Mengingat tugas sebagai bagian dari SAMSARA bidang sosialisasi dan edukasi maka langkah awal adalah memperkenalkan organisasi ini ke dalam forum. Awalnya respon yang kuterima adalah \"Wow\" dan ekspresi kaget mendengar kata aborsi bahkan ada yang tertawa cekikikan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSebenarnya ini adalah diskusi non formal dan saya diperkenankan memberi sebuah contoh penderita PAS (Post Abortion Syndrom) yang berhasil menyembuhkan dirinya dengan metode dalam film. Dalam SAMSARA sendiri, aku menemukan kesamaan pada program \"pemulihan yang dilakukan oleh diri sendiri\".\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePAS adalah penderitaan mental dan emosional pada perempuan setelah aborsi. Namun, PAS tidak hanya diderita oleh perempuan saja. Tapi, lelaki atau orang yang terlibat pun bisa mengalaminya. (Baca: Post Abortus Syndrom di www.abortus.blogspot.com)\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku menceritakan bagaimana keberhasilan seorang penderita yang telah berusaha keluar dari PAS dengan mengobati dirinya sendiri.Bagaimana seorang penderita PAS mampu untuk memahami rasa bersalah dan memaafkan diri sendiri serta memberi peluang bagi mereka untuk tetap bertahan dan melanjutkan hidup mereka tanpa bayang-bayang penyesalan tapi kekuatan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTiba-tiba ruangan tenang. Peserta diskusi dengan jumlah sekitar 30 orang kemudian tak bersuara. Aku sedikit gugup. Entah apakah ini berhasil atau tidak. Aku tidak tahu apa tanda dari diamnya mereka. Aku hanya terus bercerita. Mencoba memberikan semangat untuk menjadi diri sendiri dan optimis dengan mimpi dan keyakinan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku menutup pembicaraanku dengan mengucapkan 'Save your body and save your live'. Respon tepuk tangan buat SAMSARA terdengar. Syukur alhamdulillah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUcapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi dari Umi Yanti buat SAMSARA. Aku sempat mengcopy artikel dalam blog SAMSARA tentang program pemulihan dan tetap meminta saran dari beliau karena aku yakin kita masih tetap butuh saran dari siapa pun untuk bergerak maju.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku percaya bahwa segala sesuatunya bisa dibentuk oleh akal dengan ketertarikan. Sesuatu hal yang tidak bisa membunuh kita akan menjadi alat atau senjata kita untuk menjadi lebih kuat. Aku sadar bahwa hanya diri kita yang mampu menciptakan realitas dalam diri kita. Begitupun SAMSARA, semoga perjuangan kita akan mampu membuka realitas terhadap kasus aborsi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSemoga bermanfaat.\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-5408873465144606650?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/5408873465144606650/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d5408873465144606650","title":"3 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5408873465144606650"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5408873465144606650"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/09/sosialisasi-dan-edukasi-samsara-di-pare.html","title":"The Secret dalam SAMSARA"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"3"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7823973124829670841"},"published":{"$t":"2008-09-19T23:07:00.001-07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-30T03:14:39.389-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Poems"}],"title":{"type":"text","$t":"teman rindu"},"content":{"type":"html","$t":"lampu, merah kuning hijau\u003cbr /\u003emobil\u003cbr /\u003emotor\u003cbr /\u003esepeda\u003cbr /\u003elelaki, perempuan\u003cbr /\u003etua, muda\u003cbr /\u003eberlalu lalang...\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003epohon yang daunnya bergoyang\u003cbr /\u003emelambai...\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003esepi\u003cbr /\u003ebingung\u003cbr /\u003esendiri\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003esebatang rokok bintang buana\u003cbr /\u003eberhembus...\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003elalu menemaniku merindukan IBU\u003cbr /\u003eApa kabarmu??\u003cbr /\u003ehanya ingin berkata,\u003cbr /\u003eMAAF...\u003cbr /\u003eaku tak bisa bersujud dikakimu\u003cbr /\u003eLEBARAN ini aku tak bisa pulang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eGP, 17 Sept 08\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7823973124829670841?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7823973124829670841/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d7823973124829670841","title":"2 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7823973124829670841"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7823973124829670841"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/09/teman-rindu.html","title":"teman rindu"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"2"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-8543540141985167287"},"published":{"$t":"2008-08-03T21:29:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-30T03:16:09.246-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Memories"}],"title":{"type":"text","$t":"Dari Tjangkir 70 ke Tugu Yogya"},"content":{"type":"html","$t":"Senin, 14 Juli 2008. Satu hari setelah kursus narasi Yogyakarta selesai. Aku dan  teman (Inna Hudaya) berencana menuju Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tujuan kami adalah mencari tahu tentang Taring Padi, sebuah komunitas seniman. Mbak Inna ingin menulis tentang mereka, dan saya menemani saja, sekedar ingin berkenalan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePagi hari, Mbak Inna mengirim sms. “Tik, kamu ke kosku jam 3an saja yak. Aku masih instal laptop,” katanya. Aku ke kos Mbak Inna, di Jalan Kaliurang sebelum jam 3. Ia belum selesai meng-instal laptop barunya. Aku menunggu sambil bercanda dengan anak pemilik kos Mbak Inna. Namanya Jidan. Ia memperlihatkan beberapa permainan yang ia katakan sulap. Laptop Mbak Inna belum juga beres, aku malah sempat tertidur di kamarnya.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaat bangun, Mbak Inna sudah selesai mandi. Sudah pukul 5.30. Kami tidak jadi berangkat ke Bantul. Kami ke warnet, hanya sebentar. Perut kami yang sudah meminta makan memaksa kami melanjutkan perjalanan pada sebuah angkringan di belakang Universitas Negeri Yogyakarta. Kami memesan nasi sego macan ditambah tiga sate usus, dua sate telur, satu ceker bakar, dua tempe goreng, satu gelas es teh dan air putih. Lalu duduk di tikar yang diletakkan di atas trotoar samping selokan mataram.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMakan selesai. Kami ke Jalan Janti. Warung Tjangkir 70, milik Ari, teman kursus juga. Ia tampak senang melihat kedatangan kami di warungnya. Kopi mentega (menu andalan Ari) dan kopi jahe menemani aku dan Mbak Inna dalam remang-remang lampu hias di warung itu. Ari menawarkan kami secara gratis telur asin. “Nih, ada telur asin. Gratis ko’. Tapi, awas loh kalau kentut bau,” katanya menghibur kami.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami bertiga bercerita, berdiskusi dan bercanda sambil memainkan dua laptop di atas meja. Foto-foto saat kursus menjadi bahan pembicaraan terhangat. Lagu-lagu dari laptop Mbak Inna, menemani kami berdiskusi. Berbagai macam aliran musik. Mulai dari Marginal Band, Ippank, Sapardi, hingga Trisna Livia (Gubuk derita). Tak perduli banyak orang di warung Ari. Suara tawa kami terdengar seperti dilakukan oleh lebih dari sepuluh orang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSatu jam berlalu. Aku meminta segelas kopi jahe lagi ke Dita (teman Ari di warung).\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMalam itu kami senang. Setiap mengakhiri perbincangan, Ari akan mengeluarkan dengkuran seperti babi dan berkata, “Bencong.” Ia memanggil aku dan Mbak Inna bencong. Kami memanggil Ari, tomboy. Hahaha…\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDua jam berlalu. Aku memesan Pizza mie kuah. Mbak Inna pesan teh tawar. Wajar saja kami lapar lagi, sudah jam setengah satu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku dan Mbak Inna memang berniat begadang malam itu. Aku ingin menikmati Yogya malam hari. Aku ingat Ari pernah berkata padaku, jika berada di kota ini dan belum foto di Tugu Yogya, maka kamu belum sah menginjakkan kaki di kota ini. Entah apa alasannya. Mungkin karena nilai sejarahnya. Jadi, aku meminta Mbak Inna menemaniku ke Tugu tersebut untuk foto. Kebetulan malam itu aku membawa sebuah kamera digital. Ari ingin ikut. Kami menunggu hingga warungnya tutup.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePukul 2.00, warung sepi. Pengunjung telah pulang. Tinggal aku, Mbak Inna, Ari dan Dita. Aku dan Mbak Inna masih berhadapan dengan laptop. Ari cuci piring. Dita menggulung terpal dan menghitung uang hasil penjualan makanan dan minuman di warungnya malam itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eLampu warung mati. Kami siap berangkat. Di depan ada dua wanita seperti menunggu seseorang. Tidak lama kemudian dua pria datang dengan mengendarai mobil. “Waduh, bahaya nih warung gua dijadiin tempat mesum,” kata Ari, khawatir.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku memilih naik sepeda Phoenix milik Ari. Sedang Ari dan Mbak Inna naik motor shogun hijau yang kupinjam dari teman. “Benar kamu mau naik sepeda? Jangan sok lo.” kata Ari meyakinkanku. Tekadku sudah bulat akan bersepeda malam itu. Meski kadang aku harus mengayuhnya sekuat tenaga. Sesekali aku memegang tangan Mbak Inna lalu ia menarikku. Mereka tertawa melihatku kelelahan. Tiba di tikungan dari Jalan Janti ke Jalan Solo, ada dua orang polisi berjaga. Dari pinggir jalan terdengar suara pria menggoda. Aku tidak peduli. Kali ini aku sendiri. Mereka meninggalkanku. Lalu hilang. Aku mencari, melihat ke kiri, kanan, dan ke belakang. Aku tak menemukan mereka. Aku mulai khawatir. Lalu ada suara tawa dari samping kiri, trotoar yang gelap. Aku mengenal suara tawa itu. Mbak Inna dan Ari. Seorang pria di atas becak sambil baring ikut menertawakanku. Aku sedikit lega meski masih ngos-ngosan. Kami melanjutkan perjalanan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Masih kuat ga’?” tanya Mbak Inna.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Masih Mbak. Tenang aja.” kataku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tik, giginya diganti. Biar ga’ keras kayuhnya.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Gigi apa?” tanyaku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Wah, dasar wong deso.” ejek Ari, sambil tertawa sekeras-kerasnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku mengikuti saran mereka. Ternyata memang benar, aku mulai ringan mengayuh sepeda itu. “Wah, dasar wong deso,” batinku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku meminta singgah membeli minuman. Aku lelah. Lututku gemetar. Keringat mengalir. Punggungku panas dan pedis akibat koyo cabe pemberian Mbak Inna. Obat pegal-pegal katanya. Tawa mereka semakin menggila. Aku membiarkan mereka melakukannya. Aku pasrah. Kami singgah di Circle Klei. Aku langsung baring dan meluruskan kaki di tangga toko. Mereka terus menertawakanku sambil masuk ke dalam toko. Aku membeli pocari sweat. Mbak inna membeli sebotol bir (Heineken). Kami foto di depan toko dengan berbagai macam gaya. Kami bahkan meminta tolong kepada seorang pria untuk memotret kami bertiga. Kami tidak peduli pada orang lain malam itu. Yogya serasa hanya milik kami bertiga.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAri mulai candaannya. “Tik, aku punya candaan,” katanya. “Tapi kamu harus janji jangan marah ya?” tambahnya, meyakinkanku. Aku tidak curiga sama sekali. Kami berhadapan. Ia kemudian mendengus ke wajahku. Ada cairan yang muncrat dari hidungnya. Ia lari. “Wah, kurang ajar kamu Ri’.” Aku mulai marah dan mengejarnya sambil mengeluarkan beberapa kalimat menyakitkan hati. “Tadi kamu kan sudah janji, tidak marah,”  Ari membela diri. Mbak Inna hanya tertawa sambil menghisap rokoknya. Aku mencuci mukaku dengan air pocari sweat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku mulai mencari cara untuk balas dendam. “Ri’, aku punya candaan. Tapi kamu jangan marah ya?” tanyaku. Ari curiga aku akan balas dendam. Aku memasukkan air pocari sweat ke dalam mulut lalu kusemburkan ke arahnya. Ia berhasil lolos. Tidak kena. Aku masih mencari cara lain.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku lapar. Wajar saja, naik sepeda menguras banyak tenagaku. Aku beli es krim dan Chitato. Sambil makan es krim, aku mulai berkata. “Ari, aku punya candaan.” Aku menyuruhnya menutup mata. Ia melakukannya. Lalu kucolek es krimku dan kutaruh ke wajahnya. Kali ini aku berhasil membalas, meski tidak terlalu menyakitinya. “Kurang ajar,” katanya sambil tertawa.