<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943</id><updated>2011-12-27T08:18:01.809-08:00</updated><category term='Memories'/><category term='Poems'/><category term='Samsara'/><category term='Journalism'/><title type='text'>ruang kata</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>42</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-2046967106700207561</id><published>2011-12-23T05:28:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T20:54:24.802-08:00</updated><title type='text'>Delhi Metro Train Station</title><content type='html'>Pagi hari yang sedikit dingin pada 5 Desember 2011. Saat saya masuk di hostel tempat Inna tinggal, resepsionis menyapa saya dengan ucapan, namaste. Yang berarti salam. Saya naik ke lantai tiga. Mengetuk pintu. Masuk dan Inna baru saja bangun. Saya membuka jendela dan melihat ke bawah. Menemukan tempat ibadah penuh bunga, gambar dewa Shiva dan patung-patung kecil Ganesha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terlalu cepat datang. Setelan jam saya lebih cepat satu jam dari waktu yang seharusnya. Saya tertawa. Lalu meminjam ponsel Inna untuk mengirim kabar ke kakak dan Eko. Saya sangat lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna selesai. Kami menuju ke sebuah warung makan untuk sarapan. Rino ikut bersama kami. Kami memesan tiga kopi hitam dan roti bakar. Kopi India lumayan enak, tidak kental. Menurut saya, kopi di Indonesia lebih spesial. Tapi, tetap saya nikmati hingga habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna memeriksa peta untuk beberapa tujuan. Pukul 12.00 kami berangkat menuju Delhi Metro Train Station (DMTS) R.K. Ashram Marg. Jaraknya dekat dari hostel kami. Kami berjalan kaki. Berbagai tawaran taksi, rickshaw hingga auto-rickshaw hadir di perjalanan pendek kami. Mereka sungguh gigih sekali menawarkan harga dan layanan dari mahal menjadi murah. Mereka bahkan mengikuti kami hingga ke stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DMTS adalah stasiun angkutan kereta cepat dalam kota di New Delhi. Ada ratusan stasiun di tiap area. Kereta datang per enam menit. Untuk tiba di tujuan, tak membutuhkan waktu hingga berjam-jam. Dan, murah tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Delhi Metro merupakan satu kenyamanan yang ditawarkan di New Delhi. Sesuai misinya, menciptakan standar kelas dunia dalam hal keselamatan, keandalan, ketepatan waktu, kenyamanan dan kepuasan pelanggan. Dan, sebagai pelanggan, saya bisa merasa puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rino antri untuk membeli dua koin metro. Inna antri di tempat lain untuk kartu deposit metro yang mereka sebut ‘smart card’. Rino membayar hanya Rs 32 untuk dua koin. Inna mendepositkan uangnya sebanyak Rs 100 untuk beberapa kali perjalanan. Kami kemudian masuk. Di pintu masuk terdapat beberapa jalur yang tertutup. Kami melewati pintu pemeriksaan. Laki-laki dan perempuan pisah. Petugas perempuan memeriksa saya dengan sebuah alat. Lalu ke tempat pemeriksaan barang seperti yang ada di bandara. Setelah itu, menempelkan koin di alat sensornya dan pintu terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Canggih, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tiket, mereka menggunakan sistem koleksi tiket otomatis. Jika masuk menggunakan koin, harus disimpan. Jangan sampai hilang. Ketika keluar dari stasiun akan dibutuhkan lagi. Koin akan dimasukkan ke dalam lubang pipih seperti celengan dan besi pintu akan terbuka otomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna memeriksa peta. Tujuan kami adalah stasiun Chandni Chowk. Ada beberapa jalur yang berbeda warna sebagai petunjuk. Dan, kami harus singgah di beberapa stasiun. Pertama, kami melewati jalur garis biru dan menunggu kereta tujuan stasiun Rajiv Chowk. Kereta datang begitu cepat. Kami menunggu pintu terbuka dan masuk berebutan. Tak ada kursi, kami berdiri. Saya memegang tiang agar tak jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun pertama adalah tujuan kami, Rajiv Chowk. Hanya sekitar lima menit sudah tiba. Kami turun dan mencari jalur warna kuning. Ada petunjuk arah gambar anak panah dan jejak kaki. Kami mengikutinya. Dan menunggu kereta. Kali ini tujuan berikutnya adalah stasiun Chandni Chowk. Kami melewati dua stasiun yakni New Delhi dan Chawri Bazar. Hanya sekitar delapan menit perjalanan, kami sudah tiba ditujuan dan menuju pintu keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari satu kereta ke kereta lain dijamin tak akan tersesat. Delhi Metro dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti sistem komunikasi modern dan sistem kendali kereta. Setiap mendekati satu stasiun, akan ada suara perempuan dan laki-laki dalam dua bahasa yakni Hindi dan Inggris yang menyebutkan nama stasiun dan memberi peringatan agar anda tak bersandar di dekat pintu yang akan terbuka secara otomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di stasiun juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti eskalator dan lift hingga ketika harus berjalan dan berpindah kereta tak akan kelelahan. Di dalam stasiun juga tersedia kompleks perbelanjaan dari rumah makan hingga toko ole-ole.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di New Delhi, kami banyak menggunakan transportasi publik ini untuk mengakses beberapa tempat. Meski kadang berdesakan dan harus berhati-hati terhadap pelecehan seksual. Ransel saya letakkan di depan dada saya. Tangan tak ingin menggantung, tapi memegang tiang. Yang menyebalkan karena pernah sekali kami naik Delhi Metro Train dan seseorang kentut di dalam sana. Rasanya ingin muntah. Baunya menyebar di gerbong yang ber-AC tersebut. Entah pelakunya makan apa tiap hari hingga kentutnya sebau itu. Saya dan Inna sempat melirik ke Rino, curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Not me,” tanggap Rino, cepat. Kami tertawa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa stasiun sebenarnya tersedia beberapa blok tempat untuk antri berdasarkan jenis kelamin. Saya mendapatinya di stasiun Rajiv Chowk. Ada plan pink yang bertuliskan Women Only. Di sana adalah tempat khusus perempuan antri. Gerbong yang singgah tepat di depannya hanya diisi oleh perempuan saja. Begitupun gerbong laki-laki. Namun kadang, tetap saja bercampur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu saat ingin ke Lajpath Nagar sendirian, seorang laki-laki naik ke gerbong khusus perempuan. Ia mungkin tak sadar karena sedang menerima telefon. Seorang ibu menepuk bahunya. Ibu itu menggunakan bahasa Hindi. Entah apa yang diucapkannya. Tapi laki-laki itu kemudian melihat sekeliling dan segera berlari kecil sambil terus berpegang ke tiang menuju gerbong khusus laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penumpang lain tertawa. Saya juga.&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-SIRCYC3zSkk/Tvf99Awoz0I/AAAAAAAAAIY/_AeVlecLS8U/s1600/DSC06860.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-SIRCYC3zSkk/Tvf99Awoz0I/AAAAAAAAAIY/_AeVlecLS8U/s320/DSC06860.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-2046967106700207561?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/2046967106700207561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=2046967106700207561' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2046967106700207561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2046967106700207561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/12/delhi-metro-train-station.html' title='Delhi Metro Train Station'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-SIRCYC3zSkk/Tvf99Awoz0I/AAAAAAAAAIY/_AeVlecLS8U/s72-c/DSC06860.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-4210888662444945692</id><published>2011-12-22T20:10:00.000-08:00</published><updated>2011-12-22T22:27:41.110-08:00</updated><title type='text'>Monyet Rhesus</title><content type='html'>Masih tanggal 5 Desember 2011. Di luar stasiun sangat ramai. Ada beberapa kedai makanan ringan dan minuman, banyak juga pengemis. Kasihan sekali. Pakaian mereka berwarna hitam kotor, badan kurus, dan bau. Saya mendekati Inna, berniat ingin memberi uang. Inna bilang jangan. Alasannya, hampir sama di Indonesia. Pengemis merupakan sebuah jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari-hari pertama Inna dan Rino di India, mereka juga memberi pengemis uang. Suatu hari, mereka memutuskan membeli beras dan membagikannya ke beberapa pengemis. Tapi saat bungkusan beras tersebut dibuka, seorang pengemis yang masih anak-anak mengamuk mengatakan jangan. Ternyata, alasannya tak bisa mereka jual kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita itu, saya membatalkan niat memberi uang. Saya malah berpikir, sekarang, bisa saja uang mereka lebih banyak daripada uang saya. Apalagi saya jauh dari rumah. Lebih baik disimpan untuk bekal selama di kampung orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di depan sebuah kuil. Di atas pohon dan kabel listrik, ada empat monyet Rhesus berkeliaran. Monyet ini banyak ditemui di India. Berkeliaran di beberapa tempat. Tidak mengganggu dan tidak diganggu. Mereka dilindungi. Monyet ini dianggap sebagai Old World Monkeys. Warnanya cokelat dan kelabu. Wajahnya warna merah muda. Tentu saja berbulu dan lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monyet Rhesus biasanya juga dikenal dengan sebutan Macaque Rhesus. Banyak ditemukan di beberapa negara dari Afghanistan hingga ke India utara dan Tiongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa tempat di India, diyakini bahwa monyet ini suci. Hidup bersama manusia bahkan selama berabad-abad. Menurut sensus lapangan yang dilakukan oleh Zoological Survei India selama tiga tahun, populasi monyet Rhesus menurun drastis menjadi di bawah 200.000 di India. Penelitian ini selesai pada pertengahan 1970-an. Padahal, empat puluh tahun lalu, populasi monyet ini di India sekitar dua juta. Pada tahun 1978, pemerintah India kemudian melarang ekspor monyet Rhesus, meningkatkan program konservasi dan produksi makanan. Saat ini populasi monyet suci ini meningkat antara 800.000 hingga satu juta ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya ngeri juga melihat monyet bergelantungan dan lompat dari tiang dan kabel listrik yang  kacau balau tepat di atas kerumunan orang. Tapi, melihat orang-orang yang santai saja, saya juga berusaha santai dan tidak menghiraukannya. Namun, khawatir masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau dia tiba-tiba boker, padahal kita lagi makan di bawahnya,” pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata mereka tak mengganggu. Mereka hidup bersama dengan manusia dan mereka dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak boleh ada yang membunuh monyet di India. Mereka memiliki hubungan yang sangat dalam dengan orang-orang khususnya yang memeluk agama Hindu dan Budha. Di India, sebagian besar masyarakat memeluk agama Hindu. Kedekatan antara monyet dan orang-orang yang memeluk agama Hindu dan Budha tidak hanya terjadi di India, tapi juga di Nepal dan Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah epik Hindu Ramayana, monyet Rhesus merupakan fitur yang menonjol. Monyet Rhesus memungkinkan Rama untuk mengalahkan Rahwana, si Raja Iblis ketika menculik Sita, istri Rama. Rahwana membawa Sita ke Pulau Ceylon, Sri Lanka. Saat itu, Hanuman dan pasukannya membantu Rama mencari Sita dan menyelamatkannya dari Rahwana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanuman dan pasukannya digambarkan secara sebenarnya digambarkan jenis monyet lutung. Lutung Hanuman pernah dilatih untuk menakut-nakuti monyet Rhesus yang dikenal liar dan merusak. Apalagi monyet Rhesus berkeliaran di ruang publik. Hanuman dipercaya sebagai penjaga keamanan. Dihormati sebagai Dewa Monyet. Dalam agama Hindu tradisional, monyet Rhesus kemudian ikut menikmati status sucinya sebagai hewan yang dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya takjub melihat orang-orang di India menghormati beberapa binatang. Selain monyet, mereka juga menjaga beberapa binatang lain seperti Gajah, Unta, Sapi dan Kuda. Mereka menghias kuda dan unta mereka dengan aksesoris yang menonjol. Selain karena hewan tersebut memiliki makna yang dalam dengan kepercayaan mereka, hewan tersebut juga membantu perekonomian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beberapa kali melihat Unta saat berkunjung ke Udaipur. Melihat Sapi dimana pun. Ia berkeliaran dengan seenaknya. Bahkan saat sedang minum kopi di Main Bazar, seekor Sapi melewati punggung saya. Saya segera menghindar tanpa sadar bahwa tepat di bawah sandal saya, ada kotoran Sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga melihat Kuda di New Delhi dan bahkan naik delman di Agra. Sedangkan saya melihat banyak miniatur Gajah di hampir semua tempat yang dihormati sebagai perwujudan Dewa Ganesha. Saya melihat monyet di New Delhi dan Udaipur. Saat di Udaipur, saya mendekati tiga ekor monyet Rhesus. Satu induknya dan dua lainnya masih kecil. Saya memotretnya dan mengucapkan, Namaste!&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-lp9BSBD-itI/TvQfT2c78rI/AAAAAAAAAHQ/Y58lvfpmQao/s1600/Monyet.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-lp9BSBD-itI/TvQfT2c78rI/AAAAAAAAAHQ/Y58lvfpmQao/s320/Monyet.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-4210888662444945692?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/4210888662444945692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=4210888662444945692' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4210888662444945692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4210888662444945692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/12/monyet-rhesus.html' title='Monyet Rhesus'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-lp9BSBD-itI/TvQfT2c78rI/AAAAAAAAAHQ/Y58lvfpmQao/s72-c/Monyet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>India</georss:featurename><georss:point>20.593684 78.96288000000004</georss:point><georss:box>6.213675 64.34629550000004 34.973693 93.57946450000004</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7926434457371908453</id><published>2011-12-21T12:15:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T12:15:23.954-08:00</updated><title type='text'>Lelaki Berjenggot</title><content type='html'>Inna pulang ke kamarnya. Saya menyetel jam sesuai waktu New Delhi yang ada di aplikasi ponsel saya. Sudah pukul 01.00 dini hari. Saya menyetel alarm pukul 08.30 pagi. Sesuai rencana, saya, Inna dan Rino akan berjalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menuju kamar mandi dan membatalkan mandi karena dingin. Kembali ke kamar. Saya mengambil sebuah sarung dari ransel. Menjadikannya alas di atas kasur dan bantal. Saya tak percaya pada seprei hostel. Saya mencium aroma selimutnya. Sepertinya bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alarm berbunyi. Saya bersemangat. Beres-beres dan keluar kamar. Mencuci muka dan menggosok gigi di westafel depan kamar. Tiba-tiba sebuah tangan muncul melewati pinggang saya. Berbulu, kulit putih dan kecil. Meletakkan sabun mandi kecil di pinggir westafel. Suaranya parau. Katanya, sabun itu bisa saya gunakan untuk mencuci tangan. Saya mencuci mulut dengan cepat dan membalikkan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kaget saya melihat tampang lelaki pemilik suara parau itu. Tinggi sekitar 170 cm, kurus, ceking, gondrong, pirang dan berjenggot tebal hingga ke dada. Kami berkenalan. Saya lupa namanya. Dia terlihat aneh. Setelah kami bersalaman, dengan gemulai ia menarik tangannya dan meletakkannya di kening sambil tersenyum. Saya membalas dengan senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pamit masuk ke kamar. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Saat saya buka, lelaki aneh itu berdiri di depan mata saya. Lembut sekali suaranya menyebut nama saya. Ia memberikan sebuah stick dupa dan menawarkan korek api. Saya mengucapkan terimakasih. Lalu menutup pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 menit kemudian saya keluar dan berniat mandi. Ada lelaki aneh itu lagi. Ia menyapa dengan lembut. Mungkin ia tahu saya akan mandi karena saya membawa handuk. Ia menuntun saya ke sebuah kamar mandi besar dekat tangga. Awalnya saya pikir kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hostel Kuldeep Longe terdapat dua kamar mandi. Di samping kamar saya dan di dekat tangga. Yang lelaki aneh itu tunjukkan, memiliki fasilitas air panas tapi klosetnya rusak. Sedang di samping kamar saya tak ada. Hanya digunakan untuk buang air kecil atau buang air besar saja. Di kamar mandi ini, tak ada kloset duduk. Tapi jongkok. Beda bentuknya. Lubangnya lebih besar dan gelap. Seperti di kloset kereta api. Tak ada dudukan kaki. Kloset rata dengan lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki aneh itu memperkenalkan semua fasilitas di kamar mandi. Seperti layaknya pemilik hostel. Mulai dari shower, keran untuk air panas dan dingin hingga kloset rusak. Saya sekali lagi mengucapkan terimakasih. Ia keluar dan saya masuk. Mengunci pintu dan memastikan dia tak ada di luar agar saya bisa mandi dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi selesai. Saya bersiap-siap. Memasukkan kamera, buku tulis kecil dan pulpen ke ransel kecil. Tak lupa membawa paspor, KTP dan sejumlah uang. Saya turun tangga dan resepsionis meminta saya melakukan registrasi kamar. Ia meminta paspor dan meng-copy. Lalu menyuruh saya mengisi nama, alamat, nomer telepon, data paspor dan tanda tangan. Selesai. Saya menuju kamar Inna di New King Hostel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, Inna dan Rino berjalan-jalan seharian ke beberapa tempat di New Delhi. Lelah sekali rasanya. Tapi menyenangkan. Perjalanan kami selesai pukul 22.00. Kami kembali ke hostel masing-masing. Saat masuk di hostel, saya melihat ada warnet di lantai paling dasar. Saya masuk dan membuka facebook juga cek email. Tiba-tiba ada suara parau dan lembut menyapa saya. Suara itu tak asing di telinga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menengok, lelaki aneh berjenggot ada di samping saya. Ia seperti hantu saja. Saya meladeninya ngobrol sejenak. Kemudian serius dengan monitor di depan saya. Mengirim kabar ke kakak dan Eko. Lalu pamit pada lelaki berjenggot dan buru-buru ingin ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berlari kecil menuju tangga. Terdengar kembali suara parau dan lembut memanggil. Lelaki aneh berjenggot itu lagi. Saya menengok. Dengan terpaksa tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You forgot something,” katanya. Ia memberikan botol air minum saya yang tertinggal di warnet. Dengan lembut. Tangan gemulainya kembali menyentuh keningnya. Lalu mengucapkan, “Good night Tika,”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7926434457371908453?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7926434457371908453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=7926434457371908453' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7926434457371908453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7926434457371908453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/12/lelaki-berjenggot.html' title='Lelaki Berjenggot'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-274490746677514160</id><published>2011-12-20T08:17:00.001-08:00</published><updated>2011-12-21T12:18:35.489-08:00</updated><title type='text'>Selamat Datang di India</title><content type='html'>Terlalu lama berharap jemputan, tak baik untuk kesehatan. Saat tiba di Indira Gandhi International Airport, saya dapat merasakan dingin di sekujur tubuh. Sweater yang saya pakai tak mampu membuat saya bertahan. Saya mendatangi seorang pria di sebuah meja. Dia adalah pengelolah taksi. Saya memintanya mencarikan taksi. Dia memanggil seorang pria lainnya dengan bahasa Hindi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua menanyakan tujuan saya. Kuperlihatkan alamatnya dan supir siap mengantar. Sebelum menyetujui pergi bersama supir taksi itu, saya menanyakan apakah ia memiliki kwitansi. Supir itu bilang, itu bukan masalah. Saya percaya lalu naik ke taksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mam, can see the adress again?” tanya supir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberikan kertas. Ia meletakkannya di kursi kosong di sebelahnya. Tujuan saya adalah New King Hostel. Alamatnya, 15/16 Ram Dwara Road, Main Bazar, Pahar Ganj, New Delhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah keluar dari area bandara. Si supir mengeluarkan ponsel. Menelfon seseorang. Dia menggunakan bahasa Hindi. Tapi saya mengerti, sepertinya dia menanyakan alamat tujuan saya. Saya mulai khawatir. Si supir berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sepertinya mendapat petunjuk. Dia melaju kencang. Dua kali kami hampir ditabrak dan satu kali hampir menabrak. Arus lalu lintas di New Delhi menyeramkan. Saya seperti berada di arena balapan mobil. Saya sangat khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali saya meminta supir untuk berhati-hati. Bahkan, tiga kali supir tersebut mendapatkan peringatan dari sebuah monitor yang ada di samping setir.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argo sudah mendekati Rs 500. Belum juga tiba. Kami melewati beberapa flyover dan sebuah jalan lingkar. Tampak tertata rapi dan bersih. Taksi terus melaju. Saya memperhatikan bagian kanan dan kiri. Kali ini tak lagi peduli dengan kecepatan. Saya menikmati New Delhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taksi berbelok ke sebuah pasar. Kontras sekali dengan kondisi sebelumnya. Di tempat itu, saya melihat banyak bajai. Di sana, disebut Rickshaw. Mereka parkir hingga ke tengah jalan. Suara klakson mobil dan motor membuat saya ingin gila. Ribut sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taksi yang saya pakai berhenti di tepi pasar. Supir turun dan bertanya arah ke Pahar Ganj. Saya memperhatikan sekeliling. Tertarik pada auto-rickshaw atau becak. Berbeda bentuknya dengan becak di Makassar dimana pengemudi berada di belakang. Pengemudi Auto-rickshaw  berada di depan. Sepeda yang mereka gunakan tipe sepeda ontel. Dibelakang adalah tempat penumpang. Saya penasaran rasanya berada di atas auto-rickshaw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah mobil Suzuki Swift putih membunyikan klakson. Lampu mobilnya mengarah ke taksi yang saya tumpangi. Ia kelihatan marah. Mobilnya tak bisa lewat. Saya baru sadar kalau supir taksi memarkir mobilnya menutupi sebuah jalan besar. Anehnya, si supir taksi malah santai saja. Ia terus saja melanjutkan obrolannya dengan seorang pria. Padahal, ia sempat menoleh. Mobil itu terus membunyikan klakson. Sudah jam 11 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si supir datang, masuk ke mobil dan menancap gas. Mobil putih itu pun melaju. Kami masuk ke dalam jalan-jalan yang lebih kecil dan sangat kotor. Sampah di sisi-sisi jalan. Dan akhirnya menemukan sebuah lorong. Di sana ada tertulis nama hostel yang saya cari. Saya turun dari mobil. Supir menurunkan barang-barang saya. Bau tak sedap mulai terasa. Seperti bau pesing bercampur buah-buahan busuk ada juga seperti aroma karung basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayar taksi. Memberinya uang Rs 1.000. Ia mengembalikan Rs 180. Saya kaget, karena seharusnya dia mengembalikan sebanyak Rs 310. Argonya hanya Rs 690. Saya komplein. Dan dengan santainya mengatakan saya harus memberinya tip karena sudah berkeliling mencari alamat. Saya mulai kesal. Lalu saya meminta kwitansi. Dan sekali lagi dengan santainya mengatakan bahwa kertasnya habis dan tidak bisa memberi saya kwitansi. Rasanya ingin sekali kutonjok supir taksi itu. Saya mulai marah dan mengatakan dia pembohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil tas dan berjalan ke lorong hostel. Ramai sekali. Perempuan-perempuan menggunakan sari. Manik-maniknya bercahaya. Warna-warni. Satu perempuan menggunakan sari yang mencolok berwarna merah. Para pria berpakaian rapi. Celana kain, belt dan kemeja. Ternyata baru saja ada upacara pernikahan yang sederhana. Saya terus saja berjalan mencari hostel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh, akhirnya saya menemukan hostel yang saya cari. Saya meletakkan barang di sebuah sofa dan menuju resepsionis. Dia menyambut saya dengan salam. Kedua telapak tangannya bertemu di depan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namaste, “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya, apakah ia mempunyai tamu bernama Inna Hudaya dari Indonesia. Dan saya kaget saat ia mengatakan tidak. Saya memperlihatkan dia alamat yang Inna berikan dan mulai ngotot bahwa Inna menyewa kamar di sini. Inna juga sudah memesan kamar untuk saya. Ia mulai mencari-cari di buku tamunya dan menayakan nama saya. Dan akhirnya meminta maaf karena akhirnya menemukan nama Sartika di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya naik ke lantai dua. Inna tinggal di kamar delapan. Saya mengetuk kamarnya. Seorang pria Itali membuka pintu. Rino. Senang sekali bisa bertemu dengannya. Kami bersalaman. Ia menyambut saya dengan ramah. Kami sudah berkenalan sejak tiga tahun yang lalu. Namun hanya melalui telepon. Inna sedang tidur, badannya dibungkus selimut tebal. Saya membangunkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang sekali akhirnya bertemu Inna. Kami berpelukan. Lalu saya mengadu bahwa tak ada yang menjemput di bandara. Ternyata Inna juga mengalami hal yang sama ketika tiba di India pada tanggal 20 November. Padahal, Rino telah meminta kepada resepsionis hostel untuk menjemput kami. Menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, Inna dan Rino turun menuju lobi. Kami meminta resepsionis menujukkan kamar saya. Ternyata hostel itu penuh. Mereka memprioritaskan pemesanan online yang dibayar melalui kartu kredit dan membayar uang muka. Mereka akhirnya mencari kamar untuk saya di hostel yang lain. 15 menit kemudian seorang pria datang dan mengatakan bahwa ada kamar kosong di hostel Kuldeep Looge. Kami menuju ke sana. Tak jauh. Hanya sekitar 50 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Kuldeep Looge. Resepsionis mengatakan kamar saya berada di lantai dua. Saya dan Inna mengikuti pria yang membawa barang-barang saya. Naik ke tangga dan tiba di lorong-lorong kamar yang kecil. Kami menuju kamar paling ujung. Dari tangga hanya sekitar delapan meter. Pria itu membuka pintu kamar yang bersebelahan denga westafel. Menyalakan lampu dan meletakkan barang. Lalu pergi. Saya dan Inna masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati pintu, ada dua anak tangga. Lantai kamar lebih rendah dari lantai lorong. Ukuran kamar hanya dua kali dua setengah meter. Ada ranjang yang cukup untuk berdua ditutupi seprei etnik khas India. Dua bantal putih dan kotor. Dua meja kecil. Telefon. Televisi dan tiga jendela. Saya membuka jendela yang paling besar. Inna membuka dua jendela kecil lainnya. Tapi percuma, kami menemukan dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, saya dan Inna bercerita hingga satu jam. Lalu menyarankan saya istirahat. Ia akan kembali ke kamarnya. Kami membuat kesepakatan, akan bangun pagi dan menuju ke beberapa tempat di New Delhi. Jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, selamat datang di India.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-274490746677514160?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/274490746677514160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=274490746677514160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/274490746677514160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/274490746677514160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/12/selamat-datang-di-india.html' title='Selamat Datang di India'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7610295626437082036</id><published>2011-12-17T00:39:00.000-08:00</published><updated>2011-12-17T00:39:00.929-08:00</updated><title type='text'>Tak Ada Nama Sartika Nasmar</title><content type='html'>Saya antri untuk melakukan check in di counter Air Asia. Kali ini untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir saya, yakni New Delhi, India. Saya mendapat nomor kursi 11 K. Setelah menyerahkan paspor dan tiket, pria yang melayani saya memberikan boarding pass. Saya kemudian menuju ke ruang tunggu. Dua penjaga siap melakukan pemeriksaan. Tapi hanya untuk boarding pass saja. Lalu saya kemudian menuruni eskalator dan menemukan keramaian. Di sanalah ruang tunggu. Saya mencari pintu 16, setelah menemukannya, saya tak langsung masuk melainkan ke sebuah toko.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya memasuki sebuah toko. Melihat beberapa produk. Awalnya hanya ingin melihat saja, tapi akhirnya tergoda pada gantungan kunci berbentuk koper seharga MYR 9.90. Saya kemudian menuju ke bagian aksesoris. Saya melihat beberapa anting. Saya jatuh cinta pada satu anting perak. Tapi, mahal. Saya ke kasir dan membayar gantungan kunci. Lalu keluar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sayangnya, anting terus menggoda ingatan saya. Dompet kukeluarkan dari saku tas. Menghitung berapa Ringgit yang saya punya. Masih ada sekitar MYR 50.00. Dan akhirnya memutuskan untuk membeli satu anting seharga MYR 12.00.&lt;br /&gt;Tak ingin tergoda lagi, saya berlari menuju pintu 16. Seorang petugas meminta paspor dan boarding pass saya. Dan mempersilahkan saya masuk. Memilih kursi dan memperhatikan anting yang baru saja saya beli.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ponsel saya berbunyi. Ada pesan dari Inna Hudaya. Ia adalah Direktur saya di SAMSARA. Ia meminta saya untuk mengirimkannya informasi tentang jadwal ketibaan saya di New Delhi. Menurutnya, akan ada supir taksi yang akan menjemput saya di pintu keluar empat. Supir tersebut akan membawa kertas bertuliskan nama saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kegelisahan mulai muncul. Saya tak memiliki pulsa. Dan, tak tahu bagaimana menggunakan telefon umum untuk menghubungi ponsel.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang perempuan Thailand tiba-tiba duduk di sebelah saya. Berambut panjang dan pirang. Baru saja dua menit ia duduk, ia langsung mengeluarkan cermin dan merapikan rambutnya. Sekitar 10 menit kemudian, ia mengeluarkan sebuah lipgloss dan memolesnya di bibir. Sekitar lima menit kemudian, mengambil lotion dari tas dan membasuh betisnya. Dari semua penumpang yang menunggu, hanya ia yang menggunakan high heels.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasanya lumayan tenang, karena saya akhirnya mendapat ide. Ia kelihatan cukup ramah. Saya mengajaknya berkenalan. Namanya cukup sulit untuk kuingat. Kami mulai tertawa bersama. Bercerita tentang tujuan kami mengunjungi New Delhi. Perlahan-lahan, saya mengeluarkan ponsel dari saku tas. Lalu, mulai menceritakan keresahan saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Okay, I will give you 10 minutes to call your friends,” katanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya senang sekali. Dan langsung menerima tawaran. Memberinya nomor ponsel Inna. Sayang, tak ada jawaban. Ia mengambil kembali ponselnya. Lalu saya meminta pulsa untuk sms saja. Dan ia mengijinkan. Betapa beruntungnya saya. Tak lama setelah mengembalikan ponselnya, petugas Air Asia meminta kami antri untuk menuju ke pesawat. Semua berjejer tidak rapi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Premium passenger first,” kata petugas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dimanapun, orang yang membayar lebih mahal akan dilayani lebih dulu. Orang-orang yang mempunyai tiket premium melangkah lebih dulu menuju pesawat. Mereka akan menikmati kursi yang lebih empuk dan bisa tidur lebih nyaman karena ada bantalan untuk kaki agar dapat tetap lurus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu, menyusullah penumpang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kursi saya berada dekat jendela. Saya duduk bersebelahan dengan sepasang orang India. Di jari manis kiri mereka menggunakan cincin yang sama. Ketika pesawat mulai lepas landas, perempuan itu mulai menyandarkan kepalanya di bahu si lelaki.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perjalanan dengan pesawat ke New Delhi membutuhkan waktu lima jam.  Dua jam perjalanan, pramugari memberikan makanan yang sudah saya pesan sebelumnya. Nasi Briyani. Bahan dasar nasinya adalah beras Basmati. Panjang dan langsing. Beras Basmati berasal dari India dan Pakistan. Basmati berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya harum atau wangi. Saat membuka kemasan makanannya, memang aromanya wangi sekali.  Sayang, rasa lauknya asing di lidah saya. Ada Chicken Butter Masala dan brokoli campur  kacang polong bumbu. Chicken Butter Masala dibuat dari bahan dasar ayam tanpa tulang, kacang catio, krim dan bumbu lainnya. Kuahnya kental sekali. Bikin eneq. Untung saja, air mineralnya dalam kemasan botol  ukuran 350 mili liter. Air Mineral Semula Jadi Alla Fonte Mineralle.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tak makan banyak. Meski masih terasa lapar. Bukan karena makanannya yang terasa asing di lidah. Namun karena pesawat yang bergoyang kencang. Pilot meminta kami memasang sabuk pengaman. Pramugari yang sedang melayani penumpang juga diminta untuk menghentikan pekerjaan mereka dan menggunakan sabuk pengaman. Saya mulai khawatir. Beberapa penumpang terlihat berdoa. Menyatukan semua jari dan meletakkannya di depan perut. Mereka menutup mata. Pesawat bergoyang layaknya mendengar lagu Ayu Ting Ting, Mencari Alamat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Scared?” tanya perempuan di sebelah saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya menganggukkan kepala. Jemari perempuan itu menggenggam jemari lelaki di sampingnya. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan menutup mata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hampir 30 menit pesawat bergoyang kencang. Hingga akhirnya suara bel dan lampu tanda sabuk pengaman padam. Pesawat stabil kembali. Penumpang mulai tenang. Pramugari melanjutkan tugasnya. Saya memilih tidur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suara pilot membangunkan saya. Kurang lebih 30 menit akan segera tiba di Indira Gandhi International Airport. Saya menoleh ke jam tangan perempuan di sebelah saya yang masih tertidur pulas. Sudah pukul 23.00 waktu Kuala Lumpur. Lalu saya menoleh ke jendela. Dari atas, terlihat jelas lampu-lampu kota mungkin juga desa. Sangat cantik. Saya suka sekali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu perlahan pesawat mendarat. Hati saya deg-degan. Ini adalah mimpi saya sejak Desember 2010. Setelah membaca artikel tentang India di majalah Panorama. Saya berniat dalam hati, tahun depan ingin berkunjung ke India. Akan. Saya yakin sekali. Dan benar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika turun dari pesawat, saya berjalan cepat. Dingin. Suhu di New Delhi adalah 19 derajat celcius. Saya memasuki terminal. Lalu antri pada pemeriksaan paspor dan membawa kartu kedatangan. Setelah itu, menuju ke pengambilan bagasi. Cukup lama menunggu hingga akhirnya saya mendapatkan ransel 40 liter saya. Dan, tak sabar ingin melihat seperti apa di luar sana. Sudah  pukul 21.40 waktu New Delhi.  Saya berlari kecil ke pintu keluar nomor empat. Mencari lelaki tak dikenal membawa nama saya di sebuah kertas. Banyak supir di sana. Ada nama Poe Hong Koen, Miss Navis Haris, dan nama lain. Saya berjalan hingga ke pintu enam. Hingga duduk memeluk salah satu ransel saya. Berpikir untuk mencari lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi tak ada nama Sartika Nasmar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7610295626437082036?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7610295626437082036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=7610295626437082036' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7610295626437082036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7610295626437082036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/12/tak-ada-nama-sartika-nasmar.html' title='Tak Ada Nama Sartika Nasmar'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7930596036298958987</id><published>2011-12-17T00:36:00.001-08:00</published><updated>2011-12-17T00:36:46.363-08:00</updated><title type='text'>Tiba di LCCT</title><content type='html'>Saya tertidur pulas, akhirnya. Namun hanya sebentar, sekitar 30 menit. Pramugari menyebut nama saya, “Miss Santika,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya merespon dengan cepat, “No, but Sartika,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Si pramugari meminta maaf. Dan memberi saya sekotak makanan yang telah saya pesan saat membeli tiket pesawat secara online. Aromanya begitu menggoda. Campuran rempah-rempah yang tak biasa di hidung saya. Penasaran tentunya. Mata saya tak ingin tidur lagi. Ingin langsung melahapnya. Apalagi, belum ada makanan atau minuman yang saya cicipi sejak pagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kotak makanan itu dari aluminium foil. Masih hangat. Di atasnya tertulis Air Asia Cafe. Enjoy. Pak Nasser’s Nasi Lemak. Selain kotak makanan, pramugari juga memberi saya kemasan kecil air minum. Tadinya saya pikir puding karena kemasannya yang hampir mirip dengan kemasan Okky Jelly. Mini. Merknya Spritzer. Produk dari Malaysia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melihat ukuran kemasannya, tentu menurut saya airnya tak cukup. Jadi saya meneguk sedikit dan membuka kemasan makanan. Aromanya semakin menggila. Melihat isinya, saya semakin ingin tahu. Terbuat dari apa makanan yang sebentar lagi kulahap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada kertas di pinggiran kemasan. Ingredients (bahan): chicken rendang atau rencang ayam terbuat dari bahan-bahan chicken (ayam), turmeric (kunyit), lime leaf (daun jeruk), lengkuas, lemongrass (serai), garlic (bawang putih), bawang bombai, coconut milk (santan), chili (cabe), kelapa giling, salt (garam), cooking oil (minyak goreng), sugar (gula), chicken stock (kaldu ayam), dan water(air).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sudut dalam kotak, ada sambal. Bahan-bahannya, Garlic, onion, salt, sugar, asam, chili paste, shrimps (udang), anchovies powder (teri bubuk), dan minyak goreng.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan tentu saja ada nasi. Tapi juga dibuat tidak hanya dengan campuran air saja lalu dimasak melainkan menggunakan beberapa bahan seperti santan, salt, minyak goreng, daun pandan, jahe, onion dan beras.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Juga ada lauk tambahan di dalamnya adalah telur rebus yang dibagi dua, ikan teri dan kacang rebus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mencicipi nasinya. Rasanya seperti nasi uduk. Hampir sama persis, tapi saya masih bisa merasakan rasa jahenya. Menyenangkan. Lalu memadukan nasi dan ayam rendang dan lauk lain. Sayang, saya tak begitu menikmati kacang rebusnya. Saya menyisihkan kacang tersebut di bagian penutup kemasan makanan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya melahap nasi lemak dengan puas. Di leher saya terasa sekali bumbu ayam rendang. Hingga saat bersendawa kecil, terasa sekali di tenggorokan dan akhirnya eneq. Dan berhenti. Lalu menghabiskan air mineral mini saya dengan sekali teguk. Rasanya tak cukup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya menutup kembali kemasan dan memperhatikan beberapa tulisan di sana. Kandungan protein, lemak, karbohidrat dan energinya. Ada juga batas kadaluarsa atau expired hingga 6 Desember 2011. Lama juga.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekitar 35 menit selesai makan, pramugari berjalan dan mengumpulkan kemasan-kemasan makanan.&lt;br /&gt;Saya mulai bosan. Baru kali ini saya berada di pesawat lebih dari satu setengah jam. Masih ada waktu 30 menit sebelum tiba di Kuala Lumpur. Saya memilih tak tidur. Rotika, perempuan di sebelah saya masih tertidur pulas. Mulutnya masih setengah terbuka. Aroma makanan sudah menghilang. Berganti aroma yang lain. Membuat saya tak sabar ingin segera tiba.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya memandang ke awan. Putih. Bersih. Menggumpal. Menenangkan. Ada suara pria yang mengatakan bahwa dalam waktu 20 menit lagi pesawat akan mendarat di LCCT Airport Kuala Lumpur. Hati saya sungguh gembira. Saya pastikan bahwa sabuk pengaman telah terpasang di pinggang. Meja saya kembalikan ke posisi semula, di balik kursi yang ada di depan. Dan sandaran kursi telah tegak. Semua saya lakukan sebelum ada perintah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kuala Lumpur terlihat sangat kecil di bawah sana. Saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan memandangnya dari atas. Pesawat semakin mendekat. Berbelok arah. Rasanya mengerikan. Turun perlahan. Roda pesawat telah keluar dari tempat persembunyiannya. Kami segera mendarat. Segera, segera dan akhirnya mendarat. Pesawat melaju kencang dan berhenti perlahan. Penumpang berkemas. Mereka mulai mengaktifkan ponsel meski sebelumnya telah ada pemberitahuan untuk mengaktifkannya setelah berada di terminal. Mereka sudah tak sabar memberi kabar ketibaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya melepas sabuk pengaman. Menunggu dan tak ingin terburu-buru. Hingga mulai sepi dan saya berdiri. Mengambil ransel dan berjalan keluar dari pesawat. Pramugari mengucapkan terimakasih dalam bahasa inggris saat saya keluar. Saya mengikuti penumpang lain menuju LCCT sambil terus membaca petunjuk. Cukup jauh berjalan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hingga setelah naik ke eskalator, menemukan kebingungan. Di ruangan yang besar. Sebelah kiri adalah tempat yang disediakan untuk mengisi kartu untuk mereka yang paspornya dari luar Malaysia. Termasuk saya. Namun, saya tak langsung ke sana melainkan antri di jalan masuk untuk warga Malaysia. Saya mulai merasa aneh. Seorang gadis melihat paspor saya dan mengarahkan saya agar ke bagian pengisian kartu. Saya antri di tempat yang salah. Saya mengucapkan terimakasih dan bergegas ke tempat yang seharusnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mendapati beberapa orang lainnya sedang mengisi sebuah kartu. Itu adalah kartu ketibaan warga pendatang. Saya mengambil salah satunya. Mengisinya dengan benar. Data pribadi, paspor, status kenegaraan dan tujuan mendatangi Kuala Lumpur. Di sebelah kanan dan kiri saya banyak yang kebingungan karena tulisan di kartunya menggunakan bahasa inggris. Mereka adalah Tenaga Kerja Indonesia. Meski sudah bertahun-tahun bekerja di sana, mereka masih bingung mengisi kartu tersebut. Dua orang perempuan meminta saya mengajarkan mereka. Sedang satu orang lainnya mengambil kartu saya dan melihatnya sebagai contoh. Setelah mereka selesai, saya pamit dan membawa kartu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya berlari kecil dan masuk menyusuri tali merah yang terpasang berliku untuk menuju ke tempat dimana kartu tersebut diserahkan. Ada loket-loket berjejer di sana. Lebih dari 10 loket. Sudah menunggu petugas imigrasi di dalamnya. Saya mendapatkan petugas perempuan. Menyerahkan kartu, paspor dan boarding pass. Ia bertanya tujuan saya ke Kuala Lumpur. Saya menjawab bahwa saya hanya transit saja selama lima jam dan melanjutkan perjalanan ke India pukul 16.30. Ia meminta tiket saya. Memeriksanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Petugas perempuan itu mulai mengetik dan memasukkan data-data ke komputer di hadapannya. Lalu memperhatikan paspor saya. Ia kemudian meminta saya meletakkan kedua jari telunjuk ke sebuah alat, sambil ia memperhatikan komputernya. Cukup lama. Dan akhirnya ia bilang, OK.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perempuan itu mengembalikan paspor, tiket dan boarding pass saya. Saya berlari menuju tempat pengambilan barang yang disimpan di bagasi sebelumnya. Saya mengikuti petunjuk yang tertulis pada bagian atas ruangan. Menuruni eskalator dan berbelok ke kanan. Alatnya sudah tak bergerak lagi. Penumpang tak ada lagi yang menunggu barang. Sudah selesai. Saya panik dan mencari ransel saya. Tapi, setelah ke bagian sebelah kanan tempat pengambilan barang bagasi, ternyata di sana cukup banyak tas yang tercecer tak karuan. Salah satunya adalah ransel saya. Legah rasanya.  Syukurlah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mengangkatnya dengan lembut. Dua ransel telah berada di belakang punggung dan di bagian depan saya. Lumayan berat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya menuju ke tempat penukaran uang. Menukar uang Rupiah ke Ringgit. Awalnya saya ragu dan khawatir. Ini kali pertama saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Excuse me, I want to change my money from Rupiah to Ringgit,” kataku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Okay, how much Rupiah you have,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“I have two hundred thousand rupiah, how much Ringgit I can get from you,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia memperlihatkan kalkulator. Di sana ada angka 4.500. Dia mengatakan bahwa jumlah tersebut adalah kurs. Saya menukarkan uang saya sebanyak 200 ribu. Dan perempuan yang melayani saya dengan tidak begitu ramah kemudian memberi saya uang sebanyak MYR 61.60.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya kemudian duduk di sebuah kursi. Memperhatikan Ringgit yang saya punya. Tak nyaman berlama-lama, saya memutuskan berkeliling LCCT Airport.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The Low Cost Carries terminal atau LCCT merupakan bandara khusus yang dibangun untuk penumpang yang menggunakan maskapai dengan harga rendah atau murah. Kebanyakan mereka adalah penumpang dari maskapai penerbangan Air Asia. Lokasinya sekitar 20 kilometer dari Kuala Lumpur International Airport, bangunan terminal utama.&lt;br /&gt;Saya berjalan menuju sebuah toko bernama Zona. Membeli sebotol air mineral seharga MYR 1.50. Lalu berjalan mengelilingi terminal hingga bosan. Memilih tempat duduk dan mendengarkan musik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua jam telah berlalu, saya mulai bosan. Saya mencoba mengaktifkan ponsel saya. Ada sms dari Eko. “Dimana maki?” Ketika ingin menyesuaikan jam sesuai waktu Kuala Lumpur, ponsel saya berdering. Tak sengaja saya memencet salah satu tombol dan terdengar suara. Lalu mati. Roaming. Saya menuju ke sebuah telefon umum. Memasukkan koin 20 sen, memencet nomor Eko. Tapi tak bisa. Seorang pria membantu saya. Namun tak berhasil. Saya pergi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya teringat bahwa saya belum menukar beberapa uang rupiah saya ke bentuk Rupee. Saya menuju ke penukaran uang. Seorang perempuan berjilbab menyambut saya. Saya menyerahkan uang saya sejumlah 370 ribu. Tapi, menurut perempuan itu, harus menukarnya ke Ringgit dulu lalu ke Rupee. Kursnya adalah 3500. Berbeda dengan sebelumnya. Ia kemudian memberi saya uang INR 1.500 dan MYR  111.75.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mengambil tas. Koin sen saya berhamburan. Pria Jepang membantu saya memungutnya. Memberikan uang yang ia pungut ke saya sambil bercanda, “This is my mine?” Kami tertawa bersama. Saya mengucapkan terimakasih dan pergi. Menunggu hingga jadwal check in dibuka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Waktu menunggu yang lama. Saat itu sudah pukul 15.00. Pesawat saya akan berangkat pukul 18.30. Masih lama. Saya sebenarnya tak bosan. Hanya gelisah, ingin segera mengirim kabar ke Ibu, Kakak dan Eko.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7930596036298958987?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7930596036298958987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=7930596036298958987' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7930596036298958987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7930596036298958987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/12/tiba-di-lcct.html' title='Tiba di LCCT'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-192560898654025431</id><published>2011-12-17T00:34:00.001-08:00</published><updated>2011-12-17T00:34:42.059-08:00</updated><title type='text'>Bau Mulut Kecemasan</title><content type='html'>SAYA memilih tidur lebih cepat dari biasanya. Malam itu, pukul 10.00 pm, semua tugas sudah selesai. Mulai dari berkemas-kemas, menyelesaikan e-Learning Seksualitas dari TARSHI dan mencatat beberapa trik perjalanan untuk esok hari. Legah sekali rasanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanggal 4 Desember 2011,  ponsel saya berdering. Ada nama Eko, pacar saya, memanggil. Ia membangunkan. Panggilan Eko cepat 30 menit dari alarm saya. Pagi ini adalah jadwal saya menuju ke India. Namun, perjalanannya akan cukup panjang karena akan singgah dalam waktu yang lama di Kuala Lumpur sebelum melanjutkan perjalanan dengan pesawat yang berbeda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Zul mengantar saya ke Bandara Adisucipto Yogyakarta. Saya semakin deg-degan, ini pengalaman pertama saya mengunjungi negara lain. Ini pasti akan berbeda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tak langsung masuk dan melakukan check in. Saya ke mesin ATM dan mengambil sejumlah uang untuk membayar Airport Tax dan persiapan transit di Kuala Lumpur. Lalu berjalan ke pintu masuk keberangkatan. Seorang pria memeriksa tiket saya lalu mempersilahkan saya masuk. Tiba di mesin pemeriksaan barang-barang, saya cukup gelisah karena masalah rokok. Di ransel 40 liter saya, tersimpan 13 bungkus rokok. Jumlahnya 208 batang. Seharusnya tak boleh lebih dari 200 batang. Semua segel kemasan rokok saya lepas, untuk memastikan agar rokok-rokok tersebut tidak untuk dijual.&lt;br /&gt;Namun, ransel saya bergerak mulus. Bahkan ransel kecil saya juga berjalan mulus. Padahal, terdapat empat bungkus rokok lainnya. Syukurlah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya menuju ke counter Air Asia. Menyimpan ransel besar saya ke bagasi. Saya mendapat kursi nomor 14 F. Dekat jendela. Karyawan meminta paspor saya dan tiket. Memberikan boarding pass dan meminta saya ke pintu keberangkatan internasional. Saya singgah di sebuah kotak kecil. Di dalamnya telah siap seorang pria. Saya menyerahkan boarding pass dan paspor lalu pria itu meminta saya membayar 100 ribu, untuk Airport Tax. Dan masuk ke sebuah ruangan. Di sana sudah antri. Saya mengisi Kartu Keberangkatan / Kedatangan untuk Warga Negara Indonesia. Lalu antri. Tiba pada giliran saya, seorang berseragam, dengan tegas meminta paspor dan kartu saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mau kemana?” katanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ke Kuala Lumpur pak,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa ada visa India,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya Cuma transit saja di KL, lalu melanjutkan perjalanan ke India,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Untuk urusan apa?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Training,” kata saya akhirnya menyelesaikan pertanyaannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selesai. Saya menuju ruang tunggu. Di sana ada pemeriksaan lagi. Barang, boarding pass dan paspor. Seorang perempuan muda tak dibolehkan masuk hanya karena membawa sebuah gelas di ranselnya. Ia diminta untuk mengeluarkannya dan menyuruhnya menaruh di bagasi. Tapi, saya tak ingin mengikuti perbincangan mereka, saya memilih masuk ke ruang tunggu. Tas saya aman. Boarding pass aman. Paspor aman. Menunggu berangkat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya duduk di sebelah seorang perempuan yang mungkin seusia dengan ibu saya. Ruang tunggu keberangkatan internasional Bandara Adisucipto tidak luas. Perkiraan saya hanya cukup untuk penumpang satu maskapai saja. Ada beberapa orang yang bahkan tak mendapatkan tempat duduk. Seorang gadis Korea memberikan tempat duduknya kepada perempuan Indonesia yang jauh lebih tua darinya. Tapi, baru saja sebentar perempuan itu duduk, karyawan Air Asia datang dan meminta semua penumpangnya antri untuk naik ke pesawat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada dua pintu pesawat yang terbuka. Saya naik ke tangga pintu depan. Lalu mencari kursi saya. Seorang perempuan duduk di kursi saya. Saya menyapanya dan menanyakan nomor kursinya. Dengan dialeg Melayu, dia menyarankan agar saya bisa duduk dimana saja. Saya kemudian mengatakan bahwa saya memang telah memilih nomor kursi saya sebelumnya, dekat jendela. “Sebaiknya ibu duduk di kursi yang sesuai dengan nomor di boarding pass ibu,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya dia mengalah. Dia pindah. Saya mendapatkan hak saya. Perempuan itu memilih duduk di 14 E, padahal seharusnya di 14 D. Namun tak ada lagi yang komplein karena kursi 14 E kosong.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya duduk dengan tenang. Mematikan ponsel. Memasang sabuk pengaman. Lalu mengambil majalah. Tapi saya tak bisa tenang. Wajah perempuan di sebelah saya sangat dekat dari bahu kiri saya. Matanya terus memandang ke jendela. Saya jadi penasaran dan gemas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ibu, tinggal dimana?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jepara,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kerja di KL?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Iya,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sudah berapa lama?