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMakanan dan minuman habis. Kami melanjutkan perjalanan ke Tugu. Aku masih memilih naik sepeda. Ari dan Mbak Inna naik motor. Aku berusaha mengejar mereka. Kadang-kadang mereka melewati jalan yang tidak perlu dilalui, hanya untuk buatku makin lelah. Pukul empat, kami tiba di jembatan Gondolayu. Mbak Inna turun dari motor lalu berpose di tembok jembatan minta difoto. Kamera jatuh. Rusak. Mbak Inna masih bertahan dengan gayanya. Ari memeriksa kembali kamera. Mbak Inna kecewa tahu kamera rusak. Aku juga kecewa tentunya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTak ada foto. Kami berdiri menghadap Sungai Code. Sungai yang membelah Provinsi   Yogyakarta. Mata airnya ada di kaki Gunung Merapi. Di sekitar sungai ada pemukiman. Tata bangunannya indah, arsitekturnya bernama Romo Mangun. Kami memandang dari sisi jembatan dengan cahaya lampu yang berdiri kokoh berjejer di sepanjang jembatan Gondolayu. Sangat indah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKembali ke  tujuan awal kami adalah foto di Tugu Yogya yang letaknya sudah di depan mata. Ari mencoba perbaiki kamera. Tapi tidak bisa dipakai lagi. Kami memutuskan tetap ke Tugu. Akhirnya sampai juga. Ada dua wanita yang sedang berpose di sekitar Tugu. Mereka memakai baju tanpa lengan. Model rambut mereka sama, panjangnya sebahu dan lurus. Satu diantara mereka bibirnya sumbing.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSedang kami, tak ada foto sesuai rencana. Hanya bercerita. Mbak Inna menceritakan sejarah Tugu Yogya kepadaku. Layaknya seorang ibu yang sedang mendongengkan anaknya. Aku mendengar cerita. Sesekali aku menoleh ke Mbak Inna, lalu menoleh ke Ari, dan kadang-kadang mataku tertutup karena ngantuk. Ia tetap bercerita.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTugu Yogya terletak di perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi di sisi selatan, Jalan AM. Sangaji di sisi utara, Jenderal Soedirman di sebelah timur dan Pangeran Diponegoro di sebelah barat. Tugu ini berdiri setinggi 15 meter dan diresmikan pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 tahun jawa.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Kamu tau ngga’ soal kosmik Jogja?” tanya Mbak Inna.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tidak,” jawabku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Di Jogja ada empat titik yaitu Laut Kidul di selatan, Merapi di utara, di timur ada Gunung Lawu dan di barat (aku lupa). Ke-empat titik itu adalah bekas tempat pertemuan kanjeng ratu Kidul dan panembahan Senopati. Tugu ada tepat di tengah-tengahnya. Itu sebabnya upacara labuhan biasanya diadakan di Parangkusumo, Merapi, Lawu dan...lupa.” katanya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tik, konon katanya ada lorong atau jalan rahasia di bawah Tugu ini. Lorongnya menghubungkan empat titik itu.” kata Arie.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Oh, ya? Terus kita bisa ke sana tidak?” tanyaku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ye, orang bilang katanya. Tapi nggak tahu benar atau tidak.” balas Arie.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami memandang beberapa orang yang datang ke Tugu foto dengan bermacam gaya. Ada yang duduk di depan Tugu dan di tengah jalan sambil melompat. Wah, bikin iri saja. Aku mengeluarkan hpku. Berpose bersama Mbak Inna. Padahal hpku tidak punya fasilitas kamera, hanya sekedar mengobati kekecewaan karena kamera rusak.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eEmpat lampu yang mengelilingi Tugu mati. Lampu jalan juga mati. Sudah banyak kendaraan melintas. Kami masih di Tugu. Hanya kami bertiga. Duduk bercerita. Aku dipijat Mbak Inna. “Sepertinya nggak lucu kita masih duduk di sini kalau sudah terang, udah pagi nih,” kata Ari. Kami tertawa. Lalu memutuskan pulang. Sudah jam enam. Kami menyeberang menuju tempat kami memarkir motor dan sepeda. Kami pulang. Ari dengan sepedanya menuju Asrama Lampung. Aku dan Mbak Inna naik motor menuju Jalan Kaliurang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDingin sekali pagi itu. Tapi aku bahagia, meski tak tidur untuk satu malam. Pengalaman malam itu, kuyakin tak akan terganti di hari-hari berikutnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTiba di Kaliurang, aku dan Mbak Inna singgah di warnet. Cek email (walah, sok penting buanget), tak terasa sudah setengah sembilan pagi. Kami makan bubur ayam, lalu pulang ke kos Mbak Inna. Tak ada lagi perbincangan. Aku bergegas tidur.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e16 Juli 2008.\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-8543540141985167287?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/8543540141985167287/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d8543540141985167287","title":"8 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/8543540141985167287"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/8543540141985167287"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/08/dari-tjangkir-70-ke-tugu-yogya.html","title":"Dari Tjangkir 70 ke Tugu Yogya"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"8"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-1598459297947575413"},"published":{"$t":"2008-07-10T03:33:00.001-07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-29T01:21:11.335-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Journalism"}],"title":{"type":"text","$t":"Kata Adalah Kejujuran"},"content":{"type":"html","$t":"Oleh Sartika Nasmar\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSemua berawal ketika aku menerima sebuah sms dari seorang teman kampus  pada pertengahan tahun 2007. Ia mengatakan akan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Kursus Narasi yang diselenggarakan Sindikasi Pantau. Aku  senang. Pasti. Tapi belum memiliki keinginan yang sama. Aku sendiri sibuk memikirkan karirku di media elektronik, mengingat saat wisuda dan status pengangguran makin dekat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWisuda usai. Beberapa hari kemudian, temanku berangkat. Lalu melewati masa-masa kursusnya. Aku mendengar banyak cerita darinya. Sejak itu aku pun mulai rajin membaca tulisan-tulisan di Pantau (www.pantau.or.id). Aku sering  mendengarkan darinya, bagaimana Andreas Harsono dan Budi Setiyono bercerita tentang dunia kewartawanan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBeberapa bulan setelah wisuda, aku diterima bekerja di tvOne. Wilayah kerjaku adalah Kota Palopo dan Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Di waktu-waktu luang, aku selalu menyempatkan diri untuk membaca tulisan yang ada di Pantau. Sebuah tulisan tentang Jurnalisme yang ditulis oleh Sirikit Syah, cukup mengubah pikiranku tentang pekerjaanku. Judulnya membingungkan. Wartawan: Memotret atau Menolong?. \u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSirikit Syah memberikan pertanyaan luar biasa dalam tulisannya. Bagaimana tindakan seorang wartawan  jika mengahadapi situasi misalnya musibah, kecelakaan, tragedi, dan wartawan yang kebetulan berada di tempat kejadian harus menolong dulu atau memotret, merekam dalam kamera, melakukan wawancara?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa kemudian memberikan beberapa contoh tragis yang berhubungan dengan pertanyaan itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKevin Carter. Fotografer pemenang hadiah Pulitzer 1994. Fotonya yang terkenal adalah tentang seorang anak perempuan Afrika yang kelaparan dalam perjalanan ke tempat pembagian jatah pangan. Anak itu jatuh dan dalam keadaan menunggu kematiannya di gurun pasir Afrika dengan latar belakang burung pemakan bangkai yang menungguinya mati. Foto itu menarik perhatian juri dan memenangkan Pulitzer. Kemudian muncul perdebatan: mengapa dia memotret foto mengenaskan itu? Mengapa dia tidak menolong gadis itu? Mengapa dia membiarkan burung itu menunggui si gadis meninggal dunia?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBeberapa bulan kemudian, Kevin Carter ditemukan mati bunuh diri. Banyak yang berspekulasi dan mengatakan dia tak tahan mendapat kritik atas fotonya yang kontroversial itu. Sebagian mengatakan, keganasan perang dan kekejaman alam Afrika di mana dia bekerja, membuatnya depresi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku sendiri bingung. Apakah Kevin  Carter adalah seorang yang tega atau menganggap itu adalah konsekuensi pekerjaan sebagai fotografer.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eContoh lain yang dipaparkan Sirikit Syah dalam tulisannya adalah kejadian pada tahun 1996 di Los Angeles. Sebuah stasiun tv, menerima telepon dari seseorang yang bermaksud melakukan bunuh diri dan minta diliput. Stasiun itu mengirim awak TV untuk mendatangi sang sumber dengan peralatan yang lengkap. Bukannya mencegah orang itu bunuh diri, dengan memanggil polisi misalnya, awak televisi itu malah mengantisipasi sebuah liputan “eksklusif.” Mereka mempersiapkan liputan langsung , menunggui orang itu melaksanakan niatnya, dan merekam langsung saat orang itu menembak dirinya sendiri. Orang itu mati di depan kamera televisi. “Live on air!”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRibuan telepon masuk ke stasiun itu. Mereka mengecam tindakan stasiun televisi Los Angeles itu. Menurut pemirsa televisi yang protes itu, pertunjukan tersebut sama sekali bukan berita yang menarik. Bahkan mengerikan. Mereka keberatan anak-anak mereka menonton “siaran langsung sebuah peristiwa bunuh diri,” yang selain mengerikan juga khawatir dapat ditiru anak-anak. Mereka mempertanyakan “moralitas dan etika para awak televisi itu.” Stasiun tersebut langsung mohon maaf kepada publik.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku masih bingung. Untuk beberapa detik siaran berita, dengan harga sebuah nyawa. Demi sebuah istilah “eksklusif.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi akhir tulisan, Sirikit Syah memasukkan sebuah pernyataan menarik. “Pada persoalan sejauh mana kode etik dapat dilanggar, memotret dulu atau menolong dulu, saya tetap berpendapat bahwa kita takkan jadi wartawan yang hebat kalau pada mulanya bukan manusia yang baik. Be a good man, than a good journalist. Itu saja.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku tidak lagi bingung.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eLalu aku pun mendengar kabar bahwa Pantau akan mengadakan kursus narasi di Yogyakarta pada bulan Juni 2008. Aku memutuskan untuk mengikuti pelatihan itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSekarang, tiga minggu berlalu melewati masa-masa pelatihan yang menyenangkan bersama Budi Setiyono, Andreas Harsono, Anugerah Perkasa, Dian Lestariningsih dan tentu saja dengan 15 peserta lainnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAdam, bekerja sebagai koordinator pendidikan Cindelaras, asal Yogyakarta. Arie Oktara, mahasiswa UGM dan pengusaha warung kopi,  asal Yogyakarta. Astri Kusuma, mahasiswa S2 UGM jurusan Hubungan Internasional, asal Yogyakarta. Ayya Zakiah, wartawan Majalah Gong, asal Yogyakarta. Danu Primanto (DP), seorang fotografer muda, asal Gambiran, Yogyakarta. G.S Purwanto, bekerja sebagai staf publikasi Cindelaras, asal Yogyakarta. Inna Hudaya, seorang blogger dan bergabung dengan PAS Healing, asal Tasikmalaya. Jati Kusuma, seorang apoteker dan aktif di International Planned Parenthood Federation sebagai Youth Representative, asal Semarang. Khanis Suvianita, seorang aktivis di GAYa Nusantara, asal Surabaya. L. Hardi Pranoto, staf pengajar dan konsultan manajemen di PPM-Manajemen, asal Jakarta. M.A Malik, seorang fasilitator desa, asal Mahamkaji, Sukoharjo. Nurul Kodrati, mahasiswa S2 di Umea International School of Public Health di Swedia, asal Kotagede, Yogyakarta. Novita Dwi Arini, aktivis Solidaritas Perempuan Kinasih, asal Yogyakarta. Punto Wijayanto, arsitek dan peneliti di Jogja Heritage Society, asal Yogyakarta. Siti Mazdafiah, seorang dosen di UBAYA, asal Surabaya. Dan terakhir, adalah saya, Sartika Nasmar, kontributor tvOne, asal Palopo, Sulawesi Selatan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBanyak hal yang menarik terjalin selama kursus ini berlangsung. Santai tapi serius. Suasana kursus dilakukan dengan lesehan di pendopo Cindelaras atau di Warung Kopi Plus. Sangat menyenangkan. Penuh dengan lelucon. Bukan hanya karena bertemu dengan pemateri dan teman yang luar biasa, tapi membuatku mengenal lebih jauh pekerjaan sebagai wartawan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami belajar bagaimana memasuki dunia menulis panjang dengan gaya narasi, dengan merekonstruksi adegan-per-adegan sebuah peristiwa yang akan ditulis. Membuat sebuah kebenaran adalah suatu yang mutlak dalam jurnalisme. Bukan agenda setting, bukan pula laporan fiktif. Tapi, fakta, fakta dan fakta. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKarena ini pelatihan, maka tugas-tugas pun tak luput sebagai kewajiban kami. Tugas pertama adalah membuat profil. Kami diberikan selembar kertas yang telah dipotong dan dibagikan kepada semua peserta. Masing-masing kertas mempunyai pasangan. Tugas kami adalah saling mencocokkan potongannya dan membuat profil sesuai pasangan dari hasil acak tersebut.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMasing-masing peserta yang telah menemukan pasangannya segera melakukan wawancara. Tentunya dengan semangat sebagai langkah awal. Ada yang membuat janji bertemu malam hari untuk wawancara dan ada pula memanfaatkan tekhnologi internet (chatting). Kami diberi waktu satu malam, untuk menyelesaikan profil pasangan acak kami. Besoknya, dua tulisan kemudian dibaca dan dikritik oleh Budi Setiyono.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTidak hanya membuat profil peserta. Kami juga diberi tugas membuat outline untuk tugas akhir berupa tulisan narasi hingga 5.000 kata. Bagiku tentu sangat sulit. Aku sendiri sehari-hari telah terbiasa menulis naskah pendek untuk berita tv. Hanya sekitar 32 kata untuk satu paragraf. Jika harus menghitungnya, aku diharuskan membuat naskah tv untuk berita yang berdurasi satu menit empat puluh detik dengan lima atau enam paragraf saja, hanya sekitar 160 kata. Ini adalah tantangan terberatku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku memilih menulis profil Rubiyem. Istri kedua Affandi, Maestro seni lukis Indonesia. Aku mulai melakukan riset tentang Affandi dan istri-istrinya. Aku membaca berbagai artikel dan berita, mulai dari yang beredar diberbagai situs di internet hingga mendatangi Perpustakaan Arsip Nasional Yogyakarta. Tidak hanya itu, aku pun mulai melakukan wawancara dengan Rubiyem meski kesulitan karena aku tak bisa Bahasa Jawa. Sungguh tidak mudah dan sangat berbeda dengan yang kulakukan sebagai wartawan tv.   \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku semakin sadar bahwa buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel seharusnya menjadi buku wajib seorang wartawan. Mereka merumuskan Sembilan elemen penting yang harus diperhatikan seorang wartawan.\u003cbr /\u003e1.Kewajiban pertama jurnalisme adalah kebenaran.\u003cbr /\u003e2.Loyalitas  pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat.\u003cbr /\u003e3.Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi.\u003cbr /\u003e4.Praktisi jurnalisme harus menjaga independensi terhadap sumber berita.\u003cbr /\u003e5.Jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan.\u003cbr /\u003e6.Jurnalisme harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat.\u003cbr /\u003e7.Jurnalisme harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan.\u003cbr /\u003e8.Jurnalisme harus menyiarkan berita komprehensif dan proporsional.\u003cbr /\u003e9.Praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.\u003cbr /\u003eBuku tersebut kini telah direvisi menjadi 10 elemen jurnalisme. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menambah satu elemen yaitu hak dan tanggung jawab warga.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDengan sangat berhati-hati dan peduli dengan 10 elemen di atas, aku mengerjakan profil Rubiyem dengan penuh keyakinan. Sayang, setelah masuk ke dalamnya, aku kesulitan mendapatkan akses di keluarga Rubiyem. Aku pun mulai berkonsultasi dengan Andreas Harsono dan Budi Setiyono melalui email. Andreas Harsono menyuruhku mencari isu lain untuk tugas akhirku, dengan alasan akses yang sulit kudapatkan karena ini adalah proses awalku belajar menulis narasi. Aku kecewa, dadaku seperti ingin meledak. Aku belum pernah terlihat begitu kecewa dengan kegagalanku terhadap sebuah tulisan, bahkan ketika aku gagal mendapatkan gambar yang baik untuk satu liputan. Tapi kali ini aku gelisah. Entah kenapa. Aku seperti mempunyai tanggung jawab besar dalam keinginanku menulis. Ataukah karena aku merasa menulis narasi membuatku mengerti tugas seorang jurnalis dalam memberikan laporan? Di mana kejujuran selalu ada dalam setiap kata.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeturan, Yogyakarta.\u003cbr /\u003e09 Juli 2008\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-1598459297947575413?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/1598459297947575413/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d1598459297947575413","title":"20 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1598459297947575413"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1598459297947575413"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/07/kata-adalah-kejujuran.html","title":"Kata Adalah Kejujuran"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"20"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-4096551038313119264"},"published":{"$t":"2008-06-24T21:10:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-30T03:15:52.035-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Memories"}],"title":{"type":"text","$t":"Ingat pesan Ibu"},"content":{"type":"html","$t":"Suara Michael Buble menyanyikan lagu I Wanna Go Home mengingatkanku suasana rumah. Aku rindu rumah. Aku rindu kampung halaman. Aku rindu Ibu. Aku rindu Ayah. Aku rindu kakak, adik dan keponakanku Lingga.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku tak pernah menyangka meninggalkan mereka adalah kepedihan yang mendalam.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSunyi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRindu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTentu saja ada air mata.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTapi bukan menyerah. Air mataku hanya sebatas ungkapan rindu saja.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Hati-hati ko nak, di kampungnya orang. Jangan ko lupa salat sama berdoa. Ingat kalau tinggal di sana, jangan suka tumpuk baju kotor. Kalau mandi, langsung dicuci. Rajin-rajin ko bersihkan kamarmu le’,” pesan Ibuku sebelum aku meninggalkan rumah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSebelum berangkat, aku pamit kemudian memeluk, mencium pipi dan tangan Ibu. Ia menangis. Ini kali pertama ia melepasku ke Pulau jawa, Yogyakarta. Tatapannya seolah-olah ingin melarangku pergi. Tapi tak ia lakukan. Selain Ibu, ada Tante Ida, saudara sepupu Ibu yang datang berkumjung ke rumah. Sama seperti Ibu, ia juga memeluk dan menciumku. Keponakanku, Lingga sedang tidur di dalam sebuah ayunan berwarna biru. Aku menatapnya dengan penuh kasih sayang kemudian mencium pipi lembutnya. Hanya sebentar. Aku tak ingin mengganggu tidurnya. Adikku berteriak mengucapkan selamat tinggal dari kamar mandi belakang.  Sedang Ayah dan Kakakku tak ada di rumah saat aku berangkat. Mereka ke kantor. Aku hanya pamit lewat telepon.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Hati-hati ya nak, jangan lupa kasi’ kabar kalau sudah tiba,” pesan Ayah melalui telepon.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMatahari sangat terik. Saat itu pukul 14:58 wita. Kupandangi rumah petak Ayah yang belum selesai dibangun. Ibu dan Tante Ida masih berdiri di pintu rumah. Memandangku dengan doa. Dadaku seperti ingin meledak. Bibirku bergetar. Mataku merah menahan tangis. Aku tak ingin Ibu melihatku menangis. Aku ingin tampak tegar dan kuat di depan Ibu agar ia bisa lebih tegar dariku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku ke Yogyakarta. Kota pelajar, kata banyak orang. sebut saja perjalananku ini dengan merantau. Di Yogya, aku akan mengikuti kursus narasi yang diselenggarakan Pantau.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePesawat Merpati membawa aku bersama Eko menuju Yogyakarta. Aku menginjakkan kaki di kota ini malam hari. Pukul 22:30. Kami dijemput Mbak Dian Lestariningsih di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Dengan Taxi, kami menuju rumah kos-kos-an Mbak Dian di jalan Seturan. Hatiku masih berdebar-debar. Aku berpikir, bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru lagi. “Setelah hotel Seturan, belok kiri ya pak,”kata Mbak Dian kepada supirTaxi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami singgah di sebuah rumah bergaya minimalis. Di depan pagar ada tulisan: terima kos putri. Mbak Dian membuka pagar besi cat warna merah. Di sisi kiri ada sebuah kolam kecil. Airnya sangat kotor. Sebelah kolam ada sebuah mushollah. Sedang di sisi kanan, dekat garasi ada sebuah ayunan besi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Mas Aan…” teriak Mbak Dian sambil berdiri di salah satu pintu. Seorang pria, kemudian membuka pintu dengan tersenyum. Dialah Mas Aan, pemilik rumah yang ia jadikan kos-kosan. Sebuah jam berukuran kecil di atas televisi Mas Aan kemudian menarik perhatianku. Pukul 21:47 wib. Saat itu aku baru sadar kalau perbedaan waktu di Yogya lebih cepat sekitar 60 menit dari Makassar. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eEko dijemput oleh Nay di kos Mbak Dian. Tinggal aku, mbak Dian dan Mas Aan. Mbak dian mengajakku ke lantai 2, tepatnya di kamar yang telah ia sediakan untukku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ini kamarmu lo Tik. Sudah ta’ bersihkan. Sudah ada kasur dan dua bantal,” kata Mbak Dian.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Di sini kamar mandinya,” sambil membuka pintu kamar mandi. Sudah tersedia sebuah baskom lengkap dengan gayungnya. Ia kemudian berjalan keluar. Aku memperhatikannya. Tak lama kemudian, ia datang membawa kursi plastik dan menaruh baskom di atasnya. Di bawah keran air. Lalu memutar keran air tersebut.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Biasanya anak kos mandinya kaya’ gini,”sambil memainkan gayung naik turun seperti sedang mandi. Aku memberikan senyum termanisku kepadanya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Apalagi ya? Kamu butuh apa lagi?”tanyanya kemudian.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ndak usah Mbak, ini sudah cukup,”jawabku lugu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa kemudian keluar dari kamarku. Ia belum berhenti bicara. Ia kemudian memberiku air mineral dan roti tawar yang dibungkus dalam kantong plastik warna putih. “Makasih banyak Mbak,”kataku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Besok ada peserta juga yang mau nginap di sini. Dari Surabaya. Namanya Khanis. Ia kerja di GAYa NUSANTARA. Tapi kayaknya ia akan bolak-balik Yogya Surabaya deh,” jelas Mbak Dian.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eGAYa NUSANTARA sebuah lembaga yang mendukung adanya keanekaragaman seks, gender dan seksualitas. Anggotanya banyak kaum homo dan lesbian. Aku bertanya dalam hati, “jangan sampai Mbak Khanis  juga lesbian, bisa gawat.” Malam itu aku gelisah. Intinya aku penasaran. Apakah Khanis seorang lesbian.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMbak Dian kemudian membuyarkan pikiran tentang Mbak Khanis dengan mengajakku ke warung kopi. Tentu saja aku mau meski lelah masih mengganggu tubuhku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUdara malam Yogya sangat dingin. Aku mengancing rapat resleting jaketku. Dingin masih juga aku rasakan. Motor Mbak Dian terus melaju dengan kecepatan agak tinggi sambil memberitahuku nama jalan yang kami lewati. Kami kemudian tiba di warung kopi plus di daerah Bandeng. Memasuki warung itu, aku merasa seperti berada di desa. Suasananya begitu nikmat. Remang-remang. Lagu bahasa Jawa makin membuatku seperti di desa.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami memesan makanan dan minuman. Aku memesan mie goring telur dan teh manis hangat. Mbak Dian memesan teh jahe dan roti coklat keju. Sedang teman Mbak Dian, Mas Andre memesan kopi dan nasi kucing. “empat belas ribu Mbak,”kata pria yang bekerja seagai kasir di warung itu. Aku kaget. “Apa? Pesan sebanyak ini bayarnya hanya empat belas ribu? Apa tidak rugi?”tanyaku dalam hati. Pulang dari warung itu, aku menanyakannya pada Mbak Dian. Mbak Dian hanya tersenyum.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSekitar pukul 00:00 kami kembali ke kos-kosan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMalam itu aku tidur di kamar Mbak Dian menemaninya nonton bola. Pertandingan belum selesai aku sudah tertidur. Paginya aku kembali ke kamar. Tak lama kemudian, Mbak Dian berangkat ke kantor. Aku sendiri bingung mau ke mana. Eko tak bisa keluar, ia tak tahu jalan di Yogya. Karna bosan di kamar, aku memilih keluar. Singgah di sebuah bengkel yang juga menjual pulsa. Kuhabiskan pagi pertamaku di sebuah bengkel bersama Pak Juanda, pemilik bengkel. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku bosan. Lama menunggu kabar Eko selanjutnya, aku kemudian mengirim sms ke Jalling, temanku yang sekarang berada di Yogya. Ia membalas, dan menyuruhku menunggu di Bengkel Pak Juanda. Hanya dua puluh menit, ia sudah tiba. Ia pun mengajakku keliling Yogya dengan Trans Yogya atau lebih dikenal Busway.