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“4 tahun,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tadinya saya ingin mengalah dan pindah ke kursinya agar dia bisa melihat jendela sepuasnya. Tapi, tidak jadi. Ini penerbangan pertama saya menuju KL, saya juga ingin melihat apa saja di bawah sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kami bicara banyak. Namanya Rotika. Seorang Tenaga Kerja Indonesia di Kuala Lumpur. Ia akan pulang dan melanjutkan pekerjaannya setelah cuti selama dua bulan. Menurutnya, ia sangat beruntung dibanding dengan teman-teman sekampungnya. Alasannya, karena hanya dia yang bekerja di Malaysia. TKI asal kampungnya banyak yang bekerja di Arab Saudi. Rotika tak ingin ke sana. Takut. Ia selalu membayangkan beberapa kawannya yang disiksa, bahkan ada yang meninggal. “Baru-baru ini mbak, ada yang mati. Kelaminnya itu mbusuk. Diperkosa ama majikan laki-lakinya, anak majikannya sama saudara majikannya,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepala saya tiba-tiba pusing membayangkan cerita Rotika. Ia terus bercerita dengan tenang. “Majikan saya baik sekali. Saya cuti dua kali setahun. Pernah sebulan setengah. Sekarang dua bulan,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rotika punya satu anak laki-laki. Ia meninggalkannya bersama ibunya. Saat saya bertanya mengenai suaminya, ia menggelengkan kepala. Seperti tak ingin menjawab. Diam sebentar, lalu berkata, “Sudah tidak lagi,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kami mengganti bahan obrolan. Tentang KL. Namun ini tak menarik buat Rotika. Katanya, ia belum pernah jalan-jalan. Hanya mengurus rumah. Saat ia tiba, akan dijemput oleh majikannya dan langsung pulang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tiba-tiba seorang pramugari mendatangi saya dan memanggil saya encik. “Encik dengarkan saye dulu. Ande berade di pintu kecemasan. Jika ade accident, pilot tugaskan ande untuk membuka pintu keselamatan. Ande pahem?” katanya.&lt;br /&gt;Saya mengiyakan. Lalu membaca-baca beberapa petunjuk membuka pintu kecemasan (darurat) saat hal-hal darurat terjadi. Di bagian atas pegangan pintu ada tertulis petunjuk lain, dalam dua bahasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kanak-kanak, warga kurang upaya, dan warga tua tidak dibenarkan menduduki kerusi di barisan pintu keluar kecemasan ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Children, disable, and senior citizens are not allowed to occupy the seats at this emergency.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya terus memikirkan pramugari dan beberapa petunjuk yang menggunakan bahasa Melayu. Hanya satu kata saja sebenarnya. Kecemasan. Sejak naik pesawat, hingga lepas landas pun, saya merasa memiliki kecemasan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mengantuk dan tak bisa tidur. Saya cemas. Rotika sudah tidur. Saya terus menghadap jendela sambil terus merasa cemas. Rotika sangat pulas. Saya masih cemas. Mulutnya setengah terbuka. Saya mencoba tenang. Mengambil kain dan menutup hidung saya. Berusaha tidur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-192560898654025431?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/192560898654025431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=192560898654025431' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/192560898654025431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/192560898654025431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/12/bau-mulut-kecemasan.html' title='Bau Mulut Kecemasan'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-4947003062025058179</id><published>2011-11-13T17:28:00.000-08:00</published><updated>2011-12-23T05:38:22.643-08:00</updated><title type='text'>Berkunjung Ke Majene</title><content type='html'>PADA 24 Oktober 2011, saya berangkat menuju Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Pukul 21.00, bus Piposs membawa saya melewati perjalanan darat selama tujuh jam. Ini kali pertama saya akan mengunjungi Majene meski jaraknya tidak begitu jauh. Seorang gadis duduk di sebelah saya. Kami mengobrol sebelum akhirnya tertidur. Namanya Wana, dialah yang meminta agar kondektur bus menurunkan saya di tempat tujuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busnya berhenti di sisi kiri jalan. Wana bilang, saya sudah tiba. Penginapan tempat saya menginap ada di seberang jalan. Saya pamit dan turun dari bus. Gelap sekali, tak ada lampu jalan. Tak ada pula tanda adanya sebuah penginapan. Setelah menyalakan lampu senter dari hp, saya menemukan sebuah plan nama tempatnya. Di sana tak tertulis penginapan. Tapi, Yayasan Tasha Centre. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngeri sekali. Langkah saya sangat cepat. Mencari ruang yang terang, di ruang dimana resepsionis seharusnya ada. Tak ada siapapun. Seorang  pria lewat dan saya memintanya agar memanggil resepsionis. Tak lama kemudian, datanglah pria berbeda. Wajahnya kusut, mata sembab dan tak banyak bicara. Ketika bicara, ia menutup sebagian mulutnya. Saya mengerti alasannya, bau mulut tak dapat seketika pergi saat anda baru saja bangun dari tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, saya Tika. Kemarin sore sudah menelfon ke sini dan memesan satu kamar. Saya dari Makassar,” kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo..oo.. Ki..ki..ta’ mi yang telfon tadi?” katanya, gagap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberi sebuah kunci dan menunjukkan kamarnya. Pria itu masuk menyalakan pendingin ruangan dan televisi. Setelah dia keluar, baru saya masuk. Mematikan AC dan televisi, lalu bermain-main dengan laptop hingga di luar cukup terang.&lt;br /&gt;Tak betah di kamar, saya berjalan. Menikmati udara pagi di tempat yang baru saya kunjungi. Kupikir, ini hal yang baru. Tiap daerah akan berbeda suasananya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemui Udin. Salah satu karyawan di penginapan. Dia sedang mengepel lantai. Polos sekali dia bicara. Dialegnya khas. Berirama. Sedap. Kami bercerita, sambil dia terus melakukan pekerjaannya. Saya mendapatkan informasi dari Udin bahwa tak jauh dari penginapan, ada pantai. Saya pamit, berjalan keluar dan menunggu angkutan umum. Saya turun di sebuah jalan kecil atas petunjuk supir, dia menyarankan agar saya meneruskan perjalanan dengan ojek. Ada seorang bapak yang profesinya tukang ojek musiman sudah menunggu. Dia mengantarkan saya ke Pantai Barane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantai Barane berada di Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur. Saat ini sedang dalam pembangunan menjadi  kawasan wisata. Banyak bangunan baru di sana, seperti sebuah pondok-pondok yang bisa disewa. Ada yang berdinding batu, kayu atau hanya seperti sebuah gazebo saja. Saya berjalan menuju dermaga. Matahari benar-benar terik. Pagi itu, hanya ada tiga pengunjung. Saya, seorang ibu yang sedang mencari anaknya dan ada juga nenek yang kulihat sedang buang hajat di bawah dermaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek itu bernama Salamang. Dia mengajak saya mengunjungi rumahnya. Tak jauh dari pantai. Dia terus berkata kalau rumahnya jelek, tidak seperti rumah di kota. Saya senyum dan berjalan saja mengikutinya. Tiba di rumahnya yang terbuat dari kayu dan tidak luas, dia mempersilahkan saya masuk. Di ruang tamunya ada sofa yang tidak baru lagi. Beberapa sudut ada sobekan. Saat ingin melepas sandal, nenek Salamang melarang saya. Tapi, saya tetap membukanya. Terasa sekali pasir menempel di telapak kaki saya saat menginjak lantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wei, duduk-duduk meki nak. Kupake’ dulu bajuku. Kubikinkan ki teh nak,” kata nenek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi tak enak. Dan memintanya tak perlu  repot-repot. Nenek bilang, tak akan repot jika hanya buat teh. Tapi, saya minta air putih saja. Nenek mengalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir satu jam saya di rumah nenek Salamang. Dia banyak cerita. Awalnya bertanya dulu, nama, asal, status dan tujuan saya ke Majene. Lalu giliran dia bercerita. &lt;br /&gt;Nenek Salamang, punya tujuh anak. Semua sudah menikah. Hanya dua di antara tujuh anaknya yang tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Yang lain, tamat hanya Sekolah Menengah Pertama (SMP).  Saat anak pertamanya bernama Rusli berusia 15 tahun, suaminya meninggal. Sakit. Lalu bekerjalah dia menghidupi anak-anaknya. Sebagai, penjual ikan di pasar. Dua tahun terakhir, nenek sudah berhenti bekerja. Hanya di rumah saja. Dokter melarangnya bekerja keras karena alasan penyakit. Kata nenek, sakit jantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia banyak mengeluh mengenai penyakitnya. Tapi, bukan karena rasa sakit atau takut meninggal secara tiba-tiba. Nenek bilang, bosan karena tak bekerja. Tinggal di rumah buat dia malah cepat lelah. Ingin bekerja lagi tapi tak diijinkan oleh anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang juga rasanya mendengar cerita nenek. Walau sebenarnya, saya sering mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Sebelum meninggal, nenek saya juga sering mengatakan hal yang sama. Saya senang mendengar ketika nenek bercerita kisah hidupnya. &lt;br /&gt;Berdagang, mencari nafkah untuk lima anaknya. Bahkan, sempat menjadi juru masak orang  Jepang. Saya sempat tak percaya. Lalu dua hari kemudian, nenek membuktikannya dengan membuatkan saya perkedel kepiting. Dihiasnya dengan indah. Perkedel yang berbentuk oval dimasukkan dalam kulit kepiting yang masih utuh. Melihat tampilannya saja, sudah menggiurkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita nenek Salamang, membuat pikiran saya melayang-layang. Memikirkan nenek. Senyum-senyum sendiri dan mata sudah berair. Siap mengeluarkan air mata. Tapi, tak jadi karena kaget mendengar suara keras seorang perempuan yang mengucap salam. Ternyata, ibu itu datang mengambil raskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pamit. Tapi, nenek malah meminta saya berkenalan dengan cucu dan cicitnya yang usianya masih satu tahun. Tapi, saya lupa namanya. Cucu nenek Salamang masih sangat muda. Dia sedang hamil anak kedua. Menikah setelah tamat SMP. Suaminya juga masih muda, nenek memperlihatkan fotonya. Bekerja sebagai karyawan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Majene. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, saya benar-benar pamit. Menahan ojek. Dan keluar dari pantai. &lt;br /&gt;Saya singgah di tepi jalan poros Majene saat melihat ibu-ibu sibuk menjemur. Bukan menjemur pakaian. Tapi, mangga yang sudah dibelah tipis. Mereka akan membuat asam mangga. Biasanya digunakan untuk memasak ikan. Mereka mengambil mangga di gunung lalu dikupas, dipotong-potong tipis dan dijemur selama dua hari. Jika mengerjakan dua karung mangga, hasilnya hanya akan menjadi 10 liter saja setelah dikeringkan. Lalu dijual di pasar. Per liter, hanganya empat hingga lima ribu rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ada tiga orang ibu-ibu yang menjemur. Mereka memperkirakan hasil dari asam mangga yang mereka jemur pagi itu hanya sekitar 10 liter saja. Jadi, setelah dijual, hasilnya akan dibagi tiga. Alhamdulillah yah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari tepi jalan itu, saya berjalan menuju seorang ibu yang sedang memotong-motong daging kelapa tua. Aroma kelapanya sudah mulai busuk. Ibu itu mengerjakannya di sebuah pos ronda. Daging kelapa itu juga dijemur.  Daging kelapa kering biasa disebut kopra. Katanya, untuk membuat minyak goreng. Dia juga sudah jarang membuat kopra. Menurutnya, harganya sudah murah. Hanya dua ratus ribu per kwintal. Padahal tahun lalu masih dapat  lima ratus ribu per kwintal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin panas, sudah waktunya kembali ke penginapan. Saya pamit. Dan, memilih berjalan kaki menuju penginapan. Jaraknya sudah dekat. Saya menikmati keringat yang keluar dari tubuh saya. Di penginapan, kopi dan nasi kuning sudah menanti untuk dilahap. Saya mengucapkan terimakasih pada Udin. (Sartika Nasmar)&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-qEeSlqAafAQ/TvSEEP4benI/AAAAAAAAAIA/WUK9eexhsl8/s1600/Majene.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-qEeSlqAafAQ/TvSEEP4benI/AAAAAAAAAIA/WUK9eexhsl8/s320/Majene.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-4947003062025058179?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/4947003062025058179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=4947003062025058179' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4947003062025058179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4947003062025058179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/11/berkunjung-ke-majene.html' title='Berkunjung Ke Majene'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-qEeSlqAafAQ/TvSEEP4benI/AAAAAAAAAIA/WUK9eexhsl8/s72-c/Majene.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-3657791763311030506</id><published>2011-10-22T07:56:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T22:40:51.999-08:00</updated><title type='text'>Tentang Kami (2)</title><content type='html'>BAGI saya, menjalin hubungan pacaran selama hampir delapan tahun bukanlah hal yang mudah. Jatuh Bangun bak sebuah lagu dangdut yang dilantunkan oleh Kristina. Atau Putus Nyambung seperti yang dinyanyikan oleh Bukan Bintang Biasa. Tapi, itu bukan lagu favorit kami. Eko senang mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals dan Frank Sinatra. Sedangkan saya, senang lagu apa saja yang pasti buat hati senang dan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau menyanyi mi Tika, berarti senang mi hatinya,” begitu Eko mengandaikan suasana hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkenalan di sebuah kampus bernama STIKOM (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi) Fajar Makassar. Saya masuk pada tahun 2002 dan Eko 2003. Lalu semakin dekat saat mengikuti sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yakni Sanggar Seni Karampuang. Kami latihan teater bersama untuk pertunjukan di Kota Palu pada tahun 2004. Dan, Eko menyatakan suka pada saya setelah pulang dari Palu. Yah, sebulan setelah pertunjukan. Di bulan Maret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kami sering saling berbalas puisi, sekarang tidak lagi. Cara kami saling peduli sudah berubah. Eko dan saya saling memperlihatkan tulisan, saling kritik dan saling memuji. Eko sering mengirimkan tulisannya kepada saya sebelum dia mengirimnya ke tempatnya bekerja atau hanya sekedar untuk membaginya ke blog atau facebook. Ini sebuah kebanggaan buat saya, menurut Eko saya lebih teliti dalam memperhatikan tiap kata dan alur. Tapi, kami selalu saling belajar dan mendukung. Eko tak pernah berhenti ingin menulis sedangkan saya, jarang melakukannya. Lalu, dia akan mengkritik saya yang selalu malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pasangan yang tidak kompak. Memiliki banyak perbedaan. Namun perbedaan banyak membantu kami saling memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang mengejek ketika kami berjalan berdua, Eko yang tinggi dan kurus, saya yang pendek dan agak gemuk. Seperti angka sepuluh, kata banyak orang. Ketika pergi bersama, kami jarang beriringan. Eko selalu berjalan lebih cepat, saya agak lamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun-tahun pertama jadian, Eko belum memiliki motor. Untuk menuju suatu tempat, kami biasanya naik angkot atau becak. Kadang, kami meminjam motor teman. Namun, rasanya tak enak. Kami berdua tak suka meminjam barang orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2007, kami berdua wisuda. Eko selalu membanggakan diri karena kami wisuda bersama. Menurutnya, dia lebih berprestasi. Saya tersenyum saja, walau kadang-kadang terpaksa harus komplein. Mengalah pada anak manja, pikirku.  Tak ada yang salah melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eko sangat manja, keras kepala tapi konsisten. Merasa tak nyaman tanpa parfum, tak mau pakai celana Jeans yang bukan merk Levis 501 dan suka membeli sepatu. Dia memang tak pernah membeli celana, semua celana jeans yang dia pakai adalah hadiah dari ayah dan saudaranya yang bekerja sebagai pelaut. Tapi, beberapa di antara kebiasaan buruk itu tak dia inginkan lagi. Beberapa bulan lalu, dia mengirimkan pesan ke saya saat ingin membeli celana jeans dengan merk yang lain dan lebih murah. Saya bersyukur, akhirnya ada yang berubah. Dia juga sudah bersedia menggunakan pakaian cakar (pakaian bekas yang dijual kembali) hadiah dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bukan pasangan yang romantis. Kami tak pernah saling memberi hadiah atau melakukan sesuatu seperti di film-film romantis. Sejak pacaran, baru sekali saya memberi hadiah ulang tahun ke Eko. Pada September 2011, baru-baru saja. Saya memberinya sebuah pin bergambar gelas kopi. Ada tulisannya, Coffee House. Saya memberinya mengingat Eko suka sekali minum kopi. Kepalanya sakit dan akan kelihatan gelisah jika tak mengunjungi warkop dalam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eko, minum kopi itu tak mesti ke warkop. Menikmati kopi di rumah juga menyenangkan,” kataku saat memberinya hadiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HANYA selang beberapa bulan saja kami jadian, Eko mengajak saya ke rumahnya di Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu. Kebetulan saat itu saya juga ingin pulang ke rumah orang tua saya. Liburan. Kami tiba di Suli saat subuh. Ibu Eko membukakan kami pintu. Saat itu, kami datang bertiga. Saya, Eko dan Iwan, adik Eko. Masih di depan pintu, Eko memperkenalkan saya ke ibunya. Rasanya begitu malu-malu. Itu kali pertama berkenalan dengan orang tua pacar saya. Nama ibu Eko, Tumini, perempuan asal Jawa Timur. Ramah dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ini mi dibilang Tika,” kata ibu Eko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran, kenapa ibu Eko mengetahui nama saya. Tampaknya Eko sudah bercerita sebelumnya. Senang sekali hati saya. Kami tidak banyak ngobrol subuh itu, ibu Eko menyarankan kami untuk istirahat. Saya tidur di kamar bersama adik perempuan Eko bernama Tina. Dan, saya bangun pukul delapan pagi. Sarapan dan bersiap-siap berangkat ke Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur, di sebuah rumah dinas yang ditempati keluarga saya tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenalkan Eko ke ibu saya setelah wisuda berlangsung. Itu secara serius, walau sebelumnya ibu dan ayah saya sudah tahu kami pacaran. Waktu itu saya mengajak Eko bertemu dengan ibu saya di Mal Panakkukang. Eko terlihat sangat tegang. Entahlah, mungkin memang seperti itu karena raut wajahnya memang selalu tampak serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat orang tua saya atau orang tua Eko berkunjung ke Makassar, kami berdua selalu menyempatkan diri bertemu mereka, walau hanya sebentar. Kami belajar saling menghargai dan mengenal satu sama lain dengan keluarga masing-masing. Jalan-jalan atau makan bersama. Tak hanya orang tua tentunya, saudara-saudara pun sudah begitu dekat. Kakak dan adik saya, sudah mengenal Eko dengan baik. Begitu juga adik-adik Eko, semua mengenal saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1 Oktober 2011, Eko pindah ke Sorowako dan bekerja di sana selama 15 bulan. Saya senang dia berada di sana, jarak kami tidak begitu jauh. Hanya 12 jam perjalanan darat dengan menggunakan bis. Saya tak banyak cemas, karena di sana juga tidak jauh dari rumah tinggal Ibu saya yakni di Malili. Saya selalu meminta Eko agar rajin menjenguk ibu dan saudara-saudara saya di sana. Kadang-kadang, saya menyuruhnya mencabut singkong di kebun samping rumah dan membawa pulang ke Sorowako, tapi sayang Eko bukan tipe laki-laki yang suka dengan kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya bahagia ketika Eko mengirimkan pesan ke saya, mengatakan bahwa Ibu sudah mulai membaik dari sakit perutnya. Eko ke rumah menjenguk ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUN demi tahun, sangat cepat berlalu. Masih begitu jelas diingatan saya, apa yang sudah kami lalui bersama. Menangis, ketawa, sedih, saling menguatkan dan dukungan yang luar biasa. Banyak perubahan yang baik terjadi dalam kehidupan kami masing-masing. Banyak yang suka, banyak yang benci. Kami masih bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang mendukung kami menikah, tapi ini tentu saja bukan hal yang mudah. Apalagi dengan tradisi yang ada di Sulawesi Selatan. Uang selalu jadi tolak ukur. Panaik’ (uang mahar yang diserahkan oleh pihak laki-laki ke pihak perempuan) keluarga inilah, itulah dan segala embel-embel yang berhubungan dengan uang. Menyebalkan. Namun, tak hanya mesti siap itu. Kupikir banyak yang benar-benar harus dipersiapkan dengan matang. Saya tak ingin kematangan kami berdua diukur dari uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Eko sudah pernah merencanakan pernikahan. Bosan juga rasanya ditanya terus menerus, kapan menikah? Nasehat ini dan itu sudah mantul di telinga. “Pokoknya tidak lagi masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tapi mantul, jadi nda masuk-masuk,” kataku pada Eko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang tahu apa yang terjadi esok. Kami masih menyusuri rencana-rencana. Sekarang, ada jarak yang buat kami tak bisa saling bertemu langsung. Komunikasi melalui ponsel, email, YM dan facebook banyak membantu kami. Setiap hari. Membicarakan hal yang besar hingga yang terkecil. Saya dan Eko selalu saling mengabarkan kegiatan masing-masing, bukan untuk saling mengontrol. Tapi saling berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masih bersama. Setelah Putus Nyambung dan Jatuh Bangun.  (Sartika Nasmar)&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-J27ReyKJUVs/TvQiKM6J5aI/AAAAAAAAAHo/aUbqm7v8rQE/s1600/Eko%2Bdan%2BTika.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-J27ReyKJUVs/TvQiKM6J5aI/AAAAAAAAAHo/aUbqm7v8rQE/s320/Eko%2Bdan%2BTika.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-3657791763311030506?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/3657791763311030506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=3657791763311030506' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/3657791763311030506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/3657791763311030506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/10/tentang-kami-2.html' title='Tentang Kami (2)'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-J27ReyKJUVs/TvQiKM6J5aI/AAAAAAAAAHo/aUbqm7v8rQE/s72-c/Eko%2Bdan%2BTika.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-9034924956342578374</id><published>2011-10-22T07:40:00.000-07:00</published><updated>2011-12-22T22:34:46.141-08:00</updated><title type='text'>Tentang Kami (1)</title><content type='html'>Saya sudah lupa tanggalnya. Saat itu, saya masih bekerja sebagai kontributor di tvOne di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Di sana banyak kenangan, tempatku melewati masa kanak-kanak hingga remaja. Tahun 2008, saya memutuskan untuk mengikuti Kursus Narasi yang diselenggarakan oleh Yayasan Pantau di Yogyakarta. Setelah itu, kurasakan banyak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertemu dan mengenal banyak orang. Saya begitu kaku dan tidak percaya diri. Saya bertemu Inna Hudaya. Dia juga mengikuti kursus yang sama. Alasannya, karena ia sedang menggarap buku pertamanya berjudul Diary of Lose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering berkunjung di kamar kostnya di Jalan Kaliurang. Dia menyambut saya dengan hangat bersama kucing kesayangannya. Saya senang berteman dengan Inna dan mulai mengenalnya lebih dekat. Lalu, kami memutuskan untuk bersama-sama menuju ke Kampung Inggris di Pare,  Kabupaten Kediri. Di sana kami tinggal dalam kamar yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna memberi saya banyak hal. Membantu saya dan memberikan informasi yang menarik. Dia juga mengajak saya bergabung dalam lembaga yang dia bentuk bersama kawannya bernama Samsara. Saat itu nama lembaganya masih Samsara Abortion Recovery. Sebuah lembaga yang fokus pada isu aborsi, memberikan konseling untuk pemulihan trauma paska aborsi. Dikenal dengan sebutan Post Abortion Syndrome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jatuh cinta pada Samsara. Inna mulai memperkenalkan pada saya. Memberi bahan bacaan tentang aborsi, berbicara di depan banyak orang hingga menyuruh saya memeriksa email klien. Pertama kali membaca email klien, saya menangis sesenggukan di sudut kamar. Membayangkan bagaimana aborsi tidak aman yang dilakukan oleh perempuan-perempuan yang tak kami kenal. Saya ingat sekali bagaimana Inna memeluk dan menenangkan saya. Memberi saya semangat untuk membantu perempuan-perempuan di luar sana yang trauma karena aborsi tidak aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memutuskan meninggalkan pekerjaan saya sebagai wartawan. Lalu membantu Inna di Samsara sebagai staf edukasi dan sosialisasi. Kami melakukan sosialisasi di asrama-asrama, tempat kursus, hingga ke radio. Dari Pare hingga ke Tasikmalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang menganggap saya bodoh. Tapi saya tak takut dipanggil bodoh, karena dengan itu, saya tahu saya masih punya alasan untuk selalu belajar banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  Samsara, saya mendapat kekuatan baru. Kepercayaan diri yang baru dan pikiran yang matang. Inna memberi saran yang bijak dan menularkan keberaniannya pada saya. Kami mulai bersahabat. Saya pun mulai memanggilnya teteh. Dia mengajak saya berkunjung ke rumahnya. Kenalan dengan ibunya. Saat di rumahnya, kami begitu kompak melakukan kebohongan. Ketika subuh, Umi sapaan untuk ibu Inna akan membangunkan kami untuk salat subuh. Kami menyahut memberi tanda bahwa kami sudah bangun dan siap salat. Lalu menuju kamar mandi, berwudhu, mengambil mukenah, dan membuka sajadah. Mukenah tak kami pakai, hanya membiarkannya berantakan saja di atas sajadah, lalu kembali tidur. Pagi hari saat Umi masuk ke kamar, dia akan percaya kami sudah salat subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya menyenangkan mengingat banyak hal yang terjadi di Jogja. Saya tahu di sana, saya punya sahabat. Inna memberi saya pemahaman baru tentang menghargai dan menikmati pelukan, menghilangkan rasa malu untuk mengungkapkan rasa sayang pada orang-orang terdekat, mengungkapkan ketakutan dan kebahagiaan hingga bercerita rahasia-rahasia kecil. Tak hanya saling memuji, kami juga saling kritik. Saling mengungkapkan kebencian satu sama lain, tapi kami tahu bagaimana saling memaafkan setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, namanya hanya SAMSARA. Perspektif dalam memandang isu aborsi pun diperluas dengan pemahaman seksualitas dan kesehatan reproduksi. Orang-orang di dalamnya pun berubah. Yang bertahan hanya saya dan Inna. Banyak proses dilakukan bersama, jarak dekat dan jarak jauh. Sekarang, saya di Makassar dan Inna di Jogja. Kami mendapat rekan kerja baru sejak program terakhir kami berjalan enam bulan lalu. Syaiful Huda dan Yoyok membantu Inna di Jogja, saya di Makassar dan Mbak Umi di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja kami tidak hanya memberikan konseling paska aborsi, tapi juga konseling Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD), mengorganisir Post Abortus dan memberi mereka ruang untuk saling menguatkan, membuka ruang diskusi seksualitas dan kesehatan reproduksi, juga pendidikan seks dan resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini saya menikmati foto-foto Omah Schakty, rumah Inna yang dijadikan kantor oleh Samsara. Letaknya di Bantul. Kanan dan kiri area sawah. Depan ada jalan tak beraspal, lalu sawah lagi. Pada pagi hari, penggembala kambing sering melalui jalannya. Kabut tipis juga tampak. Angin dingin. Segar sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di Jogja, saya tinggal di sana.  Beberapa hari lalu, Inna mengabarkan bahwa Omah Schakty punya kloset duduk baru. Dan, siapa pun boleh menulisi dinding kamar mandi dengan tema tubuh. Dinding-dinding rumah dan kantor juga akan di cat. Masing-masing staf akan memilih warna favoritnya. Sedih sekali tak bisa berada di sana, tapi Inna menyisakan dinding dapur untuk warna favoritku. (Sartika Nasmar)&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0B6hcY1jBiQ/TvQg8bTr34I/AAAAAAAAAHc/Zec5Hq_SKvk/s1600/tika%2Bdan%2Binna.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-0B6hcY1jBiQ/TvQg8bTr34I/AAAAAAAAAHc/Zec5Hq_SKvk/s320/tika%2Bdan%2Binna.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-9034924956342578374?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/9034924956342578374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=9034924956342578374' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/9034924956342578374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/9034924956342578374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/10/tentang-kami-1.html' title='Tentang Kami (1)'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-0B6hcY1jBiQ/TvQg8bTr34I/AAAAAAAAAHc/Zec5Hq_SKvk/s72-c/tika%2Bdan%2Binna.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-1033571638530783321</id><published>2011-07-11T04:59:00.000-07:00</published><updated>2011-07-11T04:59:07.274-07:00</updated><title type='text'>Pernikahan Usia Belia</title><content type='html'>BAGAIMANA rasanya menikah, hidup berumah tangga di usia yang masih belia. Suami yang  tidak tamat Sekolah Menengah Pertama, tak punya pekerjaan tetap dan menjadi buronan polisi. Belum lagi, serumah dengan orang tua dan saudara, saling berbagi kamar dan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selviana tahu betul jawabannya. Selvi, masih berusia 14 tahun saat menikah  dengan Fahmi, seorang laki-laki asal Galesong, Kabupaten Gowa. Mereka menikah pada 29 November 2010. Fahmi saat ini masih 17 tahun. Mereka pacaran selama tiga bulan. Lalu memutuskan menikah. Daeng Singara, ibu Selvi yang meminta mereka menikah. Dia khawatir jika terjadi sesuatu kepada anaknya sebelum menikah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang tua di Pulau Kodingareng yang khawatir anak perempuan mereka tidak dapat menjaga kepererawanannya. Para orang tua itu tak mau jika suatu saat anak perempuan mereka mengalami kehamilan sebelum menikah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Daeng Singara tak hanya menggunakan alasan itu untuk menikahkan anaknya. Selain khawatir, dia juga terbelit masalah ekonomi. Suaminya, Daeng Kaharuddin tidak lagi bekerja. Profesinya sebagai nelayan dia tinggalkan setelah tiga kali tenggelam di laut. Beruntung, karena ia bisa selamat. Walau setelah itu dia hanya duduk saja setiap hari di rumahnya. Anak laki-lakinya juga sama. Tak lagi bekerja. Lumpuh usai menyelam mencari ikan. Keuangan mereka berantakan. Selvi putus sekolah kelas 6 Sekolah Dasar. Setahun kemudian, dinikahkan. Daeng Singara menjadi pedagang kecil-kecilan. Sedikit uang berasal dari kuntungan dagangannya, untuk kebutuhan makan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah panggung sederhana. Di ruang tamu hanya ada dua lemari saja. Tak ada kursi untuk tamu. Lantai papan dialas terpal plastik motif keramik. Tampak rapi dan bersih. Di sanalah mereka semua tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat disuruh menikah, Selvi tidak pernah protes. Itu sudah biasa. Banyak anak seusianya yang juga imenikah dan putus sekolah. Dia sepertinya tak khawatir. Saat saya tanya apakah dia tahu seperti apa rasanya hidup setelah menikah saat itu, dia tersenyum. “Tidak kak, menikah ja’ saja,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tampak murung ketika ditanya tentang sekolah. Tertunduk. Tak ada pengaruh baginya meski sekolah SD dan SMP di sana gratis. Dia tetap putus sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengerti ja’. Kurang dana. Biar gratis, tapi beli ki baju sekolah, sepatu, tas sama buku-buku,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bahkan tak ingat hanya berapa kali mendapatkan menstruasinya ketika akhirnya dinikahkan. Dua hari sebelum menikah, Selvi mendatangi Puskesmas Pembantu yang tersedia di pulau. Atas saran ibunya dia meminta kepada perawat yang bertugas untuk memberinya kontrasepsi. Selvi menggunakan suntik per tiga bulan. “Banyak yang pake’ itu di sini. Apalagi kalau kawin muda biasanya pake’ suntik supaya tidak ada dulu anaknya,” jelas Daeng Singara. “Na bilang dulu dokter, belum pi bede’ siap melahirkan jadi disuruh pake’ suntik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, menstruasi Selvi berhenti empat bulan lamanya. Memasuki bulan Mei 2011 barulah dia mengalami menstruasi. Itu juga setelah disarankan oleh bidan untuk meminum pil KB. Sebagai pancingan, kata bidan. Tapi saat ini, Selvi dan suaminya berencana ingin memiliki anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU pagi di rumah Hajah Tati. Ada delapan perempuan yang sedang menikmati kamblas, gorengan yang terbuat dari tepung dan air yang hanya dibumbui bawang merah dan garam secukupnya. Ini makanan favorit orang-orang di pulau. Ada juga teh hangat yang manis. Semanis suasana pagi di sana. Tapi, tidak semanis diskusi kami. Tentang pernikahan usia belia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pulau Kodingareng, hal itu biasa terjadi. “Biar tong ini pulau toh kak, banyak yang hamil di luar nikah. Itu mi na banyak dikasi’ kawin biar masih kecil,” kata Rina.“Ada juga yang baru kodong satu kali mens (menstruasi) na dikasi’ kawin mi,” lanjutnya. Perempuan yang berusia 20 tahun lebih dan belum menikah akan dipertanyakan jodohnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina saat ini 19 tahun. Cantik, rambutnya hitam dan panjang, suaranya serak. Belum menikah. Hanya memiliki ijazah SD saja. Dia ingin sekali melanjutkan sekolahnya waktu itu. Tapi tak mendapat ijin dari orang tuanya pindah ke Kota Makassar. Pada saat itu belum ada SMP di pulau. Akhirnya putus sekolah. Untunglah belum dinikahkan. Pada Juli 2003, SMP sudah didirikan di sana. Tapi, Rina tak mau sekolah lagi. Dia malu. Setiap hari, hanya membantu ibunya di rumah. Mencuci, memasak dan membersihkan rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daeng Mutti  pagi itu paling bersemangat bercerita. Dia tak setuju dengan pernikahan yang banyak dilakukan di sana. Anak-anak yang belum tahu banyak hal disuruh mengurus suami, katanya. “Tapi tidak bisa ki juga melarang karena anaknya tosseng toh,” tegasnya. Kata dia, bukan hal yang mengejutkan di sini kalau anak usia belia menjadi pengantin perempuan. Entah suaminya sudah tua, dewasa atau juga masih remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang di sini dek, perempuan itu dianggap beban. Dianggap tidak bisa jaga diri. Takut orang tuanya. Nanti ada apa-apanya,” Itu menurut Daeng Mutti, seorang ibu rumah tangga. Tamatan Sekolah Menengah Kejuruan. Kesehariannya menggunakan jilbab besar hingga ke lutut. Ketika berada di luar rumah, kadang ia menutup sebagian wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sembilan lebih, perempuan-perempuan bubar. Aktivitas berganti. Rina dan sepupu-sepupunya sibuk di dapur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari mulai terasa hangat. Saya menuju kantor kelurahan. Sepi sekali di sana. Hanya ada satu pegawai yang sedang menulis ketentuan zakat, Musdalifah. Teman-teman kerjanya belum datang. Pak lurah sedang berada di kota. Begitu sepi. Ada dua meja yang kosong. Di atasnya ada tumpukan berkas, tak ada komputer di kantor ini. Tak satu pun. Menurut Musdalifah, komputer ada tapi disimpan di rumah salah satu pegawai. “Kalau siang kan tidak ada listrik, malam pi baru menyala na tidak ada orang di kantor kalau malam. Jadi, di taroh di rumah baru malam pi juga di pakai isi-isi data,”katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Musdalifah keras, mungkin terdengar hingga di luar kantor. Dia juga tak setuju dengan pernikahan usia belia. Menurut dia, pernikahan usia belia tidak hanya terjadi karena persoalan ekonomi saja. Dia membeberkan angka keluarga miskin yang menurun di sana yang menerima Subsidi Langsung Tunai (BLT) hanya 641 kepala keluarga lalu turun menjadi 415. Dan pada tahun 2011, turun menjadi 111 dari data penerima Program Keluarga Harapan (PKH) untuk keluarga miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pulau Kodingareng, tidak hanya keluarga yang terbelit masalah ekonomi yang menikahkan anak-anaknya di usia yang masih belia. Tapi, juga mereka yang hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Hajah Tati misalnya. Ia dan suaminya adalah pedagang. Memiliki beberapa tanah yang tersebar di pulau Kodingareng. Ia menikahkan anak perempuan satu-satunya pada usia 15 tahun. Sekolah untuk anak perempuannya tidak penting baginya. Dia memiliki kekhawatiran yang sama dengan orang tua yang lain di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mau diibaratkan dek, ada itu anggapan di sini kalau lebih berharga itu jaga kerbau daripada jaga anak perempuan. Jadi dikawinkan mi kasian daripada bikin malu dibelakang,” kata Musdalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menurutnya, bagi orang-orang yang tidak setuju dengan pernikahan usia belia tidak bisa berbuat banyak, jika mereka adalah penduduk asli di pulau tersebut. Sikap kekeluargaan menjadi hal utama di sana. Ada perasaan tidak enak jika satu orang tak saling mendukung.  Pernikahan usia belia sudah menjadi tradisi di pulau ini. “Para orang tua itu tidak sadar kasian, kalau anaknya mi yang jadi korban. Dikasi’ berenti sekolah. Harus memang ada itu yang sosialisasikan aturan tentang pernikahan. Karena banyak yang tidak paham, jadi curi umur kalau mau kasi’ nikah anaknya.” kata Musdalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAK orang tua mendatangi Abdul Rahman, satu-satunya imam desa dengan mencantumkan usia 20 tahun. Banyak pula yang dinikahkan karena sudah hamil sebelum menikah. Imam desa yang menikahkannya dan mengurus surat nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) di Makassar. “Saya tidak pernah menikahkan anak di bawah usia 20 tahun,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya mustahil. Ia adalah satu-satunya imam desa yang selalu menjadi penghulu di pulau kecil ini. Banyak orang di pulau mengakui bahwa ia berbohong. Kami bicara pada malam hari di sebuah kursi bambu di pinggir pantai. Dia tak mau berlama-lama bicara, tamunya sudah menunggu di rumah, katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan Abdul Rahman saat ditanya mengenai pencurian umur terlihat juga di wajah Daeng Tima. Dia telah menikahkan empat anak perempuannya yang masih belia. Dia masih memiliki empat anak perempuan lagi yang belum menikah. Satu diantaranya, baru saja berhenti sekolah saat duduk di kelas dua SMP. Alasannya karena tak memiliki uang. Suaminya bekerja sebagai nelayan yang hanya menggunakan lepa-lepa yakni perahu kecil dengan alat bantu dayung. “Kalau nelayan kecil ji kasian, tidak bisa ki kasi’ makan anak-anak ta. Kalau ada yang lamar mi, di kasi’ kawin mi saja,” katanya. Kebutuhannya sehari-hari banyak dibantu oleh anak-anaknya yang sudah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tetangga-tetangga Daeng Tima, empat anak perempuannya yang sudah dinikahkan berusia rata-rata 12 hingga 15 tahun. Terakhir ia menikahkan Kaya’ di usia 12 tahun. Tapi Daeng Tima mengatakan kepada saya itu tidak benar. Semua anaknya menikah saat usianya sudah di atas 17 tahun. Selviana yang mengantar saya menemui Daeng Tima mengatakan bahwa Kaya lebih muda dari usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini kak, jangan lihat wajahnya orang. Banyak memang yang sudah kelihatan tua, padahal masih anak-anak. Lihat mi itu sana cewe’,” kata Selvi sambil menunjuk seorang perempuan hamil yang menggunakan lipstik merah menyala dan bedak yang tebal. “Masih 15 tahun itu kak,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pulau Kodingareng, hampir semua orang saling mengenal. Luas pulau hanya 8,9 hektar dengan jumlah penduduk 4.273 jiwa. Semua beragama islam. Jarak pulau dari Kota Makassar 15,05 kilometer dengan jarak tempuh sekitar satu jam dengan menggunakan kapal. Di pulau ini terdapat satu SD, satu SMP dan satu SMU yang baru didirikan tiga tahun yang lalu. Ini adalah sekolah swasta, pemiliknya adalah Kepala Sekolah SMP. Murid-muridnya pun masih menumpang belajar di bangunan SMP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pendidikan warga rendah. Menurut data profil Pulau Kodingareng tahun 2010, angka tamatan SMU atau sederajat hanya 75 orang. 41 laki-laki dan 34 perempuan. Sedangkan lulusan Strata Satu hanya 20 orang. Dari 20 orang tersebut, sudah termasuk mereka yang pendatang dan bekerja di pulau Kodingareng menjadi tenaga medis dan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, pendidikan belum begitu penting di pulau yang kecil, menyenangkan dan ramah ini. Saya hanya butuh tiga hari untuk mengenal puluhan penduduk di sini. Hingga di setiap saya berjalan, banyak yang menyapa dan meminta saya singgah dan mengunjungi rumah mereka. Ikan segar senantiasa siap menanti. Pantai yang indah menyuguhkan air yang jernih dan pasir putih yang halus. Saya menikmati keindahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari sebelum saya pulang ke Makassar, saya berjalan mengelilingi setengah pulau. Bersama gadis-gadis cantik dan belum menikah. Dua diantaranya berhasil kupengaruhi agar tak menikah muda. Mereka ingin kuliah dan mengambil jurusan Broadcasting. Rasanya tenang. Kami membuat acara perpisahan malam itu dengan membuat siomay. Di tengah acara, seorang gadis mencari saya. Namanya  Hadrah, murid kelas tiga SMP di pulau Kodingareng. Kami sudah saling mengenal. Dia adalah Ketua OSIS di sekolahnya. Cantik, kulitnya putih. Saya kaget mendengar ucapannya. Ia akan menikah setelah lebaran nanti. Calon suaminya juga tidak lulus SMP, belum memiliki pekerjaan. Saya membujuknya agar ia menolak. Tapi kemudian sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini amanahnya Bapakku sebelum meninggal kak. Bapakku sama bapaknya calonku sudah kaya’ saudara mi jadi na titip suruh jaga ka karena sendiri ja’ bersaudara,” kata Hadrah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diam dan memikirkan Hadrah, hingga kapal membawa saya menuju Kota Makassar pagi hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-1033571638530783321?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/1033571638530783321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=1033571638530783321' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1033571638530783321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1033571638530783321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/07/pernikahan-usia-belia.html' title='Pernikahan Usia Belia'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-4504225740657416623</id><published>2011-04-14T04:03:00.000-07:00</published><updated>2011-04-14T04:09:22.561-07:00</updated><title type='text'>Alfabet Pindah ke Mesjid</title><content type='html'>Saya baru saja berbaring, masih pukul 12.00. Eko mengirim sebuah pesan terusan ke ponselku. Isinya, “Eko, kalau meman tika berniat mengajar anak2 diBoron sbaiknya di mesjid saja, krn ribut.” Ini adalah pesan dari Daeng Ngeppe. Pemilik rumah kontrakan Eko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumayan kaget juga menerima pesan itu. Tepatnya bingung. Lalu kuputuskan untuk bersiap-siap dan berangkat ke Borong. Saat tiba di sana, seorang bapak bernama Daeng Mille menyapa saya. Dia adalah ayah Daeng Ngeppe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari tadi pagi anak-anak cari ko mau belajar,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu satu-per satu anak-anak Alfabet berlari menuju rumah. Kali ini lebih banyak dari biasanya. Awalnya hanya tujuh, sekarang menjadi 12 orang. Mereka ingin ikut juga belajar di Alfabet. Kebanyakan yang baru saja mendaftar anak yang berusia 6-9 tahun. Mereka berminat belajar membaca. Salah satu anak bernama Desi bertanya berkali-kali apakah sekolah ini harus bayar atau tidak. Berkali-kali pula kujawab, &lt;br /&gt;“Tidak Desi, tidak membayar ji dek,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu Alfabet kuliburkan meski ada beberapa anak merasa kecewa. Kujelaskan ke mereka kalau kita tidak bisa belajar di rumah ini lagi. Daeng Ngeppe tidak mengijinkan. Katanya, ribut dan mengganggu tetangga yang lain. Lalu Nisa mengadu. Kata dia, sekitar pukul 10.00, banyak anak yang datang ke rumah Eko mencari saya. Mereka mengetuk pintu keras-keras dan memasukkan tas melalui jendela. Padahal, pintu terkunci karena Eko tak ada di rumah. Daeng Ngeppe melihat dan marah lalu membuka pintu dengan kunci cadangan. Mengembalikan tas anak-anak dan menyuruhnya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulang mi ko semua, tidak ada ji gurumu,” kata Nisa menirukan ucapan Daeng Ngeppe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengarkan mereka cerita. Setelah selesai lalu bertanya, kenapa mereka datang sangat cepat padahal kelas dimulai siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau sekali mi ki’ semua belajar K’Tika. Tidak ada dikerja di rumah karena libur,” kata Aqda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu memang libur, tanggal 5 Maret peringatan Hari Raya Nyepi. Sabtu siang itu, jumlah anak semakin banyak, kupikir memang saatnya pindah dari rumah kontrakan Eko. Saran dari Daeng Ngeppe untuk pindah ke mesjid boleh juga menjadi pertimbangan. Kata anak-anak, di lantai duanya ada tempat untuk belajar. Biasanya digunakan untuk mengaji pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjelaskan ke anak-anak bahwa Alfabet akan pindah belajar, mereka kusarankan untuk pulang. Sayang sekali, kami tak belajar hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, saya datang lebih cepat. Mencari pengelolah mesjid dan meminta ijin. Saya mendatangi sebuah rumah yang berada di depan mesjid, itu rumah Daeng Mille. Tapi, bukan ayah Daeng Ngeppe. Daeng Mille yang satu ini adalah pengelolah mesjid. Tapi, kata istrinya, dia baru saja keluar .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, anak-anak melihat saya dan ikut. Seorang laki-laki yang tak muda lagi keluar dari mesjid. Dia menggunakan kopiah hitam, kemeja dan sarung kotak-kotak putih. “Itu sana K’Tika, Pak Haji Hasan. Di dia mi ki’ minta ijin.” teriak Jeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengejarnya tapi dia terus saja berjalan. Rasanya tak sopan jika harus berteriak keras memanggilnya. Aqda, Jeni dan Firda berlari kencang. Memanggil Pak Haji. Wah, dia berhenti juga akhirnya. Saya datang belakangan. Tersenyum dan tubuh dibasahi keringat. Sambil terpongah-pongah, saya meminta ijin menggunakan lantai dua mesjid untuk Alfabet. Menjelaskan tentang Alfabet panjang lebar, dibantu oleh Aqda, Jeni dan Firda yang merengek agar diijinkan. Lalu Pak Haji bilang, “Silahkan. Asal pada waktu salat, anak-anak tidak ribut dan mengganggu orang salat,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuyakinkan laki-laki yang dipanggil Pak Haji itu dengan berkata, “Baiklah, pak! Terimakasih.” Jeni, Aqda dan Firda berlari lagi dan memanggil teman-temannya memasuki mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Jeni, Aqda dan Firda, saya jalan kaki saja yah. Saya tak sanggup lagi berlari,” gumamku.&lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-4504225740657416623?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/4504225740657416623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=4504225740657416623' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4504225740657416623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4504225740657416623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/04/alfabet-pindah-ke-mesjid.html' title='Alfabet Pindah ke Mesjid'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-8180814328723310553</id><published>2011-03-29T05:22:00.000-07:00</published><updated>2011-03-29T05:24:19.385-07:00</updated><title type='text'>Bersaing dengan Dagangan</title><content type='html'>Alfabet, nama yang sederhana. Saya tak butuh waktu lama untuk katakan setuju pada Eko saat menyarankan nama itu untuk sekolah ini. Katanya, dari Alfabetlah semua pengetahuan bermula. Saya selesai dengan urusan nama. Saatnya membuat sekolah ini adalah tempat belajar yang menyenangkan. Bukan karena gratis tentunya. Tapi karena kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 22 Februari 2011, saya dan enam anak-anak Alfabet seharusnya belajar bersama. Ini adalah pertemuan yang kedua. Sebelumnya, hanya ada lima anak. Tapi, saat pertemuan berakhir, Eva membawa seorang teman perempuannya. Kata Eva, temannya ingin ikut les gratis. Dengan senang hati kuterima dan memintanya hadir pada pertemuan kedua. Mereka berdua berlari pulang. Saya mendengar tawa bersama suara kaki mereka. Menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, di pertemuan kedua, pada hari Selasa, saya datang terlambat 15 menit. Kami janjian berkumpul sekitar pukul 15.00. Tak ada satu pun yang datang. Berkali-kali saya mengintip setiap mendengar suara anak-anak di jalan. Ternyata bukan suara anak Alfabet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu saja, pikirku. Hingga pukul 16.00 mereka belum juga datang. Kukirim sms ke Eko, mengadu. Sedih juga rasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pulang sekitar pukul 17.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di kamar kost, saya terus berfikir. Ketakutan dan khawatir anak-anak tak mau belajar lagi. Menurut Eko, mereka tak pernah terlihat lagi bermain di sekitar rumah kontrakannya. Entah kenapa. Saya makin tak tenang saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Selasa diminggu berikutnya, saya datang ke kontrakan Eko. Rencananya ingin mengunjungi rumah mereka. Bertanya ke pemilik rumah kontrakan Eko, lalu mengantar saya ke rumah Firda. Kata ibu Firda, anaknya keluar sejak tadi pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berfikir bahwa anak-anak tak mau lagi belajar di Alfabet. Tapi, sekitar 30 menit berada di rumah kontrakan, anak-anak datang mencari saya. Ada Firda, Akda, Eva, Jenni dan seorang anak yang baru kukenal bernama Nia. Firda memeluk saya. Lalu kami bercerita. Kutanyakan kenapa mereka tak datang minggu lalu. Banyak juga alasannya, Firda ke rumah neneknya, Akda tidur siang, Eva ke acara nikahan, trus Jenni ada acara Maulid di sekolah. Saya tertawa mendengar mereka bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami berkumpul. Seorang anak laki-laki datang membawa dagangannya. Ada Jalangkote, bakwan dan Onde-onde. Anak laki-laki itu dipanggil Ambon karena kulitnya yang hitam. Ambon adalah adik Firda. Ia tertarik ikut Alfabet, tapi karena harus menjual setiap sore, ia bilang masih bingung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami diskusi mengenai jadwal bertemu, tiba-tiba Eva bicara. Ini membuat saya sedikit kaget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, jangan mi les sore karena jual ka juga Jalangkote,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua hari ini Eva juga membantu tetangganya menjual Jalangkote. Sama dengan Ambon. Mereka berdua berjalan keliling di sekitar Lorong Emas jalan Borong sambil menjinjing kerangjang kue. Menurut mereka, setiap hari bisa dapat uang sekitar empat ribu rupiah. “Untuk uang jajan sama uang sekolah kak,” lanjut Eva. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin sekali Eva dan Ambon tak berjualan. Saya ingin mereka menikmati masa kecilnya dengan nyaman. Bermain, belajar dan tak perlu berfikir tentang uang. Usia mereka kupikir belum saatnya untuk bekerja. Tapi, ini mauku. Mereka, orang tuanya mungkin saja tak berpikiran sama denganku. Saya hanya bisa memotivasi mereka agar tak berhenti belajar. Anak-anak Alfabet harus punya mimpi dan cita-cita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengajak anak-anak mendiskusikan jadwal belajar setiap minggu. Mencari waktu yang tepat tanpa harus mengganggu aktivitas mereka yang lain di luar Alfabet. Kami sepakat bertemu tiap Sabtu pukul 14.00 dan Minggu pukul 10.00. Jadi, Eva dan Ambon bisa tetap berjualan saat sore.&lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-8180814328723310553?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/8180814328723310553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=8180814328723310553' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/8180814328723310553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/8180814328723310553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/03/bersaing-dengan-dagangan.html' title='Bersaing dengan Dagangan'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7340933016122109855</id><published>2011-03-14T07:49:00.000-07:00</published><updated>2011-03-28T20:22:51.374-07:00</updated><title type='text'>Alfabet</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-2RPURNSzSvY/TZFQbusQrmI/AAAAAAAAAEw/WVNX_w-WKo4/s1600/197960_1900253111471_1395984657_32259196_1061508_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="138" src="http://1.bp.blogspot.com/-2RPURNSzSvY/TZFQbusQrmI/AAAAAAAAAEw/WVNX_w-WKo4/s320/197960_1900253111471_1395984657_32259196_1061508_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ini hari yang mengagumkan. Bisakah kau bayangkan ketika impianmu akan segera menghampirimu? Hari ini, 20 Februari 2011, saya melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk menyambut sebuah sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eko, teman saya, mengirimkan sms bahwa beberapa anak telah menunggu di tempat tinggalnya. Sebuah rumah kecil yang ia sewa di Jalan Borong Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima anak itu datang satu jam lebih awal. Mereka tak sabar ingin belajar dan menikmati kelas pertama mereka. Tentu saja saya merasakan hal yang sama. Jujur, jantung saya berdetak tak seperti biasanya. Kali ini lebih cepat. Saya gugup, mungkin. Walau hanya ingin bertemu lima orang anak yang usianya delapan hingga sepuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan, saya belum bisa mendapatkan nama yang cocok untuk sekolah ini. Awalnya, saya berpikir untuk menggunakan nama Lontara’. Lontara' adalah abjad Bugis-Makassar. Tapi, entah kenapa saya belum merasa puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan dulu soal nama. Saya sudah bertemu lima anak yang penuh semangat. Mereka menyambut saya di pintu.&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu Tikaaaaaa...,” sapa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senyum dan mengajak mereka masuk. Ruangan yang kami gunakan tidak begitu luas. Ukuran 4x4 meter. Belum lagi kardus-kardus yang berisi buku. Membuat ruang semakin sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membuka gulungan kertas pengganti papan tulis. Kubeli seharga dua ribu rupiah. Menempelnya ke dinding dengan selotip pinjaman dari salah satu anak. Lalu mengambil spidol hitam dari dalam ranselku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, “Halo semuanya? Apa kabarkah kalian hari ini?” tanyaku membuka kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka serentak teriak, “Baik bu Tika,” Aduh, sungguh saya malu dipanggil ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sepakat memulai dengan berkenalan. Satu per satu. Saya memulai. Nama lengkap, nama panggilan, umur, nama orang tua, hobi dan cita-cita. Oh iya, kukatakan juga kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tak perlu memanggil saya Ibu Tika. K’Tika saja cukup,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu seorang anak menyeletuk, “Iya tawwa anak-anak, supaya tidak kelihatan tua ki’ toh K’Tika?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin sekali saya tertawa keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan diri saya selesai, saya akan menunjuk satu anak yang maju selanjutnya. Ini adalah aturannya. Dan, saya menunjuk Eva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eva memperkenalkan diri. Suaranya serak dan sangat pelan. Teman-temannya meminta agar Eva membuat suaranya lebih keras. Eva menggunakan kemeja merah dan rok denim pendek abu-abu. Rambutnya kuncir satu. Rapi sekali. Kedua tangannya saling menggenggam di depan. Senyumnya begitu malu. Eva kelas dua SD. Seharusnya dia kelas tiga, tapi tinggal kelas karena belum bisa membaca. Cita-citanya, ingin menjadi dokter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Eva menunjuk Jenni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenni kaget dan belum siap berdiri di depan. Dia sangat malu. Berkali-kali dia menggeleng dan meminta agar yang lain menggantikan. Tapi, teman-temannya tak setuju. Mereka menyemangati Jenni dengan bertepuk tangan dan menyebut nama Jenni berulang-ulang. Jenni akhirnya berani. Walau saat bicara, suaranya hampir tak dapat kami dengar. Tapi dia bisa menyelesaikan tantangannya. Jenni belum lancar membaca. Dia masih terbata-bata. Saat ini dia kelas dua SD. Dia bercita-cita jadi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenni menunjuk Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa sudah bersiap-siap. Dia begitu lincah bicara. Suaranya tak terkesan malu-malu. Nisa kelas empat SD. Tubuhnya paling tinggi. Dia ingin menjadi dokter atau guru. Cepat sekali dia memperkenalkan diri. Selesai lalu menunjuk Akda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akda, anak yang paling bersemangat. Wajahnya imut. Suka tertawa. Centil. Suaranya keras. Lincah. Akda paling aktif di dalam kelas. Dia selalu mengacungkan tangan saat diberi pertanyaan. Dia juga tak malu-malu bertanya. Sekarang duduk di kelas 3 SD. Akda bilang, dia suka membaca dan menulis. Cita-citanya ingin menjadi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir adalah Firda. Saat ini kelas empat SD. Firda juga centil. Susah sekali diajak duduk dengan tenang. Dia sangat memperhatikan penampilannya. Selalu saja meminjam syal saya dan menata di leher atau di pinggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya lima anak. Tapi, kupikir ini awal yang baik. Kuajak mereka diskusi soal nama sekolah kami. Mereka memberi saya beberapa kata, mulai dari mandiri, Inpres dan bahagia. Saya bilang kalau kita akan tetap belajar walau belum menemukan nama yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membagikan lima majalah untuk dibaca. Membiarkan mereka memilih bagian apa saja yang ingin mereka baca. Eva menunjuk sebuah cerita yang bergambar komik. Lalu mengeja hurufnya satu per satu. Jenni maju ke depan dan membacanya keras-keras. Yang lain menyimak dan mencatat kata yang salah disebutkan Jenni. Ada tujuh kata. Mereka menyebut satu per satu dan Jenni menulisnya di kertas. Akda membantunya mengeja kata-kata yang salah ia sebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu mendampingi Eva. Membantunya mengeja tiap kata. Saat ia membaca di depan teman-temannya, Nisa membantunya. Mengoreksi setiap kata yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari pertama ini, mereka juga belajar Bahasa Inggris. Adik saya, Iin Purwanti bersedia mengajar tanpa harus dibayar. Kelasnya jam empat sore. Mereka diajarkan mengenal abjad dan menyebutkannya. Lalu belajar mengenal kosakata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bekerja sama. Saling membantu. Ini yang ingin kuajarkan. Tidak hanya bisa membaca, menulis atau berhitung. Tapi bekerja sama, berani bermimpi, punya semangat dan rendah hati. Saya percaya bahwa ketika kita belajar tidak hanya untuk membuat kita pintar atau cerdas, tapi menjadi bijaksana dan rendah hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, ini memang impianku. Membuat sekolah gratis. Memimpikan anak-anak yang ada di sekitarku menikmati pengetahuan tanpa harus mengeluarkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu betul, ini akan sulit. Tantangannya jauh lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas kami sekarang pun sangat sederhana. Tak ada fasilitas lain kecuali lima majalah anak yang kusimpan. Atau, kertas dan spidol. Mereka duduk di atas tikar. Tak ada meja saat mereka menulis hingga setelah satu jam kelas berlalu, mereka tak segan mengeluh karena sakit pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar nah dek, nanti kalau K’Tika punya uang, kita beli papan tulis dan meja,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kumpul ki saja uang k’, seribu satu orang baru beli ki papan tulis,” kata Jenni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meminta mereka bersabar. Mereka setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kelas berakhir, saya meminta mereka memikirkan satu kata yang menggambarkan suasana hati mereka hari ini. Lalu, menulisnya di kertas. Ada lima kata di sana; senang, gembira, ceria, persahabatan dan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam lima sore mereka pulang. Katanya mau ke mesjid, mengaji. Kami akan bertemu hari Selasa, 22 Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Iin pulang. Eko sudah pergi sejak dua jam yang lalu. Tapi, sekali lagi dia mengirim sms. Isi smsnya, “Saya sudah dapat nama untuk sekolahnya. Bagaimana kalau Alfabet.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7340933016122109855?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7340933016122109855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=7340933016122109855' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7340933016122109855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7340933016122109855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/03/alfabet.html' title='Alfabet'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-2RPURNSzSvY/TZFQbusQrmI/AAAAAAAAAEw/WVNX_w-WKo4/s72-c/197960_1900253111471_1395984657_32259196_1061508_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-9113410260454418946</id><published>2011-02-09T06:28:00.000-08:00</published><updated>2011-03-28T18:54:15.283-07:00</updated><title type='text'>Orang-orang di Posko Mandiri</title><content type='html'>Oleh : Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ERNI Susanti baru saja mengambil cuti kantornya di Bank BCA Cabang Klaten, Jawa Tengah. Dia berencana akan memanfaatkan liburannya untuk berkunjung ke rumah keluarganya di kota lain. Erni adalah istri Ketua RT 13 Pemukti Baru, Kecamatan Tlogo Prambanan, Klaten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat erupsi besar Merapi pada Jumat, 5 November 2010. Erni dan warga RT 13 dikagetkan dengan kehadiran ratusan pengungsi yang tiba-tiba saja berkumpul di Gedung Serbaguna Tlogo Prambanan. Mereka dievakuasi dari desa-desa yang jaraknya berada dalam radius 10 hingga 15 kilometer dari Merapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Erni hanya diantarai satu rumah dari gedung serbaguna. Di tengah-tengah adalah milik ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat, warga RT 13 yang dikomando oleh Rochmat Haryono, suami Erni bergerak untuk tanggap bencana. Erni menjadi Koordinator logistiknya. Warga tak tega melihat kondisi pengungsi. Mereka kemudian menggunakan uang kas RT yang dikumpulkan melalui iuran per bulan jauh sebelum Merapi meletus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Warga di sini langsung tanggap dan langsung rapat untuk membantu pengungsi. Ibaratnyakan, kami kedatangan tamu,” kata Erni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana menghabiskan cutinya pun digunakan menjadi relawan bencana.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tidak mungkin pergi. Suami sayakan Ketua RT di sini, jadi tidak mungkin meninggalkan RT dalam keadaan begini,” lanjut Erni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai cara dilakukan untuk membantu pengungsi. Mulai menghubungi siapa saja yang mereka kenal untuk memberikan donasi kepada pengungsi. Mereka juga mengumpulkan peralatan memasak dan membuat dapur umum di rumah ibu Erni tepat di belakang gedung serbaguna. Uang kas digunakan untuk membeli bahan makanan dan beberapa kebutuhan genting pengungsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu mulai memasak dan bapak-bapak mengumpulkan logistik. Kelompok pemuda juga melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah para pengungsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung serbaguna penuh, sebagian pengungsi akhirnya tinggal di SMP dan SMK Muhammadiyah. Ada juga yang menumpang di rumah-rumah warga. Tiap rumah ditinggali pengungsi dengan jumlah yang berbeda-beda. Ada yang hanya 10 orang, 22 orang, hingga 120 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pagi, siang dan malam mereka bekerja mengurus kebutuhan pengungsi. Mereka juga menerima berbagai macam bantuan. Uang dan kebutuhan lainnya. Selimut, tikar, perlengkapan mandi dan makanan. Sedikit demi sedikit lalu dibagikan kepada pengungsi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGUNGSI yang tinggal di gedung serbaguna bersyukur telah dilayani dengan ramah oleh warga RT 13. Mereka dijamu dengan hangat dan memenuhi kebutuhan mereka yang tidak sempat dibawa saat evakuasi. Hanya berbekal pakaian seadanya dan uang simpanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap keluarga mendapatkan satu tikar sebagai alas untuk tidur. Selimut ke tiap pengungsi untuk bertahan dari dingin. Tak ada sekat berupa dinding antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Tak ada lagi privasi di sana. Mereka semua menyatu dalam sebuah gedung. Laki-laki dan perempuan. Juga yang tua dan yang muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samijo, salah satu pengungsi siang itu tampak bercerita bersama Surtinem, istrinya. Di depannya, ada seorang pemuda. Muh. Sanisi, anak Samijo dan Surtinem. Entah apa yang mereka perbincangkan. Tapi, tak ada senyum apalagi tawa. Tak juga saling manatap. Mata Samijo merah, seperti ada air di sana. Tapi tak menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga berasal dari Desa Leses, Kecamatan Manesrenggo, Klaten. Jumat pagi mereka menuju ke gedung serbaguna setelah mendengar informasi bahwa desa mereka sudah tak aman. Mereka datang bersama sekitar 50 orang dari desa yang sama. Bau belerang sudah mengepung desanya yang hanya berjarak 20 kilometer dari Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami takut ada apa-apa. Makanya kami mengungsi saja mencari tempat yang aman. Desa kami sudah tercium sekali bau belerang,” kata Surtinem.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samijo tak banyak bicara. Saat bicara pun, suaranya hampir tak terdengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sangat bersyukur dan senang sekali bahwa warga di sini menerima kami dan beri kami makan. Mereka membantu meringankan beban kami,” kata Samijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama keluarga kecilnya, Samijo akan tinggal sementara di gedung serbaguna hingga desanya aman. Saat ini, Samijo, Surtinem dan anaknya mau tak mau harus menerima gedung serbaguna itu sebagai tempat tinggalnya sementara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA 26 Oktober 2010. Ribuan warga dari Desa Sangup, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali turun ke Desa Jemowo untuk mendapatkan tempat yang lebih aman. Jarak Sangup memang sangat dekat dari Merapi, hanya lima kilometer hingga abu, bau belerang dan berbagai material yang dikeluarkan Merapi, senantiasa dengan mudah mengancam mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengungsi-pengungsi terpecah-pecah ke berbagai titik. Ada yang tinggal di rumah Pak Kades, Sekolah Dasar Karanganyar, SMP dan SD Jemowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngatimo, Kepala Dusun Sudan dan 25 kawannya yakni perangkat-perangkat desa di Jemowo menjadi relawan untuk para pengungsi. Mereka mengadakan rapat dan mencari cara untuk menyelamatkan pengungsi seperti layaknya menjamu tamu. Tak ada uang, mereka terpaksa meminjam uang kas desa sebesar 1,7 juta rupiah. Itu dengan persetujuan kepala desa Jemowo yang menjadi relawan bersama Ngatimo. Uang pinjaman mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengungsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami terpaksa pinjam uang. Awalnya itu 1,7 juta. Tapi, lama-kelamaan numpuk jadi 20 juta. Utangnya itu sekitar tanggal 26-31 Oktober,” kata Ngatimo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logistik mulai terkumpul dan dibagikan kepada pengungsi. Mereka juga mulai mengelolah posko mereka secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 30 Oktober 2010, sekitar 10.000 warga Jemowo dan Sangup dievakuasi akibat erupsi besar Merapi. Awan pekat dan bau belerang yang telah menyebar menyebabkan warga Desa Jemowo harus diungsikan. Relawan yang awalnya membantu pengungsi akhirnya berubah status menjadi pengungsi. Warga panik dan bingung hingga berlari saling menuntun. Akibat kepanikan tersebut, salah satu warga bernama Niti Painem meninggal. Salah satu relawan mereka pun mengalami patah tulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengungsi hingga memasuki area Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten yakni di bagian timur Gunung Merapi yang berjarak 14,5 kilometer. Mereka mengungsi di SMP Negeri 3 Jatinom. Pengungsi yang tinggal di sekolah tersebut merupakan pengungsi yang berasal dari Desa Sangup, Desa Jemowo dan Desa Sumur, Kabupaten Boyolali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Sekolah SMP 3 Jatinom, H. Warsito menyambut mereka dengan terbuka. Pengungsi diperbolehkan untuk tinggal di 15 kelas, laboratorium, aula dan teras-teras kelas. Saat itu, suasana masih kacau. Hampir semua pengungsi kelaparan. Sejak dievakuasi pada sore hari, mereka baru bisa mendapatkan makanan setelah 24 jam kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu itu kami sudah gak kepikiran lapar, yang penting aman dulu,” kata Susilo, salah seorang relawan asal Jemowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relawan Jemowo dan pihak sekolah bersepakat menjadikan sekolah sebagai Posko. Salah satu kelas dijadikan sebagai gudang penyimpanan logistik. Mereka melakukan pendataan pengungsi dibantu oleh 10 orang mahasiswa dari Universitas Gadjah Madha. &lt;br /&gt;Selain itu, mereka menyusun mekanisme pengelolaan logistik yang kemudian berdatangan dari berbagai sumber.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipilihlah beberapa orang yang akan mengurus logistik dan pendistribusiannya. Salah satunya adalah Ari, seorang pemuda asal Jemowo. Setiap hari, Ari mengurus disribusi logistik. Jika pengungsi membutuhkan sesuatu, Ari akan menuliskannya di sebuah nota kosong lalu memberi paraf tanda persetujuan. Ada tiga lembar dengan tulisan yang sama. Nota asli warna putih untuk pengungsi yang nantinya akan diserahkan kepada penjaga logistik. Sedang lembar kopian akan diserahkan ke bagian arsip dan pendataan logistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat mengakses semua kebutuhan pengungsi, 9 November 2010, para relawan juga menyusun 21 kelompok pengungsi. Masing-masing dipilih ketua kelas yang bertugas untuk mengkoordinasikan kebutuhan pengungsi, tidak hanya di SMP Negeri 3 Jatinom, juga pengungsi yang tinggal sementara di SD Negeri 1 Kayumas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang pasti, kami mengupayakan keamanan dan kebutuhan dasar pengungsi,” tegas Ari.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI Posko RT 13 Pemukti Baru, Tlogo Prambanan, Kabupaten Klaten juga memiliki mekanisme distribusi bantuan logistik kepada pengungsi secara rapi. Dari 15 desa yang mereka bantu, masing-masing desa memiliki satu buku yang dipegang oleh bagian administrasi Posko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harus diatur seperti ini, biar bantuan merata. Semua pengungsi dapat,” ujar Erni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing desa memiliki koordinator. 15 koordinator tersebut bertugas untuk mengkoordinasikan kebutuhan pengungsi. 15 koordinator itu pula yang kemudian mengambilkan logistik ke pengelolah dan membagikannya. Saat mengambil logistik, koordinator wajib menulis nama dan bertanda tangan di buku mereka masing-masing sebagai bukti. Mereka juga mendapatkan ID card yang dikalungkan di leher mereka dan mendapat baju seragam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mekanisme itu kami atur dan bicarakan dalam rapat panitia. Sudah di-manage dengan baik,” lanjut Erni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari terakhir, banyak relawan khususnya ibu-ibu RT 13 kewalahan mengurus dapur umum. Apalagi, Erni juga harus mulai bekerja lagi pada jumat, 12 November. Langkah antisipasi Erni kemudian melibatkan pengungsi khususnya perempuan untuk membantu mereka memasak dan mempersiapkan bahan-bahan makanan. Setiap hari, koordinator tiap desa akan memilih lima perempuan yang bersedia terlibat di dapur umum. Itu dilakukan secara bergantian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erni dan warga RT 13 Pemukti Baru mengaku ikhlas membantu pengungsi. Menurut Erni, semua warga bekerja sama dengan baik dan merasa memiliki tanggung jawab demi kemanusiaan. “Buktinya, warga di sini menyumbang apa saja mulai uang, makanan, perlengkapan hingga tenaga,” jelas Erni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posko RT 13 dikelolah secara mandiri. Tak ada campur tangan pemerintah setempat. Namun, Erni pernah menerima sumbangan dari staf kecamatan Prambanan berupa tiga handuk, beras 10 kilogram, pakaian dalam satu plastik dan makanan ringan untuk anak-anak satu karung untuk keperluan lebih dari 1.000 orang pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tegas, Erni menuturkan bahwa dalam hal ini pemerintah belum mampu untuk tanggap bencana, padahal sudah ada tim khusus yang mereka susun. Khususnya dalam pendistribusian bantuan kepada pengungsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanggap bukan berarti memberikan bantuan berupa barang, menjenguk pun bisa jadi menolong dan membuat mereka merasa dipedulikan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang di Posko SMP 3 Jatinom pun sama. Pemerintah kabupaten Klaten juga sudah pernah menyerahkan bantuan untuk pengungsi berupa 30 sak beras bulog, mi instan dan 1 kotak telur untuk 10.000 orang. Lalu, pemerintah Kabupaten Boyolali menyumbangkan 40 sak beras bulog, mi instan dan air mineral. Serta satu unit mobil Puskesling dan tenaga medis serta obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perhatian dari pemerintah sangat minim,” kata Susilo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap hari ada saja staf pemerintah kabupaten baik Klaten maupun Boyolali yang datang untuk melakukan pendataan di posko ini. Tindak lanjutnya, tidak jelas.&lt;br /&gt;Ngatimo, Susilo dan kawan-kawannya masih terlibat dalam belenggu utang sebanyak 20 juta rupiah. Belum ada uang untuk mengembalikannya. Mereka mengatakan bahwa hal yang terpenting adalah menyelamatkan warga. “Kami tak punya niat lain selain itu,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 8 November 2010, relawan ini bahkan mengirimkan surat kepada Gubernur Jawa Tengah untuk mempertanyakan nasib mereka dan pengungsi lainnya. Meski logistik yang mereka miliki masih cukup. Namun, proses pemulihan perekonomian setelah Merapi aman akan memakan waktu yang tidak cepat. Bagaimanapun, menurut Ngatimo, warga butuh perhatian dan tanggung jawab dari pemerintah setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samijo dan keluarganya juga menyimpan harapan untuk pemerintah. Menurutnya, negara punya tanggung jawab besar akan nasib pengungsi. Ia akan tetap tinggal di pengungsian dengan modal bantuan dari Posko RT 13. Ia mengatakan akan menunggu hingga status merapi dikatakan aman untuk bisa pulang ke rumahnya. Meski itu perlahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, mudah-mudahan pemerintah lebih banyak melirik nasib pengungsi,” harap Samijo.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-9113410260454418946?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/9113410260454418946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=9113410260454418946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/9113410260454418946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/9113410260454418946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2011/02/orang-orang-di-posko-mandiri.html' title='Orang-orang di Posko Mandiri'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-4318405414947332495</id><published>2010-10-18T10:23:00.000-07:00</published><updated>2011-12-23T05:42:27.681-08:00</updated><title type='text'>Si Ballang Juga Anak Tengah</title><content type='html'>PEREMPUAN kecil ini dipanggil Ballang atau belang. Itu karena sebuah bekas yang tak hilang hasil siraman air panas yang dulunya lepuh di sebagian tubuhnya. Beruntung, bekas lepuh itu hanya tersisa pada bagian kaki kanan saja. Sedang bagian tubuh lainnya, selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ballang kecil dan keluarganya hidup seadanya. Di rumah panggung itu tak ada listrik, tak ada juga kamar mandi. Mereka sekeluarga menumpang mandi di sumur sebuah kantor yang terletak sekitar 500 meter dari rumahnya. Di belakang rumah banyak rumput tinggi, di sana pulalah mereka membuang tinja. Jika malam dan ketakutan, mereka sekeluarga membuang tinja di atas koran lalu membuangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya  Pegawai Negeri Sipil yang sederhana. Dialah orang pertama yang mengajari Ballang membaca dan menulis di sebuah meja kayu yang diterangi pelita. Tak heran, jika pagi hari Ballang terbangun, maka kotoran mata dan hidungnya akan menghitam karena asap tebal pelita. Si Ballang dan dua saudara perempuannya senang tertawa saling mengejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ballang masuk TK. Adiknya, yang sering diejek si Ateng pun tak mau kalah. Padahal usianya dua tahun lebih muda dari si Ballang. Tapi ia ngotot ingin sekolah. Sedangkan kakaknya si Donggo sudah duduk di kelas dua Sekolah Dasar. Si Ballang tidak suka sekolah. Dia sering pulang lebih cepat sebelum waktunya. Sambil membawa tempat makanannya, ia berlari menuju rumah tanpa peduli panggilan gurunya. Dan si Ateng justru tak pernah membolos.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun kemudian, masuklah si Ballang Sekolah Dasar. Teman-temannya sama, karena memang hanya satu sekolah di sana. Yah, itu di Kecamatan Malangke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lebih membenci sekolahnya yang ini daripada saat TK. Dia tak suka ikut upacara, tak suka berdiri di antara banyak orang, tak suka berada di luar kelas yang terang dan tak suka berteman dengan Adi dan Andi. Si Ballang menjadi bahan ejekan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, lihat ko kakinya. Ada ballangnya. Hahahahaaaa..,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menertawai si Ballang. Tak peduli saat upacara atau saat bermain diwaktu istirahat. Setelah mereka mengejeknya, maka yang lain akan tertawa. Tapi si Ballang tak pernah menangis, meski dia merasa tak nyaman karena malu. Tapi ia murung dan tak memiliki banyak teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada obat yang mampu membuatnya tak menjadi pemurung. Adalah dongeng satu-satunya yang dimiliki ayahnya. Cerita tentang seorang pria yang jatuh dari pohon kelapa hingga akhirnya pincang. Nama pria itu, Faisal. Dia adalah kakak sepupu si Ballang. Ayahnya bercerita setiap kali si Ballang ingin mendengarnya. Dia tak pernah bosan melihat gerakan bibir mungil ayahnya bercerita. Tertawa cekikikan ayahnya usai bercerita. Dan, belaian lembut telapak tangan ayahnya di ubun-ubun kepalanya. Si Ballang pernah meminta ayahnya bercerita yang lain, tapi tetap cerita itu yang terdengar. Hingga dia tak pernah meminta lagi. Si Ballang dan ayahnya begitu bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua sangat dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi, ayah dan ibu si Ballang bertengkar. Sangat ribut. Kaca lemari pecah, ibu menangis sambil terus bicara. Si Ballang dan dua saudara perempuannya mendengar. Ayah pergi membawa sebuah tas. Lalu menggendong si Ballang dan meninggalkan rumah. Mereka menuju pelabuhan. Lalu berangkat ke Palopo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sebuah kapal, berangkatlah ayah dan anak ini dengan bimbang. Si ayah tak pernah bicara sepatah kata pun. Si Ballang tak mau lepas dari pelukan ayahnya. Saat itu ombak besar, kapal yang bermuatan 20 orang itu goyang. Baju-baju penumpang basah, wajah-wajah diterpa air laut. Setiap orang berdoa. 20 menit perjalanan, kapal itu terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penumpang jatuh ke dalam air. Dengan cepat ayah si Ballang bergerak. Air telah masuk ke dalam perut si Ballang melalui mulut. Mereka terus bersama, kedinginan dan ketakutan. Si Ballang naik di atas pundak ayahnya yang sedang berenang. Ia dapat melihat laut yang luas sambil terus berpegangan kuat. Ombak terus menghantam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kapal mengapung, semua penumpang dari yang tua hingga yang muda, perempuan dan laki-laki diselamatkan. Mereka duduk di atas kapal terbalik yang mengapung. Adapula yang memeluk kayu sambil menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeritan ibu-ibu meminta pertolongan membuat Ballang ketakutan. Tak pernah sekalipun dia lepas dari ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, takut ka,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nda ji nak. Ada bapak,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu jam mereka bertahan di laut. Sebuah kapal tua pun lewat dan menyelamatkan mereka. Si Ballang masih dipelukan ayahnya hingga tiba di pelabuhan Palopo. Mereka tak tinggal lama, tapi langsung menuju rumah kakak angkat ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu si Ballang mendengar kabar kecelakaan yang dialami suami dan anaknya melalui telepon di rumah dinas Pak Camat. Dia pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIANI selalu menjenguk anaknya di Makassar. Si sulung dan si tengah. Mereka berdua kuliah. Si sulung di Nitro dan si tengah di STIKOM. Si sulung sangat sabar dan si tengah pemarah. Mariani tak pernah marah pada si sulung, karena dia rajin. Dialah yang sering membersihkan kamar yang selalu berantakan karena ulah si tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan si tengah, kerap mendapat makian. Dia tak suka menyapu, pakaian kotor menumpuk, tak suka mandi dan penampilannya yang dinilai tak menarik. Si tengah suka kaos oblong, celana jins dan sandal jepit atau sepatu kets. Tak suka high heels, kemeja dan bedak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rantasa’ mentong ko kau. Pake’-pake’ ko itu rok tolo’ supaya tidak kaya’ orang balaki ko diliat. Kenapa ada anak perempuan rantasa’ sekali,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar mi. Disuka kita’ pake’ begini. Kenapa ki sewotkah? Mau-mauku saya,” jawab si tengah menantang ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tengah tak begitu dekat dengan ibunya. Selain sering dapat marah, dia juga selalu mendapat cubitan kecil di paha. Rasa pedihnya membuat si tengah mengeluarkan air mata. Hampir setiap si tengah bertemu ibunya, mereka akan bertengkar hebat. Selalu saja ada masalah. Kamar yang kotorlah, pakaian kotor yang menumpuklah, penampilan yang rantasa’ atau saat si tengah menyanyi dengan suara yang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perempuan kuttu’,” kata ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tengah hanya ketawa. Cuek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mariani kewalahan mengurus si tengah sendirian. Apalagi, jika si tengah pergi dari rumah tanpa pamit. Mariani akan menangis membaca surat yang dituliskan si tengah. Maka pergilah si tengah bersama teman-temannya berkemah. Menumpang mobil truk dan menikmati angin dari atas truk. Tak peduli dengan perut yang mual atau bau babi yang ikut menumpang di atas truk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali Mariani memeluk si tengah. Saat itu, si tengah kelas satu SMU. Seorang laki-laki menelepon Mariani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu’ anak ta’ sekarang sudah ada di penjara,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mariani menjerit seorang diri. Tak ada siapa pun di rumah. Dia kaget bukan kepalang, mengingat masalah si tengah yang baru saja dilapor polisi karena memukul siswi SMP hingga darah di bagian matanya membeku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak saya percaya pak. Saya tahu, anakku sekarang ada di sekolah. Jangan ki sembarang bilang nah,” gertak ibunya kepada penelpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mariani menutup telepon dan bergegas ke kantor polisi ditemani om si tengah. Ternyata penelpon itu bohong. Mariani menuju ke sekolah. Si tengah yang sedang menikmati bakwan di kantin tiba-tiba mendapat panggilan ke ruang kepala sekolah. Seorang pria yang dia panggil Mario Bross menjemputnya di kantin. Berjalanlah si tengah di belakang pria tambun pendek dan berkumis tipis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lagi, kau lagi,” kata Mario Bross.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ka lagi pak?” protes si tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada mama’mu cari ko,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di ruang kepala sekolah, Mariani langsung memeluk si tengah. “Oh, kodong anakku. Saya kira di dalam penjara mako. Ada orang telfon ka bilang na ambil ko tadi polisi,” keluh Mariani, khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tengah heran. Dalam hati, dia dendam pada penelfon itu. Mario Bross menggeleng melihat si tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NASRUDDIN menyetir mobil dinasnya menuju rumah Mario Bross. Dengan marah, dia mengetuk pintu lalu mengajak pria tambun itu bicara. Mario Bross menerima Nasruddin ketakutan. Si tengah diam tapi merasa menang mendapat pembelaan dari ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak terima pak, anda bilang anak saya sombong dan mengandalkan bapaknya untuk berkelahi. Anak saya berkelahi karena diejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia marah, makanya memukul. Tidak ada hubungannya dengan bapaknya,” gertak Nasruddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan begitu pak, ini anak ta’ setiap caturwulan pasti berkelahi. Ini keempat kalinya mi,” tegah Mario Bross.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasruddin dan Mario Bross bersitegang. Si tengah duduk menunduk. Jam 10 malam, Nasruddin mengajak si tengah pulang setelah Mario Bross minta maaf karena keceplosannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada caturwulan ke dua, di kelas keduanya di SMU, si tengah dikeluarkan dari sekolah. Empat kali sudah dia berkelahi dengan teman perempuannya. Pertama karena diejek. Kedua karena diejek. Ketiga karena adiknya dipukul. Dan keempat karena diejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasruddin hanya menggeleng kepala jika mendengar kabar si tengah berkelahi. Bahkan, saat si tengah dikeluarkan dari sekolah, Nasruddin tak marah. Dia hanya meneruskan mencuci motor si tengah dan hanya tertawa kecil sambil berkata, “Jadi, mau ko sekolah dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ka masuk sekolah musik pak. Ada di Makassar,” kata si tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak boleh. Mau ko jadi apa besok-besok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tengah diam dan meninggalkan Nasruddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir satu bulan si tengah tak bersekolah. Hanya di rumah. Omnya yang seorang guru sibuk mencarikan sekolah untuknya. Tapi, tak ada yang menerima si tengah. Kata omnya, sekolahnya full. Setiap pagi, si tengah duduk di teras rumah kecilnya dan bermain gitar. Sesekali ia menggambar tokoh-tokoh kartun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga, ibunya menyarankan agar si tengah disekolahkan di Pare-pare saja. Di sana banyak yang mengawasinya. Dijamin, dia tak akan berkelahi lagi. Nasruddin menyetujui. Berangkatlah si tengah dengan hati yang tidak ikhlas. Si tengah menangis. Berbekal koper berisi pakaian dan buku-buku, dia berangkat diantar ibunya. Nasruddin yang bekerja dan tinggal di daerah berbeda tidak bisa mengantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak si tengah SMP, Nasruddin jarang tinggal di rumah. Kadang, Nasruddin datang seminggu sekali atau dua minggu sekali. Dia tinggal di rumah dinas kecamatan di daerah yang lain. Si tengah tak suka jika ayah kesayangannya tak ada di rumah. Bukan saja karena uang jajannya sedikit. Tapi, tak ada yang menemaninya makan dan menggendongnya saat bangun pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Nasruddin juga pernah memukul si tengah. Pertama, karena si tengah bersikeras ikut lomba dance di malam Lebaran. Nasruddin memukulnya dengan kayu ditambah hukuman menjaga burasa’  hingga masak. Kedua, saat menginap di rumah temannya tanpa pamit. Dua saudara perempuannya sering melapor pada Nasruddin. Dapatlah si tengah hadiah pukulan pada paha dengan menggunakan selang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, keputusan Nasruddin dan istrinya benar telah memindahkan si tengah dari sekolahnya dari Palopo ke Pare-pare. Di rumah tantenya, si tengah tak bisa berkutik. Semua menjadi teratur. Harus sarapan pagi, berangkat dan pulang sekolah dengan becak langganan, makan siang di rumah, tidur siang setelah makan siang dan wajib bangun sebelum jam empat sore, jadwal les sore hari yang membludak, belajar setelah maghrib, matikan lampu dan tidur jam 10 malam hingga tak boleh menerima telfon dari laki-laki siapa pun meski dengan alasan bertanya tentang pekerjaan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SI Ballang mengenakan kerudung saat pindah ke sekolah yang baru. Dia tak pernah diejek lagi. Tak ada yang tahu kalau di kaki kanannya ada bekas siraman air panas. Dia juga selalu mendapat ranking. Mulai mengenal buku dan senang menulis diari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, si Ballang menjual majalah di sekolah. Rumah tantenya yang juga sebuah agen berbagai macam majalah remaja dimanfaatkannya mencari uang tambahan. Setiap minggu, dia digaji dua puluh tujuh tibu lima ratus rupiah. Uang si Ballang setiap bulan lumayan banyak, apalagi dengan tambahan uang jajan dari ayahnya seratus lima puluh ribu rupiah setiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat SMU, si Ballang mendaftar ke beberapa perguruan tinggi negeri. Tapi tak lulus. Akhirnya mengikuti saran ayahnya masuk ke Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ballang mulai betah di kampus. Dia menemukan hal yang berbeda. Kekeluargaan yang dijalin antar senior dan junior, makan bersama, tertawa bersama dan bernyanyi bersama. Si Ballang juga bergabung ke Unit Kegiatan Mahasiswa Sanggar Seni Karampuang. Dia belajar bermain teater dan pentas beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampus kecil yang menyenangkan itu, si Ballang memilih jurusan Broadcasting. Dia mulai belajar banyak hal. Masuk ke dalamnya dan mulai bercita-cita menjadi wartawan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2003, si Ballang pun mengenal seorang laki-laki yang akhirnya menjadi pacarnya. Namanya Eko Rusdianto. Mereka berdua dekat, saat bermain teater bersama. Si Ballang belajar banyak hal dari Eko. Selalu diskusi, jalan-jalan bersama dan memiliki cita-cita yang sama, menjadi wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah si Ballang, Nasruddin senang saat anak tengahnya diterima bekerja di sebuah media elektronik. Sedangkan, Mariani tidak begitu senang anak tengahnya menjadi wartawan. Dia lebih ingin anak tengahnya yang keras kepala menjadi PNS saja. Sedang Eko selalu mendukung si Ballang menjadi penulis. Dia pernah marah saat tahu bahwa si Ballang bekerja di sebuah LSM. Bahkan, Eko jugalah yang memperkenalkan si Ballang pada sebuah yayasan yang rutin mengadakan Kursus Narasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ballang pun menjadi senang menulis. Dengan serius, dia mencari nama yang tepat untuknya sambil bercita-cita bahwa kelak, tulisan-tulisannya akan dibaca banyak orang. Dia ingat bahwa si anak tengah ini, namanya di akte kalahiran berbeda dengan dua saudara perempuannya. Si sulung yang donggo diberi nama lengkap Kartini Nasruddin. Sedangkan si bungsu yang tak suka dipanggil Ateng diberi nama Karmila Nasruddin. Lalu si Ballang hanya diberi nama Sartika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu si Ballang berada di Jogja. Berpikir tentang nama dan tentang kedua orang tuanya. “Kenapa disetiap nama anak, selalu diikuti nama ayah saja? Tidak ada nama ibu.” pikir si Ballang. Dia pun mencatat-catat nama. Sampai ia ingat sebuah perbincangannya yang lama bersama Mariani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ma’ apa keinginan ta’?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ka punya mobil toh, baru kujadikan angkutan antar kota. Trus, di kaca depannya di bagian atas, kutempeli sticker tulisannya Nasmar,” kata Mariani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu Nasmar ma’?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nasmar itu, singkatannya Nasruddin-Mariani. Jadi, orang tahunya kalau mama’ sama bapak bersatu terus,” lanjut Mariani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat perbincangan itu, resmilah si Ballang menambahkan namanya yang dia anggap kurang menjadi Sartika Nasmar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2009, Nasruddin meninggal. Sedangkan Mariani tetap mencintai suaminya. Kadang, anak-anaknya bercanda menyuruhnya menikah lagi. Tapi, dia tak mau. “Saya tidak mau mengkhianati bapakmu,” jawabnya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, tidak hanya si Ballang yang anak tengah itu menggunakan Nasmar di belakang namanya. Tapi, si sulung dan si bungsu pun ikut menggunakannya. Mereka tertawa saat si Ballang bercerita kenapa dia menggunakan Nasmar. Tapi, dua saudara perempuannya setuju. Mereka bertiga ingin Nasruddin dan Mariani tetap saling mencintai dan dikenang bersama ketiga anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ballang yang juga anak tengah itu adalah Sartika Nasmar. Anak dari Nasruddin dan Mariani. Seorang Pegawai Negeri Sipil dan Ibu rumah tangga. Sartika Nasmar adalah saya. Si Ballang yang juga anak tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toddopuli VII, 02.00 Wita.&lt;/span&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-2KN0vBp65Mo/TvQkJdEqenI/AAAAAAAAAH0/6iWpCiQ1zuw/s1600/Kolam%2Bwudhu%2BJama%2BMasjid.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-2KN0vBp65Mo/TvQkJdEqenI/AAAAAAAAAH0/6iWpCiQ1zuw/s320/Kolam%2Bwudhu%2BJama%2BMasjid.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-4318405414947332495?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/4318405414947332495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=4318405414947332495' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4318405414947332495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4318405414947332495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2010/10/si-ballang-yang-juga-anak-tengah.html' title='Si Ballang Juga Anak Tengah'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-2KN0vBp65Mo/TvQkJdEqenI/AAAAAAAAAH0/6iWpCiQ1zuw/s72-c/Kolam%2Bwudhu%2BJama%2BMasjid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7464530015421796380</id><published>2010-08-26T09:04:00.000-07:00</published><updated>2011-03-28T18:57:32.429-07:00</updated><title type='text'>Seks dan Gender</title><content type='html'>Oleh : Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana anda tahu bahwa anda laki-laki dan anda perempuan. Atau masih ada lagikah selain laki-laki dan perempuan?” kata Dina Listiorini pagi itu, ketika membuka sesi Seks dan Gender di Kedai Hijo WALHI, di Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi hari kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina Listiorini adalah pemateri Seks dan Gender di SSKR pagi itu. Dina bekerja sebagai pengajar di Universitas Atmajaya Yogyakarta untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Selain mengajar, Dina juga banyak mengikuti pelatihan-pelatihan mengenai Seksualitas dan Gender di skala lokal, nasional hingga internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sesi yang dibawakan oleh Dina kali ini, dia membagi 15 peserta ke dalam empat kelompok diskusi. Kelompok pertama ada Indri Susanti, Juju Julianti, Yusak E. Kathi dan Endang Fatmawati. Kelompok dua ada Angga Yudhi, Astutik, Naviratul Karima dan Nurul Hunafah. Kelompok 3 ada Agung Prabowo, Darmayanti, Yemmestri Enita dan Ahmad Suhendra. Kelompok empat ada Syaiful Huda, Fira Khasanah dan Hellatsani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui LCD, Dina memperlihatkan fotonya bersama suaminya saat di pelaminan. Ada tulisan di sana, sama seperti yang dipertanyakan oleh Dina saat membuka sesi ini. &lt;br /&gt;Setiap kelompok akan mendiskusikan pendapat mereka dalam mengidentifikasi seks dan gender sesuai dengan apa yang mereka pikirkan tentang laki-laki dan perempuan. Masing-masing akan mempresentasikan hasil diskusi mereka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit kemudian. Hellatsani memulai dari kelompok empat. Menurutnya, cara membedakan bahwa anda laki-laki dan anda perempuan adalah dengan melihat secara biologis yakni alat kelamin. Jika laki-laki memiliki penis dan perempuan memiliki vagina. Selain itu, dapat juga melihat dari psikis individu serta melalui pengakuan masyarakat dengan faktor-faktor lainnya dari konstruksi sosial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sama dengan Hellatsani, Astutik dari kelompok dua mengungkapkan bahwa ketika melihat konstruksi sosial dimana dalam gambar posisi laki-laki memeluk perempuan seolah ada wacana bahwa seorang laki-laki bisa mengayomi seorang perempuan. Selain itu, faktor biologis juga bisa menjadi pembeda dengan melihat anatomi tubuh. Ada pula, atribut-atribut sosial yang digunakan. Tuti mencontohkan, gambar laki-laki yang menggunakan blankon (topi khas Jawa). “Mungkin jika dulu ada laki-laki yang mengenakan konde, sekarang pun bisa jadi masih digunakan. Tapi kan perempuan yang menggunakannya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kelompok tiga yang diwakili oleh Ahmad mengatakan bahwa mereka mengklasifikasikan menjadi dua kategori yakni biologis dan sosial. Secara biologis dengan melihat anatomi tubuh seseorang dan melihat adanya konstruk-konstruk yang dibangun dalam ranah sosial hingga mengakibatkan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Salah satu dampaknya adalah adanya pembagian peran dan tanggung jawab di segala bidang mulai dari politik, ekonomi dan dalam kehidupan &lt;br /&gt;bermasyarakat hingga yang terkecil yakni dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusak, dari kelompok satu lebih singkat mengatakan saat mewakili teman-temannya bahwa anatomi tubuh laki-laki adalah penis dan perempuan adalah vagina. Dari anatomi tersebut seseorang bisa melihat apa yang dia miliki dan mengakui dirinya.&lt;br /&gt;Dina menjelaskan perbedaan antara seks dan gender. Menurutnya, seks mengacu pada perbedaan biologis, anatomis dan biokimia yang kemudian mendefinisikan bahwa setiap orang lahir sebagai laki-laki dan perempuan secara anatomis dan kodrati sejak dia dilahirkan. Misalnya anak lahir dan memiliki vagina dan hormon estrogen maka dikatakan sebagai perempuan atau anak lahir dan memiliki penis serta hormon testosteron maka dikatakan laki-laki. Semua perbedaan akan ditentukan secara medis, fisik dan kodrati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada pula anak yang lahir dengan dua jenis kelamin yakni penis dan vagina secara bersamaan. Interseks atau berkelamin ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gender mengacu pada pembagian peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan serta dibangun dan dipahami secara sosial. Konsep gender bisa berubah dari waktu ke waktu, bervariasi di setiap tempat tergantung pada budayanya. “Jadi, belum tentu konsep gender di satu daerah dan daerah yang lain itu sama. Sekarang, 10 atau 20 tahun mendatang konsep gender juga bisa mengalami perubahan.”tegas Dina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina memperlihatkan gambar berikutnya. Ada dua gambar. Gambar pertama, Dina berdiri dan di sampingnya seorang waria yang sedang duduk. Lalu gambar kedua, Dina duduk bersama tiga orang waria. Ada pertanyaan di atas gambar tersebut. Apa seks dan gender kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peserta mengatakan perempuan. Dina membenarkan.  Lalu bertanya, Kenapa?&lt;br /&gt;Yusak menjawab, karena prilaku mereka seperti perempuan. Dina tampak belum puas dengan jawaban Yusak. “Tandanya apa?” tanya Dina lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu peserta kemudian mengidentifikasi. Mulai dari dandan, berprilaku lembut dan pakaian mereka. Ketika mereka mengakui bahwa identitas gender mereka adalah perempuan, maka ada beberapa fungsi yang tidak bisa mereka lakukan. Misalnya, melahirkan karena anatomi tubuh mereka adalah laki-laki dan tidak memiliki rahim.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih kegambar berikutnya. Ada lima gambar. Gambar pertama, seorang perempuan berkerudung sedang melakukan presentasi. Gambar kedua, seorang laki-laki menggendong anak. Gambar ketiga, seorang perempuan sedang bekerja. Gambar keempat, seorang laki-laki yang sedang memasak. Dan gambar kelima, laki-laki sedang memijat pasangan perempuannya yang sedang bekerja. Lalu ada pertanyaan, adakah yang kurang tepat pada gambar-gambar ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina meminta peserta mendiskusikan pertanyaan tersebut bersama kelompok dan dipresentasikan. Hanya lima menit. Peserta tampak serius berdiskusi. Saya memotret mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba saatnya presentasi dimulai. Kelompok satu dapat giliran pertama. Menurut mereka, gambar-gambar tersebut belum tepat mengingat sejak dulu patriarki masih selalu ada. Gambar perempuan berada di kantor masih dianggap bukan hal yang wajar. Tapi, dengan adanya pergeseran dan masuknya budaya matriarki, hal ini menjadi sesuatu yang wajar. Jika tidak, ini akan menyentuh isu diskriminasi gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung mewakili kelompok tiga. Menurutnya, wajar atau tidak tergantung pada penempatan diri seseorang dalam konteks bermasyarakat. Hal tersebut menjadi kurang wajar karena kurangnya pengetahuan seseorang mengenai seks dan gender. Misalnya, gambar laki-laki menggendong anak menjadi kurang tepat karena ini tidak biasa terjadi dan pekerjaan itu lebih banyak dibebankan kepada perempuan. Sama halnya dengan memasak. Sama halnya gambar perempuan yang berada di kantor menjadi tidak tepat karena kebanyakan perempuan berada di dalam rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kelompok dua. Angga mengatakan bahwa menurut hasil diskusi bersama teman kelompoknya, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada masalah dari gambar-gambar tersebut. Hanya, dari sudut pandang mana kita akan melihatnya. Jika dari anggapan tradisional, bisa saja itu tidak tepat. Bagaimana posisi, peran dan tanggung jawab seorang perempuan ada di wilayah domestik. Dan laki-laki, ada di luar. Tapi, untuk masyarakat yang lebih terbuka atau modern, gambar-gambar ini bukan suatu masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih ke kelompok empat. Diwakili oleh Syaiful Huda. Mereka sepakat bahwa gambar-gambar tersebut syah-syah saja dengan alasan menunjukkan kesetaraan. Tapi, sepertinya belum berlaku dimasyarakat karena masih ada diskriminasi dimana peran-peran gender masih terlihat. Itonk –begitu kami menyapanya- mencontohkan sebuah kalimat yang selalu dia dengar bahwa, setinggi-tingginya perempuan sekolah atau dia bekerja, tetap saja ujung-ujungnya kembali ke pekerjaan domestik atau dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina memberikan pertanyaan baru, sejauh mana perempuan bisa melakukan pekerjaan di luar rumah ketika mereka sudah menikah? Bagaimana ukurannya? Ataukah ada saat-saat tertentu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fira mengatakan, seorang istri yang bekerja di luar rumah selalu diikuti dengan syarat-syarat tertentu meski telah mendapat izin dari suaminya. Misalnya, apapun pekerjaannya, seorang istri harus menyelesaikan pekerjaan domestik terlebih dulu atau saat pulang bekerja. Memasak, mencuci atau menjaga anak-anak. “Saya belum pernah melihat ada pekerja rumah tangga laki-laki,” kata Fira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Fira. Yemmestri Enita menjawab pertanyaan Dina bahwa perempuan bisa bekerja sejauh mungkin. Tanpa ada syarat karena setiap perempuan punya kuasa atas dirinya baik dalam konteks pernikahan atau bukan. “Saya belum menikah. Saya menganggap bahwa pernikahan itu ibarat gitar. Dawainya akan berdiri sendiri-sendiri maka bisa bunyi. Jika dempet-dempet, gak akan bunyi,” katanya. Nita tetap tidak setuju ada syarat yang berkembang dimasyarakat seperti apa yang dikatakan Fira. “Tidak bisa,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astutik sepakat bahwa perempuan bisa bekerja sejauh mungkin. Tapi, dia mengatakan bahwa syarat akan tetap ada. Astutik memahaminya sebagai sebuah dukungan dalam rumah maupun dalam hubungan sosial. Artinya, ada akses yang seharusnya dibuka seluas akses yang dibuka kepada laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juju Julianti, juga bicara. Menurutnya, perempuan bisa melakukan pekerjaan di luar rumah seperti sebuah peribahasa yang mengatakan sejauh mata memandang. Juju mengatakan bahwa sebelum menikah harus ada kesepakatan bersama sesuai prinsip masing-masing untuk menyatukan perbedaan dalam hidup berpasangan. Juju menegaskan semua kembali kepada kesadaran masing-masing orang. Misalnya, jika laki-laki sibuk, perempuan membantu. Begitupula sebaliknya. Maka, diskriminasi dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi mulai masuk dalam babak yang serius. “Bagaimana pendapat peserta laki-laki?” tanya Dina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusak menanggapi pertanyaan Dina. Menurutnya, setekah menikah nanti dia akan mengizinkan istrinya bekerja selama tidak hamil. Kembali ke kodrat, katanya. Yusak tak ingin istrinya melakukan pekerjaan yang berat saat hamil. Yang kedua, pada saat baru saja melahirkan mengingat kondisi anak yang masih sensitif dan memerlukan seorang ibu jika usia bayi masih beberapa bulan. Tapi, tetap akan ada kerjasama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina merevisi pertanyaannya bahwa pekerjaan yang dimaksud tidak harus dalam konteks di luar rumah, tapi ada pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus keluar rumah.&lt;br /&gt;Angga merespon. “Sebenarnya sih, biasa saja. Tergantung bagaimana kesepakatan yang dibuat antar pasangan,” Menurutnya, pekerjaan domestik apapun bentuknya dapat dikompromikan antar pasangan. Walau kadang-kadang memang sulit menihilkan pekerjaan domestik dalam keluarga. Mengenai pekerjaan di luar rumah atau pekerjaan yang &lt;br /&gt;dikerjakan di rumah, itu syah-syah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina membuka gambar berikutnya. Dua gambar bayi beserta atribut-atributnya. Bayi perempuan pertama menggunakan topi merah muda dan di bawahnya ada gambar boneka Teddy Bear dengan hiasan pita. Lalu ada gambar bayi laki-laki menggunakan baju biru dan gambar Teddy Bear memakai topi dan memegang bola. Lalu ada pertanyaan, adakah yang aneh dengan gambar ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban peserta berbeda. Ada yang menganggap aneh dan biasa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yemmestri Enita, warna membuat gambar-gambar itu tampak aneh begitu pula atribut-atributnya. Boneka perempuan dengan pita dan boneka laki-laki dengan bola.