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMasih hari pertama di Yogya, aku sudah rindu rumah. Rindu Ibu. Rindu Ayah. Rindu kakak, adik dan keponakanku Lingga.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIbu kemudian menelponku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Di mana ko nak?”tanyanya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Di atas busway,”jawabku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa kemudian tertawa.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Hati-hati ko le’ nak, belajar ko baik-baik di situ. Jangan lupa salat,” kata Ibu mengulang pesannya saat aku berangkat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Iye’ ma’. Jangan khawatir. Baik-baik ja di sini,”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSetelah mengucapkan salam, Ibu mematikan telepon. Aku masih di atas busway.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMengingat Ibu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMerindukan Ibu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeturan, Yogyakarta.\u003cbr /\u003e25 Juni 2008\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-4096551038313119264?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/4096551038313119264/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d4096551038313119264","title":"3 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4096551038313119264"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4096551038313119264"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/06/ingat-pesan-ibu.html","title":"Ingat pesan Ibu"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"3"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-2914203552404338636"},"published":{"$t":"2008-06-24T05:27:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-30T03:17:41.572-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Memories"}],"title":{"type":"text","$t":"Punto ada di Yogya"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003eNamanya Punto Wijayanto. Dipanggil Punto. Lahir\u003cspan style\u003d\"\"\u003e  \u003c/span\u003edi Jakarta, 16 November 1977. Oleh ayahnya, Waluyo, seorang karyawan PT. Pertamina, ia diberi nama yang mirip dengan salah satu tokoh wayang, Punto Dewo. \u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e“Karena anak pertama kali ya, makanya dikasih nama Punto, kaya’ tokoh wayang itu \u003cst1:state st\u003d\"on\"\u003ekan\u003c/st1:state\u003e anak pertama juga, dari \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003elima\u003c/st1:city\u003e\u003c/st1:place\u003e bersaudara, tapi aku cuma tiga aja,” kata Punto.\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003cspan style\u003d\"\"\u003e           \u003c/span\u003eBadannya agak gemuk. 70 kilogram beratnya. Kalau tingginya 165. Suka senyum dan ramah. Belum menikah. “Masih normal,”katanya sambil tersenyum. \u003cspan style\u003d\"\"\u003e \u003c/span\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003eDi Yogya\u003c/st1:city\u003e, \u003cst1:state st\u003d\"on\"\u003eia\u003c/st1:state\u003e\u003c/st1:place\u003e tinggal bersama orang tuanya di Jalan Kaliurang Desa Sidoarjo, Sleman.\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003eSebelum tinggal \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003edi Yogyakarta\u003c/st1:city\u003e, \u003cst1:state st\u003d\"on\"\u003eia\u003c/st1:state\u003e\u003c/st1:place\u003e dan keluarganya berpindah-pindah. Mulai dari \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003eJakarta\u003c/st1:city\u003e, Kalimantan, Aceh, dan \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003ePalembang\u003c/st1:city\u003e\u003c/st1:place\u003e. “Ikut Bapak, kerja di kota-kota itu,”katanya. Beruntung pada saat \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003edi Aceh\u003c/st1:city\u003e, \u003cst1:state st\u003d\"on\"\u003eia\u003c/st1:state\u003e\u003c/st1:place\u003e tak pernah merasakan dampak dari perseteruan antara Gerakan Aceh Merdeka dan TNI. “Soalnya aku tinggalnya di Aceh bagian timur gitu, jauh dari tempatnya GAM.” Ia dan keluarganya meninggalkan Aceh pada tahun 1991 dan pindah ke \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003ePalembang\u003c/st1:city\u003e\u003c/st1:place\u003e. \u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e   \u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003eMemasuki Sekolah Menegah Atas, Punto meninggalkan keluarganya dan sekolah di \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eYogyakarta\u003c/st1:place\u003e. Nama sekolahnya SMU De Pritto. Salah satu sekolah swasta di \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eYogyakarta\u003c/st1:place\u003e. Sejak di SMP, Punto senang menulis. Bahkan saat di SMU ia aktif menulis di majalah dinding (mading) sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikulernya. \u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e“Yogya terkenal sebagai \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003ekota\u003c/st1:city\u003e\u003c/st1:place\u003e pelajar, makanya aku memilih untuk sekolah di sini.”kata Punto meyakinkan.\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003eSetelah lulus SMU, ia melanjutkan kuliahnya di UGM jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 1997. Sejak kuliah, ia sudah mulai bekerja sebagai freelance di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat, Yogya Heritage Society (YHS). Yaitu lembaga yang bergerak dalam bidang pelestarian warisan budaya namun, lebih fokus pada pelestarian pembangunan bersejarah. Sekarang Punto adalah konsultan arsitektur di LSM tersebut dan sedang menangani proyek pembangunan yang bekerja sama dengan Bank Indonesia Yogyakarta.\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003eGembiraloka. Nama kelompok yang ia buat bersama teman-teman kerjanya. “Gembiraloka itu nama kebun binatang di Yogya, soalnya anggotanya hewan semua,”ujar Punto sambil tertawa. “bercanda, kok.” Sebelumnya, ia juga mempunyai kelompok Gerilya Kota. Anggotanya tiga orang. Kegiatannya mengadakan pelatihan-pelatihan. “Biasanya film,”katanya. Tapi karena bekerja, ia berhenti dari kelompok Gerilya Kota. \u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003ePasca gempa melanda \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eYogyakarta\u003c/st1:place\u003e, ia dan teman-temannya mendatangi Desa Giriloyo, Kecamatan Imogiri. Mereka mencoba memperbaiki roda perekonomian di desa ini yang sempat \u003cspan style\u003d\"\"\u003e \u003c/span\u003emacet akibat gempa. Mereka mengumpulkan para pembuat batik yang ada di desa ini. Dengan menyiapkan bahan-bahannya, Punto dan teman-temannya terus memberikan dukungan kepada warga desa agar kembali membangun perekonomian di Giriloyo. \u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e“Ngga’ ada yang menarik, hidupku datar-datar saja. Aku lagi menunggu hidupku bervariasi,”katanya sambil menggerakkan ujung jari telunjuknya naik turun. \u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003eKalau merasa bosan, ia lebih suka nonton film. Studio Twenty One pun menjadi tempat favoritnya. Kadang-kadang ia berkumpul bersama teman-temannya di cafe-cafe sekitar Yogya. \u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e“Yogya dianggap sebagai \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003ekota\u003c/st1:city\u003e\u003c/st1:place\u003e yang enak untuk masa tua” sambil mengenang ucapan Ayahnya. “Ayahku mau menetap di sini. Tapi kalau untuk generasiku belum tahu,” katanya sambil tersenyum.\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" style\u003d\"text-indent: 0.5in;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:\u0026quot;;\" \u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-2914203552404338636?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/2914203552404338636/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d2914203552404338636","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2914203552404338636"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2914203552404338636"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/06/punto-ada-di-yogya.html","title":"Punto ada di Yogya"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-3824668810821931324"},"published":{"$t":"2008-06-18T23:59:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-30T03:18:36.358-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Memories"}],"title":{"type":"text","$t":"Menjadi Kontributor di Kota Palopo"},"content":{"type":"html","$t":"Di penghujung tahun 2007. Aku sedang berjalan-jalan di salah satu pusat pertokoan di Kota Makassar.  Rencananya ingin membeli sandal. Tiba-tiba handphoneku yang sedikit lagi akan lowbet berdering. Kulihat nama seorang pria yang lama tak kujumpai. Kak Abo memanggil… . Jujur saja saya heran. Tak biasanya. Pasti ada sesuatu, pikirku. Setelah kuterima, ia hanya berbicara sebentar.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tik, lagi di mana dek? bisa telfon balik ka’??” pintanya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Iya Kak. Tunggu beberapa menit. Saya cari wartel dulu, soalnya tidak ada pulsaku kodong..” jawabku jujur.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHandphone kemudian kami matikan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaya berjalan menuju sebuah wartel yang berada di lantai 1 pertokoan. Saya menekan nomor telepon milik Kak Abo sesuai yang tertera di handphoneku. Cepat sekali ia menjawab. Seperti biasa, awalnya basa-basi, Kak Abo sering bercanda. Meski telah kuduga sebelumnya, ia menawariku sebuah pekerjaan yang sesungguhnya sangat kuinginkan. Kebetulan pada saat itu, statusku pengangguran. Maklum, baru 1 bulan selesai wisuda.\u003cspan class\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMenjadi kontributor. Tapi, untuk wilayah Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur. Aku tidak langsung memberi jawaban kepada Kak Abo. Barulah setelah beberapa hari aku menerima tawaran tersebut, tapi aku meminta wilayah lain yaitu Kota Palopo dan Kabupaten Luwu. Mungkin aku sudah keterlaluan karena harus memilih wilayah sendiri. Tapi, aku mempunyai pertimbangan lain mengapa aku ingin di tempatkan di Palopo.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSetelah mengirim lamaran, wawancara, hingga belajar meliput dan ngedit di Biro Makassar, beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 3 Januari 2008 aku berangkat ke Palopo. Sebelum berangkat berbagai macam pesan-pesan dari senior-seniorku di Biro serasa mengepung telingaku. Aku tidak keberatan. Karna kupikir aku memang masih perlu banyak belajar.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHari pertama di Palopo aku langsung diperkenalkan dengan beberapa wajah-wajah lama dan wajah-wajah baru yang tentu saja asing bagiku. Akan kuperkenalkan satu persatu..\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eADAM DJUMADIN. Lebih sering dipanggil Adam atau DJ, singkatan dari Djumadin. Kadang-kadang ia selalu marah jika aku salah menyebut Djumadin menjadi Djumain. Adam adalah kontributor TRANS TV. Wilayah liputannya cukup luas mencakup seluruh Kabupaten dan Kota di Luwu Raya, ditambah Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAdam kuliah di Stikom Fajar Makassar semester tujuh. Sekarang ini ia sudah Kuliah Kerja Lapang Plus (KKLP).\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tak perlu susah..” katanya. ”Saya kan sudah diterima di TRANS TV, jadi saya tinggal mencari judul laporan dan yang saya tulis pengalaman liputan saya di Palopo.” tambahnya.\u003cbr /\u003eAku kemudian meminjamkan laporan KKLPku sebagai contoh. Masalahnya, adam tidak mempunyai buku petunjuk membuat laporan KKLP sesuai keinginan Stikom. Entahlah mengapa Adam tidak memilikinya, mungkin ia tidak tahu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi pagi pertama bertugas di Palopo, aku  mengirimkan pesan ke Adam melalui sms. ”jemput dulue..” pintaku. Sekitar jam 10 dengan motor Thunder kesayangannya ia menjemputku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAdam pria yang baik, kadang-kadang lucu, tapi kadang-kadang menjengkelkan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ia tipe pria melankolis dan centimentil”kata seorang teman wartawan wanita yang juga bertugas di Palopo.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAdam tidak pelit, peduli dan bersahabat. Pintar memainkan gitar dan bernyanyi. Suaranya lumayan bagus. Terkadang jika ia ingin melucu, ia akan bernyanyi sambil menirukan suara vokalis Naff atau Fadli Padi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBahkan Adam sendiri kadang tidak menyangka jika saat ini ia bisa bekerja di media elektronik. Padahal ia kuliah di Stikom jurusan Jurnalistik. Awalnya, ia hanya iseng-iseng melamar di Trans tv untuk wilayah Sulbar. Namun, tak ia sangka 2 minggu setelah lamaran ia kirim, pihak Trans tv Makassar memanggilnya untuk bergabung di wilayah lain yaitu Luwu Raya, Toraja dan Enrekang.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAwal ia bekerja, ia mengaku kesulitan. Apalagi dalam pembuatan naskah, karena ia telah terbiasa membuat berita untuk media cetak.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”saya dulu setengah mati sekali ka bikin naskah berita tv , karena basic ilmuku di media cetak. Tapi, setelah biasa ma’, itu mi naskah berita tv yang paling bodo’.!!” kenangnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi Palopo, Adam tinggal di Biro Tribun Timur bersama kakaknya yang juga bekerja sebagai wartawan Tribun di Kota Palopo. Irwandi Djumadin. Kami biasa memanggilnya Kak Wandi. Yang tinggal di Biro Tribun, bukan hanya mereka berdua, tapi juga istrinya, Sandra dan anaknya yang baru berumur 3 bulan, bernama Tiara.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKak Wandi sudah sekitar 5 tahun menjadi wartawan Tribun Timur untuk Kota Palopo. Dari masih bujangan hingga ia punya 1 anak. Mungkin juga akan lebih. Sebelum Tiara lahir, kami sering berkumpul, bercerita, tertawa hingga numpang tidur di Tribun. Tapi, sekarang tidak lagi. Kami tidak ingin tawa terbahak-bahak kami mengganggu bayi mungil itu. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKak Wandi sangat baik. Orangnya santai. Ia senang memelihara ayam jantan. Di samping Biro, ia memiliki kandang ayam. Entah berapa jumlah ayam jantan yang ia punya. Jika ingin buat ia marah, caranya gampang. Tinggal curi ayam jantannya saja. Hahaha... Setiap pagi kegiatan rutinnya adalah memandikan ayam lebih dulu sebelum ia mandi. Jika ingin melihatnya begitu lucu juga gampang, suruh saja ia bernyanyi. Ekspresinya akan membuat anda tertawa terbahak-bahak.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eOrang ketiga yang akan kuperkenalkan adalah Suaib Laibe. Ia kontributor RCTI untuk wilayah Luwu Raya, Kota Palopo dan Kabupaten Toraja. Sebelum bekerja di RCTI, ia pernah menjadi redaktur di koran harian Palopo Pos. Ia Bekerja di RCTI baru sekitar 8 bulan. Selain di RCTI, ia memiliki beberapa pekerjaan lain. Ia adalah salah satu konsultan publik di Komisi Pemilihan Umum Kota Palopo. Ia juga bekerja di Komisi Penanggulangan Aids Kota Palopo.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePria berkulit hitam ini sangat cuek. Tidak lagi bujangan. Ia sudah punya 5 anak. Ia penyuka warna hitam. Setiap hari warna bajunya sama dengan warna kulitnya, hingga jika gelap ia bisa saja tak terlihat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePria asal Kecamatan Wotu ini sulit bangun pagi. Jam 12 malam handphonenya tidak aktif lagi. Setelah jam 10 pagi menjelang sianglah baru handphone kembali ia aktifkan. Jika sedang istirahat, ia tak mau diganggu, katanya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePria yang tak kalah gilanya adalah Son Abdul Rahim. Awal saya di Palopo, ia masih bekerja sebagai stringer di SCTV. Tapi, 1 bulan kemudian ia menjadi kontributor setelah mendaftar di tvOne untuk wilayah Luwu Utara dan Luwu Timur. Sebelumnya, ia juga pernah bekerja di Palopo Pos. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Biro Palopo Pos di Kabupaten Tana Toraja.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa ulet. Pekerja keras. Lucu. Kadang menjengkelkan. Harus kuakui ia punya jaringan yang kuat di Kota Palopo. Karena berada di naungan perusahaan yang sama, saya dan Son sering sama-sama. Mulai dari diskusi sampai liputan. Saya menyebutnya Pria Perantau. Ia berasal dari Pulau Sumatera. Bertahun-tahun di Palopo, hanya sekali ia berkunjung di kampungnya. Bahkan ketika ayahnya meninggal, ia juga tidak pulang ke kampungnya. Tapi, keluarganya banyak di Palopo. Cek percek, ayahnya keturunan Bua Kecamatan Luwu Sulawesi Selatan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIa pandai berpantun. Rencananya paling menggiurkan dalam waktu dekat ini adalah menikah. Bulan Agustus rencananya. Nama pacarnya Anni Salkar. Umurnya jauh bedanya minta ampun. Sebaiknya tak kusebutkan, karena dijamin anda akan menyebut kata TIDAK ADIL.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePria lainnya adalah Wahyudi Baso. Bekerja sebagai Koresponden SCTV. Ia  wartawan Tv yang paling tua di Palopo, karena memang umurnya sudah melebihi usia panik. Ia belum menikah. Bukannya tidak mau, tapi entahlah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKak Yudi sangat baik. Sabar. Suka tertawa dan suka mengalah. Apalagi jika menghadapiku. Ia memanggilku Tikko. Badannya gemuk, tinggi, berkulit putih dan kepalanya hanya berambut sedikit.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSelain menjadi wartawan, Kak Yudi juga membantu dokumentasi Komisi Pemilihan Umum Kota Palopo selama Pilwalkot 2008 ini. Ia sering mengajariku pengambilan gambar, meliput di lapangan hingga  menasehatiku soal apapun.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWartawan lainnya yang ingin kuceritakan adalah Mulyadi Abdillah. Tapi lebih sering dipanggil Ipung. Ia alumni Stikom Fajar juga. Sekarang bekerja di Koran Sindo. Ia sudah mempunyai pengalaman jurnalistik yang lumayan banyak. Beberapa media pernah ia tempati bekerja. Mulai dari Harian Fajar, Pedoman Rakyat, Majalah Ekspose dan sekarang Seputar Indonesia.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJujur saja aku segan padanya. Waktu kuliah dulu, kami belajar dalam organisasi yang sama. Sanggar Seni Karampuang. Saya banyak belajar darinya bukan hanya dalam hal jurnalistik tapi persoalan hidup. Saya sering konsultasi dengannya. Jujur saja, di Kota Palopo ini, ia-lah yang sering kumintai pendapat, apalagi dalam hal pekerjaan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSulit menjelaskan karakter pria satu ini. Ia cool. Tidak banyak bicara, tenang tapi kalau marah bisa bikin ketakutan. Hahahaaa... Dari segi penampilan, Kak Ipung, pria gondrong sebahu ini cuek. Baju kaos, celana jeans dan sandal atau sepatu kulit sudah cukup baginya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDan lelaki lain sudah sedikit berumur yang ingin kuceritakan bernama Ucenk Husain. Bekerja sebagai kontributor di Metro Tv. Badannya kecil dan berambut keriting. Ia sudah pernah menikah. Tapi, dua tahun yang lalu, istrinya meninggal karena kanker payudara. Kak Nia nama almarhum istrinya. Cantik, perhatian dan sosok wanita yang kuat. Waktu Kak Nia masih hidup, mereka sering liputan berdua. Kebetulan Kak Nia juga bekerja sebagai wartawan tv.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaat penyakit Kak Nia semakin parah, Kak Uceng setia menemani, bahkan hingga ajal menjemputnya. Saat Kak Nia meninggal dan dikuburkan, Kak Uceng menangis sambil memeluk nisan istrinya dan terus berkata sayang pada mendiang istrinya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKak Uceng, penikmat rokok Dji Sam Soe ini akhirnya harus menikmati masa tuanya di Kota Palopo dengan berat hati. Setelah lama bekerja di Makassar, ia kembali ditugaskan di Kota ini. Sebelum di Makassar, ia memang sudah lama menjadi wartawan tv untuk Metro tv di Kota Palopo dan Luwu Raya bahkan Kabupaten Tana Toraja.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePernah sekali waktu, kami mengadakan pesta kecil-kecilan di Biro Tribun Timur. Kak Son membeli beberapa ikan Baronang  untuk dibakar. Salah satu ikan ukurannya lumayan besar. Kak Uceng dengan rasa percaya diri dan keyakinan yang entah tiba-tiba berasal dari mana kemudian menawarkan diri untuk membuat masakan dari bahan ikan tersebut. Katanya  mau buat parede (ikan masak yang dimasak dengan bahan sederhana misalnya, cabe, garam dan kunyit. Biasa dicampur daun kedondong atau belimbing biar kecut). Tapi karena tak ada daun kedondong dan belimbing, Kak Uceng mencampur bahan lain untuk membuat masakannya sedikit kecut yaitu jeruk nipis. Melihat atau mendengar, sepertinya enak jika ia hanya memeras air jeruk nipisnya. Tapi Kak Uceng membiarkan biji dan kulitnya ia ulek dan dicampur ke dalam parede. Hasilnya, pasti pahitlah. Tak ada rasa bersalah di wajahnya. berniat membela diri ia bahkan mencoba membohongi kami dengan berkata, ”biji jeruk nipis bisa jadi obat,”. Sambil tertawa kami semua membalas dengan menyebutnya, ” betul-betul Kak Uceng gila. Hahaha..”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMembicarakan masakan, teman yang akan saya ceritakan lagi adalah seorang wartawan wanita yang katanya jago masak. Belum terbukti sih... aku Cuma pernah merasakan sayur kangkung tumis buatannya yang rasanya lumayan enak juga.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWanita ini bekerja di Harian Fajar. Rosmini Hamid. Diperkeren menjadi Mimi. Tomboy.  Jago Taekwondo dan jago main billiar. Sedikit-sedikit mau hajar orang. Setiap hari ia menggunakan jilbab. Warna biji matanya tidak seperti warna biji mata pribumi. Warnanya coklat. Mimi pakai softlens. Matanya minus 3.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi Palopo, ia tinggal di kamar kos ukuran 4 X 4 meter. Sendirian. Kadang-kadang aku menemaninya menginap di kamar kos itu. Kami dekat. Sering bercerita berdua. Biasa, urusan wanita. Hal yang paling mnjengkelkan darinya karena ia sulit dibangunkan saat tidur. Butuh tenaga dan taktik khusus untuk membangunkannya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSebelum di bertugas di Palopo, Mimi ditempatkan oleh perusahaan tempatnya bekerja di Kota Makassar. Selama empat tahun, ia bekerja sebagai wartawan Hiburan. Tak heran jika ia tergila-gila jika ada artis ibukota yang akan datang ke Makassar, maka Mimi tidak tanggung-tanggung akan mengeluarkan teriakan histeris. Ia pernah meliput dan melakukan wawancara khusus dengan Tibo beberapa hari sebelum ia di eksekusi di lembaga pemasyarakatan di Palu, Sulawesi Tengah. ”Saat itulah aku betul-betul merasa menjadi wartawan,” katanya bangga.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKawan lain yang akan kuceritakan adalah Salam Abadi. Bekerja di ANTV. Kupanggil ia Kak Salam. Sudah punya istri dan dua orang anak. Ia ayah yang baik. Setiap pulang kerja, ia selalu menyempatkan untuk singgah ke toko membeli roti tawar untuk anaknya. Ia termasuk wartawan paling sabar di kota ini. Tak pernah mengeluh pada saat liputan. Kak Salam selalu tersenyum meski pada saat liputan, isi kantongnya sudah tak mendukung lagi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUkuran tubuhnya hampir sama dengan Kak Ipung. Badan agak kurus. Tingginya sekitar 165 cm. Kulit putih dan rambut ikal dan cara berpakaiannya sederhana.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePada saat banjir melanda Kabupaten Luwu Utara, kami sering meliput bersama. Dan yang tak bisa kami lupa, ketika aku, Kak Salam dan Kak Son meliput banjir di Desa Lara I Kecamatan Baebunta. Untuk menuju ke desa itu, kami menggunakan dua motor. Aku berboncengan dengan Kak Son dan Kak Salam sendiri dengan motor Shogunnya. Motor kami harus melewati jalan-jalan desa yang sudah tergenang air. Kadang aku harus turun berjalan kaki dan Kak Son serta Kak Salam harus mendorong motor. Banjir yang lumayan tinggi, membuat motor Kak Salam mogok karena kemasukan air. Kami terpaksa harus berhenti dan mencoba memperbaiki  motor tersebut dengan sekuat tenaga. Kak Salam dan Kak Son bahkan harus mengangkat dan membalikkan motor Kak Salam agar airnya bisa keluar. Dan yang paling lucu, pada saat mereka mengangkat motor itu, Kak Salam masih sempat memohon padaku agar difoto sebagai kenang-kenangan. Kami pun tertawa terbahak-bahak, meski beban mereka berkilo-kilo.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTenaga dan pikiran yang kami keluarkan ternyata tak membuat motor Kak Salam bisa kembali normal. Waktu terus berjalan. Matahari semakin dekat dengan kepala. Keringat mulai menetes deras dan  terasa mengalir di kulit. Kami memutuskan untuk meninggalkan motor Kak Salam disalah satu rumah penduduk sambil menjemurnya di bawah terik sinar matahari. Untuk menuju ke lokasi banjir terparah, kami bertiga naik dalam satu motor dan memaksa motor kesayanganku  mengangkut kami dan melewati genangan air.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSemua teman dekatku di Palopo telah kuceritakan. Di antara mereka aku yang paling muda. Mereka sering bilang aku anak kecil. Mungkin karena badanku yang kecil dan sikapku yang sedikit manja kepada mereka. Kami semua sering berkumpul bersama. Meliput peristiwa bersama. Saling menukar informasi. Saling bercanda. Saling mencela. Kadang tak sependapat. Kadang pula bersitegang. Tapi tak ada dendam karena kami hidup dan bekerja dalam kota yang sama. Palopo. Kota kecil dimana semua kenangan masa kecilku mengalir indah di kota ini.