&lt;br /&gt;“Ada apa dengan warnanya?” Dina bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusak menjawab, warna merah muda sering diidentikkan lebih feminim. Dina kemudian bertanya mengapa warna-warna itu menjadi aneh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjadi aneh karena warna tersebut telah dikonstruksi. Misalnya pink untuk perempuan dan biru untuk laki-laki. Padahal, siapa saja bisa menggunakan warna tersebut,” kata Yusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hellatsani berpendapat bahwa gambar-gambar tersebut bukanlah hal yang aneh karena berhubungan dengan kostruksi sosial dimana penyelesaian akan ada di lingkungan sosial pula. Tidak masalah, siapa pun menggunakan pakaian atau atribut dengan warna apa saja. Hanya, perempuan yang akrab disapa Madha ini merasa jengkel jika beberapa kawan perempuannya mengejek kawan laki-lakinya saat menggunakan baju warna merah muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, kamu kok pakai baju warna cewek sih?” kata Madha menirukan ucapan teman-temannya. Peserta tertawa melihat aksi Madha yang menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar selanjutnya dari Dina. Ada tujuh gambar anak-anak yang sedang bermain. Ada gambar anak perempuan bermain congklak, bola bekel dan boneka. Sedangkan gambar lainnya anak laki-laki bermain layang-layang, sepak bola dan mobil-mobilan. Dan ada pertanyaan, siapa bermain apa dan dimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fira masih berkutat dengan wacana konstruksi sosial yang terbentuk di lingkungan keluarga. Fira percaya bahwa secara kodrat, mainan apapun tidak memiliki jenis kelamin. Namun, ketika anak masih kecil mereka diberikan permainan sesuai jenis kelamin mereka. Misalnya bola untuk laki-laki dan boneka untuk perempuan hingga pola pikir anak terbentuk sejak itu. Jika laki-laki bermain boneka atau perempuan bermain bola akan terlihat aneh dan muncul ejekan, cemooh atau tertawaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Una juga mengungkapkan pendapat yang hampir sama dengan Fira. Permainan-permainan tersebut yang diposisikan berdasarkan jenis kelamin seperti telah menjadi budaya. Menurut Una, apapun permainannya seharusnya sesuai dengan keinginan hati dan bisa membuat anak-anak senang. Tapi, sekarang bola sudah menjadi permainan siapa saja, mau dia perempuan atau laki-laki. Dia menilai hal tersebut terjadi dipengaruhi dengan adanya pergeseran budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya para orang tua akan memilih permainan dengan menyesuaikan jenis kelamin anak-anaknya. Endang Fatmawati menganggap bahwa lingkungan juga berperan penting membangun budaya tersebut. Dia mencontohkan, ketika dia masih kecil, dia akan meniru permainan yang dominan dilakukan oleh laki-laki karena dia lebih banyak bergaul dengan laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmayanti juga menilai bahwa mainan, pemain hingga wilayah permainan tersebut adalah bentuk yang jelas dari budaya patriarki. Lihat saja, katanya, perempuan akan lebih banyak bermain di wilayah domestik atau dalam rumah sedangkan laki-laki di luar rumah atau biasanya di lapangan dengan posisi yang dideskripsikan sebagai sosok yang kuat dan melindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Suhendra menambahkan dengan kesimpulannya bahwa gambar-gambar tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai sudut pandang dan wilayah bermain. Selain adanya tuntutan dari keluarga, juga munculnya kesadaran pribadi yang dipengaruhi oleh kultur sosial secara langsung. Hal tersebut, menurutnya membentuk sebuah perbedaan yang saling bertentangan atau dikotomi hingga kepada perbedaan gender itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dina membenarkan bahwa jenis kelamin selalu dikaitkan dengan banyak hal, mulai dari warna, permainan hingga kepada wilayah permainan seperti gambar-gambar yang dia tunjukkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keluarga, pendidikan di sekolah juga berpengaruh dalam membentuk pola pikir anak sebagai pelestarian kostruksi sosial tersebut. Dina menceritakan pengalaman seorang ibu yang mengeluh atas pelajaran yang ditemukan anaknya di sekolah dasar yang muatan lokalnya adalah Bahasa Jawa. Anak tersebut mendapatkan pekerjaan rumah dari gurunya tentang dolanan kanggo cah wadon (mainan untuk anak perempuan) dan dolanan kanggo cah lanang (mainan untuk anak laki-laki). Kemudian ada pertanyaan seperti ini : Bola bekel kui dohlanan kanggo cah lanang? Ada pilihan yang ditentukan yakni benar atau salah. Artinya, bahkan permainan pun akan diajarkan dengan menyesuaikan jenis kelamin dan itu terjadi di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, media melakukan hal yang sama melalui tayangan-tanyangannya. Lepas dari wacana permainan namun masih dalam konteks gender. Dina mengatakan bahwa di sinetron-sinetron atau iklan patriarki hadir. Dia mencontohkan salah satu iklan sebuah produk susu untuk anak. Yang memerankan sebagai orang tua adalah perempuan atau ibu sementara dalam iklan tersebut mengarah pada sikap dan peran orang tua sebagai orang yang akan memenuhi kebutuhan anak. Dina berpikir, kenapa orang tua yang merawat si anak dan ditonjolkan dalam tayangan tersebut hanya sosok ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ini iklan untuk seorang ibu yang berperan sebagai single mother?” pikirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, bahasanya menunjukkan orang tua, lalu kemana laki-lakinya?” kata Dina. &lt;br /&gt;Seingatnya, tayangan iklan tersebut pernah diceritakannya saat mengajar di sebuah kelas. Dia bertanya kepada mahasiswa-mahasiswi di kelas tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemana laki-laki dalam tayangan tersebut? Kenapa hanya perempuan yang berperan sebagai orang tua untuk anak?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-lakinya sedang shoting minuman kesehatan di lokasi lain bu’,” kata seorang mahasiswi sambil tertawa. Sebuah lelucon yang menghibur sebagai kritik untuk media. &lt;br /&gt;Selain itu, menurut Dina, agama serta hukum juga selalu mengajarkan kita bagaimana seharusnya menjadi laki-laki dan perempuan. Ada aturan-aturan khusus dimana seorang perempuan dan laki-laki sebaiknya dalam sikap-sikap, peran dan tanggung jawab tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan seks dan gender sebaiknya diberikan sebagai pengetahuan awal kepada anak sesuai dengan tahap-tahapnya. Langkah yang paling awal adalah dengan memberikan pengetahuan mengenai anatomi tubuh dengan kata yang benar khususnya untuk anatomi tertentu yakni penis yang kemudian pada umumnya diganti menjadi “burung”. Hingga akhirnya, setelah anak berkembang dengan bertahap, nama-nama organ-organ seksual dan reproduksi jarang disebutkan dengan benar melainkan diganti dengan simbol-simbol tertentu yang sudah jelas salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh perjuangan untuk merombak kembali semua hasil-hasil konstruksi yang mengajarkan banyak mitos-mitos yang berkaitan dengan seksualitas khususnya seks dan gender. Dalam hubungannya dengan relasi antara laki-laki dan perempuan pun bahkan masih ada ketidaksetaraan. Banyak hal yang bisa dilakukan hingga akhirnya posisi tawar perempuan pun sama dengan laki-laki dalam hal apapun. Salah satunya bahwa semua perempuan memiliki keberaniannya meyakini bahwa siapa pun dia, akan memiliki hak yang sama tanpa ada kata ‘tapi’. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7464530015421796380?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7464530015421796380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=7464530015421796380' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7464530015421796380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7464530015421796380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2010/08/seks-dan-gender.html' title='Seks dan Gender'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-1705182971189461304</id><published>2010-06-24T21:38:00.000-07:00</published><updated>2011-03-28T18:57:45.876-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Samsara'/><title type='text'>Jujur Dengan Tubuhmu</title><content type='html'>Oleh : Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masih menikmati hari ke delapan Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi (SSKR). Di sesi kedua pada 23 Mei 2010 itu, kami membahas materi Body Image atau Pencitraan Tubuh. Inna Hudaya adalah pemateri dan didampingi Sartika Nasmar sebagai fasilitator para peserta di hari Minggu yang ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10.00 Wib, usai menyeruput kopi dan mencicipi aneka kue tradisional, sesi dimulai. Pada sesi Body Image, Inna lebih banyak memberikan permainan kepada para peserta. Sebelum dia memulai permainan, Inna mengingatkan peserta agar betul-betul “telanjang” untuk mempermudah mereka dalam mengeksplorasi tubuh mereka. Menurut Inna, sesi ini adalah salah satu materi yang penting untuk lebih mengenal tubuh masing-masing. Jika “ketelanjangan” tersebut sulit dilakukan, maka sesi ini bisa saja gagal. Wacana tubuh dalam Body Image tidak hanya membongkar tubuh sebagai sebuah organ fisik, tapi pengaruhnya terhadap psikis dan sosial budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kalian tidak benar-benar telanjang dan jujur pada diri sendiri, percuma kalian mengikuti sesi ini karena tidak akan mendapat apa-apa. Mudah-mudahan kita semua sudah saling  merasa nyaman hingga memudahkan kita untuk jujur mengungkapkan perasaan mengenai tubuh kita,” jelas Inna.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna juga dengan lembut memperingatkan para peserta agar tetap saling manghargai jika salah satu peserta merasa tidak nyaman dengan salah satu bagian tubuhnya dengan alasan-alasan tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna membagi 14 peserta menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama ada Astutik Salam, Hellatsani, Ahmad Suhendra, Nafiratul Karima dan Angga Yudhi. Di kelompok kedua ada Yusak E. Kathi, Endang Fatmawati, Indria Susanti, Darmayanti dan Agung Prabowo. Sedangkan di kelompok tiga terdiri dari Juju Julianti, Nurul Hunafa, Syaiful Huda dan Yemmestri Enita. Satu peserta yakni Fira Khasanah tidak bisa hadir hari ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, meja yang biasanya berada di tengah dipindahkan ke belakang. Peserta dan panitia bergotong royong mengangkat meja satu per satu. Perempuan dan laki-laki mendapat peran yang sama. Setiap kelompok mengambil posisi senyaman mungkin. Ada yang berdiri di tepi sambil tetap mengatur jarak per kelompok. Atau ada pula yang duduk berdempet di atas tumpukan meja di bagian belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna memulai permainan. Kapit membagikan selembar kertas berwarna kuning ukuran 10 x 10 centimeter kepada masing-masing peserta. Inna kemudian meminta agar setiap orang menuliskan satu organ tubuh apa saja ke kertas tersebut. Setelah selesai, Kapit dan Wita mengumpul kertas tersebut berdasarkan kelompok. Lalu diacak dan ditukarkan ke kelompok lainnya. Masing-masing menerima kertas yang bukan miliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta akan mempresentasikan organ tubuh yang tertulis di kertas berwarna yang ada di tangan mereka. Inna meminta agar peserta menceritakan pengalaman dan perasaan mereka memiliki organ tubuh yang tertulis tersebut. Ada yang senang, ada yang malu dan ada yang merasa apes. Suasana kelas menjadi ribut dengan candaan-candaan peserta. Inna memberikan kesempatan kepada peserta yang ingin menjadi relawan untuk melakukan presentasi di urutan pertama. &lt;br /&gt;Ada Angga ternyata. Merasa beruntung, Angga mendapatkan kertas bertuliskan perut. Di depan kamera, ia mulai bercerita.“Saya dapat perut. Sebagai lelaki, kadang saya sering berimajinasi punya bentuk perut sixpack, dengan otot-otot yang bidang. Karena mungkin sebagai konsekuensi karena kita hidup di dunia citra, jadi seolah-olah tubuh sixpack adalah tubuh ideal. Walaupun saya sendiri sebenarnya ingin twopack saja. Tapi menurut saya, mau apapun bentuk perut saya, yang penting sehat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurul Hunafa, peserta berikutnya maju di depan. Dengan senyum, Una bercerita mengenai organ yang sama dengan Angga. “Aku juga dapat perut, sebenarnya aku gak pede sama perutku karena kalau duduk kelihatan gemuk. Bahkan kata saudaraku kalau aku tidur, aku selalu pegang perut. Aku gak tahu kenapa, tapi kadang aku nyaman dengan perutku. Karena, kalau ada organ lain yang sakit, yang pertama selalu kupegang adalah perutku,”katanya sambil tertawa. Semua peserta juga ikut tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Una, ada Ithonk yang bercerita tentang hidung. “Sebenarnya aku sih gak pernah merasa ada yang berbeda dengan hidungku. Aku gak pernah perhatiin hidungku, tapi kadang bete juga saat bulu – bulu hidung kelihatan dan waktu pilek. Tapi sebenarnya aku nyaman-nyaman aja sama hidungku. Biasa aja, bukan bagian tubuh yang spesial.” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Yemmestri Enita, bercerita dengan singkat. “Saya dapat bibir. Sebenarnya sejak kecil, saya suka bibir saya,” kata Nita. Serentak peserta berteriak, “Cieeeeee...,” Inna meminta peserta lain untuk bertepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra menjadi peserta berikutnya. Bercerita tentang hidung juga. “Saya dapat hidung. Saya tidak terlalu mengistimewakan hidung saya, tapi kadang saya suka perhatikan hidung saya, tidak pesek tapi tidak mancung juga. Yah, sedang-sedang saja. Tapi, di bagian kiri dan kanan ada bintik – bintik, tapi saya bangga punya hidung kaya’ ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini giliran Hellatsani atau biasa dipanggil Madha. “Kebetulan aku dapat betis. Betisku gede, jujur saja aku senang liat betis cewek-cewek yang ramping, kecil gitu loh. Kaya’ artis-artis, banyak yang seperti itu. Tapi setelah saya lihat-lihat, ternyata betisku bagus. Gemuk-gemuk gitu, lucu kayak pantat bayi.” kata Madha bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Madha, ada Navi . Dengan sikap malu-malu, Navi awalnya enggan bercerita di depan kamera. Semua peserta ikut tertawa melihat sikap Navi. Tapi, setelah mendapat dukungan dari peserta lain, dia akhirnya bercerita tentang bibir. “Saya sebenarnya gak tertalu pede dengan bibir saya karena kata orang bibir saya gak terlalu tebal dan gak terlalu kecil.” katanya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Agung, bercerita tentang tengkuknya. Agung juga sedikit bingung, siapa kira-kira peserta yang memilih tengkuk untuk dituliskan dalam kertas berwarna. Agung menebak, mungkin karena peserta tersebut tahu kalau tengkuknya berwarna gelap. Agung senyum dan melanjutkan ceritanya. Dengan yakin, Agung juga mengatakan bahwa meski berwarna gelap, tidak ada masalah dengan tengkuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang ingin maju lagi?” tanya Inna.  Masih ada peserta yang belum melakukan presentasi sederhana. Madha berteriak menyebut nama Maya alias Darmayanti, salah satu peserta dari LBH Yogyakarta. Maya maju ke depan dan melakukan hal yang sama seperti peserta lain, yakni bercerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dapat mata. Saya sebenarnyasuka dengan mata saya, karena kata orang bulu di bawah mata saya itu rapi. Cuma yang bikin saya tidak cukup pede kalau mata kelihatan gak bersih. Dan, kadang saya ingin pakai kacamata, cuma karena saya gak punya hidung,” Maya berhenti sejenak. Peserta tertawa mendengar kalimat terakhir Maya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa gak punya hidung?” seru Yusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya bukan gak punya hidung, ada tapi seperti Sule’ gitu. Jadi, kata mama hidungku seperti abis diinjak bebek gitu,” tegah Maya. Peserta serentak tertawa. “Tapi, saya suka mata saya. Banyak memancarkan interpretasi. Walau kata banyak orang, kelihatan judes tapi gak apa-apa.” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum juga Maya kembali ke tempat awalnya, Inna langsung memanggil Yusak maju ke depan dan bercerita. Yusak nampak kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusak bercerita tentang alisnya. Yusak sangat senang memotong untuk merapikan alisnya. Ada teriakan kecil dari peserta lain. Di alis sebelah kanan Yusak, seperti berpisah dan muncul belahan kecil tanpa rambut. Yusak menegah bahwa belahan tersebut terjadi bukan karena dia yang memotongnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhenti membicarakan alis Yusak, kini giliran Endang disambut seruan-seruan lucu dari peserta lain karena akan bercerita tentang puting. “ Saya dapat puting. Kemarin sudah lihat – lihatan di rumah, saya lihat puting saya,” katanya. Melihat putingnya kecil, Endang pikir itu bukan masalah dan normal. Apalagi setelah dia mendapat referensi usai melakukan Breast Exam saat SSKR hari ke enam. Tapi, saat Endang masih di Sekolah Menengah Atas (SMA), dia sempat heran. “Saya pernah mandi sama mama saya, tapi kok putingnya lebih besar. Tapi kata mama saya, ini gak papa, kan udah dipake’ menyusui kamu.” Endang tersenyum cengingisan lalu melangkah ke tempat duduk sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dilanjutkan dengan presentasi Juju. “Siapa sih yang nulis ini. Pas banget yah, soalnya bokongku gak ada. Eh, maaf bukannya gak ada tapi kecil. Jadi gak bisa ngebor,” kata Juju yang diikuti tawa terbahak-bahak dari peserta lain. “Tenang dulu, biar bokong kecil yang penting punya pantat. Kan bisa boker daripada gak ada, tar gak bisa boker.” Juju akhirnya mendapatkan tepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Indri, si pendiam yang manis. “Aku dapat badan, kalau aku kata orang – orang gendut, tapi aku sendiri merasa nyaman,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna mengajak Indri memilih satu organ tubuh yang lebih spesifik. Indri memilih mata. “Kata orang mata saya berkantong, jadi kalo kurang tidur, mata saya kaya’ Panda tapi saya tidak terlalu peduli apa kata orang.” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, yang terakhir Astutik. “Aku dapat mata. Alhamdulillah mataku normal ada dua. Aku bersyukur dengan mataku jadi aku gunakan untuk melihat hal – hal yang baik dan positif.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Suhendra memberikan komentarnya dan memberi candaan ke Tuti menyinggung produk-produk untuk mata merek Oriflame yang biasa dijual Tuti dalam bentuk katalog produk. Tuti hanya tersenyum dan terus melanjutkan ceritanya mencoba meyakinkan bahwa saat dia kecil, matanya agak bulat tapi karena faktor usia jadi sedikit sipit. “Aku lihat foto kecilku suka melolo gitu.” katanya sambil tersipu-sipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas kuning dikumpulkan oleh Wita dan Kapit membagikan kertas Ungu. Inna meminta agar peserta menuliskan organ-organ tubuh mereka yang membuat mereka merasa tidak nyaman. “Sebanyak-banyaknya. Dan ingat telanjang!” kata Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta tampak berpikir keras. Masing-masing dengan posisi yang berbeda. Mungkin juga dengan kebingungan yang berbeda. Dengan cara mengeksplor tubuh yang berbeda pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas dikumpulkan dan saya membagikan kembali kertas berwarna orange. Inna kembali mempersilahkan peserta menuliskan tipe tubuh yang ideal menurut mereka. Peserta perempuan menuliskan persepsi ideal tubuh perempuan dan laki-laki menulis ideal tubuh laki-laki. Inna meminta sedetail mungkin. Lagi-lagi, kertas dikumpulkan dan peserta mendapatkan kertas terakhir berwarna hijau untuk menuliskan tipe tubuh ideal mereka untuk gender yang berbeda. Laki-laki menulis tipe ideal tubuh perempuan dan sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam posisi berkelompok. Setiap kelompok mendapat dua majalah yakni satu majalah khusus laki-laki  dan satu majalah khusus perempuan. Masing-masing peserta kemudian diminta mencari gambar laki-laki maupun perempuan yang paling dekat untuk merepresentasikan tubuh mereka. Cukup lama mereka melakukan pencarian. Lembaran demi lembaran terus dibuka. Satu per satu peserta membuka majalah dengan bergantian. Sambil memuji diri sendiri, beberapa peserta nampak menunjuk beberapa gambar tubuh seorang model dan merepresentasikan tubuh mereka atau salah satu organ tubuh mereka yang dianggap memiliki kemiripan. Beberapa orang terlihat meminta pendapat peserta lain untuk menilai kemiripannya dengan gambar yang ada di majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktunya habis. Sudah pukul 11.30 WIB. Seharusnya para peserta makan siang, tapi kami sepakat untuk melanjutkan sesi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna mulai membahas mengenai hasil pencarian peserta. Kelompok dubibarkan. Inna memberikan pertanyaan. “ Susah gak mencari representasi tubuh kalian dalam majalah ini?” Angga ditunjuk oleh Inna dan meminta agar  gambar yang ditemukan Angga ditunjukkan ke peserta yang lain. Angga mencoba merepresentasikan tubuhnya dengan gambar tersebut. Dia merasa bahwa beberapa bagian tampak mirip yakni bulu ketiak, jenggot dan kumis. “Mungkin juga warna kulitnya yang agak gelap,” kata Angga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah teman-teman mudah menemukan representasi tubuh kalian di dalam majalah ini? Inna bertanya kepada peserta dan tiba-tiba saja peserta dengan serentak menjawab tidak. Padahal, majalah tersebut merupakan barometer kecantikan dan kegagahan untuk sebuah wacana ideal yang ditampilkan oleh media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusak memberikan komentarnya. Tapi, sebelumnya harus dilatih untuk mengatakan “merepresentasi”. Dia memamerkan sebuah gambar laki-laki bertubuh sixpack. Yusak bercerita pengalamannya pernah memiliki tubuh sixpack. Saat itu, dia berpikir bahwa itu ideal dan dia memperolehnya dengan latihan selama dua bulan. Tapi ternyata tak mudah mempertahankannya agar tetap sixpack. Hingga akhirnya, Yusak merasa bahwa tubuh ideal itu seharusnya bentuk apapun tapi membuat kita nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pengalaman Yusak, Inna memberikan pertanyaan khusus untuknya.  “Dengan postur tubuh yang dulu kamu muliki, ada hubungannya gak dengan kebahagiaan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusak terdengar menjawab dengan hati-hati.  “Ada. Pertama sesuai dengan yang pernah saya harapkan. Masa orang bisa saya gak bisa sih. Latihan, latihan. Apa lagi kalau renang jadi bisa  tepe – tepe,” Inna tidak puas. Karena jawaban Yusak lebih berhubungan dengan kepuasan yang dia dapat setelah memperoleh bentuk tubuh sixpack. Inna menjelaskan kembali pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud saya, ada gak hubungannya dengan kebahagiaan dengan memiliki tubuh yang ideal itu hingga bisa lebih diterima oleh orang lain?” Yusak merasa tidak ada hubungannya karena sebelumnya sudah merasa diterima oleh masyarakat. Tapi memang ada perasaan bahwa Yusak lebih keren daripada orang lain yang postur tubuhnya tidak sixpack. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna mengajak peserta perempuan. Mengobati penasarannya, Inna memberikan pertanyaaan yang lain. Adakah yang merasa gemuk? Banyak yang mengangkat tangan. “Bagaimana dengan teman-teman, ada yang mau share?” Inna meminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata masih peserta laki-laki. Agung bercerita. Enam tahun lalu, Agung tidak segemuk hari itu. Dulu berat badannya hanya 48 kilogram. Dia menggambarkan tubuhnya hampir sama dengan postur tubuh Itonk. Sekarang berat badannya 71 kilogram.  Agung memang tidak pernah merawat tubuhnya dengan olahraga hingga bertambah gemuk. Dia merasa tidak nyaman karena tak ada lagi baju yang muat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Inna juga hampir sama. Sembilan tahun yang lalu, saat pertama kali tiba di Jogja, Inna juga memiliki berat badan 48 kilogram. Tapi, tiba-tiba naik 10 kilo menjadi 58 kilogram dan sulit untuk turun lagi ke ukuran semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa tidak nyaman dengan tubuh adalah sikap yang wajar, karena pada saat bersamaan kita juga bisa mencintai tubuh kita. Justru Inna merasa ragu dengan pernyataan orang-orang yang sangat merasa nyaman dengan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait body image, Inna mengatakan bahwa setiap orang memiliki persepsi sendiri-sendiri tentang dirinya. Ada lima pertanyaan yang Inna tuliskan dalam presentasinya. Bagaimana rasanya melihat diri sendiri di depan cermin? Bagaimana melihat gambaran diri dalam fikiran? Apa yang kamu percayai mengenai penampilanmu? Apa yang kamu rasakan tentang tubuh, termasuk berat badan, tinggi dan warna kulit? Dan, apa gambaran tubuh ideal buatmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa nyaman atau tidak nyaman selalu akan muncul ketika kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Rasa ingin memiliki tubuh yang dinilai ideal di masyarakat kadang menjadi acuan dan melupakan bahwa kita punya tubuh yang sebenarnya mungkin saja sudah ideal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1500 yang lalu, persepsi tentang konsep tubuh ideal berbeda dengan sekarang, dimana tubuh yang dinilai ideal adalah tubuh yang agak gemuk. Inna memperlihatkan dua lukisan perempuan Eropa. Satu lukisan perempuan telanjang dengan lekuk-lekuk pada bagian perut yang kelihatan besar yang sedang duduk di atas tumpukan kain putih karya Claude Monet. Sedang lukisan yang lain seorang perempuan yang juga bertubuh gemuk memegang gambus. Dua perempuan yang digambarkan ini, dulunya dianggap sebagai simbol kecantikan. Kemudian, Inna memperlihatkan gambar yang lain, seorang perempuan Indonesia dengan postur tubuh yang dikatakan langsing dengan pose seperti menungging, tangan kirinya berada di bagian pantat dengan payudara yang hampir dikatakan sempurna. Sekarang, konsep tubuh ideal menjadi seperti gambar terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Inna, teori tentang mitos kecantikan berubah. Semakin kurus semakin bagus, dulu tidak. Body Image adalah bagaimana seseorang menilai tentang penampilan fisiknya. Tapi, ini kemudian berhubungan juga dengan bagaimana penilaian dan penerimaan orang lain tentang diri kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah buku Mitos Kecantikan karya Naomi Wolf, dia menggambarkan bagaimana banyak perempuan meraih pencitraan tubuhnya dengan menilai bahwa kecantikan hadir dari kesempurnaan fisik dengan mencari pencitraan ideal dengan berbagai macam cara. Pada bagian awal buku ini, Naomi menceritakan keberhasilan gerakan kaum feminis meraih hak-hak hukum dan reproduksi dengan diikuti keberhasilan agar perempuan memiliki kenyamanan atas tubuhnya. Khususnya, jujur dengan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menarik. Perempuan harus bebas dari belenggu atas mitos kecantikan yang telah dengan gamblang dipercaya oleh mereka dengan adanya konstruksi sosial, kebudayaan, religiusitas dan media dengan adanya iklan televisi dan majalah-majalah kecantikan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna memperlihatkan satu gambar perempuan lagi. Hanya menggunakan bra dan celana dalam yang sedang memperhatikan tubuhnya di depan cermin dengan ekspresi yang sedang tidak merasa nyaman. Banyak sekali perempuan yang sebetulnya memiliki tubuh yang sehat dan normal tapi merasakan bahwa ini tidak ideal. Atau Inna mencoba mengingatkan salah satu adegan dalam film Precious ketika dia bercermin dan membayangkan dirinya menjadi Drew Barrymore, perempuan kulit putih dan tidak obesitas. Inna menambahkan bahwa hal-hal seperti ini bisa sangat mempengaruhi self-esteem (harga diri) yang akan menimbulkan penghargaan kita terhadap diri sendiri berkurang dan menjadi rendah diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tidak nyaman dengan tubuh yang anda miliki, direpresentasikan Inna karena adanya beberapa pengaruh yakni represi (tekanan) yang bisa berasal dari keluarga, pasangan dan teman. Namun, yang sangat berpotensi untuk mempengaruhi mitos kecantikan perempuan dan laki-laki adalah representasi media seperti yang digambarkan juga oleh Naomi Wolf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan cenderung lebih banyak mengalami tekanan atas hadirnya mitos kecantikan  tersebut. Kenapa? Tubuh perempuan adalah objek yang diproyeksikan sebagai keindahan bahkan kadang dinilai dan dihakimi. Patriarki menjadikan perempuan sebagai seks kedua setelah laki-laki dan dianggap sebagai pemuas dan pemenuh kebutuhan laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dari wacana mengenai tubuh untuk memenuhi sebuah pencitraan ideal baik perempuan dan laki-laki selalu diikuti dengan stereotip. Fisik misalnya sebagai dasar perempuan digambarkan harus bersikap halus, lembut dan anggun sedangkan laki-laki harus tinggi, kuat dan kokoh. Untuk karakter, perempuan dikonstruksi untuk menjadi afektif atau peduli dengan perasaan orang lain sedangkan laki-laki harus lebih aktif dan setidaknya menjadi “pelaku”. Sedangkan pada peran, perempuan diidentikkan sebagai pekerja domestik dan laki-laki sebagai pekerja publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stereotip ada dimana-mana, tapi bukan berarti kita harus percaya pada itu,” kata Inna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, stereotip yang dilekatkan kepada laki-laki dan perempuan pun kadang dihubungkan dengan isu seksualitas. Misalnya, untuk perempuan yang cenderung berpenampilan tomboy biasanya dianggap berorientasi seksual lesbian. Sedangkan laki-laki metroseksual dimana mereka senang rapi, berdandan dan lebih merawat tubuhnya cenderung dianggap berorientasi seksual gay. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan lebih banyak mengalami kecemasan dengan tubuhnya dibandingkan dengan laki-laki. Perasaan negatif yang berhubungan dengan pencitraan tubuh dapat mengarah pada stres, gangguan makan dan depresi. Serta mengalami poor body image atau penghargaan diri yang minim dan menganggap bahwa tubuh mereka tidak ideal dan buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah ideal itu? Bagaimana dengan perempuan atau laki-laki miskin, difabel, gemuk, tua, atau yang bertubuh atletis? Dimana posisi ideal anda? Saya gemuk dan pendek. Gigi saya bersusun. Pipi tembem dan memiliki bekas luka tersiram air panas di seluruh kaki kanan saya. Tapi, saya merasa tubuh saya sudah ideal. Tak ada yang mesti dikhawatirkan. Yang penting sehat, bukan?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-1705182971189461304?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/1705182971189461304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=1705182971189461304' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1705182971189461304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1705182971189461304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2010/06/jujur-dengan-tubuhmu.html' title='Jujur Dengan Tubuhmu'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-3882162400936854315</id><published>2010-04-26T10:35:00.000-07:00</published><updated>2011-03-28T18:57:56.189-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memories'/><title type='text'>Antara Bapak, Samsara dan Saya</title><content type='html'>Oleh : Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USIAKU saat itu 23 tahun. Bapak masih rutin memberiku uang saku. Padahal, saya sudah bekerja. Di sebuah lembaga bernama Samsara. Bapak tidak pernah protes, hanya dia yang memberikan motivasi. Bapak senang saya bekerja sambil belajar. Saat itu, bapak akan tertawa ketika saya bilang, “Saya punya pekerjaan pak, bukan pengangguran. Hanya belum digaji,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak yang membuatku bertahan di Samsara. Waktu itu tahun 2008. Saya selalu berusaha meyakinkan bapak bahwa Samsara akan menjadi sebuah lembaga yang akan membawaku pada cita-citaku dan bapak. Melanjutkan sekolah dan mendapatkan uang untuk hidup yang sederhana seperti yang telah bapak tanamkan sejak kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak meninggal di usia 56 tahun, tepatnya pada 30 Agustus 2009. Tak bisa kujelaskan seperti apa bentuk luka di hatiku. Tapi, sangat sakit. Luka bertambah perih saat melihat ibu menangis, kakak dan adikku yang tak sadarkan diri. Hingga saya harus lupa mengatakan bahwa saya juga terluka dan lemah. Mereka membuatku harus kuat. Memberikan pundak ke ibu untuk sejenak menyandarkan kepalanya, memberikan pelukan dan ciuman serta doa. Kita semua harus bertahan tanpa bapak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih di Samsara saat bapak meninggal. Tapi masih belum memiliki gaji. Hingga saat ini, penyesalan masih terus ada. Tak memberikan bapak sesuatu yang berharga sebelum dia benar-benar pergi. Saya hanya menawarkan mimpi yang isinya cita-cita kami berdua.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak sakit selama lebih dari tiga bulan. Kami terus menjaganya di rumah sakit. 29 Agustus 2009, dokter menyarankan agar bapak dirawat di ICU. Tekanan darahnya turun drastis. Jantungnya melemah. Tak tega melihat bapak, saya membisikkan kata-kata ke telinganya. Menyuruhnya tenang dan berjanji akan menjaga ibu dan saudara-saudaraku. Entah kenapa, saya seperti merasa ini yang diinginkan bapak sebelum pergi. &lt;br /&gt;Memastikan bahwa kami akan baik-baik saja tanpanya. Setelah itu bapak tertidur. Tak pernah kutinggalkan bapak saat ia terlelap. Tangannya terus kugenggam. Malam itu saya yakin semua akan tenang. Bapak akan sembuh lagi.  Pukul 04.00 Wita, ibu menyuruhku tidur. Satu jam kemudian, bapak meninggal dan saya tak sempat mengucapkan maaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUA tahun yang lalu, pada Januari 2008 dengan sepeda ontel sewaan, saya dan Inna mengunjungi beberapa lembaga kursus bahasa inggris dan asrama-asrama di Kecamatan Pare. Saya dan Inna Hudaya tak memiliki banyak uang untuk melakukan sosialisasi lembaga kami. Hanya berbekal proposal lalu menawarkan diskusi kecil di tempat-tempat tersebut. Ada hujan, petir, panas dan dingin. Tapi selalu ada tawa dan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyebut program tersebut project idealis. Salah satu project kere dengan misi edukasi dan sosialisasi. Diskusi yang kami tawarkan untuk mengkampanyekan Post Abortion Syndrome (PAS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan Kapit, salah satu anggota di Samsara yang bertanggung jawab untuk wilayah Pare, Kediri, Jawa Timur kami melalui project dengan sukses. &lt;br /&gt;Awalnya, ide edsos di Pare  hadir dengan kondisi yang menyedihkan. Untuk sosialisasi ke daerah-daerah, butuh dana yang banyak. Kami tak memilikinya saat itu. Hanya keinginan untuk melakukan diskusi kecil dan membantu lebih banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pare, setiap bulan selalu didatangi oleh pelajar dan mahasiswa dari seluruh nusantara untuk belajar bahasa inggris. Ide gila kami muncul dengan menawarkan diskusi-diskusi di sana, bahkan tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Rasanya menyenangkan. Saya ingat sekali, ketika membawa proposal tawaran diskusi ke suatu camp di Pare. Di atas sepeda, saya berteriak ke Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, suatu hari kalau kita bertemu dan saya sukses lalu sombong atau lupa saat-saat kita kere, tolong tampar saya yah,” kataku sambil tertawa.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pernah menyerah. Menangis. Tak punya uang sepeser pun. Inna berniat untuk kembali ke rumah ibunya, di Tasikmalaya. Saya marah dan kecewa. Saya belum mau menyerah. Entah mengapa tiba-tiba saya menawarkan diri ikut ke Tasik, bukan untuk numpang hidup. Tapi, melanjutkan  perjuangan kami. Melakukan edukasi di sana. Inna setuju. Kami tertawa lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada jalan untuk perjuangan, bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAMSARA lahir dari ide tiga orang perempuan. Inna Hudaya, S. Kikie dan Grace Susilo. Awalnya mereka tak saling mengenal. Isu aborsi kemudian membuat mereka berkenalan dan mendirikan sebuah lembaga bernama Samsara Abortion Recovery. Program awalnya adalah membantu pemulihan mental paska aborsi yang dialami oleh orang-orang yang menderita akibat aborsi dengan memberikan konseling dan pendampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal Samsara dari Inna Hudaya. Kami bertemu saat bersama-sama mengikuti sebuah kelas menulis Yayasan Pantau. Ketertarikan saya kepada Samsara berawal ketika membaca pengakuan Inna dalam tulisan yang ada dalam blognya. Inna seorang post-abortus yang pernah mengalami sindrom paska aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar bulan Agustus 2008, saya bergabung dengan Samsara. Inna dengan senang hati menyambut. Kami kemudian bekerjasama. Melakukan kegiatan dengan dana seadanya. Dan berkenalan dengan anggota Samsara yang lain mulai Kapit dan Grace. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak orang yang punya keberanian mengaku sebagai seorang post-abortus. Inna mempunyai keberanian untuk itu. Dan saya belajar banyak dari keberanian Inna. Dia memberikan saya pengalaman berbeda. Bekerja dengan hati, pengetahuan, keberanian dan kekeluargaan. Tentu saja dengan tawa dan tangis. Kami belajar bersama dan saling percaya bahwa keadaan yang terlewati akan membawa kami pada kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna rutin melakukan konseling dengan beberapa klien Samsara yang juga post-abortus melalui chating, email, sms, telefon atau bertemu. Hal tersebut terjadi bertahap. Kenyamanan dan rasa percaya kemudian menciptakan tahap-tahap konseling tersebut. Inna hebat. Dia mampu melalui traumanya dan berbagi dengan orang lain melalui konseling dan pendampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, kawan-kawan yang lain, menambah semangatku untuk ikut menjadi hebat. Kami semua luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Kapit, pria asal Pare. Zul, pria berdarah Bugis kelahiran Kalimantan Timur. Hera yang awalnya melakukan penelitian di Samsara dan akhirnya bergabung menjadi bendahara kami. Ai’ yang sedang menyelesaikan tesisnya dan Reza yang entah kemana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dulu sering melakukan rapat. Mendengarkan kritikan dan teori-teori dar Ai’. Melakukan penguatan organisasi dengan cara-cara yang strategis Reza yang sulit saya mengerti. Karena pada saat itu, saya menganggap itu tak perlu. Saya ingin sesuatu yang ril. Namun, tak lagi kutemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samsara seperti vakum. Hanya konseling dan pendampingan yang dilakukan oleh Inna. Saya belum mampu melakukannya. Saya memutuskan pulang ke Makassar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA akhirnya menemukan sebuah rumah sederhana yang berada di tengah daerah persawahan. Inna dan Hera menyambutku saat turun dari mobil yang ku bayar untuk mengantarku ke Kersan, Bantul. Tempat saya akan tinggal dan berkantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun di Makassar, saya kembali ke Jogja di bulan Maret 2010. Samsara sudah berubah. Salah satu ruang yang seharusnya berfungsi sebagai dapur disiapkan untuk menjadi kantor Samsara. Dindingnya sudah di cat warna merah dan putih. Lantainya masih kotor. Sedikit demi sedikit ruangannya terisi. Mulai dari karpet, meja kantor, dan bantal untuk duduk. Untuk membuatnya terkesan ramai, Inna menempelkan poster-poster di dinding. Yang tak pernah terpikirkan, bahwa kami telah memiliki satu unit komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, akhirnya kita punya komputer. ASEM..., rasanya kok beda yah. Kebiasaan miskin nih,” kataku pada Kapit. Kami hanya tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kami mengerjakan sebuah project edukasi. Kami memberinya nama Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi (SSKR). Kami mulai sibuk dan saling berbagi tugas. Bekerja memang butuh cinta. Dan saya memilikinya. Walau lelah, tak pernah kubiarkan cintaku pada Samsara mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menikmati lelah itu. Tetap tertawa bangga. Marah dan kecewa adalah hal yang wajar. Bahkan, kami mendapatkan satu tambahan personil perempuan. Namanya Wita. Ini tentu saja menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada senang, juga ada sedih. Zul, koordinator kami mengundurkan diri dari project ini. Dia akan fokus pada kuliahnya. Kami tak mampu menahannya. Saya merasa bersalah. Tiga hari sebelum ia mengundurkan diri, dia memintaku untuk menggantikannya sebagai koordinator. Zul memiliki banyak kegiatan hingga kesulitan mengatur waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mengundurkan diri, saya menangis dihadapan teteh. Kami menyayanginya. Saya ingin dia tetap menikmati lelah bersama kami. Samsara adalah organisasi yang personal. Kekeluargaan. Zul adalah anggota yang paling muda diantara kami. Kami memiliki harapan yang besar padanya. Saya ingin dia kembali. Menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kepada HIVOS, sebuah lembaga pendonor dari Belanda. Ketika dia kembali, saya mau mendengarnya bercerita tentang ayahnya. Yang paling penting, kami dapat berkumpul seperti sebuah keluarga yang utuh dan saya akan mengenang bapak bersama Samsara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, sekarang Samsara sudah bisa memberiku gaji. Tidak banyak. Tapi ini bisa membantu. Setidaknya tak lagi meminta uang bapak.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Teman-teman, selamat untuk kita semua. Saya menghadiahkan tulisan ini buat kalian. Semoga bermanfaat dan menyemangati. Saya menyayangi kalian. Jika tak keberatan, setelah membaca ini, saya meminta satu pelukan penuh cinta dan kekuatan. Lalu kita berpesta. Satu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman-teman, suatu hari kalau kita bertemu dan saya sukses lalu sombong atau lupa saat-saat kita kere, tolong tampar saya yah,”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-3882162400936854315?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/3882162400936854315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=3882162400936854315' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/3882162400936854315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/3882162400936854315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2010/04/antara-bapak-samsara-dan-saya.html' title='Antara Bapak, Samsara dan Saya'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-3897581461654756867</id><published>2009-12-22T05:53:00.000-08:00</published><updated>2011-03-28T18:59:47.878-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journalism'/><title type='text'>Antara ODHA dan Tenaga Medis</title><content type='html'>Oleh: Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggil ia Dedes saja. Seorang perempuan dengan status ODHA atau orang yang hidup dengan HIV dan AIDS. Dengan suara yang tinggi, dia mengungkapkan kebenciannya terhadap dokter-dokter yang pernah merawatnya saat ia melakukan proses persalinan di salah satu rumah sakit di Kota Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dipaksa tutup kandungan oleh dokter dengan alasan untuk memutus mata rantai penyebaran virus HIV ke anak. Dedes bersikeras mengatakan tidak. Alasannya kuat, odha perempuan hamil bisa memanfaatkan Program Preventing Mother-to-Child Treatment (PMTCT) yang bisa diakses di beberapa rumah sakit dan puskesmas serta lembaga penggiat peduli HIV dan AIDS. PMTCT merupakan salah satu program yang dikhususkan untuk ODHA perempuan yang mengalami kehamilan dengan tujuan untuk mencegah penularan virus HIV dari ibu ke anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedes, telah mengikuti program tersebut di kehamilan keduanya ini. Ia aktif untuk terapi sambil terus didampingi oleh salah satu aktivis peduli HIV dan AIDS di salah satu LSM sejak usia kehamilannya tujuh bulan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedes belum punya pengetahuan yang cukup mengenai HIV dan AIDS saat itu. Dia baru saja melahirkan dengan operasi cesar pada 2007 lalu. Dalam keadaan sakit dan tidak berdaya, satu per satu dokter masuk ke dalam ruangan tempat Dedes dirawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, anda kan sudah positif HIV. Sebaiknya tutup kandungan saja supaya virus tidak menular ke anak.” kata seorang Dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saya masih mau punya anak dok, bagaimana. Lagian saya kan ikut program PMTCT.” jawab Dedes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu dokter tersebut kemudian ditolak Dedes. Ternyata, Dokter tidak menyerah. Mereka kemudian melakukan pendekatan dengan keluarga Dedes. Dimulai dari suami hingga orang tua Dedes. Suami Dedes yang juga seorang ODHA menolak. Ibunya yang notabene tak mengerti mengenai HIV dan AIDS akhirnya berhasil tergiur oleh permintaan dokter. Ibu Dedes lalu membujuk Dedes. Dedes pun tak berdaya, ia melakukan operasi tutup kandungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai sekarang, saya sakit hati sama dokter. Mereka berhasil bujuk mama’ku. Saya tidak sanggup sekali tolak permintaannya mama’ku karna dia tidak tahu apa-apa. Hak Asasiku sebagai perempuan seperti dicabut sama dokter.” kata Dedes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara parau, ia menceritakan ketika ia marah kepada ibunya. Hampir sering ia lakukan jika mengingat bujukan-bujukan ibunya untuk melakukan operasi itu. “Padahal ibuku tidak salah, sadar ka ini salahnya dokter. Mama’ku pikir kalau saya tutup kandungan, saya bisa sembuh dari HIV.” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dedes, saran penutupan kandungan bagi ODHA perempuan hamil tersebut masih berlanjut hingga sekarang. Bahkan, sering sekali terjadi dokter kemudian mengambil keputusan secara sepihak.&lt;br /&gt;Pengalaman yang dianggap Dedes buruk itu kemudian membawanya untuk bekerja sebagai pendamping khusus di untuk ODHA perempuan hamil. Membantu ODHA lain tetap kuat dan mempertahankan Hak Reproduksinya. Dedes berharap tak ada lagi ODHA perempuan yang mengalami sakit hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEDES berhasil membuktikan bahwa anak yang ia lahirkan tersebut tidak tertular HIV. Bulan lalu, ketika usia anaknya 2 tahun 3 bulan. Ia membawa anaknya untuk tes HIV. Hasilnya non-reaktif. Dedes bersyukur, keluarganya punya penerus, yakni anak keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami Dedes dan anak pertamanya yang berusia 6 tahun juga adalah ODHA. Anaknya lahir jauh sebelum ia melakukan tes HIV. “Rasanya dunia hancur. Lebih sakit saya rasa waktu tahu anakku reaktif. Ini salahku. Sekarang saya jaga dan perhatikan sekali anakku.” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak pertama Dedes sudah sekolah di sebuah Taman Kanak-kanak. Hampir setiap minggu, anaknya sakit. Dia rajin memberikannya vitamin, hanya itu. namun, jika tak konsumsi vitamin, anaknya akan lemas. Ia ragu untuk memberikan obat hasil racikan dari obat ODHA dewasa dari dokter. Takut anaknya tidak cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, status Dedes sebagai ODHA ketahuan melalui program PMTCT yang ia ikuti di Puskesmas dekat rumahnya. Saat itu usia kandungannya masih 3 bulan. Seseorang memberinya undangan, untuk hadir dalam sosialisasi yang dilaksanakan salah satu LSM. Dulu, Dedes pecandu narkoba, jadi setelah mendapatkan sosialisasi HIV dan AIDS dari pemateri, ia kemudian tertarik melakukan pemeriksaan darah lewat VCT. Ia sadar pernah berprilaku beresiko. Satu minggu kemudian hasilnya keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedes dijemput untuk menerima hasilnya. “Saya heran, kenapa ini kader kejar-kejar ka terus. Saya harus tarima hasilku.” Dedes melakukan konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya ibu betul-betul terinfeksi HIV,” kata konselor. Dedes ketakutan. Ia kembali sadar pernah melakukan hal-hal yang beresiko. Tapi, di lubuk hatinya masih menyakini kata tidak karena saat itu, Dedes telah berhenti selama enam tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konselor membuka hasilnya. “Ibu, hasilnya reaktif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu artinya reaktif?” tanya Dedes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu HIV positif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Edede.., “ keluhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedes shock, lalu menghabiskan lima batang rokok tanpa mengingat bahwa ia hamil tiga bulan. “Padahal sudah berhenti ma’ merokok nah waktu itu.” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedes terus menangis dan pulang ke orang tuanya. Sulit sekali ia berterus terang saat itu. dipikirannya, esok ia akan meninggal. Perlahan-lahan ia mengatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ma’ ada sakitku, mungkin mau ma mati.”kata Dedes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sakit apa ko nak.” Jawab ibu Dedes, heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya terjangkit HIV ma’ yang tidak ada obatnya.” Kata Dedes sambil terus menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua Dedes kaget. Awalnya, mereka tak mau menerima, namun akhirnya pasrah dan membantu Dedes dengan dukungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Weh, na tarima ka orang tuaku, senangku kurasa. Dari orang tuaku kasi’ka semangat sampai saya seperti sekarang.” tutur Dedes. Suaranya semakin keras dan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEDES mulai keluar masuk rumah sakit dan melakukan pendampingan dengan ODHA perempuan hamil. Dia bekerja untuk sebuah LSM. Pengetahuannya tentang HIV dan AIDS telah membawanya sebagai seorang pekerja. Ia mengikuti berbagai macam pelatihan dan aktif dalam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sulit menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.” lanjut Dedes. Di rumah sakit, ruangan yang disiapkan untuk ruang rawat ODHA sangat diskriminatif. Mulai dari lokasinya yang seolah-olah dikucilkan hingga pelayanan perawat. Padahal, mereka adalah orang-orang yang seharusnya memahami posisi ODHA dan sudah cukup punya pengetahuan tentang HIV dan AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Dedes, lain pula pengalaman perawat. “Stigma dan diskriminasi dari dokter atau perawat tidak hanya dialami pasien ODHA saja, tapi kami juga mengalaminya.” kata seorang perawat. Sebut saja Suster Rima, Salah satu perawat pasien HIV dan AIDS di sebuah rumah sakit di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suster Rima, semua perawat memang seharusnya sudah mengetahui dan memahami mengenai HIV dan AIDS. Tapi, cara mereka memberikan pelayanan berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster Rima bercerita. Pernah suatu kali, ruang rawat khusus ODHA penuh. Sebenarnya, salah satu tempat tidur masih kosong, namun belum bisa digunakan karena sedang disterilkan. Baru saja ada ODHA yang meninggal. Seorang perawat umum menelfonnya agar pasien tersebut segera dipindahkan ke ruangan khusus. Perawat itu tak ingin mengerti lalu memindahkan pasien tersebut malam hari. Saat pagi, suster Rima mencari pasien itu ke ruangannya. Ternyata, ia dipindahkan ke ruang khusus ODHA dan dibiarkan tidur di atas papan ranjang tanpa kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya marah sekali, sakit sekali hatiku. Kasihan sekali ka lihat ibunya pasienku menangis terus. Sampai hati sekali mereka biarkan pasien seperti itu.” kata Suster Rima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster Rima terus menggeleng sambil mengingat-ingat kejadian-kejadian yang dialami oleh pasiennya di rumah sakit. Bahkan, menurut Suster Rima, untuk mengakses fasilitas di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, pasien ODHA akan diperiksa diurutan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dibelakang pi itu karena HIV, nanti ada apa-apanya.” kata petugas laboratorium, saat suster Rima&lt;br /&gt;membawa salah satu pasien melakukan foto rontgen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat program VCT dan CST (Care, Support and Treatment) untuk HIV dan AIDS baru saja dibuka di rumah sakit tersebut, suster Rima sangat merasakan stigma dari perawat lain. Saat ia berjalan di lokasi rumah sakit pun, ia selalu mendengarkan perawat lain bergunjing atau berteriak memanggilnya dengan sebutan suster HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya nda peduli ji. Saya sudah bikin komitmen berbakti sama pasien HIV sampai habis masa pensiunku.” kata Suster Rima, sambil senyum meyakinkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster Rima bahagia dengan tugasnya. Perlu jiwa besar dan sosial yang tinggi melakukannya. Ini pekerjaan kemanusiaan, menurutnya. “Insyaallah pahalanya besar.” katanya, yakin. Kebahagian terbesar yang Suster Rima rasakan ketika melihat pasiennya pulang dalam keadaan membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang paling penting adalah dukungan dan konseling buat mereka. Jika stigma bisa dikurangi, keluarga, teman-teman dan tenaga medis bisa beri dukungan. Insyaallah, pasien bisa bertahan hidup lebih lama.” harap Suster Rima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Tulisan ini hasil revisi dari feature saya yang dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi Senin, 21 Desember 2009.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-3897581461654756867?