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSartika\u003cbr /\u003eMalili, 16 Juni 2008\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-3824668810821931324?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/3824668810821931324/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d3824668810821931324","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/3824668810821931324"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/3824668810821931324"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/06/menjadi-kontributor-di-kota-palopo.html","title":"Menjadi Kontributor di Kota Palopo"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-1109286485680145537"},"published":{"$t":"2008-05-09T01:43:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-30T03:18:39.040-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Memories"}],"title":{"type":"text","$t":"Sulis"},"content":{"type":"html","$t":"Akhirnya, setelah dua bulan di servis, si SULIS (kamera kesayanganku) kembali. Senang sekali rasanya, apalagi uang yang digunakan buat bayar ongkos servisnya pakai duit sendiri. Dua bulan tak melihat sulis, rasa penasaran terus muncul di kepalaku. rindu? PASTI. Saat bertemu kembali, saya berteriak asli senang tiada tara. Teman-teman yang saat itu sedang sibuk buat berita masing-masing, seketika menoleh ke arahku. Ada yang bilang saya gila.. ada yang bilang, \"wei, santai mako, cewe'...\". Hanya ada satu kata yang langsung kupikirkan, TIDAK PEDULI. Yang pasti saya sudah mendapatkan kameraku kembali. Tidak sabar ingin langsung ku pakai liputan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSulis..Sulis...\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-1109286485680145537?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/1109286485680145537/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d1109286485680145537","title":"1 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1109286485680145537"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1109286485680145537"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/05/sulis.html","title":"Sulis"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"1"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-5109312490303589233"},"published":{"$t":"2008-05-06T09:18:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2008-05-07T07:52:02.060-07:00"},"title":{"type":"text","$t":""},"content":{"type":"html","$t":"malam ini hujan yang sedikit-sedikit menemaniku memikirkanmu...\u003cbr /\u003esangat indah... percikannya menenangkanku...\u003cbr /\u003eketika menyentuh wajahku.. ia seperti berubah menjadi jemarimu\u003cbr /\u003emengapa malam ini aku merasa rindu itu begitu indah...\u003cbr /\u003etak ada ragu... ketika kita saling jujur, percaya dan mengharap...\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eseperti katamu..,\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e...kita akan segera bertemu...\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-5109312490303589233?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/5109312490303589233/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d5109312490303589233","title":"2 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5109312490303589233"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5109312490303589233"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/05/malam-ini-hujan-yang-sedikit-sedikit.html","title":""}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"2"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-2645465180533724295"},"published":{"$t":"2008-04-22T14:05:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-30T03:20:11.411-08:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Memories"}],"title":{"type":"text","$t":"RUSAK TOTAL"},"content":{"type":"html","$t":"Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, banjir terjadi Kabupaten Luwu Utara. Tapi kali ini banjirnya di 7 Kecamatan. Parahkan??? Bersama seorang teman yang agak gila (hahahaaaa) saya berangkat ke sebuah Desa yang banjirnya tak pernah surut-surut. Desa Teteuri, terletak di kecamatan Sabbang, sekitar 10 kilometer dari ibukota Kabupaten Luwu Utara, Masamba.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTiba di lokasi, banjir sudah sampai di sebuah jembatan besar yang jaraknya tidak jauh dari jalan poros Sulawesi. Sekitar puluhan siswa tampak bersenang-senang bermain air bahkan mandi bersama teman-teman sekolah mereka. Kebetulan hari itu, mereka pulang cepat karena banjir.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUntuk menuju ke seberang jembatan, saya dan teman saya, Son Abdul Rahim, harus turun dari motor. Mesin motor terpaksa dimatikan, dan Son harus mendorong motor ke seberang jembatan. Saya sendiri harus menumpang pada sebuah mobil milik Dinas Sosial yang akan mengantarkan bantuan ke desa-desa yang terendam banjir. Karena jaraknya dekat, saya memilih tidak duduk di dalam mobil bersama pegawai Dinas Sosial, tapi saya memilih berdiri sambil pada sisi kiri mobil dengan memegang sebuah besi agar posisi berdiri tetap aman.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTiba di seberang saya turun dari mobil dan naik motor menuju lokasi banjir yang lumayan parah bersama Son. Di tengah perjalanan, saya melihat sekelompok murid SD  yang bersepeda. Dari jauh, saya pikir anak-anak tersebut adalah anak laki-laki karena sepeda yang mereka gunakan adalah sepeda BMX yang lebih sering digunakan oleh anak laki-laki. Ternyata setelah melihat dari dekat, semua anak adalah anak perempuan. Waduh, saya tertawa terbahak-bahak di atas motor. Anak-anak perempuan tersebut sangat tomboy menggunakan sepeda tersebut. Mereka menyapa kami, “haloooooo tanta…”. Saya lagi-lagi tertawa sekeras-kerasnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSekedar info bahwa anak sekolah di desa ini kebanyakan menggunakan sepeda ke sekolah karena letak sekolah mereka lumayan jauh. Bukan hanya murid SD kelas 4 atau 5 saja yang bias menggunakan sepeda, tapi ada juga anak kelas 1 SD. Bagi anak yang menggunakan sepeda, akan terbilang lumayan kaya jika ia memiliki sepeda. Jadi, ada juga anak-anak sekolah yang harus rela berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya untuk pergi ke sekolah. Bahkan, ada diantara mereka yang hanya menggunakan sandal ke sekolah. Ada juga yang menggunakan sepatu, tapi saat berjalan pulang dari sekolah ia melepas sepatu dan memegang sepatunya sambil berjalan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHahahaaaa… jadi ingat waktu kecil.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePulang dari sekolah saya juga kadang-kadang melakukan hal yang sama. Saya ingat, saat kelas 5 SD, bapak juga memberikanku sepeda untuk digunakan ke sekolah. Walau jarak dari rumah ke sekolah lumayan dekat, saya tetap memilih naik sepeda. Suatu hari, saat ingin ke sekolah sepeda pemberian bapak itu tidak ada di halaman rumah. Menurut kakak, sepedanya dipinjam sepupu. Walau dalam keadaan marah dan menangis, saya tetap pergi ke sekolah. Tapi… pulang dari sekolah, sepupu saya bukannya bilang terima kasih tapi malah mengejek karena saya harus menagis. Tiba-tiba saja batu merah yang lumayan agak besar melayang ke kepala sepupu saya. Siapa yang lempar ya…??? Ya.. tentu saja saya. Hahahaaaa…  untung saja sepupu saya tidak apa-apa, Cuma benjol sedikit.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKembali ke kisah di Teteuri…\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWaktu tiba di lokasi, kami bertemu dengan seorang Kepala Dusun Mangkallang. Kami kemudian berbincang-bincang mengenai keadaan warga di Mangkallang. Ternyata belum ada yang mau mengungsi juga, karena sudah biasa. Ketinggian air juga masih sama saat beberapa hari yang lalu meliput di sana. Tiba-tiba saja handphone Son berdering. Katanya dari delik sandi atau panggilan buat seseorang yang sering memberi informasi kepada kami jika ada peristiwa. Dari delik sandi tersebut, kami menerima info bahwa di kecamatan Mappadeceng  juga mengalami banjir yang parah. Saya dan Son memilih menuju ke mappadeceng.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi perjalanan, saya melihat tiga orang bocah sedang membantu ibunya mencabut daun ubi jalar di pinggir-pinggir jalan. Ketiga bocah itu dengan asyiknya bernyanyi sambil tertawa terbahak-bahak. Sangat menyenangkan melihat mereka bahagia. Mau tau lagu apa??? “11 januari bertemu, menjalani kisah cinta ini… aluri berkata engkaulah.. milikku..”. Weits, salut buat GIGI.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eLanjut…\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami kemudian bertemu dengan kepala Desa Teteuri. Beliau membawa kami ke sebuah rumah yang digunakan warga untuk mengungsi karena banjir. Naik peraaaaaahu lagi. Lebih tepatnya sampan. Saat tiba di lokasi, ternyata rumah pengungsian itu juga sedang tergenang air. Pengungsian saja terendam banjir, bagaimana dengan rumah mereka???\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDan untuk kesekian kalinya terjadi pada saya. Lagi-lagi saya jatuh diu sebuah selokan yang airnya setinggi dada. (bagi yang ingin tertawa, SILAHKAN!!! Meski melukai hati saya). Namun, sayangnya dan sangat saya sesalkan hingga ingin berteriak sekeras-kerasnya…. Handphone Samsung satu-satunya milikku, yang sangat kusayangi harus ikut terendam. Hiks…hiks…hiks… Son kemudian memisahkan satu persatu bagian handphone mulai dari casing, baterai dan sebagainya, lalu menjemurnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHasilnya, sampai hari ini RUSAK TOTAL.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSudah mi deh..., nda mood ma’ menulis ingat handphoneku. Hehehe…\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-2645465180533724295?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/2645465180533724295/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d2645465180533724295","title":"1 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2645465180533724295"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2645465180533724295"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/04/rusak-total.html","title":"RUSAK TOTAL"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"1"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-2275312916961353377"},"published":{"$t":"2008-04-15T02:31:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2008-04-15T02:37:12.454-07:00"},"title":{"type":"text","$t":""},"content":{"type":"html","$t":"\u003cspan style\u003d\"font-family:Garamond;font-size:130%;color:#000000;\"\u003e\u003cb\u003eWartawan: Menolong atau Memotret?\u003c/b\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan new\u003d\"\" roman\u003d\"\"    style\u003d\"font-family:Times;font-size:100%;color:#333333;\"\u003eOleh  Sirikit Syah\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan new\u003d\"\" roman\u003d\"\"    style\u003d\"font-family:Times;font-size:100%;color:#666666;\"\u003e\u003cem\u003e\u003cbr /\u003eSebuah diskusi tentang praktik pers\u003c/em\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Garamond;font-size:100%;color:#000000;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: 12pt; font-family: Garamond;\"\u003eSEJAK saya pertama kali jadi wartawan pada 1980-an, pertanyaan ini seringkali muncul, baik dalam obrolan sesama wartawan, dalam pelatihan jurnalistik maupun dalam seminar tentang etika pers. Dalam situasi tertentu, misalnya musibah, kecelakaan, tragedi, wartawan yang kebetulan berada di tempat kejadian harus menolong dulu atau memotret --merekam dalam kamera, melakukan wawancara?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJames Fallowes dalam bukunya Breaking the News (1997), menuliskan situasi khusus itu di bagian “Why We Hate the Media.” Menurut Fallowes, wartawan yang menjawab –dan mempraktikkan jawaban-- bahwa “wartawan harus memotret dulu, karena tugas wartawan adalah memotret, bukan menolong” itu jadi salah satu penyebab masyarakat Amerika Serikat membenci media \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003emassa\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePada akhir 1980-an, ada sebuah program televisi yang disiarkan di hampir semua station PBS (Public Broadcasting Service) di Amerika Serikat. Program itu bertajuk Ethics in \u003cst1:country-region st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eAmerica\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:country-region\u003e. Di program ini dihadirkan sekitar selusin tamu dari berbagai profesi untuk membahas kode etik dan praktik dari profesi masing-masing, termasuk kendala atau hambatan menerapkan kode etik tersebut.