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/3897581461654756867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=3897581461654756867' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/3897581461654756867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/3897581461654756867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/12/antara-odha-dan-tenaga-medis.html' title='Antara ODHA dan Tenaga Medis'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-6255121021435971427</id><published>2009-11-16T05:36:00.000-08:00</published><updated>2010-08-26T08:36:20.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memories'/><title type='text'>Dari Silsilah Menuju Gender dan Seksualitas</title><content type='html'>Oleh: Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 Juli 2009. Saya menuju ke sebuah rumah makan untuk menghadiri sebuah pelatihan seksualitas. Sebelumnya, Pino, seorang teman yang bekerja di Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Suawesi Selatan memberi info mengenai pelatihan tersebut. &lt;br /&gt;Saya datang terlambat pagi itu. Lebih dari 20 orang sedang santai menikmati kopi susu dan pisang goreng tepung. Semua peserta perempuan. Kebanyakan dari mereka berpenampilan seperti laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah PELATIHAN SEKSUALITAS, GENDER DAN HAM Komunitas Perempuan Serumpun (KIPAS). KIPAS adalah komunitas LBT (Lesbian, Biseksual, dan Transgender) di Makassar. Mereka adalah kelompok kegiatan dampingan Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Sulawesi Selatan. Anggotanya cukup banyak, lebih dari 80 perempuan. &lt;br /&gt;Pino berdiri di depan peserta. Ia adalah orang yang menyampaikan materi pada pelatihan tersebut. Semua peserta sudah saling kenal sebelumnya, kecuali saya. Ini adalah pelatihan pertama dalam komunitas ini. Kebanyakan yang ikut adalah lesbian hunter atau butchie, yakni lesbian yang berpenampilan seperti laki-laki pada umumnya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya belajar. Pino tidak segan-segan memberikan dua tugas. Pertama, memetakan silsilah keluarga dari garis perempuan saja. “Hanya perempuan, kita tidak menerima laki-laki di sini,” kata Pino, berulang-ulang. Kedua, menemukan bentuk ketidakadilan yang dialami keluarga perempuan kita dalam silsilah tersebut. Pino sedikit bersabar menjelaskan tugas yang ia berikan, banyak pertanyaan dari peserta. Saya mulai menulis, mencoret, mengingat-ingat nama, dan mengeluh karena lupa nama sepupu, tante dan saudari nenek. Peserta lainnya juga sibuk sepertiku. Bedanya, mereka mencoba mengingat nama keluarga mereka dengan bertanya ke peserta lain yang bukan keluarga. Lalu akan ditertawakan oleh peserta lain. Nurmi, salah seorang peserta saya dapati kebingungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kedapatan mengaktivkan handphone. Mulai menekan-nekan tombol. Lalu menunggu dan menyapa ibunya setelah mendengar suara. Saya tidak mendengar jelas percakapan mereka. Nurmi hanya melirikku dan memberi kode agar saya tidak memberitahu peserta lain. Ia takut ditertawakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah ki telfon mace ta’? tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iye’. Sa lupa namanya sepupuku bela. Huss, jangan ki bilang-bilang sayang nah.” katanya, sedikit berbisik. Saya hanya tersenyum. Ingin rasanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Nurmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas selesai. Pino memerintahkan peserta mempresentasikan pekerjaan masing-masing. Peserta saling tunjuk dengan ejekan dan pujian. Lalu satu persatu berdiri dan membaca tugas mereka. Membaca silsilah mulai dari yang tertua hingga  yang termuda. Lalu mengungkapkan ketidakadilan yang ada dalam keluarga mereka. Mulai dari poligami, tidak boleh melanjutkan sekolah, tidak dapat hak waris hingga trauma paska perceraian orang tua atau trauma karena perselingkuhan ayahnya. Semua tampak serius mendengarkan. Entah apa yang mereka pikirkan. Pino mencatat di kertas yang tertempel pada white board. Semua peserta mengungkapkan ada poligami dalam keluarga mereka, itu dialami oleh nenek, ibu hingga tante mereka. Bahkan, salah seorang kakek peserta mempunyai istri sebanyak 42 orang. Banyak juga di antara mereka tidak melanjutkan sekolah karena orang tua mereka lebih memprioritaskan anak laki-laki untuk mendapat pendidikan yang tinggi atau barang kesukaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 12.00 Wita. Pino memberikan peserta tugas sambil menikmati makan siang. Peserta dibagi menjadi empat kelompok. Pino menyuruh tiap kelompok untuk menuliskan kesan dan menganalisa alasan mengapa mereka harus membuat silsilah keluarga hanya dari pihak perempuan saja. Waktu peserta hanya 90 menit untuk mengerjakan tugas dan menyelesaikan makan siang. Peserta tersebar di beberapa tempat tergantung kenyamanan mereka. Lebih banyak yang mengerjakan tugasnya di lantai. Ada yang sambil merokok hingga melepas sepatunya dan berdiskusi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah habis, masing-masing kelompok presentasikan hasil kerjasama mereka. Setiap kelompok sepakat bahwa perempuan adalah sosok dimana perannya masih dinomor duakan dalam lingkungan keluarga. Ketidakadilan masih berjalan dan hak-hak yang seharusnya juga dimiliki oleh kaum perempuan masih terkendali dan dipegang oleh pihak laki-laki.  Ketidakadilan ini nampak dari silsilah keturunan nenek atau buyut mereka hingga pada diri mereka sendiri. Salah satu kelompok mengaku terharu karena dengan begitu mudahnya ketidakadilan itu terjadi dan terus berlanjut seiring dengan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasma, peserta yang melakukan presentasi mewakili kelompok satu merasa lega. Mereka bisa berbagi bersama peserta yang lain. Ini adalah kali pertama mereka dengan terbuka berbicara mengenai masalah-masalah dalam keluarga mereka. Menambah kekuatan dan memulai hidup tanpa diskriminasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman-teman, dari semua yang anda sampaikan, dapat saya simpulkan bahwa tidak satu pun dari anda yang mengatakan bahwa silsilah keluarga itu tidak penting. &lt;br /&gt;“Menurut anda, apakah orang tua anda lebih banyak mengungkit prestasi perempuan atau laki-laki?” Pino kembali melempar pertanyaan kepada peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebanyakan laki-laki kak,” jawab beberapa peserta. Ada yang mengangguk, saling balas pandang, bengong atau hanya tersenyum saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi kedua, diskusi menjadi semakin menarik. Pino berbicara soal gender dan konstruksi sosial. Ia tetap melibatkan peserta untuk lebih interaktif dan punya inisisatif untuk berpikir terkait materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang membuat teman-teman merasa sebagai perempuan?” tanya Pino. Peserta menjawab satu per satu dengan lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena punya ini’e,”kata salah satu peserta sambil mengarahkan tanganya ke vagina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena punya tete’ (payudara),”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena berbeda secara biologis,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pino kemudian membagikan kertas dan menyuruh peserta menulis jawaban mereka. Hasilnya bermacam-macam, mulai dari perbedaan biologis, hal-hal yang umum dilakukan perempuan hingga menyinggung kodrat. Pino membagi tiga jawaban peserta dan menulisnya di white board. Pertama, menyatukan jawaban yang berkaitan dengan biologis dan menambahkan perbedaan-perbedaan susunan biologis antara laki-laki dan perempuan. Kedua, jawaban yang berkaitan dengan perasaan dan kesukaan. Seperti, suka memasak, suka bunga, butuh kasih sayang, ingin menikah tapi takut hamil hingga ketakutan tidur dengan laki-laki. Ketiga, Pino memisahkan jawaban yang menyinggung tentang kodrat. Hanya satu jawaban, yaitu takut melawan kodrat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sengaja pisahkan yah, biar kita bisa bahas satu-satu,” jelas Pino. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ka tanya, apa maksudnya ini, mau menikah tapi takut hamil?” tanya Pino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malu-maluin kak sebagai hunter.” jawab salah seorang peserta. Peserta yang lain kemudian tertawa dan berteriak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pino tersenyum dan mulai menjelaskan materinya sambil sesekali menulis di white board. “Perasaan apa lagi yang kalian rasakan dan bikin kalian merasa seperti perempuan?” Pino lagi-lagi bertanya memasuki pikiran peserta agar mendapat jawaban-jawaban lain. Tidak ada jawaban yang baru, hampir semua peserta mengatakan hal yang telah mereka tuliskan. Pino kemudian memberikan contoh. Saat ia kecil, Pino bisa dengan leluasa membuka baju dan telanjang dada di hadapan banyak orang tanpa rasa malu. Namun perlahan-lahan, seiring waktu ada perasaan dimana ada batasan yang harus ia pikirkan sebelum melakukan sesuatu, misalnya membuka baju. Perempuan tidak bisa leluasa membuka pakaiannya sama seperti yang dilakukan oleh laki-laki ketika sudah beranjak remaja. Peserta mengangguk seolah setuju dengan pendapat Pino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pino kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai kodrat dan menghubungkannya dalam konsep penciptaan. Ada hukum yang bermain mengelilingi kodrat. Hukum alam dan hukum sosial. Hukum alam adalah sesuatu yang pasti, dimana ada kematian atau kehidupan, diciptakan oleh Tuhan. Ada hal-hal yang tidak bisa digugat. Sedangkan hukum sosial adalah hukum yang diciptakan oleh masyarakat dan dikonstruksi sedemikian rupa demi sebuah kepentingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konstruksi sosial yang diciptakan masyarakat sangat mempengaruhi pola pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Mereka memisahkan dua peran dan memberikan nilai, ada plus dan minus. Hampir semua benda mempunyai jenis kelamin. Misalnya, warna. Pink identik dengan perempuan dan hitam diidentikkan dengan warna laki-laki. Dalam pembagian peran, laki-laki dikonstruksi sebagai kepala rumah tangga sekaligus pencari nafkah dan berada di wilayah publik sedangkan perempuan dikonstruksi sebagai ibu rumah tangga dimana wilayah kerjanya di dapur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pino kemudian membagikan lagi kertas dan memberikan tugas mengenai apa penilaian masyarakat terhadap penampilan peserta yang mirip seperti penampilan laki-laki pada umumnya. Macam-macam jawaban yang tertulis. Balaki (tomboy), perempuan jadi-jadian, pembangkang, kagum karena bisa bekerja dalam dua peran, aneh dan pembawa sial. Ada nilai di dalamnya. Plus dan minus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua pelatihan, beberapa peserta me-review materi hari sebelumnya. Lalu, Pino bersiap-siap dengan materinya di depan peserta. “Gender diciptakan oleh masyarakat seperti halnya warna, peran atau lainnya,” kata Pino. Ia mengajak peserta untuk menganalisa aktivitas para peserta bersama pasangannya selama 24 jam. Ia membedakan pembagian peran dalam hubungan lesbian dimana ada pengkotakan sebagai hunter (butchie) dan lines (femm) sesuai pengalaman peserta bersama pasangannya. Satu persatu mulai menjawab meski masih terlihat malu dan tertutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peserta yang berperan sebagai hunter mengaku bekerja di luar rumah dan femmnya berada di rumah ketika ia bekerja. Ada juga yang membagi pekerjaan dalam rumah seperti mencuci pakaian, baju, menyetrika dan lain-lain. Nasma, peserta yang berperan sebagai hunter mengaku bahwa ia akan marah jika pasangannya pergi tanpa ijin. Ia akan mengontrol keberadaan pasangannya. Peserta yang lain menyetujui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soalnya kita khawatir kalau ada apa-apa terjadi kak sama pasangan ta’,” kata Imel, meyakinkan Pino. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratna, seorang peserta kemudian mengomentari mengenai pembagian peran dalam hubungan lesbian dalam komunitasnya. Ia bercerita saat mengajak beberapa teman-teman berkumpul di posko komunitas mereka. Ia berteriak dan menyarankan para hunter agar mengajak pasangannya (femm) ikut berkumpul dan diskusi bersama. Namun, beberapa dari hunter menjawab bahwa lines sebaiknya berada di rumah saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak sadar, masih banyak pasangan lesbian mengkotak-kotakkan posisi sebagai orang yang lebih kuat dan tidak kuat. Ketika kita merasa lebih kuat, ada kecenderungan seseorang meminta pelayanan khusus, memberi perlindungan, mengatasi rasa takut pasangan atau mengontrol aktivitas pasangan. Pino mencoba menganalisa dan menanyakan kembali kepada peserta. Beberapa peserta hanya mengangguk dan menunggu penjelasan dari Pino. Sama halnya pada hubungan pasangan heteroseksual, ada pembagian peran di dalamnya antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki akan dimaknai sebagai posisi paling kuat dan perempuan dimaknai posisi tidak kuat. Ada indikasi bahwa pola hubungan pasangan heteroseksual diadopsi pada hubungan homoseksual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin teman-teman mengatakan bahwa perempuan masih dinomor duakan dalam keluarga. &lt;br /&gt;Jika teman-teman mengadopsi cara pasangan hetero dimana ada ketidakadilan di dalamnya bukankah anda juga sudah melakukan ketidakadilan pada pasangan anda yang juga perempuan?” tanya Pino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi lain, Pino mengajak semua peserta bernyanyi. Sebuah lagu lama yang telah ia ubah sebagian liriknya dengan kata anu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat pada suatu anu.&lt;br /&gt;Kuberjalan-jalan di muka anumu.&lt;br /&gt;Rasa bergetar, dalam anuku.&lt;br /&gt;Ingin kuberanu.&lt;br /&gt;Sekilas nampaklah engkau di balik anu.&lt;br /&gt;Tersenyum dikau menusuk anuku.&lt;br /&gt;Apa daya sejak saat itu.&lt;br /&gt;Anuku terganggu di setiap waktu.&lt;br /&gt;Rasa bergetar, dalam anuku. &lt;br /&gt;Ingin ku beranu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tertawa terbahak-bahak ketika menyanyikan lagu itu. Anu adalah bahan utama kelucuan. “Apa yang pertama kali anda pikirkan ketika menyanyikan lagu itu?” tanya Pino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu kak, yang di bawah pusar,” kata Anjas, salah satu peserta. Bercinta, vagina, diraba, pelukan, french kiss, dll. Bermacam-macam jawaban peserta yang terdengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terlihat geli saat harus menyebut kata-kata yang berhubungan dengan seks. Pino mengajak peserta membahas pengasosiasian anu dalam kehidupan sosial. Dari dulu, anu sering diasosiasikan masyarakat sebagai pengganti kata untuk menyebutkan alat kelamin atau sesuatu yang berhubungan dengan seks. Sehingga ketika menyebut anu, pikiran secara otomatis akan mengarah ke perihal terkait seks, padahal anu bisa saja diartikan macam-macam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang, Pino mengajak peserta duduk di depan dan membentuk lingkaran. Semua peserta mengangkat kursi besi mereka masing-masing. Pino menginstruksikan peserta untuk melakukan apa yang ia perintahkan. Semua harus menutup mata. Ola, ketua KIPAS akan mengawasi peserta. Pino menyuruh peserta meraba bagian tubuh mulai dari kepala hingga kaki. Saat membuka mata, ia meminta tanggapan masing-masing peserta. Ada yang merasa geli dan ada juga yang tidak merasakan apa-apa. Setelah itu Pino membagikan kertas dan menyuruh peserta menggambar bentuk tubuh perempuan. Semua menggambar seadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman-teman, tolong tentukan titik rangsangan di tubuh anda masing-masing dan tulis di atas kertas yang anda gambar.” perintah Pino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi kali ini sangat penuh dengan tawa dan cekikikan peserta. Saya pun tak kuasa menahan tawa hingga rahang rasanya pegal dan mata berair. Saling mengejek dan menertawakan, saling mengintip jawaban peserta lalu mengganggu peserta lain. Ada yang malu memperlihatkan titik rangsang yang ia tuliskan namun tetap saja pada akhirnya ketahuan karena masing-masing harus merelakan rasa malu mereka. Materi ini berguna untuk memahami tubuh kita sendiri sebelum memahami tubuh pasangan kita. Komunikasi adalah cara yang paling ampuh untuk saling mengetahui keinginan, kesenangan dan apa yang diinginkan oleh kita dan pasangan. Kerjasama yang baik dalam hubungan akan dimulai pada komunikasi yang baik pula.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi terakhir, Pino meminta semua yang berada di ruangan tersebut membuat lingkaran dan saling mengaitkan lengan. “Saya minta masing-masing mengungkapkan perasaan dalam satu kata.” pinta Pino. Spirit, senang, gembira, bangga, haru dan masih banyak kata terlontar dari bibir-bibir peserta. Saatnya berpisah, ada jabat tangan, pelukan dan mengucapkan terimakasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang sekali rasanya mendapat teman yang menurut banyak orang adalah pendosa karena orientasi seksual yang berbeda pada umumnya. Mereka perempuan, ada dan tercatat dalam realitas sosial. Saya ingat diskusi bersama beberapa peserta mengenai kondisi lesbian dalam ruang publik. Tidak penting harus melakukan sesuatu dan dinilai oleh masyarakat bahwa yang berbuat adalah seorang lesbian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga awalnya dicela sama tetangga saat membawa lines saya tinggal di rumah. Tapi saya buktikan sama mereka kalau saya juga bisa berbuat hal yang berguna dan inilah saya.” kata Imel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berpikir, kemenangan paling besar adalah ketika seorang lesbian telah melewati pertentangan batin dalam diri dan mengakui bahwa ia seorang lesbian.” kataku kepada peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, saya setuju kawan.” kata  Imel. Kami semua tersenyum lalu sibuk dengan rokok dan kopi masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-6255121021435971427?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/6255121021435971427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=6255121021435971427' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/6255121021435971427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/6255121021435971427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/11/dari-silsilah-menuju-gender-dan.html' title='Dari Silsilah Menuju Gender dan Seksualitas'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7301148183883146215</id><published>2009-08-02T22:51:00.000-07:00</published><updated>2010-08-26T08:36:32.329-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journalism'/><title type='text'>“Mereka Adalah Obat Saya.”</title><content type='html'>Oleh: Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memasuki sebuah gang di daerah pesisir kota Palopo, Sulawesi Selatan pada 25 Mei 2009, saat itu pukul 11:00 wita. Semakin ke dalam, gang semakin kecil. Saya menuju ke sebuah rumah. Hanya ada seorang anak perempuan, umurnya tujuh tahun. Saya menyapa dan bertanya apakah ibunya ada di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda ada di dalam.” kata anak itu.&lt;br /&gt;Ibunya ternyata sudah mengetahui kedatanganku. Pintu memang sedang terbuka. Dia memanggilku. Saya sedikit mencari-cari, posisinya lumayan tersembunyi. Dia membantu ibunya membuat kue pesanan seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menunggu di teras. Seorang bocah yang lebih muda datang ke sampingku. Ia memandangiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberinya nama Windinara, adalah ibu kedua anak itu. Ia ODHA (orang dengan HIV dan AIDS). Pagi itu, ia sedikit kumal dengan daster merah bertuliskan Bali. Rambutnya diikat berantakan. Ia tak bisa menemaniku. Ia menyuruhku datang saat sore. &lt;br /&gt;Pukul 16:00 wita, saya kembali ke rumahnya. Saat kuparkir sepeda, ia memanggilku dari arah belakang rumah. Ia masih dengan dasternya, tapi lebih kumal dari sebelumnya. Ia belum bisa menemuiku. Saya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam, saya datang lagi dan ia menyambutku dengan penampilan berbeda. Rambutnya basah terurai. Dasternya sudah berubah warna hitam bermotif  bunga. Wajahnya nampak riang. Windi menyuruhku masuk. Kami duduk bersebelahan. Terasa akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windi tahu bahwa HIV ada dalam tubuhnya pada awal 2006. Ia tertular dari suaminya. Sebut saja, Raka. Seorang pecandu narkoba suntik. Empat bulan suaminya sakit parah. Kata dokter, paru-parunya rusak. Windi membawa suaminya ke Rumah Sakit Umum dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum terpikir bahwa suaminya mengidap HIV, walau ia tahu suaminya seorang pecandu. Raka awalnya tidak ingin diperiksa saat alat tes HIV dan AIDS ada di hadapannya. Ia takut dan tidak siap menerima hasilnya. Dokter menyuruhnya pulang dan berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda, dokter menyuruh saya tes HIV.” kata Raka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windi kaget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Periksa saja. Lebih baik tahu sekarang daripada terlambat.” bujuk Windi.&lt;br /&gt;Besoknya mereka kembali ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windi menerima hasil pemeriksaan keesokan harinya. Reaktif. Raka belum melihatnya. Windi terpaksa bohong. Ia memperlihatkan tulisan non reaktif, beruntung Raka percaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan di Makassar, kondisi Raka makin parah walau ia rutin check up. Ingatannya sudah tidak kuat lagi dan kulitnya bersisik. Windi membawa suaminya kembali ke Rumah Sakit. Kali ini Raka harus dirawat, CD4nya hanya 11. Windi menyampaikan kepada dokter bahwa suaminya belum tahu tentang penyakitnya. Saat itu juga Windi berterus terang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, saya berada di sini karena saya dukung ayah. Saya ingin lihat ayah sembuh.” kata Windi, lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar ayah. Ini mungkin cobaan buat kita. Ayah positif  HIV.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raka shock, mulai bertanya-tanya dan tidak terima. Windi kewalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, sabar. Seandainya saya ingin marah dan memakimu kasar, saya akan bilang ini pelajaran buat ayah. Saya sudah sering bilang agar ayah berhenti menggunakan narkoba. Ayah tidak mendengar saya. Sering pulang malam, mengajak saya bertengkar. Tapi saya masih di sini. Dukung ayah supaya sembuh.” keluhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raka akhirnya sadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Rumah Sakit, Windi setia mendampingi Raka. Raka ditempatkan di ruangan perawatan Lontara 1. Ada 6 pasien yang penyakitnya sama. Mereka sering saling menghibur dan tertawa bersama. Dua orang konselor juga membantu mendampingi seluruh pasien. Mereka adalah waria. Ade Rinalda dan Indri Morisette. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkenalan satu sama lain. Windi mulai menerima dan beradaptasi dengan kehidupan di rumah sakit. Raka tetap putus asa, dia depresi seolah tidak siap menerima kenyataan bahwa sebuah virus ada dalam tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian, Windi berpikir untuk periksa juga. Dia curiga virus tersebut juga ada dalam tubuhnya. Dia tidak ingin tahu setelah ia sudah benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Windi mendatangi seorang perawat. Perawat itu menyarankan untuk menunda dan fokus pada perawatan Raka. Windi tetap penasaran. Ia tidak mau virus ini merenggut kekuatannya. Cukup terjadi pada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windi melakukan tes HIV bersama Ade Rinalda. Hasilnya reaktif. Windi tidak kaget virus itu juga ada dalam tubuhnya. Ia yakin mengingat usia pernikahannya dengan Raka sudah tujuh tahun. Mustahil jika ia tidak tertular, pikirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di kamar, Raka terus-terusan mengeluh. tidak mau makan dan minum obat. Windi lelah mendengarnya. Mereka bertengkar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya capek lihat kamu seperti itu. Saya bahkan kasihan lihat diriku. Saya tidak tahu apa-apa, saya tidak pakai narkoba, tidak melakukan hubungan seks dengan siapa pun selain kamu, saya tidak pernah keluar rumah tanpa seizinmu. Tapi apa yang saya dapat ayah. Ini hasilnya.” teriak Windi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raka kaget. Windi tiba-tiba diam. Ia tidak ingin suaminya tahu bahwa ia juga positif  HIV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya hanya ingin beri ayah dukungan. Tapi saya juga butuh dukungan dengan lihat ayah kuat agar saya juga kuat. Ayo minum obat, jangan suka mengeluh. Terima kenyataan ayah.” pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windi sempat mengalami dilema. Ia memikirkan anaknya yang berada 360 kilometer darinya. Mereka diasuh oleh ibu Windi di Palopo. Anak pertamanya masih berusia 5 tahun saat itu. Yang kedua 3 tahun. Namun, di sisi lain, Windi tidak bisa meninggalkan Raka sendirian.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tiga bulan Raka dirawat di rumah sakit. Kondisinya sudah mulai membaik, CD4nya meningkat menjadi 175. Satu minggu sebelum keluar dari rumah sakit, Indri mengajak Windi mengikuti sebuah pelatihan. Indri ingin Windi mewakili kota Palopo untuk belajar banyak mengenai HIV dan AIDS. Windi minta ijin ke Raka lebih dulu. Raka tidak setuju. Mereka akan kembali ke Palopo. Windi terus membujuk, akhirnya Raka memberi ijin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari  terakhir pelatihan adalah jadwal yang sama mereka pulang ke Palopo. Pelatihan selesai pukul 18:00 wita. Windi tidak langsung pulang. Ia menghadiri acara perpisahan panitia dan peserta. Pukul 20:00 wita, ia tiba di rumah. Raka baru saja berangkat dan membawa semua pakaian serta uang. Windi kecewa. Tujuh bulan Raka sakit, tak pernah ia meninggalkan Raka. Tapi untuk waktu lima menit, Raka tidak bisa menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya Windi berangkat ke Palopo. Ia langsung menuju ke rumah orang tua Raka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana pakaianku?” tanya Windi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raka hanya diam. Windi makin marah, kecewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, tega sekali. Asal ayah tahu, saya juga positif  HIV. Virus ini saya dapat dari ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windi pulang ke rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga bulan ia tidak bertemu Raka. Ia gunakan waktunya untuk belajar dan memotivasi diri. Lalu salah satu saudara Raka tiba-tiba datang menemuinya. Ia memberi kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, Raka sakit parah. Tidak ada gunanya menjenguk jika ia sudah meninggal.”&lt;br /&gt;Kata-kata itu meluluhkan kemarahan Windi selama ini. Hari itu juga ia menjenguk Raka. Windi menangis. Raka sangat kurus, kakinya kaku, lama tak bergerak. Daya ingatnya sudah tidak kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama siapa ke sini?” tanya Raka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raka tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu semakin gagah.” puji Windi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raka tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya minta maaf  bunda.” kata Raka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, saya juga minta maaf. Kenapa berhenti minum obat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Parcuma saya hidup. Tidak ada gunanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, ingat anak-anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu yang mendapatkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Raka menghentikan Anti Retro-viral Theraphy. Ia mengkonsumsi buah merah yang disebut-sebut mampu menyembuhkan HIV dan AIDS setelah menyaksikan berita di televisi.Windi sangat ingat peristiwa itu. Saat bercerita, Windi menyandarkan kepalanya di kursi dan memegang tangan anaknya. Lalu meneruskan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda, saya akan pergi ke suatu tempat yang sangat indah tapi saya tidak tahu harus lewat mana.” kata Raka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mau tahu, Ayah sebaiknya zikir. Pasti akan Ayah temukan jalannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kalau saya zikir, saya bisa buka pintunya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Ayah bisa zikirkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti, saya kan Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windi terus menjaga Raka. Mereka bercerita sepajang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin cium bunda tapi saya tidak bisa bergerak.” kata Raka. Windi mendekatkan pipi ke bibir Raka. Raka tertawa, air matanya mengalir. “Bunda, kapan kita bisa bertemu lagi?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pertanyaan terakhir Raka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10:00 wita, Raka akhirnya menemukan jalan itu. Ia berhasil membuka pintu menuju tempat yang ia katakan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windi bergabung dalam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Palopo Plus. Saat ini anggotanya hanya tiga orang. Dua ODHA dan satu lagi OHIDA (Orang yang hidup dengan ODHA). ODHA lainnya memilih menyembunyikan diri. Di Palopo ada 38 kasus HIV dan AIDS. KDS Palopo Plus dan KPA Kotamadya Palopo sering bekerjasama melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai HIV dan AIDS di Kota Palopo. Sayang, sejak lima bulan terakhir KDS Palopo Plus vakum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windi masih menyimpan harapan untuk ODHA di Palopo.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin punya satu usaha bersama teman-teman. Keuntungannya ingin kami pakai untuk membantu biaya pengobatan dan perawatan  ODHA di Palopo. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua Windi sudah tahu. Mereka kadang khawatir Windi ikut dalam kegiatan KPA dan KDS. Ibu Windi takut jika ia hanya menjadi objek dengan status ODHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak pernah menangis. Kasihan orang tua dan anak-anak saya. Jika saya mengeluh mereka akan lemah. Tapi jika saya kuat, mereka juga akan lebih kuat menerima saya.” kata Windi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windi tidak menyerah. Ia mengerti kekhawatiran Ibunya. Tidak semua orang bisa memberinya dukungan sosial. Mereka bisa tidak hanya menjauhi Windi, tapi keluarganya. Apalagi pengetahuan masyarakat di kota Palopo masih minim tentang HIV dan AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si sulung sedang asik bermain, Windi mengelus kepalanya. Ia memeluk dan mencium si bungsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini mungkin salah satu mukjizat dari Tuhan. Kedua anak saya sehat. Mereka adalah obat saya.”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7301148183883146215?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7301148183883146215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=7301148183883146215' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7301148183883146215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7301148183883146215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/08/mereka-adalah-obat-saya.html' title='“Mereka Adalah Obat Saya.”'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-5644856632331118883</id><published>2009-07-22T00:22:00.000-07:00</published><updated>2010-08-26T08:36:38.866-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journalism'/><title type='text'>Ugo, Si Pemuja Kuda</title><content type='html'>Oleh: Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore di Kersan, Bantul, Yogyakarta. Tepat di sebuah sudut jalan, berdiri bangunan sederhana yang difungsikan sebagai kandang kuda. Di tengahnya ada arena. Seorang pria berdiri sibuk melatih seekor kuda. Silver Surfer. “Trot, trot..” kata pria itu memberi perintah. Tak ada tanggapan dari Silver Surfer. Ia hanya diam. Sesekali cambukan menjadi ancaman latihannya. Namun ia hanya berlari kecil lalu mengangkat kaki belakangnya seolah ingin berontak. Silver Surfer diam. Menghadap ke jalan dengan perkasa. Semakin kaku dan tak ingin berlari. Mundur pun ia enggan. Pria tadi kemudian memaksa, mendorong lalu akhirnya menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugo Untoro yang sedari tadi memperhatikan dari luar, kini memasuki arena. Hari itu ia melatih Silver Surfer, salah satu kuda kesayangannya. Selain Silver Surfer, ia masih memiliki tiga kuda. Ia kemudian mengambil tali yang mengikat Silver Surfer lalu mengangkat dan memainkannya ke atas, ke bawah, samping kiri dan kanan. ”Trot.., Trot..,” perintahnya. Sebatang rokok masih menempel di bibirnya, mengeluarkan kepulan asap. Ia tampak serius. Perlahan-lahan Silver Surfer mau berlari dan akhirnya mengelilingi arena. Ugo keluar dari arena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat tidur kayu. Dispenser. Foto-foto Ugo menunggang kuda. Penghargaan Silver Surfer. Ada satu kamar dan dapur. Sebuah rumah sederhana terletak di sebelah kiri arena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugo duduk di tempat tidur kayu. Menghisap rokok ditemani sebotol bir. Masih memperhatikan kuda-kudanya. Silver Surfer sedang berlatih dan tiga lainnya dibersihkan. Berkunjung di kandang miliknya adalah rutinitasnya sehari-hari apalagi jarak kandangnya tak jauh dari rumahnya. Ia cukup berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugo meluruskan badannya sambil memegang punggung. Lalu menghembuskan nafas. Matanya terlihat lelah. Merah. Pengaruh alkohol mulai terasa. Ia masih memperhatikan kuda-kudanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UGO adalah seorang pemuja kuda. Ia mengenal segala seluk beluk kuda. Dimulai dari sejarah kuda yang mengikuti sejarah manusia. Ia tidak hanya memelihara kuda sebagai bentuk kesenangannya terhadap binatang ini. Tapi, ia membaca semua pengetahuan tentang kuda dan memahami literaturnya. Kuda adalah binatang yang setia, patuh dan berguna. Kuda sahabat manusia. Simbol yang membawa kecantikan pada wanita dan keperkasaan pada pria. Menurut persepsi Ugo, kuda mampu membawa kita menjadikannya patokan memahami realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku berpikir bahwa kuda adalah ciptaan manusia, bisa ditundukkan,” ujar Ugo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebatang rokok ia bakar. Lalu dihisap dalam-dalam. Kepulan asap keluar dari mulutnya. Matanya memandang Silver Surfer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku dan kudaku seperti ada ikatan. Secara personal aku anggap kami saling melayani. Aku selalu berusaha mengetahui kuda bukan dari fisiknya, tapi dengan hati.” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai tertarik dengan kuda sejak enam tahun yang lalu. Kuda pertamanya bernama Basuki Abdullah. Ia membelinya seharga 4,5 juta rupiah dari tukang andong di Imogiri. Waktu itu ia belum banyak tahu tentang kuda. Kala itu, seorang pria mendekati Ugo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ngapain kamu pelihara kuda itu?” kata pria itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kuda itu tidak sehat, aku punya kuda bagus,” tambah orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugo terjebak oleh kata-kata pria tersebut. Terpaksa ia tukar. Beberapa lama kemudian, ia sadar bahwa ia telah ditipu. Dibodoh-bodohi. Basuki Abdullah adalah kuda yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejadian itu, ia belajar tentang kuda. Mencari tahu segala informasi yang berkaitan dengan kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2005, seekor kudanya mati dalam pacuan kuda. Namanya Badai Lembut. Saat di arena, Badai Lembut jatuh. Ugo panik. Meski ia tahu bahwa itu adalah resiko pacuan kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sebelum Badai Lembut bertanding, Ugo duduk di sebuah ruangan dalam rumahnya sambil menggambar sketsa di sebuah buku tulis. Imajinasinya memberi Ugo petunjuk kepada penanya menggambar keperkasaan Badai Lembut. Lalu ia membayangkan jokinya kemudian menggabungkannya bersama Badai Lembut dalam satu kertas. Jokinya bernama Jumadi. Ia kemudian melanjutkan dengan menggambar kuda yang akan menjadi lawan Badai Lembut. Wijaya. Semua bersatu menjadi sketsa sederhana malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, pacuan kuda di mulai. Badai Lembut jatuh bersama Jumadi ketika nyaris mencapai garis finish. Disusul Wijaya. Ugo panik mendengar ringkik kudanya. Badai Lembut, Wijaya dan Jumadi tewas dalam kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mira Utami, nama seekor kuda. Teman Ugo, pemilik hewan itu, meminta Mira Utami menjadi obyek lukisannya. Ugo menyetujui. Ia kemudian dengan serius melukis kuda Mira. Selesai. Beberapa lama kemudian ia mendengar kabar bahwa Mira Utami mati. Ugo tak mau melukis kuda orang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkik Badai Lembut menjadi inspirasinya berkarya. Derap kaki Badai Lembut yang lincah memberi semangat untuk lebih memahami kuda meski kematiannya masih menjadi mimpi buruk bagi Ugo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak hanya sekedar melukis atau mambuat karya instalasi tentang kuda. Tapi, melakukan riset mulai dari sejarah dan anatomi kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Maret 2007, karya seni lukis dan instalasi Ugo Untoro dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta. Poem of Blood. Materi utama karyanya menggunakan kulit kuda dan bangkainya. Sebuah karya yang terkesan horor. Pada masing-masing bagian tubuh kuda diberikan identitas atau tanda dari besi panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugo menciptakan Poem of Blood seolah menceritakan nasib kuda. Ia menggantung kulit kuda di atas besi lalu ia beri judul ”Menjemur Sejarah”. Ia juga meletakkan bangkai kuda yang teronggok di atas pasir yang penuh dengan jejak kuda dalam sebuah arena. Tampak mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuda memberinya semangat dan pemahaman yang tidak sama dengan yang dimiliki orang lain. Ia memahami kuda secara klise dan personal. Kuda tidak hanya perkasa tapi adalah saksi sejarah. Sejak dulu, manusia tak pernah memilih Zebra, Jepara atau binatang lain sebagai alat tunggang. Tapi, mereka memilih kuda. Memahami dan saling melayani. Kuda tidak hanya untuk tunggangan atau alat transportasi baginya. Namun, lebih kepada sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok keperkasaan dan romantis yang ia rasakan dari seekor kuda juga dipengaruhi dari kegemarannya membaca komik dan menonton film. Pendekar dan kuda. Penuh petualangan. ”Pokoknya romantis banget gitu loh..” katanya meyakinkan. Ia bahkan tak segan untuk menunggangi kudanya berjalan-jalan keliling kampung atau ke tempat yang ramai sambil bergaya koboi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASA kecil Ugo berlalu dengan kesederhanaan. Ayahnya adalah seorang guru Sekolah Dasar. Ia lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 28 Juni 1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugo kecil tergolong anak yang nakal. Ia dan adik laki-lakinya senang menggambar. Lantai rumahnya terbuat dari semen dan berwarna agak hitam. Mereka menggambar di lantai. Setiap hari ibunya harus mengepel setelah mereka membuat lantai kotor dengan coretan. Sehari bisa sampai berkali-kali. Jika ibunya lelah, ia terpaksa membiarkan lantai rumahnya penuh dengan gambar karya anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak hanya menggambar. Ugo senang baca komik. Nonton kartun. Membuat wayang. Layang-layang. Boneka. Ikut gerobak sapi. Bermain hujan. Dan bolos sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Ugo juga senang membuat wayang dari kardus. Ia kadang-kadang memberikan hadiah wayang kepada anaknya. Bahkan jika tidak diberi, Ugo tidak ingin masuk sekolah. Sejak kecil, ayahnya sudah memberinya kebebasan membaca komik dan menonton film kartun yang ia senangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti anak-anak pada umumnya, cita-citanya ingin menjadi dokter atau insinyur. Saat di Sekolah Dasar. Ugo menjadi murid ayahnya sendiri dalam mata pelajaran matematika. Ia benci matematika. Ia selalu bolos. Lalu ikut gerobak sapi tetangganya. Hingga di SMU pun, ia tetap saja suka bolos sekolah.Suatu hari gurunya bosan memperingatinya untuk tidak bolos sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pokoknya kamu harus belajar. Harus masuk kelas. Tidak boleh bolos. Kalau kamu masuk, aku beri kamu nilai enam,” kata gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugo pun tak lagi membolos. Ia masuk ke kelas tapi tetap tak belajar. Hanya duduk dan menggambar gurunya yang sedang mengajar. Saat ijazah diterima, ia langsung memeriksa nilai yang dijanjikan oleh gurunya tersebut. Hasilnya, tetap saja nilai lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas sekolah menengah, Ugo bingung dengan cita-cita. Ia bahkan tak memilikinya. Tak ada yang menarik menurutnya. Ia memutuskan menganggur selama satu tahun sambil terus memikirkan masa depannya. Yang terbersit saat itu hanya ingin menggambar. Ia juga tidak mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPT) Nasional seperti banyak pelajar yang baru saja menyelesaikan sekolah menengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Ugo duduk di sebuah kursi dalam teras rumahnya. Santai, pikirnya. Sebuah koran jatuh tepat di belakang punggungnya. Ia heran. Yang melempar koran ternyata ayahnya, tanpa suara. Hanya lewat saja. Ia membaca halaman yang sudah sengaja dibuka oleh ayahnya. Isinya adalah iklan pendaftaran mahasiswa baru di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1988, Ugo tiba di Yogyakarta setelah mengetahui dirinya lulus di ASRI. Dia pun mulai menjalani awal-awal kuliahnya. Meski ia tetap harus dipertemukan lagi dengan mata pelajaran teori pada semester awal. Lagi-lagi ia bolos. Bertemu dengan teman barunya yang sama-sama tak suka pelajaran pada semester awal. Mata kuliah dasar umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Woi, tinggal wae. Udah ditinggal saja. Nggak usah masuk.” kata teman-temannya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-kelamaan Ugo menikmati masa ia menjadi mahasiswa.Suasana kampus yang terletak di Gampingan membuatnya betah berlama-lama di kampus. Sejuk. Asri. ”Seperti rumah sendiri,” pikirnya. Tidak ada senioritas di sana. Ugo mulai sering berkumpul bersama teman-temannya. Main. Bolos. Minum alkohol. Dan menyelesaikan masalah sama-sama. Dosennya pun seperti teman. Jika tak bisa bayar uang semester, bisa pinjam pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1995. Ia mendengar kabar bahwa kampusnya akan pindah ke daerah Bantul dan berganti nama menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Ia khawatir. Kuliahnya belum kelar. Sedang teman-teman seangkatannya sudah selesai. Dengan cepat, ia menyelesaikan tugas akhirnya. Selesai dan mendapat gelar sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau ASRI gak pindah, aku mungkin akan tetap di sana. Jadi mahasiswa terus,” kata Ugo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugo adalah pelukis yang sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan kuliahnya ia memutuskan menikah dengan Trisni Rahayu. Wanita yang telah ia pacari selama dua tahun. Usianya jauh lebih tua dari Ugo, terpaut 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah menjadi pilihan Ugo. Ia ingin membuktikan kepada dirinya untuk lebih bertanggung jawab. Ia melamar dengan modal nekat menghadap orang tua Yayuk, seorang anggota Angkatan Laut. Sendirian dan dalam keadaan mabuk. Tak heran, jika ia mendapat suara gertak dari ayah Yayuk. Awalnya, ia tak mendapat restu karena berbeda agama. Ugo, islam dan Yayuk, katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenekatan membuahkan hasil. Pernikahan dilakukan di Purbalingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak semata wayangnya, Tanah Liat, juga banyak mempengaruhi karya-karya, baik itu lukisan atau puisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI Yogyakarta, Ugo menghabiskan waktu di Jalan Malioboro. Di sanalah ia mengerti realita hidup. Setiap hari ia berkunjung ke sana. Ia bergaul dengan siapa saja, hingga mencari uang. Saat itu ia kembali bingung, ingin menjadi penulis atau pelukis. Ia senang menulis puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan Malioboro, ia menghasilkan uang dengan menjadi pelukis potret. Bayarannya lumayan untuk kebutuhannya sehari-hari. Selain melukis, Ugo dan seorang temannya juga menjual barang dagangan seperti souvenir dan gelang manik-manik di jalan Mallioboro. Kadang-kadang jika di sana tidak laku, maka ia akan pindah sambil membawa dagangannya ke jalan Solo. Dagangannya juga tidak laku. Ia menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sabar, mas. Sabar. Orang dagang itu harus sabar.” kata seorang temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, ora iso aku. Ora iso.” Kata Ugo, menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali melukis demi mendapatkan uang. Ia sadar bahwa gaji yang didapatkan ayahnya sebagai seorang guru tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Apalagi jika harus membeli perlengkapan mengikuti praktek melukis di kampusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UGO mengawali karir melukisnya saat kuliah di ASRI. Berbagai karyanya muncul dengan gaya corat-coret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya pertamanya selama ia kuliah membawa Ugo Untoro pada pameran pertamanya bertajuk ”corat-coret 91-95”.&lt;br /&gt;Melukis kemudian menjadi pilihan hidupnya. Ia menemukan kenikmatan melukis. Dalam katalog pameran Corat-coret 91-95. Ugo menulis:&lt;br /&gt;“Tak perlu lagi saya mengejar bentuk, sebab sudah ada David, Rembrandt, Vermeer, Cezanne ataupun Basoeki Abdullah. Tak perlu lagi saya mengejar warna, sebab sudah ada Delacroix, Manet, Monet atau Seurat. Tak perlu lagi saya mengejar garis, sebab sudah ada Durer, Matisse, Miro ataupun Oesman Effendi. Tak perlu lagi saya mengejar isi, sebab sudah ada Van Gogh, Gauguin, Dali ataupun Rusli dan Amang Rahman. Belum lagi keterpukauan akan para jenial seperti Michelangelo, Da Vinci, Picasso, Kandinsky, Mondrian dan Paul Klee.”&lt;br /&gt;Pada tahun 1998, Ugo memenangkan Lomba Lukis Nasional yang diselenggarakan Yayasan Seni Rupa Indonesia dengan promotor Phillip Morris. ”Huruf-huruf Baru”, judul karyanya berhasil masuk dalam nominasi. Dalam karyanya, ia membagi gambar dengan kotak-kotak yang berisi simbol kehidupan baru. Kertas rokok menjadi media yang digunakan menggambar. Menurut Ugo, yang dikutip Bernas (22/10), ”Lukisan yang diikutkan lomba ini saya anggap puncak karya corat-coret karna telah banyak yang menggunakan gaya ini.”&lt;br /&gt;Padahal awalnya, gaya corat-coret yang ia tekuni selama bertahun-tahun kadang ditertawakan oleh teman-teman dan dosen di kampusnya. Ia tetap melukis hingga orang-orang yang tadinya menertawai akhirnya menerima. Bahkan ada yang mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meninggalkan gaya corat-coretnya. Ugo tak ingin punya style dalam menggambarkan karya-karyanya. Tak ingin dicap pelukis dekoratif. Ia tidak terikat oleh teknik atau ’isme’ yang berlaku dalam ilmu seni rupa. ”Silahkan saja orang menggunakan istilah itu, selama ia tetap konsisten. Tapi untuk aku sendiri, aku menolak dan tidak suka istilah itu.” tambahnya. Ugo menggunakan bahasa dan caranya sendiri dalam melukis apa yang ada dipikirannya atau batinnya saat itu dan dituangkan dalam kanvas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melukis adalah kejutan. Ugo kadang tak bisa menebak hasil lukisannya akan seperti apa meski telah merencanakan objeknya. ”Sama ketika orang memancing. Tak tahu apakah ia akan mendapat ikan yang besar atau kecil. Hasilnya adalah kejutan. Menargetkan sesuatu yang belum kita tahu.” kata Ugo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1998, Ugo membeli sebidang tanah di kawasan Kersan untuk membangun sebuah rumah yang akan ia huni bersama istri dan anak semata wayangnya. Ia berharap agar segera pindah dari rumah kontrakannya karena tak nyaman baginya untuk bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akhirnya pindah ke rumah barunya, tapi tidak untuk dihuni melainkan sebagai studio. Lama-kelamaan teman-teman Ugo juga sering berkumpul di sana. Ada yang melukis atau sekedar kumpul-kumpul hingga mabuk-mabukan. Pada akhirnya, ia tak bisa bekerja di sana lagi. Hingga seorang temannya menyarankan agar studionya dijadikan tempat pameran. Ugo setuju dan ia kembali bekerja di rumah kontrakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas studio Ugo pun berubah menjadi tempat pameran bernama Museum dan Tanah Liat. Keinginan Ugo melihat seniman muda terus berkarya membuatnya harus merelakan studio miliknya dijadikan museum. Disewa atau tidak, bukan masalah baginya.&lt;br /&gt;”Aku ingin melihat para seniman muda terus berkarya. Sekali mengayunkan pedang, ya sudah. Apa yang terjadi, terjadilah. Menang atau kalah. Itu pilihan kita.” pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007, Ugo dinobatkan sebagai salah satu tokoh seni versi majalah TEMPO melalui karyanya Poem of Blood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak peduli harus ikut bahasa atau konsep apa, aku punya bahasa, kekhasan dan sudut pandang sendiri untuk mengungkapkan keindahanku,” kata Ugo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak peduli dengan istilah professional, ia berkarya tanpa berpikir ingin menjadi siapa atau mendapatkan gelar apapun. Bahkan untuk predikat maestro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang terpenting adalah aku tetap berkarya. Selesai atau tidak, aku merasa melukis adalah tugasku dan itu full kulakukan.” yakinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ps: Tulisan ini pertama kali dipublikasikan oleh http://www.panyingkul.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-5644856632331118883?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/5644856632331118883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=5644856632331118883' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5644856632331118883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5644856632331118883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/07/ugo-si-pemuja-kuda.html' title='Ugo, Si Pemuja Kuda'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-8466013728769266939</id><published>2009-02-08T03:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T06:07:37.639-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Samsara'/><title type='text'>Aborsi VS Becak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;By: Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kelima Inna berada di Pare. Kami berdua menyewa kamar di Sanjaya Kos Putri. Untuk memanfaatkan waktu, kami juga mengadakan diskusi di kos ini. Pesertanya semua perempuan. Awalnya, rencana kami diskusi diadakan di lantai dasar tempat di mana anak kos biasa menerima tamu, di ruang nonton. Tapi karena hujan , kami terpaksa mengadakan diskusi dalam kamar Inna di lantai 2. Terbayang betapa sempitnya di dalam ruangan 3 x 4 meter, yang di dalamnya ada lemari dua pintu dan tiga tempat tidur. Kami sempat bingung bagaimana mengakalinya.&lt;br /&gt;Kami terpaksa harus menggeser dua tempat tidur ke satu sisi dan menurunkan kasur busanya untuk dijadikan tempat duduk peserta. Lumayan nyaman. Walau aku dan Inna harus duduk di lantai yang dingin karena hujan seharian.&lt;br /&gt;Diskusi kali ini membuat kami sedikit khawatir karena salah satu peserta hamil tujuh bulan. Kami sempat merasa takut terjadi sesuatu setelah mendengar Inna memaparkan fakta-fakta mengenai aborsi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Diskusi dimulai pukul 20।09 Wib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 Januari 2009, sekitar pukul 16।00 Wib. Diskusi juga kami lakukan di Asset (Asociation of Sulawesi Students) mengenai tema yang sama. Asset adalah sebuah perkumpulan anak Sulawesi yang belajar Bahasa Inggris di Pare. Antusias yang menyenangkan karena jumlah peserta yang cukup banyak. Mayoritas peserta laki-laki sekitar 20 orang, sedang perempuan hanya enam orang. Kami diserang berbagai macam pertanyaan dari banyak peserta laki-laki. Bahkan berebut. Jumran, ketua Asset menjadi moderator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 18.30 Wib, aku dan Inna baru saja selesai makan malam menu nasi goreng di sebuah warung bernama Empat Mata. Nasi goreng yang enak yang akhirnya bisa kami nikmati setelah tiga hari kami idam-idamkan. Makan selesai, aku menunggu Inna menghabiskan rokoknya lalu menuju ke Oxford, salah satu lembaga kursus untuk mengadakan diskusi mengenai aborsi.&lt;br /&gt;Dua sepeda onthel tua membawa kami menyusuri Jalan Anyelir. Tiba-tiba hujan, kami masih tak peduli. Semakin keras.&lt;br /&gt;“Mbak, hujannya deras. Singgah dulu, laptopmu basah.” teriakku ke Inna.&lt;br /&gt;Inna membelokkan sepedanya ke kanan menuju ke Expert Camp, tempat pertama kami melakukan diskusi yang sama. Kami menunggu hujan reda namun malah semakin deras. Kami memutuskan menuju ke Oxford dengan satu sepeda saja dan meminjam payung pada Ifa, seorang teman yang tinggal di Expert. Ternyata sulit. Ifa menyarankan agar kami jalan kaki saja. Dengan terpaksa sepeda kami titip dan meminjam dua payung. Angin sangat kencang. Kami meminta plastik, Ifa memberi kami tiga. Satu untuk membungkus tas dan dua lagi untuk membungkus kepala kami.&lt;br /&gt;Kami siap berangkat. Payung terbuka lebar siap melindungi kami. Celana kami gulung hingga lutut. Lalu berjalan di antara hujan. Petir terasa mengabadikan perjalanan kami bak cahaya dari sebuah kamera. Tiba-tiba jalan menjadi sangat gelap, lampu mati. Hujan makin deras, angin kencang menyambar. Lumayan mengerikan, aku tidak suka gelap apalagi karena kami harus melewati sebuah pohon bambu yang besar. Ketakutanku terobati dengan tawa.&lt;br /&gt;Pakaian kami sudah mulai basah. Dingin terasa menyentuh tulang. Akhirnya kami tiba di Jalan besar, Brawijaya. Oxford sudah dekat. Kami menyeberang jalan, melewati sebuah warung makan. Banyak orang berlindung dari hujan. Aku sengaja melewati jalan beraspal yang digenangi air untuk mencuci kaki. Sebuah angkutan umum menuju ke arahku dengan kecepatan tinggi, aku segera naik ke trotoar. Mobil menginjak genangan air dan membasahi baju, celana hingga wajahku. Aku dan Inna teriak dengan jengkel. Setelah itu tertawa.&lt;br /&gt;Kami tiba di Oxford yang tampak gelap. Lampu masih mati. Aris menyambut kami dan mempersilahkan masuk. Aku dan Inna sedikit segan masuk karena dalam keadaan kotor. Baju dan celanaku basah, wajahku sedikit kotor akibat cipratan dari genangan air tadi. Inna terlihat menurunkan gulungan celananya lalu mengeluarkan materi dari tas yang basah walau telah dibungkus plastik. Semua rapi, menurut kami. Lalu masuk ke ruang utama di Oxford.&lt;br /&gt;Ruangan itu tidak besar. Kami duduk di lantai yang dialasi karpet dua warna. Sisi kanan merah dan sisi kiri biru. Sebuah meja dengan kaki ukuran 30 centimeter berada di tengah. Di tiap sudut meja diletakkan lilin dengan api kecil menerangi semangat kami.&lt;br /&gt;Kami duduk mengelilingi ruangan। Peserta nampak kedinginan bahkan seorang peserta wanita menutup sekujur tubuhnya dengan selimut tebal. Aris menjadi moderator malam itu, ia memperkenalkan kami. Sangat menakjubkan, terasa beda kali ini tepuk tangan mengawali diskusi walau aku dan Inna dalam keadaan basah dan kumal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari aku dan Inna kembali memulai pekerjaan. Kami menuju ke sebuah camp putri untuk menawarkan proposal diskusi. Tepatnya, Cherry Camp. Saat itu kami menemui Miss Atin, Pembina di camp tersebut. Kami ngobrol santai dengannya di ruang depan. Sebuah televisi menyala menayangkan program sinetron dan ditonton oleh seorang wanita sambil menyeterika. Ia tepat berada di sebelah kanan saya.&lt;br /&gt;Miss Atin menyambut hangat tawaran diskusi kami, ia bersedia mengumpulkan peserta camp। Kami menyepakati diskusi pada esok malam, 28 Januari 2009 jam 18.30 Wib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 Januari 2009, diskusi ke enam kami lakukan di sebuah lembaga kursus, Global-E. Kami mengadakan diskusi di ruangan terbuka bagian belakang Global-E. Pesertanya sangat banyak. Sekitar 30 orang. Peserta kali ini adalah murid dalam kelas Speaking yang diajar oleh Mr. Toto. Dia yang memperkenalkan Samsara ke peserta.&lt;br /&gt;Awalnya diskusi dimulai dengan menggunakan Bahasa Inggris. Namun karena banyak yang kesulitan bertanya, lama-kelamaan berubah menjadi diskusi Bahasa Indonesia. Mr. Toto pun akhirnya mengijinkan pelajar-pelajarnya menggunakan Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;“Everybody can speak. You can speak in Bahasa.”&lt;br /&gt;“Really?” jawab seorang peserta.&lt;br /&gt;“Yeah, of course. I give you special today.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba diskusi menjadi ramai dengan sorak।&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya aku dan Inna memutuskan istirahat dari pagi hingga sore. Kami hanya menunggu waktu untuk diskusi terakhir di Cherry Camp pukul 19.00 Wib. Hujan tak henti-hentinya sepanjang hari itu. Hingga petang muncul, gerimis masih mengiringi. Kapit datang ke kos pukul 18.30, bajunya sedikit basah. Ia kemudian meng-copy materi untuk persiapan diskusi malam ini. Ia tidak ikut dengan kami ke Cherry, ia harus ke Kediri membawa proposal yang diminta oleh seorang dosen di Universitas Kadiri untuk mengadakan seminar bersama Samsara.&lt;br /&gt;Aku dan Inna terlambat ke Cherry karena menunggu hujan reda। Kami berangkat saat gerimis masih ada. Tiba di Cherry peserta terlihat menunggu kami dengan santai. Semua peserta perempuan sekitar 13 orang. Tak ada moderator. Diskusi malam itu nampak sepi. Aku dan Inna mencoba pertahankan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Inna sedikit lega karena sosialisasi dan edukasi selesai. Pikir kami. Aku membuat laporan sedang Inna membuat sebuah tulisan mengenai pengalaman kami selama di Pare. Tiba-tiba sebuah pesan diterima Inna di handphonenya. Sms itu dari Direktur Smart (salah satu lembaga kursus), Miss Uun. Ia meminta Samsara mengisi diskusi di Story Camp 1 dan 4 malam ini, 29 Januari 2009. Inna menanyakan kesiapanku. Aku dengan senang hati menyetujui. Aku menghubungi Kapit, menyuruh ia datang lebih cepat untuk meng-copy materi yang sudah habis.&lt;br /&gt;Pukul 18.00, aku dan Inna berangkat. Kami memilih jalan kaki karena hujan dan harus menggunakan payung. Sebelumnya kami singgah di warung tepat di sebelah Story 1, kami memesan nasi goreng satu porsi dan segelas teh hangat. Kapit menyusul kami. Setelah makan, kami masih duduk sambil menyiapkan materi. Tiba-tiba seorang pria mengintip dari arah Story 1.&lt;br /&gt;“Samsara yah?” katanya.&lt;br /&gt;“Iya pak.” jawab Inna.&lt;br /&gt;“Udah ditunggu dari tadi.”&lt;br /&gt;“Oh, iya pak. Kami sedang menyiapkan materi dulu, setelah itu kami masuk.”&lt;br /&gt;Kami masuk ke Story 1, sebuah asrama putri khusus English Area. Bangunan yang sangat bagus. Ruang diskusi sangat luas, pesertanya pun sangat banyak. Mereka kebanyakan adalah remaja yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Umum. Suasana sangat ramai. Mereka tampak senang dan antusias dengan adanya diskusi ini. Pertanyaan satu per satu muncul. Teriakan, istighfar, ekspresi meringis hingga ingin muntah dan bersendawa meramaikan diskusi saat seorang peserta bertanya mengenai metode dan proses aborsi.&lt;br /&gt;“Stop miss,” pinta seorang peserta ke Inna. Ia mengelus perutnya. Gigi atas dan bawahnya bersatu. Lalu menutup telinga.&lt;br /&gt;“Aku aja ditabrak becak, pemulihannya lama. Apalagi aborsi?” canda seorang peserta mencairkan suasana tegang.&lt;br /&gt;Diskusi selesai 20.30. Miss Uun mengajak kami langsung menuju ke Story 4, camp selanjutnya di mana kami akan melakukan diskusi terakhir hari ini. Pesertanya tidak banyak, semua laki-laki. Diskusi dibuka oleh Miss Uun. Di Story 4 kami lebih banyak membahas mengenai aborsi dan lelaki. Kapit mengawali diskusi sebelum Inna. Sedang aku menjelaskan mengenai Post Abortion Syndrome.&lt;br /&gt;Walau peserta hanya 12 orang namun antusias dan rasa ingin tahu mereka yang sangat besar membuat kami bersemangat। Suasana diskusi yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami selalu membuka diskusi dengan memperkenalkan Samsara. Lalu dilanjutkan dengan sedikit prolog mengenai data aborsi di Indonesia. Mendengar angka aborsi yang tinggi di Indonesia, banyak peserta yang tidak menyangka dan tak terpikirkan.&lt;br /&gt;“Jumlah aborsi di Indonesia sebanyak 2.600.000 pada tahun 2006. Jika dibagi lagi maka ada 7123 kasus per harinya dengan asumsi 5-6 kasus per detik.”&lt;br /&gt;“Astaghfirullah,”&lt;br /&gt;“Wah, banyak juga yah?”&lt;br /&gt;“Berarti sekarang ada yang aborsi dong?”&lt;br /&gt;Kami selalu mendapatkan statement seperti itu saat memaparkan angka aborsi.&lt;br /&gt;Inna melanjutkan dengan materinya. Inna selalu mengawali dengan mencari tahu sejauh mana pengetahuan peserta mengenai aborsi. Para peserta malam itu masing-masing mengeluarkan pendapat. Dosa, tidak bertanggung jawab, menyakitkan, tidak bermoral, tidak mendapat pasangan yang baik, bukan wanita baik-baik, tidak mendapat pengetahuan yang benar, pengguguran yang sakit, pembunuhan, membuang bayi, dan pemaksaan kelahiran. Pendapat-pendapat ini sering muncul di semua tempat dimana kami melakukan diskusi.&lt;br /&gt;Ketika aborsi menjadi bahan pembicaraan, anggapan yang muncul kebanyakan hanya mengingat aborsi dari segi medis, hukum dan agama. Tanpa kita sadari bahwa aborsi juga memiliki dampak terhadap mental yang bisa saja terjadi pada perempuan atau lelaki, pasangan dan keluarga paska terjadinya aborsi. Gangguan mental tersebut dikenal dengan Post Abortion Syndrome (PAS).&lt;br /&gt;Suatu malam, setelah diskusi. Aku menerima sebuah sms dari salah seorang peserta diskusi. “Mbak, berapa lama biasanya PAS terjadi setelah aborsi?”&lt;br /&gt;PAS bisa terjadi beberapa saat setelah aborsi dan bisa juga terjadi bertahun-tahun setelah aborsi. Itu tergantung bagaimana tingkat traumatis seseorang. Aborsi yang menyakitkan, adanya infeksi paska aborsi, paksaan melakukan aborsi dan sistem nilai dan kepercayaan yang dianut seseorang adalah faktor-faktor yang menyebabkan aborsi dapat menjadi traumatis.&lt;br /&gt;Aborsi yang menyakitkan banyak terjadi pada tindakan aborsi yang tidak aman atau dilakukan dengan standar medis yang tidak tepat. Misalnya oleh tenaga medis illegal dan tindakan aborsi secara tradisional. Biasanya dengan menggunakan alat atau benda tajam, obat-obatan hingga melakukan tekanan dan pemijatan pada bagian abdomen dengan teknik yang justru dapat menimbulkan efek yang lebih menyakitkan pada kesehatan fisik dan mental seorang perempuan.&lt;br /&gt;Dari segi medis, aborsi yang tidak tuntas dapat menyebabkan infeksi pada rahim. Beberapa efek pada kesehatan bisa muncul pasca aborsi yang tidak tuntas tersebut. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Brian Clowes, Facts of Life disebutkan beberapa resiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi perempuan pada saat aborsi dan paska aborsi.&lt;br /&gt;1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat.&lt;br /&gt;2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.&lt;br /&gt;3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius di sekitar kandungan.&lt;br /&gt;4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation).&lt;br /&gt;5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.&lt;br /&gt;6. Kanker payudara (terjadi karena ketidakseimbangan hormone estrogen pada wanita).&lt;br /&gt;7. Kanker indung telur (Ovarium cancer).&lt;br /&gt;8. Kanker leher rahim (Cervical cancer).&lt;br /&gt;9. Kanker hati (Liver cancer).&lt;br /&gt;10. Kelainan pada ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada kehamilan selanjutnya.&lt;br /&gt;11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy).&lt;br /&gt;12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).&lt;br /&gt;13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).&lt;br /&gt;Trauma muncul biasanya disebabkan karena ketakutan seorang perempuan jika mengalami akibat yang bisa diderita apalagi jika aborsi yang mereka lakukan tidak tuntas. Namun bagi perempuan yang melakukan aborsi secara tradisional terkadang lebih memiliki efek mental yang lebih. Karena peluang mengalami infeksi lebih besar. Ini banyak dialami oleh remaja atau perempuan yang belum menikah. Mereka akan lebih merasa tertekan dengan ketakutan untuk mengontrol kesehatan rahim mereka.&lt;br /&gt;Bahkan beberapa kasus yang terjadi pada perempuan yang sedang mengalami PAS, tidak mempunyai keinginan untuk memeriksakan kesehatan mereka ke dokter. Ini biasa diakibatkan karena tingkat kepercayaan diri dan merasa tidak berharga menghantui pikiran mereka sendiri. Ini banyak dialami oleh perempuan yang melakukan aborsi karena paksaan dari pasangan dan orang tua mereka.&lt;br /&gt;Banyak sekali perempuan yang mengalami kehamilan terpaksa memilih aborsi karena paksaan. Mereka tidak punya kekuatan untuk mengatakan tidak dan menolak paksaan tersebut. Alasan paksaan dari seorang laki-laki biasanya disebabkan karena belum siap dari segi finansial dan takut pada orang tua mereka. Sedang alasan yang berasal dari paksan orang tua untuk mempertahankan image mereka karena malu pada masyarakat. Namun, jika ini kemudian dikaitkan dengan hukum maka hukuman terberat akan dijatuhkan pada perempuan sebagai pelaku aborsi.&lt;br /&gt;Ketakutan hidup dalam bayang-bayang penilaian masyarakat yang negatif karena mengalami kehamilan pra-nikah membuat seorang perempuan dan keluarga memutuskan untuk aborsi. Ini erat kaitannya dengan sistem nilai dan kepercayaan yang dianut seseorang. Agama dan moral menjadi tolak ukur banyak orang dalam menilai orang lain. Banyak peserta yang beranggapan bahwa orang yang melakukan aborsi tidak mendapatkan dua hal tersebut dengan cara yang tepat.&lt;br /&gt;Sejak kecil kita dididik untuk memiliki dan memahami dua hal tersebut. Apakah itu efektif, kembali kepada individu masing-masing. Bagaimana seseorang mengontrol diri tergantung bagaimana mekanisme pertahanan diri mereka. Pendidikan dalam keluarga akan sangat berperan penting dalam menjaga mekanisme pertahanan diri tersebut.&lt;br /&gt;Perempuan yang memegang sistem nilai dan kepercayaan dimana aborsi adalah suatu tindakan yang tidak dibenarkan, biasanya lebih rentan mengalami trauma. Aborsi bukanlah keputusan yang mudah. Diperlukan kesiapan fisik dan mental melakukannya.&lt;br /&gt;“Apa yang bisa kita lakukan untuk menekan angka aborsi?” tanya seorang peserta pada saat diskusi di Asset.&lt;br /&gt;Aborsi kerap diidentikkan menjadi masalah kaum perempuan saja. Asumsi itu masih banyak disimpan dalam memori masyarakat. Aborsi memang dilakukan dan dirasakan langsung oleh kaum perempuan, itu sudah tentu terjadi. Namun, timbulnya kehamilan melalui proses kerja sama intim antara laki-laki dan perempuan. Hal yang pertama adalah merubah asumsi itu, hingga muncul tanggung jawab bersama dan kesadaran bersama.&lt;br /&gt;Untuk menekan angka aborsi, dalam beberapa diskusi kami lebih banyak membahas akar permasalahan yang menyebabkan adanya kehamilan tidak diinginkan hingga menyebabkan aborsi.&lt;br /&gt;Kurangnya pendidikan seks untuk remaja. Banyak dari klien kami yang sudah melakukan aborsi mengakui bahwa mereka tidak tahu sama sekali mengenai pendidikan seks. Bagaimana menjaga dengan baik kesehatan reproduksi mereka dan sulit membuat keputusan menolak jika terjebak dalam ajakan berhubungan seksual.&lt;br /&gt;“Saya setuju jika pendidikan seks diberikan kepada setiap orang. Tapi, dengan adanya diskusi-diskusi seperti ini saya pikir akan terlihat seperti menakut-nakuti. Inikan cenderung akan membuat orang takut, bukan berpikir.” kata seorang peserta di Oxford.&lt;br /&gt;“Saya pikir ini bukan menakut-nakuti tapi kita lebih berbicara pada pendidikan resiko. Orang-orang harus sadar bahwa segala sesuatu yang dilakukan akan selalu ada resikonya.” sanggah Miss Uun, peserta diskusi.&lt;br /&gt;Selalu ada pilihan dalam hidup. Segala pilihan yang ada dihadapan kita, selalu diikuti oleh resiko. Kita selalu dididik mengenai apa yang baik dan apa yang salah. Tapi sangat jarang kita diberikan pengetahuan mengenai alasan mengapa hal itu salah atau benar sehingga resiko kadang terlupakan.&lt;br /&gt;Hasrat seksual tidak bisa dipungkiri ada dalam diri kita. Mengakui dan merasakannya adalah suatu hal yang normal. Semua tergantung pada pilihan anda mengendalikannya. Melakukan hubungan seks pra-nikah membutuhkan tanggung jawab besar. Melakukannya atau tidak adalah hak setiap orang. Pendidikan seks yang tepat dengan memasukkan informasi mengenai kesehatan reproduksi akan berguna dalam pembentukan sikap dan pengambilan keputusan. Khususnya kepada remaja, dengan adanya pendidikan seks akan membantu mereka dalam memilih informasi yang akurat dan tidak akurat sesuai dengan tatanan moral, apalagi jika dikaitkan dengan isu yang sensitif seperti seksualitas, aborsi dan kontrasepsi.&lt;br /&gt;Permasalahan yang juga muncul pada kehamilan tidak diinginkan karena tingkat penggunaan kontrasepsi yang rendah di Indonesia. Metode kontrasepsi digunakan untuk mencegah kehamilan. Bagi pasangan pra nikah, satu-satunya alat kontrasepsi yang bisa dengan mudah mereka dapatkan adalah kondom. Kondom adalah selaput karet/latex yang dipasang pada penis selama berhubungan seksual sehingga mencegah sperma bertemu dengan sel telur.&lt;br /&gt;Salah satu penyebab rendahnya pemakaian alat kontrasepsi terutama kondom karena adanya asumsi melegalkan hubungan seks. Hal tersebut erat kaitannya dengan rendahnya penggunaan kontrasepsi. Banyak pasangan yang malu untuk membeli kondom.&lt;br /&gt;Budaya kita tidak memberikan ruang bagi seorang perempuan menjadi seorang single mother. Ini dirasakan bagi perempuan yang hamil sebelum adanya ikatan pernikahan. Judgement dari masyarakat menjadi hal yang menakutkan daripada menyelamatkan janin mereka. Di beberapa negara dimana aborsi legal misalnya, sebagian besar perempuan memutuskan untuk melakukan aborsi dengan kesadaran bahwa itu adalah hak reproduksi mereka. Sedang di Indonesia, tidak. Banyak perempuan yang melakukan aborsi dengan alasan takut pada orang tua, malu atau bahkan dipaksa.&lt;br /&gt;Legal atau ilegalnya status hukum aborsi bisa saja bukan hal yang menentukan untuk menekan angka aborsi di Indonesia. Namun hanya akan mengubah aborsi yang tidak aman menjadi aman. Kita membutuhkan tindakan preventif. Samsara setuju bahwa pendidikan seks dengan dipaketkan dengan pendidikan resiko akan lebih bermanfaat sebagai suatu langkah awal.&lt;br /&gt;Kami sangat optimis bahwa perubahan akan muncul walau dengan mengadakan diskusi dalam lingkup yang kecil. Kedekatan personal terasa membantu dalam mengatasi dampak aborsi. Kepedulian terasa bersatu dengan kita pada saat-saat diskusi akan berakhir dengan beberapa tawaran dari peserta.&lt;br /&gt;“Apa yang harus kami lakukan untuk membantu memulihkan perempuan atau pasangan kami jika mengalami PAS?”&lt;br /&gt;Haru dan bahagia terasa mengelilingi hati kecil kami, Samsara Abortion Recovery. Terimakasih Pare.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-8466013728769266939?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/8466013728769266939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=8466013728769266939' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/8466013728769266939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/8466013728769266939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/02/terimakasih-pare.html' title='Aborsi VS Becak'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-2233082091101126373</id><published>2009-01-28T15:36:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T03:43:44.362-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Samsara'/><title type='text'>Bayi Jadi Tuyul?</title><content type='html'>By: Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah warung lesehan Pecel Pincuk Pare, Kediri. Kami kembali mengadakan diskusi yang kedua kalinya sebagai Program Sosialisasi dan Edukasi di SAMSARA. Selang satu hari setelah diskusi di sebuah asrama yang dihuni khusus wanita, Expert Camp. Tepatnya tanggal 22 Januari 2008, dalam diskusi kali ini kami mengundang salah satu lembaga kursus yaitu Access.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku menawari diskusi ini melalui telefon dan alhamdulillah Ramdan (General Manager Access) sangat menyambut baik penawaranku mewakili SAMSARA. Kami kemudian berjanji ketemu untuk menjelaskan lebih detail mengenai materi diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang muncul, materi dan kuisioner belum selesai dicopy. Aku dan Inna khawatir terlambat dan teman-teman dari Access malah datang lebih dulu dari kami. Kami segera menyelesaikan pekerjaan kami dan menuju kos dengan motor pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba tepat pukul 07.00 di kos. Kami hanya ganti baju lalu langsung ke Pecel Pincuk dengan kecepatan tinggi. Akhirnya tiba. Kami parkir sepeda tua sewaan di tempat yang sudah ditentukan lalu masuk dan memilih tempat duduk tepat di tengah. Belum ada satu pun teman-teman dari Access yang datang. Kami menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, aku curiga malam ini yang datang dari Access semuanya teacher, mana mereka minta diskusi Bahasa Inggris. Mampus dah..,” kataku ke Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Tik. Aku kok rada-rada grogi juga yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah mbak. Entar kita pakai bahasa Indonesia saja. Daripada ada kesalahan makna nantinya.” bujukku mencari selamat dunia akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, benar juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit lega. “Aman.” pikirku. Setidaknya malam ini aku tidak hanya menyelamatkan diriku dari ketidakcakapan berbahasa Inggris, tapi juga menyelamatkan Kapit yang juga akan hadir pada diskusi malam ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapit adalah salah satu anggota Samsara di Bidang Sosialisasi dan Edukasi. Malam ini ia dijadwalkan akan membuka diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela kami menunggu aku menyusun materi dan kuisioner untuk dibagi kepada peserta diskusi. Satu per satu mulai bermunculan. Mereka memilih tempat yang berbeda dengan kami dan memesan makanan. Aku dan Inna akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Sepertinya dugaanku mulai terbukti sedikit demi sedikit. Yang datang sebagian besar adalah tenaga pengajar dari Access.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapit datang dengan penampilan khasnya pakaian warna hitam. Nyaris tak terlihat. Ia langsung duduk di antara aku dan Inna. Aku mengeluarkan laptop dari tas Inna. Malam itu aku menjadi notulen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masih menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi dimulai pukul 19.53 Wib. Kapit membuka diskusi. Suasana menjadi hening dan serius. Ia memperkenalkan Samsara, lalu aku dan Inna. Ia kemudian berbicara sedikit mengenai aborsi, isu yang ada di sekitar kita namun tidak banyak yang ingin membicarakannya terbuka. Tak bisa kita pungkiri, itu memang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi selanjutnya mengenai aborsi secara garis besar dijelaskan oleh Inna. Ia mengawali dengan melanjutkan obrolan dari Kapit. Banyak yang tidak menyadari bahwa aborsi telah banyak terjadi tanpa sadar bahwa jumlah kasus aborsi di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Bahkan aborsi menyumbang 11 persen untuk Angka Kematian Ibu (AKI) dimana Indonesia memegang rekor tertinggi di ASEAN. Dan banyak yang beranggapan bahwa aborsi hanya masalah perempuan tanpa sadar bahwa lelaki juga bisa mengalami efek psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi yang tidak aman dan tidak memenuhi standar medis hingga kini masih menjadi pilihan paling banyak bagi perempuan yang belum menikah. Tapi aborsi dengan cara ini juga masih banyak digunakan oleh perempuan sudah menikah. Ini disebabkan karena status hukum aborsi di Indonesia masih ilegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa Inna selalu menanyakan kepada peserta pertanyaan yang sama mengenai aborsi. “Apa yang terlintas dalam kepala anda pertama kali mendengar aborsi?”&lt;br /&gt;“Saya belum pernah aborsi.” kata salah seorang peserta pria sambil tertawa. Peserta yang lain ikut tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menunggu jawaban selanjutnya, cukup lama kemudian muncul jawaban baru dari peserta pria lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang terlintas dalam pikiran saya, aborsi adalah perempuan dan remaja. Tapi apakah ada data yang menggambarkan seberapa besar porsi dilakukan oleh remaja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah sangat sering mendengar statement bahwa pelaku aborsi terbesar adalah seorang remaja. Namun jika melihat penelitian dari Yayasan Kesehatan Perempuan pada tahun 2003 menyebutkan bahwa 87 persen yang melakukan aborsi adalah ibu rumah tangga. Sedangkan 12 persen lainnya adalah remaja putri. Tidak hanya satu penelitian yang menunjukan bahwa sebagian besar pelaku aborsi terbesar di Indonesia adalah ibu rumah tangga. Tapi ini bisa jadi hanya data berbasis klinis. Lalu bagaimana dengan wanita yang melakukan aborsi diam-diam di tenaga media ilegal atau dukun? Bisa jadi pula jumlah 2.600.000 aborsi di Indonesia ini malah jauh lebih besar jika menambah jumlah angka yang tidak terjangkau. Misalnya pada beberapa kasus aborsi traadisional yang tidak dilakukan di tenaga medis ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna melanjutkan materinya mengenai proses aborsi yang dilakukan beberapa orang. Bagaimana aborsi tidak aman bisa lebih menyakitkan daripada melahirkan normal. Seorang peserta wanita yang hadir tiba-tiba menjerit dan berbalik arah seolah tak ingin mendengar Inna. Suasana menjadi sedikit tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi juga menjadi lahan para mafia aborsi yang banyak dilakukan oleh tenaga medis ilegal, bahkan banyak dilakukan oleh dokter dan bidan. Belum lagi oleh jaringan-jaringan tertentu yang menjual obat-obatan untuk aborsi dari tangan ke tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana makin tegang, sangat terlihat pada ekspresi tiga peserta wanita. Tiba-tiba muncul pertanyaan yang mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, benar gak sih soal mitos bayi yang diaborsi bisa jadi tuyul?” tanya Ramdan membuat candaan. Semuanya tertawa. “Nih, buat refreshing nih. Tegang semua soalnya.” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peserta pun sempat bertanya peran Samsara seperti apa dalam menangani persoalan aborsi ini. Kami selalu menerima pertanyaan yang sama dalam setiap diskusi dan selalu pula diawal diskusi kami menggambarkan visi Samsara untuk membantu memulihkan penderitaan seseorang pasca aborsi secara psikologis. Yang perlu digarisbawahi bahwa kami tidak mendukung aborsi. Kami sering menerima permintaan dari beberapa pasangan melalui email menanyakan lokasi aborsi yang aman. Kami lebih menyarankan untuk ke dokter dengan memberikan mereka pilihan dan gambaran resiko yang akan mereka terima dari setiap pilihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa terlihat tercengang. Beberapa juga bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hubungan dalam arti pasangan, jika dihadapkan permasalahan pasca aborsi. Bagaimana cara mengkonseling pasangan? Kebanyakan orang yang mengalami Post Abortion Syndrom adalah wanita namun bukan berarti lelaki tidak bisa mengalaminya. Ini juga menjadi materi menarik dalam diskusi malam itu. Ini merupakan pertanyaan dari seorang peserta pria. Lelaki harus lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan atau pasangannya. Mengalami PAS biasanya akan banyak air mata dan sangat menghabiskan energi. Kita sebaiknya lebih melihat pada akar permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya pasangan kita mengalami gelisah. Kita harus mencari tahu apa yang menyebabkan gelisah itu. Orang yang mengalami trauma cenderung ingin melupakannya, namun sebenarnya hal yang perlu kita lakukan adalah mengakui adanya sebuah permasalahan. Itu akan membantu memunculkan kesadaran dan kita akan lebih mudah memahami situasi pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Proses pemulihan lebih sulit dari proses pembikinan.” canda Ramdan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat jarang kita diajarkan untuk memahami emosi-emosi yang terekam dalam hidup. Kita malah cenderung berusaha untuk merasa kuat. Tidak ingin mengakui masalah hingga akhirnya tersimpan terus dalam alam bawah sadar kita dan mengakibatkan depresi berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dilakukan dalam pemulihan adalah adanya keinginan dan lingkungan yang mendukung. Walaupun laki-laki dan perempuan melakukan konseling atau pendampingan dalam jangka waktu lama tanpa ada komitmen untuk sembuh bisa saja gagal. Konselor bukan pemeran utama tapi hanya pemeran pembantu untuk memulihkan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk membuat orang percaya dengan kita biasanya membutuhkan rekomendasi dari medis.&lt;br /&gt;Apakah Samsara hingga hari ini telah bekerjasama dengan tim medis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menyadari bahwa bekerjasama dengan tim medis misalnya seorang dokter akan sangat mendukung gerakan Samsara walau kami lebih fokus pada psikologis. Namun, kami juga memikirkan seperti apa kami dapat memberikan kontribusi untuk menggadeng seorang dokter dalam organisasi kami sementara kami masih mengerjakan proyek idealis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yakinkan mereka untuk melakukan aborsi dengan baik.” pesan seorang peserta lagi.&lt;br /&gt;Inna tersenyum. Aku tidak tahu apa Kapit juga senyum, terlalu gelap untuk memastikannya. Yang pasti aku tidak tersenyum karena sibuk memperhatikan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa ada solusi dari pemerintah untuk memperkecil jumlah aborsi?” tanya peserta ke Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pemerintah saat ini hanya pada penekanan angka kehamilan dan penularan penyakit menular seks yakni memberikan kesadaran akan penggunaan alat kontrasepsi.&lt;br /&gt;Saat menulis ini aku tiba-tiba ingat pada International Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo, Mesir pada tahun 1994. Sebanyak 179 delegasi hadir dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh United Nation. Dalam pertemuan itu menyepakati visi 20 tahun ke depan yang berisi panduan nasional dan internasional keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pencegahan HIV/AIDS, pemberdayaan perempuan serta usaha pembangunan yang lain. Salah satu delegasi yang ikut menandatangani kesepakatan tersebut adalah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kesepakatan Kairo pada saat itu menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;All governments and relevant intergovernmental and non-governmental organizations are urged to strengthen their commitment to women health, to deal with the health impact of unsafe abortion as a major public health concern and reduce the recourse to abortion through expanded and improved family planning services. Prevention of unwanted pregnancies must always be given the highest priority and all attempts should be made to eliminate the need for abortion. Women who have unwanted pregnancies should have ready access to reliable information and compassionate counseling. Any measures or changes related to abortion within the health system can only be determined at the national or local level according to the national legislative process. In circumstances in which abortion is not against the law, such abortion should be safe. In all cases, women should have access to quality services for management of complications arising from abortion. Post-abortion counseling, education and family planning services should be offered promptly, which will also help to avoid repeat abortions.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh pemerintah dan organisasi lintas-departemen dan LSM, didorong untuk memperkuat komitmen pada kesehatan perempuan, untuk menyikapi dampak kesehatan atas aborsi yang tidak aman sebagai masalah kesehatan publik yang utama dan untuk menekan pengulangan aborsi melalui pelayanan perencanaan keluarga yang telah lebih dikembangkan dan diperbaiki. Pencegahan kehamilan yang tak diinginkan harus selalu menjadi prioritas tertinggi dan semua usaha harus dilaksanakan untuk melenyapkan kebutuhan akan aborsi. Perempuan yang mengalami kehamilan tak diinginkan harus memiliki akses yang siap terhadap informasi yang dapat diandalkan dan konseling yang manusiawi. Setiap tindakan dan perubahan yang berhubungan dengan aborsi di dalam sistem kesehatan hanya dapat ditentukan pada tingkat nasional atau lokal, tergantung dari proses legislatif nasional. Dalam segala kasus, perempuan harus punya akses untuk pelayanan yang berkualitas dalam manajemen terhadap komplikasi yang muncul dari aborsi. Konseling paska aborsi, pendidikan dan pelayanan perencanaan keluarga harus ditawarkan yang mana akan juga membantu menghindarkan pengulangan aborsi di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi merupakan bagian dari hak reproduksi dan kesehatan reproduksi seseorang jika memang itu perlu. Tapi aku tetap berpikir bahwa pemenuhan tetap harus sesuai dan diatur jelas. Pemberian jalan keluar untuk Kehamilan Tidak Diinginkan dan menekan aborsi tidak aman adalah kuncinya. Legal atau illegal aborsi dengan akses atau tanpa akses kontrolnya ada pada anda. Seperti pesan yang ditulis oleh seorang psikolog dari Amerika, Vincent Rue;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengguguran berakibat menyakitkan, tanpa memperhatikan seberapa besar kepercayaan religiusnya seorang perempuan atau bagaimana positif keyakinannya untuk membuat keputusan aborsi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentukan pilihan anda, jangan sampai apa yang anda korbankan lebih berharga dari harga yang harus anda bayar, Post Abortion Syndrome. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-2233082091101126373?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/2233082091101126373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=2233082091101126373' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2233082091101126373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2233082091101126373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/01/bayi-jadi-tuyul.html' title='Bayi Jadi Tuyul?'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-1086204743853917926</id><published>2009-01-24T10:42:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T01:01:47.875-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Samsara'/><title type='text'>“Why, Ough &amp; Allahu Akbar”</title><content type='html'>By: Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Januari 2009, pukul 18:59 Wib. Dalam sebuah ruangan berukuran 3 x 4 meter di Expert Camp, salah satu asrama untuk wanita yang terletak di Jalan Anyelir, Pare. Sebuah diskusi kecil akan segera di mulai. Malam itu agenda diskusi akan membahas seputar Kesehatan Reproduksi dan Aborsi. Mentor asrama, Ms. Vivin kemudian mempersilahkan kami untuk memulai diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini SAMSARA diwakili oleh dua orang anggota, Inna Hudaya (Managing Director &amp;amp; Konselor) dan Sartika Nasmar (Divisi Sosialisasi &amp;amp; Edukasi). Sebelum di mulai, aku membagikan 10 rangkap materi mengenai data aborsi dan efek secara fisik dan mental. Sedang Inna Hudaya menuju ke depan dan bersiap-siap memulai diskusi. Materi telah tersebar ke peserta program, sebagian dari mereka sedang membacanya. Inna Hudaya kemudian memperkenalkan SAMSARA sebagai sebuah organisasi non-profit untuk membantu pemulihan bagi orang-orang yang menderita akibat efek pasca-aborsi sekaligus memberi edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu peserta yang hadir sebanyak 20 orang. Pria delapan orang dan perempuan 12 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, kami ingin mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dapat kita share dalam diskusi mengenai kesehatan reproduksi dan aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan dimulai dengan melempar isu Kesehatan Reproduksi. Tak ada tanggapan. Entah. Kesehatan reproduksi tentu saja tidak hanya  penting diketahui oleh wanita saja, tapi pria juga perlu memahaminya apalagi setelah menikah. Sebagian peserta pria tersenyum tipis mendengar tanggapan Inna. Sebagian lagi terlihat geli dan malu-malu.&lt;br /&gt;Sesuai target dan materi sasaran, kita akan lebih banyak membahas mengenai aborsi dan efeknya yang dapat menyerang fisik dan mental (PAS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Inna Hudaya memberikan pertanyaan kedua. “Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata aborsi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu memberi jawaban yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“About kill baby,” jawab Ms. Vivin. “And then open mouth like this…” sambil membuka mulutnya lebar seolah menunjukkan ekspresi mengagetkan. Kemudian muncul pendapat berbeda.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Risk of sex,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The big crime,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Danger for self,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Just for women,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Big sin,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Consecuenci of free sex,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Low education about sex education,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seks selalu menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan, mungkin seperti itu yang terjadi malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tak ada ekspresi mengagetkan ketika Inna mulai mengungkapkan jumlah aborsi di Indonesia setiap tahunnya sebanyak 2.600.000 kasus. Para peserta program terlihat menyimak fakta-fakta tersebut.  Berlanjut pada fakta pelaku aborsi yang sebagian besar dilakukan oleh ibu rumah tangga. Ruangan seketika ramai dengan pertanyaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Why?” atau sekedar teriakan, “Ouuh..,”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna masih memberikan fakta selanjutnya bahwa itu yang melakukan di tempat-tempat yang dianggap legal seperti dokter dan tenaga medis legal. Belum termasuk para post-abortus yang melakukan aborsi secara tradisional atau dengan jamu-jamuan dan tenaga medis illegal. Pembicaraan berlanjut untuk mensosialisasikan Post Abortion Syndrom kepada peserta. Ini adalah kali pertama mereka mendengar gejala psikologis yang dapat menyerang siapa saja pasca aborsi. Semua gejala-gejala disebutkan oleh Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi sudah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan pada zaman dahulu, proses aborsi dilakukan dengan cara menendang atau memukul bagian perut ibu lalu dilanjutkan dengan mengendarai kuda yang berlari kencang hingga bayi lahir prematur. Namun jika setelah bayi lahir dalam keadaan masih bernyawa maka bayi kemudian dibunuh atau ditinggalkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, God!?!” teriak Ms. Vivin. Ia menjerit beberapa kali. Peserta wanita lain hanya bisa, “Haaaa…,” dengan suara yang sedikit tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa alasan mereka melakukan aborsi?” tanya salah seorang pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi ibu rumah tangga, faktor ekonomi, kegagalan kontrasepsi, jarak anak yang terlalu dekat, tuntutan pekerjaan, hasil perslingkuhan, usia ibu yang sudah tua dan beberapa di antaranya atas permintaan suami mereka. Sedang bagi remaja biasanya dengan alasan karena belum menikah dan tidak siap, takut pada orang tua, malu, gagal kontrasepsi, atas perintah orang tua atas nama image, dan hasil perkosaan hingga menyebabkan depresi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling penting untuk diketahui adalah perubahan konstruksi atau pola pikir yang berkembang di masyarakat bahwa pelaku aborsi terbesar dilakukan oleh remaja atau wanita yang belum menikah. Tapi, menurut hasil penelitian dari beberapa lembaga mengatakan bahwa sebagian besar pelakunya adalah ibu rumah tangga. Ini kemudian secara tidak langsung menciptakan sebuah diskriminasi kepada wanita yang belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan status hukum aborsi di Indonesia?” tanya seorang peserta wanita.&lt;br /&gt;Di Indonesia, aborsi masih dianggap illegal dan kriminal. Tapi, dianggap tidak melanggar hukum dan dibolehkan jika kehamilan akan mengancam keselamatan ibu dan bayi serta apabila kehamilan tersebut adalah hasil sebuah perkosaan. Tapi pada kenyataannya pun tidak seperti itu, karena banyak aborsi dilakukan dan diijinkan sebagai contoh dengan alasan ekonomi tadi. Tapi tetap saja jumlah aborsi yang tidak terdeteksi karena dilakukan di tempat-tempat illegal menjadi sulit dijamah. Apalagi banyak pula wanita yang belum menikah dan mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang bermaksud aborsi dengan cara aman, misalnya dokter kemudian mendapat tekanan psikologis berupa judgement  sehingga memutuskan memilih ke tenaga illegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kita melihat definisi dan jenis aborsi. Aborsi adalah penghentian kehamilan di mana fetus belum mempunyai kemampuan untuk hidup di luar kandungan. Jenisnya terbagi dua, yaitu spontaneous abortion atau aborsi yang terjadi secara spontan dan provokatus abortion atau aborsi yang terjadi karena disengaja dan dengan menggunakan alat atau bahan tertentu untuk menghentikan kehamilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin mempromosikan buku, kalian bisa membaca dan mengetahui mengenai aborsi mulai dari sebuah pengalaman hingga fakta ilmiah.” kata Inna.&lt;br /&gt;Sepertinya tiada yang tertawa dalam ruangan itu selain saya. Aku menganggap dalam SAMSARA, salah satu divisi sedikit harus direvisi. Mungkin seperti Divisi Sosialisasi, Edukasi &amp;amp; Promosi. Mungkin??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahahahaaaa…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke topik. Banyak yang tidak ingin membicarakan mengenai aborsi tapi ini tidak berarti bahwa ini tidak terjadi. Di kota-kota besar mungkin telah terekspose dengan sempurna dalam bentuk sebuah tindakan kriminal tanpa peduli apa alasan seorang wanita melakukannya. Bahkan, kami percaya bahwa di desa kecil seperti Pare pun aborsi dapat kita temukan. Lalu, mengapa tak ingin memunculkan ini sebagai sebuah bahan untuk sebuah pelajaran untuk menjadi lebih waspada dan hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAMSARA hadir untuk mensosialisasikan dampak aborsi secara psikologis yang dapat diderita bukan hanya kepada perempuan sebagai post-abortus saja, tapi juga dapat terjadi pada lelaki, keluarga, teman dan orang-orang yang berada di lingkungan post-abortus. Banyak sekali yang mengalaminya tapi tidak sadar bahwa apa yang mereka rasakan adalah Post Abortion Syndrom (PAS). Dan tidak banyak yang dapat mempertahankan semangat hidupnya akibat PAS, rasa bersalah yang tidak mampu dipahami menjadi hal tersulit yang dapat menyebabkan berkurangnya kepercayaan pada kelanjutan hidup seorang post-abortus, ditambah dengan judgement dari masyarakat sebagai pembuat dosa karena telah menghilangkan nyawa, misalnya. Semua orang dengan tingkat religi yang tinggi atau rendah pun akan menganggap aborsi sebagai sebuah kesalahan, bahkan dosa. Namun, kembali kepada hati nurani. Antara ibu dan bayi. Bayi yang telah di aborsi sudah meninggal, tak bisa kembali lagi tentunya. Sedang ibunya, masih hidup dan punya hak untuk mendapatkan kembali semangat hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi lebih menyakitkan daripada melahirkan dengan normal. Mengapa? Karena pada saat anda memutuskan untuk melakukan aborsi, bisa jadi tubuh dan mental anda belum siap mengeluarkan bayi. Jika anda melewati proses melahirkan normal, pada saat bayi keluar dari rahim maka serviks atau mulut rahim akan terbuka dengan alami sesuai dengan jalan yang memang telah terbentuk alami. Sedangkan saat aborsi, serviks dipaksa untuk terbuka dalam diameter 6-7 milimeter, belum lagi ketika alat atau bahan tertentu dimasukkan untuk membunuh janin yang ada dalam uterus (rahim). Ini bisa megakibatkan pendarahan hingga menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bahkan pernah mendapat cerita dari salah satu klien yang melakukan aborsi secara tradisional dengan menggunakan krim atau cairan untuk melemahkan janin lalu ditambah dengan memasukkan tiga batang pohon singkong untuk memecahkan ketuban melalui vagina hingga ke rahim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahu Akbar..,” teriak salah satu peserta wanita yang berada di samping saya. Histeris dan berhasil mengagetkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi adalah salah satu konsekuensi akibat minimnya pengetahuan seks. Kebanyakan orang beranggapan bahwa seks hanya sebatas kesenangan tanpa memikirkan harga yang harus dibayar. Apalagi bagi perempuan misalnya karena dalam hal ini, yang paling merasakan dampak kerugian dan harus membayar mahal atas ketidakpahaman mengenai seks dalam arti benar. Membayar mahal dalam arti bukan materi, melainkan sebagai contoh kehamilan yang tidak diinginkan hingga aborsi dan harus merasakan kesakitan luar bisa apalagi jika traumatis menghantui mereka. Bukankah itu mahal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, ada pertanyaan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang harus saya lakukan jika seorang teman meminta tolong diantar untuk melakukan aborsi?” pertanyaan ini terlontar dari seorang wanita. Ia terdengar gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda kemungkinan besar dapat mengalami PAS walau hanya sebatas mengantar. Aku sedikit ingin berbagi, saat aku membaca beberapa email dari beberapa klien SAMSARA yang berbagi pengalaman aborsinya. Aku berpikir untuk menulisnya dan aku coba. Setelah itu, aku gelisah dan beberapa kali mimpi buruk hingga harus konseling dengan salah satu konselor di SAMSARA. Sekali lagi, aku hanya membaca dan menulis lalu aku bisa ikut mengalami gejala yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pertanyaan malam itu hingga pada keadaan menyalahkan kebudayaan barat yang mulai mempengaruhi budaya timur. Lalu jika itu memang benar ada, untuk apa pikiran diciptakan dalam hidup anda? Budaya barat, baik atau buruk, saya beranggapan bahwa jungkir balik pun budaya tersebut anda anggap akan mempengaruhi anda, jika anda menggunakan pikiran untuk mengontrol sistem pengendalian yang anda anggap baik atau buruk anda gunakan, maka tidak ada hal yang negative yang akan anda dapatkan.&lt;br /&gt;Diskusi selesai pukul 08.30. Aku dan Inna melanjutkan diskusi di kos pagi harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tik, jumlah aborsi  kan ada 2.600.000 tuh tahun 2006. Kamu tahu gak berapa kasus yang terjadi perharinya. Coba kamu bagi sekarang.” kata Inna.&lt;br /&gt;Aku kemudian memanfaatkan fasilitas kalkulator di handphoneku. Kubagi 2.600.000 dengan jumlah hari dalam setahun, 365. Hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“7.120 orang mbak. Gila… itu per hari? Jadi setiap jam ada berapa yah yang aborsi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah yang mengagetkan jika kita menghitung dalam skala atau frekuensi hari di banding tahun. Lalu bisakah anda bayangkan jika 2.600.000 perempuan itu semuanya mengalami Post Abortion Syndrom? Semoga tidak tentunya. Pesan terakhir untuk menghindarinya, jika anda setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Save your body… save your life..” pesan SAMSARA.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-1086204743853917926?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/1086204743853917926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=1086204743853917926' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1086204743853917926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1086204743853917926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2009/01/why-ough-allahu-akbar.html' title='“Why, Ough &amp; Allahu Akbar”'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-271658570167744104</id><published>2008-11-27T06:08:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T00:59:34.912-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memories'/><title type='text'>Ucapan Selamat Malam Yang Tertunda</title><content type='html'>Hari kedua saat aku berada di Pare, Jawa Timur. Aku menghabiskan malam bersama Mbak Inna di sebuah warnet memanfaatkan Paman Google. Internet memang terkadang membuat kita lupa waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tik, dah selesai belum?” tanya Mbak Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, mbak. Dikit lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  segera menyelesaikan pekerjaanku. Berpamitan dengan Paman Google lalu menuju operator. 15 menit lagi pukul 22:00 wib. Gerbang kos akan segera ditutup. Kami mengambil sepeda onthel di tempat parkir lalu mengayuhnya dengan kecepatan yang biasa-biasa saja menuju kos. Pagar tinggi berwarna hijau di depan mata dan dalam keadaan tergembok. Kami terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gawat.” pikir kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana masuknya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita dengan mengendarai motor Shogun juga singgah di depan kos kami. Ternyata dia juga tinggal di kos yang sama denganku. Namanya Diah. Badannya gemuk. Tomboy. Dia agak marah melihat gerbang yang terkunci.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sial. Padahal aku sudah sms Mas Ari. Kosnya jangan ditutup, aku lagi ma’em,” katanya.&lt;br /&gt;Dia kemudian mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menghubungi Ari, penjaga kos. Tidak ada jawaban. Dia semakin marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menunggu sambil berpikir. Aku tidak tahu Diah memikirkan apa. Tapi aku dan Mbak Inna sama-sama memikirkan harus tidur di mana malam ini. Memanjat pagar sempat singgah dalam benak kami, tapi tak mungkin membiarkan sepeda terparkir di luar gerbang. Secara, itu sepeda sewaan.&lt;br /&gt;Mbak Inna menghubungi Kapit, seorang teman yang tinggal di Pare. Berharap ada pertolongan di saat-saat genting seperti ini. Selang beberapa menit ia tiba. Belum berkata apa-apa, ia sudah tertawa cekikikan melihat nasib kami yang terlantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diah pamit akan nginap di kos temannya. Sayang sekali tak mengajak kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terpaksa menumpang di teras Daffodils, salah satu lembaga kursus di Pare. Letaknya tepat di depan kos kami. Di atas kursi bambu kami bertiga bercerita. Tertawa meski bingung.&lt;br /&gt;Lapar menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tok..tok..tok.., “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, ada penjual bakso. Aku dan Mbak Inna makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapit mengetuk pintu kantor Daffodils. Ternyata ada pria di dalam. Namanya Momo. Ia bekerja di Daffodils. Beruntung karena ia dan Kapit saling kenal. Dia kemudian mengijinkan kami menginap di salah satu kelas bagian belakang dengan syarat hars bangun sebelum pukul 06:00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah,” pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masih duduk di teras, bercerita. Tak peduli malam sudah larut. Kami bahagia, setidaknya sudah mendapat tempat untuk tidur. Saatnya bersantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Inna memanjat sebuah pohon jambu yang ada di depan Daffodils menikmati rokok Tali Jagatnya. Aku duduk di kursi bambu sambil bersandar di dinding. Kapit duduk di lantai depan pintu kantor Daffodils.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin larut. Sudah tak ada orang yang berkeliaran. Tak ada suara kecuali suara kami bertiga menemani malam. Kami memutuskan masuk ke dalam kelas, mencoba istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalamnya ada 31 kursi plastik, warna hijau, mengelingi ruangan berbentuk U. Di sisi kanan ada meja dan kursi untuk guru alias teachernya. Ada Whiteboard. Sebuah kipas angin Panasonic yang terpasang di dinding mendinginkan ruangan. Dan lantai dibalut karpet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat nyaman untuk ukuran orang-orang terlantar seperti kami malam itu. Masing-masing mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Aku memilih di samping kanan meja guru. Kapit berbaring di atas kursi dan Mbak Inna masih santai, belum memilih tempat. Ia kemudian mengambil sebuah spidol dan menulis di papan tulis. Sebuah puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu,dua, lelaki perempuan di setengah malam&lt;br /&gt;Ketuk 3 kali dan bulan mengintip di balik dinginnya malam&lt;br /&gt;Rona merah sembunyi pada lesung pipimu&lt;br /&gt;Tali hitam di atas pundakku&lt;br /&gt;Rambutnya yang manja&lt;br /&gt;Kantuk yang tertahan di balik pagar&lt;br /&gt;Ucapan selamat malam yang tertunda…&lt;br /&gt;Have a nice dream..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum  membaca puisinya. Aku masih baring di lokasi yang aku pilih. Mbak Inna belum mau tidur. Kapit sibuk menerima telefon. Mbak Inna kemudian berlatih yoga. Ia memang sering melakukannya. Ia mempelajari semua gerakan dari buku. Badannya lentur. Wajahnya tenang. Aku senang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapit datang membawa dua gelas kopi hitam. Kantuk lenyap seketika digoda kopi dan tawa. Ucapan selamat malam dan mimpi indah pun tertunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 03:00. Aku kembali ke tempat tidurku yang kuanggap nyaman. Kembali mencoba memejamkan mata. Aku menyetel alarmku jam 05:15. Pintu gerbang kos akan dibuka 05:30, berharap bisa kembali ke kamar tepat waktu. Aku harus kursus jam 05:30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alarmku berbunyi. Mbak Inna masih tidur. Kapit tak ada, ia tidur bersama Momo. Aku membangunkan Mbak Inna. Keluar dari kelas, Kapit sudah menyiapkan motornya, ia akan segera pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pulang dulu yah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, thanks yah..” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Mbak Inna menuju ke depan gerbang. Belum terbuka. Aku menikmati udara pagi, meski kantuk yang tersisa masih terasa. Gerbang dibuka, kami mengayuh sepeda ke tempat parkir kos. Lalu masuk kamar. Mbak Inna melanjutkan tidurnya. Aku bersiap-siap berangkat kursus meski sudah terlambat.&lt;br /&gt;Sepeda onthel sewaanku menemani perjalananku. Mata kupaksa untuk menikmati pagi sambil mengingat kejadian semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada ucapan selamat malam dan mimpi indah. Tapi selalu akan ada kenangan yang indah,” pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pare, 13 Agustus 2008.