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSalah satu episode yang dibahas berjudul “Under Orders, Under Fire,” dengan tamu kalangan tentara dan wartawan. Moderatornya Charles Ogletree, seorang pofesor dari \u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:placename st\u003d\"on\"\u003eHarvard\u003c/st1:placename\u003e  \u003cst1:placename st\u003d\"on\"\u003eLaw\u003c/st1:placename\u003e \u003cst1:placetype st\u003d\"on\"\u003eSchool\u003c/st1:placetype\u003e\u003c/st1:place\u003e. Mengapa profesi tentara dipertemukan dengan profesi wartawan tak dijelaskan dalam buku itu. Mula-mula Ogletree menanyai seorang veteran perang yang kehilangan sebelah lengannya di Vietnam. Kepadanya diberi persoalan, kawan-kawannya tertangkap lawan, sementara dia hanya menangkap seorang musuh. Pertanyaannya: “Sejauh mana dia akan membuat tawanannya berbicara dan memberitahu informasi penting yang dapat menyelamatkan kawan-kawannya?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eFrederick Down, veteran \u003cst1:country-region st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eVietnam\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:country-region\u003e yang kemudian jadi novelis itu, kelihatan kesulitan menjawab pertanyaan itu. Dia pernah mengalami hal-hal yang tak mengenakkan di \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003emedan\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e perang. Dia menjawab, “Saya akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan kawan-kawan saya.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eOgletree mengejarnya, “Termasuk dengan menyiksa tawanan Anda? Anda punya pisau. Dari mana Anda mulai dan sampai di mana Anda akan berhenti?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAgak enggan, Down menjawab, “Well, saya tak suka melakukannya. Tapi kalau terpaksa, saya akan menyiksanya agar dia berbicara dan saya dapat menyelamatkan kawan-kawan saya.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJawaban itu memicu perdebatan di kalangan tentara sendiri dalam forum itu. Sebagian setuju dengan Down. Sebagian mengingatkan dalam perang pun ada aturannya. Di antara yang berpendapat perlunya kode etik perang ditegakkan adalah William Westmoreland, pensiunan jendral yang mengomandani seluruh tentara Amerika Serikat di Vietnam ketika Fredercik Down bertugas saat itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAudience tampak bersimpati pada Down, apalagi dia menutup dengan kalimat, “Saya tahu konsekuensinya. Saya harus hidup dengan bayangan peristiwa itu, dan itu tidak mudah ….” Dari jawaban itu dapat disimpulkan dua hal: a) Down akan melanggar kode etik perang dalam situasi tertentu, tapi b) dia melakukannya demi solidaritas tentara dan dia melakukannya dengan beban perasaan yang berat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSekarang Ogletree beralih pada para wartawan yang diwakili Peter Jennings, pembawa acara terkenal World News Tonight dari ABC, diberi persoalan. Setelah melobi sekian lama, \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eJennings\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e berhasil menarik perhatian pemimpin tentara musuh. Dia diundang ke \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003emedan\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e perang dan kini dia sedang diajak tur ke garis belakang tentara lawan. Pada saat melihat-lihat \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003emedan\u003c/st1:city\u003e perang di belakang garis lawan itu, rombongan \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eJennings\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e terperangkap di tengah-tengah jejak tentara Amerika Serikat dan tentara musuh yang tengah mempersiapkan penyerbuan ke arah mereka. “Apakah Anda akan memerintahkan kameraman Anda untuk siap mengambil gambar saat serangan itu terjadi?” tanya Ogletree.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eJennings\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e diam sekitar 15 detik, lalu menjawab, “Saya kira saya tak akan melakukan itu. Saya akan lakukan apa yang dapat saya lakukan untuk memberitahu tentara Amerika tentang rencana penyerbuan itu.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Meskipun itu berarti mengorbankan sebuah liputan hebat?” desak Ogletree.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Meskipun itu akan mengorbankan nyawaku,” tandas Peter Jennings. “Saya tak mungkin meliput hal semacam itu. Ini masalah pribadi. Mungkin wartawan lain tak sependapat dengan saya.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTiba-tiba Mike Wallace, pembawa acara 60 Minutes dari CBS, menyela, “Wartawan lain pasti akan melakukan hal sebaliknya. Bagi mereka, itu cuma sebuah peristiwa yang harus diliput.” Wallace kemudian menguliahi \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eJennings\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e, “Saya benar-benar tercengang atas jawaban Anda. Anda adalah wartawan, meskipun Anda orang Amerika. Saya tak mengerti mengapa hanya karena Anda orang Amerika Anda tak akan meliput peristiwa itu.” (Ini hanya contoh seolah-olah, karena Mike Wallace dan semua orang Amerika tahu, bahwa Peter Jennings warganegara Kanada)\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eOgletree kemudian mendesak Wallace, “Bukankah Jennings memiliki tugas yang lebih mulia, apakah itu bersifat patriotis atau manusiawi, untuk melakukan lebih dari sekadar merekam gambar saat tentara negaranya ditembaki?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tidak,” Wallace menjawab datar dan cepat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Tak ada itu tugas mulia semacam itu. Tidak ada. Kami hanyalah wartawan! Dan tugas wartawan adalah meliput peristiwa, bukan mencegahnya.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eJennings\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e, setelah memikirkan jawabannya dan kuliah seniornya, tiba-tiba meralat, “Wallace benar. Saya seorang pengecut.” \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eJennings\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e mengakui dia kehilangan pandangan jurnalistiknya dan menjadi “terlibat” --sikap yang sama sekali tidak profesional.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKetika Jennings bersependapat dengan Wallace, para tamu lain dalam forum itu, dan para audience, memandang keduanya dengan tercengang. Seorang pensiunan jendral Angkatan Udara, Brent Scowcroft, berdiri dan berkata dengan nada pahit pada kedua wartawan senior itu, “Anda akan berdiam diri dan menyaksikan pihak Anda dibantai? Untuk apa? Untuk 30 detik pada berita malam, sebagai ganti menyelamatkan satu peleton!”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eGeorge M. Connell, seorang kolonel marinir yang mengenakan seragam lengkap (tanda masih berdinas), menatap kedua wartawan televisi itu. “Saya merasa sangat ... tersinggung.” Katanya, dua hari setelah diskusi ini, bisa saja \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003eJennings\u003c/st1:city\u003e atau Wallace berada di \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003emedan\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e perang bersama tentara Amerika, dan terluka atau tertembak, sebagaimana sebagian wartawan perang mengalaminya. Mereka akan mengharapkan tentara Amerika menentang hujan peluru untuk menyelamatkan mereka.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Dan kami akan melakukannya!” kata Connell, dengan nada pahit. “Dan inilah yang membuat kami muak kepada (golongan) mereka. Marinir akan dan bisa kehilangan nyawa karena menolong dua wartawan yang terluka.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eItulah gambaran bagaimana tentara dan jurnalis menerapkan atau melanggar kode etik mereka. Tentara Amerika Serikat tampaknya cenderung melanggar kode etik, meski dengan perasaan tak mudah dan konsekuensi psikologis bakal mereka hadapi sepanjang hidup. Wartawan tampak lebih ketat menjaga kode etik meskipun itu bisa berarti mengorbankan nyawa manusia lainnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaya harap kisah ini tak dipandang dengan kacamata \u003cst1:country-region st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eIndonesia\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:country-region\u003e! Gambaran kisah ini kemungkinan berbeda dengan situasi di \u003cst1:country-region st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eIndonesia\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:country-region\u003e di mana pada umumnya tentara sangat patuh pada perintah atasan sementara wartawan justru cenderung melanggar kode etik mereka sendiri.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMasalah ini pernah saya bahas dalam sebuah diskusi Aliansi Jurnalis Independen di Jawa Timur pada 2001. Saya tergolong wartawan yang percaya bahwa, “Sebelum wartawan, kita adalah manusia.” Dengan demikian, dalam situasi seperti yang digambarkan, seyogyanya kita berfungsi sebagai manusia terlebih dahulu. Yang membuat saya terkesan, para anggota AJI yang mendengar penjelasan itu memberikan applause --yang menurut saya itu berarti mereka sependapat dengan saya dan tidak sependapat dengan Mike Wallace dan Peter Jennings. Wartawan AJI, setidaknya mayoritas dari anggota di Jawa Timur, tampak menyadari benar bahwa wartawan adalah manusia juga. Dapat diharapkan, dalam menjumpai peristiwa kebakaran di kampung mereka, pertama-tama mereka akan turut membawa air dan menyiram api, sebelum melakukan wawancara dengan Pak RT atau Hansip yang bertugas, atau memotret tetangga mereka yang hangus terbakar.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeorang wartawan yang memfungsikan diri sebagai “wartawan” lebih dahulu, mungkin akan jadi “wartawan hebat” bahkan menerima penghargaan, tapi mereka bisa gagal sebagai manusia. Sebuah contoh tragis adalah kasus meninggalnya Kevin Carter, fotografer pemenang hadiah Pulitzer 1994. Fotonya yang terkenal adalah tentang seorang anak perempuan Afrika yang tengah kelaparan dalam perjalanan ke tempat pembagian jatah pangan. Anak itu jatuh dan dalam keadaan menunggu kematiannya di gurun pasir Afrika dengan latar belakang burung pemakan bangkai yang menungguinya mati (burung pemakan bangkai hanya memakan orang yang sudah mati). Foto itu menarik perhatian juri dan memenangkan Pulitzer. Kemudian muncul perdebatan: mengapa dia memotret foto mengenaskan itu? Mengapa dia tidak menolong gadis itu? Mengapa dia membiarkan burung itu menunggui si gadis meninggal dunia? Istilah kita, “Kok tega?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBeberapa bulan kemudian, fotografer freelance yang sering memotret buat Reuters itu, mati bunuh diri. Banyak orang berspekulasi dan mengatakan dia tak tahan mendapat kritik atas fotonya yang kontroversial itu. Sebagian mengatakan dia tak tahan menanggung konsekuensinya seumur hidup. \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eAda\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e lagi yang mengatakan, keganasan perang dan kekejaman alam Afrika di mana dia bekerja, membuatnya depresi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePADA 1996, sebuah stasiun televisi \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eLos   Angeles\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e, menerima telepon dari seseorang yang bermaksud melakukan bunuh diri dan minta diliput. Stasiun itu mengirim awak TV untuk mendatangi sang sumber dengan peralatan lengkap. Bukannya mencegah orang itu bunuh diri, dengan memanggil polisi misalnya, awak televisi itu malah mengantisipasi sebuah liputan “eksklusif.” Mereka mempersiapkan liputan langsug, menunggui orang itu melaksanakan niatnya, dan merekam langsung saat orang itu menambak dirinya sendiri. Orang itu mati di depan kamera televisi. “Live on air!”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eRibuan telepon masuk ke stasiun itu. Mereka mengecam tindakan televisi \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eLos Angeles\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e itu. Menurut para pemirsa televisi yang protes itu, pertunjukan tersebut sama sekali bukan berita menarik. Bahkan mengerikan. Mereka keberatan anak-anak mereka menonton “siaran langsung sebuah peristiwa bunuh diri,” yang selain mengerikan juga khawatir dapat ditiru anak-anak. Mereka mempertanyakan “moralitas dan etika para awak televisi itu.” Stasiun tersebut lalu mohon maaf kepada publik. Pertanyaan sang jendral pada cerita di bagian awal tadi ada benarnya, “Untuk apa? Untuk 30 detik siaran berita? Dengan harga sebuah nyawa?”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeorang redaktur CNN yang pernah saya jumpai di \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eAtlanta\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e juga menerapkan kode etik dengan ketat. Waktu David Koresh, ketua Branch Davidian di Waco, Texas, pada 1993 mengurung semua pengikutnya dan mengabaikan permintaan polisi agar mereka keluar dari rumah itu, CNN mendapatkan jalur telepon khusus dengan David Koresh.