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-271658570167744104?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/271658570167744104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=271658570167744104' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/271658570167744104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/271658570167744104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/11/ucapan-selamat-malam-yang-tertunda.html' title='Ucapan Selamat Malam Yang Tertunda'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-1903815478506044703</id><published>2008-09-26T09:26:00.000-07:00</published><updated>2009-01-30T03:14:08.647-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memories'/><title type='text'>Kali Pertama ke Pare</title><content type='html'>Pagi itu, pertengahan bulan Agustus di Yogyakarta. Aku telah bersiap-siap untuk keberangkatanku ke Jawa Timur. Tepatnya ke Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Sebuah tas yang lumayan besar berisi pakaian dan kantong plastik putih berisi selimut dan buku telah siap menemani perjalananku. Pukul 8.30, sebuah mobil dari sebuah agen perjalanan akan menjemputku. Aku duduk di sebuah ayunan yang terletak di depan kosku menunggu.&lt;br /&gt;Bunyi klakson mobil terdengar. Bunyinya bukan berasal dari mobil, tapi dari handphoneku, tanda pesan masuk. “Tik, kamu tunggu di luar yah. Aku sudah di jalan menuju kosmu.” Sms itu dari Inna. Seorang teman yang akan berangkat bersamaku ke Pare. Ini adalah kali kedua ia ke sana. Sedang aku, adalah pertama kali. Penasaran mengganggu di kepalaku. Seperti apa desa ini?&lt;br /&gt;Mobil akhirnya tiba. Aku mengangkat barangku ke dalam mobil. Aku dan Inna duduk paling depan. Kami berangkat. Satu jam, dua jam lalu enam jam kemudian kami tiba di Kabupaten Kediri.&lt;br /&gt;“Assalamu Alaikum,” sapaku untuk kota ini. Kata ibuku jika kali pertama datang ke sebuah tempat harus ucapkan salam. Itu selalu kuingat.&lt;br /&gt;Satu jam kemudian. Sebuah gerbang tertulis Selamat Datang di Kecamatan Pare menyambut rasa penasaranku. Sawah dan perkebunan tebu menjadi sasaran empuk mata menikmati keindahan desa sepanjang jalan.&lt;br /&gt;“Belok kiri pak,” kata Inna ke supir.&lt;br /&gt;“Tik, kita singgah di warung Pak Nur saja yah untuk sementara. Kita bisa makan di sana, bisa ngutang juga loh. Abis itu, kita cari kos lalu daftar kursus.” kata Inna.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tujuanku ke Pare adalah kursus Bahasa Inggris. Daerah ini dikenal dengan julukan Kampung Inggris, yaitu di desa Tulungrejo, ada sekitar 60-an lembaga kursus di sini. Murah dan kualitasnya tidak kalah dengan tempat kursus yang mahal, menurut Inna. Dan aku akan tinggal di sini ini selama satu bulan.&lt;br /&gt;Kami memasuki gang, jalannya lumayan rusak. Kami tiba di rumah Pak Nur. Teriakan histeris Pak Nur menyambut Inna, cukup mengagetkanku. Beberapa pria yang menikmati hidangan di warung memperhatikan kami. Aku berkenalan dengan Pak Nur dan istrinya. Rambut Pak Nur seperti vokalis Nidji. Ia lucu. Bahasanya Indonesia campur Inggris. Meski tak pernah ikut kursus, tapi ia bisa menggunakan Bahasa Inggris walau sedikit kacau. Setidaknya, ia masih lebih bisa dariku. Mungkin? Hahaha…&lt;br /&gt;Kami memesan makanan. Istri Pak Nur yang menyiapkannya. Inna membuat es teh. Saat makan, beberapa teman Inna mendatangi kami. Mereka berbincang, bertanya kabar dan membicarakan brondong yang ikut kursus di sini. Menurut Inna, mereka menjadi salah satu hiburan paling menarik di desa ini. Aku tertawa mendengar perbincangan mereka. “Sepertinya menarik,” pikirku.&lt;br /&gt;Di dinding warung Pak Nur banyak potongan koran yang ditempel. Semua berisi informasi tentang pariwisata dan tempat kursus di Pare. Sangat menarik. Berbagai macam tempat wisata terasa sangat menyenangkan di potongan koran tersebut. Gunung Kelud, candi peninggalan Majapahit, gua dan air terjun. Aku berjanji akan mengunjunginya selama aku berada di desa ini.&lt;br /&gt;Setelah makan, kami berjalan sekitar 20 meter dari rumah Pak Nur. Di depan tertulis Lucky House, salah satu kos-kosan yang tersedia di desa ini. Ternyata semua kamar telah disewakan. Kami bingung. Kami memutuskan untuk menyewa satu kamar di rumah Pak Nur saja. Ia pun mengiyakan. Semua barang kami letakkan di sebuah kamar. Hanya ada lemari dan kasur kapok. Itu sudah cukup menurut kami dan sesuai harga, 75 ribu per bulan.&lt;br /&gt;Urusan kamar selesai, setidaknya untuk sementara. Selanjutnya kami mencari tempat kursus. Kami meminjam sepeda mini milik istri Pak Nur. Inna memboncengku. Sungguh menggelikan, karena ukuran badan kami berdua serasa menyiksa sepeda itu. Tawa pun menemani pencarian kami.&lt;br /&gt;Daffodils, lembaga kursus pertama yang kami kunjungi. Seorang wanita menyambut kami. Namanya Mita. Ia bekerja di Daffodils bagian office. Badannya agak kecil, rambut pendek dan ramah.  Beberapa program sudah tidak menerima peserta lagi. Yang tersisa hanya program Pre-Intermediete. Di program ini, banyak diskusi dan debat dalam Bahasa Inggris. Inna mendaftar. Aku tidak. Aku belum sanggup harus berdebat dalam Bahasa Inggris. Aku ingin mengambil program Grammar dan Speaking dasar saja. Sebagai pemula tentunya.&lt;br /&gt;Mita merekomendasikan kami ke Kresna, lembaga kursus Bahasa Inggris juga, tapi khusus Grammar. Jaraknya tidak jauh. Kami mengambil sepeda dan melanjutkan pencarian. Di depan Daffodils sebuah tulisan menarik perhatian kami. “Sanjaya House”. Kos-kosan juga. Pengamatan ditunda. Kami harus mendaftar kursus terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Perjalanan berlanjut ke Kresna. Jalanan semakin sempit dan tidak beraspal. Aku seperti ingin berjalan kaki saja karena jok belakang sepeda yang saya duduki terbuat besi tanpa busa. Rasanya tulang  seperti ingin patah saat ban sepeda melewati batu-batuan. Untung saja jaraknya lumayan dekat.&lt;br /&gt;Tiba di Kresna. Halaman parkirnya luas. Banyak sepeda. Sebelah kiri ada gazebo  sederhana. Di dalamnya ada beberapa orang sedang belajar.  Di depan ada dua ruangan. Aku menuju ke sebelah kanan, di bagian office. Seorang pria bertubuh kurus dan berkulit hitam menyambut kami. Aku mendaftar kelas grammar. Uang yang ku keluarkan hanya Rp. 80.000,- untuk empat kelas. Wah, murah!&lt;br /&gt;Pendaftaran selesai. Tiba saatnya kembali memikirkan tempat tinggal yang nyaman. Teringat rumah kos yang terletak di depan Daffodils tadi. Kami pun menuju ke sana.&lt;br /&gt;Gerbang Sanjaya di depan mata. Kami masuk. Bertanya. Dan ada kamar yang kosong. Kami memutuskan akan pindah ke sini. Harganya Rp. 90.000 ,- per bulan. Satu kamar ada tiga tempat tidur lengkap dengan kasur busa. Ada lemari bersusun tiga. Cermin. Lantai keramik. Kamar mandi di luar. Dan paling penting adalah batas jam malamnya bisa sampai jam 10. Kebanyakan kos di sini, hanya membatasi jam malam sampai jam 9 saja. Jika terlambat, maka hanya ada ucapan silahkan mencari penginapan jika punya uang atau silahkan tidur di jalan saja jika tak punya uang. Ough!&lt;br /&gt;Barang telah kami pindahkan dari rumah Pak Nur ke Sanjaya House. Dengan becak tentunya. Senang dan lega rasanya, akhirnya bisa istirahat, mandi dan gosok gigi. Hehehe...&lt;br /&gt;Petang usai. Inna mengajakku menemui seorang teman lamanya di sebuah warnet. Namanya Kapit. Awalnya kupikir dia seorang wanita, “Ka' Fit dengan nama panjang Fitri”, ternyata aku salah. Dia salah satu brondong versi Inna. Pakaiannya serba hitam, baju, celana dan kupluk. Ia ketawa cekikikan ketika bertemu kembali dengan Inna. Setelah dari warnet, kami ke sebuah warung makan. Minum kopi, es teh dan makan sambil bercerita. Kapit juga senang menulis. Kami berdiskusi tentang tulisan dan organisasi SAMSARA Abortion Recovery malam itu. Ia akan menjadi pengurus SAMSARA di wilayah Kediri.&lt;br /&gt;Cuaca sangat dingin, tapi menyenangkan. Namun sayang, waktu dan ancaman tidur di jalan karena gerbang kos akan segera ditutup terasa menghantui. Kami pulang pukul 9.40, padahal diskusi malam itu terasa bersemangat.&lt;br /&gt;Tiba di kos. Gerbang sedikit lagi akan ditutup. Masuk kamar lalu tidur dan berharap mendapat mimpi indah. Akh, hari ini terasa melelahkan.&lt;br /&gt;Pare, 11 Agustus 2008. Kali pertama ke Pare.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-1903815478506044703?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/1903815478506044703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=1903815478506044703' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1903815478506044703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1903815478506044703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/09/kali-pertama-ke-pare.html' title='Kali Pertama ke Pare'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-5408873465144606650</id><published>2008-09-21T08:03:00.000-07:00</published><updated>2009-01-30T03:14:18.783-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Samsara'/><title type='text'>The Secret dalam SAMSARA</title><content type='html'>Oleh : Sartika Nasmar&lt;br /&gt;(Samsara Officer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari, tepatnya tanggal 20 September 2008. Salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris (Daffodils) di Kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur mengadakan acara Nonton Bareng dan Diskusi membahas sebuah film yang berjudul The Secret. Film yang sangat menarik tentang bagaimana menumbuhkan motivasi terhadap diri sendiri dengan menstimulasi pikiran positif dan imajinasi serta visualisasi menuju kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah mendengar film ini dari seorang teman, Mbak Inna. Dia adalah Direktur SAMSARA. Aku kemudian mengirim sms dan semakin membuatku penasaran karena ternyata pesan dalam film ini digunakan dalam program pemulihan di SAMSARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAMSARA adalah lembaga non-profit yang berdedikasi dan menyediakan informasi serta memberikan pemulihan kepada para post abortus secara psikologis.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menonton dan diskusi, aku melanjutkan obrolan dengan trainernya (orang yang mempunyai pengalaman dan merasa berhasil dengan mengaplikasikan pesan dalam film ini). Namanya Farida. Seorang single parent. Lebih sering dipanggil Umi Yanti. Seorang wanita luar biasa dan tegar. Ia pernah aktif di beberapa LSM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menceritakan tentang SAMSARA dan program pemulihan yang kita gunakan yang terkait dengan film ini. Ia dan para pengajar di Daffodils merasa tertarik. Aku kemudian diundang untuk sharing pada sesi ke-2 pukul 14:00. Awalnya aku sungkan karena aku sadar, aku belum pernah menangani seorang post abortus dengan metode pemulihan apapun. Tapi kemudian aku berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mensosialisasikan organisasi SAMSARA ke sebuah forum meski kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senang hati aku kemuadian berkata "Iya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi ke-2 dimulai. Film usai. Aku diperkenankan bicara. Suatu kehormatan tentunya. Mengingat tugas sebagai bagian dari SAMSARA bidang sosialisasi dan edukasi maka langkah awal adalah memperkenalkan organisasi ini ke dalam forum. Awalnya respon yang kuterima adalah "Wow" dan ekspresi kaget mendengar kata aborsi bahkan ada yang tertawa cekikikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ini adalah diskusi non formal dan saya diperkenankan memberi sebuah contoh penderita PAS (Post Abortion Syndrom) yang berhasil menyembuhkan dirinya dengan metode dalam film. Dalam SAMSARA sendiri, aku menemukan kesamaan pada program "pemulihan yang dilakukan oleh diri sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAS adalah penderitaan mental dan emosional pada perempuan setelah aborsi. Namun, PAS tidak hanya diderita oleh perempuan saja. Tapi, lelaki atau orang yang terlibat pun bisa mengalaminya. (Baca: Post Abortus Syndrom di www.abortus.blogspot.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menceritakan bagaimana keberhasilan seorang penderita yang telah berusaha keluar dari PAS dengan mengobati dirinya sendiri.Bagaimana seorang penderita PAS mampu untuk memahami rasa bersalah dan memaafkan diri sendiri serta memberi peluang bagi mereka untuk tetap bertahan dan melanjutkan hidup mereka tanpa bayang-bayang penyesalan tapi kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ruangan tenang. Peserta diskusi dengan jumlah sekitar 30 orang kemudian tak bersuara. Aku sedikit gugup. Entah apakah ini berhasil atau tidak. Aku tidak tahu apa tanda dari diamnya mereka. Aku hanya terus bercerita. Mencoba memberikan semangat untuk menjadi diri sendiri dan optimis dengan mimpi dan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menutup pembicaraanku dengan mengucapkan 'Save your body and save your live'. Respon tepuk tangan buat SAMSARA terdengar. Syukur alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi dari Umi Yanti buat SAMSARA. Aku sempat mengcopy artikel dalam blog SAMSARA tentang program pemulihan dan tetap meminta saran dari beliau karena aku yakin kita masih tetap butuh saran dari siapa pun untuk bergerak maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku percaya bahwa segala sesuatunya bisa dibentuk oleh akal dengan ketertarikan. Sesuatu hal yang tidak bisa membunuh kita akan menjadi alat atau senjata kita untuk menjadi lebih kuat. Aku sadar bahwa hanya diri kita yang mampu menciptakan realitas dalam diri kita. Begitupun SAMSARA, semoga perjuangan kita akan mampu membuka realitas terhadap kasus aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-5408873465144606650?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/5408873465144606650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=5408873465144606650' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5408873465144606650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5408873465144606650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/09/sosialisasi-dan-edukasi-samsara-di-pare.html' title='The Secret dalam SAMSARA'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7823973124829670841</id><published>2008-09-19T23:07:00.001-07:00</published><updated>2009-01-30T03:14:39.389-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Poems'/><title type='text'>teman rindu</title><content type='html'>lampu, merah kuning hijau&lt;br /&gt;mobil&lt;br /&gt;motor&lt;br /&gt;sepeda&lt;br /&gt;lelaki, perempuan&lt;br /&gt;tua, muda&lt;br /&gt;berlalu lalang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pohon yang daunnya bergoyang&lt;br /&gt;melambai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepi&lt;br /&gt;bingung&lt;br /&gt;sendiri&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebatang rokok bintang buana&lt;br /&gt;berhembus...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu menemaniku merindukan IBU&lt;br /&gt;Apa kabarmu??&lt;br /&gt;hanya ingin berkata,&lt;br /&gt;MAAF...&lt;br /&gt;aku tak bisa bersujud dikakimu&lt;br /&gt;LEBARAN ini aku tak bisa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GP, 17 Sept 08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7823973124829670841?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7823973124829670841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=7823973124829670841' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7823973124829670841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7823973124829670841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/09/teman-rindu.html' title='teman rindu'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-8543540141985167287</id><published>2008-08-03T21:29:00.000-07:00</published><updated>2009-01-30T03:16:09.246-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memories'/><title type='text'>Dari Tjangkir 70 ke Tugu Yogya</title><content type='html'>Senin, 14 Juli 2008. Satu hari setelah kursus narasi Yogyakarta selesai. Aku dan  teman (Inna Hudaya) berencana menuju Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tujuan kami adalah mencari tahu tentang Taring Padi, sebuah komunitas seniman. Mbak Inna ingin menulis tentang mereka, dan saya menemani saja, sekedar ingin berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari, Mbak Inna mengirim sms. “Tik, kamu ke kosku jam 3an saja yak. Aku masih instal laptop,” katanya. Aku ke kos Mbak Inna, di Jalan Kaliurang sebelum jam 3. Ia belum selesai meng-instal laptop barunya. Aku menunggu sambil bercanda dengan anak pemilik kos Mbak Inna. Namanya Jidan. Ia memperlihatkan beberapa permainan yang ia katakan sulap. Laptop Mbak Inna belum juga beres, aku malah sempat tertidur di kamarnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bangun, Mbak Inna sudah selesai mandi. Sudah pukul 5.30. Kami tidak jadi berangkat ke Bantul. Kami ke warnet, hanya sebentar. Perut kami yang sudah meminta makan memaksa kami melanjutkan perjalanan pada sebuah angkringan di belakang Universitas Negeri Yogyakarta. Kami memesan nasi sego macan ditambah tiga sate usus, dua sate telur, satu ceker bakar, dua tempe goreng, satu gelas es teh dan air putih. Lalu duduk di tikar yang diletakkan di atas trotoar samping selokan mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan selesai. Kami ke Jalan Janti. Warung Tjangkir 70, milik Ari, teman kursus juga. Ia tampak senang melihat kedatangan kami di warungnya. Kopi mentega (menu andalan Ari) dan kopi jahe menemani aku dan Mbak Inna dalam remang-remang lampu hias di warung itu. Ari menawarkan kami secara gratis telur asin. “Nih, ada telur asin. Gratis ko’. Tapi, awas loh kalau kentut bau,” katanya menghibur kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga bercerita, berdiskusi dan bercanda sambil memainkan dua laptop di atas meja. Foto-foto saat kursus menjadi bahan pembicaraan terhangat. Lagu-lagu dari laptop Mbak Inna, menemani kami berdiskusi. Berbagai macam aliran musik. Mulai dari Marginal Band, Ippank, Sapardi, hingga Trisna Livia (Gubuk derita). Tak perduli banyak orang di warung Ari. Suara tawa kami terdengar seperti dilakukan oleh lebih dari sepuluh orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam berlalu. Aku meminta segelas kopi jahe lagi ke Dita (teman Ari di warung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami senang. Setiap mengakhiri perbincangan, Ari akan mengeluarkan dengkuran seperti babi dan berkata, “Bencong.” Ia memanggil aku dan Mbak Inna bencong. Kami memanggil Ari, tomboy. Hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam berlalu. Aku memesan Pizza mie kuah. Mbak Inna pesan teh tawar. Wajar saja kami lapar lagi, sudah jam setengah satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Mbak Inna memang berniat begadang malam itu. Aku ingin menikmati Yogya malam hari. Aku ingat Ari pernah berkata padaku, jika berada di kota ini dan belum foto di Tugu Yogya, maka kamu belum sah menginjakkan kaki di kota ini. Entah apa alasannya. Mungkin karena nilai sejarahnya. Jadi, aku meminta Mbak Inna menemaniku ke Tugu tersebut untuk foto. Kebetulan malam itu aku membawa sebuah kamera digital. Ari ingin ikut. Kami menunggu hingga warungnya tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 2.00, warung sepi. Pengunjung telah pulang. Tinggal aku, Mbak Inna, Ari dan Dita. Aku dan Mbak Inna masih berhadapan dengan laptop. Ari cuci piring. Dita menggulung terpal dan menghitung uang hasil penjualan makanan dan minuman di warungnya malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu warung mati. Kami siap berangkat. Di depan ada dua wanita seperti menunggu seseorang. Tidak lama kemudian dua pria datang dengan mengendarai mobil. “Waduh, bahaya nih warung gua dijadiin tempat mesum,” kata Ari, khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih naik sepeda Phoenix milik Ari. Sedang Ari dan Mbak Inna naik motor shogun hijau yang kupinjam dari teman. “Benar kamu mau naik sepeda? Jangan sok lo.” kata Ari meyakinkanku. Tekadku sudah bulat akan bersepeda malam itu. Meski kadang aku harus mengayuhnya sekuat tenaga. Sesekali aku memegang tangan Mbak Inna lalu ia menarikku. Mereka tertawa melihatku kelelahan. Tiba di tikungan dari Jalan Janti ke Jalan Solo, ada dua orang polisi berjaga. Dari pinggir jalan terdengar suara pria menggoda. Aku tidak peduli. Kali ini aku sendiri. Mereka meninggalkanku. Lalu hilang. Aku mencari, melihat ke kiri, kanan, dan ke belakang. Aku tak menemukan mereka. Aku mulai khawatir. Lalu ada suara tawa dari samping kiri, trotoar yang gelap. Aku mengenal suara tawa itu. Mbak Inna dan Ari. Seorang pria di atas becak sambil baring ikut menertawakanku. Aku sedikit lega meski masih ngos-ngosan. Kami melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih kuat ga’?” tanya Mbak Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih Mbak. Tenang aja.” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tik, giginya diganti. Biar ga’ keras kayuhnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gigi apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, dasar wong deso.” ejek Ari, sambil tertawa sekeras-kerasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikuti saran mereka. Ternyata memang benar, aku mulai ringan mengayuh sepeda itu. “Wah, dasar wong deso,” batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meminta singgah membeli minuman. Aku lelah. Lututku gemetar. Keringat mengalir. Punggungku panas dan pedis akibat koyo cabe pemberian Mbak Inna. Obat pegal-pegal katanya. Tawa mereka semakin menggila. Aku membiarkan mereka melakukannya. Aku pasrah. Kami singgah di Circle Klei. Aku langsung baring dan meluruskan kaki di tangga toko. Mereka terus menertawakanku sambil masuk ke dalam toko. Aku membeli pocari sweat. Mbak inna membeli sebotol bir (Heineken). Kami foto di depan toko dengan berbagai macam gaya. Kami bahkan meminta tolong kepada seorang pria untuk memotret kami bertiga. Kami tidak peduli pada orang lain malam itu. Yogya serasa hanya milik kami bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari mulai candaannya. “Tik, aku punya candaan,” katanya. “Tapi kamu harus janji jangan marah ya?” tambahnya, meyakinkanku. Aku tidak curiga sama sekali. Kami berhadapan. Ia kemudian mendengus ke wajahku. Ada cairan yang muncrat dari hidungnya. Ia lari. “Wah, kurang ajar kamu Ri’.” Aku mulai marah dan mengejarnya sambil mengeluarkan beberapa kalimat menyakitkan hati. “Tadi kamu kan sudah janji, tidak marah,”  Ari membela diri. Mbak Inna hanya tertawa sambil menghisap rokoknya. Aku mencuci mukaku dengan air pocari sweat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai mencari cara untuk balas dendam. “Ri’, aku punya candaan. Tapi kamu jangan marah ya?” tanyaku. Ari curiga aku akan balas dendam. Aku memasukkan air pocari sweat ke dalam mulut lalu kusemburkan ke arahnya. Ia berhasil lolos. Tidak kena. Aku masih mencari cara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lapar. Wajar saja, naik sepeda menguras banyak tenagaku. Aku beli es krim dan Chitato. Sambil makan es krim, aku mulai berkata. “Ari, aku punya candaan.” Aku menyuruhnya menutup mata. Ia melakukannya. Lalu kucolek es krimku dan kutaruh ke wajahnya. Kali ini aku berhasil membalas, meski tidak terlalu menyakitinya. “Kurang ajar,” katanya sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan dan minuman habis. Kami melanjutkan perjalanan ke Tugu. Aku masih memilih naik sepeda. Ari dan Mbak Inna naik motor. Aku berusaha mengejar mereka. Kadang-kadang mereka melewati jalan yang tidak perlu dilalui, hanya untuk buatku makin lelah. Pukul empat, kami tiba di jembatan Gondolayu. Mbak Inna turun dari motor lalu berpose di tembok jembatan minta difoto. Kamera jatuh. Rusak. Mbak Inna masih bertahan dengan gayanya. Ari memeriksa kembali kamera. Mbak Inna kecewa tahu kamera rusak. Aku juga kecewa tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada foto. Kami berdiri menghadap Sungai Code. Sungai yang membelah Provinsi   Yogyakarta. Mata airnya ada di kaki Gunung Merapi. Di sekitar sungai ada pemukiman. Tata bangunannya indah, arsitekturnya bernama Romo Mangun. Kami memandang dari sisi jembatan dengan cahaya lampu yang berdiri kokoh berjejer di sepanjang jembatan Gondolayu. Sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke  tujuan awal kami adalah foto di Tugu Yogya yang letaknya sudah di depan mata. Ari mencoba perbaiki kamera. Tapi tidak bisa dipakai lagi. Kami memutuskan tetap ke Tugu. Akhirnya sampai juga. Ada dua wanita yang sedang berpose di sekitar Tugu. Mereka memakai baju tanpa lengan. Model rambut mereka sama, panjangnya sebahu dan lurus. Satu diantara mereka bibirnya sumbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang kami, tak ada foto sesuai rencana. Hanya bercerita. Mbak Inna menceritakan sejarah Tugu Yogya kepadaku. Layaknya seorang ibu yang sedang mendongengkan anaknya. Aku mendengar cerita. Sesekali aku menoleh ke Mbak Inna, lalu menoleh ke Ari, dan kadang-kadang mataku tertutup karena ngantuk. Ia tetap bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugu Yogya terletak di perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi di sisi selatan, Jalan AM. Sangaji di sisi utara, Jenderal Soedirman di sebelah timur dan Pangeran Diponegoro di sebelah barat. Tugu ini berdiri setinggi 15 meter dan diresmikan pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 tahun jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tau ngga’ soal kosmik Jogja?” tanya Mbak Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Jogja ada empat titik yaitu Laut Kidul di selatan, Merapi di utara, di timur ada Gunung Lawu dan di barat (aku lupa). Ke-empat titik itu adalah bekas tempat pertemuan kanjeng ratu Kidul dan panembahan Senopati. Tugu ada tepat di tengah-tengahnya. Itu sebabnya upacara labuhan biasanya diadakan di Parangkusumo, Merapi, Lawu dan...lupa.” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tik, konon katanya ada lorong atau jalan rahasia di bawah Tugu ini. Lorongnya menghubungkan empat titik itu.” kata Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ya? Terus kita bisa ke sana tidak?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ye, orang bilang katanya. Tapi nggak tahu benar atau tidak.” balas Arie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memandang beberapa orang yang datang ke Tugu foto dengan bermacam gaya. Ada yang duduk di depan Tugu dan di tengah jalan sambil melompat. Wah, bikin iri saja. Aku mengeluarkan hpku. Berpose bersama Mbak Inna. Padahal hpku tidak punya fasilitas kamera, hanya sekedar mengobati kekecewaan karena kamera rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat lampu yang mengelilingi Tugu mati. Lampu jalan juga mati. Sudah banyak kendaraan melintas. Kami masih di Tugu. Hanya kami bertiga. Duduk bercerita. Aku dipijat Mbak Inna. “Sepertinya nggak lucu kita masih duduk di sini kalau sudah terang, udah pagi nih,” kata Ari. Kami tertawa. Lalu memutuskan pulang. Sudah jam enam. Kami menyeberang menuju tempat kami memarkir motor dan sepeda. Kami pulang. Ari dengan sepedanya menuju Asrama Lampung. Aku dan Mbak Inna naik motor menuju Jalan Kaliurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin sekali pagi itu. Tapi aku bahagia, meski tak tidur untuk satu malam. Pengalaman malam itu, kuyakin tak akan terganti di hari-hari berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Kaliurang, aku dan Mbak Inna singgah di warnet. Cek email (walah, sok penting buanget), tak terasa sudah setengah sembilan pagi. Kami makan bubur ayam, lalu pulang ke kos Mbak Inna. Tak ada lagi perbincangan. Aku bergegas tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 Juli 2008.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-8543540141985167287?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/8543540141985167287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=8543540141985167287' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/8543540141985167287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/8543540141985167287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/08/dari-tjangkir-70-ke-tugu-yogya.html' title='Dari Tjangkir 70 ke Tugu Yogya'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-1598459297947575413</id><published>2008-07-10T03:33:00.001-07:00</published><updated>2009-01-29T01:21:11.335-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journalism'/><title type='text'>Kata Adalah Kejujuran</title><content type='html'>Oleh Sartika Nasmar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berawal ketika aku menerima sebuah sms dari seorang teman kampus  pada pertengahan tahun 2007. Ia mengatakan akan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Kursus Narasi yang diselenggarakan Sindikasi Pantau. Aku  senang. Pasti. Tapi belum memiliki keinginan yang sama. Aku sendiri sibuk memikirkan karirku di media elektronik, mengingat saat wisuda dan status pengangguran makin dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisuda usai. Beberapa hari kemudian, temanku berangkat. Lalu melewati masa-masa kursusnya. Aku mendengar banyak cerita darinya. Sejak itu aku pun mulai rajin membaca tulisan-tulisan di Pantau (www.pantau.or.id). Aku sering  mendengarkan darinya, bagaimana Andreas Harsono dan Budi Setiyono bercerita tentang dunia kewartawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah wisuda, aku diterima bekerja di tvOne. Wilayah kerjaku adalah Kota Palopo dan Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Di waktu-waktu luang, aku selalu menyempatkan diri untuk membaca tulisan yang ada di Pantau. Sebuah tulisan tentang Jurnalisme yang ditulis oleh Sirikit Syah, cukup mengubah pikiranku tentang pekerjaanku. Judulnya membingungkan. Wartawan: Memotret atau Menolong?. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirikit Syah memberikan pertanyaan luar biasa dalam tulisannya. Bagaimana tindakan seorang wartawan  jika mengahadapi situasi misalnya musibah, kecelakaan, tragedi, dan wartawan yang kebetulan berada di tempat kejadian harus menolong dulu atau memotret, merekam dalam kamera, melakukan wawancara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian memberikan beberapa contoh tragis yang berhubungan dengan pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kevin Carter. Fotografer pemenang hadiah Pulitzer 1994. Fotonya yang terkenal adalah tentang seorang anak perempuan Afrika yang kelaparan dalam perjalanan ke tempat pembagian jatah pangan. Anak itu jatuh dan dalam keadaan menunggu kematiannya di gurun pasir Afrika dengan latar belakang burung pemakan bangkai yang menungguinya mati. Foto itu menarik perhatian juri dan memenangkan Pulitzer. Kemudian muncul perdebatan: mengapa dia memotret foto mengenaskan itu? Mengapa dia tidak menolong gadis itu? Mengapa dia membiarkan burung itu menunggui si gadis meninggal dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, Kevin Carter ditemukan mati bunuh diri. Banyak yang berspekulasi dan mengatakan dia tak tahan mendapat kritik atas fotonya yang kontroversial itu. Sebagian mengatakan, keganasan perang dan kekejaman alam Afrika di mana dia bekerja, membuatnya depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri bingung. Apakah Kevin  Carter adalah seorang yang tega atau menganggap itu adalah konsekuensi pekerjaan sebagai fotografer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain yang dipaparkan Sirikit Syah dalam tulisannya adalah kejadian pada tahun 1996 di Los Angeles. Sebuah stasiun tv, menerima telepon dari seseorang yang bermaksud melakukan bunuh diri dan minta diliput. Stasiun itu mengirim awak TV untuk mendatangi sang sumber dengan peralatan yang lengkap. Bukannya mencegah orang itu bunuh diri, dengan memanggil polisi misalnya, awak televisi itu malah mengantisipasi sebuah liputan “eksklusif.” Mereka mempersiapkan liputan langsung , menunggui orang itu melaksanakan niatnya, dan merekam langsung saat orang itu menembak dirinya sendiri. Orang itu mati di depan kamera televisi. “Live on air!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan telepon masuk ke stasiun itu. Mereka mengecam tindakan stasiun televisi Los Angeles itu. Menurut pemirsa televisi yang protes itu, pertunjukan tersebut sama sekali bukan berita yang menarik. Bahkan mengerikan. Mereka keberatan anak-anak mereka menonton “siaran langsung sebuah peristiwa bunuh diri,” yang selain mengerikan juga khawatir dapat ditiru anak-anak. Mereka mempertanyakan “moralitas dan etika para awak televisi itu.” Stasiun tersebut langsung mohon maaf kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih bingung. Untuk beberapa detik siaran berita, dengan harga sebuah nyawa. Demi sebuah istilah “eksklusif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tulisan, Sirikit Syah memasukkan sebuah pernyataan menarik. “Pada persoalan sejauh mana kode etik dapat dilanggar, memotret dulu atau menolong dulu, saya tetap berpendapat bahwa kita takkan jadi wartawan yang hebat kalau pada mulanya bukan manusia yang baik. Be a good man, than a good journalist. Itu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak lagi bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku pun mendengar kabar bahwa Pantau akan mengadakan kursus narasi di Yogyakarta pada bulan Juni 2008. Aku memutuskan untuk mengikuti pelatihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, tiga minggu berlalu melewati masa-masa pelatihan yang menyenangkan bersama Budi Setiyono, Andreas Harsono, Anugerah Perkasa, Dian Lestariningsih dan tentu saja dengan 15 peserta lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam, bekerja sebagai koordinator pendidikan Cindelaras, asal Yogyakarta. Arie Oktara, mahasiswa UGM dan pengusaha warung kopi,  asal Yogyakarta. Astri Kusuma, mahasiswa S2 UGM jurusan Hubungan Internasional, asal Yogyakarta. Ayya Zakiah, wartawan Majalah Gong, asal Yogyakarta. Danu Primanto (DP), seorang fotografer muda, asal Gambiran, Yogyakarta. G.S Purwanto, bekerja sebagai staf publikasi Cindelaras, asal Yogyakarta. Inna Hudaya, seorang blogger dan bergabung dengan PAS Healing, asal Tasikmalaya. Jati Kusuma, seorang apoteker dan aktif di International Planned Parenthood Federation sebagai Youth Representative, asal Semarang. Khanis Suvianita, seorang aktivis di GAYa Nusantara, asal Surabaya. L. Hardi Pranoto, staf pengajar dan konsultan manajemen di PPM-Manajemen, asal Jakarta. M.A Malik, seorang fasilitator desa, asal Mahamkaji, Sukoharjo. Nurul Kodrati, mahasiswa S2 di Umea International School of Public Health di Swedia, asal Kotagede, Yogyakarta. Novita Dwi Arini, aktivis Solidaritas Perempuan Kinasih, asal Yogyakarta. Punto Wijayanto, arsitek dan peneliti di Jogja Heritage Society, asal Yogyakarta. Siti Mazdafiah, seorang dosen di UBAYA, asal Surabaya. Dan terakhir, adalah saya, Sartika Nasmar, kontributor tvOne, asal Palopo, Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang menarik terjalin selama kursus ini berlangsung. Santai tapi serius. Suasana kursus dilakukan dengan lesehan di pendopo Cindelaras atau di Warung Kopi Plus. Sangat menyenangkan. Penuh dengan lelucon. Bukan hanya karena bertemu dengan pemateri dan teman yang luar biasa, tapi membuatku mengenal lebih jauh pekerjaan sebagai wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami belajar bagaimana memasuki dunia menulis panjang dengan gaya narasi, dengan merekonstruksi adegan-per-adegan sebuah peristiwa yang akan ditulis. Membuat sebuah kebenaran adalah suatu yang mutlak dalam jurnalisme. Bukan agenda setting, bukan pula laporan fiktif. Tapi, fakta, fakta dan fakta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini pelatihan, maka tugas-tugas pun tak luput sebagai kewajiban kami. Tugas pertama adalah membuat profil. Kami diberikan selembar kertas yang telah dipotong dan dibagikan kepada semua peserta. Masing-masing kertas mempunyai pasangan. Tugas kami adalah saling mencocokkan potongannya dan membuat profil sesuai pasangan dari hasil acak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing peserta yang telah menemukan pasangannya segera melakukan wawancara. Tentunya dengan semangat sebagai langkah awal. Ada yang membuat janji bertemu malam hari untuk wawancara dan ada pula memanfaatkan tekhnologi internet (chatting). Kami diberi waktu satu malam, untuk menyelesaikan profil pasangan acak kami. Besoknya, dua tulisan kemudian dibaca dan dikritik oleh Budi Setiyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya membuat profil peserta. Kami juga diberi tugas membuat outline untuk tugas akhir berupa tulisan narasi hingga 5.000 kata. Bagiku tentu sangat sulit. Aku sendiri sehari-hari telah terbiasa menulis naskah pendek untuk berita tv. Hanya sekitar 32 kata untuk satu paragraf. Jika harus menghitungnya, aku diharuskan membuat naskah tv untuk berita yang berdurasi satu menit empat puluh detik dengan lima atau enam paragraf saja, hanya sekitar 160 kata. Ini adalah tantangan terberatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih menulis profil Rubiyem. Istri kedua Affandi, Maestro seni lukis Indonesia. Aku mulai melakukan riset tentang Affandi dan istri-istrinya. Aku membaca berbagai artikel dan berita, mulai dari yang beredar diberbagai situs di internet hingga mendatangi Perpustakaan Arsip Nasional Yogyakarta. Tidak hanya itu, aku pun mulai melakukan wawancara dengan Rubiyem meski kesulitan karena aku tak bisa Bahasa Jawa. Sungguh tidak mudah dan sangat berbeda dengan yang kulakukan sebagai wartawan tv.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin sadar bahwa buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel seharusnya menjadi buku wajib seorang wartawan. Mereka merumuskan Sembilan elemen penting yang harus diperhatikan seorang wartawan.&lt;br /&gt;1.Kewajiban pertama jurnalisme adalah kebenaran.&lt;br /&gt;2.Loyalitas  pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat.&lt;br /&gt;3.Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi.&lt;br /&gt;4.Praktisi jurnalisme harus menjaga independensi terhadap sumber berita.&lt;br /&gt;5.Jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan.&lt;br /&gt;6.Jurnalisme harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat.&lt;br /&gt;7.Jurnalisme harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan.&lt;br /&gt;8.Jurnalisme harus menyiarkan berita komprehensif dan proporsional.&lt;br /&gt;9.Praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.&lt;br /&gt;Buku tersebut kini telah direvisi menjadi 10 elemen jurnalisme. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menambah satu elemen yaitu hak dan tanggung jawab warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat berhati-hati dan peduli dengan 10 elemen di atas, aku mengerjakan profil Rubiyem dengan penuh keyakinan. Sayang, setelah masuk ke dalamnya, aku kesulitan mendapatkan akses di keluarga Rubiyem. Aku pun mulai berkonsultasi dengan Andreas Harsono dan Budi Setiyono melalui email. Andreas Harsono menyuruhku mencari isu lain untuk tugas akhirku, dengan alasan akses yang sulit kudapatkan karena ini adalah proses awalku belajar menulis narasi. Aku kecewa, dadaku seperti ingin meledak. Aku belum pernah terlihat begitu kecewa dengan kegagalanku terhadap sebuah tulisan, bahkan ketika aku gagal mendapatkan gambar yang baik untuk satu liputan. Tapi kali ini aku gelisah. Entah kenapa. Aku seperti mempunyai tanggung jawab besar dalam keinginanku menulis. Ataukah karena aku merasa menulis narasi membuatku mengerti tugas seorang jurnalis dalam memberikan laporan? Di mana kejujuran selalu ada dalam setiap kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seturan, Yogyakarta.&lt;br /&gt;09 Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-1598459297947575413?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/1598459297947575413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=1598459297947575413' title='20 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1598459297947575413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1598459297947575413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/07/kata-adalah-kejujuran.html' title='Kata Adalah Kejujuran'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-4096551038313119264</id><published>2008-06-24T21:10:00.000-07:00</published><updated>2009-01-30T03:15:52.035-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memories'/><title type='text'>Ingat pesan Ibu</title><content type='html'>Suara Michael Buble menyanyikan lagu I Wanna Go Home mengingatkanku suasana rumah. Aku rindu rumah. Aku rindu kampung halaman. Aku rindu Ibu. Aku rindu Ayah. Aku rindu kakak, adik dan keponakanku Lingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah menyangka meninggalkan mereka adalah kepedihan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ada air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan menyerah. Air mataku hanya sebatas ungkapan rindu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati ko nak, di kampungnya orang. Jangan ko lupa salat sama berdoa. Ingat kalau tinggal di sana, jangan suka tumpuk baju kotor. Kalau mandi, langsung dicuci. Rajin-rajin ko bersihkan kamarmu le’,” pesan Ibuku sebelum aku meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat, aku pamit kemudian memeluk, mencium pipi dan tangan Ibu. Ia menangis. Ini kali pertama ia melepasku ke Pulau jawa, Yogyakarta. Tatapannya seolah-olah ingin melarangku pergi. Tapi tak ia lakukan. Selain Ibu, ada Tante Ida, saudara sepupu Ibu yang datang berkumjung ke rumah. Sama seperti Ibu, ia juga memeluk dan menciumku. Keponakanku, Lingga sedang tidur di dalam sebuah ayunan berwarna biru. Aku menatapnya dengan penuh kasih sayang kemudian mencium pipi lembutnya. Hanya sebentar. Aku tak ingin mengganggu tidurnya. Adikku berteriak mengucapkan selamat tinggal dari kamar mandi belakang.  Sedang Ayah dan Kakakku tak ada di rumah saat aku berangkat. Mereka ke kantor. Aku hanya pamit lewat telepon.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati ya nak, jangan lupa kasi’ kabar kalau sudah tiba,” pesan Ayah melalui telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari sangat terik. Saat itu pukul 14:58 wita. Kupandangi rumah petak Ayah yang belum selesai dibangun. Ibu dan Tante Ida masih berdiri di pintu rumah. Memandangku dengan doa. Dadaku seperti ingin meledak. Bibirku bergetar. Mataku merah menahan tangis. Aku tak ingin Ibu melihatku menangis. Aku ingin tampak tegar dan kuat di depan Ibu agar ia bisa lebih tegar dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ke Yogyakarta. Kota pelajar, kata banyak orang. sebut saja perjalananku ini dengan merantau. Di Yogya, aku akan mengikuti kursus narasi yang diselenggarakan Pantau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat Merpati membawa aku bersama Eko menuju Yogyakarta. Aku menginjakkan kaki di kota ini malam hari. Pukul 22:30. Kami dijemput Mbak Dian Lestariningsih di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Dengan Taxi, kami menuju rumah kos-kos-an Mbak Dian di jalan Seturan. Hatiku masih berdebar-debar. Aku berpikir, bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru lagi. “Setelah hotel Seturan, belok kiri ya pak,”kata Mbak Dian kepada supirTaxi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami singgah di sebuah rumah bergaya minimalis. Di depan pagar ada tulisan: terima kos putri. Mbak Dian membuka pagar besi cat warna merah. Di sisi kiri ada sebuah kolam kecil. Airnya sangat kotor. Sebelah kolam ada sebuah mushollah. Sedang di sisi kanan, dekat garasi ada sebuah ayunan besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Aan…” teriak Mbak Dian sambil berdiri di salah satu pintu. Seorang pria, kemudian membuka pintu dengan tersenyum. Dialah Mas Aan, pemilik rumah yang ia jadikan kos-kosan. Sebuah jam berukuran kecil di atas televisi Mas Aan kemudian menarik perhatianku. Pukul 21:47 wib. Saat itu aku baru sadar kalau perbedaan waktu di Yogya lebih cepat sekitar 60 menit dari Makassar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eko dijemput oleh Nay di kos Mbak Dian. Tinggal aku, mbak Dian dan Mas Aan. Mbak dian mengajakku ke lantai 2, tepatnya di kamar yang telah ia sediakan untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kamarmu lo Tik. Sudah ta’ bersihkan. Sudah ada kasur dan dua bantal,” kata Mbak Dian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini kamar mandinya,” sambil membuka pintu kamar mandi. Sudah tersedia sebuah baskom lengkap dengan gayungnya. Ia kemudian berjalan keluar. Aku memperhatikannya. Tak lama kemudian, ia datang membawa kursi plastik dan menaruh baskom di atasnya. Di bawah keran air. Lalu memutar keran air tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya anak kos mandinya kaya’ gini,”sambil memainkan gayung naik turun seperti sedang mandi. Aku memberikan senyum termanisku kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apalagi ya? Kamu butuh apa lagi?”tanyanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndak usah Mbak, ini sudah cukup,”jawabku lugu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian keluar dari kamarku. Ia belum berhenti bicara. Ia kemudian memberiku air mineral dan roti tawar yang dibungkus dalam kantong plastik warna putih. “Makasih banyak Mbak,”kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok ada peserta juga yang mau nginap di sini. Dari Surabaya. Namanya Khanis. Ia kerja di GAYa NUSANTARA. Tapi kayaknya ia akan bolak-balik Yogya Surabaya deh,” jelas Mbak Dian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAYa NUSANTARA sebuah lembaga yang mendukung adanya keanekaragaman seks, gender dan seksualitas. Anggotanya banyak kaum homo dan lesbian. Aku bertanya dalam hati, “jangan sampai Mbak Khanis  juga lesbian, bisa gawat.” Malam itu aku gelisah. Intinya aku penasaran. Apakah Khanis seorang lesbian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Dian kemudian membuyarkan pikiran tentang Mbak Khanis dengan mengajakku ke warung kopi. Tentu saja aku mau meski lelah masih mengganggu tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara malam Yogya sangat dingin. Aku mengancing rapat resleting jaketku. Dingin masih juga aku rasakan. Motor Mbak Dian terus melaju dengan kecepatan agak tinggi sambil memberitahuku nama jalan yang kami lewati. Kami kemudian tiba di warung kopi plus di daerah Bandeng. Memasuki warung itu, aku merasa seperti berada di desa. Suasananya begitu nikmat. Remang-remang. Lagu bahasa Jawa makin membuatku seperti di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memesan makanan dan minuman. Aku memesan mie goring telur dan teh manis hangat. Mbak Dian memesan teh jahe dan roti coklat keju. Sedang teman Mbak Dian, Mas Andre memesan kopi dan nasi kucing. “empat belas ribu Mbak,”kata pria yang bekerja seagai kasir di warung itu. Aku kaget. “Apa? Pesan sebanyak ini bayarnya hanya empat belas ribu? Apa tidak rugi?”tanyaku dalam hati. Pulang dari warung itu, aku menanyakannya pada Mbak Dian. Mbak Dian hanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 00:00 kami kembali ke kos-kosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku tidur di kamar Mbak Dian menemaninya nonton bola. Pertandingan belum selesai aku sudah tertidur. Paginya aku kembali ke kamar. Tak lama kemudian, Mbak Dian berangkat ke kantor. Aku sendiri bingung mau ke mana. Eko tak bisa keluar, ia tak tahu jalan di Yogya. Karna bosan di kamar, aku memilih keluar. Singgah di sebuah bengkel yang juga menjual pulsa. Kuhabiskan pagi pertamaku di sebuah bengkel bersama Pak Juanda, pemilik bengkel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bosan. Lama menunggu kabar Eko selanjutnya, aku kemudian mengirim sms ke Jalling, temanku yang sekarang berada di Yogya. Ia membalas, dan menyuruhku menunggu di Bengkel Pak Juanda. Hanya dua puluh menit, ia sudah tiba. Ia pun mengajakku keliling Yogya dengan Trans Yogya atau lebih dikenal Busway.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih hari pertama di Yogya, aku sudah rindu rumah. Rindu Ibu. Rindu Ayah. Rindu kakak, adik dan keponakanku Lingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu kemudian menelponku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana ko nak?”tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di atas busway,”jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati ko le’ nak, belajar ko baik-baik di situ. Jangan lupa salat,” kata Ibu mengulang pesannya saat aku berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iye’ ma’. Jangan khawatir. Baik-baik ja di sini,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengucapkan salam, Ibu mematikan telepon. Aku masih di atas busway.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merindukan Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seturan, Yogyakarta.&lt;br /&gt;25 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-4096551038313119264?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/4096551038313119264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=4096551038313119264' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4096551038313119264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/4096551038313119264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/06/ingat-pesan-ibu.html' title='Ingat pesan Ibu'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-2914203552404338636</id><published>2008-06-24T05:27:00.000-07:00</published><updated>2009-01-30T03:17:41.572-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memories'/><title type='text'>Punto ada di Yogya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Namanya Punto Wijayanto. Dipanggil Punto. Lahir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di Jakarta, 16 November 1977. Oleh ayahnya, Waluyo, seorang karyawan PT. Pertamina, ia diberi nama yang mirip dengan salah satu tokoh wayang, Punto Dewo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;“Karena anak pertama kali ya, makanya dikasih nama Punto, kaya’ tokoh wayang itu &lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt; anak pertama juga, dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; bersaudara, tapi aku cuma tiga aja,” kata Punto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Badannya agak gemuk. 70 kilogram beratnya. Kalau tingginya 165. Suka senyum dan ramah. Belum menikah. “Masih normal,”katanya sambil tersenyum. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Di Yogya&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; tinggal bersama orang tuanya di Jalan Kaliurang Desa Sidoarjo, Sleman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Sebelum tinggal &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;di Yogyakarta&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; dan keluarganya berpindah-pindah. Mulai dari &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;, Kalimantan, Aceh, dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Palembang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. “Ikut Bapak, kerja di kota-kota itu,”katanya. Beruntung pada saat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;di Aceh&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; tak pernah merasakan dampak dari perseteruan antara Gerakan Aceh Merdeka dan TNI. “Soalnya aku tinggalnya di Aceh bagian timur gitu, jauh dari tempatnya GAM.” Ia dan keluarganya meninggalkan Aceh pada tahun 1991 dan pindah ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Palembang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Memasuki Sekolah Menegah Atas, Punto meninggalkan keluarganya dan sekolah di &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;. Nama sekolahnya SMU De Pritto. Salah satu sekolah swasta di &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;. Sejak di SMP, Punto senang menulis. Bahkan saat di SMU ia aktif menulis di majalah dinding (mading) sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikulernya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;“Yogya terkenal sebagai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pelajar, makanya aku memilih untuk sekolah di sini.”kata Punto meyakinkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Setelah lulus SMU, ia melanjutkan kuliahnya di UGM jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 1997. Sejak kuliah, ia sudah mulai bekerja sebagai freelance di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat, Yogya Heritage Society (YHS). Yaitu lembaga yang bergerak dalam bidang pelestarian warisan budaya namun, lebih fokus pada pelestarian pembangunan bersejarah. Sekarang Punto adalah konsultan arsitektur di LSM tersebut dan sedang menangani proyek pembangunan yang bekerja sama dengan Bank Indonesia Yogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Gembiraloka. Nama kelompok yang ia buat bersama teman-teman kerjanya. “Gembiraloka itu nama kebun binatang di Yogya, soalnya anggotanya hewan semua,”ujar Punto sambil tertawa. “bercanda, kok.” Sebelumnya, ia juga mempunyai kelompok Gerilya Kota. Anggotanya tiga orang. Kegiatannya mengadakan pelatihan-pelatihan. “Biasanya film,”katanya. Tapi karena bekerja, ia berhenti dari kelompok Gerilya Kota. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Pasca gempa melanda &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;, ia dan teman-temannya mendatangi Desa Giriloyo, Kecamatan Imogiri. Mereka mencoba memperbaiki roda perekonomian di desa ini yang sempat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;macet akibat gempa. Mereka mengumpulkan para pembuat batik yang ada di desa ini. Dengan menyiapkan bahan-bahannya, Punto dan teman-temannya terus memberikan dukungan kepada warga desa agar kembali membangun perekonomian di Giriloyo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;“Ngga’ ada yang menarik, hidupku datar-datar saja. Aku lagi menunggu hidupku bervariasi,”katanya sambil menggerakkan ujung jari telunjuknya naik turun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kalau merasa bosan, ia lebih suka nonton film. Studio Twenty One pun menjadi tempat favoritnya. Kadang-kadang ia berkumpul bersama teman-temannya di cafe-cafe sekitar Yogya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;“Yogya dianggap sebagai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang enak untuk masa tua” sambil mengenang ucapan Ayahnya. “Ayahku mau menetap di sini. Tapi kalau untuk generasiku belum tahu,” katanya sambil tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-2914203552404338636?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/2914203552404338636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=2914203552404338636' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2914203552404338636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2914203552404338636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/06/punto-ada-di-yogya.html' title='Punto ada di Yogya'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-3824668810821931324</id><published>2008-06-18T23:59:00.000-07:00</published><updated>2009-01-30T03:18:36.358-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memories'/><title type='text'>Menjadi Kontributor di Kota Palopo</title><content type='html'>Di penghujung tahun 2007. Aku sedang berjalan-jalan di salah satu pusat pertokoan di Kota Makassar.  Rencananya ingin membeli sandal. Tiba-tiba handphoneku yang sedikit lagi akan lowbet berdering. Kulihat nama seorang pria yang lama tak kujumpai. Kak Abo memanggil… . Jujur saja saya heran. Tak biasanya. Pasti ada sesuatu, pikirku. Setelah kuterima, ia hanya berbicara sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tik, lagi di mana dek? bisa telfon balik ka’??” pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya Kak. Tunggu beberapa menit. Saya cari wartel dulu, soalnya tidak ada pulsaku kodong..” jawabku jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphone kemudian kami matikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berjalan menuju sebuah wartel yang berada di lantai 1 pertokoan. Saya menekan nomor telepon milik Kak Abo sesuai yang tertera di handphoneku. Cepat sekali ia menjawab. Seperti biasa, awalnya basa-basi, Kak Abo sering bercanda. Meski telah kuduga sebelumnya, ia menawariku sebuah pekerjaan yang sesungguhnya sangat kuinginkan. Kebetulan pada saat itu, statusku pengangguran. Maklum, baru 1 bulan selesai wisuda.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi kontributor. Tapi, untuk wilayah Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur. Aku tidak langsung memberi jawaban kepada Kak Abo. Barulah setelah beberapa hari aku menerima tawaran tersebut, tapi aku meminta wilayah lain yaitu Kota Palopo dan Kabupaten Luwu. Mungkin aku sudah keterlaluan karena harus memilih wilayah sendiri. Tapi, aku mempunyai pertimbangan lain mengapa aku ingin di tempatkan di Palopo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengirim lamaran, wawancara, hingga belajar meliput dan ngedit di Biro Makassar, beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 3 Januari 2008 aku berangkat ke Palopo. Sebelum berangkat berbagai macam pesan-pesan dari senior-seniorku di Biro serasa mengepung telingaku. Aku tidak keberatan. Karna kupikir aku memang masih perlu banyak belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama di Palopo aku langsung diperkenalkan dengan beberapa wajah-wajah lama dan wajah-wajah baru yang tentu saja asing bagiku. Akan kuperkenalkan satu persatu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAM DJUMADIN. Lebih sering dipanggil Adam atau DJ, singkatan dari Djumadin. Kadang-kadang ia selalu marah jika aku salah menyebut Djumadin menjadi Djumain. Adam adalah kontributor TRANS TV. Wilayah liputannya cukup luas mencakup seluruh Kabupaten dan Kota di Luwu Raya, ditambah Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam kuliah di Stikom Fajar Makassar semester tujuh. Sekarang ini ia sudah Kuliah Kerja Lapang Plus (KKLP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak perlu susah..” katanya. ”Saya kan sudah diterima di TRANS TV, jadi saya tinggal mencari judul laporan dan yang saya tulis pengalaman liputan saya di Palopo.” tambahnya.&lt;br /&gt;Aku kemudian meminjamkan laporan KKLPku sebagai contoh. Masalahnya, adam tidak mempunyai buku petunjuk membuat laporan KKLP sesuai keinginan Stikom. Entahlah mengapa Adam tidak memilikinya, mungkin ia tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi pertama bertugas di Palopo, aku  mengirimkan pesan ke Adam melalui sms. ”jemput dulue..” pintaku. Sekitar jam 10 dengan motor Thunder kesayangannya ia menjemputku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam pria yang baik, kadang-kadang lucu, tapi kadang-kadang menjengkelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia tipe pria melankolis dan centimentil”kata seorang teman wartawan wanita yang juga bertugas di Palopo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam tidak pelit, peduli dan bersahabat. Pintar memainkan gitar dan bernyanyi. Suaranya lumayan bagus. Terkadang jika ia ingin melucu, ia akan bernyanyi sambil menirukan suara vokalis Naff atau Fadli Padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Adam sendiri kadang tidak menyangka jika saat ini ia bisa bekerja di media elektronik. Padahal ia kuliah di Stikom jurusan Jurnalistik. Awalnya, ia hanya iseng-iseng melamar di Trans tv untuk wilayah Sulbar. Namun, tak ia sangka 2 minggu setelah lamaran ia kirim, pihak Trans tv Makassar memanggilnya untuk bergabung di wilayah lain yaitu Luwu Raya, Toraja dan Enrekang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal ia bekerja, ia mengaku kesulitan. Apalagi dalam pembuatan naskah, karena ia telah terbiasa membuat berita untuk media cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”saya dulu setengah mati sekali ka bikin naskah berita tv , karena basic ilmuku di media cetak. Tapi, setelah biasa ma’, itu mi naskah berita tv yang paling bodo’.!!” kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Palopo, Adam tinggal di Biro Tribun Timur bersama kakaknya yang juga bekerja sebagai wartawan Tribun di Kota Palopo. Irwandi Djumadin. Kami biasa memanggilnya Kak Wandi. Yang tinggal di Biro Tribun, bukan hanya mereka berdua, tapi juga istrinya, Sandra dan anaknya yang baru berumur 3 bulan, bernama Tiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Wandi sudah sekitar 5 tahun menjadi wartawan Tribun Timur untuk Kota Palopo. Dari masih bujangan hingga ia punya 1 anak. Mungkin juga akan lebih. Sebelum Tiara lahir, kami sering berkumpul, bercerita, tertawa hingga numpang tidur di Tribun. Tapi, sekarang tidak lagi. Kami tidak ingin tawa terbahak-bahak kami mengganggu bayi mungil itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Wandi sangat baik. Orangnya santai. Ia senang memelihara ayam jantan. Di samping Biro, ia memiliki kandang ayam. Entah berapa jumlah ayam jantan yang ia punya. Jika ingin buat ia marah, caranya gampang. Tinggal curi ayam jantannya saja. Hahaha... Setiap pagi kegiatan rutinnya adalah memandikan ayam lebih dulu sebelum ia mandi. Jika ingin melihatnya begitu lucu juga gampang, suruh saja ia bernyanyi. Ekspresinya akan membuat anda tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang ketiga yang akan kuperkenalkan adalah Suaib Laibe. Ia kontributor RCTI untuk wilayah Luwu Raya, Kota Palopo dan Kabupaten Toraja. Sebelum bekerja di RCTI, ia pernah menjadi redaktur di koran harian Palopo Pos. Ia Bekerja di RCTI baru sekitar 8 bulan. Selain di RCTI, ia memiliki beberapa pekerjaan lain. Ia adalah salah satu konsultan publik di Komisi Pemilihan Umum Kota Palopo. Ia juga bekerja di Komisi Penanggulangan Aids Kota Palopo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berkulit hitam ini sangat cuek. Tidak lagi bujangan. Ia sudah punya 5 anak. Ia penyuka warna hitam. Setiap hari warna bajunya sama dengan warna kulitnya, hingga jika gelap ia bisa saja tak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria asal Kecamatan Wotu ini sulit bangun pagi. Jam 12 malam handphonenya tidak aktif lagi. Setelah jam 10 pagi menjelang sianglah baru handphone kembali ia aktifkan. Jika sedang istirahat, ia tak mau diganggu, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang tak kalah gilanya adalah Son Abdul Rahim. Awal saya di Palopo, ia masih bekerja sebagai stringer di SCTV. Tapi, 1 bulan kemudian ia menjadi kontributor setelah mendaftar di tvOne untuk wilayah Luwu Utara dan Luwu Timur. Sebelumnya, ia juga pernah bekerja di Palopo Pos. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Biro Palopo Pos di Kabupaten Tana Toraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ulet. Pekerja keras. Lucu. Kadang menjengkelkan. Harus kuakui ia punya jaringan yang kuat di Kota Palopo. Karena berada di naungan perusahaan yang sama, saya dan Son sering sama-sama. Mulai dari diskusi sampai liputan. Saya menyebutnya Pria Perantau. Ia berasal dari Pulau Sumatera. Bertahun-tahun di Palopo, hanya sekali ia berkunjung di kampungnya. Bahkan ketika ayahnya meninggal, ia juga tidak pulang ke kampungnya. Tapi, keluarganya banyak di Palopo. Cek percek, ayahnya keturunan Bua Kecamatan Luwu Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pandai berpantun. Rencananya paling menggiurkan dalam waktu dekat ini adalah menikah. Bulan Agustus rencananya. Nama pacarnya Anni Salkar. Umurnya jauh bedanya minta ampun. Sebaiknya tak kusebutkan, karena dijamin anda akan menyebut kata TIDAK ADIL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria lainnya adalah Wahyudi Baso. Bekerja sebagai Koresponden SCTV. Ia  wartawan Tv yang paling tua di Palopo, karena memang umurnya sudah melebihi usia panik. Ia belum menikah. Bukannya tidak mau, tapi entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Yudi sangat baik. Sabar. Suka tertawa dan suka mengalah. Apalagi jika menghadapiku. Ia memanggilku Tikko. Badannya gemuk, tinggi, berkulit putih dan kepalanya hanya berambut sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi wartawan, Kak Yudi juga membantu dokumentasi Komisi Pemilihan Umum Kota Palopo selama Pilwalkot 2008 ini. Ia sering mengajariku pengambilan gambar, meliput di lapangan hingga  menasehatiku soal apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan lainnya yang ingin kuceritakan adalah Mulyadi Abdillah. Tapi lebih sering dipanggil Ipung. Ia alumni Stikom Fajar juga. Sekarang bekerja di Koran Sindo. Ia sudah mempunyai pengalaman jurnalistik yang lumayan banyak. Beberapa media pernah ia tempati bekerja. Mulai dari Harian Fajar, Pedoman Rakyat, Majalah Ekspose dan sekarang Seputar Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja aku segan padanya. Waktu kuliah dulu, kami belajar dalam organisasi yang sama. Sanggar Seni Karampuang. Saya banyak belajar darinya bukan hanya dalam hal jurnalistik tapi persoalan hidup. Saya sering konsultasi dengannya. Jujur saja, di Kota Palopo ini, ia-lah yang sering kumintai pendapat, apalagi dalam hal pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit menjelaskan karakter pria satu ini. Ia cool. Tidak banyak bicara, tenang tapi kalau marah bisa bikin ketakutan. Hahahaaa... Dari segi penampilan, Kak Ipung, pria gondrong sebahu ini cuek. Baju kaos, celana jeans dan sandal atau sepatu kulit sudah cukup baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lelaki lain sudah sedikit berumur yang ingin kuceritakan bernama Ucenk Husain. Bekerja sebagai kontributor di Metro Tv. Badannya kecil dan berambut keriting. Ia sudah pernah menikah. Tapi, dua tahun yang lalu, istrinya meninggal karena kanker payudara. Kak Nia nama almarhum istrinya. Cantik, perhatian dan sosok wanita yang kuat. Waktu Kak Nia masih hidup, mereka sering liputan berdua. Kebetulan Kak Nia juga bekerja sebagai wartawan tv.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat penyakit Kak Nia semakin parah, Kak Uceng setia menemani, bahkan hingga ajal menjemputnya. Saat Kak Nia meninggal dan dikuburkan, Kak Uceng menangis sambil memeluk nisan istrinya dan terus berkata sayang pada mendiang istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Uceng, penikmat rokok Dji Sam Soe ini akhirnya harus menikmati masa tuanya di Kota Palopo dengan berat hati. Setelah lama bekerja di Makassar, ia kembali ditugaskan di Kota ini. Sebelum di Makassar, ia memang sudah lama menjadi wartawan tv untuk Metro tv di Kota Palopo dan Luwu Raya bahkan Kabupaten Tana Toraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali waktu, kami mengadakan pesta kecil-kecilan di Biro Tribun Timur. Kak Son membeli beberapa ikan Baronang  untuk dibakar. Salah satu ikan ukurannya lumayan besar. Kak Uceng dengan rasa percaya diri dan keyakinan yang entah tiba-tiba berasal dari mana kemudian menawarkan diri untuk membuat masakan dari bahan ikan tersebut. Katanya  mau buat parede (ikan masak yang dimasak dengan bahan sederhana misalnya, cabe, garam dan kunyit. Biasa dicampur daun kedondong atau belimbing biar kecut). Tapi karena tak ada daun kedondong dan belimbing, Kak Uceng mencampur bahan lain untuk membuat masakannya sedikit kecut yaitu jeruk nipis. Melihat atau mendengar, sepertinya enak jika ia hanya memeras air jeruk nipisnya. Tapi Kak Uceng membiarkan biji dan kulitnya ia ulek dan dicampur ke dalam parede. Hasilnya, pasti pahitlah. Tak ada rasa bersalah di wajahnya. berniat membela diri ia bahkan mencoba membohongi kami dengan berkata, ”biji jeruk nipis bisa jadi obat,”. Sambil tertawa kami semua membalas dengan menyebutnya, ” betul-betul Kak Uceng gila. Hahaha..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan masakan, teman yang akan saya ceritakan lagi adalah seorang wartawan wanita yang katanya jago masak. Belum terbukti sih... aku Cuma pernah merasakan sayur kangkung tumis buatannya yang rasanya lumayan enak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita ini bekerja di Harian Fajar. Rosmini Hamid. Diperkeren menjadi Mimi. Tomboy.  Jago Taekwondo dan jago main billiar. Sedikit-sedikit mau hajar orang. Setiap hari ia menggunakan jilbab. Warna biji matanya tidak seperti warna biji mata pribumi. Warnanya coklat. Mimi pakai softlens. Matanya minus 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Palopo, ia tinggal di kamar kos ukuran 4 X 4 meter. Sendirian. Kadang-kadang aku menemaninya menginap di kamar kos itu. Kami dekat. Sering bercerita berdua. Biasa, urusan wanita. Hal yang paling mnjengkelkan darinya karena ia sulit dibangunkan saat tidur. Butuh tenaga dan taktik khusus untuk membangunkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum di bertugas di Palopo, Mimi ditempatkan oleh perusahaan tempatnya bekerja di Kota Makassar. Selama empat tahun, ia bekerja sebagai wartawan Hiburan. Tak heran jika ia tergila-gila jika ada artis ibukota yang akan datang ke Makassar, maka Mimi tidak tanggung-tanggung akan mengeluarkan teriakan histeris. Ia pernah meliput dan melakukan wawancara khusus dengan Tibo beberapa hari sebelum ia di eksekusi di lembaga pemasyarakatan di Palu, Sulawesi Tengah. ”Saat itulah aku betul-betul merasa menjadi wartawan,” katanya bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan lain yang akan kuceritakan adalah Salam Abadi. Bekerja di ANTV. Kupanggil ia Kak Salam. Sudah punya istri dan dua orang anak. Ia ayah yang baik. Setiap pulang kerja, ia selalu menyempatkan untuk singgah ke toko membeli roti tawar untuk anaknya. Ia termasuk wartawan paling sabar di kota ini. Tak pernah mengeluh pada saat liputan. Kak Salam selalu tersenyum meski pada saat liputan, isi kantongnya sudah tak mendukung lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran tubuhnya hampir sama dengan Kak Ipung. Badan agak kurus. Tingginya sekitar 165 cm. Kulit putih dan rambut ikal dan cara berpakaiannya sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat banjir melanda Kabupaten Luwu Utara, kami sering meliput bersama. Dan yang tak bisa kami lupa, ketika aku, Kak Salam dan Kak Son meliput banjir di Desa Lara I Kecamatan Baebunta. Untuk menuju ke desa itu, kami menggunakan dua motor. Aku berboncengan dengan Kak Son dan Kak Salam sendiri dengan motor Shogunnya. Motor kami harus melewati jalan-jalan desa yang sudah tergenang air. Kadang aku harus turun berjalan kaki dan Kak Son serta Kak Salam harus mendorong motor. Banjir yang lumayan tinggi, membuat motor Kak Salam mogok karena kemasukan air. Kami terpaksa harus berhenti dan mencoba memperbaiki  motor tersebut dengan sekuat tenaga. Kak Salam dan Kak Son bahkan harus mengangkat dan membalikkan motor Kak Salam agar airnya bisa keluar. Dan yang paling lucu, pada saat mereka mengangkat motor itu, Kak Salam masih sempat memohon padaku agar difoto sebagai kenang-kenangan. Kami pun tertawa terbahak-bahak, meski beban mereka berkilo-kilo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga dan pikiran yang kami keluarkan ternyata tak membuat motor Kak Salam bisa kembali normal. Waktu terus berjalan. Matahari semakin dekat dengan kepala. Keringat mulai menetes deras dan  terasa mengalir di kulit. Kami memutuskan untuk meninggalkan motor Kak Salam disalah satu rumah penduduk sambil menjemurnya di bawah terik sinar matahari. Untuk menuju ke lokasi banjir terparah, kami bertiga naik dalam satu motor dan memaksa motor kesayanganku  mengangkut kami dan melewati genangan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua teman dekatku di Palopo telah kuceritakan. Di antara mereka aku yang paling muda. Mereka sering bilang aku anak kecil. Mungkin karena badanku yang kecil dan sikapku yang sedikit manja kepada mereka. Kami semua sering berkumpul bersama. Meliput peristiwa bersama. Saling menukar informasi. Saling bercanda. Saling mencela. Kadang tak sependapat. Kadang pula bersitegang. Tapi tak ada dendam karena kami hidup dan bekerja dalam kota yang sama. Palopo. Kota kecil dimana semua kenangan masa kecilku mengalir indah di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sartika&lt;br /&gt;Malili, 16 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-3824668810821931324?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/3824668810821931324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=3824668810821931324' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/3824668810821931324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/3824668810821931324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/06/menjadi-kontributor-di-kota-palopo.html' title='Menjadi Kontributor di Kota Palopo'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-1109286485680145537</id><published>2008-05-09T01:43:00.000-07:00</published><updated>2009-01-30T03:18:39.040-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memories'/><title type='text'>Sulis</title><content type='html'>Akhirnya, setelah dua bulan di servis, si SULIS (kamera kesayanganku) kembali. Senang sekali rasanya, apalagi uang yang digunakan buat bayar ongkos servisnya pakai duit sendiri. Dua bulan tak melihat sulis, rasa penasaran terus muncul di kepalaku. rindu? PASTI. Saat bertemu kembali, saya berteriak asli senang tiada tara. Teman-teman yang saat itu sedang sibuk buat berita masing-masing, seketika menoleh ke arahku. Ada yang bilang saya gila.. ada yang bilang, "wei, santai mako, cewe'...". Hanya ada satu kata yang langsung kupikirkan, TIDAK PEDULI. Yang pasti saya sudah mendapatkan kameraku kembali. Tidak sabar ingin langsung ku pakai liputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulis..Sulis...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-1109286485680145537?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/1109286485680145537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=1109286485680145537' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1109286485680145537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/1109286485680145537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/05/sulis.html' title='Sulis'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-5109312490303589233</id><published>2008-05-06T09:18:00.000-07:00</published><updated>2008-05-07T07:52:02.060-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>malam ini hujan yang sedikit-sedikit menemaniku memikirkanmu...&lt;br /&gt;sangat indah... percikannya menenangkanku...&lt;br /&gt;ketika menyentuh wajahku.. ia seperti berubah menjadi jemarimu&lt;br /&gt;mengapa malam ini aku merasa rindu itu begitu indah...&lt;br /&gt;tak ada ragu... ketika kita saling jujur, percaya dan mengharap...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti katamu..,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...kita akan segera bertemu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-5109312490303589233?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/5109312490303589233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=5109312490303589233' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5109312490303589233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5109312490303589233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/05/malam-ini-hujan-yang-sedikit-sedikit.html' title=''/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-2645465180533724295</id><published>2008-04-22T14:05:00.000-07:00</published><updated>2009-01-30T03:20:11.411-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memories'/><title type='text'>RUSAK TOTAL</title><content type='html'>Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, banjir terjadi Kabupaten Luwu Utara. Tapi kali ini banjirnya di 7 Kecamatan. Parahkan??? Bersama seorang teman yang agak gila (hahahaaaa) saya berangkat ke sebuah Desa yang banjirnya tak pernah surut-surut. Desa Teteuri, terletak di kecamatan Sabbang, sekitar 10 kilometer dari ibukota Kabupaten Luwu Utara, Masamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di lokasi, banjir sudah sampai di sebuah jembatan besar yang jaraknya tidak jauh dari jalan poros Sulawesi. Sekitar puluhan siswa tampak bersenang-senang bermain air bahkan mandi bersama teman-teman sekolah mereka. Kebetulan hari itu, mereka pulang cepat karena banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju ke seberang jembatan, saya dan teman saya, Son Abdul Rahim, harus turun dari motor. Mesin motor terpaksa dimatikan, dan Son harus mendorong motor ke seberang jembatan. Saya sendiri harus menumpang pada sebuah mobil milik Dinas Sosial yang akan mengantarkan bantuan ke desa-desa yang terendam banjir. Karena jaraknya dekat, saya memilih tidak duduk di dalam mobil bersama pegawai Dinas Sosial, tapi saya memilih berdiri sambil pada sisi kiri mobil dengan memegang sebuah besi agar posisi berdiri tetap aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di seberang saya turun dari mobil dan naik motor menuju lokasi banjir yang lumayan parah bersama Son. Di tengah perjalanan, saya melihat sekelompok murid SD  yang bersepeda. Dari jauh, saya pikir anak-anak tersebut adalah anak laki-laki karena sepeda yang mereka gunakan adalah sepeda BMX yang lebih sering digunakan oleh anak laki-laki. Ternyata setelah melihat dari dekat, semua anak adalah anak perempuan. Waduh, saya tertawa terbahak-bahak di atas motor. Anak-anak perempuan tersebut sangat tomboy menggunakan sepeda tersebut. Mereka menyapa kami, “haloooooo tanta…”. Saya lagi-lagi tertawa sekeras-kerasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar info bahwa anak sekolah di desa ini kebanyakan menggunakan sepeda ke sekolah karena letak sekolah mereka lumayan jauh. Bukan hanya murid SD kelas 4 atau 5 saja yang bias menggunakan sepeda, tapi ada juga anak kelas 1 SD. Bagi anak yang menggunakan sepeda, akan terbilang lumayan kaya jika ia memiliki sepeda. Jadi, ada juga anak-anak sekolah yang harus rela berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya untuk pergi ke sekolah. Bahkan, ada diantara mereka yang hanya menggunakan sandal ke sekolah. Ada juga yang menggunakan sepatu, tapi saat berjalan pulang dari sekolah ia melepas sepatu dan memegang sepatunya sambil berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahahaaaa… jadi ingat waktu kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari sekolah saya juga kadang-kadang melakukan hal yang sama. Saya ingat, saat kelas 5 SD, bapak juga memberikanku sepeda untuk digunakan ke sekolah. Walau jarak dari rumah ke sekolah lumayan dekat, saya tetap memilih naik sepeda. Suatu hari, saat ingin ke sekolah sepeda pemberian bapak itu tidak ada di halaman rumah. Menurut kakak, sepedanya dipinjam sepupu. Walau dalam keadaan marah dan menangis, saya tetap pergi ke sekolah. Tapi… pulang dari sekolah, sepupu saya bukannya bilang terima kasih tapi malah mengejek karena saya harus menagis. Tiba-tiba saja batu merah yang lumayan agak besar melayang ke kepala sepupu saya. Siapa yang lempar ya…??? Ya.. tentu saja saya. Hahahaaaa…  untung saja sepupu saya tidak apa-apa, Cuma benjol sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kisah di Teteuri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu tiba di lokasi, kami bertemu dengan seorang Kepala Dusun Mangkallang. Kami kemudian berbincang-bincang mengenai keadaan warga di Mangkallang. Ternyata belum ada yang mau mengungsi juga, karena sudah biasa. Ketinggian air juga masih sama saat beberapa hari yang lalu meliput di sana. Tiba-tiba saja handphone Son berdering. Katanya dari delik sandi atau panggilan buat seseorang yang sering memberi informasi kepada kami jika ada peristiwa. Dari delik sandi tersebut, kami menerima info bahwa di kecamatan Mappadeceng  juga mengalami banjir yang parah. Saya dan Son memilih menuju ke mappadeceng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan, saya melihat tiga orang bocah sedang membantu ibunya mencabut daun ubi jalar di pinggir-pinggir jalan. Ketiga bocah itu dengan asyiknya bernyanyi sambil tertawa terbahak-bahak. Sangat menyenangkan melihat mereka bahagia. Mau tau lagu apa??? “11 januari bertemu, menjalani kisah cinta ini… aluri berkata engkaulah.. milikku..”. Weits, salut buat GIGI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kemudian bertemu dengan kepala Desa Teteuri. Beliau membawa kami ke sebuah rumah yang digunakan warga untuk mengungsi karena banjir. Naik peraaaaaahu lagi. Lebih tepatnya sampan. Saat tiba di lokasi, ternyata rumah pengungsian itu juga sedang tergenang air. Pengungsian saja terendam banjir, bagaimana dengan rumah mereka???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk kesekian kalinya terjadi pada saya. Lagi-lagi saya jatuh diu sebuah selokan yang airnya setinggi dada. (bagi yang ingin tertawa, SILAHKAN!!! Meski melukai hati saya). Namun, sayangnya dan sangat saya sesalkan hingga ingin berteriak sekeras-kerasnya…. Handphone Samsung satu-satunya milikku, yang sangat kusayangi harus ikut terendam. Hiks…hiks…hiks… Son kemudian memisahkan satu persatu bagian handphone mulai dari casing, baterai dan sebagainya, lalu menjemurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, sampai hari ini RUSAK TOTAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah mi deh..., nda mood ma’ menulis ingat handphoneku. Hehehe…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-2645465180533724295?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/2645465180533724295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=2645465180533724295' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2645465180533724295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2645465180533724295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/04/rusak-total.html' title='RUSAK TOTAL'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-2275312916961353377</id><published>2008-04-15T02:31:00.000-07:00</published><updated>2008-04-15T02:37:12.454-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:130%;color:#000000;"&gt;&lt;b&gt;Wartawan: Menolong atau Memotret?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span new="" roman=""    style="font-family:Times;font-size:100%;color:#333333;"&gt;Oleh  Sirikit Syah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span new="" roman=""    style="font-family:Times;font-size:100%;color:#666666;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Sebuah diskusi tentang praktik pers&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;"&gt;SEJAK saya pertama kali jadi wartawan pada 1980-an, pertanyaan ini seringkali muncul, baik dalam obrolan sesama wartawan, dalam pelatihan jurnalistik maupun dalam seminar tentang etika pers. Dalam situasi tertentu, misalnya musibah, kecelakaan, tragedi, wartawan yang kebetulan berada di tempat kejadian harus menolong dulu atau memotret --merekam dalam kamera, melakukan wawancara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James Fallowes dalam bukunya Breaking the News (1997), menuliskan situasi khusus itu di bagian “Why We Hate the Media.” Menurut Fallowes, wartawan yang menjawab –dan mempraktikkan jawaban-- bahwa “wartawan harus memotret dulu, karena tugas wartawan adalah memotret, bukan menolong” itu jadi salah satu penyebab masyarakat Amerika Serikat membenci media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir 1980-an, ada sebuah program televisi yang disiarkan di hampir semua station PBS (Public Broadcasting Service) di Amerika Serikat. Program itu bertajuk Ethics in &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;America&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Di program ini dihadirkan sekitar selusin tamu dari berbagai profesi untuk membahas kode etik dan praktik dari profesi masing-masing, termasuk kendala atau hambatan menerapkan kode etik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu episode yang dibahas berjudul “Under Orders, Under Fire,” dengan tamu kalangan tentara dan wartawan. Moderatornya Charles Ogletree, seorang pofesor dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Harvard&lt;/st1:placename&gt;  &lt;st1:placename st="on"&gt;Law&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;School&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;. Mengapa profesi tentara dipertemukan dengan profesi wartawan tak dijelaskan dalam buku itu. Mula-mula Ogletree menanyai seorang veteran perang yang kehilangan sebelah lengannya di Vietnam. Kepadanya diberi persoalan, kawan-kawannya tertangkap lawan, sementara dia hanya menangkap seorang musuh. Pertanyaannya: “Sejauh mana dia akan membuat tawanannya berbicara dan memberitahu informasi penting yang dapat menyelamatkan kawan-kawannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frederick Down, veteran &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang kemudian jadi novelis itu, kelihatan kesulitan menjawab pertanyaan itu. Dia pernah mengalami hal-hal yang tak mengenakkan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; perang. Dia menjawab, “Saya akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan kawan-kawan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ogletree mengejarnya, “Termasuk dengan menyiksa tawanan Anda? Anda punya pisau. Dari mana Anda mulai dan sampai di mana Anda akan berhenti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak enggan, Down menjawab, “Well, saya tak suka melakukannya. Tapi kalau terpaksa, saya akan menyiksanya agar dia berbicara dan saya dapat menyelamatkan kawan-kawan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu memicu perdebatan di kalangan tentara sendiri dalam forum itu. Sebagian setuju dengan Down. Sebagian mengingatkan dalam perang pun ada aturannya. Di antara yang berpendapat perlunya kode etik perang ditegakkan adalah William Westmoreland, pensiunan jendral yang mengomandani seluruh tentara Amerika Serikat di Vietnam ketika Fredercik Down bertugas saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audience tampak bersimpati pada Down, apalagi dia menutup dengan kalimat, “Saya tahu konsekuensinya. Saya harus hidup dengan bayangan peristiwa itu, dan itu tidak mudah ….” Dari jawaban itu dapat disimpulkan dua hal: a) Down akan melanggar kode etik perang dalam situasi tertentu, tapi b) dia melakukannya demi solidaritas tentara dan dia melakukannya dengan beban perasaan yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Ogletree beralih pada para wartawan yang diwakili Peter Jennings, pembawa acara terkenal World News Tonight dari ABC, diberi persoalan. Setelah melobi sekian lama, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jennings&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; berhasil menarik perhatian pemimpin tentara musuh. Dia diundang ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; perang dan kini dia sedang diajak tur ke garis belakang tentara lawan. Pada saat melihat-lihat &lt;st1:city st="on"&gt;medan&lt;/st1:city&gt; perang di belakang garis lawan itu, rombongan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jennings&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; terperangkap di tengah-tengah jejak tentara Amerika Serikat dan tentara musuh yang tengah mempersiapkan penyerbuan ke arah mereka. “Apakah Anda akan memerintahkan kameraman Anda untuk siap mengambil gambar saat serangan itu terjadi?” tanya Ogletree.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jennings&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; diam sekitar 15 detik, lalu menjawab, “Saya kira saya tak akan melakukan itu. Saya akan lakukan apa yang dapat saya lakukan untuk memberitahu tentara Amerika tentang rencana penyerbuan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meskipun itu berarti mengorbankan sebuah liputan hebat?” desak Ogletree.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meskipun itu akan mengorbankan nyawaku,” tandas Peter Jennings. “Saya tak mungkin meliput hal semacam itu. Ini masalah pribadi. Mungkin wartawan lain tak sependapat dengan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Mike Wallace, pembawa acara 60 Minutes dari CBS, menyela, “Wartawan lain pasti akan melakukan hal sebaliknya. Bagi mereka, itu cuma sebuah peristiwa yang harus diliput.” Wallace kemudian menguliahi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jennings&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, “Saya benar-benar tercengang atas jawaban Anda. Anda adalah wartawan, meskipun Anda orang Amerika. Saya tak mengerti mengapa hanya karena Anda orang Amerika Anda tak akan meliput peristiwa itu.” (Ini hanya contoh seolah-olah, karena Mike Wallace dan semua orang Amerika tahu, bahwa Peter Jennings warganegara Kanada)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ogletree kemudian mendesak Wallace, “Bukankah Jennings memiliki tugas yang lebih mulia, apakah itu bersifat patriotis atau manusiawi, untuk melakukan lebih dari sekadar merekam gambar saat tentara negaranya ditembaki?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” Wallace menjawab datar dan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada itu tugas mulia semacam itu. Tidak ada. Kami hanyalah wartawan! Dan tugas wartawan adalah meliput peristiwa, bukan mencegahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jennings&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, setelah memikirkan jawabannya dan kuliah seniornya, tiba-tiba meralat, “Wallace benar. Saya seorang pengecut.” &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jennings&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; mengakui dia kehilangan pandangan jurnalistiknya dan menjadi “terlibat” --sikap yang sama sekali tidak profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Jennings bersependapat dengan Wallace, para tamu lain dalam forum itu, dan para audience, memandang keduanya dengan tercengang. Seorang pensiunan jendral Angkatan Udara, Brent Scowcroft, berdiri dan berkata dengan nada pahit pada kedua wartawan senior itu, “Anda akan berdiam diri dan menyaksikan pihak Anda dibantai? Untuk apa? Untuk 30 detik pada berita malam, sebagai ganti menyelamatkan satu peleton!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George M. Connell, seorang kolonel marinir yang mengenakan seragam lengkap (tanda masih berdinas), menatap kedua wartawan televisi itu. “Saya merasa sangat ... tersinggung.” Katanya, dua hari setelah diskusi ini, bisa saja &lt;st1:city st="on"&gt;Jennings&lt;/st1:city&gt; atau Wallace berada di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; perang bersama tentara Amerika, dan terluka atau tertembak, sebagaimana sebagian wartawan perang mengalaminya. Mereka akan mengharapkan tentara Amerika menentang hujan peluru untuk menyelamatkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kami akan melakukannya!” kata Connell, dengan nada pahit. “Dan inilah yang membuat kami muak kepada (golongan) mereka. Marinir akan dan bisa kehilangan nyawa karena menolong dua wartawan yang terluka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gambaran bagaimana tentara dan jurnalis menerapkan atau melanggar kode etik mereka. Tentara Amerika Serikat tampaknya cenderung melanggar kode etik, meski dengan perasaan tak mudah dan konsekuensi psikologis bakal mereka hadapi sepanjang hidup. Wartawan tampak lebih ketat menjaga kode etik meskipun itu bisa berarti mengorbankan nyawa manusia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harap kisah ini tak dipandang dengan kacamata &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;! Gambaran kisah ini kemungkinan berbeda dengan situasi di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; di mana pada umumnya tentara sangat patuh pada perintah atasan sementara wartawan justru cenderung melanggar kode etik mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini pernah saya bahas dalam sebuah diskusi Aliansi Jurnalis Independen di Jawa Timur pada 2001. Saya tergolong wartawan yang percaya bahwa, “Sebelum wartawan, kita adalah manusia.” Dengan demikian, dalam situasi seperti yang digambarkan, seyogyanya kita berfungsi sebagai manusia terlebih dahulu. Yang membuat saya terkesan, para anggota AJI yang mendengar penjelasan itu memberikan applause --yang menurut saya itu berarti mereka sependapat dengan saya dan tidak sependapat dengan Mike Wallace dan Peter Jennings. Wartawan AJI, setidaknya mayoritas dari anggota di Jawa Timur, tampak menyadari benar bahwa wartawan adalah manusia juga. Dapat diharapkan, dalam menjumpai peristiwa kebakaran di kampung mereka, pertama-tama mereka akan turut membawa air dan menyiram api, sebelum melakukan wawancara dengan Pak RT atau Hansip yang bertugas, atau memotret tetangga mereka yang hangus terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wartawan yang memfungsikan diri sebagai “wartawan” lebih dahulu, mungkin akan jadi “wartawan hebat” bahkan menerima penghargaan, tapi mereka bisa gagal sebagai manusia. Sebuah contoh tragis adalah kasus meninggalnya Kevin Carter, fotografer pemenang hadiah Pulitzer 1994. Fotonya yang terkenal adalah tentang seorang anak perempuan Afrika yang tengah kelaparan dalam perjalanan ke tempat pembagian jatah pangan. Anak itu jatuh dan dalam keadaan menunggu kematiannya di gurun pasir Afrika dengan latar belakang burung pemakan bangkai yang menungguinya mati (burung pemakan bangkai hanya memakan orang yang sudah mati). Foto itu menarik perhatian juri dan memenangkan Pulitzer. Kemudian muncul perdebatan: mengapa dia memotret foto mengenaskan itu? Mengapa dia tidak menolong gadis itu? Mengapa dia membiarkan burung itu menunggui si gadis meninggal dunia? Istilah kita, “Kok tega?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, fotografer freelance yang sering memotret buat Reuters itu, mati bunuh diri. Banyak orang berspekulasi dan mengatakan dia tak tahan mendapat kritik atas fotonya yang kontroversial itu. Sebagian mengatakan dia tak tahan menanggung konsekuensinya seumur hidup. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; lagi yang mengatakan, keganasan perang dan kekejaman alam Afrika di mana dia bekerja, membuatnya depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA 1996, sebuah stasiun televisi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Los   Angeles&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, menerima telepon dari seseorang yang bermaksud melakukan bunuh diri dan minta diliput. Stasiun itu mengirim awak TV untuk mendatangi sang sumber dengan peralatan lengkap. Bukannya mencegah orang itu bunuh diri, dengan memanggil polisi misalnya, awak televisi itu malah mengantisipasi sebuah liputan “eksklusif.” Mereka mempersiapkan liputan langsug, menunggui orang itu melaksanakan niatnya, dan merekam langsung saat orang itu menambak dirinya sendiri. Orang itu mati di depan kamera televisi. “Live on air!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan telepon masuk ke stasiun itu. Mereka mengecam tindakan televisi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Los Angeles&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu. Menurut para pemirsa televisi yang protes itu, pertunjukan tersebut sama sekali bukan berita menarik. Bahkan mengerikan. Mereka keberatan anak-anak mereka menonton “siaran langsung sebuah peristiwa bunuh diri,” yang selain mengerikan juga khawatir dapat ditiru anak-anak. Mereka mempertanyakan “moralitas dan etika para awak televisi itu.” Stasiun tersebut lalu mohon maaf kepada publik. Pertanyaan sang jendral pada cerita di bagian awal tadi ada benarnya, “Untuk apa? Untuk 30 detik siaran berita? Dengan harga sebuah nyawa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang redaktur CNN yang pernah saya jumpai di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Atlanta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; juga menerapkan kode etik dengan ketat. Waktu David Koresh, ketua Branch Davidian di Waco, Texas, pada 1993 mengurung semua pengikutnya dan mengabaikan permintaan polisi agar mereka keluar dari rumah itu, CNN mendapatkan jalur telepon khusus dengan David Koresh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu Federal Bureau of Investigations (FBI) kesulitan berkomunikasi dengan mereka yang terkurung (atau mengurung diri) dalam rumah, karena sambungan telepon diputus, dan mereka mengancam bunuh diri bila FBI mendesak masuk. CNN mendapatkan nomor telepon khusus David Koresh dan melakukan wawancara eksklusif sesaat sebelum mereka semua terbakar dan meninggal bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya, “Sandainya nomor telepon Anda berikan kepada FBI, mungkin mereka dapat berkomunikasi dan melakukan negosiasi sehingga puluhan nyawa manusia itu terselamatkan.” Redaktur CNN itu memandang saya dengan pandangan sulit mengerti. Katanya, “Tapi kita wartawan, Sirikit. Kita harus menjaga kerahasiaan yang dipercayakan kepada kita. David hanya mau bicara dengan orang-orang saya. Tak dapat dibenarkan kalau kami memberikan nomor itu pada FBI.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tapi, harga sekian nyawa …,” saya masih bersikeras. Dan di antara kami tak ketemu saling pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Putri Diana merupakan salah satu contoh yang sangat signifikan dari pertanyaan: memotret atau menolong dulu? Sekian menit yang dibuang para paparazi untuk memotret korban mungkin sangat berarti dalam menyelamatkan satu atau dua nyawa manusia. Karena peristiwa itulah Press Complaint Commission, sebuah badan pemantau pers semacam Dewan Pers versi Indonesia (sebelumnya namanya memang British Press Council), kemudian menelurkan sekian banyak peraturan bagi wartawan, umumnya berkenaan dengan pelanggaran privacy, penggunaan tele kamera, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertemuan para redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi dari wilayah Maluku di Surabaya akhir 1999, juga terungkap bahwa para wartawan itu mengalami kesulitan untuk menerapkan standar jurnalistik dan kode etiknya. Karena tingginya tingkat kecurigaan di Maluku, setiap wartawan yang tengah bertugas diperiksa lebih dulu oleh &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;nara&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sumber dari media apa dan beragama apa. Wartawan beragama tertentu sulit memasuki wilayah sumber agama lainnya. Dengan kondisi seperti ini, wartawan cenderung, karena dipaksa keadaan, menulis berita secara sepihak. Untuk mengurangi ekstrim keberpihakan, wartawan tentunya dapat melakukan wawancara pihak ketiga atau netral, bila pihak kedua menolak atau sulit ditemui atau bahkan membahayakan kalau ditemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit pula wartawan di Indonesia mengabaikan kode etik yang berbunyi “berikan identitas Anda dalam mewawancarai sumber.” Dalam Kode Etik Persatuan Wartawan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; jelas-jelas disebut “wartawan tidak boleh menyamar.” Aturan ini masuk akal, karena bagaimana perasaan Anda sebagai warga negara kalau orang yang mengajak Anda ngobrol di kereta, pesawat, bus &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;, tempat tunggu dokter, adalah wartawan yang menyamar dan besoknya semua pembicaraan Anda dimuat di media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; lengkap dengan identitas Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, wartawan diperbolehkan menyamar hanya dalam kondisi: a) kalau tidak menyamar, pekerjaan itu membahayakan jiwanya (di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; perang, wilayah konflik), b) berita yang diburu demi kepentingan orang banyak bukan skandal yang menyangkut pribadi-pribadi (misalnya, investigasi kasus Bulog dengan menyamar mungkin lebih diterima daripada investigasi dengan menyamar ke tempat pelacuran hanya untuk menuliskan tentang siapa saja para pelanggan lokalisasi itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada persoalan sejauh mana kode etik dapat dilanggar, memotret dulu atau menolong dulu, saya tetap berpendapat bahwa kita takkan jadi wartawan yang hebat kalau pada mulanya bukan manusia yang baik. Be a good man, than a good journalist. Itu saja.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;font-size:100%;color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Garamond;" lang="SV"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;SIRIKIT SYAH&lt;br /&gt;Wartawan-cum-seniman, sempat bekerja di SCTV biro Surabaya, menyunting jurnal Media Watch, menulis kumpulan cerita pendek Harga Perempuan dan buku Media Massa di Bawah Kapitalisme, mendapatkan Hubert Humphrey Fellowship di Public Communication School, Universitas Syracuse Inggris, belajar regulasi hukum dan media di Universitas Westminster Inggris. Di Pantau, menulis Menjadi Jurnalis Televisi  dan Wartawan Menolong atau Memotret.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-2275312916961353377?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/2275312916961353377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=2275312916961353377' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2275312916961353377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/2275312916961353377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/04/wartawan-menolong-atau-memotret-oleh.html' title=''/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-5411111960675096938</id><published>2008-04-14T13:20:00.001-07:00</published><updated>2008-09-14T07:28:34.837-07:00</updated><title type='text'>Semoga Esok Banjir Akan Surut</title><content type='html'>Sekitar pukul 11.oo Wita. Aku dan teman-teman mendapat info bahwa tiga kecamatan terendam banjir di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti sungai Rongkong meluap lagi," pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti naik perahu lagi," pikirku lagi beberapa saat kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti ketemu buaya lagi. Tidaaaaaakkk!!!" pikirku untuk ketiga kalinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di lokasi, Kecamatan Sabbang. Perahu yang akan kami gunakan sudah menunggu. Sambil shooting sana, shooting sini, aku tetap perhatikan sekitar sungai. Jangan sampai ada buaya yang nongkrong sambil berjemur. Terasa sangat menyeramkan. Ketakutanku serasa menghantuiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 menit menelusuri sungai, kami tiba di rumah kepala Dusun di antara kebun kakao. Karena perahu tak bisa masuk tepat di depan rumahnya, kami terpaksa harus turun dari perahu. Jalan menuju rumah pak dusun sudah berubah menjadi sungai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kalau musim hujan, pasti daerah ini banjir, air sungai rongkong meluap, karena tanggulnya jebol" kata pak dusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masuk ke halaman rumah pak dusun saja, ketinggian airnya sampai pinggang orang dewasa. AKu terus menyusuri jalan dengan meraba-raba tanah dengan telapak kakiku. Sayangnya, aku kurang berhati-hati hingga tiba-tiba aku terpeleset dan masuk ke dalam selokan. Semua tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang licin rupanya tidak hanya menjebakku hingga terjatuh. Tapi, beberapa teman ikut jatuh atau sekedar terpeleset. Untunglah kami bisa menyelematkan kamera kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengambil gambar dan wawancara, kami menyempatkan foto-foto dengan warga setempat. Lalu berjalan-jalan keliling desa. Air merendam seluruh jalan-jalan desa. Rumah beserta isinya juga menjadi sasaran air yang terus mengalir. Sambil meraba-raba jalan, aku terus memperhatikan aktivitas warga. Ada yang membersihkan rumah. Berkumpul. Mencari kutu. Anak-anak bermain. Ibu menyusui. Dan paling menarik, saat mataku menatap seorang pria yang sedang memanjat pohon. Wah... pria itu sedang meracik ballo. Minuman khas Makassar yang memabukkan. Di bawah pohon, banyak warga yang sudah menunggu. Mulai dari anak berumur tiga tahun sampai para lansia. Aku mendekati mereka. Pemanjatnya turun, anak-anak berebut sambil memegang gelas masing-masing dan meminta racikan ballo'. Seorang ibu mengajakku mencicipi minuman itu. Dan aku katakan saja, "Dengan senang hati.." hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rasanya pahit. Tapi aku bahagia. Mereka sangat ramah. Aku menemukan kesenangan yang begitu manis bersama mereka. Tertawa, bercerita dan mendengarkan harapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga esok banjir akan surut,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa meter dari tempat kami, sebuah perahu telah menjemput aku dan teman-teman wartawan lainnya. Kami pulang, membawa harapan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga mereka dilindungi Tuhan." batinku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-5411111960675096938?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/5411111960675096938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=5411111960675096938' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5411111960675096938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5411111960675096938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/04/banjir-ballo-dan-hahaha.html' title='Semoga Esok Banjir Akan Surut'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-5595028104157141130</id><published>2008-04-07T07:14:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T07:17:34.734-07:00</updated><title type='text'>akulah pelangi itu...</title><content type='html'>&lt;h3 style="font-weight: bold;" class="entry-header"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;    &lt;div class="entry-content"&gt;   &lt;div class="entry-body"&gt;    &lt;p&gt;aku mencintai kesederhanaan...&lt;br /&gt;itu yang diajarkan oleh ayahku...&lt;br /&gt;aku selalu ingin menjadi wanita yang tangguh...&lt;br /&gt;karena ayahku pernah bilang,&lt;br /&gt;ia akan retak...&lt;br /&gt;jika pelangi yang ia jaga terluka...&lt;br /&gt;dan...&lt;br /&gt;akulah pelangi itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*buat ayah yang slalu kurindukan..*&lt;br /&gt;21 feb 08&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-5595028104157141130?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/5595028104157141130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=5595028104157141130' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5595028104157141130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/5595028104157141130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/04/akulah-pelangi-itu.html' title='akulah pelangi itu...'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8796126441077641943.post-7575088959479362787</id><published>2008-04-07T04:16:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T04:22:32.633-07:00</updated><title type='text'>'bismillah'</title><content type='html'>kumulai dengan ucapan 'bismillah'...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya sekedar mencoba terus berlatih menulis dan merekam semua peristiwa yang kualami setiap saat...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8796126441077641943-7575088959479362787?l=sartikanasmar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/feeds/7575088959479362787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8796126441077641943&amp;postID=7575088959479362787' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7575088959479362787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8796126441077641943/posts/default/7575088959479362787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sartikanasmar.blogspot.com/2008/04/bismillah.html' title='&apos;bismillah&apos;'/><author><name>Sartika Nasmar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00284669254830758251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JQ5VCUlysiM/Sz-DvhUGuUI/AAAAAAAAADQ/0AsRwfzH4lk/S220/n1395984657_30332444_6091192.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