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWaktu itu Federal Bureau of Investigations (FBI) kesulitan berkomunikasi dengan mereka yang terkurung (atau mengurung diri) dalam rumah, karena sambungan telepon diputus, dan mereka mengancam bunuh diri bila FBI mendesak masuk. CNN mendapatkan nomor telepon khusus David Koresh dan melakukan wawancara eksklusif sesaat sebelum mereka semua terbakar dan meninggal bersama-sama.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaya bertanya, “Sandainya nomor telepon Anda berikan kepada FBI, mungkin mereka dapat berkomunikasi dan melakukan negosiasi sehingga puluhan nyawa manusia itu terselamatkan.” Redaktur CNN itu memandang saya dengan pandangan sulit mengerti. Katanya, “Tapi kita wartawan, Sirikit. Kita harus menjaga kerahasiaan yang dipercayakan kepada kita. David hanya mau bicara dengan orang-orang saya. Tak dapat dibenarkan kalau kami memberikan nomor itu pada FBI.”\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e“Ya, tapi, harga sekian nyawa …,” saya masih bersikeras. Dan di antara kami tak ketemu saling pengertian.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKematian Putri Diana merupakan salah satu contoh yang sangat signifikan dari pertanyaan: memotret atau menolong dulu? Sekian menit yang dibuang para paparazi untuk memotret korban mungkin sangat berarti dalam menyelamatkan satu atau dua nyawa manusia. Karena peristiwa itulah Press Complaint Commission, sebuah badan pemantau pers semacam Dewan Pers versi Indonesia (sebelumnya namanya memang British Press Council), kemudian menelurkan sekian banyak peraturan bagi wartawan, umumnya berkenaan dengan pelanggaran privacy, penggunaan tele kamera, dan sebagainya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePada pertemuan para redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi dari wilayah Maluku di Surabaya akhir 1999, juga terungkap bahwa para wartawan itu mengalami kesulitan untuk menerapkan standar jurnalistik dan kode etiknya. Karena tingginya tingkat kecurigaan di Maluku, setiap wartawan yang tengah bertugas diperiksa lebih dulu oleh \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003enara\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e sumber dari media apa dan beragama apa. Wartawan beragama tertentu sulit memasuki wilayah sumber agama lainnya. Dengan kondisi seperti ini, wartawan cenderung, karena dipaksa keadaan, menulis berita secara sepihak. Untuk mengurangi ekstrim keberpihakan, wartawan tentunya dapat melakukan wawancara pihak ketiga atau netral, bila pihak kedua menolak atau sulit ditemui atau bahkan membahayakan kalau ditemui.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTidak sedikit pula wartawan di Indonesia mengabaikan kode etik yang berbunyi “berikan identitas Anda dalam mewawancarai sumber.” Dalam Kode Etik Persatuan Wartawan \u003cst1:country-region st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003eIndonesia\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:country-region\u003e jelas-jelas disebut “wartawan tidak boleh menyamar.” Aturan ini masuk akal, karena bagaimana perasaan Anda sebagai warga negara kalau orang yang mengajak Anda ngobrol di kereta, pesawat, bus \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003ekota\u003c/st1:city\u003e, tempat tunggu dokter, adalah wartawan yang menyamar dan besoknya semua pembicaraan Anda dimuat di media \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003emassa\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e lengkap dengan identitas Anda?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMenurut saya, wartawan diperbolehkan menyamar hanya dalam kondisi: a) kalau tidak menyamar, pekerjaan itu membahayakan jiwanya (di \u003cst1:city st\u003d\"on\"\u003e\u003cst1:place st\u003d\"on\"\u003emedan\u003c/st1:place\u003e\u003c/st1:city\u003e perang, wilayah konflik), b) berita yang diburu demi kepentingan orang banyak bukan skandal yang menyangkut pribadi-pribadi (misalnya, investigasi kasus Bulog dengan menyamar mungkin lebih diterima daripada investigasi dengan menyamar ke tempat pelacuran hanya untuk menuliskan tentang siapa saja para pelanggan lokalisasi itu).\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePada persoalan sejauh mana kode etik dapat dilanggar, memotret dulu atau menolong dulu, saya tetap berpendapat bahwa kita takkan jadi wartawan yang hebat kalau pada mulanya bukan manusia yang baik. Be a good man, than a good journalist. Itu saja.*\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Garamond;font-size:100%;color:#000000;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: 12pt; font-family: Garamond;\" lang\u003d\"SV\"\u003e\u003cspan style\u003d\"color:#000000;\"\u003eSIRIKIT SYAH\u003cbr /\u003eWartawan-cum-seniman, sempat bekerja di SCTV biro Surabaya, menyunting jurnal Media Watch, menulis kumpulan cerita pendek Harga Perempuan dan buku Media Massa di Bawah Kapitalisme, mendapatkan Hubert Humphrey Fellowship di Public Communication School, Universitas Syracuse Inggris, belajar regulasi hukum dan media di Universitas Westminster Inggris. Di Pantau, menulis Menjadi Jurnalis Televisi  dan Wartawan Menolong atau Memotret.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-2275312916961353377?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/2275312916961353377/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d2275312916961353377","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2275312916961353377"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2275312916961353377"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/04/wartawan-menolong-atau-memotret-oleh.html","title":""}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-5411111960675096938"},"published":{"$t":"2008-04-14T13:20:00.001-07:00"},"updated":{"$t":"2008-09-14T07:28:34.837-07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Semoga Esok Banjir Akan Surut"},"content":{"type":"html","$t":"Sekitar pukul 11.oo Wita. Aku dan teman-teman mendapat info bahwa tiga kecamatan terendam banjir di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\"Pasti sungai Rongkong meluap lagi,\" pikirku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\"Pasti naik perahu lagi,\" pikirku lagi beberapa saat kemudian.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\"Pasti ketemu buaya lagi. Tidaaaaaakkk!!!\" pikirku untuk ketiga kalinya. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTiba di lokasi, Kecamatan Sabbang. Perahu yang akan kami gunakan sudah menunggu. Sambil shooting sana, shooting sini, aku tetap perhatikan sekitar sungai. Jangan sampai ada buaya yang nongkrong sambil berjemur. Terasa sangat menyeramkan. Ketakutanku serasa menghantuiku.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e15 menit menelusuri sungai, kami tiba di rumah kepala Dusun di antara kebun kakao. Karena perahu tak bisa masuk tepat di depan rumahnya, kami terpaksa harus turun dari perahu. Jalan menuju rumah pak dusun sudah berubah menjadi sungai. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\"kalau musim hujan, pasti daerah ini banjir, air sungai rongkong meluap, karena tanggulnya jebol\" kata pak dusun.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eUntuk masuk ke halaman rumah pak dusun saja, ketinggian airnya sampai pinggang orang dewasa. AKu terus menyusuri jalan dengan meraba-raba tanah dengan telapak kakiku. Sayangnya, aku kurang berhati-hati hingga tiba-tiba aku terpeleset dan masuk ke dalam selokan. Semua tertawa.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJalan yang licin rupanya tidak hanya menjebakku hingga terjatuh. Tapi, beberapa teman ikut jatuh atau sekedar terpeleset. Untunglah kami bisa menyelematkan kamera kami.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSetelah mengambil gambar dan wawancara, kami menyempatkan foto-foto dengan warga setempat. Lalu berjalan-jalan keliling desa. Air merendam seluruh jalan-jalan desa. Rumah beserta isinya juga menjadi sasaran air yang terus mengalir. Sambil meraba-raba jalan, aku terus memperhatikan aktivitas warga. Ada yang membersihkan rumah. Berkumpul. Mencari kutu. Anak-anak bermain. Ibu menyusui. Dan paling menarik, saat mataku menatap seorang pria yang sedang memanjat pohon. Wah... pria itu sedang meracik ballo. Minuman khas Makassar yang memabukkan. Di bawah pohon, banyak warga yang sudah menunggu. Mulai dari anak berumur tiga tahun sampai para lansia. Aku mendekati mereka. Pemanjatnya turun, anak-anak berebut sambil memegang gelas masing-masing dan meminta racikan ballo'. Seorang ibu mengajakku mencicipi minuman itu. Dan aku katakan saja, \"Dengan senang hati..\" hahaha...\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003erasanya pahit. Tapi aku bahagia. Mereka sangat ramah. Aku menemukan kesenangan yang begitu manis bersama mereka. Tertawa, bercerita dan mendengarkan harapan mereka.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\"Semoga esok banjir akan surut,\"\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBeberapa meter dari tempat kami, sebuah perahu telah menjemput aku dan teman-teman wartawan lainnya. Kami pulang, membawa harapan itu. \u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\"Semoga mereka dilindungi Tuhan.\" batinku.\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-5411111960675096938?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/5411111960675096938/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d5411111960675096938","title":"2 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5411111960675096938"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5411111960675096938"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/04/banjir-ballo-dan-hahaha.html","title":"Semoga Esok Banjir Akan Surut"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"2"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-5595028104157141130"},"published":{"$t":"2008-04-07T07:14:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2008-04-07T07:17:34.734-07:00"},"title":{"type":"text","$t":"akulah pelangi itu..."},"content":{"type":"html","$t":"\u003ch3 style\u003d\"font-weight: bold;\" class\u003d\"entry-header\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/h3\u003e    \u003cdiv class\u003d\"entry-content\"\u003e   \u003cdiv class\u003d\"entry-body\"\u003e    \u003cp\u003eaku mencintai kesederhanaan...\u003cbr /\u003eitu yang diajarkan oleh ayahku...\u003cbr /\u003eaku selalu ingin menjadi wanita yang tangguh...\u003cbr /\u003ekarena ayahku pernah bilang,\u003cbr /\u003eia akan retak...\u003cbr /\u003ejika pelangi yang ia jaga terluka...\u003cbr /\u003edan...\u003cbr /\u003eakulah pelangi itu...\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e*buat ayah yang slalu kurindukan..*\u003cbr /\u003e21 feb 08\u003c/p\u003e   \u003c/div\u003e     \u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-5595028104157141130?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/5595028104157141130/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d5595028104157141130","title":"2 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5595028104157141130"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5595028104157141130"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/04/akulah-pelangi-itu.html","title":"akulah pelangi itu..."}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"2"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7575088959479362787"},"published":{"$t":"2008-04-07T04:16:00.000-07:00"},"updated":{"$t":"2008-04-07T04:22:32.633-07:00"},"title":{"type":"text","$t":"'bismillah'"},"content":{"type":"html","$t":"kumulai dengan ucapan 'bismillah'...\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ehanya sekedar mencoba terus berlatih menulis dan merekam semua peristiwa yang kualami setiap saat...\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7575088959479362787?l\u003dsartikanasmar.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7575088959479362787/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d8796126441077641943\u0026postID\u003d7575088959479362787","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7575088959479362787"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7575088959479362787"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/04/bismillah.html","title":"'bismillah'"}],"author":[{"name":{"$t":"Sartika Nasmar"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251"},"email":{"$t":"sartika.nasmar@gmail.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"09662320718552119115"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}}]}});